Lanjut masbro dan mbasistah

.

.

Semoga suka dan selamat membaca

.

.

Sekarang akhir pekan, jadi Yixing bisa sarapan bersama keluarganya. Yixing jadi sedikit bersalah pada Chanyeol. Ia membeberkan semuanya pada Yifan. Benar-benar semuanya tanpa disaring. Soalnya Yifan duluan yang membeberkan rahasia dirinya sendiri.

"Aku kaget kau bisa jadi anak buah Yifan." Ucap Chanyeol sambil meletakkan sepiring nasi goreng dihadapan Yixing.

"Siapa Yifan?" Tanya ayah Yixing dengan penasaran.

"Kakak kelas."
"Mantannya Chanyeol."

Jawabannya memang berbarengan tapi tidak kompak sama sekali. Tentu saja ayahnya Yixing yang memang sedikit posesif itu tampak menatap Chanyeol dengan tajam.

"Mantan ayah.. mantan," ucap Yixing sambil menepuk punggung tangan ayahnya yang tampak kesal. "Mereka hanya berhubungan sebulan dan sebatas berciuman."

"Tahu dari mana?!" Tanya Chanyeol dengan suara beratnya.

"Yifan yang bilang." Jawab Yixing dengan lurusnya.

"Kau bilang Chanyeol itu siapamu?" Tanya ayahnya sambil tersenyum miring.

"Ayah tiriku." Masih dengan nada dan ekspresi lurusnya.

"Argh! Yixing!" Erang Chanyeol dengan frustasi.

Sedangkan ayahnya malah tertawa terbahak-bahak sambil menjitak kepala Yixing.

"Anak bodoh!" Seru ayahnya.

"Apa? Apa? Apa salahku?" Tanya Yixing dengan bingung.

"Ah! Anakmu itu!" Celetuk Chanyeol yang membuat sang ayah malah tertawa makin menggelegar.

"Kau harusnya berterimakasih, karena Yixing aku tidak jadi menghukummu."

"Stop! Jangan katakan kata itu!" Erang Yixing sambil menutup telinganya. "Setiap mendengar kata hukuman, aku selalu membayangkan hal yang mengerikan terjadi pada Chanyeol."

Jangan membayangkan ayahnya itu bertubuh tambun. Ayahnya sangat menjaga tubuhnya, hingga kekar macam itu. Kulitnya bahkan sedikit kecoklatan entah karena sering panas-panasan atau sudah dari lahir. Tinggi ayahnya sedikit diatas Chanyeol. Jadi mereka pantas-pantas saja kalau disandingkan. Kadang orang-orang mengira ayahnya itu kakak Yixing. Mungkin karena Yixing memiliki gen lebih banyak dari ibunya yang cantik dan putih bersih dari oada ayahnya yang sedikit sangar.

"Tapi dia menikmatinya." Celetuk ayahnya tiba-tiba yang malah membuat Yixing menjerit dengan lantang.

"HENTIKAN AYAH!"

.

.

Yifan bilang ayahnya dan Chanyeol terpengaruh dengan novel Fifty Shades of Grey. Hah! Yang benar saja. Yixing bahkan mengira si penulisnya menulis novel macam itu karena melihat langsung adegan ranjang ayahnya dan Chanyeol.

"Ceritakan semuanya." Ucap Yifan yang membuat Yixing mengerenyitkan dahinya. "Aku pernah sakit hati karena ayah tirimu loh!" Ucap Yifan sambil tersenyum pelan.

Yixing tidak tahan mendapatkan senyuman Yifan yang seperti itu. Bukan, Yixing tidak terpesona karena senyuman Yifan. Tapi Yifan itu sejenis orang baik yang membuat orang suka tidak enak menolak permintaannya. Err... intinya Yifan berhasil membuat mulut Yixing dengan lancar bercerita layaknya ember bocor.

"Aku harus bersimpuh di hadapan Chanyeol!" Erang Yixing sambil menjabak rambutnya sendiri. "Jangan berikan senyuman macam itu!" Erang Yixing dengan kesal.

Beberapa tahun yang lalu. Saat mereka tiba di Negara gingseng merah, ayahnya harus memulai dari nol untuk merintis karirnya. Yixing juga sama. Ia jadi harus meninggalkan hobinya agar tidak menyusahkan ayahnya. Alhasil, Ayahnya berubah menjadi mudah frustasi dan tertekan. Itu wajar, dan Yixing juga mengerti. Namun saat ia duduk di pertengahan kelas 3 SMA, ia mendapati ayahnya tak sefrustasi dulu dengan tutur kata yang tak terlalu kasar dan keras. Yixing berkesimpulan ayahnya menemukan cara untuk mengendalikan rasa frustasinya.

"Ini Park Yulli dan anaknya Park Chanyeol," ucap Ayahnya dengan kalem. "Ayah akan menikah dengannya."

Yixing hanya menggangguk meski heran. Kenapa ayahnya harus menikah di negara yang amat jauh macam Jerman. Saking jauhnya Yixing sampai tidak bisa ikut. Tapi yang lebih herannya, ayahnya menikah dengan wanita cantik yang baik hati. Namun menggantungkan dirinya dengan kursi roda. Katanya wanita itu pengidap kangker darah.

Park Yulli merupakan wanita yang cukup pendiam. Yixing bahkan sedikit kagum dengan saudara tirinya yang bisa merawat ibunya sendirian. Berbeda dengan Yulli, Chanyeol merupakan pria yang lebih ekspresif. Yang selalu menunjukkan senyuman lebarnya. Meski Yixing selalu keheranan melihat luka di tubuh Chanyeol.

"Luka?" Tanya Yifan dengan heran.

"Aku tidak sengaja melihat banyaknya luka sayatan di punggungnya," jelas Yixing dengan pelan. "Kadang aku melihat kulitnya lecet sampai terkelupas di pergelangan kaki dan tangan."

Yixing meringis saat Yifan menatapnya dengan tajam. Ketua timnya ini termasuk orang yang baik dan kalem. Berbanding terbalik dengan Suho yang cerewet dan banyak maunya. Jadi kalo Yifan melotot tentu saja sedikit membuat Yixing mengkerut.

Yixing saat itu tidak berani bertanya. Lagi pula setiap pulang sekolah Chanyeol tidak pernah kedapatan pulang terlambat, babak belur atau basah kuyup. Beberapa temannya kadang juga datang berkunjung. Tidak ada yang janggal dengan dunia sekolah Chanyeol, meski Chanyeol harus berusaha dengan susah payah mempelajari bahasa China. Ah, ya.. saat Yixing lulus SMA. Ayahnya memutuskan untuk kembali ke kampung halaman.

.
.

Sudah satu tahun mereka bersama. Chanyeol sudah lulus SMA dan melanjutkan kuliah ditempat berbeda dan jurusan berbeda dengan Yixing. Chanyeol musik sedangkan Yixing manajemen.

"Tumben sudah pulang," ucap ibu tirinya dengan heran. Yixing hanya menyengir kuda hingga membuat ibunya itu menatapnya dengan curiga. "Kau bolos berapa mata kuliah hari ini?"

"Satu." Jawab Yixing sambil tertawa pelan. Ibunya itu mencubit pelan pinggangnya dengan pelan. "Chanyeol sudah pulang ya?"

"Sudah, dia ada di kamar."

Yixing hanya mengangguk dan menaiki anak tangga. Kamarnya tepat berada di sebelah kamar Chanyeol. Tapi suara aneh dari kamar Chanyeol membuat Yixing penasaran setengah mati. Saat Yixing membuka pintu kamar Chanyeol, itulah saat bencana kedua dirumahnya terjadi.

Ia melihat chanyeol duduk diatas lantai dengan tubuh yang telanjang bulat. Kedua tangan dan kaki Chanyeol terikat dalam satu ikatan. Chanyeol juga menggunakan kalung terbuat dari kulit dengan rantai yang menjuntai. Tapi yang membuat Yixing terejut adalah Chayeol tengah mengulum penis pria. Sialnya, Yixing datang disaat penis pria itu mengeluarkan sperma yang mengenai sebagian wajah Chanyeol.

Dan pria itu adalah ayahnya sendiri.

"Apa reaksimu?" Tanya Yifan dengan wajah prihatin.

"Muntah." keluh Yixing yang merasa tubuhnya terkena sengatan listrik. Peristiwa itu masih melekat di otaknya. "Muntahan besar sampai badanku lemas."

Diam-diam, Yifan jadi tersinggung. Dulu saat ia mengatakan dirinya sebagai mantan Chanyeol. Yixing juga langsung muntah hebat. Meski kemungkinan besar karena terlalu banyak minum.

Kembali ke cerita masa lalu Yixing. Berkat peristiwa itu Yixing kabur dari rumah. Ia melarikan diri ke rumah temannya yang bekerja sebagai pedagang tofu. Namanya Xiumin. Berbulan-bulan ia kabur. Yixing bahkan tidak terusik saat ibunya dikabarkan koma. Hingga akhirnya berita tentang ibu tirinya yang siuman dari koma, bukan hanya itu saja, saat wanita itu bangun nama pertama yang ia sebutkan bukan nama anaknya maupun suaminya. Tapi Yixing. Alasan itu yang sukses membuat Yixing mau bertemu dengan kelurganya kembali.

"Menyingkir!" Hardik Yixing saat menemukan ayahnya hendak menghampirinya.

Ia tidak sudi menatap ayahnya. Dan ia pun tak punya keberanian untuk menatap Chanyeol. Selama ini luka yang Chanyeol dapatkan berasal dari ayahnya. Tapi kenapa Chanyeol masih mau bersama ayahnya hingga sekarang?

Bukan, sekarang bukan saatnya untuk mendebatkan hal itu. Ia masih harus menemui ibu tirinya yang malang. Ibu tirinya masih cantik meski semakin terlihat kurus. Yixing menatap miris kabel-kabel yang menancap disekujur tubuhnya. Kalau boleh jujur, Yixing tidak memgunjungnya selama koma bukan karena tidak peduki tapi ia merasa tidak punya muka untuk bertemu dengan ibunya Chanyeol. Karena Ayahnya sudah memperlakukan Chanyeol seperti binatang!

"Jangan benci ayahmu," ucap ibu tirinya itu dengan pelan. "Kau seharusnya membenci kami."

Itu adalah kalimat pertama yang Yixing dengar dari mulut wanita renta itu. Tapi Yixing hanya bisa menunduk karena rasa malu dan rasa bersalah yang menumpuk. Apakah wanita ini tahu apa yang dilakukan ayahnya pada anak satu-satunya itu?

"Bukan aku yang menikah dengan ayahmu tapi anakku."

Penjelasan itu cukup membuat Yixing mendongakkan kepalanya. Selama ini, ia suka bagaimana wanita ini mencium keningnya, kening Chanyeol dan kening ayahnya setiap pagi. Ayahnya selalu mengecup tangan wanita ini. Dan wanita ini selalu membelai wajah ayahnya. Ternyata kontak fisik itu bukan bentuk kasih sayang antara suami istri tapi anak dan ibu. Rasanya kepala Yixing akan meledak.

"Sudah berapa lama?" Tanya Yixing dengan rahang mengeras.

"Satu setengah tahun." Jawab wanita itu dengan pelan.

Kepala Yixing serasa meledak seketika. Yixing berusaha keras untuk tidak marah jadi air matanya yang mewakili semuanya. Hebat, sudah selama itu ia dibohongi oleh keluarganya sendiri.

"Ini salahku, ini keegoisanku, aku ingin melihat anakku bahagia."

Wanita itu mencoba menggapai tubuh Yixing. Namun Yixing hanya diam meski ibunya berhasil menggapai dan meremas lengan kemejanya dengan tangan bergetar. Padahal Yixing menyukai keluarga barunya. Ia tak mau percaya dengan semua ini.

Tapi, rasa bersalah Yixing semakin membucat saja. Hingga Yixing hanya bisa menggenggam tangan ibunya itu. Tangisannya semakin pecah saat wanita yang ia anggap pengganti ibunya itu mengecup telapak tangannya dengan tidak memperlakukan Chanyeol seperti yang ibunya lakukan pada Yixing. Ayahnya memang bejat.

"Kau mau memaafkan aku kan?" Tanya wanita tiba-tiba dengan nafas sesak, berbarengan dengan suara nyaring dari alarm alat yang menacap di tubuhnya. Sontak hal itu membuat Yixing panik.

Secara serempak semua perawat dan beberapa dokter sudah mengelilingi ranjang wanita itu. Salah satu perawat meminta Yixing untuk keluar. Tapi ibunya masih menggenggam tangan Yixing dengan erat. Keadaannya benar-benar kacau hingga seorang perawat harus mendorong keras tubuh Yixing untuk keluar.

"Jangan dorong anakku!" Teriakan wanita itu membuat semua orang terperanjat. "Tolong maafkan ibu.." ucap wanita itu masih dengan isakan tangis dan suara alat yang terus memekik.

Yixing menyerah, ia lebih baik keluar. Beberapa perawat mencoba menenangkan wanita yang nafasnya terdengar putus-putus. Tapi wanita itu masih berusaha menggapai Yixing.

"Maafkan aku.. aku bukan ibu yang baik."

Serasa disambar petir, Yixing langsung mendorong perawat yang menghalanginya dan menggapai tangan ringkih itu.

"Tidak, jangan katakana itu.. Ibu tidak salah," ucap Yixing dengan pelan meski suaranya bergetar. Yixing tidak suka ini dan ia kesal karena hanya bisa menangis. Dan wanita itu pun tampak terlihat semakin bergetar karena tangisan dan rasa sakit di tubuhnya. "Aku tidak marah, aku tidak mungkin bisa marah pada ibu," ucap Yixing dengan tarikan nafas tertahan. Yixing tahu dan sangat tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. "Jadi ibu tenang saja."

Yifan kira Yixing akan menangis. Refleks, Yifan sontak menawarkan tisu. Tapi Yixing malah menyalakan rokoknya.

"Itu kedua kalinya aku menyaksikan seorang ibu yang tengah meregang nyawanya tepat dihadapanku." Kekeh Yixing dengan pelan, padahal tidak ada yang lucu sama sekali.

"Apa setelah itu kau berbaikan dengan ayahmu dan Chanyeol?"

"Yang benar saja," keluh Yixing dengan pelan. "Hubungan kami semakin buruk."

Setelah pemakaman ibu ah~ nenek tirinya itu. Yixing menolak mentah-mentah ajakan ayahnya untuk tinggal bersama. Ia tidak mau. Bahkan Yixing sampai terkejut ia bisa bertahan hidup di luar dan menyelesaikan kuliahnya. meski biayan kuliahnya memang dibayar ayahnya tapi biaya hidupnya ia tanggung sendiri dengan berjualan tofu bersama Xiumin.

Tapi beberapa hari sebelum acara kelulusannya ia dikejutkan dengan keputusan yang akan ayahnya lakukan.

"Untuk pertamakalinya dalam hidupku, aku menghajar ayahku sendiri."

Ucapan Yixing tentu membuat Yifan terperangah. Karena meski ia di usir oleh ayahnya, Yifan tidak mungkin berpikir untuk menghajar ayahnya sendiri.

"Kau gila.. apa pun masalah kau tidak boleh.."

"Karena ini bukan lagi tentang kenikmatan seksualitas dengan rasa sakit," bantah Yixing dengan nada kesal. "Ini sudah jelas-jelas kekerasan."

Saat itu Yixing seolah diberikan gambaran pasca koma almarhumah yang pura-pura menjadi ibu tirinya dulu dalam wujud pria. Dan pria itu Chanyeol. Jelas ayahnya sudah menyiksa Chanyeol luar dan dalam. Dan kemarahan Yixing semakin memuncak saat ayahnya berkata.

"Kami akan berpisah," Yixing terus mengamati Chanyeol yang tampak ringkih. "Aku lebih memilih kehilanga dia dari pada anakku satu-satunya."

Yixing saat itu tidak bisa mengendalikan amarahnya sama sekali. Ayahnya sampai terjungkal dari kursinya dengan suara yang amat keras.

"Jadi ayah hanya menggunakan Chanyeol untuk memuaskan nafus ayah yang menyimpang saja?!" Tanya Yixing dengan murka. "Apa kau memang tidak punya hati?!"

"Cukup Yixing!" Tegur Chanyeol sambil menahan tubuh Yixing yang memberontak.

"Kau masih punya aku ayah!" Tegas Yixing dengan gusar. "Sedangkan Chanyeol? Yang dia miliki cuman ayah, dan sekarang ayah ingin membuangnya."

"Tapi.. kau.."

Yixing langsung menarik lengan Chanyeol yang tubuhnya bahkan lebih tinggi darinya.

"Kau mau kemana, Xing?" Tanya sang ayah dengan bingung.

"Rumah sakit!" Seru Yixing dengan kesal.

"Tapi aku tidak sakit." Tolak Chanyeol dengan nada heran.

"Aku akan meminta dokter untuk menginfus seluruh badanmu," ucap Yixing dengan tajam. "Agar kau sadar! Kau sedang menghancurkan dirimu sendiri!" jelas Yixing dengan susah payah. Rasanya Yixing ingin menangis melihat tubuh Chanyeol yang ringkih.

"Aku pikir kau membenciku." Gumam Chanyeol dengan suara bergetar.

"Aku tidak membencimu aku hanya kebingungan menghadapi kalian.."

.
.

"Kau sedang apa?" Tanya Chanyeol sambil menepuk bahu Yixing yang tampak melamun. "Dari tadi handphonemu berdering."

"Dari siapa?"

"Ketua tim, Wu Yifan." Baca Chanyeol sambil mengerutkan dahinya dengan heran.

"Biarkan saja," keluh Yixing dengan malas. "Ini hari libur."

"Mungkin ini sangat penting, sampai.. eh, mati.." Chanyeol masih menatap handphone Yixing. Tapi saat Chanyeol mendongakkan kepalanya, Yixing sudah tidak ada. "Bah! Yixing menghilang!"

"Ini hari libur bos!" Geram Yixing melalui handphonenya yang lain. "Kau tahu dari mana nomer ini?!"

Sontak saja Chanyeol tertawa terbahak-bahak. Yifan ternyata sampai punya nomer handphone pribadi Yixing. Itu kan nomer handphone khusus keluarga, kata Yixing.

Setelah perdebatan panjang lebar. Setidaknya itu yang Chanyeol lihat. Akhirnya Yixing langsung bergegas membawa beberapa berkas dan entahlah yang dimasukkan ke dalam ransel.

"Aku naik taxi saja," ucap Yixing saat Chanyeol menyodorkan kunci mobil. "Bilang pada ayah jangan lakukan hal macam-macam kecuali di ruang pribadi kalian."

Chanyeol langsung memutar bola matanya dengan malas.

"Kau akan makan malam dirumah?" Tanya Chanyeol.

"Sepertinya tidak."

"Jangan lupa makan malam kalau begitu," ucap Chanyeol sambil mengantar kepergian Yixing yang rusuh. Chanyeol jadi kebawa riweuh melihatnya.

Yixing sudah siap dan hendak membuka pintu. Tapi tiba-tiba Yixing membalikkan badannya untuk menatap Chanyeol. Yixing berjalan mundur sambil membuka pintunya dan berkata.

"Chanyeol."

"Ya?"

"Aku rasa, kau memang ditakdirkan untuk menjadi ayah rumah tangga."

Perkiraan Yixing benar. Chanyeol langsung melempar kunci mobil yang sejak tadi ia genggam. Sayang Yixing sudah menghilang dari balik pintu sambil tertawa setan. Posisi Chanyeol itu serba salah. Ia memang menikah dengan ayah Yixing tapi ia sendiri lebih muda satu tahun dari Yixing.

"Akh!" Seru tertahan Chanyeol tiba-tiba, saat menemukan seseorang mengigit perpotongan lehernya tanpa permisi. Chanyeol tahu siapa pelakunya.

Tapi Chanyeol sedang kesal, jadi ia langsung menginjak kaki sang pelaku dengan keras. Suara teriakan itu hanya membuat Chanyeol berkata.

"Awas!" Sungut Chanyeol dengan kesal.

.

.

"Kau harus membayar liburan berhargaku!" Seru Yixing dengan kesal sambil membuka laptopnya dengan kesal. "Dan kenapa kita harus mengerjakannya di apartemenmu?"

"Soalnya Sehun mengirim dokumennya lewat pos," ucap Yifan dengan menghela nafas. "Kau tahu sendiri, Sehun orangnya lebih suka sketsa langsung dari pada di aplikasi komputer."

"Kan ada scanner!" Keluh Yixing dengan nada heran. "Trus tinggal di email."

Yifan baru sadar, Sehun kan orangnya begitu. Nurut-nurut saja. Yifannya juga lupa kalau teknologi sudah semakin canggih. Jadi Yifan hanya tertawa pelan saat Yixing mencibir.

Namanya juga bekerja, dan mereka kembali disibukkan ke dalam penyeleksian desain yang sebenarnya sudah dikerjakan sebagian oleh Chen. Tapi itu dia, Chen itu suka seenaknya. Meski untuk masalah paduan warna paling ahli.

"Apa ini?!" Teriak Yixing dengan heboh. "Ini Chen pasti sengaja!" Ucap Yixing sambil terawa terbahak-bahak.

Yifan yang tengah mengerjakan pekerjaan lain langsung menatap Yixing dengan heran.

"Pantat di helm dong bos!" Seru Yixing sambil menunjukkan gambar buatan Chen.

Yifan langsung menggelengkan kepalanya dengan pelan. Meski sambil tersenyum kecil.

"Itu apaan, ada memar merah di pantat kanannya?" Tanya Yifan dengan nada heran.

"Kebayang gak bos kalau di pakai Chen?" Tanya Yixing tiba-tiba dan Yifan langsung membayangkannya. "Mungkin nanti kalau berhenti, akan ada orang yang menggeplak helm pantatnya sambil bilang pantatmu sexy."

Yifan tidak bisa tidak tertawa melihat Yixing tertawa sampai terbahak-bahak macam itu. namun tiba-tiba..

"Akh boss! Aku minta rugi untuk waktu liburku!" Seru Yixing yang kumat lagi hingga Yifan sakit kepala. Lagi pula si Yixing ini kenapa selalu memanggilnya dengan sebutan bos.

"Kau mau makan apa?"

"Cuman makanan?"

"Kau boleh memilih yang mahal."

"Oke! Pizza!"

"Pizza memangnya mahal?" ejek Yifan.

"Sushi, dim sum, bebek pek.."

Buagh!

Itu suara bantal sofa yang tepat mengenai wajah Yixing. Tumben Yixing kena timpukan.

"Kau tahu yang disebut dengan tahu diri?" Tanya Yifan dengan jengkel.

"Ya sudah pizza saja! Pesan yang paling mahal!" Ucap Yixing dengan nada bossynya.

Ini salah Yifan. Jadi untuk kali ini Yifan rela mengikuti alur bossy Yixing. Asalkan pekerjaan mereka selesai hari ini juga.

Yifan masih harus memeriksa beberapa dokumen. Tapi Yixing terus merengek. Belum lagi suara hujan lebat menjadi backsound buruk apartemennya. Lapar lah.. lama lah.. sampai kepala Yifan serasa mau meledak. Sampai akhirnya suara bel menyelamatkan keadaan mereka.

"Ambil pizzamu!"

"Uangnya?" Tanya Yixing sambil mengadahkan tangannya.

"Tsk, buka dulu pintunya!" Titah Yifan sambil beranjak menuju kamar. Dompetnya ada di kamar kebetulan.

Yixing sudah bersemangat untuk menyambut pizzanya. Hingga tanpa ragu ia membuka pintunya dengan cepat. Tapi..

"Eeuu.."

Dikepala Yixing langsung memutar lagu JooYoung feat Superbee yang berjudul Wet.

Wet.. wet.. I need an umbrella.

.

"Siapa kau?" Tanya pria dengan tubuh basah kuyup. Belum lagi dengan tatapannya yang tajam hingga membuat Yixing menutup rapat mulutnya. Bingung.

"Aku.."

"Berapa katanya Xing?" Tanya Yifan yang membuat Yixing menoleh.

"Bos.." gumam Yixing dengan bingung. Hingga membuat Yifan menghampiri Yixing.

"Kena.. loh! Luhan?!"

Dan adegan terduga itu terjadi. Si pria basah kuyup yang bernama Luhan langsung memeluk tubuh Yifan. Meninggalkan Yixing yang hanya bisa mengerjapkan matanya dengan bingung. Meski sudah diprediksi tetap saja Yixing lumayan kaget. Bosnya itu punya pacar ternyata.

Yixing serba salah saat melihatnya. Mau keluar hujan, mau masuk takut mengganggu.

"Permisi! Pizza!"

Yixing merasa tertolong tapi uangnya. Yifan ternyata diam-diam melambaikan dompetnya dari balik punggung Luhan yang sepertinya menangis. Sontak Yixing berlari kecil untuk mengambil dompet dan memberikannya dengan cepat pada pengirim pizza. Kenapa harus cepat? Karena sedang ada pertunjukan teletubbies disini. Mending kalau perempuan dan laki-laki. Kalau dua-duanya laki-laki kan rada gimanaaa.. gitu.

Saat Yixing membawa pizza, rupanya adegan itu sudah selesai. Dan meninggalakan Yifan yang meminta dompetnya kembali.

"Kekasihmu kemana?" Tanya Yixing sambil menyerahkan dompet Yifan.

"Ganti baju." Jawab Yifan pelan.

Yifan tidak membantah kalau itu bukan kekasihnya. Berarti Luhan itu 100% kekasih Yifan. Saat Yixing baru selesai membereskan meja dari berkas-berkas. Mejanya harus bersih agar Yixing bisa menikmati pizzanya. Sayang, handphonenya berbunyi. Yixing menatap handphonenya pelan sebelum berlari kecil ke arah beranda sambil mengambil sebungkus rokok dengan asal. Yixing punya firasat aka nada perbincangan yang cukup panjang sepertinya.

Yifan sekilas melihat nama yang menelfon. Daddy's Queen. Hah? Pangerannya ayah? Chanyeol? Yifan diam-diam menghampiri Yixing yang tengah menerima telfon dengan mulut mengapit rokok. Dan tangan mencari sesuatu.

Yifan datang sambil menyalakan pematiknya. Dan benar saja, yixing sejak tadi mencari benda untuk menyalakan rokoknya. Yifan penasaran jadi memilih untuk merokok tepat di samping Yixing.

"Aku belum dikasih makan malam," adu Yixing sambil melirik Yifan yang sontak melotot. "Kau memang pendamping ayahku yang sangat perhatian." Goda yixing pada orang yang disebrang handphonenya. "Aku tidak kurus!" Elak Yixing dengan ketus.

Yixing langsung memutar kedua bola matanya saat mendapatkan ceramah tentang gizi. Banyangkan saja diceramahi dengan suara bass Chanyeol macam apa. Loh, pendamping ayahnya kan memang Chanyeol.

"Aku maunya begitu, ada pacar bosku disini," bisik Yixing pelan. "Tapi sekarang hujan," keluh Yixing sambil menatap Yifan yang masuk ke dalam untuk menghampiri kekasihnya. "Jemput aku saja bagaiamana? Ayolah ayah~"

Yixing suka bermanja-manja pada Chanyeol. Dulu sih sebelum ketauan, Yixing mana mungkin berprilaku macam ini. Mungkin efek dari Yixing yang kadang memanggilnya ayah membuat sikap Chanyeol sedikit berubah. Seolah Yixing juga merupakan anaknya. Padahal Yixing lebih tua dari Chanyeol.

Setelah acara bujuk membujuk itu selesai, Yixing mau tidak mau berkenalan dengan kekasih Yifan. Yang.. yah.. lumayan judes padanya. Yixing kan hanya pegawai yang bekerja di hari libur karena kecerobohan Yifan. Aduh~ mana Yixing lapar setengah mati pula. Tapi untungnya Chanyeol datang dalam waktu setengah jam.

"Ini bawa." Ucap Yifan sambil menyodorkan pizzanya.

"Oke, terimakasih bos."

"Aku yang harusnya berterimakasih."

Yixing hanya mengangguk sambil tersenyum sopan. Tadinya mau mencibir. Tapi Yixing mendapatkan tatapan laser nan tajam dari Luhan. Tanpa ba bi bu Yixing langsung mengabil langkah seribu. Padahal Yifan baru saja mau menawarkan payung.

Jelas, di mobil Yixing diomeli habis-habisan oleh Chanyeol. Tapi berkat Luhan, Yixing malah terus-terusan menatap Chanyeol. Kalau dipikir-pikir Chanyeol juga punya aura flower boys meski tidak sepekat Luhan. Bedanya suara Chanyeol itu ngebass dan besar mukan main. Sebenarnya Yixing sudah sangat penasaran. Kira-kira ayahnya bisa menyukai Chanyeol karena apa ya?

"Bagaimana ceritanya kau dan ayahku bisa bertemu?" Tanya Yixing tiba-tiba yang membuat Chanyeol menggigit bibir atasnya.

Chanyeol tahu yixing pasti akan bertanya tapi apa harus saat ia tengah menyetir. Chanyeol langsung menatap Yixing saat mobilnya berhenti karena lampu merah. Ternyata Yixing juga terus menatapnya dengan penasaran.

"Nanti kalau kita sampai rumah." Ucap Chanyeol dengan pelan.

"Aku makin penasaran."

Ucapan Yixing saat itu langsung membuat Chanyeol tersenyum miring.

"Aku akan memberikanmu pengantar cerita," ucap Chanyeol yang membuat Yixing menatapnya dengan lekat. "Aku bertemu dengan ayahmu saat aku hampir menghabisi diriku sendiri."

"Hah?"

"Dan saat itu juga ayahmu menghentikan niatku dengan cara yang mengerikan."

"Apa?"

"Dia me..."

.

.
TBC

.

Hahahahaha
Nistaaaaaa!
Oke, sebelum menghujat, saya mau nanya.

Kira-kira dalam pikiran kalian siapa ayahnya Yixing?

Wohoho
.

.
Tah sok! Mangga (read. Silahkan)
Mau menghujat atau apa pun. Silahkan tulis di kolom review