"Idiotly Match"

.

.

.

.

.

.

sangjoonpark

.

.

.

.

"Hei kau sudah dengar kalau mereka memenangkan lomba menyanyi itu lagi?"

"Tahu tidak, aku kemarin menonton permainan mereka, itu sangat menyenangkan! Aku berdebar menontonnya!"

"Aah aku iri pada mereka yang bisa menonton, pasti menyenangkan."

Suara bisik-bisik yang dikeluarkan para gadis seolah menjadi lagu sehari-hari yang mengalun di halaman sekolah, siapa lagi yang dibicarakan kalau bukan Lee Bersaudara yang terkenal.

Choi Seungcheol, si sulung memiliki marga yang berbeda karena ayahnya dulu pergi menceraikan sang ibu sebelum adik-adiknya yang lain lahir, namun rasa hormat ibunya terhadap sang ayah tidak menghilang sehingga marga Choi tidak dihapus dari namanya.

Kemampuan rap dan menyanyinya tidak diragukan lagi, teknik menyanyinya memang tidak seprofesional Seokmin, tapi juga tidak dapat diremehkan semudah itu. Bahkan julukan Rap God sudah melekat padanya sejak awal tahun ajaran mengingat betapa terkenalnya dia.

Anak pertama dari ayah mereka yang baru sekaligus anak kedua dari jumlah keseluruhan Lee Bersaudara, Lee Jihoon. Jika dibandingkan dengan karakter Seungcheol dan Seokmin yang tidak bisa diam, maka Jihoon benar-benar adalah kebalikannya. Walaupun pendiam dan dianggap bodoh namun sesungguhnya Jihoon adalah sosok dibalik penghargaan lagu terbaik yang diterima Lee Bersaudara pada lomba menyanyi tempo hari.

Musik adalah hidupnya, dia mencintai musik lebih dari siapapun di keluarganya, bahkan sejak kecil perhatiannya dicurahkan pada berbagai jenis instrumen musik yang membuatnya sering kali di cap sebagai anak aneh karena tidak memiliki teman. Namun pribadi Jihoon yang terkadang enggan peduli pada sekitarnya membuatnya tumbuh bersama dengan alat musik dan instrumen nada kesukaannya.

Si anak ketiga yang hanya berbeda 11 bulan dengan sang kakak, Lee Seokmin. Jika dia sudah berucap dengan nada yang begitu bahagia, maka hanya gitar Jihoon yang terangkat yang mampu menghentikannya. Namun efeknya hanya sementara karena setelahnya dia akan pergi mengganggu kakak tertuanya atau adiknya ㅡyang jelas tidak akan memukulnya dengan gitar.

Suaranya tidak indah. Tapi luar biasa indah. Image Seokmin yang hyper dan tidak bisa diam akan hilang seketika saat dia sudah mengangkat mic dan melantunkan nada nada yang begitu menyentuh hati. Tak jarang beberapa audience turut menangis menonton penampilannya yang begitu luar biasa. Perbedaan umur yang hanya 11 bulan dengan Jihoon membuatnya berada di tingkat yang sama dengan lelaki itu, meskipun dia tetap harus memanggil Jihoon dengan hyung, karenaㅡ kakaknya itu sungguh mengerikan kalau sudah mengamuk.

Bungsu keluarga Lee yang juga tak kalah mempesona-nya adalah Lee Chan. Jika ketiga kakak tertuanya mewarisi keahlian menyanyi dari sang ibu, maka sepertinya hanya dia yang betul-betul mewarisi bakat menari ayahnya. Walaupun nyanyiannya juga tak dapat diremehkan dengan mudah ketika sudah berada di atas panggung.

Lahir pada masa dimana lagu pop menguasai dunia membuat Chan menyukai Michael Jackson lebih dari siapapun. Hampir keseluruhan gerakan tarinya terinspirasi dari sang legenda dunia tersebut. Membuat julukan Michael Jackson-nya Korea melekat pada si bungsu meskipun dia menolak mentah-mentah julukan itu, enggan idolanya disamakan dengan siapapun.

"Aah mereka berisik sekali sih."

Si bungsu mengeluh ketika suara pekikan tertahan para wanita dan bisikan bisikan memenuhi pendengarannya di pagi hari. Mengerucutkan bibirnya tanpa sadar lalu memilih berdiri di samping Seokmin, berharap ocehan sang kakak mampu meredam suara suara menyebalkan itu.

"Sudah biarkan saja, nanti lama-lama juga terbiasa."

Seungcheol menasehati dengan senyum teduh di wajah, berharap ocehan sebal si bungsu akan tergantikan dengan senyum lugunya seperti biasa. Pandangannya teralih pada sosok lelaki paling mungil yang berdiri di belakang, kepalanya tertunduk dengan pandangan yang tertuju sepenuhnya pada buku bersampul merah di genggaman.

"Jihoon-a."

Suara beratnya memanggil nama sang adik dengan lembut, membuat obrolan dua bungsu terakhir tersela, lalu dengan segera turut menolehkan pandangan pada Jihoon yang baru saja mengangkat kepalanya, baru menyadari kakaknya tertinggal satu di belakang.

"Jihoon hyung, ayo jalan dengan Chan."

Dengan ceria Chan merangkul sebelah lengan Jihoon dan menempatkannya di antara dia dan Seokmin, mencoba membawa sang kakak dalam pembicaraannya mengenai tugas rumah barusan. Sedang yang dirangkul hanya tersenyum dan menurut, tau pasti adiknya tidak akan bisa dibantah.

.

"Ya ya, lihat lelaki aneh itu, bukannya dia terlihat sangat idiot?"

"Aah dasar lelaki itu, lelaki tapi tidak terlihat seperti lelaki, tidakkah itu memalukan?"

"Kau benar, dia lemah sekali dalam hal adu kekuatan, lelaki macam apa itu?"

"Seungcheol sunbae saja mantan atlit dulu, kenapa adiknya malah jadi seperti ini?"

"Sungguh memalukan, dia hanya baik di hal-hal yang berhubungan dengan buku, mengesalkan sekali."

Jihoon mendengar ucapan-ucapan itu, jelas. Tapi yang bisa dia lakukan hanyalah diam di tempatnya dengan earphone hitam yang menyumpal telinganya dan buku matematika yang tengah dibacanya, enggan peduli dengan ucapan beserta sumpahan gadis-gadis itu padanya.

Tidak masalah, sungguh. Benar kata Seungcheol kalau lama kelamaan dia akan terbiasa dengan ucapan gadis-gadis menyebalkan itu, meskipun awalnya dia seperti ingin mengoyak gadis gadis itu, tapi semakin lama dia mampu menguasai dirinya dan memilih mengabaikan ocehan tak berguna itu.

"Ya ya ya kalian sudah dengar belum? Akan ada pengacakan kelas lagi kali ini!"

"Benarkah?! Yak luar biasa! Aku selalu berharap bisa satu kelas dengan Kwon Soonyoung! Aah pasti menyenangkan!"

"Aah kau benar kau benar! Kita bisa berada di kelas yang sama dengan Kwon Soonyoung si ketua klub dance! Yak daebak."

"Oh, bagaimana kalau satu kelas lagi dengan Lee Seokmin? Aah pasti menyenangkan sekali!"

"Tentu saja! Bisa sekelas dengannya kali ini saja aku sudah senang sekali, apalagi kalau sampai berada di satu kelas yang sama lagi dengannya."

Pengacakan kelas? Dahi Jihoon berkerut sedikit mendengarnya. Itu berarti kawan baru, wali kelas baru, tempat duduk baru, dan ejekan-ejekan baru. Dia jelas harus beradaptasi dengan suasana baru itu, mau tidak mau, suka tidak suka, apapun yang terjadi.

Bel istirahat yang baru saja berbunyi membuat murid-murid yang sedari tadi sibuk bergosip berhamburan keluar kelas, pergi entah kemana pun Jihoon sama sekali tidak menaruh ketertarikan pada mereka. Dengan segera lelaki itu menggenggam buku catatan sejarah miliknya beserta ponsel dan beberapa alat tulis lalu beranjak keluar kelas, berniat pergi ke perpustakaan untuk mengerjakan tugasnya.

"Jihoon-a!"

Sebuah suara lembut yang memanggil namanya dari arah pintu depan membuat langkahnya tertahan, kepalanya menoleh dan senyum ramah tersungging di bibir saat sosok lelaki dengan mata kucing dan wajah manis melambai ke arahnya.

"Ya Jisoo hyung? Menitipkan sesuatu untuk Seokmin?"

Terkekeh kecil sembari melangkah mendekat pada si kakak tingkat yang juga merupakan kekasih Seokmin, pandangannya terarah pada kotak bekal yang berada di tangan lelaki manis itu dengan sebuah post-it berwarna kuning cerah yang tertempel di atasnya.

"Kotak bekal seperti biasa, dia pasti berangkat kesiangan lagi kan? Aku sudah hafal sekali dengan sifat bandel Lee Seokmin."

Ucapan Jisoo terhenti sejenak sebelum kepalanya melongok masuk ke dalam kelas Jihoon, mencoba mencari seseorang di dalam yang membuat senyum manisnya kembali muncul ketika sosok yang dicari tidak nampak di pandangan.

"Dia juga pasti sedang pergi bermain ke kelas Chan atau Seungcheol? Aah dasar anak itu. Jihoon-a, nanti berikan ini padanya ya? Kau juga bisa mengambil sedikit kalau kau mau. Juga, kau anak nakal, aku yakin Seungcheol sudah berkali-kali mengingatkanmu untuk tidak berangkat ke sekolah sendiri dan meninggalkan Seokmin kan?"

Rentetan ucapan kakak tingkatnya barusan membuat Jihoon tersenyum manis menahan tawa dan mengangguk, senyum yang jarang sekali diperlihatkannya di hadapan sembarang orang kecuali orang yang dihargainya, dan Jisoo adalah satu dari orang-orang yang jumlahnya tidak terlalu banyak itu.

"Membangunkan Seokmin itu susah sekali hyung, aku menghabiskan tenaga pagiku hanya untuk anak itu, menyebalkan sekali kan? Hanya saja tadi pagi aku baru ingat kalau kartu transportasiku sudah kehabisan saldo, jadi aku tidak punya pilihan selain menunggu Seokmin."

"Baiklah baiklah anak nakal, jangan lupa nanti ajak Seokmin dan Jeonghan ke ruang vocal kalau kau bertemu dengannya ya? Dan pastikan Seokmin memakannya nanti."

Jihoon mengangguk paham dengan senyum ramah di wajah, sudah terbiasa dengan rentetan pesan Jisoo yang menyapa dirinya hampir setiap hari pada jam istirahat, membuatnya paham bahwa keduanya memang benar-benar saling menyayangi.

"Tentu saja hyung. Aku mewakili ucapan terima kasihnya untukmu."

Lalu mengangguk kecil sebagai balasan atas lambaian Jisoo kepadanya yang sudah mulai menjauh dan menghilang di balik lorong. Jihoon menatap kotak bekal itu sebentar dan membaca post-it yang bertuliskan beberapa pesan cinta dengan bahasa Inggris ㅡtidak heran, Jisoo kan lahir dan besar di Amerikaㅡ lalu tanpa mengucapkan apapun meletakkan kotak bekal itu di atas tas Seokmin yang diletakkan di meja, tepat berada di sebelah mejanya.

"Hei kau lihat barusan? Lee Jihoon meletakkan sesuatu di meja Seokmin, menurutmu apa itu?"

"Apa dia iri dengan popularitas saudaranya sehingga dia mencoba untuk meracuni Seokmin?"

"Ya ya ya, apakah itu mungkin racun serangga seperti yang ada di berita-berita itu? Kau tau kan? Pembunuhan dengan mencampurkan racun serangga ke dalam makanan?"

"Aah menakutkan sekali, benar-benar seorang psyco."

Sebuah bisikan yang sebenarnya tergolong terlalu keras, terdengar dari arah pintu masuk membuat Jihoon menghentikan pergerakannya, badannya menjadi kaku dalam sepersekian detik dan mengedipkan mata beberapa kali sebelum akhirnya memutuskan untuk mengabaikan mereka dan beranjak menjauh dari kelas.

Berbohong namanya kalau dia bilang itu tidak menyakiti harga dirinya, namun ucapan sang kakak untuk mengabaikan semuanya dan membiarkannya selalu terngiang di ingatannya, hanya perlu bertahan beberapa tahun lagi dan semuanya akan baik-baik saja, terus meyakinkan diri dengan sugesti itu hingga dia mampu bertahan sejauh ini.

Kakinya terus melangkah lebar-lebar dengan pandangan yang menunduk dalam terarah lurus ke lantai, seolah sedang menghitung jumlah ubin yang dilewatinya dari kelas menuju ke perpustakaan, genggamannya pada tumpukan buku di tangan mengerat saat melewati koridor yang cukup ramai di jam istirahat itu.

Sedikit mengaduh kesakitan saat tubuhnya terjerembab jatuh ke lantai, barang bawaannya berserakan dan ponselnya terinjak seseorang yang tadi tanpa sengaja bertabrakan dengannya. Tidak berkomentar apapun selain menggumamkan beberapa aduhan kecil dengan tangan yang mulai bergerak merapikan kembali barang bawaannya.

"Jihoon hyung? Tidak apa-apa?"

Jihoon yang mengenali suara itu sebagai milik adiknya Chan segera mengangkat kepalanya dengan bibir yang mengerucut beberapa senti ㅡtanpa sadarㅡ dan bersiap mengeluarkan beberapa kata umpatan sebelum matanya menangkap seseorang yang jelas sekali bukan Lee Chan adiknya.

"Jihoon hyung ada yang sakit tidak? Mau Chan antar ke ruang kesehatan?"

Beberapa detik kemudian barulah dia menyadari darimana suara Chan terdengar ketika sosok yang terjatuh di hadapannya adalah Kwon Soonyoung si ketua klub dance berandal yang ㅡsering dipanggilㅡ idiot dan bukannya Lee Chan bungsu tersayang keluarganya. Soonyoung beserta beberapa anggota geng-nya sedang berjalan berlawanan arah dengannya, dan Chan adalah salah satu dari mereka.

Sedetik kemudian Chan langsung berjongkok tepat di samping tubuh kakaknya dan membantu merapikan barang-barang Jihoon yang berserakan, membuat si pemilik surai hitam pekat tersenyum kecil dan menggumamkan terima kasih bagi adiknya yang dibalas dengan senyum manis dan anggukan polos, sungguh membuat siapapun gemas melihatnya.

"Aku minta maaf sudah menabrakmu, juga menginjak ponselmu, tapi sungguh aku tadi benar-benar tidak sengaja."

Gumaman seseorang dari arah lain membuat Jihoon mengalihkan pandangannya dan menemukan Soonyoung yang sedang berlutut di hadapannya dengan ponsel di genggamannya, hampir separuh dari layarnya retak dan itu membuat Jihoon menggigit bibir bawahnya tanpa sadar, mengingat ada beberapa lirik dan not lagu yang masih berada di memori ponselnya, pun seluruh lagu yang dinyanyikannya ada disana.

"Tidak apa-apa selama memorinya masih bisa diselamatkan, itu lebih penting untuk Jihoon hyung."

Menyadari Jihoon yang hanya terdiam selama beberapa detik dengan pandangan yang tak lepas dari ponselnya yang sudah rusak, Chan memutuskan untuk membuka suara dan menggantikan hyung-nya untuk berucap pada Soonyoung.

"Ya, itu benar Soonyoung-ssi. Kalau begitu aku permisi dulu."

Dengan segera Jihoon merapikan kembali buku-bukunya ke dalam rangkulan lengannya dan meraih ponselnya dari tangan Soonyoung dengan agak tergopoh, enggan menghabiskan waktu berlama-lama dengan kumpulan anak-anak terkenal itu, tahu pasti apa yang akan terjadi pada dirinya meskipun itu adalah kejadian yang tidak disengaja.

"Tapi Jihoon-a.."

Panggilan terpatah Soonyoung barusan membuat langkah Jihoon terhenti dan si surai pekat itu berucap tanpa membalikkan badannya sedikitpun, tidak ingin terlibat terlalu jauh melihat beberapa gadis mulai berkumpul dengan wajah penasaran, tidak peduli itu akan terlihat kasar bagi Soonyoung, karena toh dia tidak akan memiliki urusan lagi dengan Soonyoung setelah ini.

"Kalau kau ingin mengganti rugi berikan saja pada Chan, dan jangan panggil aku seperti itu karena kita tidak se-akrab itu Soonyoung-ssi, aku permisi."

Dan kemudian sosok mungil Jihoon beserta buku-bukunya menghilang di balik tangga sekolah, dia sudah beranjak naik dengan langkah lebar-lebar, merasa tergesa sekaligus tidak ingin sosok yang bahkan tidak dikenalnya terkena imbas jika bercakap-cakap dengannya, tau pasti apa yang akan terjadi jika dia nekat menerukan pembicaraan dengan si populer Kwon Soonyoung.

"Yak Chan-a, kau yakin kakakmu itu baik-baik saja? Dia tidak terlihat normal..."

"Jihoon hyung baik-baik saja! Dia itu normal tahu, jangan berkata yang tidak-tidak tentang kakakku Woohyun-a!"

"Iya iya, aku kan hanya bertanya sih..."

"Hei Chan-a, kenapa kau tidak pernah cerita kalau gen manis keluargamu itu tidak hanya menurun padamu?"

"Hah?"

"Kakakmu tadi manis sekali walau sedang mengomel begitu, apalagi saat lesung pipi-nya terlihat, boleh tahu namanya tidak?"

"Yak Kwon Soonyoung idiotmu jangan kumat di saat seperti ini dong!"

"Oh ya Soonyoung hyung, nama kakak Chan tadi Lee Jihoon."

Helaan nafas panjang terdengar saat Jihoon akhirnya tiba di perpustakaan yang pada hari itu cukup sepi, memudahkannya untuk menikmati quality time bersama buku pelajaran maupun buku musik yang menjadi kesukaannya, senyum tipis muncul di wajahnya saat memikirkan menyenangkannya menghabiskan waktu jam kosong di perpustakaan yang cukup sepi.

Dengan segera mengambil tempat di bagian ujung dekat jendela seperti biasanya, lalu beranjak dan mulai memilih buku yang akan dijadikan referensi tugas sejarahnya setelah sebelumnya meletakkan seluruh barang bawaannya di meja, lalu beberapa menit kembali dengan tiga buah buku sejarah Korea hanya untuk menemukan alat tulisnya berceceran di atas meja, bahkan beberapa pensilnya patah.

Kembali menghela nafas panjang sebelum berjongkok pasrah dan merapikan kembali alat tulisnya yang berserakan, dan saat itu pula telinganya menangkap suara cekikikan dari arah rak buku sebelah, membuatnya dapat menebak siapa sekiranya sang tersangka tanpa memakan waktu lama.

"Hai Jihoon hyung!"

Suara bervolume tinggi yang entah datang darimana tiba-tiba saja berada di hadapannya, membuat beberapa pengunjung perpustakaan mengernyitkan dahi tak suka saat konsentrasi membaca mereka diganggu, namun dengan segera semua terdiam saat Seokmin membungkuk memohon maaf dengan senyum secerah matahari terhias di wajahnya.

"Kau itu apa-apaan tiba-tiba muncul begitu, dengan suara keras pula."

Kembali senyum secerah matahari khas Lee Seokmin menghiasi wajahnya saat Jihoon menegur sang adik dengan nada kesal yang begitu kentara, siapa yang tidak terkejut jika sesosok lelaki bersuara tinggi tiba-tiba berucap entah darimana asalnya dan apa tujuannya di hadapanmu?

Seokmin memilih tidak menjawab teguran sang kakak dan membantu Jihoon merapikan alat tulisnya yang berceceran dengan mengomel beberapa kali mengenai berapa kali dalam seminggu Jihoon mengalami hal ini sehingga membuatnya harus pergi membelikan kakaknya alat tulis baru di supermarket dekat rumah mereka dan bertemu dengan Yoojin, anak kelas mereka yang bekerja paruh waktu disana ㅡSeokmin tidak terlalu menyukai gads ini karena dia centil, omong-omong.

"Jangan mengomel terus Seokmin-a, ini perpustakaan, mereka bisa terganggu dengan ocehanmu. Sudah sana kembali saja ke kelas, Jisoo hyung menitipkan bekal padaku tadi, dia menyuruhmu menghabiskannya."

Kali ini senyum Seokmin lebih cerah dari matahari yang tengah bersinar di lapangan sekolah ketika nama Jisoo disebut, dalam hati Jihoon mengumpati sepasang kekasih yang selalu pamer kemesraan secara tidak langsung itu, tapi bagaimana juga mereka adalah orang-orang tersayangnya jadi Jihoon memilih menahannya sendiri.

"Baiklah Jihoon hyung aku akan kembali ke kelas, juga nanti sepulang sekolah aku akan membelikan alat tulis baru untukmu, sampai jumpa di kelas!"

Jihoon hanya tertawa kecil dan membalas lambaian Seokmin sekilas, tahu betul adiknya yang satu itu tidak akan beranjak kalau lambaian tangannya tidak dibalas. Beberapa detik kemudian saat sosok bersurai dark brown itu sudah menghilang di balik pintu perpustakaan, Jihoon menghela nafas panjang dan menatap kotak pensilnya yang berisi beberapa alat tulis yang sudah rusak.

"Kau puas sekarang? Kau akan bertemu dengannya nanti saat pulang sekolah."

.

Hari itu kelas Soonyoung sedang mengadakan kegiatan belajar mengajar sejarah yang dapat dibilang cukup ㅡbohong, sebenarnya sangatㅡ membosankan dengan guru yang juga tak kalah membosankannya, jika murid rajin di kelasnya saja menahan diri mati-matian untuk tetap menjaga komsentrasi mereka maka lain hal-nya dengan Soonyoung, lelaki bersurai light brown itu malah sudah meletakkan kepalanya di meja dengan mata terpejam sedari tadi.

Entah bagaimana caranya, tiba-tiba saja buku sejarah dengan tebal halaman hampir mencapai angka 300 itu terjatuh tepat menimpa kepalanya yang tergeletak tak bernyawa di meja akibat tanpa sengaja tersenggol tangannya, menimbulkan aduhan yang cukup keras dan mengalihkan atensi seluruh kelas padanya.

"Siswa Kwon Soonyoung, aku tahu kau tidak terlalu pintar dalam akademis tapi bisakah kau tidak mengganggu pelajaranku?"

"Ya, saem. Aah seperti ada yang mendengarkan saja."

Bergumam kecil dengan tangan yang mengelusi kepalanya yang tadi tertimpa buku sejarah setelah memastikan guru lelaki membosankan itu tidak mendengarkan ucapannya barusan, dan memasang wajah mengejek ke arah sang guru yang kini sudah berkutat dengan teori Perjanjian Gencatan Senjata Korea yang terjadi ketika tidak satupun dari mereka sudah dilahirkan.

"Nah setelah ini kita akan pergi ke perpustakaan untuk mencari buku referensi mengenai materi yang baru saja saya jelaskan di depan, siswa Kwon Soonyoung?"

Si pemilik mata mirip bentuk jarum jam itu dengan segera menghentikan kegiatan menggambar abstrak di buku catatannya dan mengangkat kepala ketika mendengar namanya dipanggil oleh sang guru, mata sipitnya memicing tajam ketika dirinya sudah menebak apa yang akan diucapkan sang guru setelah ini.

"Tolong pergi ke perpustakaan terlebih dulu dan katakan pada pengawas perpustakaan kalau kami akan datang 10 menit lagi, pastikan buku yang kita butuhkan tersedia seluruhnya di perpustakaan."

"Hah? Buku? Buku apa? Apakah buku belajar menggambar atau buku belajar berhitung?"

"Tidak tahu, sudah sana berangkat saja dulu Soonyoung-a, aku mau membaca materinya dulu."

Soonyoung tanpa sadar mencebikkan bibirnya kesal ketika Youngjae yang ditanyai malah mendorongnya keluar kelas dengan alasan yang tidak masuk akal, mau membaca materi katanya? Bilang saja tidak mau ikut disuruh ke perpustakaan menemaninya, tapi kalau dipikir-pikir juga sebenarnya tidak ada yang mau jika disuruh pergi ke perpustakaan yang letaknya di lantai teratas bangunan, naik tangga itu melelahkan.

"Aah benar-benar guru itu menyebalkan sekali sih, padahal baru dua hari lalu aku melatih fisik dengan naik turun tangga, sekarang malah dapat perintah menaiki tangga 3 lantai begini, ada apa dengan guru tua cerewet yang membosankan itu?"

Biarpun perjalanannya dihabiskan dengan mengeluh terus-menerus dan mengusap peluh yang menetes di dahi sesekali, namun dalam waktu kurang dari 5 menit si pemilik marga Kwon itu akhirnya tiba di perpustakaan yang cukup sepi karena sekarang adalah jam pelajaran.

Dengan segera lelaki itu masuk dan berbasa-basi sebentar dengan Nyonya Tak penjaga perpustakaan yang masih muda dan cukup ramah, menyenangkan untuk menjadi teman mengobrol walaupun perpustakaan adalah tempat yang identik dengan kesunyian, lalu menyampaikan pesan dari sang guru membosankan yang akan tiba sekitar 7 menit kemudian.

"Ya terima kasih Nyonya Tak, aku akan berkeliling sembari menunggu yang lainnya."

"Tentu saja Soonyoung-a, duduklah di dekat jendela kalau kau mau, aku tahu kau pemuda yang mudah bosan jika tidak memiliki sesuatu untuk dilakukan."

Soonyoung tertawa mendengarnya, membuat matanya yang sering disebut mirip jam ketika pukul 10:10 itu benar-benar muncul dan pipinya yang sedikit chubby benar-benar terlihat, lalu mengangguk ramah dan mulai menjelajah sudut-sudut perpustakaan.

Di tengah penjelajahan-membunuh-waktu yang dilakukan Soonyoung, matanya tertambat pada seorang lelaki yang sedang mengangguk-anggukan kepalanya beberapa kali, nampak seperti begitu menikmati suara yang keluar dari earphone hitam di telinganya.

Itu Jihoon, kakak Chan yang tadi tidak sengaja ditabraknya di koridor sekolah dan yang ponselnya tidak sengaja diinjaknya hingga layarnya retak hampir separuhnya, duh Soonyoung benar-benar merasa bersalah saat mengingat momen itu, ditambah fakta dia tidak melakukan apa-apa untuk membantu Jihoon membuat perasaan bersalah semakin memuncak.

"Hei, Jihoonㅡ uhm, -ssi?"

Memilih menyapa terlebih dahulu dengan nada ramah yang biasa digunakannya saat bercakap-cakap dengan kawan-kawannya, yakin benar kalau cara ini akan berhasil membuat yang lebih mungil berbicara padanya, mengingat betapa tidak pedulinya Jihoon saat mereka tanpa sengaja bertabrakan tadi.

Terdengar helaan nafas panjang sebelum Jihoon melepas sebelah earphone-nya dan mengangkat kepalanya dari buku catatan sejarahnya dengan gesture ogah-ogahan, seolah benar-benar enggan meladeni Soonyoung yang entah darimana tiba-tiba saja datang menyapanya di perpustakaan.

"Ada apa lagi? Tidak perlu meminta maaf lagi, aku kan sudah bilang kalau ponselku tidak rusak dan aku juga tidak terluka."

Soonyoung menelan ludahnya tanpa sadar mendengar rentetan kalimat Jihoon, benar sih Jihoon mulai berbicara dengannya sekarang, tapi dia tidak pernah menyangka kalau topik tabrakan secara tidak sengaja itu akan kembali diungkit si surai hitam dengan nada yang begitu malas, seolah benar-benar enggan diajak mengobrol.

"T-tidak kok, aku tidak mau meminta maaf padamu, lagipula sepertinya ponselmu baik-baik saja karena kau masih bisa menggunakannya untuk mendengarkan musik."

Sial, kini Soonyoung menyetujui ucapan kawannya Wonwoo tempo hari bahwa terkadang mulutnya bisa menjadi lebih idiot daripada otaknya di saat-saat genting yang menentukan hidup dan matinya seperti ini, pandangan matanya bergerak cepat mencari sesuatu yang bisa digunakan sebagai alasannya mendatangi si mungil, tak ingin menganggung malu karena ketahuan menjilat ucapannya sendiri.

"Aku tadi mencari buku ini, daritadi aku mencarinya di rak tapi tidak ada, ternyata kau yang mengambilnya."

Dengan segera Soonyoung menarik buku bersampul hijau dengan tulisan "Sejarah Perang Korea" sebagai judul buku yang tebalnya hampir menyamai kamus yang biasa digunakan untuk pelajaran bahasa asing di sekolah mereka, sedikit tersentak menyadari buku yang dipilihnya benar-benar tebal dan berat, tidak sesuatu ekspektasinya.

"Aku membutuhkannya untuk pelajaran sejarah setelah ini, kau cari saja buku yang lainnya ya. Terima kasih Jihoon-ssi."

Tak ingin menganggung malu lebih lama lagi Soonyoung memutuskan untuk segera beranjak dari hadapan si pemilik marga Lee yang sedari tadi menatapnya dengan tatapan apa-apaan-yang-dilakukan-anak-ini dan tak sirna bahkan setelah Soonyoung menghilang di balik rak-rak lainnya, pandangan Jihoon terarah pada rak buku di sampingnya berisi belasan buku bersampul hijau dengan judul "Sejarah Perang Korea" yang tidak dilewati Soonyoung tadi.

"Benar kata Seokmin ternyata, Kwon Soonyoung itu idiot."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Yeay! Finally chapter 1 yang ditulis di tengah tengah ujian sebagai pelepas stress ㅠㅠ

Saya memutuskan memakai YAOI theme dan Idiotly Match sebagai judul yang merupakan saran seseorang /cough.

Jadi di chapter ini karakternya masih blur, belum jelas dan belum detail, juga bullynya disini indirect ya, jadi nggak secara langsung kaya dilempar telur dan lain lain, tapi kemungkinan tetep ada Jihoon digitukan /ga tega.

Mohon supportnya karena ini ff SoonHoon pertama saya ㅠㅠ

Dan terima kasih untuk yang sudah meluangkan waktu membaca dan reviewㅡ!

파이팅 ~