Merah dan Senyap
# KARUISOWEEEEEK
Chapter 2
Pertemuan Selasa Ke-4 Dengan Pasien 106
"Kau…"
Tubuh yang tergeletak di tempat tidur, diam, membuka mata dengan tatapan kosong.
Sama sekali tidak ingin diusik.
Keringat yang mengalir dari pelipisnya walaupun hari ini dingin.
Jari-jemarinya yang sedikit gemetar.
Tali-temali tidak tampak yang menjeratnya.
"Karma-kun, kau tidak apa-apa...?"
"…"
"Karma-kun..?"
Tangannya berhenti meraih tubuh kecil itu yang seperti mengigil kedinginan.
"Kau.."
Bibirnya perlahan membuka.
"Kau datang ke sini, sama sekali tanpa perlindungan.."
Matanya tertutupi telapak tangannya.
"Sekuriti, borgol, pisau lipat, sepincut rasa waspada –tidak ada."
Rambut merahnya tersapu ketika ia menengokkan kepala ke pria itu.
"Dan masih-masih saja kau berani membawa pena ke ruangan ini."
Ya, kejadian yang baru berapa hari saja itu.
"Beritahu aku.."
Suaranya yang hampir seperti bisikan.
Pria itu sudah mengantisipasinya, peringatan di balik catatan-catan khusus dari penangan-penangan Karma yang sebelumnya.
"Inspektur itu membayarmu berapa untuk menjebloskanku, hah?"
Mania, kondisi psikis abnormal yang ditandai perubahan mood yang ekstrim.
Kakinya turun dari ranjang dan melangkah ke arah pria itu.
"Katanya penjara memiliki lebih banyak orang gila dari rumah sakit jiwa seluruh negara ini digabungkan."
Dan pertanyaan yang penting baginya, episode manik ini akan seberapa parah?
"Jadi kau menganggap itu hal yang baik untuk aku mencari teman disana bukan? Dasar guru TK."
Secara tidak sadar, kakinya sudah mundur beberapa langkah.
"Kau berusaha membuatku lengah dengan penampilanmu itu, kan?"
"Tidak, aku—"
PLAK.
Dijawab tamparan yang mendarat di pipinya.
Sebegitu kuat hingga membuat Isogai spontan memegang pipinya.
"Kau tahu, guru TK, aku benci sekali melihat mukamu yang jelek itu."
PLAK.
"Pura-pura tidak berdosa."
PLAK.
"Seperti serigala berbulu domba."
Isogai tetap berdiri, langkahnya tidak bergeser sedikit pun dengan perlakuan semena-mena itu.
PLAK.
"Kalian semua ingin menipuku."
Catatan khusus dari semua psikiater yang dulu menanganinya.
-kecenderungannya yang paranoid.
PLAK!
Punggungnya yang sebentar lagi menghantam dinding konkrit.
"Jawab aku. Kau sungguh ingin membantuku?"
"Karma—"
Kerahnya diangkat oleh bocah itu, mencekik lehernya.
"Kau tahu kenapa aku tidak meninjumu, menendangmu, atau menusukmu?".
Mata emasnya hanya menatapnya dengan semacam kepasrahan, menunggu jawaban.
"Ada suatu perkataan yang pernah kudengar, tetapi tidak pernah kumengerti. Sesuatu yang aku harap kamu membantuku mengerti…"
Cengkraman di kerahnya semakin kuat.
Paranoianya itu, catatan khusus kedua dari para psikiater sebelumnya…
"Seorang nabi berkata.. Bila seseorang siapa pun yang menampar pipi kananmu,"
Dapat memicu tendensi yang meledak-ledak.
"-berilah juga kepadanya pipi kirimu.'"
Sama seperti penderita intermittent explosive disorder.
PLAK..!
"Kau sungguh ingin membantuku?"
Jari jemari kecilnya.
"Mulia sekali…"
Membalikkan pipinya.
"Nah, kau mau kan memberikan pipi kirimu?"
PLAK.
PLAK.
PLAK.
"Bagaimana?"
"Kh.."
Rasa pusing mulai melandanya dengan hebat diikuti setiap pukulan.
PLAK.
Membuatnya bertanya; kenapa ia membiarkan seorang anak kecil memukulnya seperti ini.
PLAK!
"MEMBANTUKU?"
Sakit..
PLAK.
PLAK.
PLAK.
"MEMBANTU DIRIMU SAJA KAU TIDAK MAU."
Samar samar matanya, di balik tubuh yang terhuyung-huyung.
PLAK.
Kenapa aku membiarkan anak ini memukulku seperti ini-
PLAK.
Ya. Aku sudah tahu mengapa.
Grep. Tangannya mengenggam pergelangan anak kecil itu.
"…"
"Hah apa yng kamu mau lakukan sekarang? Ayo sebelum kutampar lagi mukamu yang menyedihkan itu."
Mata emasnya menatapnya tanpa sedikit pun rasa marah.
"Kau tahu, Karma-kun.."
Sempat dirinya merasa dirinya konyol rela diperlakukan semena-mena seperti ini, ia berpikir seraya merogoh sakunya.
"Buka tanganmu, Karma-kun..."
"…"
Pria itu membuka jari jemarinya, sehingga menampilkan telapak tangannya yang mungil.
"Kau-"
"1."
"!"
Sebuah permen diletakkan di tangannya.
"2."
"3."
"4."
"5."
"6."
"7."
"8-"
"Apa yang kau—"
"Belum, masih ada lagi."
Dan terus ia meletakkannya, biji demi biji hingga permen itu tumpah dari telapak tangannya.
Satu per satu dalam keheningan dan pasien kecil itu sama sekali tidak berkutik, hanya melihat apa yang dilakukan pria itu.
"16."
Dan permen terakhir itu melengkapi kumpulan permen di tangannya.
"Kau menamparku sebanyak 16 kali, Karma-kun."
"…"
Matanya menatap permen di genggamannya itu dengan syok.
"Kurasa nabi itu tidak akan memintaku untuk memberimu permen."
Ia tersenyum simpul.
Mata merkuri itu menatapnya, tidak percaya.
"Tetapi karena kau sudah menampar baik pipi kiri dan kananku, aku tidak bisa memberikanmu apa-apa lagi."
"…"
Karma menatapnya seperti ia yang malahan orang gilanya.
"Jadi kau juga, jangan cepat marah-marah ya, Karma kun.."
Tersenyum bersahaja, sederhana.
Tanpa kepura-puraan.
"Kau.."
Pria itu menjawabnya kembali dengan senyuman.
Senyuman yang membuatnya merasakan gejolak perasaan yang tidak ingin ia rasakan.
Ombak perasaan yang sungguh begitu asing baginya.
Mendobrak masuk seperti pencuri di tengah malam.
PLAK!
Kali ini tangannya seperti bergerak dengan sendirinya, menampar pria itu dengan sekuat tenaga.
Begitu tiba-tiba hingga pria itu tersungkur ke lantai, kesakitan
-bersama dengan permen yang tadi di tangannya, berhamburan berantakan.
"Memang kamu lebih bodoh dari hewan ternak."
Isogai memegang pipinya, sementara bocah itu berdiri dengan telapaknya yang gemetar.
"Mungkin… Tetapi, kau tahu apa yang nabi itu bilang setelah itu, Karma-kun…?" pria itu perlahan bangkit, tangan masih di pipi.
"Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil."
Ia memungut permen yang berjatuhan di lantai.
Enam belas biji permen, semuanya.
"Demikian aku juga, akan berjalan dua kali lipat bila perlu-
Lalu menarik tangan kecilnya itu kembali.
Membuka telapak tangan sama yang menamparnya tadi.
"Dan berjalan bersama denganmu."
Dan ditaruhnya sembilan biji permen yang belum retak itu di telapak tangan Karma.
Sementara wajahnya yang sudah begitu merah, terlihat sama menyedihkannya dengan sisa-sisa permen yang sudah retak karena beradu dengan lantai.
Bahkan dengan wajahnya yang sudah tidak karuan karena ditampar itu, entah kenapa, Karma tidak dapat mengalihkan pandangannya.
Ataupun berhenti merasakan apa yang sedang beradu perang di batinnya,
-di mata hatinya.
"..."
"Kau tidak mau?"
Dan kembali menatap sekelumit permen di tangannya itu dengan rasa tidak percaya.
Pertemuan Senin Ke-2 dengan Pasien 106
"160, kau mau tahu arti angka ini?"
Bocah itu mengernyitkan alis kepada secarik kertas di depan wajahnya, lalu menggeleng kepala dengan setengah-setengah.
"Stanford binet, itu nama tes yang kamu kerjakan kemarin."
"Yang ada gambar beruang kutub dan kotak-kotak aneh itu?"
"Yup dan kamu berada di papan teratas dari kategorinya. Dan hebatnya, kau masuk dalam klasifikasi sangat berbakat, Karma-kun."
"Hehh…?"
Bagi bocah itu, ide sebuah kertas yang aneh mendikte kecerdasannya adalah hal yang terlampau absurd.
"Dan itu untuk..?"
"Ada banyak jenis, tapi namanya tes IQ atau intelligence quotient, umumnya tes kecerdasan. Jadi kamu membagi umur mental tes kamu dengan umur aslimu, lalu dikali 100-"
"Jadi kalau aku 160, aku 60% lebih pintar dari umur asliku?"
"Akan sedikit lebih rumit dari itu.. Tetapi kurasa dibilang seperti itu. Rata-rata populasi itu biasanya berskor sekitar 90 hingga 110, setiap level ke atas itu naik sekitar 10 poin."
Ia memberikan kertas nilainya ke anak itu.
"110-120 itu untuk orang-orang yang di atas rata-rata,"
"Di atas itu hingga 139 itu level-level di bawah jenius atau superior.."
"Sementara kamu yang di atas 140 itu kategori jenius."
Isogai mengambil kertas itu dan menunjuk angka hasilnya.
"Dan 160 itu sangat hebat, loh, Karma-kun. Kau pasti kau bisa lulus masuk Mensa*!"
*organisasi untuk para intelektual
"Siapa yang peduli tentang kategori, bodoh."
"Ukh.."
Ya kurasa memang dia tidak akan peduli hal beginian—
"Justru yang penting itu mengukur tingkat kebodohan populasi manusia."
Ehh..?! Isogai mengangkat alis, tidak menyangka ia akan menaruh ketertarikan pada hal semacam ini.
"Eng.. Ini.", ia menggambar sebuah kurva lonceng* di sebuah kertas kecil.
*bell curve tingkat penyebaran kecerdasan
"160 itu menempati ujung kurva, berarti tingkat kecerdasanmu, Karma-kun, hanya ditemukan dalam 0,14% dari populasi."
"Bah, itu terdengar terlalu mengesankan dari yang kukira. Aku tidak tuli kan, aku bahkan tidak sampai 2/10 dari 1% manusia..?"
"Betul, Karma-kun. Sementara lebih dari 60% manusia itu rata-rata 90 hingga 110."
""Jadi aku 60% lebih mengesankan dari mayoritas populasi manusia."
"Engg.. Begitulah."
"Hei, guru TK. Kata psikiater sebelumnya kira-kira 6% populasi manusia benar-benar sakit jiwa sepertiku. Sementara 20% anak-anak sepertiku sedikit.."
Ia memutar jarinya di dekat telinganya. "Kau tahu, coo coo.*"
*gila atau menderita penyakit mental
"Apa yang kau berusaha katakan, Karma-kun?"
"Mungkin dunia ini kacau itu karena ada lebih banyak orang gila lebih banyak dari org pintar."
Isogai spontan menggaruk kepala.
"Ngg, bukan begitu Karma.. Kamu memang pintar, tapi kecerdasan kamu adalah pengecualian yang sangat spesial—"
"Hahh." Bocah itu menghela napas panjang, "Sayang sekali harta karun cendekiawan ini berakhir untuk membusuk di rumah sakit jiwa seperti ini." Ia mengangkat dua tangannya seperti menyerah.
Aku tidak mau membayangkan apa jadinya kalau Karma-kun menjadi cendekiawan dengan god complex, pikir Isogai dengan risih.
"Walau 6% itu statistik yang cukup lama, tetapi tergantung berapa penyakit yang dimasukkan bisa sampai 1/17 orang menderita penyakit mental parah. Sekitar lima puluh persen tidak terlapor.. Dan semakin parah, semakin cenderung tidak terlapor."
"Justru kau yang gila, guru TK. Siapa yang mau dikurung seperti ini. Justru, 50% yang melapor itu gila."
"Tidak semuanya dikurung kok, Karma-kun. Ada yang diberi kunjungan rumah sakit, dirawat keluarga, dan-"
Mata merkuri yang dingin itu menatapnya.
Seketika badannnya terasa seperti tenggelam di danau es.
"Hei, guru TK." suaranya seperti raungan.
Menelan ludah.
"Ya?"
"Lalu apa yang kaupanggil dengan rumah berisi keluarga yang semuanya juga gila?"
Satu detik.
Dua detik, tiga.
Keringat dingin menuruni pelipisnya.
Aura mencekam yang sama ini.
"Aku tidak tahu, Karma."
"Rumah sakit jiwa."
"…"
"..."
Rasanya Isogai ingin jatuh dari kursi dan pingsan.
Apakah dia barusan sja…
Bercanda?
PLAK. Sebuah tamparan menepuk bahunya.
"Hahahahaha, astaga. Aku tidak selalu akan menusuk dengan pena atau apapun."
Tanda kutip, 'tidak selalu.'
"Eng.."
Isogai tidak tahu harus apa seraya bocah itu terus saja tertawa terpingkal-pingkal.
"Dan kau tahu, guru TK."
Matanya memburu, memangsanya.
"Kurang satu orang yang belum gila."
Bocah itu berdiri di depannya, hadap-hadapan.
Matanya melebar dengan sebuah mania tersendiri.
"Karma-kun."
"Hm?"
Mata emas itu bertemu kilatan matanya.
"Orang jenius biasanya sedikit gila atau eksentrik."
"…"
"…"
"Kau baru saja memuji diri hah, guru-TK?"
"Kau hanya dapat berkata begitu kalau kau mengasumsi demikian."
"…"
"..."
Keringat dingin menuruni pelipisnya bersama dengan tatapan dingin yang diberikan bocah itu.
"Heh, tidak buruk."
Pasien cilik itu bangkit dari hadapannya, lalu menghempaskan diri di atas ranjang kecil itu.
"Aku mau tidur saja."
Dan membiarkan Isogai pulang dengan selamat satu hari lagi.
Pertemuan Kamis Ke-9 Dengan Pasien 106
Hari itu panas, pakaiannya rasanya sudah menempel ke kulit mereka berdua.
"Bayangkan, 60% dari populasi*."
"Eh?"
Isogai mengangkat alis.
"Maksudmu yang kemarin, Karma-kun?"
*60% manusia memiliki IQ sekitar 90-110
"Itu menjelaskan kenapa mereka semua terdengar sangat bodoh."
"Ukh."
Pria itu hanya bisa menggeleng-geleng kepala.
Anak ini memiliki kompleks yang merepotkan.
Semoga tidak menjadi semacam god complex.
Isogai malah memijit pelipisnya, merasa bodoh.
God complex, diagnosa macam apa itu.
"Tapi, Karma-kun.. Aku tidak bisa bilang hal yang sama mengenai EQ."
"Memangnya ada tes bodoh lainnya?
"Bukan, bedanya dengan intelligence quotient, EQ ini emotional quotient. "
"Pft. Emosi." Nadanya sinis.
"EQ itu digunakan untuk mengukur kecerdasan emosi, interaksi, dan pertimbangan dalam diri."
"Terdengar seperti pseudosains yang menyedihkan."
"Memang tidak ada parameter sepasti IQ, karena tidak ada betul-betul yang definit dalam perihal pertimbangan dan perilaku kecuali sekelumit petunjuk sosial."
"Lalu kau beri tahu aku, guru TK.. Membicarakan ini kepada seorang pennghuni rumah sakit jiwa akan membantu siapam lebih tepatnya..?
Ya, rasanya ia sudah mulai terbiasa dengan komentar-komentar pasien cilik itu.
"Mengenai tes kemarin, nilai itu cukup mengesankan karena didesain untuk umur 18 tahun."
"Apa bedanya, aku akan menjadi 18 dua tahun lagi."
Oh iya, bicara tentang tahun..
"Kapan kamu berulang tahun?"
Bocah itu menatapnya dengan aneh.
"Sama dengan nabi yang memintamu berjalan dua kali denganku."
Mengingatnya membuat Isogai menggeleng kepala.
Nabi itu yah..
"25 Desember?"
"Ya, walau diperkirakan sebetulnya lahir di Oktober secara historis, tetapi tidak buruklah tebakkannya, guru TK."
Sepertinya ia suka membaca buku…
"Jadi hadiah ulang tahunmu dirangkap dengan hadiah natal, dong?"
"Bodoh. Pasien rumah sakit jiwa mana diberi hadiah."
"Ah."
Betul, sudah 6 tahun ia mendekap disini.
Di ruangan yang menyesakkan jiwa ini.
Pertemuan Jumat Ke-7 Dengan Pasien 106
"Heh, guru TK."
Isogai menengadahkan kepalanya dari tumpukan kertas di pangkuannya.
"Ya, Karma-kun?"
"Kamu gila?"
Pertanyaan yang tidak pernah ia bosan tanyakan.
"Kurasa kamu harus sedikit gila untuk bisa menangani orang gila."
Bocah itu menatapnya seakan itu hal yang tumben sekali bila ia meladeninya.
"Tidak apa-apa Karma-kun, aku akan meladeni pertanyaan yang paling aneh sekalipun kok."
"Cih."
Pasien cilik itu membuang muka.
"Andaikan aku kaget dengan hal segitu saja, aku tidak akan dapat tinggal di rumah sakit jiwa ini dengan waras."
"..."
"..."
Hah.
"Jadi maksudmu kamu waras Karma kun?"
"Cari berantem ya, guru TK?"
-Tbc
Afternotes:
Gara-gara event KaruIso, kenapa malah jadi demen Karuiso #uhuk
Idk, jadi lebih mengapresiasi sosok Isogai Yuuma perlahan-lahan sambil nulis, biasanya enggak perhatiin, tetapi lama-lama jadi agak suka lihat karakter satu ini. Adem.
Terima kasih kepada seorang psikolog yang (berhubungan beberapa hal tidak ditaruh namanya disini) telah menjawab semua pertanyaan aneh-aneh yang membuat cerita ini lebih realistis, DSM V, dan buku psikologi sekumpul-kumpulannya.
*Disclaimer: segala informasi di atas bukan rujukan*
Omake
1. Pertemuan di cerita ini disusun dengan berapa kali Isogaii bertemu dalam hari tertentu.
Senin (1), Selasa (4), Rabu (0), Kamis (8), Jumat (6), Sabtu (6), Minggu (0)
Jadi, Isogai belum pernah membuat pertemuan dengan Karma pada hari Senin dan Minggu.
2. Maaf kalau kurang jelas di chapt pertama ;^;, Akabane Aragaki itu nama ayah Karma, sehingga yang dimaksud dengan namanya itu adalah marga Akabane milik mendiang.
3. Intermittent Explosive Disorder, penderitanya biasanya dapat meledak-ledak dan melakukan hal yang impulsif karena penyebab yang sepele sekalipun, walau tidak selalu merusak.
4. Psikiater menjalani pendidikan dokter, berbeda dengan psikolog yang biasanya hanya mempelajari bidangnya. Isogai selain praktek, juga mengajar sebagai dosen.
Thanks for reading, review =/- atau saran2 sangat dihargai
