Wah akhirnya di lanjut juga sama saya XD maaf ya, kalo gak bisa update cepat ;)

Oke kita balas review dulu~

-Kagayaku Mangetsu-Chan

Ahaha XD kan sesuai sama sifatnya :v sama-sama kejam XD /ditembak

Kagak jadi di delete kok, kak ;) makasih udah review~

-blackcorrals

Hehe :v makasih Corra! Walau kamu salah review, tapi kritikmu berguna banget! Thank you so much kak! And thanks dah review~

-Nisa Arliyani

Wah wah XD makasih loh pujiannya! Jadi obat penyemangatku

Yah memang jarang sih XD malahan mungkin langka dan perlu dilestarikan di cagar alam :v /hoi!

Thanks dah review kak dan moga lancar sekolahnya~

-EruCute03

Makasih pujiannya ;) ya, aku juga suka kalo Hali itu bukan kaum manusia XD terlalu mainstream /dilindes

Maaf ya, gak bisa update kilat -3-) Tapi, saya usahakan setidaknya 1 bulan sekali update XD /ditebas

Makasih udah review~

-Rampaging Snow

Iya, Yaya memang ditakdirkan untuk selalu jadi korbannya Hali XD /ditonjok

Hmm... kita tunggu aja deh, mungkin bener mungkin juga salah terkaannya XD dan moga aja yaa Hali gak macem-macem :v makasih dah review~

-ayunf3

Lah, malah ngakak XD makasih semangatnya! ^v^

Dan juga makasih dah review~

-Meltavi

Salam kenal juga, kak! ^v^ kakak bisa panggil aku Din~

Wah makasih banget kritikannya! Aku jadi terharu kakak mau ngoreksi kesalahanku ini...

Hali kan emang dasarnya bukan manusia kak XD jadi dia gak berperikemanusian deh :v

Makasih ya semangat dan reviewnya~

-Thiafa

Iya kita sama, HaliYa is my fav. OTP XD

Makasih pujian dan reviewnya~

-tasha

Terima kasih dah nak baca dan review fic absurd ni XD

-Hanna Yoora

Wah kita sama-sama dibilang galak XD saya malah pernah di panggil singa waktu itu -3-

And karena yang ngereview banyak, walau banyakan silent readers, jadinya gak akan di delete deh ;)

Maaf ya gak bisa update kilat...

Makasih semangat dan reviewnya~

-Guest

Ohohoh XD Thanks for your review~

-Hikaru Q.A

Iya, udah di next

Makasih pujian dan reviewnya~

-sabtiasalsa

Emm... iya mungkin?

Makasih udah review~

-wrkshtt

Ini udah lanjut kok

Makasih pujian dan reviewnya~

-Salsha

Udah lanjut nih XD

Makasih pujian dan reviewnya~

-TiaraSekarMd

Gak dihapus nak (?), malahan udah dilanjut XD

Makasih pujian, semangat dan reviewnya~

Dah dijawab semua kan? XD sekali lagi, THANKS BUAT YANG UDAH MUNCUL DAN GAK JADI SILENT READERS~!

WARNING !

All Character BoBoiBoy © Monsta / Animonsta Studios

My Agreement With The Red Snake © IntonPutri Ice Diamond

All Chara 20 Th+

Banyak Typo, author baru, OOC parah, Straight Pair, story gak nyambung sama judul, de el el

Di cerita ini, Yaya rambutnya di urai panjang sampe pinggang

Pair : cari sendiri XD

Genre : Supernatural,Romance,de el el

This is JUST A STORY FROM MY MIND

DON'T LIKE DON'T READ !

Chapter 2 – Wrench Way

.

.

.

.

.

.

.

.

.

YAYA'S POV

Ku tatap hutan belantara yg gelap itu dengan tatapan sendu. Aku tak menyangka bahwa dihari ulang tahunku ini, takdir telah memberiku sebuah hadiah besar...

Sebuah dunia baru...

"Hiks... maafkan aku ibu... hiks" Air mataku yg tadi sudah berhenti membanjiri wajahku kini kembali mengalir, membasahi wajah ibuku yg kepalanya tengah kupangku.

"Engh.. ugh" Aku merasakan adanya pergerakan dari ibuku yang tengah kupangku tadi.

"Eh, ibu sudah bangun?"

"Y-Yaya? Kau menangis?" Ibu masih meletakkan kepalanya di pangkuanku dan tangannya yang lembut dan hangat itu mengusap air mataku yang masih tersisa di pipiku. "Apa yang terjadi sebenarnya, Yaya? Kenapa kita ada di hutan?" Ibu mengubah posisinya menjadi duduk dan matanya berkeliling dengan tatapan heran.

"I-ibu... tidak ingat?"

"Ha? Ingat apa?" Aku hanya menatap ibu dengan sangat terkejut. 'Kenapa ibu tidak ingat kejadian tadi sih?! Aturan ibu sekarang sudah menjerit ketakutan dan shock berat...' Batinku terus berteriak sedangkan mataku terus memperhatikan tingkah laku ibuku yang terlihat seperti orang bingung.

" dengar aku ! ku beri kau waktu sampai besok untuk sekedar merawat ibumu dan mengucapkan salam perpisahan padanya. aku akan menjemputmu besok. Tapi, kalau kau berani lari bersama ibumu... kau akan rasakan akibatnya..."

Ah... kata-katanya lagi-lagi terngiang di kepalaku. Ugh, rasanya aku ingin lari dari tempat ini bersama ibuku. Namun, harus kuingat bahwa ia bukanlah manusia... Ia adalah makhluk yang cukup berbahaya dan memiliki kemampuan yang manusia tidak miliki. Ia adalah... KAUM ASTPERY. Aku tak bisa meremehkannya begitu saja.

"Yaya? Ayo masuk... Sebentar lagi hujan loh" Aku tersentak dari lamunanku dan mendapati ibu sedang mengelus rambutku yang panjang sambil menatapku lembut.

"I-iya bu, ayo kita masuk" Aku berdiri dari dudukku yang disusul oleh ibu dan segera masuk ke dalam rumah kami yang hangat. Tak lama, aku mendengar suara rintik hujan yang menerpa atap rumahku.

~*oOo*~

AUTHOR'S POV

Seorang gadis kecil nampak sedang terduduk di sebuah kursi kayu dengan tangannya yang tengah menggambar sesuatu di sebuah kertas yang berwarna putih. dinginnya malam yang masuk kedalam rumahnya tak menyurutkan semangatnya.

"Yaya, kau sedang apa?" Sebuah suara yang lembut dan bernada hangat menyapa sang gadis dari arah belakang. Gadis yang bernama Yaya tersebut segera menghentikan aktifitas menggambarnya dan langsung menghadap wanita yang menyapanya tadi.

"Aku lagi gambar pemandangan bu! Bagus gak?" Yaya menyodorkan hasil gambarannya kepada sang ibu yang jauh lebih tinggi darinya. "Wah... gambaran Yaya bagus! Nah, Yaya capek kan? Kita tidur yuk!"

Yaya mengangguk semangat dan segera menggandeng tangan ibunya. Sang gadis kecil bersama ibunya berjalan kearah kamar tidur Yaya. Mereka berdua segera naik dan berbaring di kasur yang ukurannya cukup untuk dua orang.

"Nah, mau ibu bacaain dongeng atau gak?"

"Mau bu!"

"Yaya dengerin cerita ibu ya"

"Iya!"

Sang ibu mengambil sebuah buku dongeng yang diletakkan di meja yang ada di samping kasur sang anak, "Pada zaman dahulu kala, terdapat sebuah kaum yang selalu bersembunyi dari manusia. Mereka tinggal di dalam hutan-hutan yang lebat pohonnya dan jauh dari jangkauan siapapun. Mereka berwujud manusia yang bisa berubah menjadi seekor ular yang besar dan berbahaya, juga memiliki kemampuan khusus yang tidak dimiliki manusia. Kaum ini disebut kaum Astpery,"

"Kaum Astpery adalah pemakan daging, termasuk daging manusia. Mereka akan menyerang dan memakan manusia yang masuk kedalam wilayah tempat tinggal mereka. Sifat mereka itu kejam, rakus, dan juga licik. Mereka semua rata-rata berwajah cantik ataupun tampan. Biasanya, mereka tak pernah menyerang tempat tinggal manusia. Namun, pada suatu hari, mereka menyerbu sebuah desa kecil di atas bukit yang dekat dengan hutan belantara yang gelap,"

"Kaum Astpery menyerang desa kecil tersebut dengan rasa lapar yang luar biasa. Para manusia yang tinggal disana lari dengan sekuat tenaga berusaha agar nyawa mereka terselamatkan. Pelindung desa yang hanya terdiri dari beberapa orang berusaha melawan kaum Astpery. Namun, mereka justru berakhir di perut manusia ular tersebut. Kaum Astpery bergerak begitu cepat dan dengan mudah menangkap para penduduk. Tanpa pikir panjang, para penduduk langsung ditelan bulat-bulat setelah tulang mereka diremukkan. Sejak saat itulah, para manusia bermusuhan dan takut terhadap kaum Astpery,"

"Kaum Astpery begitu kuat sehingga mereka tidak bisa dibunuh atau terbunuh, apalagi oleh seorang manusia biasa seperti kita. Namun, ada satu orang yang dapat memusnahkan kaum Astpery. Ia berasal dari kaum manusia dan merupakan seorang wanita. Tetapi ia bukanlah manusia biasa. Ia mempunyai kemampuan untuk-," Belum selesai ia membacakan cerita dongeng tersebut, terdengar suara nafas yang beraturan namun terdengar pelan dari samping ibu Yaya. Sang ibu melirik anaknya yang ternyata telah tertidur dengan nyenyak. Ibu yang masih terlihat muda tersebut tersenyum dan mengelus puncak kepala Yaya sebelum ia beranjak keluar dari kamar putrinya.

~*oOo*~

Badai masih berlangsung di luar rumah. Yaya dan ibunya tengah duduk di depan perapian rumah mereka sambil menikmati teh hangat yang baru Yaya seduh.

"Yaya, ibu masih bingung soal tadi"

"Soal apa, bu?" Yaya menaruh cangkir tehnya dan menatap sang ibu penuh tanya.

"Kenapa kita bisa ada di hutan belakang? Padahal seingat ibu, ibu sedang ada didalam rumah menunggu kamu pulang dari kaki bukit" Yaya agak gelisah dan mencari-cari alasan yang cukup logis, "Emm... i-itu karena... emm..."

"Ah, ibu! Aku ada yang ingin dibicarakan nih" Yaya mengalihkan topik pembicaraan.

"Apa yang pingin Yaya bicarakan sama ibu?"

"Emm... itu, Yaya akan pindah ke rumah temanku untuk bekerja"

"Ha?! Apa maksudmu, Yaya?!" Sang ibu mengerjapkan matanya.

"Iya bu... Jadi kemungkinan aku akan pergi jauh ke kota disana dan tak bisa bertemu ibu lagi selamanya, jadi kita akan berpisah, bu" Yaya begitu tak percaya akan perkataan dusta yang terlontar begitu saja dari mulutnya.

"Kau ingin pergi dari ibu? Kenapa?" Air mata sang ibu perlahan-lahan mulai membuat aliran di pipinya. Hati Yaya seakan teriris saat melihat tetesan air mata sang ibu yang mulai menetes dan jatuh ke lantai rumah mereka. "Maaf bu... maaf..."

"Tidak Yaya, ibu mengerti..."

"Eh?" Yaya begitu terkejut dengan apa yang didengarnya barusan.

"Ibu tau kau ingin punya kehidupan yang lebih baik dari sekarang. Ibu juga merasa bahagia jika kau merasa bahagia, Yaya... Ibu akan mengijinkanmu. Jadi, kapan kau berangkat nak?" Sang ibu tersenyum sambil mengelus lembut pipi Yaya. "Besok bu..." Yaya merasakan matanya semakin memanas dan seperti ada benda cair yang sedari tadi terus mendesak keluar. Matanya berkaca-kaca dan akhirnya ia menumpahkan air matanya.

"Hiks ibu... hiks ma-maafkan hiks Yaya bu..." Yaya memeluk sang ibu sambil menangis tersedu-sedu. Sedangkan sang ibu hanya mengelus belakang kepala putri tunggalnya. "Sudahlah Yaya... ibu tak apa. Berhenti menangis ya?"

Yaya melepaskan pelukannya dan segera menghapus air matanya, "I-iya hiks..."

"Sudah, sudah. Ini sudah larut, kita tidur sekarang ya?" Yaya hanya diam sambil memerhatikan ibunya yang berlalu dengan membawa 2 cangkir teh mereka berdua untuk dicuci. Setelah sang ibu sudah pergi kebelakang, Yaya dengan lunglai pergi ke kamarnya.

Sesampainya ia di kamarnya, Yaya segera merebahkan tubuhnya dan hendak pergi ke alam mimpi, sebelum seseorang mengetuk jendelanya.

Tok! Tok! Tok tok tok!

"Eh? Ummh... siapa sih yang ngetok malem-malem gini?" Dengan malasnya, Yaya bangkit dari ranjangnya dan berjalan ke arah jendela kamarnya. Begitu dibuka, Yaya terkejut setengah mati.

"Eh? K-KAU?! MAU APA K-mpphh!"

"Ssstt! Jangan ribut lah! Kalau ibumu kesini lalu melihatku, kaulah yang akan pertama kutelan!" Seorang pemuda berjubah merah tua dan beriris ruby yang memecah gelapnya malam membekap mulut Yaya dengan satu tangannya. Pemuda itu kemudian menyingkirkan tangannya dari mulut Yaya. "Huh! Tadi saja saat ibumu ada di tanganku kau tidak meninggikan suaramu... giliran sekarang, kau sudah berani padaku?"

Yaya memilih untuk lebih memelankan suaranya, "Jadi, apa maumu? Bukankah kau menjemputku esok hari?" Hali hanya tersenyum tipis, "Aku hanya ingin memberitahumu, kita bertemu di taman bunga Dandelion di dekat sini pagi hari besok"

"Eh? Kukira kita bertemu di hutan belakang..."

"Hutan itu bukan rumahku... aku hanya berjalan-jalan saja kemarin. Eh, ada santapan lezat di depan mata..." Yaya hanya mengerutkan keningnya. "Hhh... baiklah, kau sudah selesai?" Hali mengangguk kecil dan melesat pergi ke dalam kegelapan malam secepat kilat dengan diiringi kilatan cahaya merah. Yaya menutup jendela kamarnya kembali setelah sebelumnya menghela nafas panjang. Yang Yaya tahu, hidupnya akan sulit setelah malam yang dingin ini...

~*oOo*~

Pagi akhirnya menjelang, menggantikan malam yang dingin dan gelap.

Pagi yang cerah dengan sedikit embun di dedaunan dan genangan air akibat hujan semalam ini justru adalah pagi yang ingin sekali Yaya hindari seumur hidupnya.

Karena ia akan berpisah dari ibunya dan... ikut dengan seorang yang licik ke sarang kawanannya.

Baju-baju yang sudah Yaya pilih telah dikemas dalam tas selempang rajutannya yang lumayan besar. Beberapa makanan kecil juga sudah Yaya masukkan dan tak lupa tabungannya agar ia tak menjadi seorang pengemis di sana.

Setelah sudah siap, saat yang paling Yaya tak inginkan datang. Saat ia berpamitan dengan ibunya dengan meninggalkan kebohongan yang ia lontarkan pada sang ibu. "Ibu, Yaya akan berangkat"

Sang ibu yang duduk di ruang tengah rumah mereka tersenyum manis, "Jaga dirimu ya nak. Ibu doakan kau akan sukses di sana..." Yaya yang duduk di hadapan ibunya berusaha mati-matian menahan air mata yang sejak tadi sudah mendesak keluar. "Dan, ini... ada sedikit uang dari ibu. Memang tak seberapa, tapi mungkin cukup untuk keperluan makanmu disana" Sang ibu menyerahkan 10 koin emas yang bahkan 1 koinnya dapat memenuhi kebutuhan hidup selama 1 bulan jika tidak berhemat sekalipun.

Yaya tercengang melihat banyaknya uang yang ibunya berikan, "D-darimana...?" Ibunya tersenyum kembali. "Ini sebenarnya adalah harta bagianmu nak. Ayahmu memberikannya seminggu sebelum ia meninggal. Ia memberi ibu 20 koin emas dan 10 koin emas untukmu. Maaf ibu telat memberinya"

"Tapi, ibu simpan saja-,"

"Tidak, ibu masih punya cukup uang untuk membeli makanan nak. Ibu mohon, ambillah Yaya..." Ibunya mengambil tangan Yaya dan menaruh koin-koin emas tersebut di tangan sang putri kesayangan. Yaya hanya menatap koin-koin tersebut lalu memeluk sang ibu dengan penuh haru, "Terima kasih, bu... terima kasih sudah merawat Yaya selama ini hiks... Yaya hiks hiks minta maaf bu hiks..." Isak Yaya dalam pelukan ibunya.

Sang ibu hanya mengelus surai hitam legam Yaya dengan lembut, "Sudahlah Yaya... berangkatlah sekarang. Kau nanti terlambat" Yaya melepaskan pelukannya dan menyalimi tangan ibunya. "Yaya hiks berangkat ya, bu hiks..." Ibunya tersenyum lembut sambil menghapus air mata Yaya, "Ya, jaga dirimu baik-baik ya.." Sebagai salam perpisahan, sang ibu mengecup kecing kening putrinya.

Dan dengan sangat sangat berat hati, Yaya keluar dari rumahnya.

Meninggalkan kehidupannya yang damai, kenangan bersama mendiang ayahnya tercinta.

Dan yang terpenting, ia meninggalkan ibunya.

Meninggalkan sang ibu yang sudah tua dan berjuang sendirian...

~*oOo*~

"Kau terlambat, nona" Yaya hanya menatap tajam pada pemuda yang berdiri di tengah-tengah taman bunga Dandelion. "Maaf, tuan" Yaya hanya menjawabnya dengan nada dingin. "Baiklah, baiklah... aku maafkan kesalahanmu yang ini" Pemuda beriris ruby tersebut hanya terkekeh pelan.

"Jadi nona manusia, kau sudah siap untuk melihat rumahku?" Yaya hanya menatapnya datar. "Pasti rumahmu penuh darah dan daging manusia..."

"Hei hei! Aku tidak pernah terobsesi dengan darah dan daging manusia sampai aku mengoleksinya di rumahku!" Seru si pemuda tak terima. "Okay, Hali... nampaknya aku sudah siap untuk melihat lingkungan hidupmu" Yaya tersenyum tipis.

"Baiklah, kita akan berangkat. Tapi, aku sarankan kau untuk naik ke pundakku dan menutup matamu" Yaya tampak tidak terima. "A-APA?!"

"Hei, ini demi keselamatanmu nona..." Yaya terdiam sesaat, "B-baiklah, Hali..." Hali berjongkok dan mempersilakan Yaya untuk naik ke pundaknya. Setelah Yaya sudah naik, Yaya memejamkan matanya.

"Tenang, ini hanya sebentar kok"

Setelah itu, di sekeliling Yaya terasa berhembus kencang. Yaya yang penasaran, membuka matanya dan melihat bahwa ia – lebih tepatnya Hali – sedang melesat begitu cepat bagaikan kilat. Dan beberapa saat kemudian, mereka berhenti di suatu tempat yang dingin dan terasa asing bagi Yaya.

"Nona Yaya, kuucapkan selamat datang di duniaku"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

To Be Continued

~*oOo*~

Wahahaha XD akhirnya selesai...

Maaf kalo pendek, para Readersku sekalian (o3o)a

Ini ditulis beda-beda hari tapi masih aja terkesan maksa XD

Oh iya, saya ngeliat traffic storynya dan...

Saya rasanya pengen hiatusin semua fic -_-

PADA KEMANA RATUSAN ORANG YANG UDAH BACA INI FIC HAA?!

Kan bisa sih nge-review tanpa log in -_-

Udahlah, daripada marah aja kerjaan...

Minat review? -3-