Disappear
Warning: liat aja sendiri
Disclaimer: Jin (size no teki P)
Author: no comment -_-
HAPPY READING!
Disappear
Chapter 2
Semua anggota Mekakushi-Dan bersiap menjalakan misi. Mereka mengenakan topeng yang menutupi sekitar mata mereka. Mini intercom terpasang ditelinga mereka.
"Minna, semua sudah siap?" Tanya Kido memastikan anggotanya.
"siap danchou!" jawab seluruh member bersamaan.
"Saat ini kita berada di gedung takeshi, gedung yang bersebelahan tepat dengan gedung Tanaka. Kalian semua harus bergerak sesuai dengan rencana. Sekarang bubar menuju posisi masing2" titah Kido dengan segera dilaksanakan oleh seluruh member. Hibiya berlari kedalam gedung Takeshi, menuju lantai paling atas, dan dengan segera mengintai keadaan.
"Danchou, posisi korban ada di lantai 20 ruang 9C, ruang pusat kendali ada di lantai 2 ruang 2E jumlah seluruh lantai ada 30 dan disetiap lantai terdapat 5 orang penjaga, tanda-tanda ruanng mencurigakan belum ditemukan, laporan selesai." Hibiya dengan cermat menggunakan kekuatannya untuk mengintai gedung Tanaka dan melaporkan rinciannya pada seluruh anggota.
"laporan diterima" ucap seluruh member bersamaan melalaui mini intercom.
Kido dan Kano segera memasuki mobil yang telah disediakan oleh klien mereka, dan dengan segera Kido mengaktifkan kekuatannya, begitu pula dengan Kano. Ia menyamar menjadi klien mereka.
Kano dan Kido memasuki gedung dengan aman, kano terlihat seperti seorang pejabat dengan meneteng koper besar, sementara Kido masih menagktifkan kekuatannya sehingga ia tak terlihat. Mereka berdua mulai memasuki lift tanpa dicurigai sedikitpun oleh 5 penjaga yang ada di lobi depan. Di dalam lift 2 orang penjaga telah menunggu mereka, masih dengan keadaan menghilang, Kido mengirim pesan kepada Momo untuk segera memasuki gedung, tentu saja handphone Kido telah diatur menjadi mode hening sehingga tak menimbulkan suara.
Sementara itu Momo yang telah mendapat pesan dari kido segera memasuki gedung bersama Marry. Momo mengaktifkan kekuatannya dan mengaihkan pandangan mata para penjaga itu ke mata Marry, dan dalam sekejap para penjaga itu tak bergerak.
"lobi aman, laporan selesai." Ujar momo melalui intercom, mendengar laporan momo, shintaro, konoha dan seto segera mengendap masuk kedalam gedung. Setelah itu konoha emukul tenguk para penjaga yang telah terkunci oleh kekuatan Marry hingga pingsan, dan Seto mengikat para penjaga itu dan mengambil senjata mereka.
"Ene, apa persiapannya sudah selesai?" Tanya Shintaro,
"siap goshujin" gadis cyber itu muncul di ponsel Shintaro.
Tugas Ene adalah mengendalikan system komunikasi para penjaga dan memberi instruksi pada para penjaga di seluruh lantai kecuali lantai 20 untuk berkumpul di lantai 2. Agar tidak mencurigakan, Ene menyamarkan suaranya menjadi suara laki-laki.
"Pengunguman bagi setiap penjaga, dimohon untuk segera berkumpul di lantai 2, jika semua telah berkumpul, harap melapor, sekian." Ucap Ene.
Beberaa saat kemudian Ene menerima laporan bahwa seluruh penjaga telah berkumpul di lantai 2. Ene mengangukkan kepalanya, memberi isyarat Kepada shintaro, konoha dan seto untuk segera naik ke lantai 2. Mereka semua menuju lantai dua, begitu pintu lift terbuka, konoha melesat dengan cepat dan melumpuhkan seluruh penjaga hingga pinsa, kemudia Seto mengaktifkan kekuatannya, membaca pikiran salah seorang diantara para penjaga itu.
"Tidak ada tanda-tanda rencana cadangan musuh, laporan selesai" setelah melapor seto melakukan hal yang sama pada para penjaga, mengikat dan melucuti senjata mereka, sedangkan shintaro telah masuk ke ruang kendali, mengendalikan seluruh CCTV, agar aksi mereka tidak diketahui polisi.
"CCTV sukses, laporan selesai" shintaro melapor.
Di tempat Kido dan Kano
Pintu lift mulai terbuka Kano dan Kido disambut oleh lima penjaga, menggiring mereka menuju ruang dimana sandera berada. Namun tiba-tiba suara Hibiya terdengar dari intercom
"darurat, darurat, aku melihat rompi bom di tubuh sandera!," suara Hibiya terdengar sangat panic, seketika itu juga seluruh member mekakushi dan membelalakkan mata, terkejut dengan laporan Hibiya, mereka juga masih menunggu perintah Kido.
Kido menjauh dari Kano mencoba memberi perintah dengan hati2 agar tak terdengar oleh penjaga.
"jangan panic, shintaro, coba cari menu pengendali bom atau semacamnya, kau berada di ruang kendali bukan? Konoha segera kemari, aku membutuhkanmu, lumpuhkan penjaga dilantai ini, dan tunggu aba2ku untuk memasuki ruangan sandera." Perintah Kido, lalu ia segera menyusul Kano yang telah berada di depan pintu ruangan sandera. Kano memasuki ruangan itu pura2 memasang wajah pucat melihat rompi bom mekekat di tubuh korban.
"bagaimana tuan? Apa kau terkejut dengan kondisi anakmu, hahahaahaha, kau akan mati disini bersamaku dan anakmu, hahahha." Mafia itu tertawa dengan kerasnya, sementara kano masih berakting terkejut.
"pemicu bom ini ada bersamaku, jika aku menekan tombolnya dan dalam hitungan mundur 1 menit, maka 'booommm' seisi gedung ini akan meledak," Mafia itu masih terus tertawa biadab, lalu Kido dengan keadaan masih tak terlihat memukul sang mafia hingga pingsan dan mengambil kendali pemicu itu. Bagaimana dengan penjaganya? Tenang, konoha telah membereskannya.
"Shintaro, bagaimana? apa kau menemukan menu pengendaliannya?" Tanya Kido
"Aku menemukannya, aku akan segera mematikannya" laporan shintao terdengar melegakan, namun sesaat setelah shintaro menekan tombol OFF pada menu pengendali bom itu, bukannya mati bom itu justru akan meledak dalam 30 detik.
"hei, apa yang lakukan?! Kenapa bomya justru akan meledak lebih cepat?!" teriak Kido panic.
"ini jebakan! Sial!" shintaro mengutuk dirinya sendiri.
"lalu apa yang harus kita lakukan?" Kido semakin panic, begitu pula dengan anggota lainnya, bahkan kano hanya dapat menatap ngeri kearah rompi bom yang ada pada sandera.
Dalam keadaaan tegang itu, shintaro memberi usul
"danchou, lepas rompi bom yang ada pada sandera, dan suruh konoha melemparnya keatas langit dari atap gedung, aku jamin aman!"
"kau gila! Apa kau yakin?!" Kido menyanggah shintaro
"100 persen yakin." Dengan mantap shintaro memberi jawaban 100 persen.
Tak punya pilihan lain, Kido segera melepas rompi bom yang ada ada sandera, dan memberikannya kepada Konoha berserta dengan pemicunya.
"kau mengertikan konoha?" Tanya Kido memastikan.
Konoha mengangguk dan segera mengambil bom tersebur, melesat secepat mungkin ke atap gedung, waktu mereka tinggal 10 detik. Dengan tenaga penuh Konoha melemparkan bom itu ke langit, diiringi wajah tegang seluruh anggota mekakushi-dan bom itu meledak diangkasa tanpa suara, hanya kilatan cahaya. Hal itu membuktikan betapa tingginya lemparan konoha.
"Laporkan keadaan sekarang juga!" kido memerintahkan sembari turun bersama Kano dan sandera.
"Kido tsubomi, complete, Sandra terselamatkan."
"seto kousuke complete, tak ada rencana musuh yang lain dan para penjaga telah diikat dan semua senjata telah dilucuti."
" Kano Shuuya complete, Kido-chan baik-baik sa-BUGGHHHH'
"Marry complete, lobi aman"
"Momo complete, lobi aman"
"Ene, complete"
"Shintaro complete, misi tidak meninggalkan jejak"
"Hibiya complete, polisi akan datang dalan 15 menit dan klien telah berada di depan gedung.'
" Konoha complete, bom meledak di angkasa"
"Terimakasih atas kerja kerasnya, mission complete" Kido menutup laporan
Semua anggota berkumpul di lobi depan setelah menyerahkan sandera dan menerima bayaran, mereka segera pulang. Pulang dengan segala rasa lelah mereka, misi kali ini adalah misi yang mendebarkan.
"Kido, ada yang ingin kutanyakan" Ujar shintaro masih terus berjalan dibawah lampu kota bersama para anggota lainnya
"hmmm? Jangan bayaran lagi' Kido mendengus
"bukan, bukankah sejak awal ada rencana yang lebih efektif dam aman? Tapi kenapa kau memilih rencana tadi?" pertanyaan shintaro secara reflek membuat suara 'eh?' para anggota.
"hooo,,, kau menyadarinya ya? Seperti yang diharapkan dari orang ber IQ 168." Kido memasang seringai kecil di wajahnya, mengerikan. Sepertinya sisi sadis Kido telah terbangkitkan.
"Memang benar sih,,,ada rencana yang lebih efektif dan aman,,,tapi bukankah akan lebih seru seperti ini? Suasana mendebarkan tadi, bukankah sangat menyenangkan?" kido berjalan mendahului yang lain, menampakkan punggungnya di mata seluruh member, yah,,,inilah yang Kido sukai dari mekakushi-dan yang sekarang.
"Ah, ada satu hal lagi yang ingin kutanyakan, shintaro, tentang boom itu,,bukankah seharusnya meledak jika aku melepas rompinya dari korban? Dan,,,bagaimana kalau bom yang dilempar Konoha tadi mengenai pesawat dan meledak?, kau sudah memastikan hal itu kan?" kido berjalan menuju Shintaro yang berada di belakang
"Apa kau meremehkanku? Tentu saja aku sudah memikirkan hal itu, sebenarnya,,,,saat aku menemukan menu yang bertuliskan pengendali bom,,aku berpikir, mungkinkah sebuah bom dimatikan dengan monitor seperti itu? Tapi karna kondisi yang mendesak aku segera menekannya dan kalian pasti tahu kelanjutannya kan? Setelah itu, tiba2 di layar monitor muncul gambar bom itu secara rinciannya dan aku lagnsung tahu jenis bom apa itu. Bom itu adalah bom yang ledakannya luar biasa tapi saat rompi yang ada pada bom dicopot bom itu tidak akan meledak, adil bukan?"
"HOOOOO"
"Hei apa respon kalian hanya seperti itu setelah menyaksikan kehebatanku hah?!"
"Heheheh, lalu bagaimana dengan yang ada di atas langit" Kano menaikkan alisnya, masih tak paham dengan kejadian tadi.
"Lihatlah ke atas langit,,,mana ada pesawat yang terbang melewati awan cumulunimbous setebal itu? Mau mati?"
"yosh, malam ini kita akan ber-"
BLAMMMMMMM!
Ucapan kido terpotong oleh ledakan besar yang terjadi didepan mereka, debu yang berterbangan menghalangi penglihatan mereka dan dibuat terbatuk olehnya. Orang- orang di sekitar mereka berhambur pergi menjauh dari tempat kejadian, jeritan dan suara panic orang-orang pun terdengar memekakkan telinga.
"Hei! Apa-apaan ledakan ini?! Apa yang terjadi?!" hibiya mengibas-kibaskan tangannya, mengusir pergi debu yang menghalangi penglihatannya.
"Hibiya, gunakan kekuatanmu dan lihat apa yang barusan terjadi?!" Kido mendekatkan diri kearah Hibiya, dan menyuruh yang lainnya untuk merapat.
"Onna!, aku melihat seorang wanita!"
"Apa?! Wanita?!"
Debu masih terus mengepul dari ledakan tadi, benar yang dikatakan hibiya, seorang wanita berjalan keluar dari ledakan tadi, tingginya sama persis dengan Kido, rambunya panjang sepunggung, selain itu hanya ada debu yang menutupinya menampakkan shiluet hitam.
"Siapa kau?!" Kido merentangkan tangannya, berusaha melindungi anggota lainnya.
"Aku adalah kalian, harapan kalian, dan jati diri kalian. sebentar lagi semua akan berakhir, sebentar lagi keinginan terdalam kalian akan terkabul, aku yakin kita akan bertemu lagi, semoga kalian menyukai salam sambutanku ini, sampai jumpa Mekakushi-Dan."
ZRSHHHHHHHHH
Hujan turun seketika, menghilangkan debu-debu yang berterbangkan, begitu juga wanita tadi. hilang, tanpa jejak. Menyisakan jalanan yang hancur dan berlunang serta seribu pertanyaan bagi para anggota Mekakushi-Dan, harapan? Jati diri? Tak ada yang paham dengan hal itu.
"Danchou,,,,,,yang tadi itu,,,,apa?" pertanyaan Hibiya sama dengan yang lain, menyisakan keheningan tanpa jawaban, semua orang tertegun.
.
.
Bersama dengan hujan dan ribuan tetes air yang jatuh kian menderas , seorang perempuan di gang kecil yang sempit sedang tersenyum, berjalan pergi dengan kepala mendongkak ke atas, membiarkan wajah dan rambut hitamnya tersiram air hujan.
"ini akan menarik, kalian akan lenyap,,,,Mekakushi-Dan."
~next chapter
Gimana gajekan? Entahlah, padahal udah telat banget updatenya, semoga para readers masih setia menunggu,,,the last. MIND TO REVIEW?
