"kau mungkin saja benar, bahwa perdamaian adalah hal utama, tapi sebelum itu, ingat dulu siapa musuhmu yang sebenarnya, baru kau akan temukan pedamaian yang sesungguhnya"

.

.

.

HEMERA

.

.

,

Naruto belong to Masashi Kishimoto

Hemera belong to me

.

.

.

Warn: Science-fiction, adventure, friendship, and a little bit of romance.

Maybe OOC, gaje, garing, pasaran, dll

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Kurenai terdiam sesaat, memandang wajah Sakura tajam.

"Kau berhasil menyelesaikan misimu," –Sakura menghela napas lega.

"Meskipun begitu, pesawatmu hancur. Seandainya tadi adalah misi yang sebenarnya kau pasti sudah mati," kata master Kurenai serius

"Tindakanmu untuk mengerahkan konsentrasi pada proses pemindaian cukup bagus. Seringkali, para navigator menjadi panik dan melupakan tugas utama mereka." Lanjut Kurenai

" Sayangnya kau lengah, seharusnya sebelum melakukan pemindaian, kau mengecek dengan teliti daerah itu, bukankah tadi sudah ada tanda-tanda yang jelas, sakura?"

"ha`I, master"

"kalau begitu, kau boleh meninggalkan ruangan sekarang."

"Terimakasih, master." Kata Sakura kemudian meninggalkan ruangan navigasi. Sakura menuju kamarnya, esok ia harus menghadapi ujian lain. Sakura merasa sangat letih, ini baru ujian pertama dan dia sudah meledakkan sebuah pesawat jet.

"masukkan kata sandi"-suara computer saat Sakura sampai di depan kamarnya

Sakura memasukkan kata sandi dan mencocokkan sidik jari, di kamar tidurnya Sakura langsung merebahkan diri diatas ranjang.

Ia lelah sekali, ia merindukan orangtuanya. Sejak kecil ia menghabiskan waktu di pusat komando, ia pulang setahun sekali, intensitas pertemuan dengan orangtuanya sangat sedikit.

Bukannya ia tidak suka masuk pusat komando, ini merupakan satu-satunya cita-cita Sakura. Namun, terkadang ia merasa sangat terkekang. kehidupannya hanya berisi latihan, latihan, dan latihan. Bahkan, teman dekat-pun ia tak punya.

Sakura memandangi foto di atas meja kecil di samping ranjangnya. Foto Sakura bersama kedua orangtuanya saat tengah berpiknik di halaman rumahnya yang luas. Ia merindukan saat-saat liburan seperti itu, saat ia bisa bersantai di halaman rumahnya yang luas dan asri, penuh dengan pepohonan.

Jika nantinya ia sudah berada di excellent defense, liburan adalah sesuatu yang mahal. Meskipun begitu, Sakura berusaha bertahan .

Ini demi bangsanya, ini demi kesejahteraan seluruh umat manusia, dan ini juga demi orangtuanya. Dengan masuk pusat komando, orangtuanya akan mendapatkan jaminan hidup yang lebih layak.

Hari-hari berikutnya Sakura menjalani ujian dengan cukup baik, ia hanya mendapat sedikit luka bakar di lengan kanan saat melawan kakashi di ujian bela diri.

Hingga pada akhirnya, master Tsunade memanggil Sakura ke ruangannya untuk memberikan hasil ujian Sakura.

.

.

.

~ruangan master Tsunade~

"Kau pasti sudah tahu tujuanku memanggilmu kemari, sakura" kata master Tsunade

"Ya, master" jawab Sakura.

"Kau telah menjalani ujian excellent defense, saku. Laporan menunjukkan kau menjalani ujian dengan cukup baik. Dan kau berhasil masuk ke excellent defense" kata master Tsunade

Sakura mendongakkan kepalanya memandang master Tsunade. Sakura merasa senang, tentu saja. Cita-citanya telah terwujud, ia bisa menjadi pasukan tingkat satu sekarang.

"Dan ada seseorang yang ingin bertemu denganmu, Sakura." Kata master Tsunade yang memandang jauh di belakang Sakura. "Selamat datang, jiraiya-sama" Tsunade memberikan salam kepada sesorang di belakang Sakura.

Sakura membalikkan badan dan ber-ojigi. "Jiraiya-sama"

"Hai Sakura. Lama tak jumpa" sapa Jiraiya ramah. Sakura memandang Jiraiya bingung, ia memang tahu siapa Jiraiya-sama, tapi ia merasa belum pernah bertemu dengan Jiraiya sama sekali.

"hahaha…. Kau mungkin tak ingat. Kau masih sangat kecil saat itu." Jiraiya berjalan menuju kursi di sebelah master Tsunade, kemudian duduk "Ah, lupakan…. Selamat, kau berhasil masuk ke excellent defense"

"arigatou, Jiraiya-sama" kata Sakura pelan.

"Sebelum kau pergi ke excellent defense, kau mendapatkan liburan selama satu bulan. Manfaatkan itu sebaik-baiknya" kata master Tsunade.

"Ah, ya… kau bisa pulang menggunakan kereta peluru sekarang, perlengkapanmu sudah disiapkan tadi. Kau bisa langsung berangkat." Sambung Jiraiya.

"ah, terimakasih banyak, master" kata Sakura kemudian meninggalkan ruangan master Tsunade.

Saat Sakura pergi, terjadi keheningan di ruangan itu. Tsunade melayangkan pandangan ke semua sudut ruangan, kecuali sudut dimana Jiraiya berada.

"Jangan bersikap seperti itu, Tsunade" kata Jiraiya sembari memandang wajah Tsunade tajam " jangan bersikap seolah-olah kau tak tahu apa-apa, jJiraiya" jawab Tsunade sinis " Kau tahu aku tak setuju dengan ini semua."

"Kau masih sama Tsunade, kau masih terlalu naïf. " Jiraiya berjalan mendekati jendela di belakang kursi Tsunade " Kita membutuhkan Sakura, dia satu-satunya yang bisa menyelesaikan ini semua"

"Tapi `dia` bahkan belum berusia 17 tahun, seolah-olah kau menamengi dirimu dengan anak kecil." Kata Tsunade.

"Hanya Sakura yang bisa mengakhiri semua ini, Tsuna. Hanya dia yang bisa." Kata Jiraiya

"Jika sesuatu terjadi, jangan salahkan aku, jangan salahkan siapa-siapa, Jiraiya. Salahkan keegoisanmu itu" Kata Tsunade mengakhiri, ia kemudian beranjak pergi meninggalkan Jiraiya. Jiraiya hanya memandang pintu tertutup yang tadi dilewati Tsunade dengan wajah sedih. "maaf, Tsuna" lirih Jiraiya.

.

.

.

"ah, sakura….." seorang wanita cantik memanggil Sakura yang tengah berjalan menuju ruang peluncuran kereta.

"Kau mau kemana, Sakura?" Tanya Shizune, seorang perawat di pusat latihan. Shizune memang cukup dekat dengan Sakura, mereka sering berbagi ilmu dan cerita di ruang perawatan. " shizune-taichou, aku mau pulang" kata Sakura.

"Apa kau gagal? Kenapa kau pulang? Kau tetap disini saja, aku bisa mengajarimu menjadi perawat" kata Shizune sedih.

"hahaha….. malah sebaliknya, aku berhasil masuk ke excellent defense, Tsunade master memberiku liburan" jelas Sakura dengan wajah berseri-seri.

"oh, haha…. Syukurlah, selamat ya Saku." Shizune memeluk Sakura "berhati-hatilah, dan nikmati liburanmu".

Sakura kemudian beranjak menuju kereta peluru yang akan membawanya pulang, ke daerah utara Hemera, dulu dikenal sebagai Negara Rusia. Wilayah yang cukup sepi dan tenang. Musim gugur disana adalah saat yang paling indah. Saat daun daun berguguran memenuhi jalanan, udara yang dingin tercium bau daun basah yang dibakar. Dan beruntungnya Sakura, bisa pulang di saat musim gugur tiba.

Sakura memandang ke luar jendela, pemandangan di luar terlihat samar karena kereta peluru meluncur dengan kecepatan tinggi. Sakura membayangkan apa yang akan ia lakukan sesampainya dirumah nanti. Mungkin ia akan mengumpulkan dedaunan yang gugur dan menjadikannya alas tidur, kemudian memandangi langit berjam-jam lamanya, memandangi awan yang terbang berarakan. Membayangkan itu saja bisa membuat Sakura sangat bahagia, tanpa sadar Sakura tersenyum-senyum sendiri.

.

.

.

~luar garis batas Hemera~

Sasuke terlihat berbicara dengan seorang lelaki yang berdiri membelakanginya "kau akan menyusup ke excellent defense bulan depan" kata sang lelaki "dua orang murid pusat latihan lolos tahun ini. Seorang gadis dan seorang anak laki-laki. Anak laki-laki itu adalah suigetsu, kau akan menggantikan suigetsu"

"lalu kemana suigetsu akan pergi?" Tanya Sasuke " Dia kuberikan tugas lain, selama di excellent defense, namamu adalah suigetsu. ingat itu…." Kemudian lelaki itu meninggalkan Sasuke sendiri. Sasuke hanya terdiam kemudian beranjak dari markas rahasia tersebut.

"mau kemana kau?" Tanya Sasori

"aku akan ke hemera, mencari informasi" jawab Sasuke. Sasori mendengus pelan, ia tahu Sasuke berbohong. Sasuke memang akan ke Hemera, tapi tujuannya bukan untuk mencari informasi. "Dasar penipu kecil" gumam Sasori sembari memperhatikan Sasuke yang melangkah menjauh.

.

.

.

Sakura keluar dari mobil yang mengantarnya dari stasiun kereta menuju rumahnya. Suasana benar-benar seperti yang dibayangkan Sakura. Dedaunan berwarna kecoklatan berguguran, angin dingin menerpa kulit Sakura, bau daun basah yang dibakar samar-samar tercium.

"Sakura?" seorang wanita paruh baya memandang Sakura dengan ekspresi terkejut.

"kaa-san…" Sakura berlari ke pelukan kaa-sannya, Sakura terlihat sangat bahagia, begitu pula kaa-san nya. "Kenapa kau sudah pulang Sakura?" Tanya Kaa-san Sakura sembari mengangkat beberapa bawaan Sakura. "aku mendapat liburan, aku akan masuk excellent defense bulan depan" jelas sakura.

"benarkah? Kalau begitu, Kaa-san akan masakkan sesuatu yang spesial untuk merayakannya" kata Kaa-san dengan wajah berseri-seri. "arigatou, Kaa-san" Sakura memeluk tubuh Kaa-san nya. Seharian itu dilewati Sakura dan Kaa-sannya untuk memasak masakan yang special, pie apel kesukaan Sakura pun tak lupa dimasak. Beberapa jam kemudian, Tou-san Sakura pulang dari kebun. "bagaimana kalau kita makan diluar, tou-san akan menyiapkan mejanya"

Sakura dan keluarganya menghabiskan malam itu dengan suka cita. Tetangga sebelah rumah Sakura, Tsume-jiisan dan istrinya ikut bergabung. Sakura benar-benar merasa hidup. Semangatnya kembali penuh, seandainya saja bisa seperti ini selamanya. Saat malam semakin larut, orangtua dan tetangga Sakura memutuskan untuk segera beranjak tidur. "aku masih akan melakukan sesuatu, Kaa-san" kata Sakura. "kalian tidur saja dulu, aku akan menyusul nanti."

Sakura berlari menuju kamarnya, memakai mantel musim dingin dan sarung tangan untuk menjaga kehangatannya. Sakura memutuskan untuk pergi ke tempat itu, tempat yang sudah lama tidak dikunjunginya.

Suara binatang malam bersahut-sahutan. Meramaikan malam hari yang dingin di musim gugur. Di kejauhan bulan bersinar menerangi malam, bintang-bintang memancarkan menemaninya. Sakura terus berjalan menuju sebuah bukit. Dari kejauhan terlihat sebuah pohon willow besar menaungi bukit, bulan menggantung di ujung bukit.

Sakura terkejut, terlihat siluet seseorang duduk di bawah pohon willow. Ia tak menyangka akan ada orang lain disana, biasanya saat ia kemari pun tak ada orang lain. Sedikit kecewa, Sakura perlahan meninggalkan bukit itu. Sebisa mungkin tidak mengeluarkan suara

"mau apa kau?"suara seorang lelaki. Sakura terkesiap, ia tak menyangka orang itu akan menyadari kehadirannya. Sakura memandang siluet laki-laki itu, masih membelakangi Sakura, bagaimana ia bisa tahu?

"Aku hanya ingin mengunjungi tempat ini, aku tak mengira akan ada orang lain disini" kata Sakura pelan.

"lalu kenapa kau pergi. Kalau kau memang ingin kemari, aku tak akan mengganggumu" kata laki-laki itu. Ia masih duduk membelakangi Sakura.

Sakura menimbang-nimbang sebentar, namun akhirnya ia memutuskan untuk berjalan mendekati pohon willow, duduk agak jauh dari orang asing itu. Sakura mencoba biasa saja, melakukan hal yang disukainya saat ada disini, memandang langit yang bertabur bintang dan bulan yang bersinar terang. Tapi entah kenapa, kehadiran laki-laki itu begitu terasa, meskipun ia hanya diam didalam kegelapan. "siapa kau? Kau bukan orang daerah ini, kan?" Tanya Sakura setelah tak mampu mebendung rasa penasarannya.

"hn, aku hanya senang mengunjungi tempat ini" kata orang asing itu. "bagaimana kau bisa tahu tempat ini?" Tanya Sakura kemudian.

Orang asing itu memalingkan mukanya kearah Sakura. Sakura kembali terkesiap, di bawah cahaya bulan, wajah orang ini terlihat begitu tampan, apa dia dewa? "aku tak sengaja kemari dulu, saat aku pergi dengan kakakku" lelaki itu kembali mengarahkan pandangannya ke langit. "oh" jawab Sakura pelan. Keheningan kembali menyelimuti malam, suara binatang malam bersahut-sahutan. Sakura merasa tenang sekali, itulah mengapa ia suka tempat ini di malam hari. Entah kenapa, kehadiran anak lelaki itu sama sekaIi tidak mengganggunya.

"aku Sasuke" kata lelaki itu tiba-tiba. "eh?" Sakura bingung, sepertinya ia tak menanyakan nama lelaki itu. `Aneh sekali orang ini` pikir Sakura.

"kau siapa?" kata anak itu lagi. Sakura memandangi wajah Sasuke lekat-lekat, "aku Sakura," jawab Sakura tanpa melepaskan pandangannya dari wajah Sasuke. Tanpa ia sadari, wajahnya memerah. Tiba-tiba Sasuke berdiri dan beranjak dari bukit itu, berhenti sebentar kemudian memandang Sakura "Senang berkenalan denganmu" katanya kemudian pergi. Sakura terpaku di tempatnya dan terus memandangi Siluet Sasuke yang terus menjauh. "senang bertemu denganmu" kata Sakura pelan.

.

.

.

.

.

.

Sakura membuka matanya, terdengar suara berisik dari bawah, nampaknya kaa-san nya sedang menyiapkan makan pagi, selama beberapa minggu ini saat Sakura tengah berlibur, biasanya ia akan membantu ibunya memasak. Namun, hari ini Sakura bangun kesiangan. Mungkin karena semalam ia tidur terlalu larut setelah bermain catur dan bercerita bersama ayahnya. Sakura beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti piyamanya, kemudian turun ke ruang makan.

"pagi Kaa-san" sapa Sakura pada kaa-san nya yang tengah menyiapkan makanan di meja makan. "pagi, Sakura. Ada tamu yang ingin bertemu denganmu. Beliau ada di ruang tamu bersama Tousan." Sakura menuju ke ruang tamu, ia melihat tou-san nya berbicara dengan seseorang.

"ah, pagi Sakura" sapa tamu itu, yang tak lain adalah Jiraiya-sama. Ia terlihat sedikit lebih pucat, menggunakan pakaian prajurit, seperti biasanya. Setelan anti peluru berwarna silver . Sakura berjalan mendekat, kemudian menyapa Jiraiya-sama.

"Aku menjemputmu, Sakura. Kita akan ke markas excellent defense, kau boleh menyiapkan barangmu dan berpamitan." Jelas Jiraiya-sama.

Sakura segera melaksanakan perintah Jiraiya, bergegas menuju kamarnya dan menyiapkan segala keperluannya. Kemudian turun dan berpamitan dengan kedua orangtuanya. Ayah dan ibu Sakura terlihat senang sekaligus sedih. Senang melihat keberhasilan anaknya, sedih karena harus merelakan anaknya menghadapi bahaya di luar sana.

Sakura memilih untuk segera pergi, agar ia tidak semakin sedih karena harus meninggalkan kedua orangtuanya.

Kali ini Sakura dijemput sebuah pesawat jet pribadi, Jiraiya memimpin untuk memasuki pesawat bermuatan lima orang itu. Sakura terus memandang JIraiya dengan bingung. Berbagai macam pertanyaan bermunculan di kepalanya. Bahkan hingga mereka telah duduk di atas safety chair dan memasang sabuk pengaman, Sakura masih memandang Jiraiya dengan tatapan tajam sarat akan berbagai macam pertanyaan.

Jiraiya sebenarnya menyadari tatapan Sakura, tapi ia memilih bungkam dan menatap fokus ke depan. Ia tahu, ini bukan saatnya untuk menjelaskan segalanya, nanti, ada waktunya.

Mereka telah sampai di markas rahasia excellent defense, Jiraiya menuntun Sakura menuju ruangannya. Sakura semakin penasaran. Sakura tahu bagaimana prosedur penyambutan anggota baru excellent defense, biasanya mereka akan dikumpulkan dan diberi latihan keras, bahkan saat baru sedetik sampai. Namun ini tidak, Sakura malah digiring menuju ruangan mewah milik Jiraiya-sama dan disuguhi berbagai macam makanan. Sakura terus memandang Jiraiya yang duduk di seberang meja.

"Aku tahu kau tidak bodoh Sakura. Kau pasti menyadari adanya kejanggalan disini" kata Jiraiya membuka pembicaraan.

"tanyakan apa yang ingin kau tanyakan, Sakura" lanjut Jiraiya sembari memandang Sakura dengan tatapan kebapakan.

Sakura sedikit melunak, pandangannya tidak setajam tadi. " kenapa aku dijemput, kenapa aku diperlakukan berbeda, dan kenapa aku dikirim kemari bahkan dua hari lebih cepat dari yang lain?" Tanya Sakura to the point.

Jiraiya tersenyum bangga, ia tahu pilihannya terhadap Sakura tepat. Sakura sangat teliti terhadap segala sesuatunya, dan ia memiliki pengetahuan yang luas tentang excellent defense. " Kau tahu bagaimana cara murid pusat komando dipilih, Sakura?" Tanya Jiraiya.

"mereka dipilih berdasarkan keistimewaan gen dan keahlian mereka sejak bayi, diketahui melalui data yang dikirimkan chip yang telah ditanam dalam tubuh mereka" jawab Sakura.

"benar, anak didik pusat komando adalah anak-anak istimewa, tapi apakah kau pernah berpikir, diantara anak-anak istimewa tadi ada yang paling istimewa?" Tanya Jiraiya lagi. Sakura terlihat sedikit bingung, dan tak tahu kemana arah pembicaraan ini.

"tentu saja ada Sakura. Diantara benih yang sempurna, pasti ada yang paling sempurna." Jiraiya berdiri kemudian mengambil berkas dari lemari di sebelahnya. "dan beruntungnya aku, karena menemukan benih itu" Jiraiya terlihat membaca berkas-berkas yang diambilnya.

"apa maksudnya, jiraiya-sama? Saya masih tidak mengerti"

"Kau adalah benih itu, Sakura. Berkas ini menunjukkan betapa sempurnanya gen-mu. Kau memiliki segala yang terbaik. Otak, tubuh, kecepatan, pengindraan, bahkan insting. Tak ada yang sepertimu. Biasanya mereka hanya memiliki satu yang menonjol, tapi kau punya semua, kau punya segalanya, Sakura"

Sakura hanya terdiam, ia tidak terlalu kaget dengan informasi ini, karena selama masa pelatihan dipusat komando Sakura memang yang terbaik.

"lalu apa hubungannya dengan semua itu?" Tanya Sakura

" kau telah dipersiapkan untuk menjadi komandan angkatan satu Saku. Kau harus berlatih lebih keras dari yang lain. Kau harus bisa memimpin mereka semua"

"siapa mereka semua? Apa aku harus memimpin anak-anak angkatan satu yang dipilih tahun ini"

"tidak- bukan hanya mereka." Jawab Jiraya-sama "tapi semua angkatan perang Hemera, kau akan menjadi pemimpin mereka."

Sakura terdiam, ia cukup terkejut dengan informasi ini. Mulai saat ini, dunia nya yang terasa berat akan semakin berat

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Hai minaaaa…. Akhirnya bisa update,

sebenernya gak yakin mau update nih fic. soalnya respon fic ini rendah banget, tapi kalo mau sukses harus berani gagal dulu, kan.

So, untuk chapter ini mohon dukungannya ya, review, saran, kritik diterima banget…

Arigatou, jaa ne…..