Pairing : Kihyun
Warning : No bash
Happy Reading!
.
.
"Aku tidak mau tahu. Kau harus tanggung jawab!"
"Ta-tapi…tapi berapa yang harus ku bayar?" tanya Kyuhyun takut-takut. Membayangkan credit cardnya membuat Kyuhyun meringis.
"Bukan uang." Kibum mencondongkan tubuhnya ke arah Kyuhyun. Tepatnya ke telinga Kyuhyun. Ia membisikkan sesuatu yang membuat tubuh Kyuhyun menegang seketika.
"MWO?"
Kyuhyun menganga. Matanya membulat sempurna. Ia langsung menegakkan tubuhnya. Mundur takut-takut menjauhi Kibum. walau ia terkenal nakal, tapi kalau di hadapkan dengan orang seperti Kibum, Kyuhyun tidak akan berani.
"Aku…aku tidak mau. Aku…aku masih kecil." Kyuhyun tergagap menanggapi permintaan Kibum. Wajahnya langsung memucat. Kibum hanya berdiri santai. Tangannya beralih di lipat di depan dada. Ia hanya memperhatikan Kyuhyun yang mulai gelisah.
"Lalu yang kau lakukan kemarin itu apa?" Kyuhyun menelan ludahnya kasar. Tatapan Kibum benar-benar mengintimidasinya.
"I-itu...itu…aku tidak…eng..." Kyuhyun bingung harus menjawab apalagi. Ia hanya semakin memundurkan tubuhnya.
"Kita mulai dari hari ini."
"MWO?" Hanya itu yang mampu keluar dari mulut Kyuhyun. Namun karena tidak mau mengikuti permintaan gila dari Kibum, ia langsung memutar otak cepat. "Aku tidak mau. Pokoknya aku tidak mau. Sunbae tidak bisa memaksaku."
Kibum menyeringai mendengar jawaban Kyuhyun. Jawaban yang terdengar begitu tegas. "Oh ya. Lalu bagaimana kalau aku memberi tahu orang tuamu? Aku bisa menunjukkan buktinya."
Mendengar Kibum menyebut orang tuanya, Kyuhyun langsung membayangkan eommanya yang super galak itu mencabut semua fasilitasnya. Bukan tidak mungkin Heeechul melakukan semua itu. Apalagi jika eommanya tahu Kyuhyun yang mencium Kibum terlebih dahulu. Tidak seperti yang ia ucapkan pada eommanya tempo hari.
Membayangkan kuliah tanpa mobil, tidak bisa bermain game, membuat Kyuhyun mengerang frustasi.
"Eomma, otteokae?" gumaman Kyuhyun yang pelan masih dapat di dengar Kibum.
"Sunbae, aku harus pulang sekarang. Eomma akan khawatir kalau aku pulang telat." Kyuhyun langsung berlari meninggalkan Kibum. Melihat Kyuhyun yang begitu ketakutan, membuat Kibum tersenyum tipis.
"Menarik," gumam Kibum.
.
Aila Nesya
.
"Eommaaaa…"
Bukan hanya Heechul, seluruh pekerja di kediaman Tan terkejut mendengar teriakan Kyuhyun yang membahana. Heechul yang sedang di kamar langsung berlari tergopoh-gopoh. Ia menghampiri Kyuhyun yang menekuk wajahnya sembari duduk di sofa.
"Aigoo…telinga eomma bisa pecah Kyu." Walau sudah delapan belas tahun hidup bersama Heechul, tapi Kyuhyun masih belum mengerti kenapa eommanya selalu membawa kipas lipat kemana-mana. Padahal rumahnya full ac.
"Eomma, Kyu mau pindah kuliah Eomma. Jebal, biarkan Kyu pindah."
"Eehh…" kening Heechul mengkerut. "Ada apa dengan anak eomma yang manis ini? Kenapa Kyu minta pindah?"
"Kyu harus pindah Eomma. Kalau Eomma mau anak Eomma yang tampan ini masih berada di dunia, pindahkan Kyu dari Universitas terkutuk itu." Siapapun yang melihat, tidak akan percaya jika Kyuhyun sudah menyandang status mahasiswa. Bagaimana tidak, jika ia menggoyang-goyangkan tangan Heechul seperti anak kecil.
"Sudah eomma bilang. Kyu itu cantik dan manis seperti eomma." Sepertinya Heechul tidak rela jika Kyuhyun di katakan tampan. Baginya anak semata wayangnya itu seperti dirinya. Sekalipun Kyuhyun tampan seperti Hanggeng, Heechul tidak terima.
"Ne, ne, ne… Kyu cantik seperti eomma."
"Nah, itu baru anak eomma."
"Eomma, jangan mengalihkan pembicaraan. Kyu mau pindah."
"Apa alasanmu pindah sayang? Apa kau melakukan kesalahan?" suara Heechul yang berubah membuat nyali Kyuhyun menciut. Mengingat ucapan Kibum, membuat Kyuhyun ingin membenamkan wajahnya ke tanah.
"Tapi, kalau eomma tahu, semua fasilitasku benar-benar akan di cabut," batin Kyuhyun. Ia melirik ke arah Heechul yang masih setia dengan kipas di tangannya. Membayangkan gagang kipas lipat itu mendarat di kepalanya, membuat Kyuhyun meringis.
"Tidak jadi eomma. Kyu berubah fikiran." Kyuhyun langsung buru-buru beranjak ke kamarnya. Tak lupa ia mengecup pipi Heechul. Tidak ingin Heechul bertanya lebih jauh. Ia pura-pura ingin tidur.
.
Aila Nesya
.
Di koridor kampus yang masih sepi, Kyuhyun berjalan dengan tergesa-gesa. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri terus menerus untuk memastikan keselamatannya. Sedikit berlebihan memang. Tapi itu lah yang Kyuhyun lakukan. Setelah pertemuanya dengan Kibum beberapa hari lalu, hidupnya serasa terancam.
Kyuhyun tersenyum lega ketika beberapa langkah lagi tiba di depan kelas. Ia mempercepat langkahnya untuk duduk di bangku yang selama ini membosankan untuknya.
Bruk…
Kyuhyun tidak hati-hati. Ia menabrak seseorang yang berdiri di ambang pintu. Kyuhyun terkejut ketika manyadari yang ia tabrak adalah Kibum. Kyuhyun sudah akan melakukan langkah seribu sebelum Kibum mencekal tangannya.
"Kau sengaja menghindar?"
Kyuhyun selalu gelagapan setiap menjawab pertanyaan Kibum. Setelah mendengar kalimat yang Kibum bisikkan, Kyuhyun jadi menganggap Kibum adalah momok menakutkan.
Tubuh Kyuhyun menegang ketika Kibum mendekatkan wajahnya. Bukan mencium. Hanya membisikkan kalimat yang sama. Kalimat yang selalu membuatnya lupa bagaimana cara bernafas.
Kibum berlalu begitu saja. Sedangkan Kyuhyun, hanya mematung tak ubah orang idiot. Dengan jalan ala zombie, Kyuhyun duduk di kursinya. Ia merebahkan kepalanya di meja. Menghela nafas panjang karena meratapi nasibnya.
"Yo Kyu." Hongki telah menampakkan wujudnya. Ia duduk tepat di hadapan Kyuhyun. Dahinya mengkerut melihat ekspresi Kyuhyun yang jauh dari kata evil. Tidak ada semangat dan senyum di wajah sahabatnya itu.
"Ada apa denganmu?"
"Hidupku berakhir Hongki-ya. Hidup indahku sudah berakhir."
"Apa maksudmu, Kyu?" Kyuhyun bungkam. Hanya wajahnya yang sangat terlihat masam Hongki ingin tertawa melihat wajah Kyuhyun. Namun sebagai sahabat yang baik, ia tidak mungkin menertawakan Kyuhyun yang tengah bermurung ria. "Apa semua fasilitasmu di tahan eommamu lagi?"
"Bahkan lebih buruk dari itu Hongi-ya. Aku ingin mati. Tapi nanti eomma tidak akan punya anak tampan lagi. Otteokae?" Hongki memasang wajah jengah mendengar ocehan Kyuhyun. "Lagi pula mati itu sakit."
"Yak, kalau mau mati ya mati saja. Jangan memikirkan sakitnya," protes Hongki.
"Dosaku masih banyak."
"Dosamu memang banyak dan tidak akan pernah berkurang. Yang ada akan semakin bertambah." Kyuhyun manyun mendengar ucapan Hongki. Namun ia membenarkan. Setiap hari ia tidak pernah berbuat baik. Dosanya sudah terlalu banyak.
.
Aila Nesya
.
"Ya, ya, ya Kyu. Kau mencekikku." Kyuhyun tidak menghiraukan teriakan Hongki. Ia tetap menarik kerah baju sahabatnya itu menuju taman belakang. "Kau gila? Aku hampir tidak bisa bernafas. Kau kan bisa menarik tanganku, bukan kerah bajuku."
"Ck, kau berisik sekali. Aku tidak sempat menarik tanganmu." Ingin rasanya Hongki mencekik leher Kyuhyun. Tapi ia urung ketika melihat wajah Kyuhyun yang sangat gelisah.
"Ada apa lagi denganmu?" tanya Hongki.
"Hongki-ya tolong aku." Kyuhyun mengatupkan kedua tangannya di depan dada. Hal yang sangat jarang Kyuhyun lakukan. Biasanya ia meminta apapun sesuka hatinya.
"Bukankah selalu begitu? Selama ini aku selalu membantumu."
Kyuhyun tersenyum manis mendengar jawaban Hongki. "Kalau begitu, kali ini kau harus menolongku. Tanpa penolakan!" sepertinya meminta dengan baik-baik dan manis tidak akan pernah bertahan lama di dalam diri Kyuhyun. Baru saja ia meminta seperti anak kecil, tapi sekarang, wujud evilnya telah kembali.
"Apa yang bisa ku lakukan untukmu?"
"Kau harus mau menjadi pacarku?"
"Mwo?" seketika mata Hongki membulat sempurna. Bibirnya menganga. Wajahnya terlihat seperti orang idiot. "Kau gila?"
"Aku serius Hongki-ya?"
"Jadi selama ini kau memendam perasaan padaku?" Hongki menyilangkan tangannya depan dada. Matanya menatap takut ke arah Kyuhyun.
"Yak, jangan terlalu percaya diri. Aku tidak menyukai orang sepertimu. Seleraku itu tinggi." Hongki harus memiliki kesabaran ekstra mengahadapi Kyuhyun. Jadi ia hanya angguk-angguk saja.
"Terserah kau saja. Jadi apa maksud ucapanmu tadi?"
"Hanya jadi pacar bohongan di depan Kibum sunbae." Mengingat Kibum membuat wajah Kyuhyun kembali lesu. Ia benar-benar hampir gila karena kehadiran seseorang yang menjadi idola kampusnya itu. Namun berbeda dengannya. Baginya Kibum adalah sosok yang harus di waspadai.
"Kibum? Kim Kibum maksudmu, Kyu?"tanya Hongki memastikan.
"Kau fikir siapa lagi? Tentu saja Kibum yang itu." Kali ini Hongki semakin tertarik dengan arah pembicaraan Kyuhyun. Ia masih belum mengerti kenapa tiba-tiba Kyuhyun membawa nama Kibum. Padahal beberapa hari lalu, Kyuhyun tampak tidak berminat ketika ia menceritakan tentang Kibum.
"Bagaimana bisa, Kyu? Apa hubungan pacar bohong-bohongan dengan Kibum?"
"Ya, pelankan sedikit suaramu itu Hongki-ya. Kau tidak lihat di sini banyak mahasiswa?"
"Tapi sayangnya aku sudah mendengar." Tubuh Kyuhyun menegang. Tanpa berbalik, Kyuhyun tahu pemilik suara bass yang berasal dari belakangnya. Berbeda Kyuhyun berbeda Hongki. Hongki justru menganga lebar melihat Kibum mendekat. Dari jarak yang dekat, Hongki bisa melihat dengan jelas wajah Kibum.
Kyuhyun tidak bisa mengeluarkan suaranya ketika Kibum menggenggam tangannya. "Kau tidak lupakan? Di mulai dari kemarin.." Kyuhyun meringis ketika malihat sekelilingnya. Mahasiswi yang memperhatikan mereka seolah ingin mengulitinya hidup-hidup.
"Hiduku benar-benar sudah berakhir," batin Kyuhyun.
Ketika Kyuhyun sudah tidak tampak, Hongki masih berdiri di posisinya semula. "Kau berhutang banyak penjelasan padaku Kyu," gumam Hongki.
.
Aila Nesya
.
Kyuhyun tidak pernah setegang ini ketika berada di dalam mobil. Ketika bersama Hongki yang melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, Kyuhyun justru berteriak senang. Tapi saat ini, mobil yang belum bergerak membuat keringat dingin bercucuran di pelipisnya.
Kyuhyun melirik takut ke arah Kibum. Pemuda tampan idola kampus itu tengah menelfon seseorang. Kyuhyun akui ketampanan dan pesona Kibum. Tapi tidak dengan pemikirannya. Sungguh menakutkan.
"Sunbae, kita mau ke mana?"
"Panggil aku Hyung. kau lupa? Aku pacarmu sekarang."
Ingin rasanya Kyuhyun terjun dari lantai seratus. Menjadi pacar seorang Kim Kibum pasti impian semua orang, tapi tidak dengan Kyuhyun. Kalau hanya menjadi pacar mungkin tidak akan membuat Kyuhyun tertekan. Tapi ternyata Kibum itu sangat menakutkan. Permintaan Kibum itu membuatnya frustasi.
Andai waktu bisa di putar. Ingin rasanya Kyuhyun kembali ke beberapa waktu lalu. Kalau tahu konsekuensi yang ia tanggung harus seperti ini, mungkin waktu itu Kyuhyun lebih memilih di hajar preman-preman itu. Karena sakitnya mungkin hanya sebentar. Tapi dengan Kibum? ia tidak tahu harus menanggung sampai kapan.
.
.
TBC
.
.
Pendek ya? Biarin… mau ngerjain tugas #plak hehehe
FF ini mirip ff Wonkyu?
Beneran?
Bagian mananya?
Ciumannya?
Atau semuanya?
Bener-bener miripkah?
Huuuft Nay belum pernah baca. Kalau emang bener-bener mirip kasih tahu ya. Kalau Nay tahu, pasti gak buat kaya gini. Nay anti plagiat.
