Just For You
- ooOOoo-
Kim Seok Jin x Kim Tae Hyung
- ooOOoo-
Jeon Jung Kook
Jung Hoseok
Park Jimin
Kim Namjoon
- ooOOoo -
Angst, Hurt/Comfort, YAOI
- ooOOoo -
2nd BTS Fanfic, Fanfic is MINE, DO NOT COPY
- ooOOoo-
Happy Reading
ooOOoo
All Author Pov
Seok Jin menghela nafas kesal. Ini sudah kesekian kalinya dia tidak fokus pada mata kuliah Mr. Jung. Entahlah, sepertinya sudah sejak dua bulan yang lalu dia terus seperti ini. Apalagi penyebabnya adalah bayang-bayang wajah Hoseok dan Taehyung yang terus saja muncul dikepalanya.
Namja itu mengerang frustasi. Ia mengalihkan pandangannya keluar jendela kelasnya. Dan tak sengaja kedua matanya melihat dua orang namja sedang bermain basket dilapangan luar. Ia juga melihat seorang namja yang sangat dikenalnya sedang duduk ditepi lapangan tersebut sambil sesekali tertawa bersama dengan seorang temannya.
Dengan cepat ia membereskan bukunya lalu mengambil tas ransel miliknya. Ia mengangkat tangan kanannya.
" Ne Kim Seok Jin-ssi? "
" Joesonghamnida Mr. Jung. Tapi saya ada urusan mendadak sekarang. Boleh saya izin keluar? " Seok Jin meminta izin dengan sopan.
" Baiklah. Anda boleh pergi. "
Seok Jin mengangguk sekilas. " Ne Mr. Jung. Gamsahamnida. " kemudian ia berjalan dengan cepat keluar dari kelasnya.
ooOOoo
" Ya! Jung Hoseok! Neo jinjja, aish! "
Hoseok tertawa mendengar umpatan yang keluar dari mulut salah seorang temannya. Ia baru saja mendapatkan triple point dan memenangkan permainan basket itu.
" Tidak bisakah kau mengalah satu point saja untukku? Aih! Habislah uangku. "
" Ya~ Namjoon-ah. Bukankah kau sudah setuju sebelum kita bermain tadi? Yang kalah, harus mentraktir yang menang sepuasnya. "
Namja yang bernama Namjoon itu berdecak kesal. Seharusnya ia tidak menyetujui hal itu tadi. Jika sudah begini, dia juga yang jadi bangkrut.
" Baiklah. Tapi tidak dengan makanan yang mahal, oke? Aku harus mengumpulkan uang untuk membeli ponsel baru. Ponselku yang baru saja dibeli oleh appa rusak, dan eomma juga menyuruh appa agar tidak membelikan ponsel baru untukku. " jelas Namjoon sambil berjalan menuju tepi lapangan. Tempat dimana tasnya berada.
Hoseok mengangkat kedua bahunya tidak peduli. " Yang penting kau mentraktirku. Ah tidak! Tapi mentraktir Taehyung dan Jimin juga. "
Mendengar nama mereka disebut, Taehyung dan Jimin –kedua sahabat yang sedari tadi menonton permainan mereka- bersorak riang.
" Mwo?! Andwae! Yang bermain tadi kan hanya aku dan kau saja, kenapa mereka juga harus ku traktir? Shireo! " Namjoon menolak dengan kesal.
" Eih hyung. Kau pelit sekali. " Jimin nyeletuk.
" Ne hyung. Sekali-sekali kau juga harus- "
Grep.
" Akh! "
Taehyung memekik sakit saat lengannya digenggam paksa oleh seseorang. Ia mendongak untuk melihat orang itu. Dan..
" S-Seok Jin hyung.. " gumamnya.
" Kita pulang. " ucap Seok Jin dengan tatapan tajamnya.
" N-ne? " Taehyung mengerjap takut. Ia kemudian menunduk.
Seok Jin yang melihat itu kesal. Ia menarik Taehyung untuk berdiri dari duduknya, dan membawanya paksa meninggalkan tempat itu.
" Ya! Neo- "
Puk.
" Jangan dikejar hyung. Itu masalah mereka sendiri. Lagipula kau tidak mempunyai hak untuk menahannya. Seok Jin hyung lebih berhak atasnya, karena dia adalah tunangannya. " Jimin berucap setelah menahan Hoseok untuk tidak mengejar Taehyung.
Hoseok hanya diam ditempatnya seraya menatap sendu punggung Taehyung yang semakin menjauh.
ooOOoo
Brak!
Sret.
Bukh.
" Ugh! " Taehyung menutup kedua matanya karena merasakan sakit dipunggungnya saat Seok Jin mendorongnya kedinding.
" Kau.. apa yang kau lakukan, huh? " tanya Seok Jin tajam.
Taehyung membuka kedua matanya perlahan dan menatap namja yang sedang berdiri didepannya itu, dengan kedua tangan yang berada disisi kanan dan kiri kepalanya.
" A-aku.. tadi hanya.. " Taehyung terbata. Sebenarnya ia juga bingung. Kenapa Seok Jin tiba-tiba menjadi seperti itu?
" Hanya apa Kim Taehyung? "
" H-hanya.. menonton Hoseok hyung b-bermain basket. " jawab Taehyung pelan. Ia menunduk karena takut melihat tatapan Seok Jin padanya.
" Menontonnya bermain basket, sampai kau rela membolos. Begitu? "
" Aniya hyung. Aku tadi.. t-tidak ada kelas. J-jadi.. "
" Jadi namja itu memintamu untuk menonton permainannya, begitu? Kim Taehyung, kau benar-benar. Cih! Apa belum cukup kau bertunangan denganku? Merebut semua perhatian kedua orang tuaku? Dan mengambil kebahagiaan dalam hidupku? Bahkan kau membuatku tidak bisa bersama dengan Jung Kook! " geramnya.
Penglihatan Taehyung mulai memburam karena menahan air matanya agar tidak keluar.
" Kau.. apa kau tidak ingat jika kau sudah bertunangan, huh? Masih saja berani mendekati namja lain. Jika kedua orang tuaku tahu hal ini, maka tamatlah riwayatmu. Oh! Atau.. jangan-jangan kau sudah berbuat hal lain dengannya? Sampai kalian berdua sangat dekat seperti itu. Murahan sekali kau. "
Taehyung menggigit bibir bawahnya. Air matanya sudah mulai mengalir membasahi kedua pipinya. Kedua tangannya mengepal menahan marah. Ini yang pertama kalinya Seok Jin berucap sekasar itu padanya. Sakit sekali rasanya.
" Benar apa yang ku katakan? Kim Taehyung, kau benar-benar namja yang- "
Plak.
Satu tamparan keras mendarat dipipi kiri Seok Jin. Namja tampan itu bahkan merasakan sakit dipipinya. Ia menoleh, menatap Taehyung yang kini sudah menangis terisak dihadapannya.
" Sudah puas hyung? Puas menuduhku dan menyakitiku dengan kata-katamu, huh? A-aku.. hiks.. waktu aku menemaninya pergi ke toko buku.. hiks, kau marah. Sekarang aku.. hiks hiks.. h-hanya menontonnya bermain basket hiks.. kau berucap seperti itu hiks.. padaku. S-sementara aku yang terkadang melihatmu selalu berdua dengan Jung Kook hiks.. aku diam hyung, aku diam. Hiks.. hiks.. "
Seok Jin terdiam. Lidahnya terasa kaku untuk mengucapkan sesuatu walau itu hanya satu kata. Entah kenapa dadanya terasa sesak dan sakit diwaktu yang bersamaan saat melihat Taehyung menangis seperti itu. Ini adalah yang pertama kalinya Seok Jin melihat Taehyung menangis dihadapannya. Dan itu karena dirinya.
Selain itu, ia juga jadi bingung kenapa sikapnya tiba-tiba menjadi seperti ini. Ada perasaan panas yang meluap setiap saat melihatnya bersama dengan Hoseok.
" A-aku.. selalu saja mengalah untukmu hyung. Semuanya sudah kulakukan agar kau hiks.. b-bahagia. Mem-membiarkanmu bersama dengan Jung Kook saja, aku merelakannya hyung. Hiks.. hiks.. melihatmu tersenyum dan tertawa dengannya, sudah cukup untuk membuatku senang hiks. Meskipun, aku.. sakit. Tapi apa yang kudapatkan sekarang? Hiks.. kau bahkan menuduhku hyung. Mengatakan aku namja murahan hiks.. apa salahku hyung? Apa lagi maumu? " jelas Taehyung disela isak tangisnya.
Namja manis itu menjatuhkan dirinya. Duduk diatas lantai sambil menangis dengan kedua telapak tangan yang menutupi wajahnya. Sementara Seok Jin hanya terdiam. Dia tidak tahu harus mengatakan apa. Kedua tangannya kini sudah tidak menyetuh dinding lagi
Hingga akhirnya Taehyung mengusap air matanya dengan kasar dan mulai kembali berdiri. Menatap kedua mata Seok Jin dengan tatapan sendu serta senyuman paksa.
" Hyung.. ingin kita berpisah? Ingin memutuskan tali pertunangan ini? " tanya Taehyung yang tak juga mendapat jawaban dari namja tampan itu.
Taehyung mengangguk pelan dan menghela nafas. " Geurae. Jika hal itu juga membuatmu bahagia, akan kulakukan. Aku.. akan meminta appa dan eomma untuk mengakhirinya. "
Lama Seok Jin terdiam. Akhirnya ia membalikkan tubuhnya, membelakangi Taehyung. Ia menghembuskan nafas kasar.
" Terserahmu saja. " katanya dan melangkah masuk ke kamar. Membiarkan Taehyung yang lagi-lagi menangis ditempatnya.
Dibalik pintu kamarnya, ia terduduk. Memejamkan kedua matanya sambil menengadahkan kepala. Memikirkan sikapnya beberapa bulan ini. Tidak ingin Taehyung terlalu dekat dengan Hoseok atau apapun itu yang membuat Taehyung akan semakin nyaman dengan namja tersebut. Dan berakhir dengan.. Taehyung yang akan berpaling darinya.
Mungkinkah dia menyadari jika ia terkadang cemburu, takut kehilangan Taehyung dan.. mulai membuka hatinya untuk namja manis itu?
ooOOoo
Taehyung menatap secarik kertas yang merupakan surat untuknya. Tadi pagi, ia dipanggil oleh sang empunya Universitas untuk sesuatu hal. Dan berakhir dengan sebuah surat yang diberikan untuknya.
Semua hal yang menjadi pertanyaannya tadi pagi setelah bertemu dengan pemilik Universitas itu kini sudah terjawab. Tapi yang membuatnya bimbang adalah, apakah keputusan yang nanti akan diambilnya adalah sesuatu yang baik untuk dirinya dimasa depan nanti? Atau malah sebaliknya.
Pemikirannya buyar saat itu juga saat mendengar ponselnya berbunyi. Ia melihat nama Hoseok tertera dilayar ponselnya.
" Yeoboseyo hyung. " ucapnya dengan suara sedikit serak. Ia sudah menangis selama tiga jam tadi, dan berakhir dengan tertidur diatas kasurnya.
' Tae, gwaenchanayo? '
Taehyung tersenyum mendengarnya. Hoseok sangat peduli pada dirinya. Apapun akan dilakukan oleh namja itu hanya untuknya. Hoseok pernah bilang, bahwa Taehyung sudah menjadi bagian terpenting dihidupnya. Ia sangat menyayangi Taehyung, layaknya seorang kakak pada adik. Tidak lebih.
' Tae? Kau masih disana? '
" Ne hyung. " jawab Taehyung pelan.
' Aku khawatir dengan keadaanmu karena Seok Jin menyeretmu tadi pagi. Sepertinya dia sangat marah. Benar kau tidak apa-apa? Apa dia melukaimu? ' Hoseok bertanya dengan nada khawatir.
" Nan gwaenchana hyung. Jinjja gwaenchana. " Taehyung meyakinkan.
Terdengar helaan nafas dari Hoseok. ' Syukurlah kalau begitu. Dan.. Taehyung-ah.. '
" Ne hyung? " Taehyung bisa memastikan bahwa Hoseok pasti akan membicarakan hal serius dengannya, jika namja yang menghubunginya itu tidak memanggil dirinya dengan sebutan yang biasa.
' Apa.. kau sudah memutuskannya? ' tanya Hoseok.
Taehyung diam sejenak. Ia menatap surat itu lagi. Tapi mungkin kali ini dia sudah memantapkan keputusannya. Setidaknya, dengan cara ini juga dia dapat melepas dan melupakan cintanya pada Seok Jin.
Ia menghela nafasnya dan mengangguk pelan. " Ne hyung. Aku akan menerimanya. "
ooOOoo
" Apa maksudmu Taehyung-ah? Kau.. ingin memutuskan tali pertunanganmu dengan Seok Jin? " Nyonya Kim menatap tak percaya anaknya yang sedang duduk disofa single yang berhadapan dengannya.
Pagi tadi, Taehyung langsung datang ke rumah orang tuanya dan meminta untuk memutuskan perjodohan dirinya dengan Seok Jin. Tentu saja itu membuat kedua orang tuanya terkejut. Karena setahu kedua orang tuanya, Taehyung sangat mencintai anak dari sahabat mereka itu.
" Ne eomma. " Taehyung menjawab dengan lirih. Ia menunduk, tidak berani menatap wajah sang ibu yang sedang bersedih.
" Yeobo.. eotteokhe? " Nyonya Kim menggoyangkan kecil bahu kanan suaminya.
Tuan Kim menghela nafas pelan dan menenangkan isterinya itu lalu melihat anaknya yang masih menunduk.
" Taehyung-ah.. beritahu kami alasannya. Pasti ada sesuatu yang terjadi bukan? Tidak mungkin kau meminta memutuskan perjodohan ini begitu saja. Dan.. bukankah kau selama ini mencintai Seok Jin? " Tuan Kim berucap dengan tenang.
Taehyung tersenyum miris. " Ya, aku memang mencintainya appa. Tapi tidak dengannya. Seok Jin hyung tidak mencintaiku. Ia mencintai.. orang lain. " jawabnya.
" Ne? Seok Jin tidak mencintaimu? "
Taehyung mengangguk. Ia mendongak secara perlahan. Melihat kedua orang tuanya yang kini sedang menatapnya sedih.
" Jadi.. boleh kan jika aku memutuskan tali pertunangan ini eomma, appa? " tanya namja manis itu dengan hati-hati.
Kedua orang tuanya berpikir sejenak. Tuan Kim melihat kearah isterinya yang sudah hampir menangis itu dengan senyuman seraya merangkulnya.
" Ini yang terbaik untuknya. " ucapnya.
Tuan Kim kembali menatap anak semata wayangnya itu, masih disertai dengan senyuman.
" Kau sudah besar dan bisa menentukan keputusanmu sendiri. Jika menurutmu memang keputusan ini yang terbaik untuk kalian, kami mengizinkanmu untuk memutuskan tali pertunanganmu dengannya. Lagipula, kami tidak ingin melihatmu bersedih terus. Kami ingin yang yang terbaik untuk kehidupanmu Taehyung. " ujar tuan Kim bijak.
Namja manis itu tersenyum dan mengangguk. Berdiri dan memeluk kedua orang tuanya dengan erat sambil menggumamkan kata terima kasih.
Tapi tak lama kemudian ia melepaskan pelukkannya dan menatap ayah serta ibunya. Membuat kedua orang tuanya mengernyit bingung.
" Ada apa Taehyung-ah? " ibunya bertanya.
Bukannya menjawab, Taehyung beranjak mendekati tasnya. Ia mengambil sesuatu dari dalam sana dan memberikannya pada sang ayah.
" Surat? "
" Ne. Itu surat dari Universitas ku appa. "
Tuan Kim membuka surat itu dan membaca isinya. Sepasang suami isteri tersebut menatap tak percaya dengan keterangan yang berada disana.
" Taehyung-ah.. "
" Ne eomma. Hwang sajangnim kemarin pagi menemuiku dan memberiku surat itu. Beliau berkata bahwa aku merupakan salah satu pelajar yang akan mengikuti pertukaran mahasiswa bulan depan. " Taehyung berkata dengan rasa bangganya.
Sang ibu menatap Taehyung dengan tatapan teduhnya. " Lalu apa keputusanmu? Apa kau akan menerimanya? "
Taehyung mengangguk. " Ne. Aku.. akan menerimanya. Aku juga sudah menghubungi pihak kampus atas keputusanku itu. "
" Geurae. Apapun keputusanmu kami akan mendukungnya. Lagipula, mungkin dengan begini kau bisa melupakan Seok Jin. Ah tapi.. apa anak itu sudah tahu tentang hal ini? " tuan Kim bertanya. Beliau memasukkan kembali surat itu kedalam amplop putihnya.
Namja manis itu menghela nafas lalu menggeleng.
" Aku pikir Seok Jin hyung tidak perlu tahu. Meskipun dia mengetahuinya, pasti dia juga tidak akan peduli. " jawabnya.
Tuan Kim berdeham pelan. " Apa hanya kau satu-satunya mahasiswa yang akan mengikuti pertukaran pelajar itu? " tanya tuan Kim mengalihkan pembicaraan.
" Anio appa. Ada satu lagi yang akan mengikutinya. Dia sunbaeku. "
" Lalu.. kapan kalian akan berangkat? " kali ini nyonya Kim yang bertanya.
Taehyung tersenyum. " Semuanya sudah diurus oleh Hwang sajangnim. Dan.. tiga hari lagi kami akan berangkat eomma, appa. "
ooOOoo
Taehyung sedang mengemasi seluruh barang-barang miliknya yang berada didalam kamarnya. Mulai dari baju-bajunya, buku pelajarannya, hadiah-hadiah yang diberikan oleh teman juga kedua orang tua Seok Jin saat mereka berdua bertunangan, dan yang terakhir foto pertunangannya.
Ia sempat menatap foto yang berbingkai kecil itu selama beberapa menit. Sebelum akhirnya ia menghela nafas dan meletakkan foto itu diatas koper putih miliknya.
Setelah selesai, namja manis itu lalu duduk ditepi ranjangnya. Ia memperhatikan setiap sudut ruangan itu untuk yang terakhir kalinya.
Hari ini, dia akan kembali ke rumahnya. Rumah aslinya dengan kedua orang tuanya yang berada di Incheon. Selain karena ingin merayakan ulang tahunnya secara kecil-kecilan bersama keluarga dan teman terdekatnya besok, lusa dia akan segera berangkat untuk menjalani pertukaran mahasiswa ke Jepang. Dan itu akan mempermudah perjalannya menuju bandara agar tidak terlambat, mengingat jarak antara rumahnya dengan bandara tidak terlalu jauh.
Namja manis itu lagi-lagi menghela nafasnya yang kali ini terdengar berat. Sedikit tidak rela juga jika ia akan pergi dari apartemen itu. Tapi dia tidak boleh goyah. Ia sudah menentukan keputusannya, dan dia juga harus sanggup untuk menjalankannya.
" Geurae! Kau pasti bisa Kim Taehyung! " gumamnya menyemangati diri sendiri.
Ia tersenyum dan mulai keluar dari kamar sambil menyeret koper yang sudah terisi penuh oleh barang-barangnya. Taehyung berhenti sejenak didepan pintu kamarnya. Tangan kanannya merogoh saku mantel hitam yang dikenakannya dan berjalan pelan menuju kamar Seok Jin. Sementara tangan kirinya memegang foto pertunangannya itu.
Ditatapnya pintu kamar itu seakan dia tengah menatap wajah tampan sang tunangan. Atau mungkin kini sudah menjadi mantan tunangannya?
Membungkuk sedikit untuk menaruh sesuatu yang tadi diambilnya dari dalam saku serta foto pertunangannya, tepat dibawah pintu kamar itu. Sesudahnya, ia kembali berdiri tegak.
Sejenak ia memejamkan kedua matanya sambil tersenyum.
' Hyung, na galkke. Semoga kau bisa hidup dengan baik dan berbahagia dengan namja lain pilihanmu. Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Terima kasih untuk semuanya. Annyeong. ' ucapnya dalam hati lalu membuka kedua matanya.
Ia berjalan kembali menuju koper miliknya berada, dan mulai melangkah keluar. Meninggalkan Seok Jin yang bahkan tidak tahu menahu tentang keputusannya itu.
ooOOoo
Setengah jam setelah Taehyung pergi dari apartemen itu. Seok Jin terbangun dari tidurnya. Ia duduk diatas kasur dan melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul delapan pagi.
Dengan sedikit rasa malas ia beranjak dari atas kasurnya dan mulai melangkah untuk keluar. Namun saat ia merasa menginjak sesuatu saat ingin melewati pintu, ia berhenti. Ia menunduk untuk melihat sesuatu yang tadi diinjaknya.
Kedua matanya seketika terasa segar. Dengan cepat ia mengambil foto yang tadi ditinggalkan oleh Taehyung beserta sebuah surat kecil untuknya. Namja itu kembali menuju ranjangnya dan duduk ditepi kasur.
Dengan ragu, Seok Jin mulai membuka surat tersebut dan membacanya.
Untuk Seok Jin hyung_
Hyung, maaf jika aku pergi tidak pamit padamu. Tapi kurasa jika aku pamit padamu pun, hyung tidak akan peduli. Benar kan?
Sesuai janjiku hyung. Aku telah berbicara dengan eomma dan appa untuk memutuskan tali pertunangan kita.
Aku juga sudah meminta pada mereka untuk mengakhiri perjodohan ini. Dan mereka menyetujuinya.
Mulai sekarang kau bebas dariku hyung. Kau juga sudah bisa menjadikan Jung Kook sebagai milikmu mulai dari sekarang.
Aku ingin meminta maaf karena sudah merepotkanmu selama ini hyung. Maaf jika aku telah merebut seluruh perhatian eomma dan appa hyung. Maaf telah membuatmu marah selama ini. Dan.. maaf telah memilih untuk menerima perjodohan ini sebelumnya. Kau mau memaafkanku kan hyung?
Tapi aku juga ingin berterima kasih padamu hyung. Karena selama dua tahun ini, kau telah mengizinkanku untuk merasakan yang namanya menjadi tuanangan dari seorang Kim Seok Jin. Namja tampan yang diidolakan oleh seluruh mahasiswa dikampus^^ . Dan juga, sudah mengizinkanku untuk mencintaimu serta berada disisimu walau hanya sebentar.
Aku mendoakan yang terbaik untukmu hyung. Jaga dirimu dengan baik ya hyung. Jangan lupa makan dan istirahat yang cukup agar hyung tidak jatuh sakit. Ingat! Sebentar lagi hyung akan lulus, jadi harus tetap sehat. Arratchi?
Dan satu lagi hyung. Semoga kau selalu berbahagia. Bahagia bersama dengan Jung Kook. Karena mulai sekarang, tidak akan ada lagi seorang Kim Taehyung yang menghalangi perjalanan cintamu untuk mendapatkan seorang Jeon Jung Kook, namja yang kau cintai.
Oh ya! Cincin pertunangan kita ada didalam amplop itu juga hyung. Aku kembalikan padamu. Aku juga tidak akan membawa foto pertunangan kita. Terserah hyung, ingin disimpan atau kau ingin membuangnya juga tak apa.
Aku pergi hyung. Semoga kita bisa bertemu dilain waktu. Tentunya dengan keadaan yang sudah lebih baik lagi. Annyeong ^^
Dari Kim Taehyung_
Ia menatap kosong gemetar secarik surat itu setelah selesai membacanya. Kedua matanya beralih pada amplop tempat surat tadi. Diletakkannya surat itu disampingnya dan mengambil sesuatu yang tadi disebutkan Taehyung dalam suratnya.
Ya. Itu sebuah cincin. Cincin pertunangan mereka yang dimilikki Taehyung. Cincin emas putih dengan ukiran emas dan memilikki satu permata kecil ditengahnya itu bertuliskan namanya. Kim Seok Jin.
Ia menatap bergantian cincin dan foto pertunangan mereka yang ia pegang ditengan kirinya. Satu tetes air mata jatuh tepat diatas foto itu. Hatinya tiba-tiba merasa sakit dan air mata itu keluar begitu saja.
Ia.. merasa benar-benar kehilangan sekarang.
' Taehyung-ah.. ' batinnya memanggil nama namja manis itu.
ooOOoo
To Be Continued
Mian telat banget updatenya #bow
Gomawo juga yang sudah menunggu kelanjuttan ff ini^^
RnR Juseyo :)
See You
