Lucifer

Rate : T [Teenager]

Genre : Crime, AU [Alternate Universe], Romance

Warning : YAOI, BoyXBoy.

Word count :1403

[Chapter 1] – He is …

Ia menjejakkan kaki-kakinya mungilnya melangkah lebih dalam ke Sekolah barunya. Rasa canggung merasuki tubuhnya dan merayap dihatinya, ini terasa seperti berpindah kelain Negara, walaupun dalam kenyataan, Kyungsoo hanya pindah dari Gyeonggi ke Seoul. Tak ada yang bisa merayu ibunya lagi saat Kyungsoo benar-benar tak ingin pindah dan masuk ke Sekolah baru, dan pada akhirnya ia hanya akan menjadi manekin di Sekolah dan menjadi seorang yang anti-sosial selama beberapa bulan.

Kyungsoo masih memasang wajah merajuk dan berputar-putar mencari kelasnya saat seseorang senior tiba-tiba menabraknya. "Ah, choesonghabnida"kata Kyungsoo ketika ia sudah dapat berdiri dan membungkuk maaf pada seniornya. Awal yang buruk, pikirnya.

Seniornya terkekeh pelan dan Kyungsoo merasa harus melihat bagaiama seniornya itu terlihat seperti mengejeknya. Sangat. "Tidak apa-apa, bagaimana dengan dirimu? Kau anak baru bukan?"tanya seniornya dengan senyum yang melegakan. Kyungsoo merasa seperti angin sejuk menerpa wajahnya, dan ia mengangguk. "Ya, saya pindahan dari Gyeonggi"jawabnya dengan kecanggungan luar biasa. Seniornya mengangkat tangannya, "Kim Joonmyeon, kau bisa memanggilku Suho. Aku ketua kesiswaan disini"katanya. Kyungsoo menerima salamnya dan juga menjabat tangannya, "Kyungsoo, aku Do Kyungsoo"kata Kyungsoo dengan senyumnya yang sangat manis.

"Aku akan mengantarmu"kata seniornya sambil berjalan mendahuluinya. Ini terlalu canggung, batinnya.

..

..

Kyungsoo masih menulis materi Matematika yang ditulis dipapan putih. Sesekali ia mengetuk-ngetukkan pensil dikepalanya dan membuat berbagai ekspresi lucu karena pelajaran Matematika yang bukan menjadi bidangnya. Sungguh.

Tiga jam sebelumnya, ia bertemu dengan senior bernama Kim Joonmyeon dan seniornya itu mengatarnya ke kelasnya. Ia masuk kedalam kelas X-A. Ia mendapatkan teman sebangku pria bernama Baekhyun yang begitu cerewet. Rangakaian peristiwa yang tak pernah Kyungsoo pikirkan atau bahkan hanya terlintas dipikarannya saat ia memasuki kelas baru. Begitu bertolak belakang dengan bagaima yang ia pikirkan.

Bel istirahat berdering pukul sepuluh pagi. Kyungsoo membereskan bukunya, dan ia masih melihat Baekhyun juga melakukannya. "Hei Baekhyun-Hyung! Bagaimana dengan makan siang bersama"teriak seorang pria; dengan tubuh sedang dan rambut kecoklatan. Pria itu merangkul Baekhyun dengan akrabnya dan tak memperdulikan keberadaan Kyungsoo disekitarnya. "Bisa lepaskan aku, aku ingin makan siang bersama dengan teman baruku. Kyungsoo kenalkan, ia Kim Jongdae kau bisa memanggilnya Chen"kata Baekhyun dan Kyungsoo cukup terhenyak bangun dari tidurnya saat Baekhyun mengajaknya makan siang bersama. "Baiklah Hyung, bawa ia ke Luhan kalau kau punya teman baru se –"kalimat Chen terputus karena secara sepihak Baekhyun menarik Kyungsoo dan meninggalkan sosok Chen sendirian didalam kelas.

"Baekhyun, bagaimana dengan temanmu?"tanya Kyungsoo. Baekhyun tak menjawab alih-alih menariknya kearah kantin.

Baekhyun mendudukannya disebuah bangku dan pria itu juga duduk disampingnya. Kyungsoo membulatkan matanya saat ia melihat kalau tak hanya ia dan Baekhyun yang duduk di bangku itu. "Luhan-Hyung, kau menonton konsernya kemarin?"tanya Baekhyun dan pria bernama Luhan; dengan rambut hitam pekat dan tubuh sedang menatapnya. "Tidak, aku tak menyukai bagaiman pria itu berteriak seperti tak mengetahui bagaimana keadaan telinga penonton setelahnya"jawab Luhan malas.

Kyungsoo menatap pria tampan bernama Luhan, dengan alisnya yang tebal ia menautkan alisnya. Ia mengernyit, "Maaf Baekhyun, bisa kau antarkan aku ke konternya?"tanya Kyungsoo saat ia melihat Baekhyun memasukan sesendok es krim kedalam mulutnya. Baekhyun menatapnya, "Apa? Baiklah, ayo kita pergi"kata Baekhyun sambil menarik pergelangan tangan Kyungsoo.

XXXXXXX

Pukul tiga sore, Kyungsoo sudah duduk diatas ranjangnya dengan sebuah buku Fisika ditangan, besok akan mengadakan ujian dadakan dan dengan terpaksa, ia harus mengikutinya. Ia menghela nafas dalam, pikirannya terbang ke peristiwa yang tak terdeteksi siang tadi. Ia mendapat teman baru, dan anehnya teman barunya itu penyuka rock n' roll dan seorang anggota gangster. Ia menghela nafas lagi, dipikirannya Baekhyun cukup baik dan ramah.

Ia beranjak dan berjalan menuju balkon rumahnya. Ia masih melihat jalan sepi didepan rumahnya. Kapan ibunya akan pulang? Apa ibunya tak mengkhawatirkannya sama sekali?. Saat ia datang dan mengucapkan salam, tak ada seorangpun yang menjawabnya.

Ia menarik sebuah buku yang ia simpan diantara buku-buku pelajarannya. Diary, satu hal yang sangat ia butuhkan. Dimana seharusnya ada ibunya yang bisa mendengarkan ceritanya dan mendengar keluh-kesahnya, ia lebih memilih menulisnya diatas buku tebal ber-cover merah-hitam kotak-kotak. Bukan karena ia malu, tapi hanya karena satu alasan.

Ibunya tak akan pernah punya waktu lebih untuknya.

XXXXXXXXX

Saat ia merasa bosan, Kyungsoo mengambil sebuah sepeda didalam garasi dan bersepeda mengelilingi komplek, ia butuh tahu tentang tata-letak daerah tempat tinggalnya. Ia bahagia, melihat daun-daun menguning dan rontok, merasakan bagaimana angin musim semi menemaninya. Ia tersenyum, dengan kaki-kakinya yang masih mengayuh pedal sepeda.

Hingga disebuah perempatan, Kyungsoo yang tak sempat memperhatikan kanan dan kiri akhirnya tertabrak sebuah sepeda lainnya. "Akh.."Kyungsoo mengaduh sambil merasakan perih dilututnya, sepedanya limbung disampingnya dengan seorang pria yang menabraknya. Kyungsoo mencoba berdiri dan membersihkan pantatnya. "Maafkan aku, aku benar benar –ohh"katanya terhenti saat lagi-lagi rasa perih dilututnya mengambil perhatiannya.

Sang pria membantunya duduk disebuah kursi kayu ditepi jalan, Kyungsoo hanya merintih dan mengaduh-aduh saat pria itu masih berusaha membereskan sepeda mereka. Pria itu kembali, dengan sebuah tas plastik putih dan berjongkok didepan Kyungsoo.

"Ssshh…"Kyungsoo mendesis saat pria itu menyapukan alkohol dilukanya. Rasa dingin merambat dan ia masih mendesis samar. Pria itu juga menyapukan obat merah dan ia menutupnya dengan perban. "Selesai, lain kali hati-hatilah dan lihat arah berlawanan"kata pria itu lalu pergi. Kyungsoo membuka mulutnya dan mengangkat tangannya. "Te –"ucapnya lantang dan terhenti saat pria itu beranjak sambil menaiki sepedanya. " –rima kasih"lanjutnya pelan.

XXXXXXXX

Ia masih menaiki sepedanya hingga ia memasuki sebuah pekarangan luas. Ia memasukkan sepedanya kedalam garasi dan meletakkannya disebelah mobil sport merahnya dan motornya. Kaki panjangnya melangkah dan berjalan melewati ruang tengah.

Malam itu, keadaan rumah ini sungguh ramai dan aura bahagia menguar dari sebuah keluarga yang tengah bercanda bersama.

"Kim Jongin, jangan makan bagian Jongwoon. Kau sudah mengabiskan setengahnya sayang"kata seorang wanita dengan rambut panjang.

Sosok kecil dengan rambut hitam, itu merajuk masih berkacak pinggang didepan meja yang dipenuhi dengan dua Loyang pizza, kentang goreng, dan cola.

"Tapi umma, Hyung sudah membelinya bersama kekasihnya sebelum pulang. Sekarang giliranku memakannya"rajuknya dengan mukanya yang lucu.

Ingatan itu kembali merayap keotaknya. Saat ia melewati ruang tengahnya yang penuh dengan kenangan dan memori yang terasa seperti akan membunuhnya perlahan, ia tak tahu kenapa ingatan itu selalu kembali dan kembali ke pikirannya, sekuat apapun ia berusaha dan sebesar apapun. Tak akan pernah berhasil.

..

..

..

Ia masuk kedalam selimut tebalnya dan berusaha untuk tertidur, dengan ingatan masa lalu yang terus menghantuinya. Ia hanya ingin cepat terlelap dan melupakan tentang kejadian masa lalunya. Kecelakaan kedua orangtuanya dan kakaknya memang begitu berdampak baginya.

Ia dulu adalah Jongin yang baik hati, Jongin yang ceria, dan Jongin yang pemalu. Dan sekarang, ia berubah menjadi orang yang brengsek, kejam, dan tak berperasaan. Ingatan masa lalu merubahnya menjadi sosok Jongin yang bahkan tak dikenalnya. Ia sungguh tak mengenal dirinya sekarang. Ia terlalu berbeda.

XXXXXX

Sebuah mobil hitam dengan sebuah lidah api merah dikedua sisinya memasuki pekarangan rumah. Rumah dengan cat biru muda dan pintu putih. Pria berambut hitam dan tubuh sedang keluar dari mobilnya dan menguncinya.

Rasa pening menyerangnya, dan sesunggunya rasa ini selalu menyerangnya saat ia pulang kerumah dan melihat keadaan orang tuanya. Subjek yang seharusnya membantunya meraih masa depannya, menemaninya saat ia kesepian, dan juga menjadi bahu saat ia merasa sedih dan lelah. Akan tetapi ia tak pernah memiliki orang tua seperti itu. Ayahnya adalah seorang penggila kerja yang hanya memperhatikan bagaimana grafik bursanya semakin menjulang dan menjulang. Sedangkan ibunya, seorang wanita murahan yang tak pernah mencintai ayah dan dia. Wanita yang pekerjaannya 'memeras' ayahnya.

Luhan membanting pintu, dan menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang empuknya. Wajahnya ia tutup dengan bantal dan semenit kemudian terdengar suara isakan pelan. Luhan mendudukan dirinya diatas ranjang dan menekuk lututnya. Ia hanya seorang pria yang lemah dan cengeng. Bukan pria kuat dan berani seperti orang lain tahu.

XXXXXX

Disebuah rumah, tepatnya disebuah kamar dengan cat putih. Terdapat sebuah ranjang sengel dan sebuah meja belajar disampingnya.

Terdengar musik memekakan rock mulai terdengar, seorang pria yang baru keluar dari kamar mandi dengan sebuah handuk yang melilit pinggangnya. Rambutnya basah dan berbau wangi sampo. Ia berdiri disebelah jendela besarnya yang terbuka. Korden yang ada disisi-sisi jendela terbang tak beraturan terkena angin.

Saat seperti ini hanya ada satu sosok pria yang hadir dan muncul ke permukaan pikirannya. Seorang yang dicintainya dengan segala hal yang perlahan mengahncurkannya. Baekhyun tak bisa melakukan apapun saat orang yang disukainya hanya memasang wajah palsunya dan menyembunyikan tangis dan rasa marahnya. Itu akan membunuhnya, Baekhyun tahu. Namun, sekeras apapun Baekhyun mencoba, pria itu tak akan pernah mau mendengarnya.

Karena ia hanya sosok yang dilihat tapi tak pernah ia dengar.

Dan juga, Sosok yang ia dengar tapi tak pernah ia lihat.

Seseorang memutar kenop pintunya, dan berdiri diambang pintu. "Byun Baekhyun, jangan terus membayangkannya dan cepat turun kebawah"

XXXXXX

Pagi berikutnya, Kyungsoo telah mendapatkan seragam miliknya juga telah mengetahui jalan menuju sekolah. Ia menyempatkan diri untuk menemani ibunya sarapan dan mengambil sepedanya dari dalam garasi. "Ibu! Kyungsoo berangkat, bye!"teriaknya sambil membuka pagar dan membwa sepedanya.

Perjalanannya memang tak begitu mengasyikkan, ia menyumpal kedua telinganya dengan sepasang earphone putih yang mengalunkan lagu dari penyanyi grup kesukaannya. Jalan komplek rumahnya memang benar-benar sepi, dan dengan begitu ia bisa melihat dengan jelas bagaimana seluk beluk jalan dan apa yang ada disisi kiri-kanan jalan.

Sepuluh menit berlalu. Ia sudah menampakkan kakinya didepan gerbang sekolah, "Annyeong Haseyo"sapanya pada seorang penjaga gerbang. Ia hanya ingin memulai harinya dengan lebih baik.

Kyungsoo memarkirkan sepedanya dihalaman parkir. Ia juga bisa melihat beberapa pria dengan dua mobil lamborgini sedang berbincang diparkiran yang tak jauh darinya. Sekolah yang unik, disekoalhnya dulu, siswa tak dibolehkan mengendarai mobil dan memang hanya sepeda dan motor yang memenuhi parkirannya.

Ia memutuskan untuk beranjak sebelum sebuah suara memaksanya untuk berhenti. "Hei anak baru"panggil salah satu pria; dengan rambut hitam pekat dan mata yang tak jauh berbeda dari Kyungsoo. Kyungsoo membalikkan badannya, menatap pria itu. "Kau bisa datang keatap nanti saat jam istirahat, aku ingin berbicara padamu"katanya.

Setelah itu, Kyungsoo membalikkan badannya dan berjalan menuju kelasnya. Melewati beberapa lorong dengan banyak loker disamping kirinya. Sampai dikelas ia meletakkan tasnya dan menjatuhkan pantatnya diatas kursi dan tak lama kemudian, Baekhyun datang, dengan seorang pria yang Kyungsoo ingat bernama Chen. "Oh Hai Kyungsoo. Kau benar-benar anak yang rajin"kata Baekhyun sambil menjatuhkan tasnya.

"Uhm terimakasih dan selamat pagi"ucapnya dengan senyuman lebar. Baekhyun mengambil duduk disampingnya begitupula Chen. "Aku melihatmu berbincang dengan Chanyeol tadi, apa yang ia katakan padamu?"tanya Baekhyun dan mutlak membuat Chen membulatkan mata. "Apa! Park Chanyeol? Ia sungguh gila"pekik Chen tak terduga.

Kyungsoo menautkan alisnya, "Siapa itu Park Chanyeol?"tanyanya dengan wajah yang seratus persen polos. Baekhyun mengusap wajahnya, "Pria yang kau temui tadi diparkiran. Berambut hitam legam dengan mata yang besar"ucapnya dengan tangannya yang bergerak-gerak membentuk dua buah lingkaran.

"Ia memintaku menemuinya nanti saat istirahat"jawab Kyungsoo masih dengan wajah yang polos. "Tidak. Kau tak boleh bertemu dengannya Kyungsoo. Ia berbahaya"

To be continue…

Chap satu hanya perkenalan saja ya…

Meskipun reaksinya gak terlalu baik, tapi makasih buat yang review dan untuk 'The Fate', sudah agak keliatan kan jalan ceritanya?

Mind to review?

Channie10