Terima kasih atas dukungangnya dan sudah menyempatkan membuat jejak pada cerita ini.
Bleach milik [ C ] Tite Kubo, FF ini milikku. Terinspirasi dari kisah Romeo and Juliet, Fast and Furious, Initial D.
Part ending. Happy reading.
Kurosaki dan Kuchiki takkan pernah berdamai, selama masih ada keserakahan untuk mengambil semua kehormatan di mata dunia.
Peperangan di antara mereka takkan pernah berhenti, selama keangkuhan bersemayam dalam darah bangsawan mereka.
Persaingan bisnis dan kekuasaan adalah jalur kebencian mereka yang tak pernah menemui jalan buntu.
Kutukan kematian mungkin bisa menjadi akhir.
The Balcony Scene.
"Bocah tak waras." Renji memandang bulan di atas kepalanya.
"Dia benar-benar gila!" Ia masih tak puas memaki seseorang yang tak ada.
"Sinting!" Lanjutnya memaki, lalu menengguk minumannya yang terasa panas di tenggorokan.
Uryuu Ishida hanya terdiam dan menemani karibnya si rambut merah yang tampaknya mulai mabuk. Keduanya sedang memikirkan temannya yang tak waras, gila, juga sinting. Ichigo nekat ingin menyusup seorang diri ke kediaman Kuchiki, hanya untuk menemui dan meyakinkan hatinya sekali lagi bahwa perasaan yang ia miliki pada gadis Kuchiki itu akan berakhir sama seperti perasaan yang pernah ia miliki pada Inoue. Apalagi gadis Kuchiki itu pun sudah memiliki calon tunangan yang tampan dan terhormat. Dengan alasan ini, seharusnya Ichigo bisa dengan mudah melemahkan matra cinta dari gadis yang sudah terikat itu.
Ichigo menggendap di antara semak tanaman hias, bergerak menuju targetnya. Ia mendengar suara ketukan langkah yang lembut, sosok mungil seorang gadis bergaun putih terlihat berjalan di antara tirai-tirai yang menjuntai dan menari disentuh angin.
"Di sana kau berdiri." Ichigo bermonolog, "Menghadirkan kecantikan yang sama." Ia meraih tanaman rambat sebagai pegangan, "Sekali lagi, kau membuatku jatuh cinta." Lalu memanjati tembok harapannya.
"Ichigo ..., Ichigo ..., Ichigo. " Pemuda tampan itu merasakan gemuruh di hatinya saat namanya terucap dari bibir gadis pujaannya.
"Kau memanggilku, Nona." Ichigo menampakan diri layaknya Jin yang keluar dari lampu ajaib. Membuat gadis di hadapannya terkejut bukan main, satu detakan kuat mengawali ratusan detakan selanjut. Sebuah detakan yang tak seharusnya bisa membuatnya bahagia.
"Bagai-"
"Bagaimana bisa aku berada disini?" Ichigo memotong lalu menghadirkan senyuman seindah rembulan.
Rukia Kuchiki tak pernah bisa mengerti bagaimana seorang pria bisa membuatnya begitu bahagia, hanya dengan melihat senyumannya.
"Kau yang memanggilku." Ichigo meraih pinggang ramping Rukia, lalu membawanya lebih dekat dalam sentuhan dada kekarnya yang mampu melemaskan setiap persendian kaki sang gadis.
"Aku ..." Kegugupan dan wajah merona sang gadis menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Ichigo.
"Kau, Kuchiki si penyihir." Ichigo menatap tajam wajah manis di hadapannya.
"Apa! Apa maksudmu?" Rukia merasakan debaran di hatinya akan segera membunuhnya.
"Kau menyihirku dan membuatku jatuh cinta berkali-kali." Ichigo harus mengakui kekalahannya,dan kembali takluk pada pesona sang gadis. Ia tak perlu meyakinkan apapun pada dirinya, ia tak perlu mencari cara untuk melemahkan matra cinta yang ada di hatinya. Ia selalu besedia jatuh cinta berkali-kali pada gadis ini. Hanya pada gadis Kuchiki ini.
"Kurosaki-san" Rukia berbisik tak percaya dengan apa yang didengarnya, bukankah dalam kisah ini Rukia menjadi pihak yang lebih dulu jatuh cinta pada sosok tampan dihadapannya. Ia tak menyangka cintanya akan berbalas dan berbuah manis.
"Panggil aku Ichigo, sayang." Ichigo mengeratkan kungkungannya, ia menyentuh wajah manis itu dengan napas hangatnya yang semakin mendesak. Ichigo menempelkan hidung bangirnya pada pipi mulus Rukia, menjelajahi kelembutan kulit itu dengan sentuhan hasrat yang tak mampu lagi terbendung.
"Ichi," Rukia merasakan kehangatan bibir Ichigo melahap bibir mungilnya "Hmm ... Mmphh ... Mmphh." Ichigo mengecup bibir atas dan bawah Rukia tanpa jeda. Ia tak mau melepaskan rasa manis ini dengan cepat.
"Hmmpphh … Hmmpphh Ichi, Hmmpp … Lep- ashh! Hhm ... ah!" Rukia mendorong paksa pagutan liar pemuda yang telah berhasil mencuri ciuman pertamanya itu.
Ichigo memandang gadis pujaannya yang semakin manis dengan bibir terbuka dan napasnya yang terengah-engah. Semakin menyulut gairahnya untuk menyentuh gadis manis itu. Saat ia menatap mata Rukia ia sadar wanita dihadapannya juga menginginkannya.
Malam itu mereka mengeluarkan segala gairah mereka yang terpendam. Membanjiri arus waktu dengan perasaan cinta yang tak terbendung. Segalanya semakin terasa indah dalam sebuah rengkuahan yang lemah namun berani, dan mampu menandingi ribuan kebencian yang membeku.
The Sanctuary.
"Rukia-sama, sebaiknya anda berhati-hati. Dia adalah seorang Kurosaki, aku takut dia hanya mempermainkan gadis lugu sepertimu." Si Pelayan yang sangat menyayangi majikannya tak akan rela membiarkan Rukia di permainkan oleh siapa pun.
"Dia tidak seperti itu, aku yakin." Namun, suara Rukia tak menandakan keyakinan penuh. Rukia sadar, ia baru mengenal pemuda ini. Walaupun sepak terjangnya sudah banyak ia dengar ,tapi semuanya tetap terasa tak mudah jika berkaitan dengan perasaan.
"Rukia-sama, aku pikir tuan Jaegerjaques lebih baik. Kau tahu dia telah menawarkan sebuah ikatan suci yang begitu manis. Sedang pemuda ini, dia datang bagai seorang pencuri. Mengendap-endap, lalu membawa hati nonaku diam-diam. Aku tetap tidak yakin dengan pemuda ini." Si Pelayan wanita terus bicara, tanpa ia sadari telah membuat hati majikannya dipenuhi beban pikiran yang mengusik.
"Aku harus bagaimana?" Rukia berkata lirih.
Si Pelayan yang sadar dengan sikapnya mencoba memperbaikinya.
"Kalau kau izinkan, aku akan menemui pemuda itu."
"Untuk apa?" Rukia penasaran.
Rukia tak menahan kepergian sang pelayan, ia berharap pelayan kepercayaannya itu bisa membantunya.
Ichigo Kurosaki mengunjungi seorang teman yang bisa memberikannya pencerahan, walaupun yang ia butuhkan bukanlah pencerahan. Setelah bertemu seorang Rukia yang bersinar, Ichigo tak pernah mersakan berada dalam kegelapan yang menyesatkan. Ichigo percaya hanya Rukia yang mampu memberikan sinar kebahagiaan dalam dirinya, walaupun masa depannya kini tampak suram dengan perhiasan kebencian.
"Kau terlalu meyakini Sesuatu yang semu anak muda." Lelaki berwajah damai itu menatap Ichigo, menatap pemuda yang sedang jatuh cinta membuatnya dapat merasakan kembali gairah masa muda. Usia di mana ia merasa dapat menghadapi seisi dunia ini, hanya dengan menggenggam hati seorang gadis.
"Dia mencintaiku, begitu pula aku." Wajah Ichigo yang tampan tak menyimpan keraguan sedikit pun.
"Lalu, kemana perginya perasaanmu pada Orihime Inoue?"
"Cinta pertama adalah langkah pertamaku menemukan cinta terakhir. Aku mungkin tak akan pernah bisa melupakan gadis pertamaku. Namun, hatiku juga tak pernah bisa mengelak kehadiran gadis yang akan menjadi takdirku, gadis yang lebih kucintai dari cinta pertamaku."
Lelaki paruh baya itu memikirkan kisah cinta ini. Degup jantungnya mendadak melonjak-lonjak. Apa jadinya? jika kedua darah yang terikat kebencian ini bisa bersatu. Apakah akan ada dunia yang mendadak pecah belah? Atau sebaliknya, dunia berubah menjadi lebih indah dan damai tanpa perseteruan yang merusak.
"Apa rencanamu selanjutnya?" Urahara Kisuke harus tahu seberapa jauh keseriusan pemuda di hadapannya, sebelum ia menciptakan kedamaian yang terlalu mustahil untuk bisa hadir dalam kedua keluarga itu.
"Aku harap kau mau membantuku mempersatukan kami dalam sebuah ikatan suci." Ichigo masih menampilkan ekspresi yakinnya, seakan semua keteguhan dunia menjadi miliknya semua.
"Kau ingin menikahinya?"
Ichogo tersenyum menyakinkan, Urahara memandang takjub pada pemuda di hadapannya.
Lelaki yang telah memutuskan mengabdi di kuil suci dan menghindari kehidupan dunia luar itu tiba-tiba ingin kembali sejenak pada kerumitan duniawi. Kisah cinta ini dalam sekejap merubah dunia menjadi lebih baik. Setidaknya untuk saat ini, biarlah ia melihat sebuah harapan yang indah.
Rukia menyimpan begitu banyak rasa dalam hati kecilnya, semenjak kepulangan pelayan kepercayaannya pikiran Rukia begitu ribut dengan berbagai macam pertanyaan.
'Apa yang harus kulakukan? Sementara jiwaku hanya terdiam menyaksikan kesalahan ini. Bukan karna aku lemah tapi karna perasaan ini yang terlalu kuat. Ichigo, apakah kau pangeranku?' sebuah kebahagiaan melintas dicelah-celah pikiran Rukia.
Sang pelayan itu telah membawa berita yang begitu indah untuk bisa dipercaya, Ia mengabarkan bahwa Ichigo telah menyiapkan sebuah altar suci tempat Ia dan pangeran impiannya akan mengucap janji suci.
"Kita akan menikah, lalu hidup bahagia selamanya," katanya bermonolog.
Rukia berharap mentari segera terbit dan ia bisa segera menjemput impiannya bersanding dengan pangerannya.
Malam itu Rukia tertidur ditemani debaran kebahagiaan dan rasa tak percaya yang menghadirkan mimpi-mimpi yang terus hadir bahkan saat ia sudah membuka mata di pagi hari.
Saat ia berjalan di antara taburan kelopak bunga yang tersebar di antara langkahnya. Rukia masih berpikir semua yang terjadi adalah sebuah mimpi yang begitu indah namun nyata. Bahkan setelah ia melihat pangerannya berdiri di hadapan altar, Rukia masih belum mendapati pijakannya. Ia seakan melayang dengan sayapnya yang tak terlihat.
Untaian janji suci terucap di antara keduanya, mengalir dalam nyanyian merdu para Cupid yang berpesta dalam pencapaiannya yang gemilang.
Ikrar suci itu diakhiri dengan do'a.
"Dalam kasih Sang Maha Pecinta, kalian telah diperstukan dalam ikatan suci ini. Semoga kebahagiaan dan perdamaian dapat melengkapi ikatan suci ini." Urihara Kisuke mengakhiri tugasnya dengan tersenyum pada kedua mempelai.
Ichigo yang terlalu sering menonton adegan kissing setelah janji suci pernikahan tak sabar menantikan kata-kata selanjutnya dari Sang pendeta tua itu, namun intruksi yang diharapkan tak juga terucap dari mulut Urahara. Lelaki itu tetap terdiam meskipun Ichigo mencoba berdehem berkali-kali untuk mengingatkan kata-kata ajaib itu. Rukia yang kini telah sah sebagai istrinya hanya menunduk malu mendampingi lelaki yang mulai tak sabaran itu.
Tanpa perintah dan tanpa rasa malu Ichigo si pervert mencium bibir Rukia tepat dihadapan Urahara. Awalanya tautan bibir Ichigo terasa lembut menyentuh bibir Rukia, kelamaan ciumannya semakin menuntut.
Ichigo melumat bibir mungil itu hingga tersedot seluruhnya dalam kuluman kasarnya, Rukia yang awalnya malu-malu begitu dibuat mabuk dengan ciuman menakjubkan itu. Rukia yang kehilangan rasa malunya mulai membalas pagutan demi pagutan yang diberikan Ichigo dengan begitu mendesak namun tak memaksa.
"Mmhhp! HmmMpp." Suara lumatan semakin terdengar liar.
Sampai.
Bletak!
"Auw!" suara desahan Rukia berganti dengan suara erangan kesakitan Ichigo.
"Sebaiknya kalian pergi dari sini." Wajah merah Urahara terpampang jelas dihadapan keduanya.
Rukia yang mulai sadar kembali menundukan wajah malunya, sedang Ichigo si kulit tebal, hanya manyun dan menggerutu karena aksi hebatnya harus dihentikan. Ia berpikir lelaki tua itu hanya iri melihat kebahagiaannya.
Rukia menatap wajah suaminya, ia menemukan kebahagiaan yang sama persis dengannya. Pijar kebahagiaan keduanya berpendar terlalu menyilaukan, jika ada sebuah bayangan hitam menyusup sekalipun, keduanya takkan menyadarinya.
Determination.
Rukia kembali ke mansionnya sebagai seorang Kurosaki, dan menyimpan rahasia besarnya sampai pada waktu yang tepat ia bisa mengungkapkannya. Rukia merasa ia membutuhkan lebih banyak bubuk keberutungan para peri. Kebahagiaan yang menyelimuti hatinya harus bisa ia sembunyikan dari keluarganya. Ia butuh tempat untuk bersembunyi lalu merapat pada pusat dunianya, di mana dunia itu hanya ada dirinya dan Ichigo Kurosaki.
Rukia membaringkan diri di atas tempat tidurnya. Ia menatap sekeliling, saat ia menyentuh alas tempat tidurnya, meremas selimutnya dan mencium bantal yang biasa ia gunakan, pikirannya panik sendri. Ia meminta para pelayannya untuk mengganti seprai, sarung bantal, dan selimut yang masih bersih padahal baru pagi tadi para pelayannya mengganti semua alas tempat tidur Rukia. Rukia beralasan ingin menggunakan corak yang lebih menarik, ia bahkan meminta para pelayannya untuk mengganti tirai-tirai kamarnya.
"Apa nanti malam dia akan datang?" Pelayan tua itu bertanya pada nonanya dengan pandangan menggoda.
"Ti-tidak! Aku hanya ingin suasana yang lebih menarik." Rukia menyembunyikan wajah meronanya, pelayan itu hanya tersenyum dan membantu Nonanya menghias kamarnya.
Ichigo dan Uryuu sedang menyusuri jalanan di pegunungan Akina, mereka berada dalam satu mobil. Sementara Renji mengikuti di belakang mereka. Ichigo dan Renji sedang mengadu kemampuan mereka, keduanya menunjukan skill mengemudi yang adaptif, teknikal dan konsisten.
Tikungan demi tikungan mereka lalui tanpa hambatan yang berarti. Saat tiba di tikungan ke empat, sebuah mobil hitam tiba-tiba melesat dan menyalib di antara mobil keduanya. Tak jauh di belakang mereka ada dua mobil lainnya yang juga mulai merapat dan mendesak.
Mobil hitam yang ternyata di kemudikan oleh pria berambut perak, Ichimaru Gin, mulai bergerak liar tak terkendali.
Ichimaru membenturkan mobilya pada mobil milik Uryuu yang sedang di kemudikan Ichigo.
"Shit! Apa-apan orang itu!" Uryuu mulai tak bisa mengendalikan emosinya. Pengemudi yang sedang mencari masalah itu menurunkan kaca mobil, dan menampilkan wajah penuh kebenciannya.
"Sial!" Ichigo mendesis kesal, namun ia harus tetap tenang menghadapi musuh yang kini berstatus sebagai saudaranya itu.
"Renji yang telah tersingkir oleh dua mobil yang kini berada di depannya tak bisa berbuat apa-apa, ia melihat mobil yang di kemudikan oleh Ichigo di apit oleh tiga mobil sekaligus. Bahkan Renji dapat melihat dengan jelas ketika mobil-mobil itu menyeruduk, menyenggol dan membenturkan mobil milik temannya itu dengan sengaja.
Ichigo yang tak mau mencari masalah dengan Ichimaru memutuskan untuk menghentikan mobilnya sebelum ia sampai pada tikungan kelima, salah satu tikungan paling tajam di pegunungan itu.
"Kenapa kau berhenti brengsek!" Ichimaru yang tak terima semakin liar mencari masalah.
Mobil Ichimaru bergerak kesamping kanan mobil Ichigo yang sudah tak bergerak dan memerintahkan dua mobil lainnya berada di posisi kiri dan belakang mobil Ichigo. Ketiga mobil itu menyeret mobil Uryuu yang sudah penyok sana-sini.
"Ichimaru, apa yang kau lakukan? Hentikan perbuatan gilamu!" Ichigo mencoba bernegosiasi, suara kerasnya terdengar putus asa.
"Kenapa kau tak memegang stirmu dengan benar Ichigo, injak gasmu dan kalahkanlah aku!" Ichimaru berteriak marah.
"Dengar! Aku tak ingin kita terus seperti ini. Saling membenci dan menyakiti, hanya akan membawa kita pada perseteruan yang tak berujung."
Icimaru yang semakin dibuat kesal dengan kata-kata Ichigo semakin bernapsu menghantamkan body mobilnya ke arah mobil yang dikemudikan Ichigo. Sebuah hantaman keras menggoyangkan tubuh kedua orang yang berada di dalamnya. Uryuu terus bersumpah serapah mendapati mobilnya menjadi pelampiasan Ichimaru Gin.
"Kau pengecut Kurosaki!" Ichimaru semakin bringas.
Renji yang kembali menyusul dan menyaksikan adegan itu tak mau tinggal diam, dia menghantam mobil Ichimaru dari arah belakang.
"Hey brengsek! Bagaimana kalau kau melawanku?" Renji berteriak sambil mematuk bemper bagian belakang mobil Ichimaru.
Ichimaru yang kesalpun menerima tantangan Renji. Ia meninggalkan mobil Ichigo, menginjak pedal gasnya dengan kekuatan penuh, Renji menyusul mobil Ichimaru tanpa pikir panjang. Kedua mobil yang lain ikut melesat mengejar dua mobil didepannya.
"Renjiiiii ..."
TiiiiiiiiiiNnnnnnnn.
Ichigo membunyikan Klakson tanda tak setuju.
"Brengsek!" Ichigo memukul stir, menghidupkan mobilnya kembali lalu mengejar mobil Renji.
"Ichigo, kau harus tenang." Uryuu mengingatkan temannya.
Ichigo melaju denga kecepatan bertahap, jalur pegunungan Akina terlalu berbahaya untuk dijadikan arena balas dendam. Salah perhitungan sedikit saja, dapat dipastikan kau dan mobilmu akan menjadi bangkai di antara lembah-lembah curam yang berdampingan dengan jalur maut ini.
Deru suara mobil yang susul-menyusul terdengar lebih dekat dari posisi Ichigo, hingga bunyinya terdengar menggeram lalu mendesing seperti ada benda yang terseret lalu terinjak hewan raksasa. Tak jauh ia melihat mobil yang dikendarai oleh Renji sudah dalam keadaan terbalik.
"Oh, My God!" Uryuu memekik, suaranya terasa mencekik tenggorokan Ichigo.
Ichigo dan Uryuu keluar dan memeriksa keadaan Renji yang berada di dalam mobil. Keduanya berjalan mendekat dengan kedua kaki yang terasa ngilu menahan kekalutan pikirannya sendiri. Di dalam sana tubuh Renji terlihat seperti gumpalan daging yang rapuh, jaket kulit yang dikenakan Renji basah oleh warna merah yang terus berlomba ingin keluar. Tubuh Renji tergencet body mobil yang sudah rusak parah. Renji masih hidup, keadaan yang seharusnya di syukuri jika saja keduanya bisa mengeluarkan Renji secepatnya dari mobil yang sewaktu-waktu bisa meledak itu.
"Uhuk-Uhuk ..." Renji terbatuk darah, "Ichi- go," Renji mencoba bicara di antara setengah sadarnya. Tubuhnya terlihat gemetar hebat, rasa sakit yang mengoyak tubuhnya terlalu payah untuk diingatnya. Renji tak mau mengingat banyak tentang rasa sakit ini, ia hanya ingin menyerah.
"Tenanglah, kami akan mengeluarkanmu." Suara Ichigo begitu lirih disapu hawa panas yang terasa membakar. Tangan Ichigo yang gemetaran mengais-ngais pintu besi mobil. Uryuu yang mulai lemas menyaksikan kejadian ini membantu Ichigo menarik-narik pintu mobil yang sudah rusak dan tak mau terbuka.
"Sial! Cepat terbuka brengsek!" Ichigo menggeram. Bau bensin mulai menyengat di sekeliling mereka, bagian belakang mobil terlihat memercikan api.
"Ichigo ..." Uryuu memandang wajah Renji yang terlihat tenang di dalam sana, "Ichigo, Ayo pergi." Uryuu menarik tubuh Ichigo menjauh dari mobil.
"Apa yang kau lakukan?!" Ichigo menggeram kesal. Ia mendorong tubuh Uryuu hingga terjatuh. Lalu kembali berusaha mengeluarkan Renji dari mobil keparat yang menahan tubuh tak berdaya temannya itu.
"Renji!" Ichigo memukul-mukul kaca mobil yang telah retak itu hingga hancur. Namun ia tetap tak bisa mengeluarkan tubuh Renji yang terjepit.
"Sudah Ichigo, cukup!" Uryuu kembali membujuk Ichigo.
"Diam keparat! Bantu aku mengeluarkannya." Ichigo masih terus berusaha mengeluarkan tubuh yang sudah tak bernyawa itu. Saat jemarinya bisa menyentuh wajah tampan Renji yang tak lagi hangat, Ichigo baru sadar ia sudah kehilangan sahabat dekatnya itu.
Tubuh Ichigo tak mampu bergerak, segala rasa mengkerut bersama pikirannya yang beku. Uryuu menyeret Ichigo menjauh dari area berbahaya itu dengan wajah basah dihiasi air mata.
Ichigo masih membeku tanpa ekspresi. tak lama setelah mereka menjauh, mobil itu meledak. Suara ledakkannya terdengar mengerikan, namun lebih mengerikan hati dan pikiran Ichigo yang di penuhi dengan dendam.
Ichigo yang kalap tertelan amarah, mengejar Ichimaru Gin. Seorang yang telah menjadi saudaranya itu tak pernah bisa sebanding dengan sahabatnya yang kini telah terbunuh.
Uryuu mendampingi temannya tanpa komentar apapun. Mobil itu melaju membelah angin, menggerum seperti malaikat maut yang tak sabaran ingin segera merenggut satu jiwa yang telah terkutuk.
Ichigo melesat dengan mesin bertenaga 250hp yang siap meraung sampai 11,000rpm. Ia mengejar laju mobil Ichimaru yang melambat. Ichimaru telah mendapatkan kemenangan dengan cara liciknya. Ia membuat mobil Renji terpojok oleh desakan kawanannya lalu dengan sengaja menggulingkan mobil Renji tanpa ampun. Baginya bisa menyakiti orang lain, apalagi itu orang dekat si Kurosaki sudah memberikan kesenangan tersendiri.
Amarah telah membutakan mata hati seorang Kurosaki. Di tikungan kesebelas Ichigo dapat menyusul Ichimaru. Dan tanpa ada rasa takut sedikit pun ia menghantam mobil Ichimaru dengan kecepatan menggila.
Braaak!
Mobil Ichimaru terlempar keluar lintasan, terbanting-banting di antara bebatuan lembah yang curam lalu berakhir dengan suara ledakan yang dahsyat. Asap hitam yang menggumpal pekat menjadi penghias langit senja di pegunungan Akina sore itu.
Cunclusion.
Rukia berdiri diam dalam kamar pengantinnya. Melihat ke segenap penjuru arah, seakan merasakan sesuatu, namun tak ada apapun yang salah pada dirinya, menghirup udara, lalu kembali bergerak.
"Ichigo, kau akan datang 'kan?" Rukia memulai penantiannya.
Sementara di luar berita-berita buruk menggaung dan menggema dipenjuru kota.
Kabar kematian Ichimaru Gin telah sampai pada telinga Byakuya Kuchiki. walaupun Ichimaru hanyalah adik tirinya, namun ia tetap menyayangi adiknya itu dengan caranya sendiri. Ichimaru dikabarkan meninggal karna kecelakaan dalam balapan liar yang terjadi saat ia melawan Ichigo Kurosaki. Kabar mengenai pihak lawan yang juga menjadi korban sempat terdengar. Diberitakan korban yang meninggal dalam kejadian itu bukan hanya Ichimaru Gin dan Renji Abarai saja tapi ada satu nama lain yang menyusul, yaitu Ichigo Kurosaki.
Ichigo mengalami kecelakaan ketika ia hendak melarikan diri dari kejaran polisi, ketika mobil yang dipinjamkan Uryuu untuk melarikan diri itu melesat kearah titik tertinggi pegunungan Akina, Ichigo mendapati dirinya dalam kesalahan fatal yang membuat mobilnya oleng dan terjun kedalam jurang yang gelap dan dalam.
Kejadian yang telah meminta korban dari kedua belah pihak ini, menyadarkan kedua keluarga yang bersangkutan untuk memutuskan tidak memperpanjang perkara.
Sementara di lain pihak, hati seorang gadis telah hancur melebur bersama hancurnya jasad sang suami di kedalam jurang yang tak tersentuh. Rukia menjelma menjadi wanita yang paling hilang harapan. Ia mengunci dirinya dalam kesedihan.
Jika sosokmu tak terlihat
Izinkan aku menjelma menjadi langit
Yang melukiskan kehampaan melalui awan
Yang mengadukan kerinduan kepada angin
Berharap kau hadir kembali
Rukia terisak tanpa suara. Semua kebahagiaannya telah tercuri oleh takdir.
Andai kau tak juga kembali
Izinkah aku mengeluh akan pedih ini
Izinkah aku menangisi sakit ini
Marajuk, maraung, mengerang,
Hingga membuatmu kembali padaku.
Tengoklah aku yang terjebak dalam ceceran duka kehilanganmu.
Atau,
Izinkahlah aku menyusulmu.
Rukia tak akan pernah menyesali keputusannya, ia tak pernah merasa takut dengan kematian. Tanpa pemuda bernama Ichigo Kurosaki, bagi Rukia hidup bukanlah kehidupan.
Rukia ditemukan sekarat oleh pelayan yang selama ini mengabdikan kesetiaannya pada nona muda itu. Seumur hidupnya ia tak pernah merasa gagal melayani majikannya. Kini, untuk pertama kalinya. Pelayan itu merasa segala pengabdian dan kesetiaannya sia-sia belaka, tatkala sebuah pesan yang dibawanya harus bersambut dengan keadaan Rukia yang bersiap menjemput kematiannya.
"Rukia-sama!" Si Pelayan mencicit ngeri, tak percaya dengan apa yang disaksikannya.
Rukia terbaring bermandikan darahnya sendiri. Sebuah pisau tergeletak di dekat tubuh nonanya. Pisau itu telah menyayat urat nadi perempuan muda yang seharusnya berbahagia dengan pernikahannya.
"Nona, aku ...," suara pelayan itu tercekat. "Aku membawa pesan untukmu." Wanita tua itu menekan kesedihannya, membuat suaranya terasa mencekik. Ia membuai tubuh Rukia dalam dekapannya sekan seorang ibu yang sedang menimang anaknya. "Tuan Ichigo, menunggumu .… Hiks ... Hiks ..." Wanita itu menangis penuh penyesalan, ia merasa telah gagal membawa pesan dari suami wanita muda ini.
Ichigo kurosaki membuat alibi kematiannya agar ia terlepas dari jerat hukum, segalanya akan berjalan baik-baik saja andai Rukia mendengar kebenaran kabar suaminya itu.
"Rukia-sama, suamimu masih hidup." Bisikan sang pelayan terdengar samar ditelinga Rukia, tapi terdengar jelas di telinga Hisana Kuchiki. Hisana merasa pesendiannya telah digelayuti oleh bertumpuk-tumpuk kejutan yang berasal dari anaknya sendiri.
Saat mendapati mata kelam anaknya meredup perlahan, Hisana berharap pilihan yang lebih baik dari kematian. Untuk itu ia berani melakukan apa saja demi anaknya.
"Akhirnya, kau datang juga sayang." Angin lembut musim gugur membelai helain hitam gadis di hadapannya.
"Ichigo-kun." Setengah berlari Rukia menghampiri pemuda yang membuatnya hampir mati sia-sia itu. Ia menampilkan ekspresi bahagia sekaligus sesak, sesak yang mengikatnya pada kebahagiaan.
"Dasar bodoh!" Rukia memukul-mukul dada bidang suaminya, kemudian menangis dalam pelukan lelaki itu.
"Kau membuatku hampir mati, jangan pernah berbohong mengenai kematian lagi Ichigo-kun. Itu menakutkan." Rukia meresapi setiap belaian lembut milik suaminya yang menenangkan.
Ichigo tak bisa berkata-kata, ia terlalu bahagia. Ichigo menyesapi keharuman yang menguar dari tubuh istrinya lalu mengeratkan pelukannya. Ichigo mungkin hampir membuat istrinya mati, tapi Rukia juga telah membuatnya hidup dalam sengsara dengan kabar sekaratnya. Tiga hari Ichigo terus menantikan kedatangan Rukia di atas puncak gunung tempat Ichigo di kabarkan kecelakaan lalu mati.
Syukurlah keajaiban masih memayungi kisah cinta keduanya.
Rukia yang sekarat segera di bawa kerumah sakit, ia harus di rawat selama tiga hari. Dan selama itu pula Ichigo menantikan kedatangan wanita mungil itu tanpa sekalipun berputus asa. Ichigo yakin istrinya tidak akan pernah mengecewakan. Karenanya, Ichigo memutuskan akan terus menjalani hidupnya jikapun kemungkinan terburuk akan terjadi pada istrinya itu. Ichigo lebih memilih hidup dalam penderitaan karna kebodohannya yang hampir membuat wanita yang dicintainya terpukul dan memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.
"Aku harus meninggalkan jejak." Rukia melepaskan sepatunya dipinggiran tebing. "Seluruh dunia boleh menyangka kisah kita berakhir pada kematian." Rukia menatap wajah suaminya yang juga menatapnya lembut.
"Aku bersyukur bisa tetap hidup bersamamu." Ichigo mengecup kening istrinya. Keduanya lalu berjalan dengan bergandengan tangan. Meninggalkan tempat yang akan dikenang menjadi akhir kisah mereka yang terdengar tragis, tapi pada kenyataannya, sebuah akhir telah menjadi sebuah awal kisah baru.
Hisana Kuchiki memandang siluet anaknya. Daun-daun momoji yang memerah melayang-layang tertiup angin, ia memandangi kepergian anaknya seperti setiap helai daun yang berguguran demi kelangsungan hidup induknya. Hisana Kuchiki harus rela melepaskan anak kesayangannya. Terbang bersama angin yang menjanjikan kebahagiaan. Menjaga darah Kuchiki agar tetap ada dalam darah Rukia Kurosaki dan keturunananya.
"Kudengar, di puncak gunung ini ada seorang perempuan yang mati bunuh diri," seorang wanita muda berkomentar pada pemandu wisatanya.
"Iya, kudengar wanita itu nekat menyusul suaminya yang mati kecelakaan di jurang ini," wanita muda lainnya menimpali.
"Kasihan sekali, yah. Hubungan keduanya tak direstui."
"Hmmm, ehem!" Lelaki berkacamata, Uryuu Ishida yang mulai berkarier menjadi Guide itu memulai kisahnya.
Well, semua orang terpesona dengan kisah cinta yang penuh pengorbanan, bahkan jika sampai menantang kematian. Tapi tidakkah mereka melihat kisah sesungguhnya tidak pernah memiliki bagian awal atau pun akhir. Semua kisah bergerak seperti lingkaran yang tak memiliki ujung, berputar lalu membentuk pola tersendiri. Seseorang hanya perlu memiliki keberanian hidup untuk memiliki kisah yang lebih indah. Jika hidup bisa memberikan kesempatan bahagia yang lebih besar mengapa harus cepat-cepat memilih kematian.
The End.
Yap! Ini memiliki alur yang cepat. Karena ... FF ini sebenarnya oneshot yang aku bagi menjadi dua.
Aku merasa kisah tragis Romeo and Juliet menjadi tragis karna salah satu dari mereka tak berani untuk tetap hidup walau tanpa kekasihnya, dan itu di sebabkan oleh salah satu yang lainnya bermain-main dengan kematian.
