Eiji Notes : Hay minna (^o^) Makasih buat yang udah ngeluangin waktunya buat baca chapter satu. Makasih juga yang udah nge-fav/follow/ripiw di chapter satu (^o^) Partisipasi kalian dalam fav/follow/ripiw fic Ei, bener-bener jadi semangat tersendiri buat Ei ngetik (^o^) Oh iya buat para reader yang ngarep lemon maaf ya Ei gak bikin lemon ( -.- ) Jujur aja meskipun Ei suka fic lemon tapi Ei gak bakat bikin lemon ( -.- ) Kalo bikin pun lemon nya sama sekali gak hot dan gak asem xD ehehe.
Desclaimer : Naruto hanya milik Masashi Kishimoto. But, this story is mine. Namikaze Eiji. So, dont be Plagiator. Dont Copy my fic. And dont Bash my story. Thank You (^o^)
Rate : M
Pairing : SasuFemNaru slight SasoFemNaru
Warning :AU,OOC,OC,Typo bertebaran,EYD jelek. No flame. Kritik dan saran yang membangun dan menggunakan bahasa yang sopan diterima. Alur kecepetan. Cerita aneh bin Gaje. Mature Content.
Cast :
Uchiha Sasuke ( 24 tahun )
Namikaze Naruto ( 21 tahun )
Akasuna Sasori ( 23 tahun )
Uchiha Itachi ( 27 tahun )
Namikaze Kyuubi ( 27 tahun )
.
.
Gak suka ! Gak usah baca !
.
.
Summary : Sasuke dan Naruto. Mereka dua orang yang tak mengenal satu sama lain. Namun, karena suatu 'peristiwa' mereka bertemu dan memutuskan untuk tinggal bersama. Mungkinkah ini takdir? Bagaimana mereka menjalani kehidupan mereka selama tinggal bersama?
.
.
Happy Reading Minna.. (^o^)
.
.
Do You Love Me?
By.
Namikaze Eiji
.
.
Kaki kiri Naruto telah bertengger manis di atas pundak Sasuke. Ia menekan kakinya membuat Sasuke menusuk lebih dalam pusat tubuhnya. Tangan kirinya mencengkram sprei kuat, melampiaskan kenikmatan yang di dapatkannya akibat pergerakan Sasuke di pusat tubuhnya. Tangan kanannya terus bergerilya di atas pundak kokoh pria yang kini tengah mendominasinya, tak jarang tangan itu meremas dan mengelus dada bidang pria yang tengah menindihnya, menimbulkan erangan kenikmatan terdengar dari bibir pria itu. Naruto berkali-kali melengkungkan tubuhnya ke atas dan menghempaskannya kembali ke ranjang. Gadis itu mengerang kuat, merasakan kebrutalan Sasuke dalam pusat tubuhnya. Mengoyaknya keras dan bertenaga membuat desisan nikmat terus keluar dari bibir pinknya yang sedikit membengkak dan memerah akibat ciuman panasnya dengan Sasuke. Bibir Naruto bagai candu untuk Sasuke, ia tak akan pernah puas menyesap bibir ranum itu.
"A-ahhkk...Su-keh" mata Naruto terpejam erat, ia menggigit bibir bawahnya saat merasakan genjotan Sasuke yang semakin cepat di kewanitaannya. Peluh tampak membasahi pelipisnya, namun hal ini sama sekali tak mengurangi kecantikannya. Justru sebaliknya, ia beribu kali lebih cantik dan seksi di saat bersamaan di mata Sasuke.
Sasuke menggerakan tubuhnya semakin cepat saat gelombang kenikmatan itu mulai datang menghampirinya. Ia dapat merasakan kejantanannya semakin di remas dengan lembut oleh milik Naruto di bawah sana. Di turunkannya kaki Naruto dari atas pundaknya lalu melingkarkannya pada pinggangnya.
"Akh..." Naruto mendesah semakin keras karena posisi ini membuat milik Sasuke masuk lebih dalam hingga menyentuh titik ternikmatnya. Sentakan kuat ia berikan saat puncak kenikmatan itu datang.
Mereka berdua mendesah nikmat saat telah mencapai puncak kegiatan panas mereka.
Tangan kokoh itu terangkat mengusap peluh yang membasahi pelipis Naruto. Di rapikannya poni pirang gadis itu yang sedikit berantakan akibat kegiatan panas mereka. Sebuah seringai puas tercetak dengan sempurna di wajah rupawannya saat melihat ketidak berdayaan Naruto di bawah kuasanya. Di satukannya dahinya dengan dahi gadis yang berada dalam kungkungannya. Nafas mereka yang memburu saling bertabrakan berlomba-lomba mencari oksigen untuk mengisi kekosongan paru-paru mereka yang mulai menipis akibat kegiatan seks mereka.
"Kau semakin hebat bercinta..." pujinya. Mata safir yang semula terpejam itu kini telah membuka dengan sempurna saat mendengar ucapan pria yang tengah menindihnya. Ia menampakan seringai yang sama dengan pria yang tengah menindihnya, sebelum menjawab. "Tentu saja, bukankah kau sangat ahli mengajariku." mereka berdua sama-sama menyeringai puas.
Tangan Sasuke menyusup ke balik punggung polos gadis itu lalu dalam sekali tarikan mengangkatnya hingga membuat posisi Naruto kini dalam pangkuannya.
"Kau yang memimpin, sayang." ucapnya sensual seraya menatap mata Naruto penuh gairah.
"Anything for you.." Naruto mulai menggerakan tubuhnya di atas pria itu. Ia menatap seduktif ke arah Sasuke yang tengah terbaring di kasur. Wajahnya turun, mengecup bibir Sasuke sekilas -menggoda pria itu. Hanya kecupan-kecupan kecil tanpa lumatan, membuat Sasuke mengerang frustasi karena godaan sang gadis yang tengah bergerak sensual di atasnya. Karena merasa geram dengan godaan Naruto, tangannya meraih tengkuk gadis itu lalu mencengkramnya kuat. Dilumatnya rakus bibir Naruto penuh nafsu, Naruto membalasnya tak kalah panas. Gadis itu sedikit mendesis saat merasakan bibir Sasuke menyesap bibir bawahnya kuat. Lidahnya menerobos masuk, mengajak lidah Naruto bergelut dalam tarian panas menggairahkan. Suara decapan mulut mereka terdengar begitu menggairahkan memenuhi kamar Sasuke.
Naruto terus menggerakan tubuhnya di atas tubuh Sasuke tanpa melepas ciuman mereka.
'Shit! She is a good kisser' maki Sasuke dalam hati.
Sasuke tak menyangkal jika Naruto adalah pencium yang hebat. Ah, gadis ini bahkan bisa mengimbangi gaya berciumannya yang menggebu dan membalasnya sensual membuat libidonya semakin tak terkendali hanya karena sebuah ciuman. Dengan sekali sentakan ia membalikkan keadaan. Mengubah posisinya kini menjadi di atas tubuh gadis itu tanpa melepas ciuman mereka. Naruto memekik kaget di sela ciumannya karena pergerakan Sasuke yang tiba-tiba.
Tangan kokohnya menangkup payudara kanan Naruto yang terasa sangat pas dengan ukuran tangannya. Ia sembunyikan kepalanya pada ceruk leher Naruto, menghirup aroma citrus yang menguar dari tubuh gadisnya. Aroma yang begitu menenangkan dan begitu memabukkan di saat bersamaan. Sasuke dapat merasakan kedutan dalam vagina Naruto, ia semakin bergerak tak terkendali saat merasakan tak lama lagi ia dan Naruto akan sampai. Di tekannya pantat Naruto ke atas seraya menghentakkan kejantanannya beberapa kali memastikan agar semua cairannya masuk pada lubang hangat itu. Mereka berdua mendesah puas saat telah mencapai puncak kegiatan seks mereka.
Do You Love Me?
"Haaahhh..."
Naruto terbangun dengan keringat yang hampir membasahi sekujur tubuhnya. Nafasnya terdengar putus-putus, ia melap keringat yang membasahi pelipisnya dengan punggung tangannya.
'Brengsek! Ini baru empat hari ia pergi tapi aku sudah bermimpi bercinta dengannya.' makinya kesal.
Oh! Ayolah, ini baru hari ke empat sejak ke pergian Sasuke ke New York tapi ia sudah bermimpi erotis bercinta dengan pria Uchiha itu.
Naruto akui, ia merindukan sentuhan Sasuke pada setiap inci tubuhnya. Sentuhan pria itu bagai heroin untuk Naruto, ia tak akan pernah bosan merasakannya.
Naruto menatap sekeliling kamarnya lalu tatapannya terhenti pada jam kecil yang berada di atas nakas sebelah ranjangnya. Jam 03.00 pagi. Waktu yang masih terlalu awal untuk memulai aktifitas. Tapi, ia pun tak bisa tidur kembali setelah mimpinya. Naruto menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya. Saat akan beranjak bangun ia dapat merasakan bagian kewanitaannya yang basah. 'Ck, sial.' makinya.
Do You Love Me?
Seorang gadis berperawakan tinggi langsing berjalan santai memasuki sebuah gedung perkantoran. Ia memakai kemeja putih pas badan yang membalut tubuh indahnya di tambah dengan sebuah blazer berwarna hitam dengan satu kancing di tengah yang di kaitkan. Satu kancing teratas kemeja itu sengaja ia biarkan terbuka membuat leher jenjangnya terekspos secara sempurna menambah kesan seksi pada gadis itu, serta rok hitam berbahan kain di atas lutut yang ketat membuat lekukan tubuhnya yang indah terlihat jelas. Rambut pirangnya yang ikal sengaja ia biarkan tergerai. Sepatu high heels berwarna peach dan tas tangan menyempurnakan penampilannya hari ini.
Ia berjalan santai memasuki lift tempatnya bekerja. Ekspresi wajah gadis itu datar. Tak ada senyum di wajahnya. Ah, ia bahkan hampir tidak pernah 'tersenyum'. Namun, hal ini sama sekali tak mengurangi kecantikannya. Kehadirannya menyorot berbagai pasang mata, di mulai dari tatapan kagum para pria yang menatapnya lapar dan para wanita yang menatapnya iri. Namun, ia sama sekali tak menghiraukan hal itu. Ia sudah sangat 'terbiasa' dengan hal itu!
Orang-orang pasti akan menatap kagum ke arahnya walau tak pernah ada senyum di wajah cantik itu. Mereka seolah tak pernah bosan menatap wajah cantik itu.
Naruto memang belum lama bekerja di perusahaan properti ini. Akasuna Corp. Merupakan salah satu perusahaan properti terbesar di dunia. Berterimakasihlah pada sahabatnya Ino yang telah membuat Naruto dapat bekerja di perusahaan ini. Meskipun Naruto belum lama bekerja di perusahaan ini, kemampuannya tak perlu di ragukan lagi. Berkat kerja keras dan kegigihannya dalam bekerja posisi ketua tim arsitek divisi satu pun dapat ia raih.
.
.
"Ohayou Naru..." sapa Ino seraya mencegat pintu lift yang hampir tertutup.
"Ohayou..." seulas senyum tipis terbit di wajahnya saat menjawab sapaan salah satu sahabat baiknya. Naruto bukanlah gadis yang suka mengumbar senyumnya pada orang lain. Ia hanya akan tersenyum karena dua hal. Pertama karena ia memang 'ingin' tersenyum dan kedua karena 'tuntutan' pekerjaan. Terkesan dingin memang, gadis itu seolah membatasi dan membentengi dirinya dari dunia luar. Tapi itulah dia. Namikaze Naruto.
"Kau baru datang?" tanya Ino setelah memasuki lift dan berdiri di sebelah Naruto.
"Seperti yang kau lihat." jawabnya datar. Ino menggelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya yang satu ini.
"Kau tau? Aku yakin kutub selatan pun tak akan sedingin kau." ucapnya sedikit bercanda melihat sikap dingin sahabatnya. Naruto tak menjawab pertanyaan atau lebih tepatnya pernyataan Ino, ia tetap memasang wajah datarnya membuat Ino berdecak pelan melihatnya.
"Naru, apa kau sudah mendengar gosip terbaru tentang perusahaan kita?" tanya Ino semangat.
"Aku tidak bergosip." jawabnya cuek.
"Aish, kau ini! Aku yakin kau pasti akan tertarik setelah mendengarnya!"
"Coba kita lihat."
"Kau tau? Hari ini CEO baru kita akan mulai bekerja!" Ino memekik girang di akhir kalimatnya. Sebelah alis Naruto terangkat dengan elegan mendengar ucapan sahabatnya. "CEO? Bukankah Kakashi-san masih baik-baik saja? Kenapa harus mengganti CEO?" tanyanya heran.
"Kau ini benar-benar ketinggalan berita?-" Ino menepuk jidatnya pelan lalu memutar bola matanya bosan. "Kakashi-san itu hanya CEO sementara. Kau tau dia di percaya untuk menggantikan posisi CEO kita yang sesungguhnya selama beberapa tahun." lanjutnya.
"Oh.." mulut Ino menganga dengan sempurna mendengar jawaban pendek dari sahabatnya.
"Apa kau tidak penasaran seperti apa CEO kita yang baru?" tanyanya gemas.
"Itu bukan urusanku Ino." jawabnya tak peduli.
"Aku dengar dia masih sangat muda dan tampan. Ah, dan banyak yang bilang dia sangat hot! Kau tau?" Ino menceritakannya dengan sangat menggebu dan penuh semangat membuat Naruto mendengus geli melihat tingkah sahabatnya.
"Lalu apa hubungannya denganku?" sebelah alis Naruto terangkat ketika mengatakannya. Ino menatap gemas ke arah Naruto mendengar pertanyaan gadis itu."Kau harus mendekatinya. Kau muda, cantik, pintar dan berbakat aku yakin ia pasti akan terpesona olehmu!"
"Aku tidak tertarik."
Ting...
Naruto melangkahkan kakinya berjalan keluar dari lift dengan santai setelah pintu lift telah terbuka. Ino menggelengkan kepalanya pelan lalu berjalan menyusul Naruto dan mengekori gadis itu dari belakang.
"Naru, tunggu aku." sahut Ino seraya mensejajarkan langkahnya dengan Naruto.
"Setidaknya meskipun kau tidak tertarik dengannya cobalah dengan pria lain. Kau tidak boleh terus terpaku dengan masa lalumu Naru." ucap Ino pelan. Sebagai sahabatnya tentu saja Ino ingin melihat Naruto bahagia. Ia tau betul sifat Naruto, mereka telah bersahabat cukup lama dan hal ini membuat Ino sedikit banyak mulai paham akan sifat Naruto. Yah, meskipun gadis ini memang sangat tertutup. Ino akui itu, Naruto adalah tipekal orang yang sangat tertutup terutama tentang kehidupan pribadinya. Bahkah, kepada Ino yang merupakan salah satu sahabat baiknya.
.
.
Seorang gadis tampak berkutat dengan pensil yang ada di tangannya dan kertas-kertas gambar yang memenuhi meja kerjanya. Blazer gadis itu telah ia singkirkan dari tubuhnya dan tergeletak di atas kursi kerjanya. Rambutnya kini telah ia gulung ke atas dengan menyisakan beberapa helai anak rambut di sisi wajahnya, membingkai wajah cantiknya. Keringat tampak membasahi pelipis dan kulit lehernya yang putih, menambah kesan seksi bagi yang melihatnya. Tak jarang keningnya berkerut ketika mengamati hasil sketsanya. Sedari tadi ia tak beranjak sedikit pun dari ruang kerjanya. Ah, ia bahkan melewatkan jam makan siangnya karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya. The Queen of Ambission. Itulah julukan yang Naruto dapat dari teman-teman sekantornya. Bukan tanpa alasan ia mendapat 'julukan' itu. Naruto memang tipekal orang yang berkeinginan keras dalam mencapai sesuatu.
Workholic? Ah, mungkin ia juga termasuk salah satunya. Ia tak akan benar-benar 'beristirahat' jika seluruh pekerjaannya belum selesai secara sempurna.
Getaran ponsel Naruto mengalihkan perhatian Naruto dari kertas-kertas yang memenuhi meja kerjanya.
From : Matsuri
To : Naruto
Naru, kau dimana? Cepat kemari semua orang sudah menunggumu disini untuk menyambut CEO kita yang baru.
Naruto menghembuskan nafasnya menerima pesan itu, namun sama sekali tak berniat untuk membalasnya. Ia kembali berkutat dengan pekerjaannya.
Tok Tok Tok
Suara ketukan pintu membuat Naruto kembali menghentikan pekerjaannya -lagi. Ia menghembuskan nafasnya kasar. 'Kenapa banyak sekali yang mengganggu ku?' batinnya jengkel.
Ia berjalan ke arah pintu untuk membuka pintu ruang kerjanya. Naruto menyernyitkan alisnya saat melihat sahabatnya Ino tengah menatap garang ke arahnya. Tanpa permisi atau meminta ijin terlebih dahulu kepada Naruto, Ino melangkah masuk memasuki ruang kerja Naruto.
"Ada apa Ino?" tanya Naruto setelah berdiri tepat dihadapan Ino, setelah sebelumnya menutup pintu ruang kerjanya.
"Naru, semua orang sudah menunggumu disana. Tapi kau masih berdiam diri disini dan berkutat dengan kertas-kertas itu." ucap Ino kesal seraya menunjuk tumpukan kertas yang memenuhi meja kerja Naruto.
"Apa kau tidak menerima pesan Matsuri?" tanyanya.
"Aku menerimanya.." Naruto berujar santai, tangannya bersedekap di depan dada, ia menyandarkan tubuhnya pada meja kerja yang terletak tepat di belakangnya.
"Lalu apa yang kau lakukan disini? Semua orang sudah menunggumu disanah!" ucap Ino gemas melihat sikap Naruto.
"Bukankah aku sudah mengatakannya padamu. Aku. Tidak. Tertarik." ucap Naruto memberi penekanan pada setiap kata di akhir kalimatnya.
"Tapi, kau bagian dari perusahaan ini sekarang. Jadi kau harus ikut menyambut CEO kita yang baru." protes Ino.
Naruto menggeleng pelan. "Lagipula untuk apa aku bertemu dengannya Ino? Toh, aku juga akan melihatnya nanti untuk menyerahkan hasil sketsa ku." Ino menggelengkan kepalanya pelan melihat sikap keras kepala Naruto. Ia mengambil blazer hitam Naruto yang tersampir di atas kursi kerja gadis itu lalu tanpa meminta persetujuan gadis pirang itu lagi, ia langsung menyeret Naruto dan membawa Naruto bersamanya. Tak ia hiraukan ucapan protes yang terus keluar dari mulut Naruto.
"Ino sudah ku bilang aku tidak ingin datang." Naruto berusaha melepaskan cengkraman tangan sahabatnya pada lengannya.
"Tidak bisa. Kau harus datang." ucapnya tegas tak terbantahkan. Tangan Ino terangkat untuk menyentuh kenop pintu itu lalu membukanya secara perlahan.
Krieett...
Suara pintu yang terbuka menarik perhatian orang-orang yang ada di dalam ruangan ini. Secara otomatis semua tatapan mata mengarah pada pintu. Tampak dua orang gadis yang terlihat dari sana, kedatangan mereka berdua langsung menjadi pusat perhatian. Berbagai pasang mata menatap ke arah mereka.
Ino berjalan santai memasuki ruangan tersebut dengan tangan yang masih menggemgam lengan Naruto, berjaga-jaga jika sewaktu-waktu Naruto akan kabur. Tak jarang ia membalas sapaan dan tersenyum sopan pada teman-temannya yang menyapanya.
Seulas senyum tersungging di wajah cantiknya saat melihat apa yang ia cari dari tadi telah ia temukan. Ia berjalan menghampiri dua orang yang tampak tengah berbincang akrab.
"Naru perkenalkan ini CEO baru kita." mata Naruto membola dengan sempurna melihat pria yang err.. sialan sangat tampan di depannya tengah tersenyum manis ke arahnya. Jika saja di ruangan ini hanya ada ia seorang ia pasti sudah menarik rambut pirangnya dan menjerit sekeras-kerasnya. Senyuman pria itu sangat manis membuat wanita manapun yang melihatnya pasti akan dengan senang hati melemparkan diri mereka untuk tidur bersama pria tampan itu walau hanya sekedar one night stand. Namun, sayang semua pesona yang di miliki pria ini tak berpengaruh pada Namikaze Naruto. Mata safirnya menatap dingin tangan yang terulur ke arahnya. Setelah menimang-nimang akhirnya ia membalas uluran tangan pria itu.
Hey! Ia masih sadar posisinya dan disini masih banyak orang. Akan sangat tidak sopan jika ia tak membalas uluran tangan itu.
"Namikaze Naruto." ucap Naruto setengah mendesis mencoba menahan luapan emosi yang bisa keluar kapan saja.
"Aku tau." pria itu tersenyum manis -lagi.
"Sudah lama sekali ya, Naru." pria bernama Sasori itu mengangkat tangan Naruto lalu mencium punggung tangan Naruto lembut. Penuh perasaan dan kehati-hatian. Seolah jika ia berperilaku kasar sedikit saja maka Naruto akan hancur saat itu juga. Tubuh Naruto menegang menerima perlakuan Sasori yang tak terduga. Sebelah tangannya yang berada di samping tubuhnya mengepal kuat menahan amarahnya.
"Ino kurasa aku harus pulang sekarang. Aku baru ingat jika hari ini aku ada janji dengan seseorang." pamit Naruto, tanpa menunggu jawaban sahabatnya terlebih dahulu ia segera melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu.
Do You Love Me?
Naruto melangkahkan kakinya gontai memasuki apartemen Sasuke. Hal yang pertama di tangkap oleh kedua matanya adalah gelap. Apartemen ini gelap. Sama seperti hatinya. Tangannya meraba-raba dinding untuk mencari saklar lampu.
Tek...
Cahaya lampu sedikit menyilaukan matanya. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali untuk membiasakan diri dengan cahaya yang ada. Naruto melepas high heelsnya lalu menggantinya dengan sandal rumah. Langkah kakinya terasa berat. Tangannya terangkat memijit pelipisnya yang berdenyut nyeri akibat rasa pusing yang menyerang kepalanya. Entah kenapa sejak pertemuannya dengan Sasori beberapa jam yang lalu ia seolah ditimpa batu beton yang sangat berat.
.
.
Naruto berjalan pelan menuju balkon kamarnya. Pemandangan malam kota Tokyo menyabut indera penglihatannya. Dari sini kota Tokyo terlihat sangat indah dengan dihiasi berbagai warna lampu yang ada di bawah apartemennya.
Matanya menatap dingin sebuah foto yang berada dalam genggaman tangannya. Naruto menatap foto itu lama. Fotonya dan cinta pertamanya. Fotonya dan Sasori...
Dari foto itu terlihat jelas jika foto itu di ambil sewaktu mereka masih sama-sama duduk di Senior High School. Wajah mereka dihiasi senyum bahagia.
Naruto tersenyum miris menatap foto itu. Sasori adalah cinta pertamanya. Pria pertama yang telah meluluhkan hati Naruto yang sedingin es sekaligus pria pertama yang telah membuat Naruto merasakan patah hati. Ia pejamkan kedua matanya, tanpa bisa ditahan setetes cairan bening terjatuh dari iris safirnya yang kini terpejam.
Hembusan angin menerpa wajah cantiknya membuat beberapa helai anak rambutnya bergerak kesana-kemari mengikuti arah hembusan angin.
"Setelah bertahun-tahun kenapa rasa sakit itu masih ada?" tanyanya pada diri sendiri.
Do You Love Me?
Naruto meminum lemonade kesukaannya dengan santai. Ia menatap jam tangan yang bertengger manis di pergelangan tangannya.
"Ini sudah lebih dari lima belas menit aku menunggunya." Naruto menghembuskan nafasnya lelah. Matanya menatap sekeliling cafe. Cafe ini cukup ramai. Mengingat ini adalah hari libur jadi wajar bila banyak orang yang menghabiskan waktunya untuk bersantai. Pandangannya teralih pada jalan yang ada di balik jendela kaca besar dari tempatnya duduk. Banyak orang yang berlalu-lalang diluar sana. Tanpa sadar ia hanyut akan pikirannya sendiri.
"Naru.." Naruto tersadar dari lamunannya saat suara Ino tertangkap oleh indera pendengarannya. Tanpa rasa bersalah sedikit pun ia langsung mendudukan dirinya di kursi di depan Naruto, membuat posisi mereka kini saling berhadapan dengan dibatasi sebuah meja.
"Maaf, aku sedikit terlambat..." ucapnya disertai sebuah cengiran tak bersalah.
Naruto mendengus melihatnya. "Bukan Yamanaka Ino jika datang tepat waktu." ucapnya sedikit mencibir, tangannya bersedekap di depan dada seraya menatap Ino malas. Ino tertawa mendengar ucapan sahabatnya. "Ayolah, tak perlu marah. Aku kan hanya terlambat bebera menit." rajuknya.
Naruto memutar bola matanya bosan lalu menghembuskan nafasnya. "Baiklah..." Ino memekik girang mendengar jawaban Naruto. Meskipun gadis yang ada di depannya ini terkesan dingin dan kejam namun ia tau sebenarnya Naruto adalah gadis yang baik dan hangat jika kau mengenalnya lebih dekat.
"Ini buku yang kau minta." Naruto menyodorkan sebuah buku tebal bersampul merah maroon pada Ino.
"Kau yang terbaik Naru." ucapnya senang seraya membuka buku tebal bersampul merah maroon itu sebelum memasukkannya ke dalam tas tangan yang ia bawa.
Mereka berdua tampak menikmati minuman mereka dengan santai, tak jarang terdengar suara tawa dari mereka. Ah, ralat hanya Ino yang tertawa karena Naruto hanya tersenyum menanggapi candaan sahabatnya.
"Naru kau berhutang penjelasan padaku." ucap Ino tiba-tiba membuat Naruto menyernyitkan alisnya bingung. Matanya memandang heran ke arah Ino meminta penjelasan lebih. Ino yang mengerti arti tatapan sahabatnya melanjutkan ucapannya. "Kau tau CEO baru kita kemarin menanyakanmu! Katakan padaku kalian berdua sudah saling kenal kan." Ino menyipitkan matanya ke arah Naruto.
Naruto menghembuskan nafasnya pelan lalu menariknya kembali mencoba mengumpulkan oksigen sebanyak-banyaknya untuk memenuhi paru-parunya yang terasa sesak. "Kurasa kau sudah tau jawabannya Ino." ujarnya tenang. Ino membelalakan matanya. "Jadi itu benar." pekik Ino tanpa bisa menutupi nada terkejut dari suaranya. Sebuah anggukan kecil menjawab pertanyaan Ino.
"Kenapa kau tak pernah cerita padaku jika kau mengenal CEO baru kita?"
"Aku juga baru tau kemarin. Saat bertemu dengannya."
"Kau tau Naru? Kurasa dia menyukaimu. Aku bisa melihatnya dengan jelas saat ia menatapmu kemarin." untuk sesaat Naruto terdiam mendengar pernyataan Ino. Jemari lentiknya memainkan sedotan lemonadenya. Memutar-mutarnya, matanya menatap kosong putaran air yang terjadi karena pergerakan jemarinya.
"Kau melamun Naru." suara Ino sedikit membuatnya terkejut dan menyentaknya kembali pada kenyataan.
"Dia cinta pertamaku..." Ino tak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya saat mendengar ucapan sahabatnya.
"Jadi dia..." Ino tak bisa melanjutkan ucapannya, entah kenapa pita suaranya terasa tercekat hingga membuatnya sulit untuk berbicara namun sebuah anggukan kecil dari Naruto menjawab pertanyaannnya.
"Naru maaf aku tak bermaksud untuk-"
"Sudahlah Ino tak apa. Aku mengerti." Naruto tersenyum tipis ke arah sahabatnya, meyakinkan sahabatnya bahwa ia baik-baik saja.
Ino mengibas-ngibaskan kedua tangannya di udara membentuk sebuah tanda silang seraya menggelengkan kepalanya pelan. "Sungguh aku tak tau Naru. Jika aku tau, aku tak akan memaksamu untuk datang ke acara pertemuan itu." ucap Ino menyesal akan perbuatannya kemarin.
"Sudahlah. Lagipula itu semua sudah terjadi, kau tak perlu merasa bersalah."
"Lagipula aku sudah melupakannya." Naruto menatap jalanan yang ada diluar. 'Ya, aku sudah melupakannya.' batinnya mengukuhkan.
Do You Love Me?
Tangan Naruto dengan hati-hati melap pelipis seorang pemuda yang tengah terbaring tak berdaya di atas ranjang rumah sakit dengan kain basah. Setelah merasa cukup bersih ia kembali melap wajah pemuda tampan itu menggunakan kain kering. Disisirnya rambut pemuda itu menggunakan jemarinya dengan lembut.
Mata safirnya memancarkan kerinduan yang teramat dalam pada pemuda itu. "Kyuu-nii bangunlah. Apa kau tidak merindukanku?" ucapnya lirih seraya menidurkan kepalanya diatas lengan sang pemuda, -menjadikannya sandaran.
.
.
Flashback On
Dedaunan musim semi nampak berguguran memenuhi jalan setapak. Hari ini angin berhembus agak kencang membuat orang-orang mengeratkan jaket mereka untuk menghangatkan tubuh mereka dari dinginnya angin, begitu juga dengan seorang gadis yang tampak berjalan tergesa-gesa menerobos orang-orang yang ada di depannya. Tak jarang ia menabrak orang yang ada di depannya dan membuatnya mendapat makian. Gadis itu membungkukkan badannya sebentar sebagai tanda permintaan maaf lalu kembali melangkahkan kakinya. Naruto berjalan setengah berlari, tak jarang ia melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
'Sial, sepertinya aku akan terlambat lagi.' umpatnya kesal.
.
.
"Kau terlambat lagi Naruto." ujar pria paruh baya dengan nada sinis yang sangat kentara. Naruto hanya bisa menundukan wajahnya sebagai permintaan maaf. Padahal ia sudah bersusah payah agar tidak datang terlambat untuk bekerja, namun selalu sama! Nasib sial selalu datang menghampirinya.
"Maaf tuan, tadi saya ada ujian di kampus. Dan tadi ada kecelakaan lalu lintas." ujar Naruto memberikan alasan. Ia tak berbohong soal ujian di kampusnya, namun tentang kecelakaan lalu lintas ia berbohong. Berbohong sedikit tak apa kan?
"Kali ini kau ku maafkan. Tapi lain kali aku akan langsung memecatmu dan ingat gajihmu bulan ini kupotong." ancamnya. Naruto mengangguk lesu mendengar ucapan bosnya. Pekerjaan ini adalah salah satu mata pencahariannya. Yah, meskipun sebenarnya jika ia tak bekerja pun tak masalah. Ia masih memiliki kakak yang masih sanggup membiayainya, namun Naruto dengan keras kepala memaksa kakaknya untuk membiarkannya bekerja disini dengan alasan yang membuat kakaknya tak bisa menolak dan akhirnya membiarkannya bekerja disini. Tentu saja dengan beberapa syarat yang Kyuubi ajukan dan Naruto dengan -terpaksa menyetujuinya.
.
.
"Naru, tolong antarkan pesanan ini pada meja nomer 5." Naruto menganggukkan kepalanya tanda mengerti lalu melangkah menuju meja nomer lima yang terletak di sudut cafe dekat jendela.
"Tuan, ini pesanan anda." Naruto meletakan pesanan itu di atas meja.
.
.
Sasuke Pov On
Jemari ku sibuk memainkan ponsel yang berada dalam genggamanku. Tak terhitung sudah berapa kali aku menghela nafas melihat pesan yang di kirimkan Kaasan untuk ku. Jujur, aku mulai jengah dengan sikap Kaasan ku. Ia terus memaksaku menikah atau setidaknya memiliki kekasih itulah yang selalu di ucapkannya padaku. Sangat membuat jengah bukan?
"Tuan, ini pesanan anda."
Deg...
Aku mengalihkan perhatian ku dari ponsel yang sedang ku genggam saat mendengar suaranya. Suara yang benar-benar indah, apalagi jika suara itu mendesahkan namaku di atas ranjang. Dengan cepat aku menggelengkan kepala ku saat pikiran kotor mulai merasuki otak ku. Mataku menatap wajahnya intens.
Oh, Damn! Dia sangat cantik. Sungguh, kecantikannya bahkan melebihi dewi Aphrodite.
Aku dapat merasakan sesuatu di pangkal pahaku terasa sesak.
Sialan. Hanya dengan melihat wajahnya dan mendengar suaranya saja aku sudah ereksi.
Sasuke Pov Off
.
.
Setelah selesai menata pesanan, Naruto segera melangkahkan kakinya menuju dapur.
'Kenapa dia menatapku seperti itu.' batinnya heran. 'Orang aneh' pikir Naruto.
Do You Love Me?
Sore ini hujan turun cukup deras membuat orang-orang berlari kesana -kemari mencari tempat untuk berteduh. Naruto melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah lebih dari setengah jam ia menunggu di halte bus dekat cafe tempatnya bekerja.
'Apa Kyuu-nii tak jadi menjemputku? Tapi kenapa ia tak memberitahu ku atau mengabari ku?'' batinnya heran.
Getaran pada saku celananya mengalihkan perhatian Naruto. Senyum terkembang di wajah cantiknya kala melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
"Hallo, Kyuu-nii. Kau kemana saja? Kau tau, aku sudah menunggumu dari tadi." ucapnya beruntun.
"Maaf, saya bukan pemilik ponsel ini. Saya ingin memberitahu jika pemilik ponsel ini mengalami kecelakaan dan tengah dilarikan ke rumah sakit."
Deg..
Tubuh Naruto menegang mendengar kabar ini. Tiba-tiba pikirannya kosong. Tenggorokannya terasa kering hingga membuatnya sulit bicara.
"Se-sekarang Kyuu-nii ada di rumah sakit mana?" suaranya terdengar bergetar ketika menanyakan hal ini.
"Konoha International Hospital."
"Baiklah, aku mengerti."
.
.
Konoha International Hospital
Naruto menatap sendu tubuh kakaknya yang terbaring tak berdaya di atas ranjang rumah sakit. Matanya sembab karena air mata yang terus mengalir dari kedua iris safirnya.
"Kyuu-nii bangunlah." ucapnya parau. Sungguh, hati Naruto hancur melihat keadaan kakaknya yang seperti ini. Tubuhnya dipenuhi oleh kabel yang menyambungkannya pada layar monitor di samping ranjang rumah sakit. Alat bantu pernapasan terpasang di wajahnya.
Hanya Kyuubi yang ia miliki di dunia ini. Kedua orang tuanya telah meninggal tiga tahun lalu karena kecelakaan. Dan sekarang Kyuubi terbaring koma.
Naruto menghapus air mata yang ada di pipinya menggunakan kedua punggung tangannya.
"Kyuu-nii, bertahanlah untuk ku." bisiknya.
.
.
Sudah tiga minggu Kyuubi terbaring koma di rumah sakit. Dan seperti biasa Naruto selalu menemani dan menjaganya. Tak jarang ia harus absen dari kuliahnya karena semenjak Kyuubi koma Naruto mengambil lebih banyak pekerjaan untuk menutupi biaya rumah sakit. Ia bahkan telah menjual semua barang berharga yang ia miliki untuk membayar biaya rumah sakit. Namun, tetap saja hal itu belum cukup untuk menutupi biaya rumah sakit yang setiap hari makin membesar.
.
.
Naruto menyandarkan punggungnya pada dinding rumah sakit. Matanya menerawang menatap langit-langit rumah sakit yang berwarna putih. Perutnya terus berdemo meminta diisi. Terang saja, ia belum sarapan sama sekali hari ini. Terakhir kali ia sarapan kemarin sore, itu pun hanya sepotong roti. Tapi, bukan itu yang ada di pikirannya sekarang.
Sekarang yang ada di otaknya adalah bagaimana cara membayar biaya rumah sakit kakaknya yang semakin hari terus membesar. Ia sudah tak memiliki apa-apa lagi sekarang, semua tabungannya dan tabungan kakaknya telah ia gunakan. Barang-barang berharga di rumah pun sudah ia jual.
Matanya terpejam, setetes cairan bening meluncur dengan sempurna membasahi kedua pipinya.
'Mungkin hanya ini satu-satunya jalan. Kyuu-nii, maafkan aku.' batinnya perih. Naruto sadar keputusan yang ia ambil sekarang mungkin akan di sesalinya kemudian hari. Namun, jika hal ini dapat menyelamatkan kakaknya. Maka ia akan melakukannya.
Do You Love Me?
Suara dentuman musik yang menghentak-hentak terdengar memenuhi indera pendengaran Naruto. Naruto menatap keadaan di sekelilingnya, keadaan lampu yang temaram tak jarang membuatnya menabrak orang yang ada di sekitarnya. Bau alkohol yang sangat menyengat menusuk hidungnya. Suara musik yang dimainkan sang DJ terdengar memenuhi ruangan ini, membuat orang-orang yang ada di lantai dansa semakin gila menggerakan badan mereka mengikuti irama musik yang dimainkan sang DJ.
Naruto memakai mini dress sedikit di atas lutut berwarna pastel. Mini dress itu melekat pas di tubuh rampingnya dengan tambahan high heels berwarna hitam yang memperindah kakinya, menonjolkan kulit putih mulusnya. Rambut pirang panjangnya sengaja ia gerai dengan ujung yang sedikit bergelombang, membuatnya terlihat sangat cantik bagaikan seorang malaikat yang terjatuh ke bumi. Sebenarnya penampilan Naruto terbilang sopan, sangat sopan malah ketimbang kebanyakan gadis yang berpakaian sangat minim yang memperlihatkan bagian-bagian tubuh mereka yang tak seharusnya di pertontonkan kepada khalayak banyak.
Naruto melangkah dengan ragu. Jujur saja, ini pertama kalinya ia memasuki club malam. Tak jarang ia mendapat tatapan kagum dan beberapa siulan yang di tujukan untuknya. Dan tanpa ia duga seorang pria mabuk datang dari belakang dan meremas pantatnya.
Tubuh Naruto membeku menerima sentuhan itu. Ini skinship pertamanya di area terlarang ini.
'Ini pelecehan namanya. Benar-benar tak bisa di maafkan.' batinnya marah.
.
.
Sasuke Pov On
Aku tengah menikmati wishky yang berada dalam genggamanku. Mataku menatap sekeliling club malam yang ku datangi bersama teman-temanku. Mata oniks ku terpaku pada satu objek yang tengah berjalan di tengah kerumunan orang yang tengah menggerakan badannya dengan gila mengikuti irama musik yang di mainkan sang DJ.
Ah, sekarang aku ingat. Gadis itu adalah gadis yang kutemui di cafe tempo hari. Untuk apa gadis itu ada di club ini? Aku tau dia bukan lah gadis nakal. Dari mana aku tau? Tentu saja dari cara berpakaian dan sikapnya. Lalu untuk apa dia ada di tempat seperti ini? pikirku heran.
Oh Tuhan, sungguh dia sangat cantik dengan mini dress yang membalut tubuh indahnya, make up natural yang dia kenakan menambah pesonanya. Lalu tatapan ku berhenti pada bibir ranumnya. Bibir itu pasti akan terasa sangat nikmat bila ku sesap. Sialan. Membayangkannya saja penisku telah ereksi dengan sempurna. Jujur, meskipun aku bukanlah pria yang masuk dalam kategori pria 'baik' tapi biasanya aku tak pernah terangsang seperti ini hanya karena melihat wajah seorang gadis. Hal ini benar-benar membuatku gila. Apalagi pangkal paha ku yang terus berdenyut nyeri minta di puaskan.
Mataku terus mengamati setiap pergerakan gadis itu. Aku menggeram kesal seraya mencengkram gelas wishky yang berada dalam genggaman ku saat melihat para pria yang menatap kagum gadis ku dan bersiul ke arahnya. Gadis ku? Ya, itu sebutan ku untuknya. Entah kenapa sejak pertemuan ku dengannya tempo hari aku telah mengklaim bahwa dia adalah milikku. Dan seorang Uchiha Sasuke selalu mendapatkan apapun yang ia inginkan tanpa terkecuali termasuk gadis itu.
Cukup sudah! Aku meletakkan gelas wishky ku yang kini isinya tinggal separuh dengan kasar di atas meja bar saat melihat pria mabuk berjalan menghampiri gadis ku dan meremas pantatnya. Sialan. Rupanya ia cari mati.
Sasuke Pov Off
.
.
"Lepaskan tanganmu dari gadisku." sebuah suara baritone terdengar dari arah belakang membuat Naruto membalikkan badannya ke arah sumber suara itu.
Sungguh, pria yang tengah menolongnya ini sangat tampan. Pahatan wajahnya begitu rupawan bagaikan dewa-dewa Yunani. Bahkan ia yakin, dewa Adonis pun akan kalah tampan jika di sandingkan dengan pria yang ada di depannya.
"Pergi atau mati." ucapnya datar namun penuh akan ancaman. Pria mabuk itu langsung pergi saat melihat pemuda ini. 'Aneh' itulah yang ada dalam benak Naruto, pria itu bahkan langsung berlari tunggang langgang. Ayolah, pria ini bahkan tak memukul pria itu! Hanya memberikannya sebuah ancaman tapi kenapa efeknya begitu besar? Sebenarnya siapa pria yang telah menolongnya ini? Itulah yang ada dalam pikiran Naruto.
"Kau!? Apa yang kau lakukan disini, hah? Apa kau tidak tau betapa berbahayanya tempat ini? Kau beruntung kali ini kau bertemu denganku. Tapi lain kali?" Sasuke membentak Naruto, matanya memancarkan kemarahan yang sangat besar. Sesaat kemudian ia sadar bahwa ucapannya barusan terlalu kasar untuk Naruto. Sungguh, ekspresi syok dan kaget gadis itu akibat bentakannya membuatnya merasa sangat bersalah. Ia sama sekali tak bermaksud membentak gadis itu, namun apa daya amarah menguasainya hingga menyebabkannya hilang kontrol. Ia menarik nafasnya dalam lalu menghembuskannya perlahan. Sasuke terus melakukan kegiatan itu beberapa kali untuk meredakan emosinya yang meletup-letup.
Di tatapnya gadis itu yang tingginya hanya mencapai pundaknya. Tatapannya yang semula tajam perlahan mulai melembut. Sasuke dapat melihat gadis itu menunduk takut dan memainkan jemarinya gugup.
Naruto menundukkan kepalanya mendengar bentakan Sasuke, ia memainkan jarinya gugup tak berani menatap pria yang baru saja menyelamatkannya.
"Maaf, aku tak bermaksud untuk membentakmu tadi. Aku hanya terbawa emosi." sungguh, sebelumnya Sasuke tak pernah berbicara selembut ini pada seorang wanita kecuali ibunya. Tapi, entah mengapa di depan gadis ini. Semuanya terjadi begitu saja.
Naruto mendongakkan kepalanya menatap Sasuke yang lebih tinggi darinya. Mata oniks yang sangat indah dan mempesona. Ia yakin ia bahkan bisa tenggelam dalam pesonanya.
"Terimakasih telah menolongku." ucapnya lirih namun masih bisa di tangkap oleh indera pendengar Sasuke karena jarak mereka yang cukup dekat.
Tanpa Sasuke sadari seulas senyum tersungging di wajah tampannya saat mendengar ucapan gadis yang ada di depannya.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanyanya.
"Aku ingin menjual..." Sasuke mengerutkan alisnya bingung, mendengar Naruto yang tak menyelesaikan kalimatnya.
"Kau ingin menjual apa?" tanyanya lagi.
"Aku ingin menjual diriku."
Do You Love Me?
Dan disinilah mereka berdua berakhir. Di apartemen milik Uchiha Sasuke. Naruto terduduk gugup di sofa ruang tamu apartemen Sasuke. Matanya mengamati sekeliling apartemen Sasuke. Satu hal yang ada di pikirannya. Apartemen ini sangat luas. Ah, apartemen ini bahkan memiliki lift sendiri yang bisa membawanya ke lantai dua. Bahkan ruang tamunya pun sebesar apartemen miliknya. Apartemen ini di dominasi warna abu-abu, benar-benar warna khas pria dewasa yang single. Terlihat jelas bahwa tak ada sentuhan perempuan sama sekali dari desain apartemen ini, namun hal ini sama sekali tak mengurangi kesan indah dan elegan yang melekat dalam desain apartemen ini, Naruto akui itu.
Matanya teralih saat melihat Sasuke yang berjalan keluar dari arah dapur. Pemuda itu membawa dua buah jus jeruk.
Sasuke mendudukan dirinya di samping Naruto.
"Minumlah." ujarnya.
"Terimakasih-?"
"Sasuke, panggil aku Sasuke." potong Sasuke cepat. Naruto menganggukkan kepalanya pelan tanda mengerti.
Keheningan menyelimuti mereka berdua, membuat suasana apartemen Sasuke terasa sangat kaku dan canggung di saat bersamaan.
"Jadi, apa yang menyebabkanmu ingin menjual dirimu Naruto." Naruto semakin menundukkan kepalanya dalam mendengar pertanyaan yang Sasuke tujukan untuknya, ia kembali memainkan jemarinya gugup.
"Aku butuh uang Sasuke." ucapnya lirih setelah terdiam cukup lama. Sebelah alis Sasuke terangkat mendengar jawaban Naruto, raut wajahnya tampak tak puas mendengar jawaban gadis ini.
"Untuk?"
"Aku butuh uang untuk biaya berobat kakak ku." ungkap Naruto jujur. Sasuke menghembuskan nafasnya kasar mendengar penuturan Naruto.
"Aku akan membayarnya. Dimana kakak mu di rawat?"
"Konoha International Hospital."
"Kau tak perlu khawatir, aku akan mentransfer pembayaran biaya rumah sakit kakak mu Naru." mata Naruto berbinar bahagia mendengar ucapan Sasuke.
"Terimakasih." ucapnya tulus disertai sebuah senyuman bahagia. Sasuke terpaku melihat senyum itu atau lebih tepatnya ia terpesona melihatnya. Hal ini membuatnya bertambah yakin untuk memiliki gadis ini di bawah ranjangnya.
"Tapi, dengan beberapa syarat yang telah ku tentukan." Naruto menahan nafasnya mendengar ucapan Sasuke, ia terlalu khawatir mendengar kelanjutan ucapan pemuda yang duduk di sampingnya hingga lupa bernafas.
"Apa syaratnya?" Naruto tak bisa menyembunyikan suaranya yang tercekat saat menanyakan hal ini.
"Pertama aku ingin kau tinggal bersama ku disini. Di apartemen ini. Membersihkan dan memenuhi semua kebutuhanku dan memasak untuk ku." Naruto menganggukkan kepalanya mendengar syarat yang pertama tanda bahwa ia menyetujuinya.
"Kedua aku ingin kau melayaniku di atas ranjang. Kapan pun. Ketika aku menginginkanmu Naru." Sasuke dapat melihat ekspresi horor gadis itu ketika mendengar syaratnya yang kedua.
Naruto terdiam mendengar syarat ke dua yang di ajukan Sasuke padanya.
'Apa yang perlu kau kagetkan Naru? Bukankah kau sendiri yang menawarkan tubuhmu padanya? Kenapa sekarang kau justru bimbang akan keputusan yang telah kau buat sendiri. Tidak. Aku tidak boleh bimbang. Ini demi Kyuu-nii. Ya, ini semua demi Kyuu-nii.' batinnya mengukuhkan dan meyakinkan dirinya sendiri.
Naruto menatap mata oniks yang tengah menanti jawabannya. Ia memejamkan matanya sebentar lalu membukanya kembali dan menganggukkan kepalanya pelan tanda bahwa ia menyetujui syarat yang kedua.
Sasuke tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya saat mendengar jawaban Naruto. Sebuah senyum bahagia terukir di wajahnya bukan seringai meremehkan yang biasa ia tujukan pada orang lain.
Tuhan, bagaimana mungkin aku menjadi penyelamat dan pendosa di saat bersamaan karena telah memanfaatkan keadaan gadis ini. Ampuni aku Tuhan, batinnya.
Do You Love Me?
Sasuke mulai mendekatkan wajahnya dan Naruto. Mengikis jarak di antara mereka berdua. Mata oniksnya tertuju pada bibir pink Naruto. Ia menempelkan bibirnya pada bibir Naruto. Hanya menempel tidak lebih. Sasuke dapat merasakan tubuh Naruto yang sedikit menegang ketika bibirnya tertempel pada bibir gadis itu, sebelum tubuh gadis itu kembali rileks.
Bibir Sasuke mulai bergerak, melumatnya perlahan. Meraupnya penuh hingga bibir itu terbenam dalam bibirnya. Ia mulai meningkatkan tingkat intensitas ciumannya.
"Balas ciumanku Naru." bisiknya parau tepat di samping telinga Naruto. Tubuh Naruto meremang mendengar suara Sasuke.
Damn it! Suara pria ini benar-benar seksi.
Naruto mulai membalas ciuman yang Sasuke berikan untuknya walau gerakannya masih terasa kaku.
Hey! Jangan salahkan ia. Naruto memang amatir dalam hal ini. Ini bahkan ciuman pertamanya. Jadi wajar bukan bila gerakannya masih kaku?
Sasuke mengerang dalam ciumannya saat merasakan Naruto mulai membalas ciumannya walau gerakan gadis itu terasa masih kaku. Tangannya menyelinap ke bawah paha dalam Naruto lalu mengangkatnya dan mendudukan Naruto dalam pangkuannya. Naruto memekik di sela ciumannya dengan Sasuke karena perbuatan Sasuke yang tiba-tiba.
Sasuke terus mengklaim bibir Naruto dengan bibirnya. Lumat, jilat, hisap begitu seterusnya. Ia memiringkan kepalanya ke kanan dan ke kiri mencari posisi yang nyaman untuk Naruto agar gadis itu bisa mengambil nafas di sela-sela ciuman panas mereka.
Sialan. Bibir gadis ini benar-benar nikmat, pikirnya.
Sasuke mengerang karena pergerakan Naruto mengenai ereksinya di bawah sana. Saat kebutuhan oksigen mulai mendesak dengan terpaksa mereka mengakhiri ciuman panas itu. Benang-benang saliva tampak terlihat ketika mereka memutuskan ciuman panas itu.
Nafas mereka berdua terengah. Keduanya bahkan bisa saling merasakan nafas mereka yang terengah karena jarak yang sangat dekat. Sasuke mengamati wajah Naruto yang memerah dan bibirnya yang sedikit membengkak, ia bisa merasakan hembusan nafas Naruto yang mengenai wajahnya begitu pula sebaliknya.
Sasuke menjilat-jilat sudut bibir Naruto, membersihkan sisa saliva yang menempel di sudut bibir Naruto. Sebuah seringai puas tercetak di wajahnya saat melihat bibir Naruto yang memerah karena ciuman panas mereka. Di tempelkannya dahinya dan dahi Naruto.
"Kita butuh tempat yang lebih luas." ucapnya serak.
"Lingkarkan kaki mu pada pinggang ku." perintahnya.
Naruto melingkarkan kakinya pada pinggang pria itu. Ia memekik kaget saat Sasuke dengan tiba-tiba mengubah posisinya menjadi berdiri dengan Naruto yang berada dalam gendongannya.
.
.
Sasuke membawa Naruto dalam gendongannya. Tubuh mereka menempel erat sama seperti bibir mereka yang saling bertaut. Ciuman itu penuh dengan hasrat dan gairah, kedua tangan Naruto telah melingkari leher Sasuke. Jemari lentiknya tak henti meremas rambut Sasuke menyalurkan kenikmatan yang Sasuke berikan lewat ciumannya. Erangan dan desisan terdengar silih berganti dari mulut mereka.
Kepala Naruto terasa pening, sekarang yang ada dalam otaknya hanya kenikmatan yang Sasuke berikan pada bibirnya. Naruto bahkan sudah tak dapat menghitung berapa kali ia mengerang nikmat karena ciuman Sasuke, pria ini begitu pandai memainkan bibirnya hingga membuatnya menggila hanya karena sebuah ciuman.
Tubuh Naruto yang berada dalam gendongan Sasuke terasa begitu pas menempel pada tubuh pria itu. Sasuke menggeram dalam ciumannya saat Naruto, -entah sengaja atau tidak menggerakan tubuhnya. Hingga membuat pangkal paha mereka bergesekan. Membuat tubuhnya semakin terasa panas.
Demi Tuhan, ini sangat panas dan sangat nikmat, pikirnya.
Sasuke terus menempelkan bibirnya pada Naruto -melahapnya lapar.
Sambil berciuman Sasuke membawa tubuh Naruto berjalan menuju kamarnya yang terletak di lantai atas. Tanpa mau bersusah payah menaiki tangga yang tidak begitu tinggi, Sasuke berjalan menuju lift. Menyudutkan tubuh Naruto pada lift tanpa melepas ciuman mereka. Suara decapan ciuman mereka terdengar begitu menggairahkan, membuat Sasuke semakin bersemangat mengeksploitasi bibir gadisnya. Tangannya yang tidak digunakan untuk menopang tubuh Naruto meraba-raba dinding lift -mencari tombol lift. Begitu menemukan tombol lift Sasuke berjalan memasuki lift.
Naruto dapat merasakan tubuhnya tersudut pada dinding lift, dengan tubuh Sasuke yang menghimpitnya. Keras. Dia dapat merasakan betapa kerasnya Sasuke saat pangkal paha pria itu bergesekan dengan daerah sensitifnya. Sasuke dengan sengaja menggesekan pangkal pahanya pada pusat tubuh Naruto membuat mereka sama-sama mengerang nikmat. Karena kebutuhan oksigen yang semakin menipis dengan enggan pria itu mengakhiri ciumannya dengan Naruto.
Bernafas. Terengah. Bernafas. Terengah. Bernafas. Terengah.
Sebuah seringai terpantri di wajah Sasuke. Bibirnya menciumi sudut bibir Naruto, lidahnya terjulur membersihkan sisa saliva yang menempel pada sudut bibir itu.
Bibir Sasuke terus turun. Mengecup apapun yang bisa ia raih hingga berhenti pada leher Naruto.
"Engh..." Naruto mengerang merasakan hisapan kuat pada bagian lehernya. Tangannya mencengkram rambut Sasuke kuat. Tanpa sadar ia menekan pangkal paha Sasuke membuat Sasuke mengerang dalam ceruk lehernya.
Sasuke berjalan menuju kamarnya langkah demi langkah. Ia membuka pintu kamarnya dan menutupnya menggunakan kakinya. Di sudutkannya tubuh Naruto pada sudut tembok kamarnya.
"Kau cantik Naru." bisiknya parau. Naruto meremang mendengar bisikan pria itu. Ada gelanyar menyenangkan dalam hatinya saat mendengar pujian yang Sasuke tujukan untuknya.
Sasuke mengecup bibir Naruto. Satu kali. Dua kali hingga berulang-ulang. Kecupan itu kini berubah menjadi lumatan dalam.
"Emmphh.." Naruto mengerang saat Sasuke meletakan tubuhnya di atas ranjang tanpa melepas ciuman mereka berdua.
Naruto dapat melihat jelas mata Sasuke yang berkabut karena gairah. Kepala Sasuke menunduk -kembali memagut bibir Naruto.
"Ngngng..." Naruto tak dapat menahan desahannya saat ciuman Sasuke beralih pada leher putihnya. Sasuke menghembuskan nafas hangatnya pada leher gadis itu kemudian menjilat lekuk leher itu pelan, menstimulus saraf gadis itu. Tubuh Naruto menggelinjang di bawah tubuh Sasuke akibat perlakuan pemuda itu pada lehernya.
"Mungkin, kau sudah mendengar ini ratusan kali. Tapi kau sungguh cantik Naruto."
Naruto terdiam. "Dan kau pasti sudah mengatakan itu pada ratusan gadis." entah mendapat keberanian dari mana kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya.
Mungkin ia salah bicara, karena Naruto dapat melihat jelas rahang pria itu mengeras. "Sayangnya tidak. Aku memang suka merayu perempuan, tapi aku tidak suka berbohong."
Naruto terperangah mendengar ucapan Sasuke dan pemuda itu kembali membungkamnya dengan ciuman yang panas dan menggebu. Dan sebelum ia sadar apa yang terjadi, Sasuke perlahan mengangkat mini dress yang ia kenakan lalu melemparnya sembarang dan sejauh mungkin.
Sasuke terperangah melihat Naruto yang berada di bawahnya hanya dengan menggunakan bra dan celana dalam berwarna hitam. Pakaian dalam gadis itu yang berwarna hitam terlihat sangat kontras dengan kulit putihnya membuatnya terlihat beribu kali lebih cantik.
Damn! Dia benar-benar seksi. Bahkan ia jauh lebih seksi dari apa yang Sasuke bayangkan selama ini dalam imajinasi liarnya.
Mata Sasuke menatap intens tubuh Naruto dari atas sampai ke bawah. Payudara gadis itu tampak menyembul pada bagian atas bra nya. Perut gadis itu datar dengan lekukan feminim yang sangat indah. Tulang belikatnya sedikit menonjol menambah kesan seksi tersendiri.
'Tuhan, bagaimana mungkin kau menciptakan mahluk seindah ini' batinnya.
Jari-jari Sasuke menyusuri lekuk tubuh Naruto melepas sisa kain yang melekat pada tubuh gadisnya, membuat tubuh Naruto kini polos tanpa sehelai kain pun.
Naruto merona. Ini pertama kalinya ia telanjang di hadapan seorang pria. Tangannya terangkat mencoba menutupi payudara dan daerah kewanitaannya.
"Jangan. Tak perlu kau tutupi. Kau tau? Kau sangat indah Naru." Sasuke menyingkirkan tangan Naruto.
Naruto menolehkan kepalanya ke samping. Ia terlalu malu untuk bertatapan langsung dengan pria ini. Sasuke menyerukkan kepalanya pada ceruk leher Naruto -membuat tanda pada leher putih gadis itu.
"Ahk..." desahan itu lolos begitu saja saat merasakan hisapan kuat Sasuke pada lehernya. Sasuke menarik kepalanya dari ceruk leher Naruto. Ia tersenyum miring saat melihat tanda kemerahan yang ia buat.
"Aahhh..." Naruto menjerit terkejut ketika merasakan Sasuke menggulum salah satu payudaranya. Sasuke terus mencium, menghisap, menarik putingnya, memainkan payudara Naruto dalam mulut lihainya. Tanpa sadar tangan Naruto mencengkram kepala Sasuke, membuat pria itu lebih dalam menggulum payudaranya.
"Aahhh...aahh..." Naruto dapat merasakan bagian kewanitaannya basah. Ah, sangat basah malah.
"Kau milikku."
"Agh..." Naruto menjerit tertahan saat merasakan sesuatu di bawah sana masuk pada pusat tubuhnya. Matanya terpejam kuat merasakan jemari Sasuke yang bergerak keluar masuk dengan gerakan zig zag pada daerah kewanitaannya, -memaksa agar lubang sempit itu menjadi sedikit lebih lebar lewat gerakan tangannya.
Sasuke terus mengamati ekspresi gadis yang berada dalam kungkungannya. Sungguh, benar-benar ekspresi yang sangat seksi dan mempesona di saat bersamaan. Wajah gadisnya tampak memerah membuatnya terlihat semakin menggoda di mata Sasuke apalagi ketika gadisnya menggigit bibir bawahnya guna meredam desahannya akibat kebrutalan jari Sasuke di bawah sana. Karena tak tahan melihatnya, di raupnya bibir Naruto dalam satu ciuman panas menggairahkan.
"Emmhh..." tubuh Naruto menggelinjang merasakan pelepasannya yang pertama. Sayang desahan gadis itu teredam oleh ciuman panas sang Uchiha.
Sasuke melepas ciumannnya. "Kau basah dan kau siap untuk ku." ucapnya seraya menarik keluar jarinya dari milik Naruto. Sasuke mulai melepas kemejanya dan juga celana hitam berbahan kainnya. Mata Naruto terus menatap pergerakannya. Jujur saja, Naruto benar-benar gugup sekarang. Setelah Sasuke melepaskan semuanya, Naruto bisa melihat milik pria itu yang berdiri tegak di bawah sana.
Sasuke mulai melebarkan kedua kaki Naruto dan berlutut diantaranya, menuntun miliknya yang telah tegak sempurna masuk ke dalam pusat tubuh Naruto.
Naruto memejamkan matanya erat saat merasakan sesuatu yang besar dan keras mencoba memasuki lubangnya yang sempit. Naruto menggigit bibir bawahnya ketika benda itu semakin mendesak masuk.
"Aahh..." Naruto mengerang tertahan saat kejantanan Sasuke mengoyak pusat tubuhnya. Tangan Sasuke terangkat menyentuh wajah Naruto, membelai lembut pipi gadis itu. Naruto membuka kedua matanya yang sempat terpejam saat merasakan elusan lembut di pipinya. Mata mereka bertemu. Oniks dan safir.
Tanpa kata, tanpa suara. Naruto bisa merasakan bahwa Sasuke memintanya untuk menerimanya dalam pusat tubuhnya. Naruto mulai merileks kan tubuhnya dan seketika itu pula Sasuke kembali masuk dengan perlahan.
Naruto menyernyitkan alisnya saat merasakan sakit pada pusat tubuhnya. Matanya terpejam erat. Tangannya mencengkram sprei yang ada di bawahnya. Air mata tampak mengalir dari sudut matanya.
"Terimakasih telah menjadikanku yang pertama." bisiknya.
"Aku akan mulai bergerak." tangan Sasuke bergerak mengusap paha Naruto dan mulai menarik miliknya namun tidak terlepas karena ia kembali masuk dengan dorongan pelan.
Sakit. Rasanya sangat sakit ketika dorongan pertama tetapi tidak pada dorongan selanjutnya.
"Aaahhh...aahh..." Naruto kembali mendesah merasakan dorongan pelan itu.
"Hhh...sshh..." bukan hanya ia yang mendesah, Sasuke pun mendesah dengan suara baritone nya. Mata Sasuke menatapnya dalam, tangannya menarik tangan Naruto lepas dari cengkraman bantal lalu menautkan jari-jarinya pada jari-jari Naruto. "Lingkarkan kakimu pada pinggang ku." bisiknya.
Sesuai perintah Sasuke, Naruto mulai melingkarkan kakinya pada pinggang pria itu.
"Aahhhkkk.." Gila. Itulah yang ada dalam benak Naruto. Posisi ini membuatnya merasakan kenikmatan lebih karena milik Sasuke yang masuk lebih dalam hingga menyentuh titik ternikmatnya.
"Aku tidak tahan lagi." pekik Naruto saat kejantanan Sasuke semakin menghujamnya tajam.
"Keluarkan." desaknya.
"Aku tidak tahan lagi."
"Berteriaklah, memohonlah."
"Aahhkk...hhh...Kumohon."
Mendengar permintaan Naruto, Sasuke menggerakan tubuhnya lebih cepat dan liar. Tubuh mereka terguncang hebat akibat kebrutalan Sasuke di pusat tubuh Naruto. Nikmat. Rasa nikmat itu menjalari dua insan yang tengah bergumul panas di atas ranjang. Wajah mereka tampak memerah dengan peluh yang membasahi tubuh polos mereka. Suhu ruangan yang dingin sama sekali tak terasa oleh mereka.
"Aahhkk Sasukeh..." Naruto berteriak memanggil namanya saat puncak kepuasan itu datang.
"AAGGHH..." Sasuke mendorong kuat miliknya untuk terakhir kali dan melepaskan semua cairannya dalam tubuh Naruto. Rasa hangat menjalari Naruto saat merasakan cairan Sasuke masuk ke dalam rahimnya. Ia memejamkan kedua matanya, meresapi rasa hangat itu.
Sasuke melepaskan tautan tangannya dan Naruto, lalu mengusap peluh yang ada di pelipis gadis itu. Mata mereka kembali bertemu, -saling memandang.
Sasuke tersenyum lalu mencium bibir Naruto, -lagi. Dengan lembut namun menuntut secara bersamaan. Bibir Naruro tergerak mengimbangi ciuman Sasuke di bibirnya.
"Naru..." bisiknya. Tangan Sasuke membelai payudara Naruto. Perlahan-lahan Naruto dapat merasakan ereksi pria itu lagi di pusat tubuhnya.
Bagaimana mungkin dia kembali terangsang? Padahal dirinya masih ada di dalam pusat tubuhku, pikir Naruto.
"Kau milik ku." ujarnya lagi. Sasuke kembali menggerakan tubuhnya pelan. Naruto sedikit meringis, tidak di pungkiri ia masih merasakan sakit pada organ kewanitaannya namun itu tak bertahan lama karena ia kembali mendesah nikmat akibat pergerakan Sasuke.
Bibir Sasuke terus menciumi Naruto. Menjangkau apapun yang bisa ia raih sembari terus menggerakan tubuhnya. Bibir dan pusat tubuh mereka menyatu dan saling bergerak. Tangan Naruto kembali mencengkram kuat bantal yang berada di bawah kepalanya. Tidak seperti pertama kali, untuk yang kedua Sasuke bergerak lebih lama dan lebih cepat. Keringat sudah membasahi sekujur tubuh mereka berdua.
"Sa-sukeh..."
"Hemm?"
"Aku a-kan datang la-gih"
"Bersamah..."
"Aaahh...hhh...Su-keh..." Naruto menjerit nikmat ketika pelepasannya. Tubuh Sasuke masih bergerak menghujam tubuh Naruto dengan liar, dan ikut berteriak ketika mendapat pelepasannya. Sekali lagi cairannya kembali memenuhi rahim Naruto membendung cairan Naruto yang akan keluar.
Nafas Naruto dan Sasuke terengah akibat kegiatan seks mereka.
Sasuke kembali membelai pipi Naruto, -mengusap peluh yang ada di wajah gadis itu. "Aku tau ini yang pertama bagimu. Karena ini pun pertama untuk ku memasuki seorang gadis. Aku ingin lagi Naru."
'Apa? Lagi? Apa pria ini gila?' pikir Naruto.
Tanpa melepaskan tubuhnya dari Naruto Sasuke membalikkan tubuh gadis itu menghadap ke belakang dengan posisi menungging. Doggy style.
Sasuke mulai bergerak lagi, dan pergerakannya di belakang sana membuat Naruto kembali mendesah nikmat.
"Aaahh..." lewat posisi ini Naruto merasakan sesuatu yang baru lagi, karena penis Sasuke yang menyodok lebih dalam kewanitaannya.
Naruto memejamkan matanya erat seraya menggigit bibir bawahnya karena hujaman Sasuke. Ia melirik ke arah jam.
'Berapa lama waktu yang sudah kami habiskan untuk bercinta tadi? Dan kira-kira berapa kali lagi pria ini akan berhenti?' batinnya.
"Aaahh... Sasukeh..."
Flashback Off
.
.
Wajah Naruto memerah dengan sempurna saat mengingat pertemuannya pertama kali dengan Sasuke. Terutama saat mengingat seks pertama mereka.
Sasuke begitu bernafsu padanya hingga membuat Naruto cukup kewalahan menghadapi libido pria itu yang tinggi.
.
.
Tbc
.
.
Thanks For : | KhairunnisAsfariniLoveTVXQ | SNlop | Kim Seo Ji | miskiyatuleviana | akasuna no hataruno teng tong |
athena1001 | SasuFemNaru Lovers | luviz hayate | Aiko Michishige | ollanara511 | akane uzumaki faris |
efi astuti 1 | Aliyah649 | hanazawa kay | ayurifanda15 | Mimo Rain | miszshanty05 | kimjaejoong309 |
Harpaairiry | Yuli Alvianita | zukie1157 | kHaLerie Hikari | uzuuchi007 | zadita uchiha |
Namikaze Fuu-chan | Uzumaki Prince Dobe-Nii | PenaBulu | Ryuusuke583 | michiiend | Damchu93 | Yeonji |
Guest1 | Sam hatake ajja | Guest2 | Guest3 | kokoRoarr | jessica | hime | InmaGination | ama wkl | uzuchihanana | leinalvin775 | choikim1310 | Guest4 | Guest5 |
.
.
Eiji Notes : Akhirnya chapter dua selesai (^o^) ehehe. Oh iya semoga chapter ini ngejawab pertanyaan kalian di chapter satu (^o^) Naruto keren ya? Kuliah sambil kerja? ehehe. Maaf ya Ei emang gak pinter bikin lemon ( -.- ) jadi agak pusing juga waktu adegan lemonnya xD. Nah, minna maaf ya Ei gak terima flame dalam bentuk apapun! Warning yang Ei kasih udah sangat jelas kan? Makasih yang udah ngeluangin waktunya buat baca chapter dua (^o^)
.
.
Boleh minta ripiw? ^o^
