"Burung yang kalian sebut Je itu, akan mati. Hahaha..."Kata Xana
"Je pasti selamat."Kata Aelita
"Dia akan datang sebentar lagi."Kata Odd
Tujuh menit kemudian
Je belum datang sejak tadi
"Dia belum datang. Ini aneh."Kata Ulrich
"Pasti dia sudah mati. Hahaha..."Kata Xana
"Aku bosan mendengarnya tertawa "Kata Odd di dalam hati
"Aku belum mati, Tuan."Kata Je yang datang dari belakang Xana. Dia bukan elang lagi
Mereka melihat mata Je yang terlihat tidak asing bagi para LW. Tanda Xana.
"Kau menjatuhkannya dan merasukinya? Kau benar-benar licik. "Kata Aelita
"Sepertinya aku tidak merasukinya. Tapi aku akan menggunakan kesempatan ini."Kata Xana di dalam hati
"Je, serang mereka!"Kata Xana
"Baik, Tuan."
Je berlari ke arah Ulrich
""Je maksud dia hanya berpura-pura di rasuki Xana
""Ulrich mengerti maksud Je
"Jadi Je berakting untuk menipu Xana? Ide yang bagus."Kata Ulrich di dalam hati
"Kalian larilah aku akan menyusul."Kata Ulrich
Yumi dan Odd bersembunyi di balik batu
"Aelita, kau bilang kepada lainnya, Je hanya berpura-pura."Bisik Ulrich
"Ok."
Aelita berlari ke batu tempat sembunyi Odd dan Yumi
Je terlihat kesakitan.
"Agh..."
Je memegang kepalanya yang sakit
"Je, apa kau baik-baik saja?"Tanya Ulrich sambil mendekati Je
Di balik batu
"Menonton drama gratis memang seru."Kata Odd
Aelita dan Yumi mengangguk
Kembali ke tempat Ulrich
"Je,"
Ulrich berdiri di depan Je. Sebenarnya dia khawatir. Tapi ini hanya drama.
Je tak bisa menahan sakitnya dan akhirnya dia pingsan.
Ulrich menahannya dan membaringkannya perlahan.
"Kau berakting dengan baik, Je."Kata Ulrich
Kumpulan asap biru keluar dari tubuh Je
"Apa ini? Kenapa asap biru keluar? Jangan-jangan saat Je pingsan tadi itu... Bukan akting!"Kata Ulrich di dalam hati
"Apa asap biru itu sumber kekuatannya? Kalau ya, dia kehilangan semua kekuatannya."Kata Ulrich di dalam hati
"Ulrich, kenapa Je belum sadar?"Tanya Yumi sambil mendekati Ulrich di ikutti Aelita dan Odd
"Aku tidak tau."Jawab Ulrich
"Itu terjadi begitu saja."Sambung Ulrich

Xana tidak tinggal diam melihat banyak asap biru yang tertiup angin. Dia langsung menyedot asap biru itu.
"Hahaha... Asap biru ini menjadi milikku. Dan Je tidak punya kekuatan lagi."Kata Xana
"Xana, tidak ku biarkan asap biru itu menjadi milikmu."Kata Je sambil berdiri
"Apa yang akan kau lakukan? Melemparku dengan kekuatanmu? Tidak mungkin. Lihatlah matamu. Matamu berwarna hitam."Kata Xana
"Benarkah?"Kata Je di dalam hati sambil mencoba kekuatannya. Tapi benar-benar tidak bisa.
"Semua asap itu di hisapnya. Aku tidak bisa lakukan apapun."Kata Je
"Sebenarnya apa yang terjadi padamu?"Tanya Little Bird
"Aku kehilangan kekuatanku. Kekuatan itu berasal dari asap biru. Asap itu sudah di hisap Xana. Jadi aku tidak memiliki kekuatanku lagi."Jawab Je
"Tidak. Kau masih memiliki kekuatan. Kekuatan dari hatimu sendiri. Kau hanya perlu hatimu."Kata Little Bird
"Percaya pada hatiku. Baiklah."Kata Je di dalam hati
Je memejamkan matanya dan memusatkan pikiran pada hatinya
"Begitu. Terus lakukan itu."Kata Little Bird
"Hmm... Hy! Namamu... Little Bird?"Tanya Ulrich
"Ya. Memangnya kenapa?"Tanya Little Bird
"Aku hanya bertanya. Namaku Ulrich."Jawab Ulrich
"O ya. Kau burung yang bisa berbicara. Dan itu aneh. Kau bisa berbicara sejak kapan?"Tanya Ulrich
"Sejak tadi. Je memberiku kekuatannya agar aku bisa berbicara dengannya."Jawab Little Bird
"Oh..."
Je akhirnya membuka matanya. Dia melihat kekuatannya yang keluar dari tangannya.
"Ini berhasil! Terima kasih, Little Bird!"Kata Je
"Aneh."Kata Little Bird
"Apanya yang aneh?"Tanya Yumi
"Lihat saja. Kita tidak melihat Je mengeluarkan kekuatannya. Tapi dia melihatnya. Berarti, ada kesalahan pada dirinya."Jawab Little Bird
"Kira-kira apa efek dari semua itu padanya?"Tanya Ulrich
"Aku tidak tahu. Tapi itu sangat berbahaya bagi dirinya."Jawab Little Bird
"Semoga saja, dia tidak kehilangan bola matanya."Kata Odd
"Kau ini. Selalu saja aneh."Kata Ulrich
"Aku hanya ingin menghibur."Kata Odd
Tiba-tiba ada yang menyentuh bahu Odd.
"Odd, Kau berharap bola mataku tidak hilang. Tapi sepertinya, bola mataku menghilang."
Odd menengok ke belakang. Dia melihat mata Je. Dia langsung terlihat merinding.
"Odd!"Ulrich menepuk bahu Odd
"Kya..."Odd terkejut karena kelakuan Ulrich tadi
"Odd, sepertinya kau ketakutan. Apa kau baik-baik saja?"Tanya Aelita
"Hmm... Ya. Aku... Baik-baik saja."Jawab Odd
"Oh... Baguslah."Kata Aelita
"Apa yang terjadi pada Je?"Tanya Odd di dalam hati
"Lihat!"Ulrich menunjuk Je yang sedang melawan Xana
Odd melihat Je dengan senang. Di saat yang sama dia juga kebingungan.
"Je tidak mengeluarkan kekuatannya. Tapi Xana terlihat terkena kekuatan Je. Itu luar biasa!"Kata Yumi
"Menurutku tidak. Itu benar-benar berbahaya!"Kata Little Bird
"Apa maksudmu?"Tanya Yumi
"Begini. Hmm sebelum aku jelaskan bisakah kau mengenalkan dirimu? Kalian yang berbaju pink dan berbaju ungu juga."Kata Little Bird
"Namaku Yumi."
"Namaku Odd Della Robbia."
"Namaku Aelita. Aelita Schaeffer."
"Salam kenal! O ya. Begini. Tentang Je, dia dalam bahaya. Itu karena diriku. Aku merasa bersalah padanya. Sekarang dia menjadi aneh."Kata Little Bird
"Sudahlah. Itu bukan salahmu. Itu salah dia!"Kata Ulrich sambil menunjuk Xana
"Ulrich. Aku butuh bantuanmu."
Ulrich kebingungan dan melihat ke belakang.
"Tidak ada siapa pun."
"Aku berikan semua hartaku untukmu."
Ulrich melihat seratus lebih cahaya biru di sekelilingnya
"Cahaya ini... Cahaya yang pernah kulihat saat aku masih kecil."Kata Ulrich
Ulrich melihat sekelilingnya. Dia terkejut melihat Je yang tergeletak di luar sana.
"Je!"

"Jangan khawatirkan dia. Dia baik-baik saja. Kau percaya saja padaku."
"Memangnya siapa dirimu? Dan apa yang kau lakukan padaku?"Tanya Ulrich
"Soal diriku, tidak penting. Dan aku hanya ingin memberimu semua harta milik Je."
"Harta milik Je? Apa maksudmu... Kekuatannya?"Tanya Ulrich
"Ya."
"Jadi dia..."
"Kau benar. Dia mati. Tapi hanya sebentar. Dia akan baik-baik saja. Dia akan hidup lagi."
"Aku tidak mau kekuatannya jika ia harus mati!"Kata Ulrich
"Dia memang harus mati. Karena kejadian aneh tadi. Dia akan memperbaiki dirinya."
"Jadi aku akan melawan Xana untuk sementara?"Tanya Ulrich
"Tidak juga."
"Hah?"
Seratus cahaya itu langsung masuk ke tubuh Ulrich
Pakaian Ulrich berubah menjadi kostum Lyoko season 1-3
"Kostum Lyokoku!"
"Ulrich, terimalah ini."
Sebuah katana muncul di tangan Ulrich
"Katanaku!"
"Benar. Sekarang kalahkan Xana."
"Baik."
"Hahaha... Ulrich Stern. Samurai Jerman. Sudah lama aku tidak melihat kostummu yang jelek itu."Kata Xana
"Huh..."
"Lihat apa yang bisa aku lakukan."Kata Xana
Xana menghipnotis para LW termasuk Je dan merubah pakaian mereka menjadi kostum Lyoko 1-3 (Kecuali Je). Kenapa di hipnotis? Karena Xana tidak bisa merasuki para LW kecuali Jeremy dan Je.
Ulrich juga terhipnotis karena melihat mata Xana terlalu lama.
"Ternyata Ulrich juga terhipnotis. Ini terlalu mudah."
"Ugh... Aku... Ter... Hipnotis. Tidak!"
Matanya menjadi putih seluruhnya
Di pikiran Ulrich
"Aku tidak pernah menyangka. Tubuhku... Di kendalikan Xana."
"Ulrich! Ulrich! Sadarlah!"
Suara itu menggema di pikiran Ulrich
"Siapa itu?"
"Ulrich, ini kami! Jeremy dan Je! Tolong sadarlah. Kami mohon!"Kata Jeremy
Ulrich mencoba membuka matanya. Tapi tidak bisa
"Je, Jeremy, aku ingin bertemu kalian! Tapi sulit untuk membuka mata."Kata Ulrich
"Hiks... Ulrich! Tolong sadarlah! Aku rindu padamu!"Kata Jeremy
"Sudahlah, Jeremy. Jangan menangis lagi. Hapuslah air matamu. Aku yakin dia akan sadar."Kata Je
"Bagaimana jika dia tidak sadar? Aku takut kehilangan dia. Aku ingin bertemu dengannya. Setelah Xana membunuhku, aku tidak pernah bertemu dengannya!"Kata Jeremy
"Jeremy, aku juga ingin bertemu denganmu!"Kata Ulrich
"Jeremy, ini saatnya."Kata Je
"Ya."
Je dan Jeremy bergandengan tangan. Mereka menggabungkan kekuatan mereka.
"Ulrich, kami akan menyadarkanmu."Kata Je
"Siap?"Tanya Je
"Siap!"
Kekuatan mereka keluar dan mengelilingi Ulrich
"Sadarkan teman kami!"
Ulrich lenyap dari hadapan mereka.
Di tepi gunung
"Ulrich!"
Ulrich membuka matanya
"Ulrich! Aku senang kau sudah sadar."Kata Yumi
"Aku juga senang, Yumi"Kata Ulrich
Ulrich duduk dan melihat Je yang ada di belakang teman-temannya. Je terlihat sangat marah.
"Kau lihat apa? Oh... Aku tahu. Orang pemarah yang bernama Je, kan? Biarkan saja dia. Dia memang aneh."Kata Odd
"Maksudmu... Dia di kendalikan Xana?"Tanya Ulrich
"Tidak. Dia sedang marah."Jawab Odd
Ulrich berdiri
"Tadi... Terima kasih, ya. Je."Kata Ulrich
Tanpa berpikir panjang, Je langsung menampar Ulrich dengan sangat keras.
"Je, kau kenapa?"Tanya Odd
"Sudahlah, Odd. Aku tidak apa-apa."Kata Ulrich
"Aku benar-benar membencimu! Sejak awal aku baik padamu. Tapi dirimu selalu membuatku kesal!"Kata Je dengan marah
"Apa maksudmu? Dia baik padamu. Selama ini dia selalu mengkhawatirkanmu."Kata Yumi
Ulrich melihat mata Je yang berwarna merah.
"Mata ini... Apa ini mata yang sama dengan Jeremy saat dia terkutuk?"Tanya Ulrich di dalam hati
"Itulah yang ku benci darinya."Kata Je
Je langsung menghilang dan memukul Ulrich dari belakang. Ulrich terjatuh dan bangkit kembali.
"Sudah ku duga."
Ulrich langsung mengambil katananya.
Je melemparkan kekuatannya ke arah Ulrich. Ulrich pun menangkisnya dengan katananya. Dan terus seperti itu sampai 20 kali.
"Kenapa dia tidak menyerang Je? Dia malah menangkis serangannya."Kata Odd
"Benar juga, ya."Kata Aelita
"Bagaimana cara menghentikan ini?"Kata Ulrich di dalam hati
Ingattan Ulrich
Di kamar Ulrich
"Dan aku akan melukai seluruh orang jika aku tidak di sadarkan seseorang."Kata Jeremy
Di tepi gunung
"Je harus di sadarkan."Kata Ulrich di dalam hati
"Je!"Ulrich memanggi Je dengan kencang agar Je sadar.
"Ulrich! Kenapa kau menyebut namaku?"Tanya Je dengan marah
"Tidak. Aku hanya mengetes."Jawab Ulrich dengan ragu
"Apa aku harus memakai cara kekerasan? Jangan. Perlahan saja."Kata Ulrich
Ulrich menghilang dan langsung ada di belakang Je.
"Di mana dia?"Tanya Je
"Je!"Ulrich mengagetkan Je sambil memenggang bahu Je
Mata Je berubah menjadi hitam.
"Apa yang terjadi? Apa aku... Melakukan kejahattan lagi?"Tanya Je
"Ya. Pada Ulrich."Jawab Odd dengan kesal
Je langsung berlari ke suatu gua di tepi gunung.
"Je! Tunggu dulu! Biar ku jelaskan!"Kata Ulrich
"Kenapa kau baik padanya?"Tanya Odd
"Dia teman kita, Odd."Jawab Ulrich
"Je!"Ulrich berlari ke gua di tepi gunung
"Dia aneh."Kata Odd
Di gua
"Aku... Melukainya lagi. Aku melukainya lagi. Aku melukainya lagi!"Kata Je yang duduk di dalam gua
"Je, sudahlah. Kau kan tidak sengaja berbuat seperti itu."Kata Ulrich yang berdiri di belakang Je
"Tapi aku melukaimu. Pasti aku memukulmu sampai kau terluka."Kata Je
"Tidak. Aku tidak terluka. Aku baik-baik saja. Kau sama dengan Jeremy."Kata Ulrich
"Memang. Kami sama satu sama lain."Kata Je
"Menurutku juga begitu. Apa kalian bersaudara?"Tanya Ulrich
"Tidak. Kami tidak bersaudara."Jawab Je
"Benarkah?"Tanya Ulrich
"Benar."Jawab Je
"Hahaha..."
"Hah?"

Xana langsung mengeluarkan listriknya dan mengarahkannya pada Je.
Je berdiri dan menutup matanya.
"Seranglah aku. Aku layak untuk di serang."Kata Je di dalam hati
Xana langsung menyambarkan listriknya pada Je. Ulrich langsung melindungi Je.
"Agh..."
Ulrich terjatuh. Dia tidak bisa bangkit lagi.
"Ulrich!"
"Orang yang menyebalkan."Kata Xana
Xana menghilang dan menyerang Je dari samping.
"Agh..."
Je terlempar sampai menabrak batu
"Hahaha..."
Xana mengangkat Je dengan kekuatannya dan menjatuhkan Je dengan sangat keras.
Odd, Yumi, dan Aelita masuk ke gua karena mendengar suara yang sangat keras. Xana menghilang dari gua.
"Ulrich!"
"Di mana dia?"Tanya Yumi
"Itu. Di sana!"Kata Odd sambil menunjuk Ulrich
Yumi berlari ke arah Ulrich
"Ulrich, kenapa kau terluka? Apa ini ulah Je?"Kata Yumi di dalam hati
Yumi berhenti di depan Ulrich dan duduk
"Ulrich, bangun!"
Sementara Yumi membangunkan Ulrich, Odd sedang marah-marah pada Je.
"Je. Kau benar-benar keterlaluan! Kau melukai Ulrich hingga ia terluka parah!"Kata Odd
"Odd, sudahlah. Kau tidak perlu marah padanya."Kata Aelita
"Bagaimana bisa aku tidak marah? Dia sudah melukai Ulrich sampai seperti ini."Kata Odd
"Kau salah paham. Aku tidak melukainya. Dia melindungiku dari Xana saat ia ingin menyetrumku."Kata Je
"O ya? Dia tidak mungkin melindungi orang jahat sepertimu. Kau pasti berbohong."Kata Odd
"Aku berkata yang sebenarnya, Odd. Aku sungguh tidak berbohong."Kata Je
"Aku tidak percaya padamu! Bagaimana orang jahat bisa berkata jujur?! Daripada kau melukainya lagi, lebih baik kau pergi!"Kata Odd
"Tapi..."
"Cepat pergi dari sini!"Kata Odd
Je merasa bingung dan sedih mendengar kata2 Odd.
"Baik. Jika itu mau mu."Kata Je
Je langsung pergi dari gua itu.
"Jangan pernah kembali ke team kami!"Kata Odd
Di tepi gunung
"Hai!"Little Bird menghampiri Je
"Hai, Little Bird."Kata Je dengan lemas
"Kenapa suaramu terdengar aneh? Apa kau sedang sedih? Kalau kau sedih, kau bisa curhat denganku."Kata Little Bird
Je menceritakan semua yang terjadi.
"Sudahlah. Semua orang bisa salah paham. Begitu juga dengan burung. Kau hanya perlu minta maaf padanya. Aku yakin dia memaafkamu."
"Sudahlah. Aku memang orang jahat. Aku telah melukai Ulrich beberapa kali."Kata Je
"Bagaimana jika aku yang mengatakan pada Odd bahwa kau ingin minta maaf padanya?"Tanya Little Bird
"Tidak perlu."Jawab Je
"Sudah. Biar aku yang meminta maaf."
Little Bird langsung pergi ke gua
"Sudah ku bilang tidak perlu!"Kata Je
Tiba-tiba ada yang menyerang Je dari belakang.
"Agh..."
Di gua
"Odd, Je ingin minta maaf padamu. Dan kau harus memaafkannya."Kata Little Bird
Sementara Little Bird bicara, Yumi dan Aelita berjalan ke arah Little Bird. Dan Ulrich melihat keluar. Dia melihat kumpulan asap hitam sedang membawa Je
"Xana."
Ulrich keluar secara diam2 karena ia tahu bahwa Odd sedang marah pada Je.
Di luar gua
Kumpulan asap itu terbang ke suatu tempat yang jauh.
"Je!"
Ulrich mengejar asap hitam itu. Tapi asap itu terbang dengan sangat cepat. Untungnya, Ulrich memiliki...
"Super Spint!"
Ulrich berlari dengan sangat cepat dan mencoba melompat ke asap itu. Tapi ada serangan dari atas. Ulrich harus menghindarinya.
"Serangan ini menghalangiku."
Ulrich mengeluarkan katananya. Tanpa sengaja serangan itu mengenai katananya dan terpantul ke atas.
Kumpulan asap itu menghilang.
"Aaa..."
Je jatuh dari asap itu dan Ulrich menangkapnya.
"Ulrich, kenapa kau menolongku?"Tanya Je
Ulrich menurunkan Je dari tangannya.
"Itu memang sudah seharusnya, kan? Teman harus menolong teman yang lain."Jawab Ulrich
"Tapi, aku orang jahat. Seharusnya kau tidak menolongku."Kata Je
"Tidak. Menurutku kau orang yang baik."Kata Ulrich
"Kau sudah masuk ke dalam jebakkanku, Ulrich."Kata Je di dalam hati sambil tersenyum jahat
Di gua
"Sudah ku bilang Je itu orang jahat! Apa kau bekerja sama dengannya sehingga kami masuk ke dalam jebakkanmu dan Je?!"Tanya Odd
"Tidak. Aku hanya..."
Little Bird jatuh dan Yumi menangkapnya.
"Apa yang terjadi padamu?"Tanya Yumi
"Aku tidak tahu. Tadi kepalaku sangat sakit."Jawab Little Bird
"Apa kau sedang sakit?"Tanya Aelita
"Sepertinya begitu."Jawab Little Bird
Di tempat Ulrich dan Je
"Je! Apa yang kau lakukan?"Tanya Ulrich
Ulrich berjalan mundur sambil memegang katananya karena Je mengayunkan kayu runcing di depan wajahnya.
"Aku tidak melakukan apapun. Aku hanya mematuhi Tuanku."Jawab Je
"Tuanmu? Pasti Xana."
"Kau tahu? Aku adalah budak Xana yang di ciptakan untuk membunuhmu."Kata Je berhenti berjalan dan nerhenti mengayunkan kayunya
"Itu tidak mungkin."Kata Ulrich juga berhenti sambil memasukkan katanannya
"Mungkin saja. Dulu aku hanya berakting untuk membuatmu percaya padaku. Sampai sekarang kau tetap percaya padaku. Apa sekarang kau masih percaya padaku?"Tanya Je
"Bagaimana ini? Aku harus apa? Je itu sahabatku. Dia tidak mungkin budak Xana. Dia yang menolongku saat masih kecil. Dia yang menghiburku saat aku sedih. Dia orang yang memiliki kekuatan yang dasyat. Tapi apa benar kalau dia budak Xana?"Kata Ulrich di dalam hati
Ingattan Ulrich
Di taman
"Ulrich, kau jangan pernah percaya padaku suatu saat nanti."Kata Je
"Memangnya kenapa, Kak?"Tanya Ulrich
"Aku takut dirimu terjebak dalam kejahattanku."Jawab Je
"Memangnya Kakak ingin menjadi jahat?"Tanya Ulrich
"Tentu saja tidak. Aku takut diriku di kendalikan Xana dan berkata hal yang tidak benar. Kau perlu ingat kalau aku adalah Je. Tapi bukan hanya Je. Tapi Je Bluepois."
"Kakak ingin menghiburku atau nama Kakak mirip dengan nama Jeremy?"Tanya Ulrich
"Namaku memang itu. Suatu saat pasti kau bisa mengetahui namaku jika kau berpikir."Jawab Je
Kembali ke tempat Ulrich
"Je Bluepois? Jangan2 dia Jeremy Belpois. Tapi ada satu Jeremy Belpois lagi. Lalu siapa Jeremy yang asli?"Kata Ulrich di dalam hati

"Hya..."
Je mengambil katana Ulrich dan menyetrum Ulrich hingga ia pingsan.
"Hahaha..."
Kumpulan asap terbentuk lagi dan membawa Ulrich ke suatu tempat yang jauh.
"Bagus. Tinggal 3 lagi."
Je merubah dirinya menjadi Ulrich dan pergi ke gunung.
Di gua
"Little Bird, apa kau sudah merasa lebih baik?"Tanya Yumi
"Sudah. Aku... sudah merasa lebih baik."Jawab Little Bird
Yumi menurunkan Little Bird dari tangannya.
"Apa yang sedang kalian lakukan?"
"Ulrich, kau kemana saja?"Tanya Odd
"Aku hanya berjalan2 sebentar."Jawab Ulrich
"Kau tidak mengobrol dengan Je, kan?"Tanya Odd
"Tentu saja tidak."Jawab Ulrich
"Aku mulai saja sekarang. Hahaha..."
"Mulai apa? Kenapa kau tertawa?"Tanya Aelita
"Hmm... Tidak ada."Jawab Ulrich
Ulrich berjalan dua langkah dan membuat Odd, Yumi, Aelita, dan Little Bird tidak bisa bergerak.
"Hahaha..."
Lalu, Ulrich menjentikkan jarinya. Seekor burung hitam raksasa datang.
"Beri aku tumpangan ke markas."
Ulrich meletakkan Odd, Yumi, Aelita, dan Little Bird di atas burung itu. Dan burung itu terbang ke markas.
Di markas
Banyak penjara di sana. Banyak orang yang di penjara. Semua orang bersedih, kelaparan, dan kehausan. Mereka yang ingin keluar dari sana, akan di keluarkan, dan langsung di bunuh.
Ulrich sampai di markas dan memasukkan Odd, Aelita, Yumi, dan Little Bird ke penjara. Khusus untuk Little Bird di masukkan ke sarang burung yang terbuat dari besi dan di kunci dengan sandi yang sangat panjang.
"Nikmati penjara kalian, Lyoko Warriors. Hahaha..."
Ulrich mengunci pintu penjara dengan gembok dan rantai. Lalu membuat Aelita, Odd, Yumi, dan Little Bird bisa bergerak dan menjaga penjara itu
"Tempat apa ini?"Tanya Odd
"Aku tidak tahu. Tapi ada Ulrich di luar."Jawab Yumi
"Ulrich, tolong keluarkan kami dari sini!"Kata Yumi
Ulrich melihat Lyoko Warriors dengan tajam dan tersenyum jahat pada mereka. Lalu dia berubah menjadi Je.
"Je!"
"Kau! Kenapa kau memenjarakan kami di sini?!"Tanya Odd
"Aku hanya menurutti Tuanku."Jawab Je
"Je, kau bukan budak Xana! Kau teman kami!"Kata Aelita
"Teman? Aku bukan teman kalian! Aku adalah musuh kalian. Itulah teman kalian."Kata Je sambil menunjuk Ulrich yang pingsan di penjara di depan penjara Lyoko Warriors.
Tangannya terborgol dan kepalanya berlumuran darah.
"Ulrich!"
Ulrich membuka matanya dan berdiri. Dia memegang sel pernjara dan tersetrum.
"Ulrich!"
Ulrich terjatuh dan bangkit lagi. Dia terus memegang sel penjara dan terus tersetrum. Sampai akhirnya ia sekarat.
"Ulrich! Jangan lakukan itu lagi!"Kata Yumi
"Kalau Ulrich lakukan itu satu kali lagi, dia akan mati. Hahaha..."Kata Je
Ulrich melakukan itu lagi.
"Aku harus bisa keluar dari sini."Kata Ulrich di dalam hati
Ulrich menyentuh sel penjara dan tersetrum lagi.
"Ulrich!"
"Bruk..."
"Ulrich, kenapa kau lakukan itu?"Kata Yumi di dalam hati
Para Lyoko Warriors bersedih.
Sedangkan di luar penjara, sebuah kekuatan dari seseorang membuka pintu penjara Ulrich.
"Kekuatan?"
Yumi melihat luar penjara. Dia melihat Je mengeluarkan kekuatannya. Dan dia melihat mata Je yang terlihat biru.
"Je,"
"Hai, Yumi. Aku akan melakukan sedikit bantuan untuk Ulrich."
"Ok. Terima kasih atas bantuanmu."
Je berlari ke penjara Ulrich dan duduk di dekat Ulrich.
"Ulrich, aku akan berusaha."
"Bum..."Kekuatan besar meledak
"Ulrich!"
Je melihat Ulrich yang masih tertidur
"Aku tidak berhasil."
Tiba2 terjadi gempa.
"Gempa!"
Je langsung membebaskan semua tahanan penjara dengan kekuatanya. Lalu ia membuat Little Bird menjadi burung yang besar.
"Semuanya, naik ke burung ini."Kata Je
Semua orang naik ke punggung Little Bird
"Cepat terbang dan pergi ke tempat yang aman."Kata Je
Little Bird terbang ke tempat yang aman.
Je membawa Ulrich dan pergi dari tempat itu.
Je merasa suhu udara di sekita tempat itu sangat panas.
Ternyata ada lava yang mengalir di belakang Je.
"Jangan2 ada gunung meletus."Kata Je
Akhirnya dia keluar dari markas. Tapi lava itu masih mengejar Je. Dan abu vulkanik menutupi jalan.
"Abu vulkanik. Aku harus memakai masker dan kacamata. Tapi sepertinya ada cara lain."Kata Je
Dia berhenti membuat sebuah perisai berbentuk seperti bola dan berlari lagi.
"Ini baru pelindung yang sempurna."
"Je! Di mana kau?! Keluarkan kekuatanmu jika kau mendengarku."Suara itu adalah suara Little Bird
Je langsung mengeluarkan kekuatannya sambil berlari.
"Wush..."Kekuatan Je terbang ke atas
Little Bird langsung ke bawah dan mencengkram tubuh Je dan Ulrich dan membawa mereka pergi.
"Bagus, Little Bird!"Kata Je
"Terima kasih."Tanya Little Bird
"Sama2."
"Je,"
"Apa kau memanggilku, Little Bird?"Tanya Je
"Tidak. Aku tidak memanggilmu."Jawab Little Bird
"Kalau begitu..."
"Ulrich, apa kau sudah sadar?"Tanya Je
Ulrich hanya menganggukan kepalanya.
Mereka sampai di tempat yang gelap.
Little Bird menurunkan Je dari kakinya dan cepat2 pergi dari tempat itu dengan membawa Ulrich.
"Je!"
"Ulrich!"
Je berlari mengejar Little Bird. Tapi kegelapan menutupinya. Je tidak bisa melihat apapun.
"Aku harus kemana? Aku tidak bisa melihat apapun."Kata Je
Kegelapan itu lenyap. Akhirnya Je bisa melihat sekitarnya.
Je berada di Istana berhantu yang pernah Aelita datangi.
"Istana ini..."
Ingattan Je
"Selamat tinggal, Ulrich!"
Jeremy bersedih sambil berlari.
Tiba2 kabut menghalangi jalannya.
"Di mana semua orang? Dan aku harus ke mana?"Tanya Jeremy
Tak lama kabut itu menghilang.
"Kabutnya sudah hilang. Akhirnya aku bisa melihat apa yang ada di sekitatku lagi."
Jeremy melihat sebuah Istana tua di depannya.
"Istana itu terlihat tua dan berhantu. Tidak. Aku akan masuk ke dalam untuk memastikan."Kata Jeremy
Jeremy masuk ke dalam Istana.
Saat berjalan ke pintu Istana, tiba2 ada suara yang kencang.
"Bruk..."
Burung2 terkejut dan terbang.
Jeremy berlari untuk masuk ke Istana.
Setelah ia berlari, akhirnya dia masuk ke dalam Istana.
Pintu Istana itu tertutup.
"Blam..."
Jeremy menengok ke belakang.
"Pintunya terkunci. Ya sudah kalau begitu."
Jeremy menelusuri Istana itu.
Saat menelusuri Istana, ia menemukan sebuah cermin raksasa di sebuah ruangan Istana.
"Cermin ini besar sekali!"
Jeremy memegang cermin itu dan tertarik masuk ke dalam cermin.
Kembali di tempat Je
"Ini Istana yang waktu itu. Saat aku masih di tubuhku yang asli, aku menemukan cermin besar dan masuk ke dunia yang aneh."Kata Je
Je melihat sebuah cermin besar di depannya. Tapi cermin itu berbeda dari yang dulu.
"Cermin."
Je berlari ke cermin itu.
"Aku harus masuk agar bebas. Satu dua tiga!"
"Buk..."Kepala Je terbentur cermin
"Tidak... Bisa."
"Bruk..."
Di tempat Ulrich
"Apa maksud semua ini?!"Tanya Ulrich
"Tidak ada. Aku hanya menolongmu, Ulrich. Je yang bersamamu tadi adalah Xana."
"Tidak. Kau Xana. Je yang tadi adalah Je yang asli!"Kats Ulrich
"Ulrich, apa kau yakin?"Tanya Yumi
"Tentu. Aku 100% yakin."Jawab Ulrich
Di Istana
"Auw... Itu sakit sekali."Kata Je sambil memegang kapalanya yang sakit.
Je merasakan ada sesuatu di tangannya yang sedang memegang kepalanya.
Je melihat tangannya.
"O tidak. Berdarah."
Je langsung mencari sebuah gulungan perban.
Tak lama, ia menemukannya di bawah meja. Je mengambilnya dan memerban kepalanya yang berdarah.
Di tempat Ulrich
"Kalau begitu, baiklah."
Xana mendekati Ulrich. Dan Ulrich berjalan mundur. Hingga akhirnya Xana mendorong Ulrich ke dalam dinding es ajaib
Yumi, Aelita, dan Odd ingin masuk ke dalam dinding es itu.
Tapi saat mereka memegang dinding es itu, tangan mereka tidak bisa masuk ke dalam dinding es itu.
"Bagaimana ini? Kita tidak bisa menemani Ulrich di dalam sana."Kata Aelita
Di Istana
Je sedang mencari cermin lain.
"Aku harus mencari cermin agar aku bisa bertemu yang lainnya."
Je menemukan dinding es di salah satu ruangan Istana yang dingin.
Je masuk ke ruangan itu.
"Brr... Dingin sekali. Kenapa ada dinding es di sini?"
Je melihat sebuah lemari dan membukanya.
Ternyata isinya dua baju hangat.
"Aku akan mengambilnya satu agar aku hangat. Dan mungkin aku perlu satu lagi untuk jaga2."
Je mengambil dua baju hangat itu. Salah satu dari dua baju itu ia pakai. Satunya lagi ia pegang.
Je berjalan ke dinding es dan menyentuh dinding es itu.
Tiba2 dinding es itu bercahaya.
"Apa yang terjadi?"
Tak lama cahaya itu merambat ke tubuh Je
"Wow..."
Cahaya itu ternyata merambat ke matanya. Cahaya itu membuat mata Je berubah warna. Setelah itu, cahaya itu menghilang. Tubuh Je langsung masuk ke dalam dinding es.
Di suatu pulau yang bersalju, ada Ulrich yang sedang mencari jalan keluar.
"Kenapa di sini harus ada salju? Aku kedinginan."
"Bruk..."
Ada seseorang yang jatuh dari langit. Dia pingsan di depan Ulrich. Ulrich menghampiri orang itu dan membangunkannya.
Saat Ulrich membangunkannya, Ulrich melihat wajah orang itu. Wajah yang tak asing baginya. Je.
"Je,"
"Bagaimana dia bisa ke sini?"
Ulrich melihat perban bernoda merah yang melilit di kepala Je. Ulrich khawatir melihatnya.
"Apa kepalanya berdarah?"
Je membuka matanya.
Ulrich hanya tersenyum kecil pada Je. Tapi Ulrich bingung saat melihat mata Je.
"Ulrich,"
"J... Je, apa... yang terjadi pada matamu?"Tanya Ulrich
"Apa maksudmu, Ulrich?"Tanya Je

"Matamu berubah warna. Terakhir aku lihat matamu berwarna biru. Sekarang, abu2."Jawab Ulrich
"Ini pasti karena dinding es tadi. Ini bisa berpengaruh pada kekuatanku."Kata Je
"Apa dinding es itu yang membawamu ke sini? Dan apa pengaruhnya terhaap kekuatanmu?"Tanya Ulrich
"Ya. Aku tidak tahu apa pengaruhnya."Jawab Je
"Keluarkan saja kekuatanmu."Kata Ulrich
Je menganggukkan kepalanya dan mengeluarkan kekuatannya.
Yang keluar adalah kumpulan kristal es yang melayang dengan cepat ke arah Ulrich. Itu membuat Ulrich menjadi patung es.
Je terkejut melihatnya. Dia langsung mendekati Ulrich.
"Ulrich! Maafkan aku. Aku akan mengubahmu kembali."Kata Je
Je mencoba mengubah Ulrich menjadi semula. Dia mengeluarkan kekuatannya berkali2. Tapi ia tidak bisa mengubah Ulrich.
"Bagaimana ini? Aku sudah mencoba semuanya. Tapi tidak berhasil."Kata Je
Je bersedih karena gagal mengubah Ulrich.
Tiba2 semua salju mencair. Es juga mencair. Es yang ada di tubuh Ulrich juga mencair.
"Je, kau dapat mengubahku menjadi patung es. Kekuatanmu saat ini adalah es. Itu sangat hebat!"Kata Ulrich
"Ulrich, kau tidak membeku lagi?"Tanya Je
"Tentu saja tidak."Jawab Ulrich
"Maafkan aku. Aku telah mengubahmu menjadi patung es."Kata Je
"Tidak apa2. Yang penting kau tahu apa kekuatanmu saat ini."Kata Ulrich
Ulrich melihat pemandangan sekitarnya yang terlihat tak bersalju lagi.
"Hmm... Bagaimana bisa salju di sini meleleh?"Tanya Ulrich
"Aku tidak tahu."Jawab Je
"Bagaimana bisa kau tidak tahu? Kau kan melihatnya."Kata Ulrich
"Aku tidak melihatnya! Aku tidak tahu sama sekali dengan hal ini!"Kata Je
"Kau pasti berbohong!"Kata Ulrich
"Tidak aku jujur padamu. Sudah ku bilang aku tidak tahu!"Kata Je
"Bohong! Kau pasti berbohong padaku! Kau pasti melihat apa yang terjadi di tempat ini!"Kata Ulrich
"Aku jujur! Aku tidak melihatnya!"Kata Je
Badai salju melanda tempat itu. Mata Je tiba2 berahaya.
"Apa yang terjadi padanya? Apa jangan2 badai salju ini berasal dari perasaannya. Jika ia sedih, maka salju akan meleleh. Jika marah, badai salju akan datang. Berarti aku harus menghetikannya sebelum badai semakin besar."Kata Ulrich di dalam hati
"Ulrich! Apa... Yang terjadi di sini?! Aku tidak bisa mrnghentikan semua!"Kata Je
"Hmm..."
"Aku harus membuat Je sedih."Kata Ulrich di dalam hati
"Je, pengalaman apa yang membuatmu sedih?"Tanya Ulrich
"Pengalaman masa kecil saat kau di rawat di rumah sakit. Kau terluka sangat parah karena aku memukulmu."Jawab Je
"Itu Jeremy yang memukulku bukan kau."Kata Ulrich
"Kau ingat apa yang pernah ku katakan? Namaku Je Bluepois."Kata Je
"Je Bluepois, jadi, benar kau Jeremy Belpois?"Tanya Ulrich
"Benar."
"Aku tidak percaya ini!"Kata Ulrich
Badai salju berhenti
"Badainya berhenti. Terima kasih, Ulrich!"Kata Je (Now Jeremy)
"Sama2, Jeremy. Tapi badai itu berhenti karena dirimu sendiri."Kata Ulrich
"Tolong jangan memanggilku Jeremy. Karena aku terlihat berbeda dari diriku yang sebenarnya. Kau tahu itu, kan?"Tanya Jeremy
"Tapi itu namamu kan, Jeremy? Dan kau terlihat lebih keren daripada sebelumnya. Dan kau juga banyak berubah. Kau memiliki kekuatan yang luar biasa, semangatmu yang pantang menyerah itu lebih besar daripada sebelumnya. Lalu rasa ketakutanmu sedikit demi sedikit hilang. Aku menyukai dirimu yang sekarang, Einstein."Kata Ulrich
"Benar apa katamu. O ya. Ini untukmu."Kata Jeremy sambil memberikan baju hangat cadangannya tadi pada Ulrich.
"Aku lupa memberikannya tadi."Sambung Jeremy
Ulrich mengambil baju itu.
"Terima kasih."Kata Ulrich
"Sama2."Kata Jeremy
"Sekarang, bagaimana cara kita keluar dari sini?"Tanya Ulrich
"Aku tidak tahu."Jawab Jeremy
Jeremy melihat sebuah pohon yang sangat besar. Jeremy pikir pohon itu terlihat aneh.
"Aku pergi untuk melihat pohon itu dulu."Kata Jeremy
"Aku ikut!"Kata Ulrich
Jeremy dan Ulrich pergi ke pohon besar itu.
"Jeremy, sekarang kau mau kan di panggil Jeremy?"Tanya Ulrich
"Tentu. Aku rindu saat teman2ku memanggilku Jeremy dan Einstein."Jawab Jeremy
Mereka sampai di depan pohon itu.
Jeremy melihat batang pohon itu memiliki simbol kristal es.
"Apa maksudnya?"Tanya Ulrich
"Aku tidak tahu. Aku akan membuat kristal es dan meletakkannya di batang pohon itu."Jawab Jeremy
Jeremy membuat kristal es dengan kekuatannya dan meletakkannya di batang pohon.
Tiba2 batang pohon itu bersinar.
"Jeremy, kau hebat!"Kata Ulrich
"Itu bukan apa2."Kata Jeremy
Kumpulan kristal es muncul dan mengelilingi Jeremy dan Ulrich.
Tak lama, kristal es itu menghilang.
"Hah? Tidak ada yang terjadi."Kata Ulrich
Ulrich menengok ke arah Jeremy.
"Hah? Jeremy!"

Ulrich melihat Jeremy yang terbaring di selimut putih yang dingin atau salju.
Ulrich duduk di dekat Jeremy dan membangunkannya.
"Jeremy, bangunlah!"
"Ku dapatkan dia! Hahaha..."Kata seseorang yang berjalan sambil menarik seseorang yang tangannya terikat rantai.
"Lepaskan aku!"
Ulrich melihat kejadian itu.
"Itu Jeremy. Lalu siapa yang ada di dekatku?"Tanya Ulrich
Orang yang menangkap Jeremy melihat Ulrich yang sedang melihatnya.
"Ulrich! Cepat pergi dari sana!"
Orang yang menangkap Jeremy menjentikkan jarinya dan membuat Jeremy yang di dekat Ulrich menghilang. Lalu orang yang menangkap Jeremy itu berubah menjadi Xana.
"Rasakan ini, Stern!"
Xana membuat Ulrich terpental jauh dengan kekuatannya.
"Aaa..."
"Ulrich!"
Jeremy berlari untuk mencari Ulrich Tapi Xana menarik Jeremy dengan rantai yang di pegannya.
Jeremy tertarik dan terjatuh.
"Kau ingin menyusulnya? Tidak akan ku izinkan!"Kata Xana
Xana menyetrum Jeremy
"Agh..."
"Hahaha... Itulah hukuman untukmu."Kata Xana
"Dan satu lagi untukmu!"
Xana memukul wajah Jeremy dengan keras.
"Xana kau... Kau benar2 kejam!"Kata Jeremy di dalam hati
Tiba2 terjadi badai salju yang dasyat.
"Ada apa ini? Kenapa ada badai salju?!"
Rantai yang mengikat tangan Jeremy membeku.
Jeremy menarik rantai itu untuk memutuskan rantai dari tangan Xana. Dan rantai lepas dari tangan Jeremy.
Xana melihat Jeremy yang telah lepas dari rantai.
"Kau... Beraninya kau!"Kata Xana
Jeremy langsung membekukan tubuh Xana dengan kekuatannya. Dan Xana membeku.
"Itulah yang kau dapatkan jika kau membuatku marah!"
Jeremy memejamkan matanya dan membuka matanya lagi.
Matanya menjadi putih seluruhnya.
Di tempat Ulrich
"Jeremy! Di mana kau?"Ulrich mencari Jeremy
"Kalau aku tidak bisa menemukannya, berarti dia dalam bahaya!"Kata Ulrich
Tiba2 terjadi badai salju
"Badai. Apa ini di sebabkan oleh kemarahan Jeremy? Kalau ya, pasti dia di sekitar sini."Kata Ulrich
Ulrich melihat Jeremy yang menatapnya dari jauh dengan mata putihnya.
"Jeremy, senang sekali aku bisa menemukanmu!"Kata Ulrich yang berlari ke arah Jeremy dengan senang sampai2 dia tidak melihat mata Jeremy.
Jeremy merentangkan tangannya ke depan. Ulrich berhenti berlari.
"Ada apa? Apa ada yang salah di sini?"Tanya Ulrich
Badai salju semakin dahsyat
"Oh... Jadi kau memperingatkan ada badai salju? Terima kasih sudah memberitahukannya."Kata Ulrich
Jeremy langsung mengubah Ulrich menjadi patung es. Lalu Jeremy menggenggam tangannya. Patung es Ulrich menjadi hancur berkeping2.
Sebuah portal muncul di depan Jeremy dan dia pun masuk ke dalam portal itu.
Di dalam gua es
"Odd, apa kau yakin ada dinding es yang bisa membawa kita ke tempat Ulrich?"Tanya Yumi
"Aku yakin. Tenang saja. Tapi kita harus cepat menemukan sebelum bayangan hitam itu menemukan kita."Jawab Odd
"Saat Xana menyamar menjadi Je, aku sedikit kesulittan membedakan Je yang asli dengan yang palsu."Kata Aelita
"Itu tidak sulit. Kita dapat membedakannya dari matanya. Kalau matanya merah, berarti dia Xana. Kalau biru, berarti itu Je yang kita kenal. Kalau hitam, Je yang tidak memiliki kekuatan."Kata Yumi
"Ka... Kalau putih seluruhnya, itu bertanda apa?"Tanya Odd dengan nada ketakutan
"Aku tidak pernah melihatnya dengan mata putih seluruhnya sebelumnya. Memangnya ada yang seperti itu?"Tanya Yumi sambil menengok Odd
Yumi terkejut melihat Odd yang berubah menjadi patung es.
"Odd,"
"Ae... Aelita kau tahu apa yang terjadi pada Odd?"Tanya Yumi
Aelita tidak menjawab.
"Aelita, kenapa kau..."
Yumi menengok ke belakang. Dan ia berubah menjadi patung es
"Je, apa yang kau lakukan pada mereka?!"Tanya Aelita
Jeremy berjalan ke arah Aelita
"J... Je, a... Apa yang akan kau lakukan padaku?"Tanya Aelita
Jeremy berhenti di hadapan Aelita dan mengelus rambut pink Aelita.
"Kenapa dia mengelus rambutku?"Kata Aelita di dalam hati
Aelita melihat Jeremy dengan wajah ketakutan
"Jangan takut. Aku tak akan menyakitimu."Kata Jeremy sambil memegang tangan Aelita
"Tanganmu dingin sekali."Kata Aelita
"Maaf."Kata Jeremy sambil melepas tangan Aelita
Jeremy menggenggam tangannya. Patung es Yumi dan Odd hancur berkeping2.
Aelita terkejut melihat Odd dan Yumi hancur.
"Kau keterlaluan!"Kata Aelita
Aelita menampar pipi Jeremy dengan keras.
Mata Je kembali menjadi warna abu2.
"Kau tega merubah teman2 kita menjadi patung es! Lalu kau menghancurkan mereka! Je, kau jahat sekali!"Kata Aelita
"Kau jahat!"
Aelita meneteskan air mata.
"Maafkan kejahattanku, Aelita."Kata Jeremy
Jeremy mengeluarkan kekuatannya untuk mengembalikan Yumi, Odd, dan Ulrich menjadi semula.
Yumi dan Odd tidak bisa berubah menjadi semula. Tapi, Ulrich...
"Jeremy!"
Ulrich datang dengan senang
"Ulrich! Aku senang kau tidak hancur lagi. Maafkan aku, Ulrich."Kata Jeremy
"Tak apa. Yang penting kau senang."Kata Ulrich
"Tapi, aku melakukan kesalahan. Odd dan Yumi... Mereka tidak bisa di rubah kembali."Kata Jeremy
"Kau harus mencobanya lagi, Jeremy. Jangan menyerah. Aku akan membantumu. Kau ingat kan, tadi saat berdiri di depan pohon tadi? Ternyata pohon itu memberiku sedikit kekuatan!"Kata Ulrich
"Itu luar biasa!"Kata Jeremy
"Tunggu dulu. Kau Jeremy?!"Tanya Aelita
"Yup."Kata Jeremy
"Aku benar2 tidak percaya ini! Bagaimana bisa kau di dalam tubuh itu?"Tanya Aelita
"Nanti aku ceritakan padamu. Sekarang aku harus merubah Odd dan Yumi dulu."Kata Jeremy
"Jeremy, aku minta maaf atas tadi."Kata Aelita
"Aku memaafkanmu."Kata Jeremy
"Terima kasih. Aku benar2 minta maaf."Kata Aelita
Jeremy mengangguk
Ulrich dan Jeremy menggabungkan kekuatan mereka dengan formasi membelakangi satu sama lain dan merentangkan salah satu tangan mereka.
Kepingan tubuh Odd dan Yumi menyatu pada tempatnya. Lalu mereka mencairkan esnya.
"Dingin sekali!"Kata Odd sambil melihat Jeremy dan Ulrich yang masih dalam formasi mereka.
"Apa yang kalian lakukan?"Tanya Odd
Jeremy dan Ulrich langsung mengahiri formasi mereka
"Hmm... Itu bukan apa2."Kata Jeremy
"Ohh..."
"Kita berhasil, Jeremy!"Kata Ulrich
"Ya!"Kata Jeremy
"Jeremy?"Kata Odd dan Yumi bersamaan
"Ya. Dia Jeremy. Jeremy ceritakan bagaimana kau bisa di tubuh yang sekarang."Kata Aelita
"Tunggu dulu. Kenapa matamu berwarna abu2?"Tanya Yumi
"Karena aku mempunyai kekuatan baru. Yaitu kekuatan es."Jawab Jeremy
"Wow! Itu keren!"Kata Yumi
"Jeremy, ceritakan sekarang!"Kata Aelita
"Baik."Kata Jeremy
Semua LW langsung duduk dan mulai mendengarkan cerita Jeremy.
"Saat itu, aku masih berumur 7 tahun. Aku sedang bermain bersama Ulrich di halaman apartemennya."Kata Jeremy
Di halaman Apartemen Ulrich
"Jeremy, ayo ke sini!"Kata Ulrich kecil yang sedang melihat dua cahaya biru terbang yang ada di balik semak-semak
"Baik!"Kata Jeremy kecil
Jeremy berjalan ke arah Ulrich.
Tapi tiba-tiba, dia jatuh pingsan.
"Bruk..."
Ulrich menengok ke belakang dan berlari ke arah Jeremy.
"Jeremy!"
Ulrich menggotong Jeremy ke dalam apartemen.
Jeremy terbangun
"Lepaskan aku!"Kata Jeremy
Ulrich langsung melepaskan Jeremy
"Kau sudah sadar rupanya!" Kata Ulrich
Jeremy langsung memukul Ulrich dengan keras. Ulrich terjatuh dan pingsan.
"Hahaha..."
"Jeremy!"
Mata Jeremy berubah menjadi biru.
"Tadi kau memukul Ulrich?"Tanya Ayah Ulrich
"Bukan. Bukan aku."Jawab Jeremy
"Aku melihatnya dari atas. Kau benar-benar keterlaluan, Nak. Lebih baik kau jangan mendekati anakku lagi!"Kata Ayah Ulrich
Jeremy begitu kecewa dan menggotong Ulrich.
"Tidak perlu! Sebaiknya kau pergi! Jangan pernah kembali kesini! Kau selalu melukai anakku."Kata Ayah Ulrich
Jeremy langsung berlari dengan sedih.
"Ada apa sebenarnya?! Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Ulrich selalu terluka?!"Kata Jeremy
Di apartemen Ulrich
"Asisten! Tolong obatti anakku!"Kata Ayah Ulrich sambil membawa anaknya yang terluka cukup parah.
"Maaf, Tuan. Saya tidak bisa mengobatinya. Lukanya terlalu parah."Kata Asisten Apartemen yang sebenarnya adalah Dokter
"Lalu bagaimana dengan Anakku?"Kata Ayah Ulrich yang mengkhawatirkan anaknya
"Kita harus membawanya ke rumah sakit."
Di taman
"Hiks... Hiks..."
Anak pirang itu terus menangis. Air matanya mengalir dengan deras memikirkan sahabat sejatinya yang terluka parah.
"Bagaimana keadaannya? Apa dia meninggal karena diriku?"Kata Jeremy di dalam hati
Seorang anak perempuan Jepang mendekatinya.
"Hai, Jeremy!"
"Tolong tinggalkan aku, Yumi. Aku ingin sendirian dulu."
"Oh... Baiklah kalau begitu. Sampai jumpa!"
Dia pergi menjauh dari Jeremy.
"Aku harus ke Rumah Sakit untuk memastikan saja."
Jeremy berlari ke Rumah Sakit
Setelah sampai
"Permisi. Apa Ulrich Stern ada di sini?"
"Ada. Dia di kamar 768."
"Terima kasih."
Jeremy pergi ke kamar itu.
Orang tua Ulrich pulang ke apartemen. Mereka tidak melihat Jeremy. Jeremy melihat mereka.
Setelah sampai di kamar itu
Jeremy bertemu seorang Dokter
"Hai! Apa aku boleh menjenguk temanku?"
"Tentu. Silahkan."
"Terima kasih."
Jeremy langsung masuk ke kamar sahabatnya.
"Ulrich, melihat dirimu yang terluka seperti ini, aku merasa bersalah. Aku minta maaf."Kata Jeremy
Jeremy mengambil sebuah kertas dan pulpen yang ada di kamar itu. Dan Jeremy menulis sebuah surat untuk Ulrich
"Kepada sahabatku, Ulrich Stern. Aku ingin minta maaf atas perbuatanku yang amat keji. Aku selalu memukulmu dan kau terluka sangat parah. Karena perbuatanku itu, Ayahmu tidak mengizinkan diriku untuk bertemu denganmu lagi. Dan aku akan pergi dari sini.
Karena aku tidak ada di dunia ini lagi.
Salam dari sahabatmu, Jeremy Belpois "
Jeremy melipat kertas itu dan memberikannya pada Dokter.
"Dok, Ini surat untuk Ulrich. Tolong berikan setelah dia sudah lebih baik."Kata Jeremy
"Baik."Kata Dokter
"Terima kasih."
Jeremy terburu-buru pergi dari Rumah Sakit
"Selamat tinggal, Ulrich!"
Jeremy terus berlari. Tapi ia tak tahu harus kemana.
Tiba2 kabut menghalangi jalannya.
"Di mana semua orang? Dan aku harus ke mana?"Tanya Jeremy
Tak lama kabut itu menghilang.
"Kabutnya sudah hilang. Akhirnya aku bisa melihat apa yang ada di sekitarku lagi."
Jeremy melihat sebuah Istana tua di depannya.
"Istana itu terlihat tua dan berhantu. Tidak. Aku akan masuk ke dalam untuk memastikan."Kata Jeremy
Jeremy masuk ke dalam Istana.
Saat berjalan ke pintu Istana, tiba2 ada suara yang kencang.
"Bruk..."
Burung2 terkejut dan terbang.
Jeremy berlari untuk masuk ke Istana.
Setelah ia berlari, akhirnya dia masuk ke dalam Istana.
Pintu Istana itu tertutup.
"Blam..."
Jeremy menengok ke belakang.
"Pintunya terkunci. Ya sudah kalau begitu."
Jeremy menelusuri Istana itu.
Saat menelusuri Istana, ia menemukan sebuah cermin raksasa di sebuah ruangan Istana.
"Cermin ini besar sekali!"
Jeremy memegang cermin itu dan tertarik masuk ke dalam cermin.
Kembali ke gua es.
"Setelah itu..."Jeremy memikirkan apa yang selanjutnya terjadi
"Selanjutnya apa, Jeremy?"Tanya Aelita
"Hmm..."
"Kau tidak ingat apa selanjutnya?"Tanya Ulrich
"Iya. Maafkan aku."Kata Jeremy
"Tuk tuk tuk"Xana berjalan masuk ke gua es
"Ingattanmu sangat buruk. Bicara tentang ingattan burukmu itu, Je... remy, aku bisa membuatmu mengingatnya kembali."Kata Xana
"Simpan saja saranmu. Tapi bagaimana kau tahu kalau aku Jeremy?"Tanya Jeremy
"Terserah kau saja. Padahal aku sangat ingin membantumu. Masalah aku tahu bahwa kau Jeremy, itu rahasia."Jawab Xana
"Benarkah kau mau membantunya?"Tanya Odd
"Tentu saja."Jawab Xana
"Apa ada syaratnya?"Tanya Yumi
"Tentu saja tidak, Ishiyama. Aku ikhlas membantunya."Kata Xana
"Jarang sekali Xana ingin membantu. Pasti ada maksud jahat di balik semua ini."Pikir Ulrich
"Aku pikir, Xana hanya berbohong. Ternyata ia benar2 mau membantuku. Tapi aku sedikit curiga."Kata Jeremy di dalam hati
"Bagaimana, Jeremy? Apa kau mau aku membantumu?"Tanya Xana
"Katakan ya, Jeremy!"Kata Aelita
"Benar! Katakan ya!"Kata Odd dan Yumi bersamaan
Ulrich menghampiri Jeremy dan memegang bahu Jeremy.
"Aku curiga dengannya. Tapi coba saja. Jika kau mau. Aku tidak memaksa."Kata Ulrich
Ulrich melepaskan bahu Jeremy mundur 2 langkah.
"Hmm... Ok. Tapi tunggu sebentar. Aku perlu bersiap2 dulu."Kata Jeremy
"Ok. Aku menunggumu."Kata Xana
Jeremy pergi bersembunyi di balik dinding es.
"Hahaha... Bersiap2lah, Jeremy."Kata Xana di dalam hati
Di balik dinding es
"Aku takut ia benar2 akan mengambil kekuatanku atau menghapus ingattanku. Aku harus berbuat apa? Aku tidak bisa menolak permintaan teman2ku."Kata Jeremy di dalam hati

To be continue