LATE [Chapter 2-End]
Tittle: LATE
Author: a007kid
Length: Chapter
Genre: Yaoi,Love,Romance,Hurt,Sad.
Rating : PG
Main cast : Byun Baekhyun & Park Chanyeol
Additional cast : Exo K and Exo M members.
Disclaimer : Fanfic ini fiksi dan original buatan saya. All chara is belong to God. Ini fanfic pertama yang saya buat pada tahun 2013 jadi maaf kalau bahasa nya abal sekali.
Song Recommended : f(x) feat D.O Exo - Goodbye Summer
Previous
Baekhyun semakin dekat dengan Wufan.
Pada suatu hari ketika Baekhyun dan Chanyeol sedang bersepeda dan duduk-duduk ditaman,handphone Baekhyun berbunyi. Menandakan ada pesan masuk. Dari Wufan. Namja bertubuh tinggi dan tegap itu mengajak nya untuk bertemu di taman belakang sekolah besok sore.
.
.
[Author POV]
"Sudah siap?"
"Hmm...",Baekhyun menggigit kecil bibir bawah nya. Kebiasaan nya jika sedang gugup.
"Ayolah...Wufan bukan lah tipe laki-laki yang suka menunggu lama. Bukan kah semua nya memang begitu?",Chanyeol tersenyum.
"A-aku...mmm...bagaimana jika dia bersama teman-teman nya? Aku malu...takut.",ucap Baekhyun pelan.
"Jika benar begitu,aku akan menemani mu.",namja tinggi berambut cokelat keemasan dan acak-acakan itu mengelus pelan pundak sahabat nya. Mencoba meyakinkan nya bahwa semua akan baik-baik saja.
Chanyeol mendorong pelan tubuh sahabat nya. "Cepat,dia pasti sudah menunggu mu lama. Aku akan menunggu mu disini. Jika kau membutuhkan ku,kirim pesan saja. Oke?"
Baekhyun menganggukan kepala nya dan tersenyum. Dia berjalan pelan menuju taman dibelakang sekolah.
Mata nya bertemu pandang dengan mata pemilik tubuh yang sedang ia cari-cari.
"Sini...duduklah disini",Wufan melemparkan senyum pada Baekhyun.
Blush.
Wajah Baekhyun memerah tak berani menatap wajah seorang namja tinggi dan penuh pesona di hadapan nya sekarang.
"Sudah makan?"
"Sudah,kau?"
"Sudah juga."
"Hmm..."
Hening.
Suasana berlangsung dengan canggung. Mungkin karena ini pertama kalinya mereka bertemu dan berbicara sedekat ini.
Laki-laki ini. Baekhyun belum terlalu dalam mengenali sifat aslinya. Sebab mereka memang tidak pernah dekat.
Tubuh nya yang tinggi dan tegap,kemampuan nya dalam bermain basket,membuat nya menjadi populer dikalangan murid-murid sekolah.
Dan jangan lupakan soal wajah nya yang penuh pesona.
Sebenarnya Baekhyun tau jika Wufan memang dekat dengan Chanyeol,tetapi dia tidak pernah berani untuk bertanya-tanya lebih tentang Wufan kepada Chanyeol. Entahlah kenapa begitu. Mungkin karena dia malu.
Ya,Chanyeol memang dekat dengan Wufan.
Mereka satu kelompok,ah mungkin bisa disebut dengan geng penguasa sekolah?
Ya,disana ada Chanyeol,Wufan,Tao,Namjoon dan Zico.
Leader nya? Tentu saja orang yang selalu berjalan paling depan.
Wufan.
Tinggi nya mungkin tidak terlalu jauh dari Chanyeol. Hanya saja dia memiliki postur tubuh yang terlihat lebih tegas dan keras daripada Chanyeol. Dia juga pendiam,tidak seperti Chanyeol yang sifatnya sangat berbalik arah dengan tubuh dan umur nya.
"Hey,mengapa melamun? Kau sakit?",Wufan menyentuh pundak Baekhyun.
Dan itu sukses membuat wajah namja kurus itu pucat pasi.
"A-ah ti-tidak,aku baik-baik saja. Hanya sedikit melamun tadi",jawab Baekhyun tergagap.
"Oh...kau sedang memikirkan ku ya?",tangan Wufan yang panjang kini mulai nakal menyentuh punggung nya,lalu naik ke leher Baekhyun dan mengelus nya perlahan.
Baekhyun merasakan aliran darah nya seolah terhenti,detak jantung nya bergerak tak beraturan,telapak tangan nya kini basah saking gugup nya. Wajah putih nya memerah dan terasa panas.
Dia mengambil nafas dan mengehembuskan nya pelan-pelan,mencoba untuk mengendalikan dirinya.
Dia menggeliat dan perlahan melepaskan tangan Wufan yang berada di leher nya. Dia tau,dan dia tak mau bermesraan berlebihan lagi seperti dulu dengan mantan-mantan kekasih nya. Lagipula ini masih didalam gedung sekolah. Bagaimana jika ada guru yang melihat?
Wufan menggenggam jemari-jemari lentik milik Baekhyun,lalu mengecupi nya.
"Bersabarlah,aku tau kau mencintai ku. Bersabarlah sedikit lagi sampai rasa cinta ku benar-benar penuh untuk mu."
"Jadi...apa selama ini Wufan tidak mencintai ku?",Baekhyun menatap wajah namja yang lebih tinggi darinya itu dengan wajah innocent.
Wufan tertawa pelan. Lalu mengelus pipi lembut Baekhyun. "Ani...bukan itu maksud ku. Aku mencintai mu,aku sudah mencintai mu Baekhyun. Hanya saja...jika cinta ku pada mu bisa digambarkan dengan persentase,mungkin sekarang cinta ku adalah 90 % , kau mau menunggu untuk sisa nya kan?"
Baekhyun tersenyum senang. "Tentu saja,aku akan menunggu mu sampai kapan pun itu."
.
.
Kau tau? Sebenarnya...cinta itu indah. Indah. Jika saja kau memang menjalankan nya dengan indah pula.
Kau tidak akan tau kapan dan bagaimana caranya kau jatuh cinta. Kapan dan bagaimana cinta itu akan pergi dari dalam hidup mu.
Kau juga tidak akan tau siapa orang nya. Mungkin saja seseorang yang berada disebelah mu saat ini akan menjadi pendamping hidup mu di masa depan. Atau bahkan,mungkin musuh mu yang akan melakukan nya.
Namun terkadang,cinta itu bukanlah sesuatu yang selalu terasa indah. Tidak,bukan itu.
Cinta adalah ketika kau melihat orang yang kau sayangi terluka,kau akan membantu nya berdiri walaupun saat itu kau juga sedang terluka,kau tidak peduli dengan sakit yang kau rasakan. Yang kau pikirkan hanyalah keselamatan kekasih mu. Karena obat yang akan menyembuhkan sakit mu adalah,senyuman nya.
Cinta adalah...ketika kau tidak pernah dan tidak peduli bagaimanapun fisik kekasih mu. Bagaimanapun wujud nya. Kau tetap mencintai nya. Karena yang kau butuhkan adalah hati nya. Bukan fisik nya.
Penampilan dan fisik hanyalah suatu bonus dari nya.
Waktu berlalu dengan cepat,sama seperti cinta. Berlalu dengan cepat pula.
Datang dengan cepat,bahkan menghilang dengan cepat.
Sama seperti yang Baekhyun rasakan. Begitu cepat dia menemukan pengganti kekasih nya yang lama.
1 Hari terasa seperti hitungan beberapa jam,dan jam,terasa seperti hitungan menit saja.
Tau tau sekarang sudah perayaan ulang tahun nya yang ke-18. Tak ada acara besar-besaran.
Orang tua nya juga sibuk,sehingga hanya mengucapkan selamat ulang tahun dan memberikan kue kecil ala kadarnya.
Tapi hari ini,dia tengah merayakan pesta ulang tahun nya bersama Chanyeol,dirumah nya. Hanya berdua.
"Cepat berikan padaku."
"Sabar sedikit Baekki-ah,nah ini...",Chanyeol memberikan bungkusan berisi kotak besar kepada Baekhyun. Wajah Chanyeol tampak agak gugup ketika memberikan nya.
"Aku buka sekarang ya!"
"He-hey,bodoh kenapa dibuka sekarang? Jangan!"
Baekhyun tak peduli,dia membuka bungkus nya dan membuka tutup kotak bermotif ikan-ikan kecil yang lucu.
"Wah sweater nya lucu sekali! Eh...ada teddy bear nya juga?",tangan kiri Baekhyun menggenggam sebuah sweater rajutan berwarna merah maroon dan tangan kanan nya memegang boneka beruang berukuran sedang yang berwarna cokelat.
"I-itu...sebaiknya jangan..."
"Yeol,lihat boneka nya lucu sekali. Hidung nya merah,mirip seperti hidung mu kalau sedang flu",Baekhyun tertawa,memamerkan eye smile nya.
Chanyeol semakin gugup. Apalagi ketika Baekhyun meremas-remas dan mengelus teddy bear nya itu. Entahlah kenapa begitu.
"Ah iya,aku ingin mencoba sweater ini ah",Baekhyun memasukan teddy bear kedalam lemari pakaian milik nya,lalu menenteng sweater pemberian Chanyeol itu ke kamar mandi. Membuka baju nya,memakai sweater rajutan berwarna merah maroon yang polos itu lalu kembali dengan secepat kilat.
"Chanyeol...bagimana? Apa cocok untuk ku? Ah,tapi sepertinya ini agak kebesaran".
Chanyeol mengalihkan pandangan nya ke arah Baekhyun dan mendapati sosok namja yang manis itu berdiri didepan nya. Kulit Baekhyun yang putih sangat kontras dengan warna sweater yang dipakai nya. Rambut cokelat nya tertiup angin,melambai-lambai dengan halus. Dan ooh...wajah nya yang putih dan pipi nya yang memerah,juga eye smile nya.
Chanyeol terpana.
"Wah gawat! Baekki,kau manis sekali!"
"Eh?"
Chanyeol sadar bahwa sepertinya kata-kata yang barusan ia lontarkan adalah kata-kata yang salah. Dia langsung menutup mulutnya sendiri dengan tangan nya.
"Eh apa? Kau bilang apa? Aku manis?",Baekhyun berjalan mendekati nya.
"E-eh...ti-tidak Baekki! Tidak,maksud ku bukan begitu...",Chanyeol tergagap. Sial,aku kelepasan. Pikirnya.
"Waah~ Ini pertama kalinya kau mengatakan bahwa aku manis.",Baekhyun tersenyum. Dan itu semakin membuat Chanyeol salah tingkah.
"Sudahlah,akui saja. Aku memang manis kan?"
Wajah Chanyeol memerah,dia menggaruk bagian belakang kepala nya yang tidak gatal.
"Jadi...apa kau mau merasakan sebuah pelukan dari seorang anak yang manis?",Baekhyun semakin mendekatkan dirinya pada tubuh Chanyeol,lalu tangan nya menggapai-gapai tubuh Chanyeol,mencoba memeluk nya. Tapi Chanyeol memundurkan tubuh nya,berusaha menghindar.
"Eh? Apa yang barusan kau katakan? Ahh! Menjauhlah dari ku bebek jelek!",Chanyeol semakin memundurkan tubuh nya dan itu membuat Baekhyun tertawa melihatnya.
Grep.
Baekhyun memeluk Chanyeol.
Chanyeol panik.
"HUAAAA! TOLOOONG...AKU DIPELUK OLEH KURCACI JELEK! HUAAAA...SIAPAPUN CEPAT TOLONG AKU!"
"Tidak! Aku tidak akan melepaskan mu beruang! Kau harus mengakuinya sekali lagi bahwa aku memang manis,baru aku akan melepaskan mu!"
"Huaaa tidak mau! Tolooong! Hush-hus pergi sana kurcaci jelek kembalilah ke sawah!"
Pletak.
Baekhyun menjitak kepala Chanyeol.
"Sejak kapan kurcaci tinggal di sawah hah?!"
"Tidak tau cepat lepas!"
"Dasar...",Baekhyun melepaskan pelukan nya. Chanyeol tampak ngos-ngosan. Nafas nya memburu,tapi telapak tangan nya terasa dingin. Aneh.
Mereka berdua duduk diatas ranjang milik Baekhyun.
"Mengapa kau memeluk ku sih? Bagaimana jika aku mati?"
"Habis kau tidak mau mengakui nya kalau aku memang manis,padahal tadi jelas-jelas kau sudah mengucapkan nya sendiri.",Baekhyun tertawa.
Chanyeol tampak menggerutu. Lalu terdiam.
"Ngghh...yeol...aku ngantuk,tidur saja yuk.",Baekhyun menyenderkan tubuh nya pada bahu sebelah kanan Chanyeol. Membuat seulas senyum manis terukir di wajah nya yang tampan.
.
.
"Apa kau senang?"
Baekhyun menganggukan kepala nya.
"Aku juga",Wufan tersenyum.
Rasa bahagia memenuhi hati nya,penantian nya selama ini ternyata tidak sia-sia. Wufan menyatakan cinta nya sekarang,dan tentu saja Baekhyun menerima nya.
Butuh waktu sampai 3 bulan untuk mereka saling mengenal dan memahami satu sama lain.
Itu tidak menjadi masalah pada keduanya. Mereka saling mencintai. Yang Baekhyun tau memang seperti itu. Kejutan-kejutan manis yang seringkali Wufan berikan padanya pada ulang tahun hubungan mereka. Sementara Baekhyun,kadang ia lupa berapa tanggal nya. Jujur saja,Wufan yang lebih mendominasi dalam hubungan ini. Dia protective,mungkin memang semua namja seperti itu kepada nya. Yang ia rasakan seperti itu. Semua melindungi nya. Sementara Baekhyun,dia kekanak-kanakan. Kadang dia menghabiskan seluruh uang jajan nya hingga tak menyisakan uang untuk biaya taksi pulang kerumah. Dan tentu saja Wufan yang akan bertanggung jawab tentang hal itu.
Dia selalu mengantarkan nya pulang,walaupun setelah itu dia kembali lagi ke sekolah. Berkumpul lagi dengan teman-teman nya. Tak pernah pulang pada jam-jam pulang sekolah. Wufan selalu pulang ketika matahari mulai terbenam. Atau bahkan saat udara malam semakin dingin menyiksa.
Baekhyun tidak pernah tau apa yang Wufan lakukan dengan teman-teman nya. Sedangkan Chanyeol,dia tidak pernah pulang selarut itu. Bahkan akhir-akhir ini dia jarang berkumpul bersama dengan teman-teman nya,selalu pulang cepat,sepertinya kondisi tubuhnya sedang tidak baik. Kesehatan nya menurun.
Chanyeol?
Walaupun kini Baekhyun sudah mempunya hubungan dengan Wufan,hubungan nya dengan Chanyeol masih sama seperti dulu. Tidak ada yang berubah,hanya saja dia lebih meluangkan waktu nya untuk Wufan.
I need a chocolate. Tulis Baekhyun pada akun weibo-nya.
Dia memang punya kebiasaan seperti itu,selalu menulis apa saja yang ia butuhkan,apa yang terjadi dengan nya dan apa yang sedang ia rasakan.
Hanya cukup waktu sepersekian detik untuk Chanyeol menyadari apa yang harus dia lakukan.
.
.
Chanyeol mengelap cairan merah yang keluar dari lubang hidung nya. Dia mengerjap-erjapkan mata nya,mencoba melihat dengan jelas. Pandangan nya mulai kabur dan kepala nya pusing. Sepertinya kondisinya makin memburuk.
Udara Seoul kala itu memang sedang dingin,walaupun siang hari. Dia mengenakan coat besar warna cokelat dan syal putih yang melingkari lehernya. Tangan kiri nya menggenggam sebuah bungkusan kecil.
Sesampai nya di taman belakang sekolah,mata nya melihat sekeliling. Mencari-cari sosok sahabat nya.
"Hey Chanyeol,kau sedang apa?",suara yang sangat ia kenali itu membuatnya menengok kebelakang dan mendapati Baekhyun sedang duduk ditaman,bersama Wufan.
Tubuh nya bersender pada tubuh Wufan,sementara tangan Wufan melingkari bahu nya.
"Apa kabar? Sudah lama aku tidak melihat mu,sakit mu sudah sembuh?",tanya Wufan pada nya.
Chanyeol tersenyum,menganggukkan kepala nya.
"Yeol,kenapa diam saja? Ayo duduk bersama kami,kau lihat? Dia memberikan ku cokelat,banyak sekali. Rasanya enak. Kau mau?",Baekhyun memperlihatkan tangan kiri nya yang sedang menggenggam sebatang cokelat,sementara bibir mungil nya belepotan dengan cokelat.
"Ah tidak,terimakasih. Aku sudah kenyang",dengan cepat,Chanyeol memasukan bungkusan yang sedari tadi ia pegang kedalam kantung coat miliknya.
Dia tersenyum.
.
.
Ujian Nasional sudah berlangsung beberapa hari yang lalu. Pengumuman kelulusan pun sudah dilakukan kemarin,dan semua siswa disekolah lulus. Itu artinya sekarang adalah waktu yang sangat menyenangkan karena tidak adalagi yang harus dilakukan. Tidak ada lagi hari sekolah. Hanya bermalas-malasan dirumah dan mengistirahatkan otak yang selama ini selalu menanggung beban oleh beratnya pelajaran disekolah.
"Yeol...maafkan aku,tapi ini memang sudah menjadi rencana keluarga ku"
"Tapi kenapa Baekki? Apa kau sudah siap untuk meninggalkan ku"?,Chanyeol mengeluarkan air mata nya. Memegang bahu Baekhyun kuat-kuat.
"Yeolie...maaf,jangan menangis. Ku mohon,aku akan menangis jika kau terus seperti ini",Baekhyun meringis. Menggigit bibir bawah nya kuat-kuat agar emosi nya tidak akan pecah menjadi tangisan.
"Jarak dari Seoul ke Daegu tidak terlalu jauh bukan? Kau boleh mengunjungi ku kapan pun kau mau. Dan aku berjanji suatu saat nanti aku akan kembali kesini",Baekhyun menatap Chanyeol dengan air mata mengalir di pipi nya.
Kau tau? Sebenarnya,pertemuan hanyalah awal dari sebuah perpisahan.
.
.
Janji hanyalah janji.
Sudah 2 tahun sejak kepergian Baekhyun dari Seoul ke Daegu,dia belum pernah kembali ke Seoul untuk mengunjungi Chanyeol,sahabatnya.
Awalnya,semua berjalan baik-baik saja.
Baekhyun merindukan Chanyeol,begitu juga sebaliknya. Mereka berkirim-kiriman pesan,surat,telepon,bahkan video call lewat internet.
Sampai pada suatu saat,Baekhyun merasakan ada yang hilang dalam kehidupan nya,berpisah nya dia dengan Chanyeol justru membuat dirinya bosan. Bukan bosan karena dia merindukan Chanyeol,tidak. Bukan itu.
Mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Baekhyun yang kuliah membuat nya sibuk sehingga tidak bisa selalu menghubungi Chanyeol seperti dulu,begitupun sebaliknya. Chanyeol tak kalah sibuk.
Hinggal lama kelamaan,dia tidak menghubungi nya lagi.
Chanyeol pun mulai jarang mengirimi nya pesan. Mungkin karena rutinitas nya yang sibuk.
Sesekali,dia mengirimi nya pesan. Baekhyun membalas nya.
Lalu Chanyeol membalasnya,dan setelah itu Baekhyun tidak membalas nya lagi.
Perlahan-lahan,dia melupakan sosok Chanyeol.
Chanyeol yang selalu ada untuk nya kini tidak adalagi,tidak bisa mengajak nya bermain seperti dulu.
Bahkan Chanyeol juga tidak pernah mengunjungi nya. Lain hal nya dengan Wufan,namja itu sering berkunjung kerumah nya. Bahkan 3 kali dalam sebulan.
Pernah beberapa kali Baekhyun pulang ke Seoul,tanpa sepengetahuan Chanyeol. Hanya dia dan Wufan yang tau.
Wufan melarang nya untuk tidak memberi tau siapapun soal kedatangan nya ke Seoul. Alasan nya karena Wufan hanya ingin Baekhyun menghabiskan waktu bersama nya.
Dan aneh nya,Baekhyun menuruti nya. Mungkin karena Baekhyun sangat mencintai nya.
Baekhyun tidak pernah menyangka,Chanyeol yang dulu menjadi sahabat baik nya,kini benar-benar sudah terlepas dari ingatan nya. Baekhyun berpikir,mungkin sekarang Chanyeol juga sudah melupakan nya. Ini sudah 2 tahun mereka tidak bertemu. Mungkin Chanyeol sudah bahagia sekarang,sudah memiliki namjachingu dan teman-teman baru nya.
Dan ini sudah sebulan dimana Wufan tidak mengunjungi nya. Baekhyun tak tahan lagi. Rasa rindu nya sudah sampai puncak. Hingga akhirnya,dengan memberanikan diri,dia meminta izin orang tuanya agar mengizinkan nya pergi ke Seoul,sendirian.
"Tidak,tidak sendirian. Appa akan mengantarkan mu. Kemasi barang-barang mu."
.
.
Udara Seoul masih sama seperti dulu. Masih dingin. Hanya saja,sekarang gedung-gedung pencakar langit sudah bertambah banyak jumlah nya. Baekhyun menghirup nafas dalam-dalam,merasakan udara kota Seoul.
Pikiran nya bernostalgia dalam masa lalu.
Dia dan appa nya memutuskan untuk menginap di hotel.
Lalu dia memaksa appa nya untuk mengantarkan nya kerumah Wufan dengan tak sabar.
"Appa cepat",katanya.
Appa nya hanya menggeleng-gelengkan kepala nya melihat kelakuan anak bungsu nya itu.
Mengambil kunci mobil,dan mengemudikan nya ke arah rumah Wufan.
"Kau yakin ini rumah nya?"
"Ya,ini rumah nya. Aku sudah pernah kesini sebelum nya."
"Rumah ini sepi sekali"
"Appa tunggu di mobil saja ya.",lanjut appa nya.
Tok tok. Baekhyun mengetuk pintu kayu rumah tua bergaya Belanda tersebut.
Pintu nya terbuka,dan keluarlah seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik.
Dan Baekhyun tau siapa dia.
Setelah membungkuk hormat dan berpelukan,wanita itu mempersilahkan Baekhyun masuk.
"Dia ada dikamar nya,bersama teman nya. Aku lupa siapa nama nya,naiklah keatas. Aku yakin Wufan akan terkejut karena dia juga merindukan mu",kata wanita itu yang tak lain adalah ibu Wufan.
Baekhyun mengangguk dan tersenyum. Dia menaiki tangga dengan hati-hati. Dan berhenti didepan sebuah kamar yang ia kenali. Dia mengetuk pintu nya perlahan. Tidak ada jawaban. Diketuk nya sekali lagi,tidak ada jawaban pula. Dia pikir,mungkin Wufan sedang tidur.
Dibuka nya kenop pintu itu perlahan,oh ternyata tidak dikunci.
Kriet...
Pintu terbuka.
.
.
Baekhyun tak menghiraukan tatapan heran dari ibu Wufan,dia terus berjalan dengan tergesa dan masuk dengan cepat kedalam mobil nya,meminta appa nya untuk segera meninggalkan tempat itu.
Airmata nya meleleh.
Appa nya hanya terdiam melihat anak nya menangis,percuma saja bertanya sebab sedari tadi,appa nya sudah bertanya dan jawaban yang dia dapatkan hanyalah isakan tangis.
Baekhyun membaringkan tubuhnya diatas ranjang hotel.
"Biarkan aku sendiri appa",katanya.
"Jika kau sudah tenang,ceritakan pada ku",kata appa nya. Lalu menutup pintu kamar Baekhyun dengan pelan.
Dia menonaktifkan handphone nya setelah melihat ada 21 panggilan tak terjawab dari Wufan.
Baekhyun masih tak habis pikir dengan apa yang dia lihat dikamar Wufan tadi.
Dia jauh-jauh datang dari Daegu ke Seoul hanya untuk mengunjunginya karena rindu.
Inikah balasan nya?
Bayangan wajah Wufan yang panik saat pintu dibuka.
Tubuh Tao yang naked berada disisi nya.
Semua berlarian dikepala nya.
Dia memegang kepala nya kuat-kuat.
Menjambak rambut halus nya hingga beberapa helai nya terlepas.
Wajah putih nya merah,mata sipit nya bengkak dan rambut nya acak-acakan.
Dulu,disaat kacau seperti ini,selalu ada tangan seseorang yang bisa menghapus air mata nya.
Ada tubuh besar seseorang yang hangat akan memeluk nya dan berkata semua akan baik-baik saja.
Dan kini,dia merindukan nya.
.
.
Baekhyun mengemudikan mobil nya dengan tenang ke arah rumah seseorang yang sangat ia rindukan.
Hati nya yang kemarin sakit,kini mulai tergantikan oleh rasa bahagia.
Dia tak tahan ingin segera menemui Chanyeol.
Baekhyun membayangkan akan seperti apa reaksi Chanyeol saat bertemu dengan nya nanti.
Menangis?
Memeluk nya dengan kencang?
Atau berteriak seperti biasa nya?
Baekhyun tersenyum kecil membayangkan nya.
"Annyeong haseyo",Baekhyun membungkuk hormat didepan seorang wanita dihadapan nya. Ibu Chanyeol.
Wanita itu memeluk nya dengan sangat erat dan dia berkata dia sangat merindukan Baekhyun.
Setelah mempersilahkan Baekhyun duduk,dia membuatkan minuman untuk nya..
"Dimana Chanyeol?",tanya Baekhyun.
Wanita itu menghentikan kegiatan nya mengaduk teh digelas nya,dia terdiam.
"Dia tidak ada dirumah"
"Oh? Dimana dia? Aku merindukan nya"
"Kau..."
"Eh?"
"Kau merindukan nya?"
"Iya,aku sangat merindukan nya. Di Daegu,tidak ada seseorang yang seperti nya."
"Apa kau ingin bertemu dengan nya?"
"Ya,tentu saja!",jawab nya riang.
"Ikut dengan ku,aku akan membawa nya menemui mu."
Baekhyun merelakan mobil nya dikemudikan oleh ibu Chanyeol sebab dia tidak tau kearah mana Chanyeol berada.
Cukup jauh juga,perjalanan memakan waktu sekitar 45 menit.
Ibu Chanyeol mengehentikan mobil nya dipedesaan yang sepi.
Tidak bisa dibilang pedesaan juga sepertinya,sebab tidak ada rumah disini.
Hanya ada pepohonan maple dan pinus. Udara yang sejuk membuat nya merasa seperti sedang ada dipedesaan.
"Ikut aku."
"Dimana dia? Sedang apa disini?",tanya Baekhyun.
"Kau akan tau setelah menemukan nya. Jangan khawatir,dia juga sangat merindukan mu",wanita itu tersenyum.
Mereka berdua berjalan melewati pepohonan-pepohonan dan daun-daun kering.
Baekhyun menatap sekeliling.
Dia merasa ada yang salah.
"Kita sudah sampai."
Hening.
Tidak ada sepatah kata pun yang keluar diantara kedua nya.
"Kenapa diam? Peluklah dirinya,akhir-akhir ini dia bilang dia sangat merindukan mu."
Baekhyun hanya diam.
Tubuh nya memang ada disana,tapi sepertinya jiwa nya tidak ada disana.
Dia lupa bagaimana caranya bicara.
Lupa bagaimana caranya bergerak.
Sudah berjuta kali detik,dia hanya diam terpaku menatap kebawah.
Pada sebuah nisan.
Bertuliskan Park Chanyeol.
.
.
[Baekhyun POV]
Aku tak pernah menyadari nya.
Aku terlalu sibuk mencari kebahagiaan,sampai-sampai aku tidak sadar bahwa ternyata kebahagiaan itu telah lama berada disisi ku.
Aku selalu merasa nyaman ketika berada didekat nya.
Dan tak pernah kusadari pula,ternyata aku juga mencintai nya.
Baekki-ah kau tidak apa-apa?
Bagian mana yang sakit?
Oh? Apa dia menyakiti mu lagi?
Jangan masukan terlalu banyak saus kedalam makanan mu.
Tidak apa-apa,itu bukan salah mu.
Kau mau pulang atau mau kubelikan ice cream dulu?
Ya,aku mendukung mu dengan nya. Dia keren. Cocok untuk mu.
Ada apa Baekki-ah? Ceritalah.
Bodoh,kenapa kau menggigit jari ku? Sakit!
Temani aku berenang besok. Aku tidak menerima penolakan.
Kau jelek sekali.
Berhentilah menatap wajah ku dengan wajah mu yang jelek itu.
Bodoh!
Hey,kurcaci.
Jangan memakai pakaian tipis itu lagi,aku membenci nya.
Wah gawat! Baekki,kau manis sekali!
Menangis lah jika itu membuat mu merasa lebih tenang.
Kau masih sama. Kau masih Baekki ku yang ku kenal dulu. Aku tidak peduli bagaimanapun keadaan mu sekarang atau besok,kau akan tetap menjadi sahabat terbaik ku.
Sepertinya tidak ada. Aku tidak mencintai siapapun.
Hahaha,aku terlalu sibuk mencintai gitar ku sampai-sampai aku lupa bagaimana caranya mencintai orang lain.
Aku kembali teringat saat kita berbicara
Dengan saling berteriak di lorong sekolah
Aku tidak mengerti, semua terasa begitu menyenangkan
Kita bahkan melupakan bahwa itu merupakan sebuah hukuman
Setelah hari itu ,kita selalu bersama.
Selalu bersama – sama kemanapun pergi seperti sikembar astro
Kau adalah aku dan aku adalah kamu
Kau menangis begitu sedih sehari sebelum kelulusan
layaknya seperti lelaki, kau memegang tanganku kuat
Sama seperti musim panas,
Kita tidak bisa mengatakan apa yg kita inginkan
Hanya, selamat tinggal
Atas nama teman, aku sungguh benci situasi itu
Perasaan yang aku sembunyikan masih selalu teringat
Sebagai kenangan menyakitkan
Foto – foto yang tidak bisa menjelaskan status kita
Hanya berupa tumpukan cerita memilukan
Maafkan aku, dimusim panas ini,
Sekarang, Selamat tinggal
Apa yang harus kukatakan?
Tidak ada permainan tersisa
Aku tidak tahu harus bermain apa
Seharusnya aku mengungkapkan semua itu
Memintamu untuk tetap tinggal
Semua itu hanya membuatku sedih,
Rentetan kalimat yang tidak bisa kuucapkan
Dan cerita kitapun berakhir ketika semua belum dimulai
Lagu yang kau nyanyikan di festival musim panas terakhir,
Memberikan kilau dilaut musim panas
Perasaan ini sungguh bergitu berharga,
Karena kita selalu bersama – sama
Seperti gelap langit malam, Selamat tinggal
Atas nama teman, aku sungguh benci situasi itu
Perasaan yang aku sembunyikan masih selalu teringat
Sebagai kenangan menyakitkan
Foto – foto yang tidak bisa menjelaskan status kita
Hanya berupa tumpukan cerita memilukan
Maafkan aku, dimusim panas ini,
Sekarang, Selamat tinggal
Maafkan aku, ucapku pada diri sendiri
Ah.. lebih tepatnya. Aku mencintaimu
Andai saja kita saling mengungkap rahasia antara kita
Mungkin aku bisa memelukmu dalam pelukanku
Atas nama teman, aku sungguh benci situasi itu
Perasaan yang aku sembunyikan masih selalu teringat
Sebagai kenangan menyakitkan
Foto – foto yang tidak bisa menjelaskan status kita
Hanya berupa tumpukan cerita memilukan
Maafkan aku, dimusim panas ini,
Sekarang, saatnya Selamat tinggal
.
.
Diluar,hujan rintik-rintik sedang turun membasahi kota Daegu.
Tak ada awan putih.
Tak ada cerah nya sinar matahari.
Tak ada pelangi.
Sayup-sayup terdengar isakan seorang namja bertubuh kurus dikamar nya.
Dia memeluk sebuah boneka beruang berwarna cokelat yang sudah usang dan kotor.
Tangan nya tak henti-henti nya menekan sebuah tombol tersembunyi yang berada dibawah hidung sang boneka beruang. Yang baru saja dia sadari selama ini,bahwa ternyata disana ada sebuah tombol dan speaker kecil.
"Saengil chukkae hamnida~ Saengil chukkae hamnida~ Saranghae Byun Baekhyun.
Tak terasa kini kau sudah berusia 18 tahun ya. Ah,itu berarti sekarang kau sudah dewasa.
Tak banyak memang doa ku untuk mu,aku hanya berharap semoga kau diberi umur yang panjang dan kehidupan yang baik. Apalagi ya...hmmm..a-aku...ah...mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk mengatakan nya pada ...aku...a-aku...aku menyukai mu Byun Baekhyun. Aku mencintai mu. Kau dengar ini kan?
Bukan sebagai sahabat,tidak. Tapi aku benar-benar mencintai mu. Demi Tuhan,aku tidak pernah bisa melupakan senyum mu yang indah pada saat pertama kali kita berkenalan. Aku mencintai mu,sudah lama. Sejak saat itu,sejak kita berkenalan aku rasa aku semakin tertarik pada mu. Dan lama kelamaan rasa suka itu berubah menjadi cinta. Ah,kau pasti menyadari itukan? Umm...maksud ku...eh...hmm lupakan saja.
Eh,hmm..Aku ingin bertanya pada mu,aku yang telah mengenal mu lebih dulu tapi mengapa Wufan yang akan memiliki mu? Kenapa? Kenapa Baekki? Ah...sudahlah. Aku tau mungkin setelah ini kau pasti akan marah pada ku kan? Atau kau akan memukulku dengan bebek-bebekan milik Jongdae seperti waktu itu? Hmm...Saranghae Baekki-ah,kuharap kau akan selalu sehat. Aku minta maaf atas kejujuran ku yang bodoh ini. Dan ingatlah,ketika aku tidak berada disisimu,itu bukan berarti aku meninggalkan mu. Aku selalu ada disini,menjaga mu,mencintai mu. Sampai kapan pun,aku akan selalu ada disini. Ya,disini. Didalam hati mu."
-END-
a/n : Ini fanfic pertama yang saya buat pada tahun 2013 jadi maaf kalau bahasa nya abal sekali. Semoga kalian suka dengan cerita nya ya. Jangan lupa untuk selalu review,itu menandakan bahwa kalian menghargai karya orang lain.
/hormat/
