A/N : I wrote this while missed my boys and stucked in airport for 9 hours delayed because the great typhoon in Taiwan. So please enjoy it

JK Rowling has! I just own several unknown characters and Ballard for sure

Chapter Two

Malfoy Manor

Peluh membasahi kening Scorpius. Ia bahkan tak tahu sudah berapa lama berada di gym ini. Pikirannya kacau. Ia tak pernah berada di situasi dimana seseorang seakan membajak seluruh otaknya. Dan sekarang ia merasakannya. Rosabelle Weasley-Allegri seakan menguasai jalan pikirannya belakangan ini. Wanita itu benar-benar berubah 180 derajat dari sosok yang pernah ia tahu bertahun-tahun lalu. Rambut lusuh dan bintik di wajahnya seakan hilang seketika. Tak ada lagi perawakan malu atau sungkan saat menatap lawan bicaranya. Ia tampak begitu percaya diri, seakan ia siap menguasai dunia ini.

"Bloody hell," umpatnya lalu dengan sangat kencang menghempaskan samsak di hadapannya.

Scorpius menjatuhkan dirinya di matras lalu melepaskan sarung tinju yang ia kenakan. Ia menatap lampu di langit-laingit gymnasium ini lalu menghela napas panjangnya. Dia pasti bukan Rose Weasley. Tidak mungkin wanita itu adalah wanita yang sama. Ia bangkit sejenak untuk menenggak air mineral dari botol minumannya. Kejadian di restaurant kemarin siang kembali terputar di kepalanya. Scorpius tak berekspektasi bahwa Rosabelle akan bertindak sama seperti yang ia lakukan. Alih-alih ketakutan karena penyerangan itu ia justru membantu Scorp menjatuhkan lawan mereka dengan sangat anggun. Tatapannya begitu berbeda saat hendak mengeksekusi lawannya dengan saat ia berbicara dengan Sciorpius sore itu. Sama dinginnya, tapi terdapat kesan kelam di dalamnya saat ia menghabisi musuhnya siang lalu. Scorpius belum pernah melihat wanita seperti ia sebelumnya, wanita yang menghilangkan nyawa seseorang dengan sangat tenang bak tengah membaca buku kesukaannya. Dia juga bertingkah seakan-akan tak terjadi apapun saat Rhaegar dan Ballard dan beberapa Tukang Ledeng datang setelahnya. Rosabelle tersenyum singkat pada Rhaegar.

"Miss Allegri," sapa Rhaegar sementara Ballard memperhatikan sekitar untuk mencari tahu apakah masih ada nyawa yang tersiksa untuk kemudian memastikan bahwa tak ada orang awam yang melihatnya.

Rhaegar membalas senyumannya. "Tak seharusnya kita bertemu kembali dalam kondisi seperti ini," ucap Rosabelle.

Tatapan Rhaegar beralih pada Ballard yang keluar dari arah dapur. "Mereka menghabisi semua pekerja restaurant ini," ujar Ballard.

"Shit. Alibi apa yang harus aku berikan pada kalian?" dengus Rhaegar.

"Apakah ada yang melihat kalian datang ke tempat ini?" tanya Rhaegar lagi

Rosabelle mengangguk. "Ada beberapa paparazzi di luar sana saat aku datang dan aku yakin mereka sudah berada di sana saat Scorpius menginjakan kakinya disini. Benar begitu?" tanya Rosabelle yang meminta persetujuan dari Scorp itu.

Scorpius mengangguk. "Damn it," umpat Rhaegar.

"Itu urusanmu, Rhaegar," ujar Scorp.

"Yeah aku tahu," jawabnya.

"Kau tahu siapa dia?" tanya Rhaegar pada Ballard yang masih sibuk berkeliling memperhatikan sekitar.

Ballard mengedik. "Tetapi, dari tato yang berada di sekujur tangan dan jari mereka, aku dapat memastikan bahwa mereka dari Russia."

Rhaegar terkejut mendengarnya. "Aku kira Russia sudah bukan lagi menjadi masalah untuk kita."

Ballard menatap Rosabelle seketika. "Mungkin tak lagi untuk kita, tapi bagaimana dengan Cosa Nostra? Kalian bisa tanyakan ini pada Miss Allegri," balas Ballard.

Rosabelle hanya mengedik lalu tersenyum tipis pada ketiga pria itu. "Kalian salah. Russia sudah lama tak bermasalah dengan Cosa Nostra, namun mereka akan mulai bermasalah saat aku dan Scorpius menikah nanti."

Ketiga pria itu saling bertukar pandang dan Scorpius mengangguk. Hal ini sangat masuk akal. Bila The Sociaty bergabung dengan Cosa Nostra maka mereka dipastikan dapat menaklukan pasar di dunia ini.

"You're smart," ujar Scorp tanpa ada nada memuji sama sekali pada wanita di hadapannya.

"Don't be surprised," balas Rosabelle.

Rhaegar dan Ballard bertukar pandangan lalu anak bungsu keluarga Malfoy itu tertawa sementara Ballard hanya tersenyum. "Ada apa?" tanya Scorpius defensive.

Mereka mengedik bersamaan. "Tak ada, brother."

Tetiba saja manik wajah Rhaegar berubah dan ia menatap kakak lelakinya itu. "You killed in Sunday, brother."

Anggukanlah yang menjadi jawaban dari Scorpius. Alis Rosabelle terangkat karena bingung dengan percakapan antara kakak beradik ini. "Ada apa dengan kalian? Kalian tidak membunuh di hari Minggu."

Rhaegar tersenyum penuh arti pada wanita itu yang terlihat tengah mengambil clutch-nya. "Cepatlah menikah dengan kakakku, maka kau akan tahu peraturan apa saja yang ada di keluarga kami."

Rosabelle hanya tersenyum singkat. Dia menghentikan langkahnya di antara Scorpius dengan Ballard. "Kabari aku dimana kita akan membicarakan perjanjian pra-nikah ini," ujarnya yang disambut dengan anggukan dari Scorpius.

Ia sedikit menepuk bahu Ballard. "Tenang saja. Aku akan meminta orang-orangku ikut mencari siapa dalang dari kejadian ini."

Tanpa berpamitan lagi ia ber-Apparate dari tempat itu. Mereka terpana pada wanita tadi. "Apakah ia ikut membunuh orang-orang itu?" tanya Ballard.

Scorpius mengangguk tanpa sepatah katapun. Hal ini membuat Rhaegar kembali tertawa. "Aku suka wanita ini. Kau tak salah memilih calon kakak ipar untukku, brother."

"Scorp."

"Scorpius."

Scorpius menatap Ballard yang sudah berdiri menjulang di sisi matrasnya. Dia bangkit lalu kembali menyeka keringatnya yang masih sedikit tersisa di kening. Ballard menyeahkan amplop berisi perkamen pada calon King bagi The Sociaty ini. "Data Rosabelle Weasley-Allegri yang kau minta."

Amplop itu sudah berada di tangan Scorp sekarang. "Apakah sudah lengkap?" tanya Scorp yang masih duduk di matras gym ini.

"Bahkan makanan kesukaan calon istrimu ada di dalamnya," kekeh Ballard.

"Shut up, Ballard."

Dia masih terkekeh sebelum pergi meninggalkan gymasium ini. Scorp membuka amplop itu dan sebuah foto dari Rosabelle yang diam-diam diambil terpampang disana. Rambut cokelat kemerahannya terlihat begitu anggun saat angin meniupnya. Ia tak tersenyum, namun tak juga memberengut. Ia tampak menakjubkan dengan setelan hitamnya di foto itu.

"Fuck," umpat Scorp setelah ia menutup amplop itu dan keluar dari gymnasium itu.

000

Sebuah pintu sedan terbuka di pelataran Malfoy Manor sore ini. Rosabelle keluar dari dalam Maseratti dengan Lorenzo di sampingnya dan Edward Vitiello di mobil lainnya. Wanita itu melepaskan sunglass yang ia pakai untuk menghalau matahari sore kota London ini. Sesuai dengan rencana yang dibuatnya dengan Scorp, tempat yang dipilih untuk pembahasan perjanjian pra-nikah adalah Malfoy Manor. Selain lebih tertutup, tempat ini juga jauh lebih aman. Bahkan tempat ini dapat dikatakan sebagai tempat teraman di London.

"Hello Madam Weasley-Allegri, Master Scorpius sudah menunggumu di suite-nya," ujar Magnus.

Rosabelle mengangguk lalu mengikuti peri rumah itu bersama kedua pria di belakangnya. Manor sore ini terlihat begitu lengang. Penghuninya tengah sibuk dengan urusan masing-masing dan baru akan berkumpul kembali saat makan malam tiba. Rose sedikit terkejut dengan desain dari manor ini yang terlihat begitu hangat dan sangat jauh dari kata gelap dan seram. Ia tak tahu bahwa keluarga Malfoy benar-benar sudah bertransformasi sejauh ini. Sebuah foto keluarga juga menyita perhatiannya saat mereka melintasi ruang keluarga ini sebelum naik ke suite dari Scorpius. Foto yang diambil sebelum Hermione Malfoy menghembuskan napas terkahirnya. Scorpius masih tampak begitu muda namun dingin di wajahnya sudah tercipta sejak dahulu, begitupula dengan Rhaella dan Rhaegar yang tampak begitu kecil di foto itu.

"Kita sampai, Maam," ujar Magnus saat mereka sudah berada di depan pintu suite milik Masternya itu.

Rosabelle mengangguk pada Magnus dan mengisyaratkan pada kedua pria di belakangnya untuk menunggu. Pintu itu terbuka bahkan sebelum Rosabelle memegang daun pintunya. "Selamat sore, Miss Allegri," sapa Scorpius pada wanita yang masih berdiri di ambang pintu suite-nya.

Rosabelle masuk lalu mengambil tempat duduk tepat di seberang sofa yang diduduki calon suaminya. "Rosabelle," jawabnya.

"Panggil aku Rosabelle, karena sebentar lagi aku akan menggunakan nama Malfoy juga di belakang namaku," tambahnya.

Scorpius menyeringai saat mendengarnya. Magnus kembali lagi ke suite itu dengan teh dan cemilan untuk master dan tamunya. Rosabelle mengeluarkan amplop berisi perkamen perjanjian pra-nikah mereka begitu pula dengan Scorp yang sudah mempersiapkannya sejak kemarin. Mereka saling bertukar amplop dan mempelajari apa saja yang ada di dalamnya. Kening Rosabelle sesekali mengerut begitupula dengan Scorp saat membaca isi perjanjian itu.

"Tidak ada perceraian?" tanya Rosabelle sambil melingkari point itu dengan pensil di tangannya.

Scorpius mengangguk. "Lalu apa poin dari pembuatan perjanjian pra-nikah ini jika kita tak dapat bercerai?" tanya Rosabelle.

"Kita mungkin tak akan pernah bercerai, tapi kau dapat menututku jika aku melanggar perjanjian ini," balas Scorpius.

Kening Rosabelle mengerut. "Lalu kenapa tak ada perceraian dalam The Sociaty?"

"Kami penganut Katholik dan sudah menjadi tradisi kami bahwa tak ada perceraian. Hanya maut yang memisahkan sebuah pernikahan," jelas Scorpius.

Kening Rosabelle benar-benar mengerut kali ini. "Lalu jika kau muak padaku atau aku muak padamu, apa yang harus aku lakukan?"

Scorpius menyeringai. "Kau dapat mencoba membunuhku."

"Lucu sekali," balas Rose sarkastik.

"Aku serius," balas Scorp.

Mereka kembali hanyut dalam butir demi butir perjanjian yang ada di dalam perkamen itu. Sesekali kening mereka mengerut atau salah satu alis mereka naik tanpa sengaja, tapi tak ada hal yang perlu diperdebatkan sejauh ini. "Ada yang ingin kau tanyakan ?" tanya Scorp pada calon istrinya dalam dua minggu ke depan ini.

Rose mengedik. "Sejauh ini aku tak memiliki apa-apa untuk kutuntut darimu. Aku hanya ingin mengingatkan padamu bahwa kau tak akan menikahi wanita yang akan menjadi ibu rumah tangga saja lalu melahirkan anak sebanyak yang kau mau. Aku akan menjadi pemimpin Cosa Nostra untuk menggantikan kakekku. Aku akan sama berkuasanya denganmu dan jangan pernah memerintahku di depan khalayak ramai."

"Aku juga tak mengharapkan kau berubah menjadi seorang ibu rumah tangga. Potensi di dirimu terlalu sayang jika hanya mengurus masalah dapur dan ranjangku," balas Scorpius.

"Tapi aku tetap pemimpinmu," tambah Scorp.

"Dapat dinegosiasikan."

"Tak ada negosiasi untuk hal ini," tandas Scorp.

"Kau belum tahu sejago apa aku dalam bernegosiasi. Terutama dengan pria."

Seringaian muncul di wajah Rose yang membuat Scorp menahan napasnya sejenak. Bagaimana wanita ini dapat melakukan gestur seperti itu dan terlihat begitu sangat seksi serta menggiurkan? Ditambah dengan bagaimana Rose mengubah posisi kakinya yang menyilang sehingga membuat rok hitamnya sedikit tersingkap membuat Scorp ingin segera keluar dari ruang ini untuk mencari udara segar.

Rose menatap Scorp lalu sebelah alisnya terangkat. "Kau kenapa?"

Scorp menggeleng dan mencoba untuk mengembalikan dirinya yang normal di hadapan wanita ini. "Hanya memikirkan satu dan lain hal."

Seakan tak peduli dengan jawaban dari lawan bicaranya, Rose bangkit dari sofa itu lalu berjalan ke jendela suite ini. Ia menatap ke sekeliling ruangan ini. Sentuhan khas pria sangat kental di rungan ini. Dominasi warna biru tua dan putih tampak di hampir setiap dinding dan furniture suite ini. Rose berpikir bahwa ia akan menemukan sebuah ruangan yang dihiasi oleh perak serta emas dan hijau zamrud khas para Slytherin dan keluarga Malfoy, tapi tidak pada nyantanya. Suite ini terkesan minimalis namun tetap terasa sangat elegan dan mewah.

"Apakah setelah menikah kita akan tinggal disini?" tanya Rose yang kini sudah berada di ambang pintu balkon itu.

Scorp mengangguk. "Kau tak memiliki mansion atau manor sendiri?"

Kali ini Scorp menggeleng. "Setiap King dari klan Malfoy akan menempati manor ini dengan istri serta anak dan semua keluarganya."

Rose bersedekap di ambang pintu itu. "Jadi, maksudmu kita akan tinggal disini bersama adik dan ayahmu dan semua orang yang kau anggap keluarga?"

Untuk kedua kalinya Scorp mengangguk untuk menanggapi pertanyaan dari calon isirinya itu. Rose menghela napasnya. "Damn a happy family," umpat Rose dalam hati.

Sejak kematian Ron dan Luna – orang tua angkatnya ia resmi kembali ke keluarga Allegri dan menetap di sebuah mansion di New York. Hanya Marizio, Hugo dan dirinya. Hugo yang lumpuh dari pinggang hingga kaki tak mampu banyak untuk menemaninya. Hampir setiap hari selama masa kecilnya, Rose hanya berlatih dan terus berlatih dalam hal bela diri . Dan saat remaja, ia dan Lorenzo mulai dibawa dari satu klien ke klien lain untuk melihat bagaimana cara kerja Cosa Nostra. Kehangatan keluarga tak pernah menjadi bagian dari hidupnya.

"Kau kenapa?" tanya Scorp yang melihatnya sepeti hilang dari dunia nyata.

Rose menggeleng. "Hanya sedang berpikir satu dan lain hal," balas Rose dengan sedikit senyuman di ujung bibirnya yang membuat Scorp menyeringai.

000

Rhaella memacu Ares, kuda cokelatnya di lapangan belakang manor ini. Dia sangat menyukai sensasi saat udara bergerak menerpa setiap sisi wajahnya. Rasanya begitu lepas dan bebas. Sudah lebih dari satu jam ia bersama Ares, mulai dari mengujunginya di kandang sampai menungganginya. Dari hanya membawanya berjalan santai hingga memacunya sekencang yang dapat ia lakukan. Bukan sebuah rahasia jika Rhaella menyukai kuda. Bahkan saat ia belum dapat merapalkan sebuah sihir dengan tongkatnya ia sudah dapat memacu kudanya dengan cara yang sangat profesional.

Suara derap langkah dari kuda lain mendekat ke arahnya dan ia berbalik untuk melihat kuda hitam dan pemiliknya yang perlahan berjalan mendekatinya. Dan seperti mandatori wajib saat melihat sosok itu, senyum Rhaella mengembang.

"Kau sudah kembali," ujarnya.

"Aku harap kau tak terlalu merindukanku, milaya," balas Ballard.

Rhaella terkekeh. "Ini sudah hampir tiga hari tentu aku merindukanmu," jawab Rhaella yang dibalas dengan senyuman oleh Ballard.

"Kau mau berlomba sore ini?" tanya Ballard.

Rhaella hanya berpura-pura terkejut. "Jika kau kalah, kau harus membawaku berlibur, Liam."

Sebelum Ballard dapat menjawabnya, Rhaella sudah menghentak kudanya dan Ares berlari secepat kilat. Rhaella menatap Ballard sesaat dari bahunya. Pria itu hanya tesenyum lalu mengejar kuda di hadapanya itu.

Hampir dari setengah jam mereka berkuda. Dari lapangan di manor ini sampai ke sisi pekarangan di sekitar manor dan akhirnya kembali ke lapangan itu lagi. Senyum masih mengembang di wajah Rhaella begitupula dengan Ballard yang terlihat jauh lebih muda dari usianya. "Kau kalah," ujar Rhella yang turun dari Ares lalu perlahan menuntunnya kembali ke kandang.

"Aku mengalah," kekeh Ballard.

"Kau harus menepati janjimu untuk membawaku berlibur."

Senyum di wajah Ballard lenyap seketika dan Rhaella tahu apa penyebabnya, namun ia tak mau mengucapkannya. Hal seperti ini sudah menjadi isu lama dalam hubungan yang sudah mereka bangun sejak tiga tahun yang lalu ini. Rhaella hanya diam dan membawa Ares ke dalam kandangnya begitupula dengan Ballard yang baru saja keluar dari kandang setelah memasukan Grace – kuda hitamnya. Mereka berdiri berhadapan di depan kandang kedua hewan peliharaan itu.

"Kau tahu aku tak dapat melakukannya. Aku tak dapat semudah itu pergi berdua denganmu dengan resiko orang-orang memergoki kita," ujar Ballard tanpa menatap kekasihnya itu.

Ia masih menatap Grace dan Ares di kandang mereka secara bergantian. Rhaella menghela napanya yang semua orang katakan sangat mirip dengan ibunya. "Mau sampai kapan kita akan terus seperti ini, Liam."

Sebuah pertanyaan keluar dari mulut wanita berambut cokelat itu, namun lebih terdengar sebagai pernyataan bagi Ballard. "Kau tahu masalah ini sejak awal, Rhaella" balas Ballard lembut.

Untuk kesekian kalinya wanita ini menghela napas. "Jika hal ini karena ayahku, ayo kita bicara dengannya. Kau mencintaiku dan aku juga mencintaimu, Liam. Ayahku akan menyetujui apapun yang menjadi pilihanku. Terlebih lagi dia menyayangimu," balas Rhaella yang menatap lekat pria di hadapannya ini.

"Bukan hanya masalah ayahmu, tapi apa yang akan orang-orang katakan tentangmu, tentang hubungan kita."

Kening Rhaella mengerut. "Jika hal ini adalah masalah perbedaan usia kita yang jauh, demi Merlin aku tak peduli, Liam. Ada begitu banyak pasangan di luar sana yang memiliki perbedaan usia yg jauh dari kita. Untuk ukuran pria berusia 40 tahunan sepertimu, kau masih tampak seperti pria di awal usia 30 tahunnya."

Ballard tak sengaja terkekeh melihat Rhaella yang tengah mengomel dan ekspresi wajahnya yang begitu menggemaskan. "Jangan tertawa," tandas Rhaella.

Ballard langsung mengatupkan giginya dan ia menarik Rhaella untuk menciumnya sesaat. Ia melepaskannya sebelum orang lain dapat memergoki mereka. Ballard mengambil tangan dari wanita itu dan menggenggamnya. "Aku hanya ingin kau dapat menciumku dan menggenggam tanganku dengan sangat bebas tanpa takut seseorang memergoki kita."

Pria itu mengangguk. "Suatu saat. Aku akan meminta izin secara langsung pada Paxan untuk dapat bersamamu."

Rhaella mengangguk. Senyumnya juga mengembang, terutama saat pria yang dicintainya ini memanggil ayahnya dengan sebutan Paxan, yang dalam bahasa Russia berarti godfather. "Don't give up on us, milaya," ucap Ballard.

"I've never give up on us. I've never give up on you, Liam Ballard."

Suara derap langkah di belakang mereka membuat Ballard melepaskan tautan tangan mereka. "Sir," sapa sebuah suara.

Ballard berbalik dan menatap salah seorang anak buahnya. Anak buahnya seakan ragu untuk berbicara. Sebuah perkamen berada di tangannya. Ia memandang Rhaella lalu Ballard secara bergantian. "Bicaralah. Kau dapat mengatakannya di hadapan Miss Rhaella."

Pria yang masih berusia di awal dua puluhan itu menyerahkan perkamen itu pada Ballard. "Kami sudah menemukan otak dari kejadian yang menimpa Boss dengan Miss Allegri kemarin."

000

"Aku mau walk-in closet tersendiri di suite ini."

Scorp mengangguk

"Aku juga ingin memilih gaun pernikahanku sendiri."

Scorp mengangguk.

"Aku juga akan menentukan bagaimana pesta pertunangan kita dan hari pernikahannya."

Kembali Scorp megangguk. Melihat gestur yang ditunjukkan Scorp, Rose berkacak pinggang di ruang tengah suite itu. "Untuk ukuran pria yang dijuluki The Ice Man dan calon King dari sebuah organisasi rahasia mematikan ini kau sangat mudah kuatur, Scorpius."

Scorp menyeringai lalu menggeleng. Dia bangkit dari duduknya lalu menuangkan wine ke gelasnya. Ia memberikan salah satu gelas itu pada Rose. "Dan untuk ukuran wanita yang dengan mudahnya dapat menghilangkan nyawa seseorang, kau tampak terlalu sibuk mengurusi pesta pernikahan ini serta pernak-perniknya."

Rose terdiam mendengar komentar Scorp tadi. "Masalah aku sangat mudah diatur, kau belum mengenal diriku, Rosabelle. Aku tak akan membuang energi untuk berdebat denganmu tentang masalah remeh seperti ini."

"Remeh?" tanya Rosabelle tak percaya.

Scorp kembali menyeringai lalu menyesap wine di tangannya. "Dibalik semua tindakanmu dan cara bicaramu yang dingin kau ternyata adalah wanita lemah dan romantis, Rosabelle."

Kali ini Rosabelle yang menyeringai lalu menggeleng. Ia berjalan mendekati Scorpius. Mata mereka saling tatap dengan jarak yang begitu dekat. Rose baru sadar betapa jernih iris kelabu dari calon suaminya ini. Rose memegang pipi pria itu lalu tersenyum tipis seperti yang ia lakukan saat pertama kali mereka bertemu. "Kau lupa bahwa aku adalah lulusan English Literature di Harvard. Tentu aku romantis, tapi apakah aku lemah?"

Ucapan Rose tertahan begitupula dengan napas Scorp yang ikut tercekat. Tangan lembut wanita itu masih terus membelai wajah Scorp dengan senyum tipis dan mata kelam yang menatapnya sangat intens. Seketika tangan Rose yang sedari tadi berada lembut di wajah Scorp berhenti lalu menampar pipi itu dengan sangat keras. "Kau juga belum mengenalku, Scorpius," ujar Rose dengan suara husky-nya.

Tamparan itu membuatnya terkejut dan refleks menangkap tangan Rose. Dengan dipacu oleh adrenaline dan hormon testosterone-nya ia mendorong Rose ke dinding kaca balkon ini. Dengan cekatan pula ia mengeluarkan tongkatnya begitupula dengan Rose. Tongkat sihir Rose sudah berada di leher Scorp dan begitupula dengan tongkat Scorp yang sudah berada di bawah dagu wanita ini. "Kau..," ucapan Scorp tertahan.

Sebagian dari dirinya ingin sekali merapalkan mantra dan mencabik wanita di hadapannya dan sebagian dirinya juga ingin sekali melumat bibir merah wanita yang akan segera menjadi istrinya ini dan membenamkan diri di dalamnya sampai ia berteriak ampun padanya. Ia tak tahu bahwa tubuhnya dapat bekerja secara antagonis seperti ini.

"Kau mau membunuhku lalu menciptakan perang antara The Sociaty dan Cosa Nostra yang seharusnya tak terjadi?" bisik Rose dengan napas yang juga tercekat akibat tubuh serta tongkat Scorp yang seakan membloknya.

Perlahan Scorp melepaskan dirinya lalu mundur beberapa langkah dari Rose. "Jangan bermain-main denganku, Miss Allegri."

Belum sempat Rose menjawab suara ketukan terdengar dari balik pintu suite ini lalu Ballard dan Rhaella muncul dari baliknya. "Apa yang terjadi dengan pipimu, Scorp?" tanya Ballard.

Scorp memegang pipinya yang kembali terasa perih akibat tamparan maha dahsyat dari Rose tadi. Mata Ballard beralih pada Rose yang mengedik. "Dia melakukan hal ini padamu?" tanya Rhaella.

"Ada apa Ballard?" tanya Scorp.

Seakan tak memedulikan ucapan kakaknya, Rhaella maju dan mendekati Scorp. "Kau menampar Scorp?" tanya Rhaella yang hanya dijawab dengan anggukan dari Rose.

"Wow ini rekor baru," balas Rhaella.

"Apakah belum ada wanita yang menamparnya?" tanya Rose penasaran.

Rhaella dan Ballard menggeleng. "Great. Aku akan sesering mungkin menamparmu, Scorpius."

Scorp hanya diam dan kembali memandang Ballard. "Ada apa?"

"Pelaku yang menyerang kalian sore itu sudah ditemukan."

Scrop dan Rose saling bertukar pandang. "The Bratva?" tanya Scorp cepat yang dijawab dengan gelengan oleh Ballard.

Ia menyerahkan perkamen yang berisi foto di tangannya kepada Scorp. "Kau tahu dia?" tanya Ballard pada Scorp setelah ia melihat foto itu.

Holy shit!

Tentu Scorp ingat orang itu. Dia adalah ayah dari anak lelaki yang di bunuhnya di hotel di Moscow bersama Albus beberapa bulan yang lalu. Ia tak tahu bahwa pria tua busuk itu menyimpanan dendam padanya. Pastinya ia telah mengikuti gerak-gerik serta perkembangan berita tentang Scorpius sehingga ia dapat menyerangnya sore itu.

"Dia adalah Mikael Orlov, ayah dari anak lelaki yang kubunuh beberapa bulan lalu di Moscow," jawab Scorpius tenang.

"Jadi serangan ini bukan permulaan dari pernikahanku dengan kau?" tanya Rose yang dijawab dengan gelengan oleh lawan bicaranya.

"Siapkan jet sihir kita. Aku ingin berbicara dengannya malam ini juga."

"Tentu," balas Ballard sambil mengangguk.

"Aku akan menghubungi Albus dan Niklaus untuk malam ini. Kita akan pergi berempat malam ini."

"Berlima."

Semua mata tertuju pada Rose, sementara wanita itu hanya mengangkat bahunya. Dia menatap Scorpius dengan alisnya yang mengerut. "Dia juga mencoba membunuhku, kau sudah lupa akan hal itu," ujar Rose.

Scorp menggeleng. "Kau tetaplah disini. Biarkan aku yang membereskannya."

Kali ini Rose yang menggeleng. "Saat kita menikah nanti, semua musuhmu adalah musuhku dan begitupula sebaliknya. Mari kita latihan dengan hal yang paling mudah terlebih dahulu," ujar Rose.

Ketiga pasang mata lainnya masih menatap terkejut dan tak percaya dengan apa yang dikatakan wanita ini. "Lagipula dia menghancurkan makan siang kita. Aku harus melihat sendiri bagaimana ia meregang nyawa."

Scrop menghela napas. "Terserah padamu. Tetapi, aku tak mau kedua orangmu yang menunggu di luar sana ikut. Kau belum resmi menjadi bagian keluarga ini, Miss Allegri."

"Tentu, Mister Malfoy. Aku akan mengistirahatkan mereka sejenak," balas Rose

Tetiba saja Rhaella bertepuk tangan. Scorp memandang curiga pada adik perempuan satu-satunya ini. "Aku suka wanita ini, brother. Kau tak salah pilih ternyata," kekehnya persis yang dilakukan Rhaegar lalu.

"Baiklah aku akan kembali ke suite-ku," ujar Rhealla sebelum Scorp menyemprotnya.

Kekehan masih berada di suaranya sampai akhirnya Scorp membuka suara. "Kenapa kau dan Ballard dapat datang secara bersamaan?"

Langkah Rhaella dan Ballard terhenti otomatis secara bersamaan. Mereka saling bertukar pandang dan tampak jelas bahwa raut panik tampak dari wajah Rhaella. Wanita ini sama sekali payah dalam urusan bohong membohongi. "Aku bertemu dengannya di kandang kuda lalu bergegas kesini setelah mendapat info ini," jawab Ballard.

"Kita akan bertemu di landasan satu jam lagi?" tanya Ballard lagi mengalihkan pembicaraan.

Scorp mengangguk. Saat mereka keluar kening Rose kembali mengerut. "Ada apa lagi?" tanya Scorp yang akan menghubungi Albus dan Niklaus untuk misi ini.

"Adikmu dengan Ballard menjalin hubungan?"

Kali ini kening Scorp yang mengerut. "Tak mungkin. Ballard sudah seperti anak bagi ayahku. Hal itu tidak mungkin."

Rose hanya mengedik dan diam di tempatnya. "Kau mengatakan akan ikut dalam misi ini. Cepat persenjatai dirimu."

Bukannya menyahut ia justru berjalan mendekati Scorp. "Pertama, aku Rosabelle Weasley-Allegri. Aku tak mungkin keluar dari mansionku tanpa dipersenjatai," ujar Rose lalu mengambil tangan Scorp lalu meletakkanya di paha wanita itu.

Pria itu sedikit menelan ludahnya saat ia merasakan pistol di balik rok hitam yang dikenakannya. Dan ia semakin menahan napasnya saat harum wanita inilah yang menjadi fokus utama penciumannya. "Dan yang kedua. Jangan pernah memerintahku, Scorpius. Aku calon istrimu, bukan pelayan atau anak buahmu."

Scorpius tak menjawabnya. "Sampai jumpa di landasanmu satu jam lagi," ujar Rose yang lalu keluar dari suite ini tanpa berpamitan padanya.

"Hell. I'm getting married with bloody evil," ujar Scorp.

000

Tepat satu jam Scorpius dan kedua sahabatnya serta Ballard sudah berada di landasan pribadi jet keluarganya. Mereka menunggu di luar pesawat itu sementara Roman – pilot pribadi keluarga Malfoy tengah mempersiapkan jet itu. Mata keempat pria itu langsung tertuju pada Maseratti yang baru saja memasuki area itu. Sebuah kaki dengan stiletto yang tak pernah lepas darinya keluar dari dalamnya. Rosabelle keluar dari mobil sedan buatan Italy itu dengan sangat anggun dan masih dengan roknya. Bagaimana ia membunuh seseorang dengan rok dan sepatu setinggi itu, pikir Scorp.

Seorang pria keluar dari balik kemudinya lalu mereka saling berhadapaan. Scorpius memerhatikan tingkah dan gerak-gerik kedua manusia itu. Rose tampak santai saat pria itu memegang pundaknya sebelum pria itu memandang Scorpius. Dia mengangguk sesaat lalu kembali ke balik kemudi sedan hitam itu.

"Evening, guys," ujar Rose pada keempat pria itu.

Scorpius masih memperhatikan sedan hitam itu sampai ia menghilang dari pandangannya, sementara Albus tak dapat menutupi senyum sumeringahnya saat melihat sepupu yang sudah bertahun-tahun tak ditemuinya itu. "Rose," ucap Albus yang sontak ingin memeluknya namun dalam sekejap saja wanita itu mundur.

"You know, I'm not a hugger, Al," ujar Rose defensive.

Albus terediam sesaat di tempatnya lalu menggeleng dan langsung memeluk wanita itu untuk kemudian melepaskannya setelah mereka bertukar tawa. "Dan kau tahu aku tipe pemberontak, Rose."

"Lama tak berjumpa denganmu, Rose. Dan kita harus bertemu dalam keadaan tidak normal seperti ini," tambah Al.

Rose tersenyum tipis khas dirinya. "Kita tak mengenal kata normal, Al."

"Ini Niklaus," ujar Albus pada Rose untuk mengenalkan salah satu sahabatnya.

Rose mengangguk. "You're the sniper," ujar Rose.

"And you're our future queen," balas Niklaus.

Mereka saling tersenyum, sementara Scorpius masih memerhatikan sisa-sisa dari kepergian sedan itu. Ia seakan tak berada bersama mereka. Pikirannya melayang kepada fakta siapa sebenarnya pria tadi. Rose tampak nyaman berada di dekatnya. "Siapa pria tadi?" tanya Scorpius tanpa berbasa-basi lagi.

Kening Rose mengerut, begitupula dengan ketiga pria lainnya di landasan itu. Rose menatap Scorp sebelum senyum itu kembali terpulas di wajahnya. "Just like you, I have the entourage too."

Albus dan Niklaus menahan tawa mereka. Scorp yang sadar dengan apa yang dilakukan oleh kedua sahabatnya memberikan tatapan yang mematikan dan langsung membungkam kelakuan kedua pemuda itu. Sebelum Albus kembali mengolok Scorp, Roman keluar dari jet mereka. "Ready to take off, Sir," ujarnya.

Ballard langsung masuk ke jet itu begitupula dengan Albus dan Rose yang sekejap bertukar pandang dengan Scorp. Niklaus masih tersenyum jahil lalu menepuk sesaat pundak Scorp. "You just met her, mate. Don't lose your coolness."

"Shut up, Niklaus," desisnya.

Niklaus hanya terkekeh lalu masuk ke jet itu. Scorpius menghela napas sejenak sebelum bergabung dengan mereka.

000

Moscow, Russia

Alih-alih ber-Apparate, tujuan mereka menggunakan jet sihir ini adalah mengulur waktu dan merencanakan penyerangan ke kediaman Orlov di Moscow itu. Cetak biru dari kediaman itu sudah berada di meja cabin jet ini. Ballard sudah menjelaskan setiap cela dari rumah ini dan sistem pertahanan sihir yang ada disana. Bertahun-tahun di Rusia membuatnya tahu betul seluk beluk penyihir disana. "Kau akan di mobil seperti biasa. Setelah menghancurkan pertahanan sihir mereka kau harus tetap menjaga bahwa tak ada satupun dari tikus itu melarikan diri. Lakukan tugasmu seperti biasa," ujar Scorp.

"Yes, Sir," jawab Al.

"Aku mendengar rumah itu dijaga hampir satu peleton pengawal. Kau harus tembak setiap penjaga yang berada di sekitar rumah itu dan jangan ragu untuk menembak klan Orlov bila kau melihat mereka keluar," kali ini Scorp berbicara pada Niklaus.

"Yes, Sir," balas Niklaus layaknya Al tadi.

Kini tatapan Scorp beralih pada Ballard. "Dan seperti biasa, Ballard akan masuk bersamaku."

Ballard hanya mengangguk. Dan tatapan Scorp terakhir jatuh pada Rose yang tengah menunggu apa perannya di misi. "Kau ikut bersamaku sampai kau bisa melihat dengan mata kepalamu sendiri bagaimana ia meregang nyawa."

Rose tersenyum. "Great," hanya itu balasannya.

Tepat setengah jam setelah penerbangan dari London menuju Moscow secara sihir mereka mendarat dengan mulus. Sebuah limousine sihir sudah menunggu mereka disana untuk membawa ke kediaman Orlov.

Sesampainya disana semua sudah berada di posisi masing-masing. Albus sudah mulai membajak sistem pertahanan sihir mereka, sementara Niklaus sudah berada di salah satu atap menara penjagaan rumah ini. Dengan peredam di ujung pistolnya, satu per satu penjaga itu tumbang. "Main gate is clear," ucapnya di earphone sihir Ballard, Scorp dan Rose itu.

Gerbang sudah terbuka. Mereka melenggang dengan nyamannya. Ballard memimpin jalan sementara Scorp sudah sangat siaga di belakangnya. "Kau bisa kembali ke limousine jika takut," ucap Scorp pelan saat mereka melewati tubuh-tubuh penjaga yang sudah berhasil dihabisi oleh Niklaus.

Rose menggeleng. "Aku justru takut kau yang terkena serangan jantung dengan apa yang dapat aku lakukan."

Tetiba saja Ballard mulai menembakan amunisinya ke penjaga yang keluar dari rumah itu. Kilatan mulai menyambar dari masing-masing tongkat mereka. Ballard sudah menghilang dari radar pandang Scorp sementara Rose berada di sisi kirinya dengan dua orang yang tengah di hadapinya.

Bang

Bang

Scorp terkesiap. Ia mencari sumber suara itu dan melihat kaki Rose yang terserempet peluru. Ia langsung berlari ke arah calon istrinya itu. Namun seakan tak terjadi apapun Rose kembali bangkit dan mengeluarkan pistol lain dari balik blouse yang ia kenakan.

Bang

Bang

Dan dua pria di hadapan serta sampingnya yang baru saja akan mencengkramnya terjatuh. "See I got this, Scorpius."

Perasaan lega baru saja menjalar di aliran darah Scorp, pupil mata Rose membesar saat menatapnya. "Merunduk," teriak wanita itu.

Refleks Scorpius melakukannya dan dengan satu lemparan sebuah belati menancap di kepala pria yang baru saja hendak merapalkan mantra pada Scorpius. Dengan sedikit terseok di atas stiletto-nya Rose berjalan menghampiri pria itu. Senyuman khasnya mengembang. "1-0, Sir."

Tanpa banyak basa-basi lagi Rose melekatkan tangannya di earphone-nya. "Is all clear?" tanyanya pada Ballard.

"Clear. Orlov ada di halaman belakang," balasnya.

Scorpius membiarkan Rose berada di depannya. Darah mengalir dari kakinya yang terserempet peluru tadi, tapi ia tak mau menanyakannya melihat betapa besar harga diri dari wanita itu.

Ballard sudah bersiaga di tempatnya dengan tongkat yang sudah di arahkan ke Orlov. Sementara tikus tua itu sudah berlutut tak berdaya di halaman belakang rumahnya ini. Ia tertangkap oleh Ballard saat akan melarikan diri dari kediamannya sendiri. Keringat sebesar-besar biji jagung mengalir deras di permukaan wajahnya. Rose dan Scorp bergabung bersama mereka.

"He's all yours," hanya itu komentar Ballard sebelum menyerahkan pria itu kepada Rose dan Scorp.

Scorp langsung menghunuskan tongkatnya ke arah pria yang bahkan lebih tua dari ayahnya itu. "Lama tak berjumpa, Orlov," ujar Scorp yang tanpa tedeng aling-aling lagi merapalkan mantra dari tongkatnya.

Seketika Orlov menggeliat kesakitan dan berteriak sekuat tenaganya. Scorpius hanya berdiri di tempatnya sambil sesekali menggerakan tongkatnya untuk menyiksa tikus ini perlahan. Sebuah tangan menepuk bahunya dan Scorp melepaskan pria itu. Rose hanya menjentikan alisnya lalu berjalan ke arah Orlov dengan sedikit terseok. Dia berlutut tepat di hadapan pria yang dipaksa untuk berlutut meski seluruh otot ditubuhnya seakan ingin lepas dari setiap tulangnya. Tongkat Rose sudah berada di pipi Orlov dan senyum khasnya kembali mengembang. "Hello old man. Mikhael Orlov, right?"

Orlov tak menjawabnya. Hanya ada darah yang mengalir deras dari pelipisnya dan napasnya yang terengah tak beraturan. "Aku tak peduli apa yang dilakukan oleh calon suamiku padamu, tapi apa yang aku lakukan padamu sehingga kau tega menginterupsi makan siangku, huh?" tanya Rose yang terdengar seperti berbisik di telinganya.

Orlov tetap tak menjawab. "Kau tahu betapa tak sopannya dirimu karena tak menjawab pertanyaanku?" ungkap Rose.

Kembali dengan satu kali jentikan Orlov langsung terjerembab di tanah. Dia kembali kesakitan sampai Rose menghentikan siksaannya. Wanita itu kembali membuat Orlov berlutut di hadapannya.

"Hentikan, Rosabelle," ujar Scorp dengan suara rendah nan dinginnya.

"Tapi dia belum menjawab pertanyaanku," jawab Rose.

Scorp menggeleng. "Aku sudah tahu apa yang ada di dalam pikirannya. Dan sekarang aku hanya ingin menghabisinya," balas Scorp.

Giliran Rose yang kali ini menggeleng. "Tak semua orang dapat membaca pikiran seperti para Malfoy," ujar Rose penuh nada sarkastik.

Dia kembali pada Orlov. "Jadi katakan padaku, apa yang membuatmu menyerang kami, Orlov?"

Kali ini Orlov memalingkan wajahnya lalu meludahi wajah Rose. "Bitch," komentarnya.

Alih-alih mengamuk, Rose bangkit dan membersihkan wajahnya dengan sapu tangan dari kantungnya. "Kau dan kakekmu serta The Sociaty pantas mendapatkan hal lebih buruk dari sekadar balas dendamku."

Dan kali ini tanpa tedenga aling-aling lagi Rose mengeluarkan pistolnya dan menembak lutut serta pundak kirinya. Scorpius memegang lengan wanita itu untuk menahan tembakannya, sementara Orlov sudah kembali ambruk di tanah. "Sudah kukatakan bahwa aku tahu yang tengah ada di pikirkannya. Mendengarnya dan membiarkan dia meludahimu hanya akan membakar emosimu saja, Rosabelle."

Scorp maju dan menyetuh wajah pria yang secara perlahan tengah meregang nyawanya itu dengan ujung kakinya. "Sore itu aku ingin memaafkan puteramu, tapi dia terlalu bodoh untuk dapat menghargai kemurahan hatiku. Dan sekarang kau ikut menjadi bodoh dengan berpikir dapat membunuhku dengan orang-orangmu."

Setelah menyelesaikan kalimatnya ia mengeluarkan pistol dari balik jaketnya dan memuntahkan peluru tepat di kepala Orlov. Scorp memasukan kembali pistolnya itu dan berjalan untuk bergabung dengan Ballard dan Rose yang masih terbakar emosi. "Lain kali dengarkan kata-kataku dan jangan pernah menginterupsi diriku seperti tadi, Rosabelle."

Namun belum sempat Rose menjawabnya mata Scorp menatap wanita yang terlihat histeris di sisi lain rumah ini. Anak dari Orlov itu mengeluarkan pistolnya ke arah mereka. "Dad!" teriaknya.

Scorp dengan sigap menarik Rose ke sisinya dan dengan satu kali tarikan pelatuk wanita itu tewas tertembus timah panas di jantungnya. Rose masih mengerjap saking terkejutnya. Scorp menyentuh ujung dagu wanita itu dan menatap lekat iris cokelat kelamnya. "1 sama, Miss Allegri."

Ballard mengeluarkan ponsel sihirnya lalu berbicara kepada Tukang Ledeng di kota ini dengan bahasa Rusia yang sudah sangat kental ia kuasai. Sementara Rose hanya memerhatikan dua tubuh yang jatuh di halaman belakang rumah ini. Baru saja Scorp hendak pergi meninggalkan halaman itu, matanya menangkap ringisan yang tampak di wajah Rose. "Kau kembali duluan ke mobil, aku akan mengobati Rosabelle terlebih dahulu," ujar Scorp pada Ballard.

"Aku tak butuh bantuanmu, aku dapat mengatasinya," balas Rose dengan ekspresi dinginnya.

Tak mau terlalu lama berada di antara calon suami dan istri itu, Ballard pergi dari halaman itu. "Aku harus memulangkanmu tanpa luka sedikitpun, Miss Allegri," ujar Scorp.

Rose menggeleng. "Tapi aku tak butuh pertolonganmu," tandas Rose.

Scorp berjalan ke arah wanita itu lalu menyentuh betis Rose dengan ujung sepatunya. Wanita itu seakan kehilangan keseimbangan dan dengan cepat Scorp menangkapnya. Scorp menatap lekat Rose lalu seringaian muncul di wajahnya. "Kau butuh bantuan," ujarnya.

Tanpa tedeng aling-aling lagi ia mengangkat Rose ke bahunya. "Turunkan aku, dickhead!" bentak Rose yang sama sekali tak dipedulikan Scorp.

Lelaki itu hanya terus berjalan sampai mereka kembali ke dalam rumah itu. Tak ada tanda-tanda kehidupan lagi di dalam sana. Hanya ada tubuh-tubuh yang bergelimpangan di lantai serta darah yang tercecer di sekitarnya. Scorp langsung menghempaskan tubuh Rose di sebuah ranjang di salah satu kamar di rumah ini. "Damn it, dickhead!" bentak Rose untuk kesekian kalinya.

Dan tak perlu memakan waktu yang lebih lama lagi, Scorp menarik kaki Rose yang tak terluka dan mendudukannya di tepi ranjang itu. "Shut up dan stay still, Rosabelle. Kau akan kehilangan lebih banyak darah bila masih saja melawanku," ujar Scorp.

Merasa perlawanannya akan menjadi begitu sia-sia Rose menuruti perkataan Scorp dan diam untuk sesaat di tempatnya. Scorp mengeluarkan sebuah botol dari sakunya dan tanpa permisi menuangkan ramuan itu ke luka Rose. Rasa menggigit darinya membuat Rose sedikit meringis namun tak berteriak atau kesakitan seperti orang lain lakukan. Ekspresinya masih dingin seperti biasanya. Ia pernah mengalami hal yang lebih buruk dari ini. Setelah membersihkan sisa darah yang menempel di tepi luka itu, Scorp mengeluarkan kain perban steril kembali dari sakunya. Sementara Scorp mengobatinya, Rose hanya mampu menatapnya. Tak ada yang pernah menyentuhnya seperti ini. Tak ada yang pernah mengobatinya atau membantunya membersihkan luka akibat pertempuran yang dilakukannya. Selain ia tak suka orang lain memegang dirinya, ia juga tak mau orang lain melihat lemah dirinya. Tetapi, dengan Scorpius segalanya begitu berbeda. Dia baru mengenal pria ini beberapa hari dan mereka baru bertemu dua kali secara resmi dan dengan mudahnya ia membiarkan Scorpius menyentuh dan melihatnya dalam keadaan seperti ini.

Seakan menemukan kembali kewarasannya. Ia bangkit dari ranjang itu tanpa memedulikan Scorp yang masih melakukan sentuhan terakhir pada perbannya. "What the fuck, Rosabelle! Aku sedang merapihkan perbanmu," desis Scorp.

Rose menggeleng dan berjalan ke arah pintu kamar ini. "Aku sudah mengatakan padamu bahwa aku tak membutuhkan bantuanmu," tandas Rose.

Scorp bangkit dari tempatnya lalu mendorong Rose ke pintu ganda kamar ini. Dengan cepat ia melucuti semua senjata yang ada di tubuh Rose. Belati, pistol bahkan tongkat sihirnya. Wajah mereka hanya berjarak beberapa centi. Kemarahan tampak jelas di mata kelabu Scorp. Seumur hidupnya tak ada yang pernah berani membantah atau membentak dirinya. Dan wanita yang baru dikenalnya seumur jagung ini sudah melakukannya berkali-kali . Scorp mengunci kedua tangan Rose di atas kepalanya. Napas mereka memburu.

"Tak ada yang pernah membantah apalagi membentakku dan aku akan memastikan bahwa kau tak akan melakukan hal itu terutama di depan orang banyak," ujar Scorp yang terdengar seperti berbisik di bibirnya.

Alih-alih merasa terintimidasi, Rose mendengus lalu tersenyum. "Jika seperti itu, aku juga akan memastikan bahwa aku akan tetap membentak dan membantahmu."

"Kita seharusnya mendukung satu sama lain, Rosabelle," ujar Scorp dengan suara husky yang dihasilkan oleh mulutnya.

Rose menelan ludah dan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya saat mendengar suara itu terutama saat jarak mereka semakin dekat seperti saat ini. Helaan napas Scorp seakan membanjiri seluruh permukaan wajah Rose. Tangannya semakin kuat mencengkram Rose di atas kepalanya, sementara kaki Scorp sudah mengunci kaki Rose sedari tadi agar ia tak mampu menendang apalagi melarikan diri.

"Let me go, dickhead," ucap Rose yang terdengar bagai tak berdaya di antara pria ini dan pintu yang seakan menjebaknya.

Scorp menyeringai lalu menggeleng. Ia menatap lekat mata cokelat itu lalu turun ke leher putih nan jenjangnya itu. Rose kembali menarik napas dan menelan ludahnya untuk kesekian kalinya. Jantungnya berderap kencang begitu juga dengan napasnya yang menderu di atas kata normal. Scorp menyadari hal ini dan ia tahu bahwa Rose merasakan efek yang sama seperti yang ia rasakan saat Rose di dekatnya. Perlahan ia mendekatkan kepalanya di telinga Rose. "Never, arrogant bitch."

Tanpa Rose dapat antisipasi, bibir Scorp sudah berada di bibirnya. Ia melumat habis bibir itu. Rose berusaha melepaskannya sesaat namun menyerah untuk selanjutnya. Scorp melepaskan genggaman tangannya pada Rose untuk memudahkan wanita itu mengalungkan tangannya di leher Scorpius. Scorp semakin merapatkan jarak mereka dan meletakkan kaki Rose yang terluka ke pinggangnya. Bibir Scorp perlahan turun ke leher Rose yang beberapa hari belakangan ini telah dipikirkannya.

"Ehm," Rose melenguh saat bibir Scorp beralih ke dadanya.

Perlahan Scorp kembali ke bibir Rose dengan napas wanita itu yang masih menderu. Scorp menarik dirinya dari Rose dengan seringaian di wajahnya. Dibelai lembut bibir Rose yang semakin terlihat kemerahan dengan ibu jarinya. Rose masih terengah dengan pikiran yang tak karuan. "Tak ada yang pernah membantahku, Rosabelle," bisik Scorp lalu menurunkan kaki Rose yang masih melingkari pinggangnya.

Ia menyeringai saat menatap Rose yang masih terengah. "See you soon on limousine."

Baru saja Scorp hendak keluar dari kamar itu, ia menghentikan langkanya. "2-1, Miss Allegri."

Rose mengeram karenanya. "Damn it," umpatnya."

000

to be continued

How's this chapter? Let me know what you think. So don't forget to leave your review, okay? I'm so glad you guys still love my story.

Saya hanya penasaran siapa yang kalian bayangkan untuk tokoh-tokoh di cerita ini. Sampai jumpa di chaper selanjutnya. Terima kasih:)