AFTER MIDNIGHT


Main Cast:

Krisyeol (Kris, Chanyeol)

Kaihun (Kai, Sehun)

Lumin (Luhan, Xiumin)

Sudo (Suho, Kyungsoo)

Taobaek (Tao, Baekhyun)

ChenLay (Chen, Lay)

Rating: M

Genre : Romance, Mystery, adventure, yaoi, yadong, horror, AU, OOC, Friendship, dll

Length: Chaptered

Bahasa: Indonesia campur aduk


^^HAPPY READING^^


Chapter 1

Something Behind Us


29/10/2015. Location: Yunjae's Palace. Courtyard, Great Hall, Dining Room – 21.30-23.36 PM

Daun-daun cokelat mati menutupi halaman depan. Bunyi gemerisik berputar di atmosfir ketika sepatu-sepatu kets itu melangkah diantara dedaunan kering. Menginjaknya hingga berubah menjadi serpihan kering tak beraturan. Rumput-rumput tinggi menusuk dimana-mana. Seluruh bagian kastil itu tertutup dalam kegelapan, seolah-olah bersembunyi dalam bayang-bayang pepohonan tua yang melengkung diatasnya. Di tengah-tengah halaman ada kolam ikan yang sangat luas. Iseng-iseng Chanyeol mendekat dan melongok ke kolam ikan. Tidak apa-apa disana. Hanya air keruh, lumut hijau menjijikkan dan jentik-jentik nyamuk.

Ihh. Setelah meringis jijik sebentar, Chanyeol beringsut menjauh dan bergabung dalam kerumunan lagi.

Tempat ini menyeramkan, pikir Tao sedih.

Semua orang pasti berpikir hal yang sama.

"Apa paman dan bibimu tidak pernah bersih-bersih? Goddamn! This place looks like a crap!" keluh Kris geleng-geleng kepala.

Suho terkekeh kecil. "Tidak mungkin. Pasti sering dibersihkan, hanya saja mungkin mereka lagi sibuk jadi tidak sempat."

"Mereka tidak punya pembantu? Asisten rumah tangga? Pelayan dan sejenisnya?" tanya Kyungsoo penasaran. Dia baru semenit berada disini tapi rasanya sudah kepingin pulang daritadi.

"Setauku sih punya. Terakhir kali aku kesini ada Paman Frans, pelayan pribadi mereka. Terus mereka juga punya dua tukang kebun."

"Terakhir kali itu kapan?" Kris mendengus. "Dua puluh tahun yang lalu?"

Suho angkat bahu sekilas. "Well, mari kita nikmati saja liburan ini daripada pusing-pusing mikirin pekarangan rumah yang tak terurus." sambil menggandeng tangan Kyungsoo, mereka menaiki tangga ke beranda yang dipenuhi sulur tanaman.

Tidak hanya pekarangan yang tak terurus, berandanya juga. pikir Tao semakin sedih.

Di tengah daun pintu kayu mahoni tua, terpasang sebuah pengetuk pintu berbentuk kepala tengkorak.

"Paman dan bibimu punya selera humor yang aneh ya." tukas Kai tidak jelas apa maksudnya.

"Kau menganggap itu lucu?" tanya Tao terperangah. "Kepala tengkorak itu menyeramkan!"

Kai berdecak. Malas dengan Tao yang terlalu berlebihan. "Menyeramkan dari segi mana? Lihat saja bentuk giginya yang imut-imut itu, mengingatkanku pada taring hamster peliharaanku."

Sehun senyam-senyum geli. Yang jelas gebetannya ini sudah gila menyamakan taring tengkorak pucat itu dengan taring hamster. Lagipula, memangnya hamster punya taring?

Suho sedang mengulurkan tangan untuk meraih kepala tengkorak, ketika tiba-tiba seekor tarantula raksasa mendarat di tangannya.

"AWAAS!" semua orang terpekik kaget kecuali Kris. Jika teman-temannya kelabakan nyaris pingsan, Kai dan Chen malah tertawa terbahak-bahak. Menertawai ekspresi kaget teman-temannya yang justru terlihat kocak di mata mereka

"Kena kalian!" seru sebuah suara, tepat diatas kepala mereka. Saat kedua belas namja itu mendongak, ada pria tampan lain yang sedang menyeringai lebar di balkon atas.

"Wow, Ha-Ha, penyambutan yang sangat bagus, Paman." tukas Suho memutar bola mata. "Terima kasih banyak."

Kris memungut tarantula raksasa yang tadi dilempar Suho. Ternyata cuma mainan yoyo karet.

Yunho masih tertawa jahil diatas sana. "Daridulu kau memang gampang sekali ditakut-takuti, Nak. Tunggu ya, biar kusuruh bibimu buka pintu." kemudian dia menghilang kedalam sambil berseru, "Jaeeee! Keponakan tersayang kita dan teman-temannya sudah datang!"

"Pamanmu lucu ya." ucap Kai di sela-sela tawa. "Selera humornya luar biasa." Begitulah Kai, segala hal selalu terlihat lucu di matanya.

Luhan menepuk-nepuk pundak namja itu. "Jangan terlalu banyak ketawa. Sebaiknya kau simpan energimu itu untuk nanti. Siapa tahu kau dan Sehun yang beruntung malam ini." tukasnya sambil melirik Sehun yang tidak banyak bicara daritadi.

Kai menarik Sehun dalam rangkulan erat. "Tenang saja, kami sudah sangat siap kok. Iya kan, my darling?"

Sehun mengangguk pelan, dalam hati menyumpahi jantungnya yang meloncat-loncat heboh di dalam sana. "I-iya…"

Terdengar bunyi derit dan daun pintu kuno perlahan terkuak lebar. Muncul wajah seorang yeoja cantik dari balik pintu. Sudah berumur empat puluhan, namun kecantikannya seolah tidak luntur ditelan waktu.

"Bibi Jae!" Suho segera menghambur ke pelukan wanita itu. "Apa kabar?"

"Oh, aku baik-baik saja, Nak." Jaejoong mengelus punggung Suho penuh rasa kangen. "Kau sendiri bagaimana? Bagaimana kabar Ayah dan Ibumu? Apa Seoul semakin ramai? Apa sudah ada mall baru? Aku sudah lama sekali tidak pulang. Terakhir kali waktu kesana, gembok di Menara Namsan sudah bertambah banyak. Eh iya, ini teman-temanmu ya? Silahkan masuk, anak-anak. Waaah, kalian semua sangat tampan!"

Suho hanya bisa menelan ludah pasrah. Bibi semata wayangnya ini tidak berubah juga. Masih suka nyerocos seenaknya sendiri sebelum orang yang ditanyai sempat menjawab pertanyaan-pertanyaan beruntunnya.

"Terima kasih, Bibi. Anda juga sangat cantik dan menawan." balas Kris melempar senyum paling indah yang dia miliki.

Chanyeol mencibir tidak suka. Yang benar saja! Apa kekasihnya itu sedang berusaha merayu seorang tante-tante?

"Hohoho. Saya jadi malu." Jaejoong menepak-nepak bahu Kris sok akrab. "Kau ini tinggi sekali, sangat tampan pula. Asli Korea atau…?"

"Bukan," jawab Kris sopan. "Saya kelahiran Guangzhou. Ayah asli China, tapi Ibu dari Kanada."

"Ohhh…" Jaejoong mengangguk-angguk kagum. Seolah lupa masih ada sebelas bocah lain yang juga butuh diwawancarai.

Sementara Jaejoong asik berkoar-koar, Xiumin memilih berkeliling untuk melihat-lihat ruang utama yang sangat luas ini. Disana-sini dipenuhi barang-barang antik. Contohnya saja pajangan kepala Anoa dan Burung Elang raksasa. Tidak hanya dua, masih banyak kepala hewan-hewan lain seperti Kambing dengan tanduk melingkar, Rusa dengan tanduk bercabang, Banteng jantan, Bison, Kerbau, Harimau putih, Zebra, Beruang dan masih banyak lagi. Mereka semua kelihatan begitu nyata sampai rasanya jadi mengerikan. Seperti terbuat dari daging, bukan dari kayu apalagi plastik. Barangkali memang kepala hewan sungguhan. Ckckck. Darimana Yunho mendapatkan semua ini? Mengerikan sekaligus menakjubkan. Luhan benar, ada objek menarik yang bisa dia potret. Semoga saja stok roll filmnya masih banyak. Xiumin kemudian hinggap dari satu lemari pajangan ke lemari pajangan lain. Ada banyak barang-barang ajaib di dalamnya, mulai dari topeng ritual suku Indian, Vodoo stick, Mangkuk dari jaman Dinasti Song, Pedang ceremonial bangsa Persia kuno sampai Kamera Seri 0 yang pernah diproduksi pada tahun 1923.

Ketika dia hendak membidikkan kamera untuk mengabadikan barang-barang langka itu, tiba-tiba sesuatu yang sangat gelap menghalangi layarnya.

Xiumin meloncat mundur, jantungnya berdebar kencang mendapati sebuah wajah menyeringai persis di depan mata.

"Sori, Nak. Ini tidak untuk dipublikasikan." tukas Yunho, seringai jahilnya masih sama seperti tadi. Pantas saja layarnya gelap, ternyata ditutupi telapak tangan Yunho.

"Paman, apa tidak bisa muncul dengan cara biasa tanpa harus bikin kaget semua orang?" tanya Suho merasa sebal.

Yunho pasang wajah tak berdosa. "Aku tidak bermaksud bikin kaget. Temanmu ini yang terlalu serius. Oh iya, siapa namamu?" dia menoleh ke Xiumin. Kali ini seringai jahilnya berubah ke mode senyum ramah.

"Kim Minseok, tapi teman-teman biasa memanggil saya Xiumin," jawabnya sambil membalas jabat tangan Yunho.

"Nah, Xiumin." tukas Yunho sambil mengamati koleksi barang-barangnya. "Kalau mau melihat-lihat saja boleh. Asal jangan difoto. Bisa kan?"

Xiumin mengangguk, walau dalam hati tidak iklas. "Bisa sekali. Jangan khawatir." Diam-diam dia berencana mau memotret Kamera Seri 0 itu kalau Yunho pergi. Sayang sekali kalau dilewatkan begitu saja.

Jika Xiumin punya niat terselubung, lain halnya dengan Chen di ujung sebelah sana. Dia menyambar pedang runcing dari tangan Ksatria berbaju zirah dan mulai menusuk-nusuk bayangannya sendiri di cermin.

"Ini juga bukan untuk mainan." Yunho merebut pedang besi dari tangan Chen dan pelan-pelan dia taruh kembali di tangan patung Ksatria.

"Wah, pedang itu bagus sekali. Apa aku boleh membelinya?" tanya Chen.

"Boleh. Siapkan saja uang tunai sebesar 32 juta US dolar. Setelah itu pedangnya jadi milikmu." sahut Yunho santai.

Chen mematung shock. Tiga puluh dua juta dollar? Untuk pedang besi tua karatan? Hiiy! Tidak jadi!

"Selain Xiumin, apa masih ada yang mau memperkenalkan diri?" tanya Yunho yang kini sudah bergabung dalam kerumunan di tengah-tengah ruangan.

"Saya Kris." Kris duluan maju menyalami Yunho. "Ini Chanyeol, pacar saya." Gantian Chanyeol maju menyalami Yunho sambil tersenyum lebar. "Yang itu Kai, itu Sehun, di sebelahnya Sehun ada Lay, terus Luhan, Baekhyun…" Kris terus memperkenalkan teman-temannya sementara yang disebut langsung berbaris dan antri ganti-gantian menyalami Yunho dan Jaejoong. "Dan terakhir Kyungsoo, calon tunangannya Suho."

"APA?" tidak hanya Kyungsoo, baik Jaejoong maupun Yunho kompak melotot ekstrem.

Kris dapat hadiah jitakan gratis di kepala dari Suho.

"Lho? Kenyataannya begitu kok." ujar Kris tetap bermuka datar. Jelas saja Yunho dan Jaejoong cepat percaya, karena tampangnya Kris kelihatan sangat meyakinkan.

"Calon tunangan?" Yunho mengamati Kyungsoo dari atas ke bawah.

Pipi Kyungsoo berubah warna, hampir menyaingi warna karpet yang sedang mereka injak. "Ehm… itu tidak benar. Kami cuma berteman kok."

"Pacar. Kami baru pacaran." ralat Suho agak tidak rela dengar pernyataan 'Cuma teman'.

Jaejoong tampak sumringah, "Ah, tunangan juga tidak apa-apa kok. Habis kau sangat manis. Kalian serasi sekali," pujinya berbinar-binar. "Apa Ayah dan Ibumu sudah tahu soal rencana kalian? Aku bisa menelpon mereka sekarang juga kalau kau terlalu malu mengabari mereka."

"Jangan!" Suho makin belingsatan salah tingkah. Bolak-balik menggaruk leher. "Tidak perlu melapor segala. Kris hanya bercanda. Kami belum berpikir sampai kesana. Sungguh."

"Yakin?" goda Lay, alisnya naik-turun-naik-turun.

"Hyung! Jangan ikut-ikutan!" bentak Kyungsoo galak. Tidak hanya pipi, kupingnya juga berubah jadi merah.

"Cieeee…" yang lain bersorak-sorai, bersiul-siul nyaring sambil ketawa-tawa norak.

"Ayo anak-anak," Yunho menggiring Suho di kanan dan Kyungsoo di kiri. "Kami sudah menyiapkan hidangan spesial untuk kalian semua. Makan dulu sepuasnya, nanti setelah itu kalian bebas memilih kamar."

"Memilih kamar?" tanya Kai antusias. "Memangnya disini ada berapa kamar?"

"Dua belas. Sesuai jumlah kalian. Kalian tidak perlu khawatir takut tidur sendiri, karena tiap kamar punya kasur berukuran king size, kalian bisa tidur dengan pasangan masing-masing. Disini bebas. Tidak ada aturan soal kamar. Terserah kalian mau pakai yang mana."

Ucapan Yunho bagai bunyi lonceng surga di telinga Kai. Tidur dengan pasangan masing-masing? Kebetulan sekali. Kai memang sudah lama kepingin tidur dengan pasangan masing-masing.

"Aku ingin tidur dengan Lay hyung dan Chanyeol hyung saja," tukas Sehun sudah bisa menebak isi kepala kotor Kai.

"Eh?!" Kai mendelik protes. "Kenapa begitu? Harusnya kita berada di kamar yang sama. Aku berjanji akan melindungimu, Sehun. Pokoknya aku tidak akan macam-macam. Sumpah!" digenggamnya kedua tangan Sehun dengan mimik wajah super serius.

Baekhyun tertawa mengejek. "Bohong. Jangan percaya, Hun. Kau tidak bakal aman tidur satu kamar dengan Kim Jong-alligator-ngin."

Kai melempar lirikan tajam ke Baekhyun. Gimana sih si pendek ini? Bukannya bantuin malah memojokkan dia.

Tao daritadi masih sibuk celingukan, mengagumi dekorasi ruangan yang fantastis. Disini tidak seburuk pemandangan di luar. Malah sangat rapi dan terawat. Keseluruhan tampak seperti setting ruang-ruang istana gothic megah di film kolosal, dengan jendela-jendela besar, ukiran-ukiran rumit yang indah, dan tirai-tirai panjang selembut sutra menggantung di setiap jendela dan pintu. Kali ini mereka berjalan menyusuri sebuah aula yang panjang dan luas, dengan langit-langit tinggi dan pilar-pilar yang besar. Mau ke ruang makan saja jauhnya minta ampun. Pantas saja orang kaya itu kurus-kurus, habisnya jarak tiap ruangan saling berjauhan begini. Kalau di kamar kos-kosannya, Tao hanya perlu merangkak sebentar dari sofa ruang tamu untuk mencapai kulkas di dapur.

Sampai di ruang makan, dia lebih tercengang lagi melihat meja kayu panjang bertengger bangga di tengah-tengah ruangan yang dipenuhi jendela-jendela raksasa dan lukisan artistik di setiap sudut. Seperti yang dikatakan Yunho tadi, hidangan mereka sangat spesial. Meja itu dipenuhi lilin-lilin, gelas-gelas kaca, perabotan makan, keranjang buah, sederetan keju, roti, kalkun panggang gemuk, salad, kaviar, daging ham bumbu, sup-sup hangat, berbagai macam saus, serta makanan lezat lain yang membangkitkan selera. Ada sebuah rak penuh berisi mangkuk-mangkuk besar macaroon berwarna-warni, brownies cokelat mini, dan pizza—pepperoni, bawang bombai, sosis dan semua kombinasi yang bikin para cacing di perut berteriak histeris.

Tentu saja semua ini bukan hiasan. Semuanya makanan asli!

Dua belas namja yang tadi tercengang di pintu, kini ramai-ramai menghambur ke meja makan, berebut kursi, saling seruduk, perang mulut, menyerobot piring dan tarik-tarikan garpu.

"Tenang anak-anak, tenang! Jangan berebut. Masih banyak persediaan makanan. Frans, bisa tolong ambilkan garpu lain?" tanya Jaejoong pada seorang pelayan berambut keleabu.

"Baik, Nyonya." Pelayan itu langsung melesat menuju ke pintu setelah berhasil selamat dari sikutan maut tangan-tangan para pemuda barbar di ruangan ini.

"Coba lihat," gumam Lay sambil menyendok salad sebanyak mungkin ke piringnya. "Aku belum pernah lihat makanan sebanyak ini."

"Aku juga," komentar Chen sambil menumpuk kepiting banyak-banyak di mangkuknya. "Kecuali dulu, waktu orangtuaku merayakan pesta tahun baru di rumah."

Sehun mengulurkan tangan, mengambil sebuah cracker berlapis saus warna pink. "Mmm… enak. Apa ini?"

"Taramasalata." tukas Luhan yang tiba-tiba muncul di sebelahnya sambil membawa sepiring penuh daging salmon asap. "Kue Yunani yang terbuat dari telur ikan. Aku sudah bertanya pada Bibi Jae tadi, dia bilang dia belajar membuatnya waktu tinggal di kepulauan Yunani."

"Hei, kau ambil itu dimana, hyung?" Chanyeol muncul dengan bibir berkerut-kerut. "Aku juga mau salmon!"

"Maaf." Luhan cengengesan. "Sudah habis." Usai berkata begitu, dia kabur secepat kilat. Takut salmonnya pindah ke piring Chanyeol.

"Hyung, kau harus coba yang ini. Enak sekali lho. Terbuat dari telur ikan." Sehun berpromosi sambil mencomot lima Taramasalata sekaligus.

"Telur ikan?" Chanyeol bergidik. "No, thanks. Aku mau makan pizza saja."

Semuanya tampak asik mencoba-coba berbagai macam hidangan internasional diatas meja. Kris sudah duduk anteng daritadi, melahap Bruschetta yang katanya berasal dari Italia. Sedangkan Lay, duduk di ujung lain, dia juga sibuk mengunyah Canapé sambil minum sekaleng soda dingin. Suho, Kyungsoo dan Baekhyun juga fokus mengiris daging ham di piring masing-masing lalu melahapnya dengan ekspresi menikmati. Hanya Yunho dan Jaejoong yang makan dengan khidmat, sambil sesekali mengobrol dengan Kris dan beberapa anak lain. Tampak tidak terlalu ambil pusing dengan kericuhan di sekelilingnya.

"Nah, Chanyeol." tegur Jaejoong saat namja itu menghempaskan diri di kursi. "Kudengar-dengar dari Kris, katanya kau hobi memotret batu nisan."

Chanyeol mengangguk singkat. "Yap. Suka banget."

"Kalau kau mau mencari komplek pekuburan, tempat terbaik adalah lapangan rumput di belakang mercusuar. Disana juga banyak kuburan-kuburan kuno yang lebih kuno daripada yang ada di depan."

"Wah, asyik!" seru Chanyeol penuh semangat.

Kris memutar bola mata. Sampai detik ini dia masih tidak mengerti mengapa kekasihnya suka sekali memotret kuburan.

"Mungkin lain kali saja eksplorasinya. Karena besok malam kami semua mau main The Midnight Game," tambah Chanyeol setelah menangkap sinyal mata dari Suho.

"Midnight game?" Yunho mengernyit penasaran, kelihatan tertarik.

"Semacam ritual seru-seruan untuk memanggil Midnight Man, mirip uji nyali yang ada di TV. Ada syarat-syarat yang harus dilakukan untuk mengundang makhluk halus bernama Midnight Man ke rumah. Lalu kita harus bermain dengan hanya modal sebatang lilin dan korek api, pokoknya suasana rumah musti gelap gulita." jelas Chanyeol. "Dan gamenya selalu berakhir di jam 3:33."

"Kelihatannya berbahaya," tukas Jaejoong prihatin.

"Boleh kan, Bibi Jae? Kami ingin meminjam rumah ini yaaah… barangkali satu hari lah."

"Tidak masalah, asal kalian bisa jaga diri saja."

"Ya, tidak apa-apa." Yunho tersenyum setuju. "Kedengarannya seru. Kuharap aku masih muda seperti kalian dan bisa ikutan, tapi sayangnya besok kami harus ke luar kota."

Sudah diduga dua orang ini bakal setuju. Inilah untungnya punya paman dan bibi penyuka hal-hal berbau horror, pikir Suho. Mereka tidak akan melarang atau berceramah panjang-lebar saat anak-anak di sekeliling mereka memainkan ritual aneh.

"Kalian mau kemana?" tanya Luhan.

"Kairo," jawab Yunho sambil menyeka mulut dengan serbet putih. "Perjalanan bisnis."

Kai berdecak-decak, "Jauh juga ya."

"Yaah, makanya aku tidak ingin kalian berulah, bikin masalah atau keluyuran malam-malam selama kami tidak ada. Pokoknya jangan. Pagi sampai sore hari adalah yang jam yang aman untuk jalan-jalan. Lebih dari itu JANGAN." Yunho mewanti-wanti, raut wajahnya berubah keras dan serius. Sorot matanya bergantian menatap dua belas pasang mata di depannya dengan penuh kesungguhan.

"Memangnya… kenapa?" Xiumin merasa bulu kuduknya berdiri semua dibawah tatapan tajam Yunho.

"Pokoknya tidak boleh. Kalian dengar, anak-anak? Berjanjilah padaku kalian tidak akan keluyuran di malam hari. Walaupun aku tahu kalian biasa melakukannya di Korea. Bukan bermaksud menggurui, tapi ini tempat yang berbeda. Ada sesuatu yang jahat di luar sana. Kami—"

"Jae..." Yunho berhasil menghentikan repetan Jaejoong hanya dengan satu lirikan. Lalu sorot matanya kembali teralih ke dua belas pasang mata yang balik menatapnya penuh tanda tanya. "Biar bagaimanapun, kalian itu orang asing disini. Kami tidak mau ada orang jahat di luar sana yang memanfaatkan kalian atau berbuat sesuatu yang bisa menyakiti kalian. Selama kalian jauh dari orangtua kalian, kami-lah yang bertanggung jawab sepenuhnya disini. Dan sampai masa liburan kalian berakhir, aku ingin memastikan kalian baik-baik saja. Makanya aku sudah menyuruh Frans untuk tinggal dan mengawasi kalian."

Semuanya serentak menoleh kearah Frans yang berdiri diam di dekat perapian.

Bisa apa kakek-kakek udzur bertubuh ceking itu? pikir Kris skeptis.

"Sesuatu yang jahat?" Baekhyun mengernyit. "Apa yang kalian maksud bandit-bandit yang sering berkeliaran di hutan kalau malam?"

Yunho dan Jaejoong berpandangan sesaat.

"Bisa dibilang begitu." jawab Jaejoong.

"Bisa dibilang begitu?" Suho tak percaya. "Apa maksudnya? Paman, Bibi, apa yang kalian sembunyikan dari kami? Ada apa di luar sana?"

"Tidak ada apa-apa, Suho. Cuma bandit biasa. Temanmu benar. Kami tidak ingin kalian berurusan dengan mereka. Sudahlah, pokoknya kalau malam jangan kemana-mana. Oke?"

Cuma bandit biasa? Entah mengapa Suho merasa mereka benar-benar sedang menyembunyikan sesuatu. Tapi apa?

"Oke?" ulang Yunho lebih tegas.

"Oke," sahut semuanya kompak dan setengah hati. Masing-masing sedang menerka-nerka, hal apa yang lebih buruk dan lebih jahat di luar sana selain bandit? Binatang liar? Itukah alasannya Yunho mengumpulkan kepala binatang di temboknya? Karena dia memburu semua binatang liar di daerah ini agar tidak mengganggu ketentrataman? Xiumin sibuk berasumsi sendiri.

Jika Xiumin menduga binatang buas sebagai tersangka utama, lain halnya dengan Lay yang semenjak daritadi terus bungkam. Terus terang saja Chen merasa teman dekatnya itu agak tidak banyak bicara semenjak dari waktu mereka datang tadi. Seolah-olah pikirannya sedang bertualang di tempat lain.

"Hyung…" Chen menjawil pelan siku Lay. "Hyung."

"Hah?" Lay tersentak sadar. Tuh kan, benar. Pasti habis melamun lagi.

"Apa yang kau pikirkan?" tanya Chen.

Lay menggeleng.

"Ayolah, jujur saja. Apa yang kau pikirkan?" desak Chen setengah berbisik.

Diam-diam Lay memandang keluar jendela. Jujur, sekilas tadi dia sempat melihat 'sesuatu' mengintip dibalik pohon yang disana, di luar pagar. Tapi dia sendiri tidak yakin itu halusinasi atau nyata. Mungkin efek kecapekan. Mungkin karena mengantuk, jadi otaknya memproyeksikan ilusi-ilusi yang aneh-aneh. Pasti begitu. Pasti cuma ilusi.

"Aku baik-baik saja." Lay tersenyum santai. "Jangan khawatir. Aku cuma butuh istirahat. Ngomong-ngomong, kita tidur sekamar kan nanti?"

Chen sebenarnya masih penasaran. Namun dia mengangguk alih-alih mendesak Lay untuk cerita. "Tentu saja. Kita tidur sekamar."

Sehun ternyata menguping pembicaraan mereka. Dia kemudian mencolek pinggang Kai. "Ssst, sst, Kai…"

Namja itu menoleh. "Hm?"

"Coba kau perhatikan Lay hyung, Daritadi dia selalu bolak-balik melirik keluar."

"Lho? Wajar saja kan? Apalagi malam ini bulan lagi bagus-bagusnya," jawab Kai ringan.

Sehun menepuk jidat. "Bulan? Hanya itu yang ada di pikiranmu? Bulan?"

Kai menegak soda sebentar lalu mengangguk. "Ya, menurutmu dia melihat apa? Hantu?"

Mendadak Sehun merasa seluruh bulu di tubuhnya terbangun. Dasar kunyuk. Enteng sekali dia mengucap 'hantu' di tengah-tengah sikon seperti ini! Sekarang Sehun merasa seluruh makhluk dalam lukisan-lukisan di tembok menjadi hidup. Seakan-akan semuanya tengah melotot balik dan berniat mencekiknya. Ini semua salah Kai.

"Jadi, apa kau sudah berubah pikiran? Secara kau tidak mungkin lho jadi obat cacing diantara Kris hyung dan Chanyeol hyung. Lihat saja sendiri." telunjuk Kai mengarah ke dua oknum yang tengah suap-suapan mesra di ujung sana. "Masih mau tidur dengan mereka?"

Sehun menelan ludah. Iya ya. Mana mungkin dia jadi kambing congek diantara duo lovebirds itu. Pilihannya hanya tinggal Lay dan Baekhyun. Dua orang itu yang paling mungkin mau berbagi kamar. Tapi setelah mencuri-dengar percakapan Lay-Chen tadi, kayaknya Lay tidak bermaksud menerima tamu tambahan. Atau dengan kata lain, Sehun tidak diundang. Dia bisa saja gabung dengan Tao-Baekhyun, tapi masalahnya, Sehun tak pernah tahan tidur lama-lama dengan Tao. Bukan karena apa, dia tidak sanggup dengar suara ngorok merdunya Tao sepanjang malam. Sama sekali tidak sanggup. Hanya Baekhyun yang berani tidur dengan manusia macam Tao. Itupun karena Baekhyun kalau tidur seperti orang mati. Walaupun ada gempa, badai, angin topan dan bumi kejatuhan meteor sekalipun, dia tidak akan bangun kalau memang belum waktunya bangun.

Sehun menghela napas pasrah. "Baiklah, baiklah. Aku tidur sekamar denganmu. Puas?"

Kai mencolek dagu Sehun. "Nah gitu dong, Princess."

Ish! Dasar cowok norak! Sehun mengelus dagunya kesal. "Aku bukan princess!"

.

.

.

.

Location: Yunjae's Palace. KrisYeol room — 23.48-00.30 AM

"Apa kau tidak keberatan kalau kita mandi bareng?" Kris menundukkan sedikit kepalanya untuk menatap Chanyeol.

"Dengan senang hati," jawab Chanyeol sambil menggesek-gesekkan ujung hidungnya di hidung mancung Kris. Tanpa pikir panjang, bibir Kris bergerak turun ke bawah, bertemu milik Chanyeol, dan dia menyapukan lidahnya di bibir bawah Chanyeol, sementara tangan Kris meluncur di bawah kemejanya, meraba di beberapa titik dengan gerakan lembut. Kulit Chanyeol begitu hangat dan menegang dibawah sentuhannya. Tangan kiri Kris meraba-raba kancing kemeja Chanyeol, dan namja di pelukannya ini merona malu ketika kemeja itu terjun bebas dari tubuhnya. Kulit Chanyeol tampak bersinar di bawah cahaya lampu. Masih terpana kagum, Kris menggerakkan jari-jari panjangnya di atas tulang selangka kemudian menuju ke leher halus Chanyeol, tersenyum puas mengamati namja itu menggigil dan mendesah horny sekaligus.

Chanyeol membantu Kris untuk melepas kaosnya, mengangkatnya naik keatas bahu, tapi benda bodoh itu malah tersangkut di kepala. Kris menarik itu dari kepala hingga rambutnya mencuat kesana-kemari dalam bentuk aneh.

"Maaf," Chanyeol meringis bersalah sambil merapikan rambut kekasih tersayangnya.

"Jangan gugup begitu dong, ini kan bukan pertama kalinya." Kris menampilkan smirk peluluh hati andalannya, yang selalu bisa membuat jantung Chanyeol melompat riang.

"Aku tahu," gumam Chanyeol gugup, dengan grogi membuka kaitan ikat pinggang Kris. Telapak tangannya berkeringat saat dia menarik turun ritsleting, mata bulatnya semakin melebar ketika dia menyadari kekasihnya ini tidak pakai apapun dibawah celananya.

Kris nyengir tanpa dosa. "Celana dalam favoritku hilang dari lemari ..."

Chanyeol mengulum senyum geli dan dengan tenang membiarkan celananya sendiri jatuh ke lantai.

Sekarang gantian Kris yang terperangah. "Jadi kau yang pakai celana dalamku?"

Chanyeol menelan ludah ketika tatapan Kris jadi sejuta kali lebih tajam dan intens. "Pantas saja aku tak bisa menemukanya di laci tadi pagi."

Biasanya Kris bakal mencekik orang-orang tak bertanggung jawab yang seenak udel meminjam barang-barang pribadinya. Tetapi setelah melihat celana dalam favoritnya menempel di selangkangan Chanyeol, entah kenapa malah membangkitkan sesuatu di bawah sana.

"Maaf. Aku kehabisan stock celana dalam, jadi aku asal pakai saja apa yang ada di lemarimu…" suara Chanyeol melemah ketika tatapan intens Kris jadi tiga juta kali lipat lebih tajam dari sebelumnya.

"Tidak apa-apa. Ini tampak lebih bagus kalau kau yang pakai," ujar Kris sambil mengamati celana itu menggantung longgar di pinggang ramping sang kekasih. Lalu cepat-cepat dia tarik sebelum Chanyeol sempat protes. "Lebih bagus lagi kalau ada di lantai."

Chanyeol merasa pipinya memanas detik itu juga. Kris terkekeh tengil melihat wajah manis Chanyeol yang memerah malu-malu.

Kris memegangi tangan Chanyeol dan membantu namja itu naik ke bathtub. Airnya panas dan uap air berputar-putar di sekitar kakinya. Chanyeol melesakkan tubuhnya di dalam air dan mendesis melalui giginya karena ini begitu panas dan…begitu sempurna! Dia mendesah merasakan kehangatan air meresap kedalam kulitnya, merasuk ke dalam otot-ototnya. Dan atmosfir panas itu seketika bertambah saat Kris ikut bergabung di dalam bak, duduk di belakangnya dan memeluk pinggangnya erat-erat.

Air berbentuk miniatur gelombang disekitar tubuh mereka saat Kris menggeser posisi duduknya semakin rapat dan menarik Chanyeol di antara kakinya. Dengan kain lap di tangan, Kris menggosok lembut area punggung dan bahu Chanyeol.

"Relax…" Kris bergumam, ciuman bertubi-tubi mendarat ke bagian belakang leher Chanyeol, tersenyum puas melihat Chanyeol gemetar sedikit di bawah bibirnya. "Anggap saja kau sedang mandi bersama bebek karet."

"Bebek karet," ulang Chanyeol sambil terkekeh pelan. Bebek karet macam apa yang bisa menggosok punggung dan membuat jantungnya berdebar gila-gilaan? Tidak. Kris itu lebih dari sekedar bebek karet. Kris itu pria yang sangat luar biasa. Dan betapa luar biasanya bisa melewatkan momen-momen kebersamaan mereka dengan intim seperti ini. Setiap hari…

"Masih ingat mandi shower kita kemarin malam?" Kris bertanya, acuh tak acuh. "Apa kau masih merasa nyeri?"

"Sedikit," jawab Chanyeol gugup tertawa gugup. "Kenapa? Masih berniat membuatku menderita lagi?"

"Tidak kok. Kecuali… kau yang minta…" sahut Kris tenang, tangannya terus bergerak menggosok bagian bawah punggung Chanyeol.

Hening sejenak. Yang terdengar hanya suara letusan gelembung karena telunjuk iseng Chanyeol tidak berhenti memecahkan semua gelembung balon di depannya. Benaknya bermain, bertanya-tanya apa yang akan terjadi jika setiap hari mereka bisa seperti ini, duduk bersama dalam satu bak mandi, sebagai… pasangan suami-istri. Baru dibayangkan saja dia sudah merasa mulas bukan main. Wajahnya merona parah, cepat-cepat dia mengalihkan pikirannya dengan cara mengumpulkan gelembung-gelembung di sekelilingnya, terus dia pecahkan semua gelembung tak berdosa itu secara beringas.

Kris senyam-senyum mengamati Chanyeol sibuk menyodok gelembung seperti bocah lima tahun. Namun acara senyam-senyum Kris buyar ketika Chanyeol tiba-tiba berbalik dan meniupkan serangan gelembung ke wajahnya. Secara refleks Kris menutup mata, tersenyum ketika gelembung-gelembung itu pecah satu-satu di depan hidungnya.

Begitu dia membuka mata, ada satu gelembung kecil menghalangi pandangannya dari Chanyeol. Dengan satu tangan menyentuh ujung dagu Kris, Chanyeol meniup si gelembung pergi jauh, lalu mendaratkan ciuman lembut ke hidung Kris, menuju ke pipinya, terakhir di sudut mulutnya. Kris membalasnya dengan mendaratkan ciuman di kedua kelopak mata Chanyeol yang tertutup rapat.

Chanyeol kembali berbalik memunggungi Kris dan bersandar nyaman di lekuk leher sang kekasih. Dengan hati-hati, jari-jari Kris bergeser lebih kebawah, dan ia merasa Chanyeol bergidik sebagai respon. Kris sangat suka melihat betapa sempurnya Chanyeol ketika mereka bersama, dan menurut Kris, tidak ada orang lain yang bisa sesempurna ini selain Chanyeol.

Tanpa berpikir, jari-jari Kris merayap bagai laba-laba di puting Chanyeol, jempolnya berputar pelan di puncak, merasa gembira ketika suara lenguhan berat yang seksi lolos dari bibir cantik sang namja kesayangan.

Sementara tangan kanannya bergerak lincah di puting, tangan kirinya menelusup kedalam air, mencari-cari kain lap, tersenyum ketika jari-jarinya sesekali menyentuh kulit paha Chanyeol. Persetan kain lap! Dia lebih suka menyentuh paha basah Chanyeol dengan kulit tangannya sendiri. Kris menyenderkan kepalanya di lekukan leher Chanyeol. Dari jarak sedekat ini, semuanya bisa terlihat jelas. Bulu mata lentik Chanyeol, semburat merah lembut di pipinya, dan bibir pink menggoda yang sedikit tebuka…

Punggung Chanyeol melengkung saat jari-jari Kris menyusuri paha bagian dalam, menggali kedalam kulitnya dan mengusap pelan pinggul Chanyeol.

"Hyung ..." Chanyeol berbisik lirih di telinga Kris. Mendengar suara lembut Chanyeol yang memohon, membuat dada Kris berdenyut dipenuhi hasrat. Tangan kanan Kris kini meluncur ke bawah, menyentuh kejantanan Chanyeol yang mengeras. Dan tanpa sadar Chanyeol menggesekkan bagian belakang tubuhnya, ingin sesuatu yang lebih intim. Kris sampai hampir gila dibuatnya.

"Yakin ingin melakukan ini?" Kris bertanya, suaranya penuh dengan perhatian yang tulus saat ia melihat ke dalam mata Chanyeol.

"Kenapa? Takut ketagihan?" Chanyeol melempar seringai meledek.

Kris mengedikkan bahu santai. "Terserah. Toh bukan aku yang bakal menderita."

Chanyeol mengabaikan sindiran Kris, tersenyum senang ketika ia merasa junior milik Kris yang mengeras menempel erat di kulitnya. Sejurus kemudian, dia menjalankan lidahnya di bibir bawah Kris. Sementara perhatian Chanyeol teralihkan dengan ciuman lambat yang mereka lakukan, diam-diam Kris meraih sekotak kondom yang telah tersedia di pinggiran bathtub. Dia tidak menyadari Kris diam-diam telah membungkus kejantanannya dengan pengaman karet tersebut. Dan Chanyeol juga masih tidak sadar saat tangan Kris pelan-pelan tergelincir menuruni punggungnya, terus menuju ke lekukan pantatnya, hingga sampai ke 'pintu masuk'. Ketika Kris menyelipkan jari masuk ke lubang hangat dibawah sana, Chanyeol merintih diantara kedua giginya, tangannya spontan meremas salah satu bahu Kris.

"Shhh ..." desisnya di telinga Chanyeol, "Ini akan baik-baik saja. Aku akan melakukannya dengan sangat lembut." Kris melesakkan jari lain, berputar sedikit di dalam, hingga akhirnya menumbuk spot yang tepat. Chanyeol mengatupkan rahang, menahan rasa sakit di bagian bawah, terkesiap tanpa suara merasakan dua jari Kris bergerak lambat, keluar masuk dengan tempo yang nyaman. Kris melancarkan ciuman kecil di pundak Chanyeol sambil dengan sabar menunggu sampai namja itu merasa lebih rileks dan santai.

Tidak butuh waktu lama untuk Chanyeol merasa nyaman, karena dia mulai menggerakkan pinggulnya kebawah, mendapati jari Kris melesak lebih dalam setiap kali dia mengangkat pinggulnya naik turun. Tapi itu masih belum cukup. Tidak akan pernah cukup. Tangan Chanyeol mencengkram rambut Kris, mendesah putus asa. Ingin sesuatu yang lebih dari ini. Kris segera menarik jari-jarinya keluar, menarik punggung Chanyeol lebih dekat, kemudian dia posisikan tepat di atas kejantanannya.

Chanyeol merasa tubuhnya sedikit bergetar saat Kris mendorong juniornya melesak lebih dalam, dengan tempo lembut dan agak lambat. Sangat lambat, dan itu cukup untuk membuat Chanyeol melontarkan beberapa erangan dari mulutnya. Keringat menetes dari pelipisnya, tangan mencengkeram bahu basah Kris, dan dia bergerak naik-turun lebih mudah. Air memudahkan tubuh mereka bergerak dalam ritme yang kompak dan serasi. Rasanya begitu nikmat, dan Chanyeol mulai mengocok miliknya sendiri, sambil sesekali memutar pinggulnya di kejantanan Kris. Dinding Chanyeol ketat dan panas, jauh lebih panas dari air di sekeliling mereka. Kris mendesis merasakan betapa nikmatnya dinding ketat Chanyeol membungkus rapat miliknya. Sebuah rengekan diredam lolos dari mulut Dongwoo ini, dan Jinyoung merasa jari Dongwoo gali sisinya, mencengkeram dukungan untuk menjaga pinggul dari menyentak ke depan.

Chanyeol bergearak naik turun begitu lambat, sangat amat lambat sehingga Kris merasa dia bisa 'keluar' kapan saja. Belum lagi dinding yang membungkus miliknya terasa semakin panas dan basah. Nafas Kris keluar menjadi erangan ke bahu Chanyeol dan dia mengatupkan kedua mata agar bisa lebih menghayati sensasi nikmat ini.

"Berbaliklah sayang… aku ingin melihatmu." gumam Kris.

Chanyeol memutar tubuhnya, berganti posisi hingga sekarang wajah mereka berdua saling berhadapan. Dan tiba-tiba, untuk pertama kalinya, Chanyeol mendadak blank. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan dan ekspresi apa yang harus dia buat. Haruskah dia menutup mata? Atau tetap memelototi Kris dengan risiko namja itu bisa melihat bagian terdalam dari dirinya? Karena salah tingkah, Chanyeol mengubur wajahnya ke leher Kris, berusaha untuk menutupi rasa malunya.

"Jangan disembunyikan," Kris menarik pelan dagu Chanyeol hingga wajah mereka berhadapan kembali. Sorot matanya tajam dan dalam. "Aku ingin melihat wajahmu." dia menyandarkan dahinya di kening Chanyeol. "Kau begitu indah seperti ini."

Pipi Chanyeol merona merah, benar-benar malu, dan ia ingin menyembunyikannya lagi. Tapi tangan Kris menahan pipinya, begitu lembut, saking lembutnya hingga Chanyeol tidak sampai hati untuk bersembunyi. Kris memajukan wajah untuk meraup bibir pink menggoda di depannya, membuat Chanyeol berkali-kali mendesah saat lidah Kris menelusup masuk dan menjelajahi ruang hangat miliknya. Sebuah rengekan keluar dari mulut Chanyeol, ciuman mereka begitu intim dan basah. Dengan gemetar, Chanyeol mencengkram bahu Kris lebih kuat sementara dia ngos-ngosan dan berkeringat.

Air di bak terhempas bolak-balik seperti ombak di lautan saat membentur batu karang, seirama dengan gerakan tubuh mereka. Kris meninggalkan jejak di leher Chanyeol, menggigit di sini, menjilati di sana, dan ketika bibirnya mengecup jakun sensitif Chanyeol, sebuah desahan panjang lolos dari bibir Chanyeol. Kris mencium lebih keras, membuat Chanyeol menggali kukunya lebih dalam ke pundak Kris, ketika Kris mulai menghisap, suara-suara paling cabul bergema di dinding ubin. Di bawah bibirnya, Kris bisa merasakan getar suara berat sang kekasih lebih jelas, terdengar lenguhan panjang seperti "tolong" tumpah tak berdaya dari bibir Chanyeol.

Kulit Chanyeol terasa, halus dan basah, seperti sutra di bawah jari-jarinya, Kris menyentuh bagian belakang bahu Chanyeol, jari-jarinya bergerak menyusuri tubuh Chanyeol, mengeksplorasi, menyentuh, merasakan, menciumi setiap titik sensitif, setiap inchi dan setiap jengkal dari tubuh Chanyeol.

"Ahh Hyung~ pleasee..." Chanyeol merintih, dan dia gemetar menikmati tangan besar Kris terus meluncur kebawah, memegangi pinggulnya di tempat. Setelah berkontak mata sebentar, Kris mendorong pinggul Chanyeol keatas, mencengkeram Chanyeol untuk menjaga dia di tempat, dan lagi-lagi erangan bernada tinggi memantul di tembok saat kejantanan Kris menubruk prostat Chanyeol kuat-kuat, saking kuatnya Chanyeol sampai terhuyung-huyung dan penglihatannya mulai mengabur.

"Chanyeol ..." Kris mendesis ketika Chanyeol kembali menggerakkan pinggulnya, kali ini lebih cepat, begitu cepat sampai dia tidak mampu mengangkat tubuhnya lagi. Chanyeol menggelengkan kepala sambil terengah-engah. Dia hampir menyerah. Dia benar-benar sudah tidak sanggup.

"I've got you." gumam Kris lembut, tangannya kembali memegangi pinggul Chanyeol, membimbing dia untuk terus bergerak. Dan Chanyeol merasa hilang kesadaran saat melakukannya, cengkraman kukunya sudah tidak sekuat tadi.

Kris mengulum bibir di hadapannya sekali lagi, memperdalam ciuman itu, lidah mereka saling bergesekan satu sama lain. Rasanya seolah-olah seperti terlempar dari tebing yang tinggi, terjun ke laut, tenggelam di dalam pusaran ombak, dia terengah-engah dan berteriak tapi tidak ada yang datang untuk menyelamatkannya. Kris tiba-tiba tersentak kaget. Perasaan ini selallu mengalir di tubuhnya setiap kali dia mencium Chanyeol.

"Chanyeol, I Lo—" Kris batal buka mulut. Terus terang saja dia ingin memberitahu Chanyeol bagaimana perasaannya, dan betapa dia sangat mencintai namja manis ini. Tapi saat ini bukan sikon yang tepat. Tidak sekarang. Lengannya melingkari pinggang Chanyeol erat-erat, seolah-olah dia adalah orang terakhir yang tersisa di bumi ini. Jujur saja, Kris merasa hanya Chanyeol lah satu-satunya manusia di dunia ini yang ingin dia ajak untuk menghabiskan sisa hidup bersama. Suatu hari nanti.

"Aku berharap kau milikku," gumam Kris pelan sekali.

Chanyeol melepaskan tautan bibir mereka, menatap Kris tak mengerti. "Ya, aku memang milikmu, kita kan memang sepasang kekasih."

Kris tersenyum samar. Bocah ini tidak ngeh rupanya.

Visi Chanyeol semakin mengabur, setitik air mata mengalir turun dan dia cepat-cepat bersembunyi di bahu Kris. Begitu banyak sensasi, perasaan campur-aduk, berputar-putar di kepalanya sekaligus sampai membuat Chanyeol serasa ingin meledak detik itu juga. Desahan, lenguhan dan erangan tak henti-hetinya terlontar keluar dari bibir indah Chanyeol. Kris dipenuhi rasa antusias yang begitu menggebu-gebu, setiap gerakan, setiap suara, dan setiap bisikan lembut yang keluar dari bibir Chanyeol, semuanya terasa begitu indah. Dan Kris rela mati seribu kali demi bisa melihat sisi lain seorang Park Chanyeol yang seperti ini.

Desahan lega lolos dari mulut Kris saat berhasil mencapai klimaks. Semenit kemudian, Chanyeol menyusul jejak Kris, cairan hangat berwarna putih menyembur keluar, melebur dengan kehangatan air dan hilang diantara tumpukan gelembung balon. Untuk sesaat, mereka melewati detik-detik terakhir dengan cara saling berpelukan, terdiam satu sama lain. Hanya mendengarkan bunyi napas masing-masing bekerja. Merasakan detak jantung berbaur menjadi satu irama tunggal, berdentum-dentum, dan bergejolak tak karuan.

Kris tersenyum lembut, mengecup sekilas kening Chanyeol lalu memanjat keluar dari bak, sementara Chanyeol masih terpaku di tempat, menonton air yang menetes-netes dari rambut Kris, turun dari bahunya dan bermain seluncuran di punggungnya. Kris meraih handuk di gantungan terdekat dan menyampirkan itu di bahunya. Tangan Kris terulur saat ia membantu Chanyeol keluar dari bathtub. Setelah saling mengeringkan tubuh masing-masing, kedua namja tinggi itu masuk ke kamar tidur. Handuk putih yang serasi terlilit di pinggang mereka. Chanyeol duduk bersilang kaki di pinggiran ranjang sementara Kris berdiri di dekatnya, sibuk mengeringkan rambut sang kekasih dengan handuk lain, seperti seorang kakak yang begitu perhatian.

"Hyung."

"Hmm?"

"Apa ada hal favorit kau sukai dariku?" Chanyeol bergumam santai, seolah-olah dia sedang berbasa-basi kosong.

Tapi Kris sudah cukup mengenal Chanyeol. Tanpa ragu-ragu dia menjawab, "Matamu."

Kris membungkuk, memberi ciuman lembut di pelipis Chanyeol. "Bibirmu…" tambahnya sambil menyapu bibir basah Chanyeol dengan telunjuk, alih-alih menciumnya. "Pinggangmu..." Kris membungkuk lebih dalam untuk berbisik di leher Chanyeol, "Suaramu..." Kris menyelinapkan tangannya ke bawah handuk Chanyeol, mengelus paha dalam di dekat selangkangan. Nyaris membuat Chanyeol menjerit untuk kesekian kalinya. "Aku suka wajahmu... paling suka kalau melihat wajah itu membentuk ekspresi menderita karena tercabuli…" Kris menyeringai sok jago. Rasanya Chanyeol ingin menghilang ke dalam selimut agar dia tidak pernah melihat senyum jelek itu lagi selama-lamanya.

"Aku benci kau." Chanyeol melipat tangannya dan menjauh dari Kris. "Aku benci kau, aku benci kau, aku benci kau!"

"Aku mencintaimu." jawab Kris. Suaranya begitu dalam dan meyakinkan.

Chanyeol berbalik, menatap mata Kris, tapi dia hanya menemukan ketulusan dari sorot mata itu. Ada kata-kata yang berputar-putar di dalam kepalanya, perasaan mendesak yang ingin dia tumpahkan, sesuatu yang ingin dia ungkapkan agar Kris bisa mengerti, tapi semua kosakata di kepanya malah menghilang dalam sekejap. Dan bukannya membalas pernyataan cinta Kris dengan kalimat manis, Chanyeol malah terpaku bengong seperti orang bodoh dan tidak sadar sama sekali waktu Kris mendekatkan wajah dan kembali menciumnya.

"Aku mencintaimu. Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu."

"Selama-lamanya?" tanya Chanyeol.

"Selama-lamanya," sahut Kris yakin.

"Selama-lama-lama-lamanya?" Chanyeol nyengir.

Kris terkekeh. "Selama-lama-lama-lamanya."

"Tidak perduli apapun yang terjadi?" pancing Chanyeol.

Kris mengangguk mantab. "Tidak perduli apapun yang terjadi."

.

.

.

.

Location: Yunjae's Palace. ChenLay/TaoBaek room — 23.48-00.10 AM

Lay tidak bisa tidur. Jika Chen sudah terbang ke alam mimpi duluan, dia masih terjaga. Tidur dalam berbagai posisi salah. Tidur di sofa pun salah. Masih ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Dan entah bagaimana, memikirkan 'sesuatu yang jahat' mengintai dari balik pepohonan di luar sana membuat seluruh tubuhnya gemetar karena rasa cemas. Mungkin sebaiknya dia gabung di kamar sebelah, dengar-dengar tadi Baekhyun bawa monopoli dari rumah. Bermain mungkin bisa membuat pikirannya lebih rileks.

"Halo tetangga, ada angin apa yang membawamu kesini?" Baekhyun menyambut ceria di pintu.

"Aku boleh menginap di kamarmu, kan? Hanya untuk malam ini saja. Plisss?" tanya Lay memelas.

Baekhyun melotot kaget, "Eh, kenapa? Memangnya kenapa di kamarmu, hyung?"

"Tidak ada apa – apa." Lay memutuskan untuk tidak bercerita, bisa – bisa Baekhyun malah meledeknya, "Hanya sedang ingin saja."

Baekhyun mengernyit bingung, tiba-tiba dia berseru seperti teringat sesuatu, "Ah, aku tahu! Kau pasti masih teringat dengan ucapan Paman Yunho. Iya, kan? Sudahlah, tenang saja. Paman Yunho bilang bandit-bandit itu tidak akan berani main ke daerah sini, soalnya mereka kan sudah bayar fee yang sangat besar ke para bandit itu."

Lay tidak menjawab, membiarkan Baekhyun dengan asumsinya.

"Hyung, siapa itu?" seru sebuah suara dari dalam.

"Oh ini, tetangga sebelah." jawab Baekhyun sambil menoleh ke belakang. Beberapa detik kemudian, Tao nongol di sebelah Baekhyun dengan wajah coreng penuh bedak.

"Hai, hyung! Mau ikut gabung? Kebetulan kami sedang main monopoli." Tao bergeser sedikit dari pintu sambil menunjuk ke dalam dengan jempolnya. Lay bisa melihat kedua dongsaengnya dengan muka cemong-cemong penuh bedak duduk saling berhadapan. Kai menggenggam ember mini berisi dadu. Sementara Sehun melambaikan tangan ke Lay.

"Tertarik?" tanya Tao sumringah.

"Boleh juga." jawab Lay. Justru karena inilah tujuan dia datang kemari.

Lay mengekor di belakang Baekhyun dan Tao yang menggiringnya masuk. Sekarang kelima namja itu telah duduk saling berhadapan. Membentuk lingkaran kecil dengan papan monopoli berada di tengah-tengah mereka.

"Nah, karena kau sudah disini, kami akan memberikan jabatan ekslusif untukmu." tukas Kai dengan senyum jahil.

"Jabatan ekslusif?" Lay mengernyit.

"Yup. Kepala Bank. Sekarang bisakah kau ambilkan uang yang warna merah itu?" perintah Kai seenaknya.

"Biarkan Lay hyung ikut bermain." tegur Sehun sambil tertawa kecil.

"Ini mulai membosankan. Seharusnya kita pakai duit yang asli." keluh Tao mengacak-acak tumpukan duit mainan di depannya.

"Tidak boleh. Itu namanya gambling. Berjudi." saran Baekhyun sok tua.

"Ide bagus." Kai malah setuju.

Sehun nyengir lebar, "Ya, aku setuju."

"Woi! Woi!" tidak ada yang memperdulikan Baekhyun yang malang. Semuanya sudah menarik dompet masing-masing dan mengeluarkan isinya. Kai bahkan menumpuk banyak sekali uang receh di depannya.

Sehun tertawa melihat tumpukan uang receh milik Kai. "Apa-apaan! Masukkan kembali. Bikin malu saja. Percuma tampang keren tapi dompet kering."

"Baru punya satu lembar lima ribu dan sepuluh ribu won saja sudah sombong." balas Kai mencibir kesal.

"Diamlah kalian wahai pemulung! Pria lima puluh ribu won ini mau bermain." Tao mengibas-ngibaskan lima lembar uang kuning di wajahnya. Berlagak seolah-olah itu adalah kipas.

"Huh, apa bagusnya?" kali ini Kai mencibir Tao.

"Hei, kapan kita mulai kalau kalian malah ribut sendiri?" protes Baekhyun.

"Tidak sampai kita lihat isi dompet Lay hyung." Kai menunjuk Lay.

"Kurasa aku tidak perlu." tolak Lay menggeleng sungkan.

"Kenapa? Takut diketawain?" Tao tersenyum mengejek. "Ayolah, tidak ada yang perlu kau khawatirkan, hyung. Uang akan kembali ke dompet masing-masing jika permainan berakhir. Dijamin aman."

"Ya, tidak perlu cemas. Masih ada yang lebih kere lagi darimu, hyung." tukas Sehun sambil menunjuk Kai dengan dagunya.

Kai celingukan, pura-pura bodoh. "Siapa?"

Sehun memutar bola mata. "Tembok di belakangmu. Ya kaulah!" ditinjunya pundak Kai kuat-kuat. Kai spontan mengaduh kesakitan. Terkadang Sehun ini suka keterlaluan. Kalau mukul orang nggak tanggung-tanggung. Padahal Kai itu kan calon pacarnya sendiri.

"INI KAPAN KITA MAINNYA SIH?!" teriak Baekhyun frustasi. "Banyak omong!"

"Oke, oke, Yang Mulia Ratu. Kita main. Tapi tolong jangan berteriak di telingaku, oke?" protes Tao sambil mengusap-usap kedua telinganya.

"Nah, ayo mulai!" seru Baekhyun, kini dia mengocok dadu penuh semangat.

Sementara yang lain sibuk berebut giliran melempar dadu, Lay mengalihkan pandangannya dari papan monopoli. Dia menatap ke jendela dan… Uh, oh, siapa itu?! Begitu dia menutup mata dan membukanya lagi, sosok di jendela itu sudah menghilang.

Lay menggeleng. Ah, bukan. Pasti cuma bayangan pohon.

.

.

.

.

31/10/2015. Location: Yunjae's Palace. LuMin room — 01.00 AM

"Hei, Lu. Kau belum tidur kan?"

Hening.

"Sayang?

Tidak ada jawaban.

Tarikan Xiumin makin lama makin gencar di bajunya. "Luhan? Sayang? Lu? Lu? Lulu honeeey?"

Luhan menguap lebar sekali, berguling kearah Xiumin sambil berdecak kesal. "Apa sih? Kau tidak lihat ini jam berapa?"

Xiumin merengut jelek. "Tadi kau sudah janji mau menemaniku jalan-jalan."

"Ya, tapi aku ngantuk sekali, sayang." Luhan bergumam tidak jelas, misah-misuh, komat-kamit, mengeluh sendiri seperti sedang berkumur-kumur. "Besok saja deh ya?"

"Tidak bisa. Besok kan kita ada games. Ingat?" tolak Xiumin. "Ayolah, sebentar saja. Ya? Ya? Lagipula aku susah tidur."

"Cobalah menghitung domba, kau pasti bakal ketiduran," saran Luhan ogah-ogahan.

"Aku tidak mau menghitung domba-domba bodoh!" Xiumin menyilangkan tangan kesal. "Kalau kau tidak mau menemani ya sudah. Aku pergi sendiri saja."

Luhan berpikir ulang. Kalau memang benar di hutan ini berbahaya karena banyak bandit dan binatang buas, bisa gawat dia membiarkan kekasihnya keluyuran sendirian. Seumur-umur Luhan akan dihantui perasaan bersalah dan dia tak akan memaafkan dirinya sendiri kalau Xiumin sampai kenapa-napa. Walaupun dilihat dari segi tenaga, Xiumin jelas-jelas yang lebih kuat darinya. Masa bodoh. Sebagai seme yang baik dia tetap harus bertanggung jawab.

Luhan mengerang gemas sambil mengacak-acak rambutnya. "Haish! Iya deh! Aku ganti baju dulu." Setelah itu dia beranjak dari tempat tidur sambil bersungut-sungut.

Xiumin tersenyum senang. Dia tidak perlu ganti baju. Toh Xiumin memang belum ganti baju tidur, malah dia sudah pakai sepatu dan mengalungkan kamera di lehernya. Ready for midnight date!

Saat dia menoleh kebelakang, rupanya Luhan sudah selesai berganti baju. Tampak simpel dan keren hanya dengan kaos oblong, jaket serta celana jeans. Xiumin berjingkat-jingkat pelan lalu memeluk pinggang sang kekasih dari belakang.

"Cepat. Jangan kelamaan. Nanti keburu ada yang bangun dan melihat kita."

Luhan tersenyum simpul, memutar tubuhnya lalu mendaratkan kecupan kilat di kening Xiumin. "Biar kutebak. Kita lewat… hmm…." matanya menerawang keatas, pasang gaya seolah-olah berpikir. "Jendela?"

Chu~! Gantian Xiumin yang mendaratkan kecupan. Tepat di bibir. "Pintar sekali. Cepat bantu aku buka jendela itu."

.

.

.

.

Location: Forest. Shoshone Falls, Snake River – 01.21-02.01 AM

Xiumin menghela napas lega. Tidak sia-sia perjuangan mereka kabur dari istana horror, menempuh semak belukar, melewati hutan belantara dan mendaki bukit bebatuan. Akhirnya… inilah dia! Air terjun yang katanya lebih tinggi dari Niagara… Shoshone Falls!

Secara antusias, Xiumin mengatur lensa kamera, bermain di zoom dan pencahayaan. Mencari efek terbaik untuk mengabadikan view alam yang sangat menakjubkan dihadapannya. Setelah menentukan pilihan, dia mundur sedikit. Kepalanya miring ke kanan dan ke kiri. Berusaha mencari angle yang pas. Mungkin dia harus bergeser sedikit ke tengah. Yak. Oke! Disini view keseluruhannya lebih dapet. Xiumin berlutut di tanah berumput dan mulai memotret beberapa kali.

Setelah berhasil mengabadikan Shoshone dari beberapa sisi, namja itu mengamati hasil jepretannya di layar sambil tersenyum puas.

"Seharusnya kita kesini saat matahari terbit. Aku pernah lihat di Internet, ada pelangi yang melintang tepat diatas sana." telunjuk Luhan mengarah keatas.

Xiumin memandangi penuh kekaguman view di depannya. Menghirup dalam-dalam aroma alam yang sangat menakjubkan ini. Langit malam, bintang-bintang bertaburan, ngarai-ngarai tinggi berjejer membentuk barisan, air terjun yang sangat cantik mengalir di tengah-tengah, paduan suara jangkrik dan kumbang sebagai pengisi soundtrack, serta kemilau cahaya kunang-kunang berpendar di sekeliling mereka. Seolah tak mau kalah dengan ribuan bintang diatas sana. Apa lagi yang lebih indah dari ini?

"Yeah, pelangi memang luar biasa. Tapi ini juga tak kalah mempesona. Coba lihat." Xiumin menunjukkan hasil jepretannya pada Luhan.

"Wow," desah Luhan takjub. "Kau memang fotografer handal. Semua gambar-gambar ini tak akan terlihat sehebat ini kalau bukan kau yang ambil."

"Penipu." cibir Xiumin. Namun tak urung dia salah tingkah juga.

Luhan tertawa pelan. Dia mengulurkan kedua tangan lalu mendekap sang kekasih dalam pelukan hangatnya. "Aku tidak mengerti kenapa mereka melarang kita keluar malam. Padahal pemandangan di luar sini sangat indah, sunyi dan begitu… erotis."

"Erotis?" ulang Xiumin hampir tersedak ludahnya sendiri. "Bukankah seharusnya eksotis?"

Luhan menyeringai lebar sekali. Seringai mesum. "Maaf, aku salah fokus. Ini semua gara-gara kau."

"Alright, Mr. Deer. Bukan salahku kalau aku dilahirkan se-amazing ini," ucap Xiumin penuh percaya diri.

Luhan mengecup pipi tembem Xiumin. "Dan bukan salahku kalau aku diciptakan untuk membuat Mr. Amazing tampak semakin sempurna. We're born to be together. It's on my vein, babe. It's on my vein."

Tawa Xiumin meledak. "Mweh! Apa itu salah satu dari sekian juta gombalan payahmu?"

"Payah?" Luhan melotot tak terima. "Aku sedang berusaha, oke? Setidaknya ucapkan terima kasih atau apa."

"I don't say it. I'll do it." Xiumin menurunkan kamera dari depan wajahnya. Ditatapnya Luhan lekat-lekat. "So, do you mind if we going somewhere for something fun?"

"Yeah sure. Why not? With you, I swear everything is gonna be fun."

"Like what?" pancing Xiumin sementara mereka mulai berjalan menyusuri sisi lain hutan yang sunyi dan tenang. Terlalu tenang. Jadi aneh sekali Yunho dan Jaejoong begitu paranoid berkoar-koar tentang larangan keluar malam.

Jari-jari tangan Luhan mendaki lengan Xiumin seperti telapak kaki laba-laba. "Like stuff and… things?"

Xiumin tertawa pelan. "Well oke, stuff and things."

"I like stuff." jawab Luhan.

"I like things." Xiumin membeo.

Dua orang itupun tertawa-tawa tidak jelas lagi.

"Aku masih penasaran kenapa Paman Yunho dan Bibi Jae melarang kita keluyuran di hutan seindah ini. Padahal kita daritadi tidak melihat binatang buas seekorpun." Xiumin mengarahkan senter kesana kemari. "Hanya beberapa rusa dan kelinci imut yang berseliweran."

Luhan menyoroti jalan setapak di depannya, dia yang memimpin di depan. "Mungkin mereka takut kita bakal hilang diculik arwah."

Xiumin mendengus geli. "Mungkin mereka lupa kita bukan bocah sepuluh tahun yang gampang ditakuti."

Luhan berhenti di dekat sebuah pohon dan menarik slayer berwarna kuning. Beginilah cara mereka menandai suatu wilayah. Antisipasi agar tidak tersesat dan berubah jadi anak hilang di Negara orang.

"Ini pita terakhir, kita sudah dekat sama area terbuka yang tadi kita lewati." Kalau tadi mereka berjalan beriringan, sekarang mereka berjalan bergandengan tangan.

Area terbuka yang dimaksud Luhan berupa padang rumput yang cukup luas dengan rumah-rumah kabin kayu berukuran sedang tak berpenghuni. Sepertinya itu disediakan untuk para wisatawan yang ingin bersantai sejenak sambil minum kopi atau hanya sekedar berhenti sebentar untuk mengistirahatkan kaki. Alih-alih duduk di teras salah satu kabin, mereka malah menghempaskan diri di bangku kayu yang letaknya tak jauh dari kolam mata air.

Luhan berjongkok di depan kolam lalu membasuh wajahnya dengan air jernih yang dingin. Brrr… dia menggigil sebentar. "Segar sekali! Kita harus mengajak yang lainnya kesini. Berani bertaruh mereka pasti suka."

"Tentu saja." sahut Xiumin sambil membidikan kamera ke kolam mata air.

"Hei, kenapa tidak memotret aku sih? Kau punya pacar bintang film tampan dan yang kau potret daritadi cuma gambar-gambar tidak penting. Bahkan burung parkit masih punya satu ruang di kameramu," keluh Luhan.

Xiumin cengengesan "Kau jealous pada burung parkit?"

"Tidak. Aku juga jealous pada kolam ini." ungkap Luhan pura-pura ngambek.

"Baiklah kalau begitu. Coba berdiri disana. Nanti kufoto." Xiumin menunjuk ke jejeran rumah kabin.

Luhan menyipitkan mata. "Yakin? Awas kalau yang masuk dalam foto cuma rumahnya saja."

"Okki-dokki, sir!"

Saat Luhan telah siap berpose dengan gaya yang paling keren, mendadak Xiumin menurunkan kameranya.

"Sayang…" wajah Xiumin berubah pucat pasi. Matanya menatap nanar ke sesuatu di belakang Luhan. "A…apa itu? Aku lihat seseorang disana."

Luhan berdecak malas. "Please…"

"Serius!" pekik Xiumin panik. Raut wajahnya ketakutan setengah mati. "Ada orang di belakang sana! Di jendela itu. Kau tidak percaya? Dia sedang mengawasi kita."

Luhan masih tidak percaya. "Honey, kalau memang tidak niat memotretku bilang dong."

"Astaga. Lihat saja! Lihat sendiri dengan mata kepalamu!"

Dengan malas-malasan, Luhan menoleh kebelakang. "Mana? Mana? Tidak ada apa-apa."

Xiumin cepat-cepat memungut kerikil lalu menimpuk kepala Luhan. "KENA KAU!"

"Aduh," Luhan tersentak sambil memegangi kepalanya yang kena timpuk. Dia melihat Xiumin berlari kebelakang meja sambil tertawa keras. "Oh… ngajak perang rupanya. Oke. Akan kuladeni."

Luhan segera berlari, berusaha menghindar dari serangan bertubi-tubi. Dia merunduk dan dengan sigap bersembunyi tepat dibalik tiang lampu taman bergaya abad pertengahan. Dikumpulkannya beberapa batu kerikil sebagai amunisi. Luhan mengintip sedikit dari balik lampu dan TANG! Sebuah batu baru saja mendarat tepat beberapa senti dari wajah, nyaris mengenai matanya. Bersyukur ada tiang lampu yang baik hati ini bersedia jadi tameng untuk melindungi dia.

"Berani juga kau, ha?" tantang Luhan setengah berteriak. "Rasakan pembalasanku!" dia melempar kerikil yang agak besar, namun Xiumin lebih sigap berlindung di belakang pohon sebelum kerikil itu sempat mengenai bokongnya.

"Dasar bodoh! Bidikanmu selalu meleset!" ledek Xiumin.

Luhan melempar kerikil ketiga yang malah mengenai ranting pohon tempat Xiumin bersembunyi. Akibatnya beberapa biji pinus rontok dan berjatuhan ke tanah.

"Huuu! Perusak alam!" Xiumin balas melempar kerikil lain. Kali ini dia berhasil mengenai hidung Luhan.

"AUW!"

Xiumin bersiul penuh kemenangan. "Eat that, dude!"

"Enough! I'll kiss you!" teriak Luhan melompat keluar dari persembunyian. Secara nekat dia berlari menerjang lemparan bertubi-tubi Xiumin.

Ketika Xiumin hendak melangkahkan kaki untuk berlari menjauh, tiba-tiba saja dia tersandung sesuatu yang menonjol keluar dari sela-sela akar pohon. Tubuhnya ambruk ke tanah tanpa sempat dia hentikan.

"Minnie! Darling, kau baik-baik saja?" Luhan bergegas menghampiri Xiumin lalu berjongkok di depan namja itu. Sorot matanya yang sayu terlihat cemas dan khawatir.

Xiumin menggeleng. "Tidak apa-apa. Cuma nyeri sedikit." dia melongok untuk memeriksa benda tidak sopan yang baru saja menjegal kakinya. "Apa itu tadi?"

"Entahlah. Tapi kau tidak ada yang luka kan? Kakimu tidak apa-apa?"

Bukannya menjawab, Xiumin malah berdiri dan berjalan terseok-seok mendekati benda putih yang menyembul dari tanah. "Apa ini?"

Luhan ikut mengamati benda putih yang tampak ganjil itu. Dahinya berkerut-kerut. Benaknya berputar keras. "Hmm, ini Indian Pipe."

Alis Xiumin berkerut bingung. "Indian Pipe?"

"Ya, sejenis tumbuhan bangkai. Biasanya tumbuh diatas sisa-sisa tanaman yang sudah mati atau di sebuah pohon. Bentuknya memang seperti tulang-belulang berwarna putih."

"Idih," Xiumin meringis jijik.

Luhan tertawa. "Seharusnya kau kagum pada tumbuhan ini. Sampai sekarang para ilmuwan masih dibuat bingung. Daun dan tangkainya putih karena sama sekali tidak mengandung klorofil. Kau tahu, kan? Itu zat yang menyebabkan tumbuhan berwarna hijau."

"Menarik sekali," komentar Xiumin dengan nada mengejek.

Tapi Luhan tidak ambil pusing. "Dosenku bilang, Indian pipe hanya tumbuh di tempat-tempat yang sangat gelap. Sebenarnya lebih mirip jamur daripada tumbuhan." sekarang dia malah berjongkok dan mulai menggali-gali tanah. "Yang paling aneh," lanjutnya, "Setelah kering, tumbuhan itu malah berubah jadi hitam. Karena itu aku sempat tertarik mau mengangkat tumbuhan ini sebagai judul penelitianku. Barangkali bisa kubawa pulang untuk dikeringkan."

Xiumin mengamati sekeliling, jangan sampai dia menemukan Indian Pipe lain di sekitar sini.

"Aku mau mencari di sebelah sana saja," Xiumin menghampiri pohon besar di seberang sana. "Barangkali ada Indian pipe yang tumbuh di batang pohon itu."

Xiumin berlutut di samping akar-akar yang meliuk-liuk seperti ular, dan menyingkirkan daun-daun mati yang berserakan. Tak ada bunga liar. Cuma cacing dan serangga. Ew! Menjijikkan sekali.

Kemudian dia melihat benda putih lain menyembul dari tanah di dekat salah satu pondok kabin. Langsung saja dia berpindah ke sana untuk memeriksanya. Setangkai tumbuhan menyembul dari tanah gambut. Ujung tangkainya tertutup daun-daun kering. Xiumin mengerahkan segenap tenaga untuk menariknya, tapi tak berhasil mencabutnya dari tanah.

Dia mulai berusaha menarik lebih keras. Tangkainya naik sedikit, dan tanah di sekelilingnya ikut terangkat.

Ini bukan tangkai, pikir Xiumin baru sadar. Kenapa keras sekali ya?

Aneh…

Xiumin kembali mengerahkan seluruh tenaga di tubuhnya. Benda tersebut ternyata cukup panjang. Sekali lagi dia menarik. Lalu sekali lagi…

Pada tarikan terakhir Xiumin berhasil mencabutnya. Sejurus kemudian dia terpaku di tempat sambil menatap ke dalam lubang besar yang terbentuk di tanah, kemudian memekik kaget.

"Hei hon, coba kau lihat yang ini." serunya dengan suara tertahan. "Aku baru saja menemukan tulang-belulang asli."

"HAH?" Luhan langsung berlari menghampiri Xiumin.

Mereka berdua sama-sama memandanginya sambil membisu. Kerangka itu tampak berbaring menyamping dan sepertinya semua tulang masih lengkap. Lubang mata yang telah kosong di tengkoraknya seakan-akan menatap balik.

"A—apakah ini kerangka manusia?" bisik Xiumin sambil tergagap-gagap

"Tidak mungkin, kecuali kalau ada manusia berkaki empat." jawab Luhan.

Xiumin menatap kerangka itu sambil melongo. "Kalau begitu apa dong?"

"Sejenis binatang besar," Luhan mengusap-usap dagunya. "Mungkin rusa."

Xiumin membungkuk agar dapat melihat lebih jelas. "Bukan. Bukan rusa. Kakinya berjari, bukan berkuku ganda." dia mengamati tengkorak, yang berukuran cukup besar itu, dan menemukan gigi taring yang tajam. Ketika berusia sembilan tahun, Xiumin sempat tergila-gila mempelajari kerangka makhluk hidup. Rasanya, semua buku tentang kerangka sudah dia baca habis.

"Kelihatannya seperti kerangka anjing," Xiumin menyimpulkan setelah terdiam cukup lama.

"Anjing?" tanya Luhan agak terkejut. "Oh, anjing yang malang." Dia menatap tulang-belulang itu. "Kira-kira kenapa ya, dia bisa mati di sini?"

"Barangkali diserang binatang lain."

Luhan berlutut di samping Xiumin. "Tapi kalau anjing ini dimangsa serigala atau beruang, tulangnya pasti ada yang remuk, bukan?" ujar Luhan. "Kerangka ini jelas-jelas masih utuh."

"Barangkali dia mati karena tua," Xiumin menduga-duga. "Atau mungkin juga dia dikubur pemiliknya disini."

"Masuk akal. Mungkin dia tidak mati diserang," Luhan menimpali. Wajahnya sudah tidak pucat lagi.

Sejenak kedua orang itu duduk membisu sambil memikirkan nasib si anjing malang.

"Ayo kita pulang saja."

Luhan menoleh tidak yakin, "Excuse me?"

"Ayo kita pulang saja," ulang Xiumin lebih jelas dan tegas.

"Pulang? Eits…" digoyang-goyangkan jari telunjuknya di depan hidung Xiumin. "Nanti dulu. Kau kan belum menepati janjimu."

Xiumin tercengang. Apa cowok ini sudah gila? Disaat-saat begini masih mau berhubungan seks? "Luhan, perasaanku tidak enak. Aku tidak mau melakukannya disini. Tidak sekarang. Ayolah, kumohon."

Luhan menghela napas panjang. Pacarnya ini suka semaunya sendiri, tadi dia yang ngotot minta keluar, sekarang dia juga yang ngotot mau pulang.

"Fine." Luhan menggeser posisi duduknya, mempersempit jarak diantara mereka. Dia mengulum bibir Xiumin dengan lembut sembari memejamkan mata. Menghayati setiap sensasi yang dia rasakan. Menjilati sisa-sisa manis soda yang masih menempel di bibir sang kekasih. Bersilat lidah dan mendominasi perang dengan cara menggigit bibir bawah Xiumin hingga namja cantik itu melenguh pelan dibawah terkamannya. Karena dia tidak bisa mendapatkan 'stuff and things' sekarang, mungkin sedikit ciuman basah bisa mengobati hasrat yang tengah bergejolak dalam dirinya.

"Sudah. Sudah cukup." gumam Xiumin sambil menepuk pelan dada Luhan.

Luhan menyerah pasrah. Sebelum berdiri, dia daratkan kecupan singkat di dahi Xiumin, kemudian di bibirnya lagi. "Okey, let's go."

AAAAAAARKH!

Kedua namja itu membeku di tempat.

Barusan… siapa yang berteriak?

Xiumin merinding.

Sesaat mereka terdiam sebenta. Menunggu suara lolongan serak itu muncul kembali, tapi suasananya malah berubah hening. Sangat hening. Keheningan yang ganjil.

Luhan bergegas menggandeng tangan Xiumin. Buru-buru kabur. "Ayo."

.

.

.

.

Location: Yunjae's Palace. KaiHun room – 02.02-02.23 AM

"Kai…"

Namja yang dipanggil namanya segera menoleh. "Ya?"

"Seharusnya kita tidak bermain selarut ini. Aku ngantuk."

Kai kepingin sekali mengecup sepasang bibir cemberut itu kalau tidak ingat status hubungan mereka yang belum jelas.

"Tapi ini 'kan lagi seru-serunya," jawab Kai ringan. Tatapannya kembali fokus ke laptop sementara tangannya asik menekan tombol-tombol di stick game.

Sehun bersiap-siap menutup kedua matanya lagi saat layar video game menampakkan gadis kecil berbaju hitam tengah berdiri di lorong panjang yang gelap. Pencahayaan di basement itu sangat minim, hanya ada satu lampu di tengah-tengah yang berayun ke kiri dan ke kanan. Lampu itu berkedap-kedip diiringi suara petir menyambar-nyambar yang menyeramkan, menambah kesan mistis di sekeliling mereka. Kai jelas sangat menikmati semua ini. Masalahnya, Sehun daritadi merengek minta permainan dihentikan dengan alasan dia ngantuk sekali, padahal sebenarnya Sehun penasaran juga bagaimana ending video game ini. Meskipun dia berkali-kali kena serangan jantung gara-gara jumpscares sialan yang tidak kenal ampun. Disetiap sudut ruangan ada! Bagaimana bisa tenang kalau lagi sementara jalan tiba-tiba ada setan kecil gila yang menjerit sambil melompat ke depan layar dengan wajah pucatnya yang menyeramkan?

"Kai, awas… nanti dia meloncat ke depan wajahmu." gumam Sehun dari balik telapak tangan.

Dengan tenang Kai malah mendekati si gadis berambut panjang. "Hai, Emily!" sapa Kai riang.

"KAI SUDAH KUBILANG JANGAN!"

"Geez!" Kai refleks menutup telinganya. "Bisa tenang sedikit? Dia diam saja tuh. Tuh. Tidak meloncat." Sejurus kemudian dia tertawa terbahak-bahak. "Ya ampun, ini kan cuma game."

Sehun melempar guling ke kepala Kai. "Aku mau tidur!"

"Lho? Katanya penasaran? Gimana sih?" Kai masih tertawa-tawa. Kemudian cengar-cengir. "Ciee. Jangan marah dong, Princess. Sini kukeloni."

"Berisik!" Sehun melempar guling lagi. Gondok banget sekamar sama makhluk tukang cengengesan ini. "Pindah ke kasurmu sendiri sana!"

Bukannya menurut, Kai malah berbaring sambil memeluk Sehun. "Aku tidak akan kemana-mana. Aku tidak mau kau diculik Emily."

"Itu kan cuma game," cibir Sehun mengulangi ucapan Kai.

"Itu bukan cuma game. Itu terror yang akan menghantuimu dalam mimpi. Percayalah." tukas Kai pasang wajah super duper serius. "Dan hanya aku yang bisa menyelamatkanmu, Princess."

Kai kena timpuk bantal.

"Berhenti memanggilku princess. You jerk!"

Kai malah semakin merapatkan pelukannya walaupun Sehun sudah meronta-ronta dan mencoba berbagai macam cara untuk meloloskan diri.

"Bisa tidur dan tenang? Kau malah mengundang Emily kalau berisik begitu."

"Jangan sebut-sebut nama Emily!" bentak Sehun frustasi.

"Kau baru saja melakukannya," ujar Kai tenang.

Alis Sehun bertaut bingung. "Melakukan apa?"

"Menyebut nama Emily."

"Itu karena kau, bodoh! Pindah sana!" usir Sehun galak.

"Tidak mau. Nanti Emily datang."

Sehun mengerang. "Sudah kubilang berhenti menyebut Emily!"

"Emily? Emily?" panggil Kai.

"Kai… aku bersumpah akan menendang bokongmu keluar dari kamar ini jika kau melakukannya lagi!" ancam Sehun sudah habis kesabaran.

Tok, tok, tok. Terdengar suara ketukan pelan di pintu.

"Nah, itu pasti Emily. Cepat buka pintunya sana." perintah Kai terkekeh-kekeh jahil. Begitu Sehun menoleh dan melempar pelototan sadis, Kai langsung bungkam.

"S-siapa?" seru Sehun merutuki suaranya sendiri yang gemetaran.

Hening.

"Halo?" suara Sehun lebih mencicit dari yang tadi.

"Ini aku… Lay." terdengar sayup-sayup suara familier.

Oh… terima kasih, Tuhan. Sehun menghela napas lega.

"Itu Emily apa Lay?" seru Kai ke pintu. " Jawab aku, Emily! Jangan bohong!"

Kai kena timpuk bantal lagi.

Sambil mendengus jengkel, Sehun beranjak turun dari kasur lalu melangkah ke pintu. Syukurlah… ternyata memang benar-benar Lay. Kecuali, kalau Emily punya kemampuan berubah wujud, tapi… kayaknya tidak. Tunggu, kenapa dia jadi parno sendiri sama si Emily-Emily ini? Arghh! Ini gara-gara Kai!

"Hyung, ada apa? Kau belum tidur?" tanya Sehun agak heran.

Lay melongok kedalam sebentar, diatas tempat tidur ada Kai yang sedang menyeringai lebar. Namja itu kembali mengarahkan pandangannya ke Sehun. "Boleh aku masuk?"

"Ya, tentu saja."

Lay mengikuti Sehun dibelakang, lalu menyamankan posisi duduknya di kasur yang seharusnya ditempati Kai.

"Kalian tidur seranjang?" tanya Lay berbasa-basi.

Sehun menggeleng. "Tidak. Kami tidur terpisah."

"Aku sebenarnya mau tidur seranjang, tapi Sehun selalu berusaha mengusirku dari beberapa jam yang lalu. Entah apa salahku. Padahal yang kuinginkan hanya tidur satu bantal dengannya. Itu saja, hyung. Tidak lebih." jawab Kai sok dramatis.

Lay mengulum senyum kecil. Mungkin kalau suasana hatinya agak mendingan, dia sudah berkonspirasi dengan Sehun untuk memojokkan Kai sampai cowok tengil itu diam tak berkutik.

"Hyung, ada apa? Apa yang terjadi?" Sehun berpindah duduk di samping Lay. "Kau mengalami mimpi buruk?"

"Bukan, bukan mimpi buruk. Hanya saja…" Lay berhenti. Tiba-tiba merasa enggan untuk jujur. Dia tidak ingin membuat kedua dongsaengnya ini ikut-ikut cemas, apalagi merasa paranoid. "Tidak ada apa-apa, Sehun. Kau benar. Aku bermimpi buruk tadi."

"Hyung…" desak Sehun, ditatapnya Lay lurus-lurus. "Jangan malu-malu. Ceritakan pada kami. Aku janji kok tidak bakal ketawa. Kai juga. Iya kan, Kai?" dia menoleh ke Kai dengan pelototan garang yang kalau diartikan ke dalam bahasa manusia, berarti: "Awas-kalau-berani-ketawa-aku-benar-benar-akan-menendang-bokongmu-keluar!"

Kai mengangguk-angguk. Mati-matian menahan tawa melihat pelototan sangarnya Sehun yang gagal total. Bukannya sangar malah kelihatan imut.

"Yap. Janji adalah janji," sahut Kai mantab.

Lay menggigiti bibirnya, gelisah. "Ada… ada seseorang di luar sana."

"Seseorang?" baik Kai maupun Sehun sama-sama terperangah.

"Siapa?" tanya Sehun. Telapak tangannya mulai memproduksi keringat dingin.

"Aku tidak tahu. Tidak jelas. Dibawah pohon dia tampak seperti bayangan hitam. Pokoknya dari atas ke bawah serba hitam. Aku tidak tahu itu manusia atau… sesuatu yang lain," suara Lay seperti tercekik waktu dia mengeluarkan kalimat terakhir.

Kai dan Sehun saling berpandangan.

"See? Sudah kuduga kalian tidak akan percaya! Tapi aku tidak mengada-ada. Ini bukan ilusi." Lay mendadak emosional. "Aku terus-menerus berkata pada diriku sendiri kalau itu cuma halusinasi. Masalahnya, itu sama sekali bukan halusinasi! Aku tahu betul mana yang mimpi dan mana yang kenyataan. Dia ada di luar sana. Mengawasi kita!"

Sebelum Sehun sempat berkedip, Kai sudah berjalan ke jendela dan membukanya lebar-lebar.

Oh my fucking! What is he doing?! That crazy bastard! Sehun tidak habis pikir dengan jalan pikiran Kai. Jika ada manusia di dunia ini yang diberitahu A tapi malah melakukan B, Kim Jongin-lah orangnya.

"Kai, Lay hyung belum selesai cerita. Kau ini kenapa sih?" Sehun menarik Kai untuk menjauhi jendela.

Sorot mata Kai berubah. Tidak ada seringai bercanda lagi di wajahnya. Kali ini dia tampak serius seperti jagoan sejati dan tampak dua kali lipat jauh lebih tampan—di mata Sehun.

"Kalau memang ada orang di luar sana, aku akan buat dia menyesal karena telah berurusan dengan orang-orang yang salah," desisnya dengan kedua tangan terkepal geram.

"Sudahlah." Pelan-pelan Sehun menuntun Kai kembali ke kasur. "Sudah malam. Besok saja kita rundingkan lagi dengan yang lain. Tidak baik bertindak gegabah. Kita semua butuh istirahat. Terus terang aku lelah sekali."

"Aku juga." Lay mengangguk-angguk. "Makanya kalau boleh aku mau tidur dengan kalian malam ini."

Kalau biasanya Kai akan menolak, sekarang dia tidak punya pilihan lain. "Bagaimana dengan Chen hyung?"

"Dia sudah terbuai di dunia mimpi dari sekitar empat jam yang lalu," ucap Lay sambil merebahkan diri.

Ya ampun. Sekali Chen hyung tetap Chen hyung, pikir Sehun.

Kai kembali beringsut mendekati jendela. Mengamati barisan hutan pinus lebat di luar sana. Seolah berharap ada sesuatu yang muncul dan melompat dari balik semak-semak. Namun tiga menit berlalu dia juga belum menemukan tanda-tanda adanya pergerakan yang mencurigakan. Cuma suara desiran angin dan daun-daun yang saling bergesekan.

Sambil garuk-garuk kepala, Kai merangkak naik ke tempat tidur. Menelusupkan tangannya dibawah selimut untuk memeluk pinggang namja kesayangan.

Hangat sekali… Kai selalu suka aroma lembut yang menguar dari tubuh Sehun. Sungguh… begitu… sempurna.

"Kata siapa kau boleh memelukku?" tanya Sehun masih tidak luluh juga.

Kai mengecup pundak Sehun. "Kata Emily."

Sehun memejamkan mata. Senyam-senyum sendiri. "Kalau begitu bilang pada Emily, jangan rusak mimpiku malam ini."

Kai tertawa. "Tenang saja. Dia tak akan berani menyentuhmu barang seujung jaripun selama ada aku."

Senyuman Sehun melebar. Irama jantungnya berdetak cepat. Rasanya begitu hangat, nyaman dan terlindungi. "Selamat malam, Kai."

"Selamat malam, Emi—maksudku, Sehun."

.

.

.

.

Location: Yunjae's Palace. SuDo room – 03.00 AM

Kyungsoo tengah berbaring di ranjangnya, di dalam dekapan erat sang kekasih. Dia belum sepenuhnya tertidur. Dibalik kelopak matanya yang tertutup, bola matanya masih bergerak-gerak. Entah kenapa dia merasa tidak tenang. Kyungsoo menarik selimut sampai ke dagu ketika hawa dingin menyerang lehernya.

Hawa dingin?

Kyungsoo terbangun kemudian melirik ke jendela. Tirai putihnya tersibak dan berkibar-kibar oleh hembusan angin.

Pantas saja daritadi dia menggigil kedinginan. Mungkin Suho lupa menutup jendela.

Kyungsoo bergerak kearah jendela kemudian buru-buru menutupnya. Setelah itu, beranjak menuju ke ranjangnya kembali. Namja itu menarik selimut sampai ke dagu karena udara di ruangan ini masih terasa dingin. Dia pun berbalik memunggungi jendela. Tapi perasaannya masih tidak tenang. Seperti ada seseorang atau sesuatu yang mengawasinya dari kejauhan.

Kyungsoo memberanikan diri untuk menoleh ke belakang. Tidak ada siapapun di luar sana.

.

.

.

.

TBC—

A/N: Haaaii, I'm back again with this story^^! Sorry for make you wait too long. (T_T) habis ngebangun mood horror itu agak susah. Dua hari ini saya lagi hobi nongkrongin video2 game horror-nya Pewdiepie, dan terakhir saya habis ngeliat foto serem mbak kunti serem bermulut mangap di sebuah website. Entah kenapa langsung berselera buat ngelanjutin cerita ini. Mungkin ada perubahan plot dari rencana awal :D. Saya harap temen2 gak keberatan, meski begitu, permainan ritual Midnight Man-nya tetap dilaksanakan di next chapter. Walaupun untuk karakter antagonisnya sendiri akan mengalami perubahan fokus. Tenang aja, ini bukan cerita soal mbak kunti bermulut mangap. Tapi sesuatu yang lain yang…

Tunggu aja deh ya. hehehe.

Thanks buat temen2 yang sabar menunggu dan still wanna read this fanfic. I LOVE YOU GUYS :*.

Send me a Review please? ({})