Disclamer: Boboiboy © Animonsta Studios Sdn : GS, no thunder power no shadow power, hanya 4 elemen bumi, bahasa campuran, Typo bertebaran, Alur mudah di tebak soalnya pasaran, dan masih banyak banget kesalahan saya..

Main cast: semua karakter BoBoiBoy.

Rate : ngak bakalan ke rate M.

.

.

"Kenapa aku pula yang mengantar? harusnyakan Taufan. dia malah asyik godain cewek." gerutu Fang sepanjang jalan. gara-gara membolos, Fang dan Taufan di hukum oleh kepala sekolah dengan berdiri satu kaki sambil membawa ember sampai jam sekolah selesai tapi sebagai gantinya mereka mengantar Ais ke kelasnya, beruntung bagi Taufan karena ia langsung kabur saat melihat gadis pujaanya si princess dari kelas api yang terkenal sadis tak sengaja lewat di depanya. Fang pikir Taufan punya penyakit jiwa karena menyukai gadis kejam seperti dia, sudah sadis, menyeramkan pula.

Ais 'orang yang di antar' cuma diam saja, ia malas ngobrol dengan Fang. karena Ais sangat sungkan dengan orang seperti Fang, sudah jutek, hina orang tidak tangung-tangung lagi, siapa sih yang ngak males?

"Ini kelas kau!" ujarnya jutek lalu pergi begitu saja.

"Cih!" dengus Ais kesal, di tinggal begitu saja di kelas yang sepi. Oh ya, ini sudah waktu istirahat pantas kelas ini sepi. Ais memasuki kelas dan duduk di bangku paling belakang. Kata pak kepala sekolah di kelas Ice ada satu bangku yang kosong dan menurut insting Ais, bangku yang kosong pasti ada di belakang, tapi... belakangnya di barisan mana? Bangkunya ada empat baris, Ais lupa bertanya.

"Oooooh kamu anak baru itu ya?" sebuah sambutan tiba-tiba mengagetkan Ais. Ais berbalik dan mendapati anak laki-laki bertubuh besar kulitnya sedikit hitam bersama anak perempuan bertubuh kurus memakai kaca mata bulat. Ais tersenyum kikuk.

"Kenalkan, aku Gopal." ujar anak laki-laki bertubuh besar memperkenalkan diri.

"Dan aku Ying... " gadis kecil berkaca mata bulat juga memperkenalkan namanya. Ais sedikit terkejut, dua orang inilah yang di sebut oleh Fang cowok jutek yang menolongnya.

"A..aku...Ais." jawabnya gugup.

"Ya benar, kau di kelas ice " ucap Gopal asal. "Kau tidak membawa bom kan? Kau tidak membawa tokat sihirkan?"

"Eh? " Ais tersentak, bingung tidak mengerti ucapan Gopal.

"Wey. Gopal!" bentak Ying marah, Gopal malah nyengir, Ying melototi Gopal yang malah menakut-nakuti anak baru ini. "Sudah jangan pedulikan dia. kau pasti belum melihat kamarmu'kan ? " tanya Ying, Ais menganguk." setelah kelas selesai, ayo ikut aku. " Ais cuma mangut-mangut. Ais sudah tahu akan sekamar dengan gadis ini, untungnya dia tak mengangapnya laki-laki tidak seperti 2 anak laki-laki sebelumnya yang terang-terangan menghinanya.

"Kenapa kalian berdua terus menatapku? " Ais risih di tatap lekat oleh 2 orang ini, bukan cuma mereka semua anak-anak di koridor juga menatapnya seperti itu saat ia dan Fang berjalan menuju kemari.

" tidak ada. " kilah Gopal mengubah tatapanya kearah lain.

" tak apalah... kami hanya penasaran saja " Ying tersenyum kikuk.

" penasaran? penasaran kenapa? "

" penasaran, apa benar kau perempuan? " jawaban sekaligus pertanyaan Ying membuat Ais mendengus sebal, sama saja, rupanya mereka juga meragukan gendernya.

" aku hanya bercanda hahaha... ":

.

.

.

" halo Tok~ " seorang pemuda berpakaian merah hitam dengan topi yang agak terangkat, berjalan menghampiri laki-laki paruh baya yang sedang sibuk di meja kerjanya, warna merah cincin api membuat tatapan pemuda itu sedikit menyeramkan bila tak memperlihatkan cengiran bodohnya. Pemuda itu berjalan santai menghampiri sang kakek.

' tuk '

" terimaksih meminjamkanya. " ucap pemuda itu meletakan kotak yang lumayan besar berwarna merah gelap dengan logo api di atas penutup kotak. Sang kakek memutar bola matanya jengah.

" apanya yang meminjam, kau mencurinya! " seru sang kakek kesal, pemuda itu nyengir.

" alah... aku hanya tidak ingin anak baru itu masuk ke kelasku saja. " kilah pemuda itu tanpa merasa bersalah, sang kakek mendengus, cucunya memang agak nakal tapi menolak anak baru di kelasnya? sepertinya ada sesuatu. " lagian aku sudah mengembalikanya "

" walaupun aku menjabat sebagai kepala sekolah dan kau cucuku... aku tak akan segan-segan menghukumu jika kau melanggar aturan sekolah, Blaze! " seru sang kakek menatap datar sang cucu, ia tahu cucunya selalu berbuat onar tapi heranya tak ada satupun murid yang lapor padanya, ancaman apa yang dia buat sehingga para korban selalu diam? Blaze nyengir tak mengubris ancaman sang kakek dan malah pura-pura sibuk mengobrak-abrik isi kotak yang ia bawa.

" Ais... Nama yang aneh. dari pulau rintis, usia 14 tahun, 15 tahun maret tahun depan ck... berat 59 kg, tidak terlalu kurus... Biodata macam apa ini? " Blaze membanting biodata siswa milik Ais yang ia ambil dari kotak, tentu pura-pura karena sebelum menolak Ais di kelasnya, Blaze sudah menyelidiki para anak baru termasuk Ais dari jauh hari. Blaze itu sangat pemilih, ia tidak mau kelasnya di tempati orang-orang seperti mereka yang masuk sekolah ini karena beasiswa, di sekolah ini kepintaran tidak berlaku jadi mereka tetap ( siswa yang masuk karena beasiswa) di angap rendah.

" sama sepertimu. " celetuk sang kakek.

" eh? "

" kau juga menulis biodata seperti itu. " kakeknya terkekeh mengingat kepolosan Blaze dulu yang menulis biodata dirinya sangat rinci sampai menulis segala manfaat susu. " ...dulu " lanjutnya, pandanganya menerawang kosong, rupanya sang kakek merindukan cucunya yang dulu. Blaze yang ceria, kekanakan, lugu dan suka penasaran, namun sekarang ia menjadi pribadi yang kebalikan, pemarah, sombong, angkuh dan penyendiri, semuanya bermula saat pertama kali masuk ke sekolah ini. Sekolah ini memberi dampak buruk pada Blaze. karena kekuatan membuat Blaze menjadi sombong dan angkuh, ia menyesal mendirikan sekolah ini.

" itu dululah, Tok~ "

" sudahlah, aku harus kembali ke kelas. Halilintar menungguku di luar pasti sudah habis di goda oleh anak dari kelas angin yang tinggal level itu. " Blaze beranjak dari tempat kerja kakeknya menuju pintu keluar, ia malas jika kakeknya ngoceh tentang dirinya yang dulu lugu dan bodoh. Blaze tidak mau kembali seperti dulu itu membuatnya terlihat lemah. Seperti api yang tak akan padam, tak pernah kalah dan akan terus melahab apapun di dekatnya. Blaze sudah kuat dan semua orang tunduk padanya, ia tidak akan terlihat lemah lagi yang akan membuat keluarganya malu. Berjalan melewati pintu keluar, Blaze di sambut suara rayuan menjijikan dari laki-laki yang tak henti-hentinya mengejar sepupunya. Halilintar sepupunya hanya diam saja di rayu oleh Taufan si perayu ulung dari kelas angin yang tertinggal 1 level. Segala rayuan dan gombalan dari mulut Taufan mengoda Halilintar membuat Blaze yang mendengarnya muak ingin muntah apa lagi Halilintar, sudah pasti ia menahan mual ingin muntah sedari tadi.

" Halilin " Blaze menyelamatkan sepupunya karena ia tak tega jika nanti Halilintar sampai muntah di tempat umum. Halilintar menoleh, ia menghela nafas lega. Benar dugaanya dia juga tak tahan dengan gombalan si pemuda bertopi miring, Blaze menyeringai lalu berjalan pergi, Halilintar mengikutinya di barengi raungan Taufan yang tidak rela di tinggal pergi pujaan hatinya, Halilintar tak peduli.

Blaze melirik sepupunya yang berjalan diam. Blaze tahu sepupunya ini tak banyak bicara tidak heran ia di juluki 'ice princess' tapi karena ia di kelas api julukan itu berubah menjadi ' fire cold princess ' bukanya hanya dingin Halilintar juga agak sadis, ia pernah melawan siswa pengangu dari level 5. padahal ia melawan 5 orang, apa lagi ia seorang perempuan dan masih level 1saat itu, kemampuanya setara dengan level 7. Di balik sifat dingin dan sadisnya, Blaze sangat heran dengan Halilintar yang tak seharusnya menunggunya sepatuh itu apa lagi sampai di goda Taufan, bisa saja ia menghajar Taufan seperti anak level 5, tapi Halilintar tak pernah melakukanya, bahkan bukan hanya sekali Taufan mengangunya, ada apa dengan sepupunya ini?

.

.

" nah, ini kamar kitaaaa. " Ying membuka pintu kamar 250. Sesuai janjinya ia mengantar Ais kekamarnya setelah pelajaran selesai.

" woaaaaa " Ais beseru kagum, kamarnya begitu besar bahkan lebih besar dari kamarnya yang di rumah, mungkin ini muat untuk menempatkan 3 ranjang lagi soalnya sangat lengang dan luas.

" tempat tidurmu yang sebelah sana. " Ying menunujuk ranjang yang masih rapi dekat jendela dengan lemari besar di sisi kirinya. ranjang Ying berada di sebelahnya hanya di sekat meja belajar dan rak buku ada beberapa stiker di dinding dan lemari, meja belajarnya sudah penuh dengan buku-buku tebal. Ais mendekati ranjang yang akan di tempatinya lalu duduk di tepi. Ais masih menatap sekelilingnya.

" suka tak? " tanya Ying takut Ais tak nyaman soalnya mereka hanya berdua dalam satu kamar. Biasanya satu kamar di huni 5 orang tapi karena gengsi, mereka semua tak mau sekamar dengan anak yang masuk ke sekolah ini karena beasiswa, mereka memenuhi semua kamar agar tak ada tambahan orang lagi dan Ying, satu-satunya tidak seperti mereka (atau mungkin terpaksa) memberanikan diri di kamar yang tersisa yaitu kamar nomor 250, tentunya sendirian sambil menunggu teman baru bahan gosip itu datang. Ying bersyukur teman baiknya Gopal tidak seperti mereka.

" Ying! " Ying tersadar dari lamunanya, Ais berdiri di dekat jendela melambai-lambai ke arahnya menyuruhnya mendekat, Ying berjalan mendekatinya.

" ada apa? "

" lihat! Air lautnya sangat jernih " seru Ais antusias menunjuk ke bawah.

" air laut sangat jernilah~ " saut Ying sewot, agak aneh dengan pemikiran anak baru ini, air laut jernih itu tidak heran kalau air laut warnanya merah baru heran.

" bukan begitu... tapi banyak ikanya! " seru Ais masih antusias seperti tidak pernah melihat laut. Ying cuma bisa cengo dengan tingkah aneh teman barunya ini.

" Ying, ayo berenang! "

" APAAAAAA, KUA GILA! " seru Ying sampai tak sadar ia berteriak, Ais nyengir.

" bercanda~ mana mungkin kita bisa ke laut, inikan di pulau apung, kalau kita jatuh kita tidak akan bisa naik lagi. "

' tuh tahu! ' dumel Ying pelan lalu tersenyum.

.

.

TBC

Tulisanya masih banyak yang salah, soalnya aku males ngoreksi -,-,

Segini dululah... soalnya udah pusing banget mau di gimanain, ada 3 ff yang di tagih soalnya, dan genrenya bertolak belakang, ngak mungkin ngerjain 3 ff sekaligus.

Terimakasih buat reader yang udah sempet review, maaf reviewnya ngak (pernah) di bales ^^,

.