Reset the time
.
.
By : Kim Elin
.
.
.
Yoongi bersandar di kursi taman belakang menatap riuhnya langit malam saat ini. Bintang bintang bertaburan dimana mana. Yoongi terkejut saat sebuah selimut melingkar ditubuh kurusnya.
"sedang memiirkan apa?" itu Ravi
"tidak ada.." Yoongi menyenderkan kepalanya di bahu Ravi
"apa perkataan eomma tadi?" tanya Ravi. Yoongi terdiam sejenak
"kurasa menikah bukanlah pilihan yang buruk.." ujar Yoongi. Ravi menatapnya
"jadi kau ingin aku melamarmu sekarang?" gurau. Tentu saja Ravi bergurau
"ti-tidak, maksudku.. kita bisa pikirkan itu.." Yoongi membalasnya dengan tepukan lembut dipaha Ravi.
"Yoongi, kau tau.. pernikahan adalah sebuah impian setiap wanita di dunia, dan mereka ingin pernikahan itu berjalan sakral.. dan bermakna.. oleh karena itu kau harus memutuskan dengan sebaik baiknya.."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Wanita itu berusaha mencari tempat yang kosong namun sepertinya cafe itu sedang ramai sehingga banyak pelanggan. Mata sipitnya melihat seorang pria tengah duduk menunduk.
"chogi.. boleh aku duduk disini? Semua meja sudah terisi.. dan mungkin saja disini kosong.." ujar wanita itu. Sang pria mendongak
"ah tentu saja.." pria itu mempersilahkan.
"tunggu sebentar kau Jimin? Park Jimin?" tanya Yoongi
"ah benar.. tunggu? Min Yoongi kan?" tanya Jimin balik.
"majaa.. ah senang bertemu denganmu..." ujar Yoongi sambil menjabat tangan Jimin.
.
"Hei Park!" panggilan seorang pria dari ujung sana membuat ia menoleh
Pria dengan balutan mantel bulu itu terkejut ketika melihat yeoja dengan surai pirang itu.
"ooo... Min Yoongi? Bagaimana kabarmu? Hei park ternyata kau masih berhubungan dengan Yoongi sekian lamanya.."
Yoongi mengerutkan alis.
"maaf? Kau.. siapa?" tanya Yoongi hati hati
"kelamaan di LA membuatmu lupa padaku ternyata... aku Hongbin! Teman sekantormu dan Jimin! Ya! Kau tau, kau dan Jimin itu sangat dekat lalu dan—Hmmftt"
"sudahlah lanjutkan makan siangmu Yoongi, aku harus pergi bersama keparat ini.. daahh" Jimin segera menarik Hongbin menjauh meninggalkan yoongi yang terdiam sendiri.
.
"dulu? Sangat dekat? Hubungan?"
Pening! Lagi lagi dirasakan Yoongi. Ia mengambil botol aspirin yang sengaja ia siapan di tas kecilnya, mengambil beberapa tablet dan meminumnya.
"hubungan seperti apa?"
.
.
.
.
.
.
.
.
Ravi bangun dari tidurnya dengan rambut khusus bed hair dan mencari yoongi di kamarnya, ternyata ia tertidur hingga hampir siang. Ia meraih handuk dan bersiap untuk mandi.
Seusai dengan kegiatannya membersihkan diri, Ravi meraih tablet PC-nya dan melangkah ke rung tengah dimana Jiho yang sedang bermain dengan rubik kotak miliknya.
"a-yo man!"
"hello uncle!" Jiho tersenyum walaupun Ravi bukan berasal dari keluarga ini ia begitu senang disambut hangat oleh keluarga Yoongi yang sudah terlalu baik kepadanya.
"sedang apa?" tanya Ravi sambil mendekati Jiho
"i'm done!" Jiho tiba tiba berseru ketika rubiknya kini sudah utuh dengan 6 warna yang berbeda.
'jiho hebat... Hyung coba kesini! Liht Jiho melakukan apa.." panggil Ravi saat melihat Namjoon yang baru turun dari tangga.
'apa itu?" tanya nya.
"Jiho memberbaiki rubik!" seru Jiho sambil melompat kegendongan ayahnya
"good boy.. go play again.." ujar Namjoon Jiho pun turun dan kembali bermain dengan robot bumblebee miliknya.
"kau yang mengajarinya hyung? Bahasa inggrisnya mulai fasih dan untuk anak seukuran 4 tahun membetulkan rubik itu hal yng luar biasa,.." puji Ravi
"bukan aku.. tapi Jiho sendiri yang belajar ia cerdas, bahkan dia lebih suka menonton channel tv dengan bahasa inggris.." jawab Namjoon Jin datang sambil membawa cemilan untuk Jiho apalagi kalau bukan stroberi dan cokelat leleh.
"dia memang cerdas, terkadang saat ia melakukan video call bersama Yoongi ia akan menggunakan bahasa ingris" ujar Jin sambil duduk disamping suaminya.
"Yoongi dimana ngomong-ngomong"
"mungkin keluar sebentar.." jawab Jin
"kau tidak ingin mencarinya?" tanya Namjoon ravi menoleh
"siapa? Yoongi? Yolah Hyung dia bisa pulang sendiri.."ujar Ravi
"bukan, tapi 'dia'.. orang orangku bilang dia berada di korea, tapi mereka masih belum menemukan dimana dia berada."
"apa mungkin kalau dia masih hidup? Bisa saja orang orangmu salah hyung" ravi menunduk
"tidak mungkin salah.. mereka terpilih.. cobalah cari dia, aku yakin dia ditakdirkan untukmu.. kalau saja kau kenal denganku sedari dulu.."jin menyesal.
"tidak perlu Noona.. mungkin aku akan mencarinya setelah ini.. aku merindukannya.." ujar Ravi menerawang langit langit
"cepatlah, kalau saja terlambat, mungkin saja dia akan menangis melihatmu di altar bersama Yoongi nanti.." ujar Namjoon
"apa?"
"appa dan Eomma ingin kau dan Yoongi segera menikah.. karena kalian sangat dekat" ujar Jin
"tapi..."
"aku tahu, makanya segeralah cari dia.. atau tidak kau akan kehilangan kesempatan keduamu.."
"tapi Yoongi.."
"soal Yoongi biarkan waktu yang menjawab.."
.
.
.
.
.
.
.
.
Yoongi merenggut, pengaruh aspirinnya sudah hilang namun rasa penasaran itu belum juga hilang membuat ia seakan akan ingin mendatangi Jimin sekarang.
Ia tahu bahwa ada yang tidak beres, seseorang atau sesuatu atau semacamnya tersembunyi dibalik sandiwara mereka semua. Tersembunyi dan tertutup rapat hingga tidak bisa ia gapai sedikitpun.
Yoongi menggeram frustasi, sepertinya ia harus ke rumah sakit, ya.. Jung daehyun, teman eonninya itu pasti bisa membantunya saat ini, membuat ia tau hal seperti apa yang sebenarnya di sembunyikan.
Dengan cekatan Yoongi meraih tasnya dan melangkah keluar, membiarkan sepatu mahalnya beradu dengan lantai marmer cafe dan aspal jalan.
.
.
.
.
.
.
.
"hai Yoongi, sudah lama tidak bertemu.." seorang pria berbibir tebal berkacamata tersenyum menjabat tangan Yoongi.
"sudah lama sekali.. sudah 2 setengah tahun.. bagaimana kabar anda dokter Jung?" yoongi tersenyum merapikan surainya.
"baik sekali, seperti yang kau lihat.." ujar dokter Jung
"sebelumnya selamat atas kelahiran putrimu maaf sewaktu itu hanya bisa menitip hadiah lewat eonnie.." ujar Yoongi
"tidak apa apa.. itu sudah lebih dari cukup.. jadi ada apa Yoongi?" tanya Daehyun sudah sadar Yoongi hanya ber basa-basi.
.
"aku hanya ingin bertanya satu hal.. seperti apa kecelakaan yang menimpaku waktu itu?" tanya Yoongi
"oh, kau lupa ternyata. Sederhana saja.. kau keluar dari cafe setelah menuntaskan amarahmu, berlari keluar kearah jalan, dan BOOM kau ditabrak oleh truk dan itu tabrakan yang dahsyat.. tulang rusukmu ada yang patah serta sedikit retak pada tempurung kepalamu.." ujar Daehyun
Yoongi mengernyitkan dahinya kepalanya sedikit sakit sekelebat memori berusaha keluar dari kepalanya namun ia tidak bisa mengingat satupun..
"ada apa Yoong?"
"kepalaku—akh!" yoongi berseru
"tunggu sebentar tidak biasanya kau mengalami sakit kepala.." ujar Daehyun
"aku tidak tau.. setiap kali orang mengatakan tentang kecelakaan kepalaku serasa mau pecah.." ujar Yoongi
"kau mungkin melupakan sedikit ingatanmu.." ujar Daehyun. Yoongi masih kesakitan
"apa yang kau rasakan?" tanya Daehyun lagi.
"rasanya sakit saat aku mencoba mengingat semuanya, seperti ada yang memaksa untuk keluar dari kepala ini namun tidak ada satupun.. dan aku merasa kosong dan sesak terkadang.." ujar Yoongi
"kosong? Sesak?"
"iya, entah kenapa dada kiriku terasa kosong dan sesak setiap kali aku mencoba mengingat sesuatu atau ada sesuatu yang diingatkan" Yoongi berujar lirih.
"kau ingin mengingatnya kembali? Itu semua berarti hatimu kosong yoongi-ya, ada sesuatu yang kau lepaskan saat kecelakaan dan itu menyiksa dirimu." Daehyun mengusak rambut yoongi
"aku ingin ingatan itu kembali.." mata sipitnya segera meneteskan liquid bening yang meluncur mulus dipipinya. Daehyun hanya tersenyum.
"mian, aku menangis tapi.. hikss.. aku.." Yoongi tidak tau apapun hanya saja ada rasa sakit yang menjalar dihatinya, rasa sakit yang teramat sangat membuat hatinya seakan teriris iris sakit, sakit sekali..
Daehyun menyembrangi mejanya memeluk Yoongi, ia sudah menganggap Yoongi seperti adiknya sendiri dan melihat Yoongi menangis membuat hatinya turut terluka.
Yoongi menangis meraung raung menuntaskan segala rasa sakit yang ada dihatinya ia ingin marah tapi ia tidak tau kepada siapa.
.
Disisi lain Jimin mendudukkan dirinya di sofa apartemen miliknya menerawang jauh apa yang pernah terjadi di apartemen ini..
Sebelum kejadian itu..
Ya.. sebelum kejadian itu..
.
.
'jjang! Inilah apartemenku.." seorang pria berambut oranye menarik seorang wanita dengan rambut pastel pinknya masuk kedalam rumahnya.
" tinggal sendiri ya?" wanita itu mendudukkan dirinya di sofa dan melepas mantelnya.
"yup, begitulah.." sang lelaki mengikuti.
"mandilah Jimin, dimana dapurmu? Karena kau menang kali ini aku akan memasakkanmu makan malam.." lelaki bernama Jimin itu tersenyum senang dan segera bangkit.
"ada dibelakang sana, tepat dibalik tembok itu.."
"baiklah.. mandilah.."
"terimakasih, aku menyayangimu Yoongi!" dan sang wanita pun hanya bisa merona.
.
Jimin keluar dari kamarnya dengan menggunakan kaos putih polos dan celana pendek bermotif army dengan rambut yang masih basah. Aroma citrus dan lemon menguar dari tubuhnya. Dengan segera ia melangkah ke dapur dan melihat yoongi yang sedang menata gelas dan mengisinya dengan air putih yang dia ambil dari kulkas.
Jimin sempat terpesona melihat kecantikan alamiah yang dipancarkan yoongi. Rambutnya dicepol seadanya membiarkan beberapa anak rambutnya menghiasi wajahnya entah kenapa jimin begitu sangat ingin mencium yoongi saat ini. Lihat bibirnya yangberwarna pink menggoda itu. Ugh!
"Jimin, ayo sini.." panggil Yoongi lembut
Jimin mendudukkan dirinya dihadapan Yoongi dan melihat masakan yang dihidangkan ia tergoda. Entah dengan makanannya atau dengan orang yang membuatnya.
"cobalah..." Jimin mengangguk dan menyumpitkan bulgogi itu masuk kedalam mulutnya sedetik kemudian ia berdecak kagum
"Mashitta!" serunya membuat senyum manis mengembang dipipi Yoongi
.
.
.
Adegan itu terputar seperti roll film diotaknya membuat badannya terasa semu untuk bergerak.
"masih adakah ingatannya walau sedikit tentangku"
"kumohon Yoongi sedikit saja.."
"tuhan ampuni aku.."
Jimin merasa dirinya seperti akan gila sekarang Yoongi merupakan candunya, seperti heroin dan ganja yang membuatnya ketergantungan tingkat tinggi, ia menginginkannnya begitu menginginkannya, dan tidak ingin melepaskannya. Malam itu Jimin kembali melangkah keluar. Memilih untuk bersenang senang.
Mungkin segelas atau sebotol vodka bisa meringankan sedikit bebannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Suara dentuman musik yang begitu kencang terdengar, beberapa orang bahkan sekelompok orang menari nari dengan gilanya di lantai dansa.
Laki laki dengan rambut orangeny itu hanya memandangi gelas beningnya yang terisi cairan berwarna merah keunguan.
"apa kau begitu sangat frustasi tuan?" tanya seorang pelayan ber name tag Soonyoung itu.
"ya, mungkin.." jawab Jimin seadanya.
"tidak ingin bermain? Banyak Yeoja yang tertarik padamu" balas Soonyoung
"tidak, aku sedang dalam mood buruk saat ini.." jawab Jimin
"oh ayolah bung, having sex cara menghilangkan stres dengan cepat, kau tau itu.." balas Soonyoung.
"entahlah, aku tidak dalam mood. Terimakasih karena sudah menawarkan. Beri aku satu lagi" pinta jimin, gelas Vodkanya sudah habis.
"emm... biar kutebak? Kau sedang putus cinta? Atau patah hati"ujar Soonyoung sambil mengambil sebotol vodka dan menuangkannya.
"lebih tepatnya sakit hati." Jimin meneguknya habis.
"kenapa?"
"yah.. bayangkan saja orang yang dicintaimu salah paham, berlari keluar dan kecelakaan. Kau tetap menunggunya meski keluarganya begitu membencimu. Namun saat ia sadar kau tidak bisa menemuinya setelah itu dia pergi meninggalkanmu dan menikah dengan orang lain—"
"wow bung itu sangat mengharuhkan" Soonyoung memutuskan ucapan Jimin
"aku belum selesai.. setelah dia kembali padamu dia dalam keadaan amnesia. Tapi hanya kau yang dilupakannya. Kau pikir aku harus apa? Melompat dari atas jembatan dan terjun ke sungai Han? Atau menggantung kepalaku di pagar Love lock namsan tower? Atau meloncat dari roaller—"
"okay bung itu berlebihan... kalau menurutku kau berteman sajalah dengan dia.. kau buat dia ingat kembali. Kau tau bahkan seorang Yeoja berstatus istripun masih bisa direbut." Soonyoung memprovokasi
"kau benar, tapi..."
"oh ayolah sobat apa kau ingin merelakannya saja?"
"TIDAK"
"kalau begitu lakukanlah.."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Siang itu Yoongi kembali ke rumah sakit ia ingin memulai konselingnya dengan dokter Jung.
"aku pikir kau terlambat.." ujar dokter Jung saat melihat Yoongi yang sudah berdiri di pintu
"tidak.. aku bukan tipikal ngaret."
"ingin makan siang bersama?"
Dan mereka pergi makan siang bersama.
.
.
.
Yoongi berada di salah satu taman sekarang, ia berfikir dengan jernih mencoba mengolah apa yang telah dikatakan oleh dokter Jung.
.
"intinya kau hanya perlu bersabar, jangan memaksalan dirimu"
.
"kau tau.. amnesia buan hal yang buruk.. cepat atau lambat kau akan mengingatnya. Tinggal urusan waktu saja.."
.
"aku hanya perlu menunggu dan berusaha mengingat.."
Yoongi pun tidak tau.. yang ia tau dia hidup dengan tenang.. hingga ia mengalami kecelakaan yang sudah terjadi 2 tahun lalu. Kecelakaan yang merubah hidupnya.
.
.
.
.
.
.
Jimin mengerang tak suka saat cahaya matahari menelisik masuk dan menyinari wajah tampannya yang sedang tertidur. Dengan berat hati ia pun bangkit membawa tubuhnya yang shirtless ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.
Seusai mandi, Jimin sudah rapih dengan setelan kemeja putih, celana kain hitam dan dasi yang sudah terlilit rapih dilehernya.
"yoboseyo?" Jimin bersuara karena menjawab panggilan dari ponselnya.
"ah.. baiklah"
Dan sedetik kemudian ia sudah beranjak dari kursinya menarik kunci mobil dan pergi.
.
.
.
Seorang pria dengan surai platina datang dengan menggenggam mantel caramel yang terlihat mahal. Dengan pasti ia memasuki cafe itu. Berdiri sebentar membiarkan para kaum hawa berdecak kagum—sebelum matanya menangkap sosok yang tadipagi di teleponya.
"apa kabar Jimin?" tanya pria itu sambil mendudukkan dirinya.
"apa kabar juga Namjoon Hyung?" Jimin membalas dengan senyum seperti biasa.
"langsung saja.. ini semua tentang Yoongi." Namjoon to the point membiarkan Jimin menegakkan posisi duduknya. Ia mengeluarkan sebuah kartu dan menyodorkanya pada Jimin
"Jung Dae Hyun?" Jimin bingung
"hubungi dia jika kau ingin tau perkembangan Yoongi. Aku tahu.. kau tidak bisa meninggalkannya begitu saja.. buatlah dia ingat sebelum dia menikah dengan Ravi"
"tunggu dulu—apa? Jadi mereka belum menikah?" jimin terkejut
"tentu, memang apa yang kau pikirkan?" tanya Namjoon balik
"aku pikir—"
"Ravi punya orang masalalu yang begitu dicintainya.. dia, kekasih Ravi dan menghilang diculik seseorang. Keadaannya yang tidak bisa melihat alias buta membua Ravi kesulitan mencari dia."
"omo—"
"dia hampir mirip dengan Yoongi bedanya hanya di hidung dan cara senyum saja .itulah sebabnya Ravi menjaga Yoongi dan langsung tertarik saat melihat Yoongi."
"berarti dia tidak pernah mencintai—"
"kau tau, sangat sulit bagimu untuk mencintai orang yang sudah tiada kan? Apalagi kau dihadapkan dengan kenyataan bahwa orang tersebut kembali sebagai reinkarnasi?"
"hyung.."
"ini kesempatanmu Jimin.. aku dan Jin sudah setuju, kesempatan kedua.. jangan kau rusak lagi.. aku percaya padamu.. mian aku harus pergi aku punya jadwal" dan setelahnya Nmjoon pun menghilang..
.
.
"tunggu aku Min Yoongi"
.
.
.
.
.
.
..
.
.
Tbc
.
REVIEW CHAPTER DEPAN!
.
.
.
.
"hai Yoongi.."
"aku mencium wanginya.."
"jangan bermimpi Ravi, kuyakin dia sudah mati.."
"aku tau itu kau Ravi, tunggulah sebentar.."
"AKHHH! KEPALAKU SAKIT SEKALI..! EOMMAA!"
"kuharap jangan lagi Yoongi-ya"
"Lim Sang Hyuk imnida.."
"aku ingin mati sekarang!"
"dia milikku! Aku sudah mengingatnya! Eomma cepat nikahkan kami.."
"TUNGGU!"
"KYAAAAA!—BRUK"
.
.
.
.
Halooo Elin balik hehehehe mian yang nunggu updatenya lama.. ehehehe siapakah 'dia' yang dimaksud dengan tokoh lain disini? Hehehehe any Question? Comment!
