Disclaimer : Masashi Kishimoto

Warning : Yaoi, Alur kecepetan, gaje, typo, OOC, Incest

Rating : M for Mature and Sexual content

Pair : Main NaruSasu Slight NaruHina and NejiSasu

Love or Nothing

.

By Midori Spring

.

.

(Part two)

Rasanya letih. Mengelilingi satu fakultas sendiri demi mencari satu orang. Sasuke menghelas nafas. Ia duduk di tangga dengan muram.

"Kemana si dobe itu?" Keluhnya dalam hati.

Ia pandangi bento buatannya dengan nanar. Padahal ia membuatnya dengan susah payah. Harus tiga kali rombak demi mendapatkan hasil yang sempurna. Ia lap keringat di dahinya. Hari ini tubuhnya agak sulit di atur. Kadang-kadang pandangannya berkunang-kunang. Tubuhnya juga terasa panas. Semua ini karena Naruto. Setelah mandi dengan air dingin, Sasuke tidak bisa tidur semalaman. Pikirannya terlalu sibuk memikirkan si dobe itu. Harinya jadi tidak maksimal.

Dan sekarang, setelah kuliahnya selesai. Ia menghabiskan waktunya untuk mencari-carinya. Sebenarnya Sasuke sengaja membuat bento untuk Naruto. maksudnya agar hubungan mereka kembali akrab seperti biasanya. Plus Sasuke juga ingin menciptakan suasana yang lebih intim. Ia ingin menegaskan Naruto tentang perasaannya. Ia yakin Naruto menyukainya. Ia hanya terlalu takut untuk merusak persahabatan mereka. Yah itu cuman asumsi Sasuke sih.

"Letih?"

Suara di belakang Sasuke, membuatnya terperanjat. Ia berbalik dan melihat Neji berdiri di belakangnya, tersenyum.

Sasuke terpaku sejenak. Sepertinya hubungannya dengan Neji sudah begitu akrab. Biasanya mereka hanya menyapa ringan lewat tatapan atau Ojhigi, sekarang Neji sudah berani menegurnya dengan bersahabat. Ia bahkan sekarang ikut duduk di samping Sasuke dengan ringan.

"Aku ingin menagih janjimu." Katanya.

Butuh waktu bagi Sasuke untuk mencerna apa yang sedang di bicarakan Neji. Beberapa detik kemudian ia sadar. Perasaan tidak enak langsung menyelubunginya. Ia lupa. Gara-gara masalahnya sendiri, ia jadi lupa mengenai Neji.

"Senpai, aku minta maaf." Katanya. "Besok angket itu akan ku kumpulkan dan kuberikan padamu."

"Waaah sayang sekali." Neji membalas, tapi sama sekali tidak ada nada kecewa. Lelaki yang rambutnya di ikat ekor kuda itu terlihat santai dan tetap tenang.

"Gomen, senpai." Tetap saja Sasuke minta maaf. Ceroboh bukan salah satu sifatnya.

"Sebagai permintaan maafmu, bisa aku mencicipi itu." Neji berkata. Ia mengedikkan bahunya ke arah kotak bento yang terbungkus plastik.

Sasuke juga melirik kotak bento, "eh, itu…"

Belum sempat Sasuke mengatakan sesuatu, Neji sudah menjangkaunya dan meletakkannya di pangkuannya.

Sebenarnya Sasuke mau protes. Itu, dia buatkan special untuk Naruto, tapi apa yang bisa ia katakan. Neji adalah senpainya, ia takut menyinggung hatinya. Jadi Sasuke pasrah saja saat Neji membuka kotak itu.

"Itadakimasu." Sahut Neji. Ia mengambil sumpit dan langsung menyambar telur gulung. Beberapa detik kemudian ia terbatuk.

"Senpai, kenapa?" Sasuke terkejut. Ia pukul pundak senpainya pelan.

"Ini buatanmu?" Tanyanya setelah berhasil menemukan suaranya.

Sasuke mengangguk.

"Rasanya terlalu asin." Jelas Neji.

"Hah? Tapi…"

Sasuke meraup telur gulungnya sendiri. Begitu makanan itu masuk ke mulutnya, ia langsung meringis.

Rasanya asin. Lidahnya seperti mati rasa.

Neji terkekeh melihat ekspresi lucu Sasuke. Ia tutup kembali kotak bentonya dan memasukkannya kedalam kantung plastik. "Sudahlah, lebih baik kita makan di tempat kemarin saja." Katanya, lalu berdiri.

Sasuke termenung. Tidak bergerak di tempatnya. Ia memandangi kotak bentonya dengan bingung.

Aneh sekali. Kenapa bisa terasa asing? Padahal dulu aku sering membuatnya, dan Naruto langsung melahapnya tanpa mengeluh. Keluhnya bingung. Tapi kalau dipikir-pikir, aku memang tidak pernah makan bento buatanku sendiri sih. Dulu aku selalu menukar bentoku dengan Naruto, jadi aku makan bento buatan Naruto dan Naruto makan bento buatanku…

"Tidak apa-apa Sasuke. Lelaki tidak bisa masak itu wajar." Neji berusaha menenangkan. "Ayo kita pergi."

Sasuke mengangguk. Walau masih bingung, ia memutuskan untuk tidak memikirkannya dulu. Perutnya sudah keroncongan. Ia ambil kotak bento itu dan membawanya bersamanya. Biarlah mungkin rasanya tidak enak, karena Sasuke sedang tidak enak badan saat membuatnya.

Sasuke dan Neji sampai di tempat makan. Semua kursi ternyata sudah penuh. Wajarlah, sekarang kan jam makan siang.

"Senpai, kita pergi ke tempat lain saja." Sasuke mengajak sudah bersiap-siap untuk berbalik, tetapi Neji mencegahnya.

"Kita hanya berduakan." Kata Neji. Pandangannya tertuju ke tempat lain. Ke salah satu kursi yang sebenarnya berjatah untuk empat orang, tapi hanya diisi oleh dua orang.

Sasuke mengikuti pandangannya, dan langsung tertegun.

Naruto sedang duduk bersama Hinata. Mereka duduk saling berhadapan. Naruto seperti sedang asyik menceritakan sesuatu kepada Hinata. Gadis yang masih memakai seragam sekolahnya itu sedikit tertawa malu-malu mendengar cerita Naruto.

"Kita gabung dengan mereka saja." Neji mengerling Sasuke.

Sasuke tidak merespon. Mendadak kakinya terasa berat. Ia tidak mau kesana. Tiba-tiba ia dipenuhi rasa jengkel sekaligus sakit hati.

Hebat sekali dia, baru kemarin ia mengatakan akan mendapatkan Hinata dengan caranya sendiri padaku. Sekarang ia telah membuktikannya. Benar-benar orang yang brengsek. Pikir Sasuke sarkatis.

"Ayo, Sasuke." Neji menarik tangan Sasuke, lalu memimpinnya ke tempat Naruto.

Sasuke ingin sekali berteriak dan mengatakan ia tidak mau. Tapi apa yang bisa ia dapatkan dari hal itu? pasti Neji akan kebingungan dan menyadari perasaannya kepada Naruto.

Sasuke menghembuskan nafas pasrah. Nafasnya terasa panas, tubuhnya semakin tidak enak. Rasanya ia sedikit pusing.

"Kau tidak apa-apa?" Neji menegur. Ia berhenti di tengah jalan untuk menatap Sasuke.

Sasuke terlihat menundukkan kepalanya. Ia menggeleng pelan, lalu berkata, "aku hanya belum makan."

"Begitu?" Balas Neji masih khawatir. "Baiklah, kita makan dulu, setelah itu ku antar kau pulang. Ok?"

Sasuke mengangguk pelan. Kakinya dengan berat kembali melangkah mengikuti Neji.

"Nii-san?" Suara lembut Hinata terdengar, begitu mereka sampai di depan meja. Ia tampak sangat terkejut. Tatapannya jatuh ke Neji, lalu ke Sasuke.

"Kami boleh bergabung?" Neji berkata.

Hinata melirik Naruto sebentar lalu mengangguk. Hinata mengambil keputusan sendiri, karena Naruto terlihat sibuk memandang ke arah Sasuke. Ia sama terkejutnya dengan Hinata, hanya saja raut wajahnya terlihat lebih horor. Kehadiran Neji bahkan tidak diperdulikannya.

Neji melangkah ke sebelah Hinata, ia tarik kursi kosong di sana. "Duduklah, Sasuke." Ia mempersilahkan.

Sasuke mengangkat kepalanya untuk menatap Neji. Ia duduk di kursi itu dan Neji duduk di samping Naruto. Kedua pemuda itu sama sekali tidak saling menegur. Mungkin mereka memilih untuk tidak memperdulikan keberadaan satu sama lain. Sedangkan Sasuke juga memilih untuk tidak memperdulikan Naruto. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukannya jika melihat wajah pemuda itu.

Neji membuka buku menu dan membaca dalam hati sajian yang tertera. "Kau mau makan apa Sasuke? Bagaimana kalau Udang lada hitam?" Neji mengusulkan.

"Sasuke elergi udang." Naruto berkata tiba-tiba dengan nada ketus. Ia melirik Neji sebentar dengan tidak suka. "Kau itu tidak tahu apa-apa tentangnya ya?" Cemohnya.

Neji mengernyit. Tampak tidak senang, tapi akhirnya ia memutuskan untuk tidak memperdulikan Naruto. "Kalau begitu kau ingin makan apa, Sasuke? Katakan padaku apa makanan kesukaanmu?"

"Ia suka semua masakan yang mengandung tomat." Naruto kembali berkata. Senyuman penuh mengejek tertera di wajahnya seakan-akan sedang mengatakan, tahu apa kau tentang dia?

"Aku tidak bertanya padamu." Neji memandang Naruto berang. Ia emosi sekarang. Makhluk kuning itu benar-benar merusak pemandangan.

Naruto hanya melirik Neji dengan satu alis terangkat dengan menantang.

"Neji Nii-san, Naruto senpai tolong hentikan!" Hinata memotong. Rasanya ia takut akan terjadi perkelahian kalau mereka masih berlanjut seperti ini.

Lalu mendadak Sasuke berdiri. Untuk pertama kalinya ia mengangkat kepalanya dan memandang Naruto. "Toilet." Katanya lalu pergi.

Di toilet, Sasuke membilas wajahnya dengan air. Badannya semakin tidak enak, dan kelakuan kedua orang itu sama sekali tidak membantunya.

Apa yang dilakukan kedua orang itu? Bertengkar disaat-saat begini? Aku juga sedang ingin memukul seseorang, tapi mereka malah bertengkar sendiri. Hanya menambah masalah saja. Keluh Sasuke tidak jelas. Entah mengapa setelah melihat Naruto, emosinya jadi meluap-luap.

"Bukankah sudah kukatakan kau tidak perlu dekat-dekat dengan si brengsek itu lagi."

Naruto tiba-tiba datang dan berdiri di belakang Sasuke. Lewat pantulan cermin, Sasuke bisa melihat Naruto sedang berdiri dengan kedua tangan melipat.

"Aku bisa bergaul dengan siapa saja yang aku inginkan. Itu urusanku." Balas Sasuke. "Dan dia bukan brengsek, Naruto."

"Oh jadi sekarang kau membelanya?" Suara Naruto meninggi. "Sepertinya kalian benar-benar akrab ya? Apa kau sudah menemukan sahabat baru?"

"Ya. Dan itu semua berkat dirimu." Tantang Sasuke. Ia berputar dan memelototi Naruto dengan menantang.

Naruto tercekat selama beberapa detik. Tidak lama kemudian suaranya terdengar lebih tenang. "Dengarkan aku, Sasuke," katanya. "Neji bukan orang yang seperti itu. Ia bukan orang yang ingin menjadi sahabatmu. Sebagai sahabatmu, aku-"

"Kau bukan sahabatku!" Sasuke memotong dengan emosi. Nafasnya tersengal-sengal seakan-akan ia sudah berlari sangat jauh.

Naruto terdiam. Kedua bibirnya masih terbuka, tapi tidak ada satu katapun yang keluar. Kata-kata Sasuke sepertinya berpengaruh banyak padanya.

"Aku tidak mau kau menjadi sahabatku!" Bisik Sasuke. Lalu tanpa mengatakan apapun, ia pergi meninggalkan Naruto.

Sasuke berjalan sedikit goyah. Kepalanya pusing. Rasanya ia sakit. Tubuh dan hatinya sama-sama sakit.

"Sasuke, kau mau kemana?" Neji menegur Sasuke. Ia setengah berdiri di tempatnya melihat Sasuke membereskan barang-barangnya.

"Maaf, Neji Senpai, aku harus segera pulang." Kata Sasuke lalu pergi dengan buru-buru.

Neji bingung. Ia menyambar tasnya, lalu berlari mengejar Sasuke. Hinata hanya memandang kedua pria itu tanpa mengatakan apa-apa. Ada tatapan senduh di iris kedua matanya.

Neji mengantarkan Sasuke pulang. Ia memarkir mobilnya di depan apartemen Sasuke. Saat itu Sasuke terlihat tertidur pulas dengan wajah berkeringat.

"Sasuke?" Neji mengeluarkan sapu tangannya, lalu melap keringat di kening Sasuke. Padahal AC mobilnya jalan, tapi kenapa ia berkeringat? Pikir Neji bingung.

Sasuke bergerak gelisah di tempatnya. Wajahnya sedikit memerah tapi kedua matanya masih terpejam.

Neji mengelus pipi Sasuke. Ia kaget ketika merasakan betapa panasnya tubuh Sasuke. Ia meraba keningnya, lalu kembali menggoyangkan Sasuke.

"Sasuke, kau sakit?"

Tidak ada jawaban. Neji keluar dari mobilnya dan berlari cepat untuk membuka pintu di samping Sasuke. Ia condongkan tubuhnya bermaksud mengangkat Sasuke, tapi tiba-tiba ia merasakan sebuah tarikan kuat di punggungnya, membuatnya sedikit terhuyung kebelakang.

Ia berbalik dan melihat Naruto telah berdiri di hadapannya. Sedang mencondongkan tubuhnya dan mengangkat Sasuke ke lengannya.

"Pulang sana." Katanya, tanpa mau melirik.

Midory-Spring- Midory-Spring- Midory-Spring

Naruto membaringkan Sasuke ke ranjangnya. Ia singkirkan poni Sasuke dari keningnya, lalu melap keringatnya dengan sapu tangan. Beberapa menit kemudian ia pergi mengambil handuk basah untuk mengompres. Termometer ia selipkan ke bibir Sasuke.

Tanpa mengatakan apa-apa, Naruto meletakkan handuk dingin ke kening Sasuke. Sasuke menggeliat tidak tenang. Termometer terjatuh dari bibirnya. Naruto mengambilnya, lalu membaca angkanya 38 derajat. Naruto menghela nafas.

Sasuke sakit dan aku sama sekali tidak menyadarinya. Keluhnya. Aku malah pergi bersenang-senang dengan Hinata. Pantas saja dia marah. Sahabat macam apa aku ini?

Naruto merasa kecewa sekaligus marah pada dirinya sendiri. Ia merasa telah berubah. Ia keluarkan handphonenya dari sakunya lalu mengaktifkannya. Ia sengaja menon-aktifkannya. Ia merasa tidak tenang, takut bertemu dengan Sasuke. Kejadian kemarin masih terbayang jelas di ingatannya. Naruto tidak punya muka untuk melihat Sasuke.

Seharusnya tadi Sasuke menghajarnya saja. Itu akan lebih baik.

Naruto mengganti kompres Sasuke, lalu kembali meletakkannya di kening Sasuke. Ia menatap wajah merah Sasuke selama beberapa detik. Ia condongkan tubuhnya lalu mengecup puncak kepala Sasuke sambil berbisik, "Gomen ne, Sasuke." Bisiknya.

Naruto berjengit ketika mendengar suara Handphonenya berdering cukup besar. Ia cepat-cepat mengangkatnya, lalu melirik Sasuke dengan khawatir. Untungnya Sasuke masih tetap tertidur tampak tidak terganggu.

"Halo?"

"Naruto!" Suara di ujung sana menjawab.

"Kaa-san? Ada apa?"

"Apanya yang ada apa? Liburan kali ini aku ingin kau pulan!"

"Huh?"

"Jangan ber-Huh, Naruto. Aku ingin kau pulang ke rumah. Sudah berapa lama kau tidak pulang!"

"Iya, aku mengerti. Aku akan pulang." Naruto berbisik. Kadang-kadang ia melirik ke arah Sasuke.

"Bawa Sasuke juga ya, Mikoto akan menghabiskan liburannya di Hongkong dengan Itachi, jadi kau ajak Sasuke bersamamu kemari."

Naruto mengerutkan alisnya, tidak yakin. "Entahlah Kaa-san, Sasuke sedang marah padaku."

"Marah? Kenapa? Apa yang kau lakukan? Kau berbuat kesalahan lagikan Naruto?"

Naruto terdiam selama beberapa menit. Kaa-sannya memang sangat menyayangi Sasuke. karena keakraban kedua keluarga, hubungan mereka bahkan seperti anak dan ibu. Naruto sendiri suka protes. Ia seperti menganggap Kaa-sannya lebih menyayangi Sasuke dari dirinya sendiri. Ia selalu menyuruh Naruto untuk menjaga Sasuke.

"Kaa-san…"

"Tenang saja, Naruto. Jika ia tahu bahwa ini perintah Kaa-san ia pasti akan datang."

Naruto mengangguk, "Aku mengerti akan kukatakan padanya, nanti."

Dan setelah mengucapkan selamat tinggal, Naruto menutup teleponnya.

Midory-Spring- Midory-Spring- Midory-Spring

Neji melemparkan tasnya ke sofa dengan kesal. Rasanya ia ingin memukul seseorang.

"Nii-san?" Hinata datang membawakan air putih untuknya. Ia sudah melepaskan seragamnya dan menggantinya dengan baju santai.

Neji menghempaskan dirinya di sofa, lalu mengangkat kakinya ke atas meja. Kedua tangannya terlipat di dada. Iris matanya memandang adik sepupunya tanpa berkedip.

"Kau dekat dengan Naruto, kalian pacaran?" Tanyanya dingin.

Hinata duduk berlutut. Ia melepaskan sepatu Neji. "Aku baru mengenalnya tadi pagi. Ia menolongku dan mengajakku untuk makan siang."

Neji terlihat tertarik. Hinata setengah berharap Neji akan menanyakan sesuatu tentang apa yang sebenaranya terjadi, mengapa Naruto menolongnya. Tapi harapan itu langung sirna begitu mendengar perkataan Neji selanjutnya.

"Bagus, ia tertarik padamu. Usahakan kau mendapatkannya." Kata Neji, senyuman yakin muncul di wajahnya.

Hinata menggeleng. Ia tidak bisa menyembunyikan nada kecewa dalam suaranya ketika ia kembali berkata, "i-itu tidak mungkin, Nii-san. Kau tahu, aku tidak menyukainya. Yang kusukai hanya-"

Neji tidak mengizinkan Hinata menyelesaikan kalimatnya. Ia menarik kedua kakinya dari Hinata. Lalu menatap gadis itu dengan tatapan tegas. "Kau harus mendapatkannya!" Raungnya, "itu bagus untukmu."

Keheningan melanda selama beberapa detik. Hinata menundukkan wajahnya. Ia menelan ludah seperti sedang menelan kepedihan.

"Pemuda bernama Sasuke itu. Apa Nii-san menyukainya?" Hinata bertanya. Ekspresinya terlihat takut. Ia takut mendengar jawaban dari Neji.

Tapi Neji tidak memperdulikannya, ia menjawab dengan lantang dan tanpa beban. "Iya, aku menyukainya. Jadi berhentilah menyimpan perasaanmu. Karena aku tidak akan mungkin membalasnya." Neji mengulurkan tangannya dan mengelus pipi Hinata lembut. "Kau mengertikan, adikku sayang?"

Hinata tidak menjawab. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, berusaha untuk tidak menangis.

Neji beranjak dari tempatnya. Ia melirik Hinata, lalu berkata, "dan mengenai Naruto. Dia lelaki yang baik untukmu. Yah dia memang agak brengsek, tapi jika kau bisa membuatnya benar-benar jatuh cinta padamu, aku yakin dia akan memperlakukanmu dengan baik." Pesannya, "Walau dia tertarik padamu belum tentu ia mencintaimu. Tapi tenang saja, aku yakin dia tidak akan melukai gadis lemah sepertimu."

"Ka-kau ingin aku mendapatkannya, agar kau bisa mendapatkan Sasuke, kan?" Hinata tahu ada bau amis dari semua ini. Dari bagaimana mereka berdua bersikap tadi, Hinata menyadari bahwa keduanya terlihat seperti sedang berkompetisi mendapatkan Sasuke.

Tapi Neji berbalik dengan tenang. Ia menunduk dan mengangkat dagu Hinata. "Tidak. Aku ingin kau mendapatkannya agar kau bisa berhenti mencintaiku…"

Midory-Spring- Midory-Spring- Midory-Spring

Sasuke mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali. Ia tidak ingat apa yang baru terjadi, tapi ia menyadari bahwa dirinya sedang berada di kamarnya sendiri. Sasuke mengangkat tubuhnya, sebuah handuk terjatuh ke lantai. Sasuke menunduk memandang handuk itu, lalu berpindah ke sekelilingnya.

Hanya ada dia di dalam ruangan itu. Pada Meja di samping ranjangnya terdapat semangkuk bubur. Sasuke mengambilnya lalu mencicipinya, rasanya enak. Tanpa menghabiskan waktu lama ia melahap habis bubur itu. Ia lapar sekali. Seperti sudah lama sekali ia tidak makan. Ketika Sasuke menemukan sepanci bubur di dapurnya, ia kembali manghabiskannya. Setelah puas, Sasuke kembali menyuruh otaknya bekerja.

Aku ingat, aku bertengkar dengan Naruto di toilet. Lalu Neji mengejarku dan memaksa untuk mengantarku pulang. Kemudian aku tidak bisa mengingat apa-apa lagi. Sasuke sedikit frustasi. Secara perlahan ia kumpulkan ingatannya seperti puzzle. Tapi ada bagian yang hilang. Terakhir kali aku bersama Neji. Apa mungkin?

Sasuke memandang sekelilingnya. Handuk bekas kompres dan bubur. Sasuke juga menemukan bungkus obat penurun panas di tempat sampahnya. Apa mungkin Neji yang melakukan semua ini untuknya?

Mendadak wajah Sasuke memerah. Ia ingat kata-kata Naruto mengenai Neji yang sama sekali tidak berniat untuk menjadi sahabatnya. Neji menginginkan hal lain. Sasuke terhenyak di kasur. Ia pandang langit-langit kamarnya.

Sepertinya Neji menyukaiku…?

Sasuke melamun, mendadak ia merasa sangat malu. Ia tutup wajahnya yang memerah. Ternyata seperti ini rasanya disukai…?

Getaran di sakunya menarik perhatian Sasuke. Ia tarik handphonenya keluar. Ia sedikit linglung ketika membaca nama 'Neji-senpai' di layar handphonenya.

Apa yang harus ku katakan? Aku belum siap!

Dengan menarik nafas dalam-dalam, ia mengangkatnya. Ia usahakan agar suaranya tidak bergetar, "Senpai?"

Midory-Spring- Midory-Spring- Midory-Spring

Bagi Naruto, Sasuke itu spesial. Waktu jaman sekolah dulu, Naruto selalu menghabiskan jam makan siangnya bersama Sasuke. Para wanitanya ia tinggalkan begitu saja. Jika ada yang mengeluh akan langsung Naruto putuskan. Semuanya karena Sasuke. Iya, karena Sasuke, si pemuda raven yang telah menyandang tempat sebagai sahabatnya sejak ia kecil. Tapi apa benar hanya sebatas sahabat?

"Ada apa Naruto? kau rindu padaku?" Shion berjalan mendekati Naruto.

Naruto tidak menjawab. Ia langsung menarik Shion ke toilet terdekat dan menghimpit sang gadis ke tembok.

Shion adalah mantan pacar Naruto. Mereka putus karena Naruto sudah bosan, tapi Shion masih mencintai Naruto. Tidak perduli dengan perasaan Naruto, ia akan terus mengharapkannya kembali padanya. Walau mereka sudah putus, tapi hubungan mereka seperti TTM (Teman Tapi Mesra).

"Heh, Naruto? Kau agresif sekali hari ini…" Shion tidak mampu menyembunyikan gairahnya. Ia melingkarkan tangannya ke leher Naruto berusaha mendekatkan wajah mereka.

Naruto menghindari bibir Shion. Sebagai gantinya ia hirup aroma wanita itu dalam-dalam. Wangi parfume Shion sangat kuat, Naruto langsung menyesali perbuatannya. Tenggorokannya sedikit tercekat, hasilnya ia malah bersin di leher sang gadis.

"Apa sih yang sedang kau lakukan baka!" Tegur Shion dengan mata melotot.

"Ini karena parfumemu terlalu kuat!" Balas Naruto, "apa kau itu sangat bau sampai harus menggunakan parfume sebanyak ini?"

"Kau sedang menguji kesabaranku ya?"

Naruto mengernyit. "Tentu tidak…" Katanya.

Naruto sedang memastikan sesuatu. Sejak kejadian dengan Sasuke ia seperti tidak mengenali dirinya. Ia memandang Sasuke sebagai sesuatu hal yang lain. Sesuatu yang indah dan menggoda. Bukan perasaan seharusnya yang biasa ada pada seorang sahabat.

Naruto mengelus pipi Shion dengan tangannya, lalu turun ke lehernya secara perlahan.

Sasuke berhasil membuatnya bergairah dan itu membuat Naruto meragukan orientasinya. Oleh karena itu ia perlu memastikannya lewat Shion.

"Aaah… " Shion mendesah ketika Naruto menyelipkan tangannya ke dadanya yang besar.

Naruto suka dua benda ini. Ia suka menggodanya. Tapi anehnya sekarang terasa berbeda. Tidak sama lagi.

"Apa kau haus?" Shion berkata di tengah desahannya. Ia lepaskan kancing bajunya di depan Naruto, lalu membukanya lebar-lebar. Dua balon besar miliknya menyembul keluar dari dalam bajunya, masih ada pengaman pink yang menutupinya.

Naruto memandang dua benda itu dengan pandangan sulit di baca. Perlahan ia menyentuhnya lalu meremasnya sedikit keras. Shion terpekik ke enakan merasakan dua benda sensitifnya di remas-remas oleh Naruto.

"Apha… kau mau… melakukannya… disini?"

Naruto tidak menjawab. Ia melepaskan genggaman tangannya dari Shion, lalu mundur satu langkah. Membuat jarak diantara mereka berdua.

Shion memandangnya heran, "ada apa Naruto?" Tanyanya.

Naruto menggeleng, ia memandang Shion datar. "Aku tidak bergairah." Katanya mengangkat bahu.

Shion terpaku selama beberapa detik. Ia melihat wajah Naruto yang bosan, lalu turun ke bagian bawah tubuh Naruto. Tidak ada benda menonjol yang biasa dilihatnya. Mendadak ia menjadi marah, kesal dan jengkel. Ia merasa dipermalukan. Apa susahnya menaklukkan si playboy ini? harga dirinya sebagai wanita mendadak jatuh.

"Kau pasti Gay!" Sembur Shion tanpa berpikir. Ia melototi Naruto lalu kembali mengancing bajunya.

Naruto terlihat melamun. Sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia bahkan tidak memerhatikan Shion yang telah berlari keluar dengan wajah memerah menahan amarah.

Benarkah aku gay? Tanyanya dalam hati.

tbc

Shion itu salah satu gadis cantik di Naruto Shippuden the movie 1… yang secara gak langsung pengen kawin sama Naruto hehehe

Disini Shion cuman numpang lewat doang… btw gomen kalau mengecewakan.

Mohon untuk di review ya