Chapter 2 : Valedictorian
Di dalam kamar yang temaram seorang pemuda bersurai cokelat tua duduk menghadap meja putih yang terletak di sudut kamar. Alisnya mengkerut tajam menandakan tingginya tingkat konsentrasi yang dikerahkan. Sebuah pena hitam bertengger manis di tangan kanannya. Jika orang bertanya padanya ia sedang apa, pasti Haechan akan menjawab ia sedang berfikir mencari pemecahan masalah soal yang ada di secarik kertas di atas meja.
Bohong, Haechan tersenyum kecut. Ia tahu benar ke mana jiwanya berkelana saat ini-atau tepatnya ke fragmen mana. Tubuhnya mungkin memang berada di depan meja, menghadap seabrek buku tebal yang dianggurkan begitu saja karena otaknya berputar ke lima jam sebelumnya.
π
Mark Lee, seperti yang dikatakan oleh ayah Haechan (dan yang ia curi dengar pembicaraannya dari dapur), merupakan mantan muridnya di Universitas Kyung Hee yang juga seorang valedictorian atau lulusan terbaik-sekaligus lulusan termuda-di angkatanya di jurusan Psikologi dan Forensik. Dual Degree, membayangkannya saja Haechan merasa ingin muntah. Yang membuat Haechan kagum dan sedikit terkesima (walaupun ia enggan mengakuinya) adalah karena ia mengambil Kriminologi. Entah kenapa ia sangat mengidolakan program studi yang satu itu.
Otaknya pasti encer sekali, Haechan membatin sementara kepalanya manggut-manggut, dari kejauhan dia terlihat seperti orang bodoh. Ibunya yang melihat hal itu hanya menaikkan alis sambil mencampur bumbu bulgogi dan tidak menghiraukannya lebih jauh, sepertinya ia sudah puas memberi wejangan-omelan, dan satu jeweran pedih di telinga-selama kurang lebih setengah jam.
Omong-omong tentang ibunya, perempuan separuh baya itu sedang sibuk mondar-mandir di dapur. Menyiapkan ini dan itu, sedetik ia memeriksa sup kimchi, detik berikutnya ia sibuk membalik daging bulgogi, kemudian melesat mengangkat gyoza, seolah-olah memiliki kemampuan teleportasi. Haechan yang melihatnya menjadi pusing sendiri dan karenanya hampir salah meletakkan pisau alih-alih sendok di meja.
Mendengar Mark dan ayahnya bernostalgia tentang masa-masa Mark di bangku kuliah mengingatkan Haechan akan ujian nasional yang sejak awal sekolah menghantuinya. Ujian itu bagai ajal yang akan menjemputnya, membuatnya gugup setengah mati. Belum lagi nilai ujian juga ikut andil dalam menentulan kemana ia akan meneruskan pendidikannya.
"Haechan sebentar lagi akan ujian nasional kan?"
Ironi dunia, Haechan berkata pahit pada dirinya sendiri saat Mark tiba-tiba bertanya. Tanpa ia sadari ia mendengus pelan. Lain kali sepertinya ia harus lebih bijak karena sejurus kemudian rasa sakit mendera tulang keringnya karena-yah, apalagi kalau bukan karena ditendang ibunya.
"Maksudku-ya, itu benar," buru-buru ia menjawab, dan dia membenci dirinya sendiri karena terdengar sangat idiot.
Mendengar jawabannya-atau racauan-Mark hanya tersenyum. Haechan benar-benar yakin dirinya terlihat bodoh tadi dan dia ingin bersembunyi di bawah meja makan saat itu juga.
"Dia juga ingin melanjutkan ke Kyung Hee sepertimu," tutur Ayahnya untuk menyelamatkan keheningan yang tercipta.
Terpujilah kau wahai ayah, Haechan dilanda rasa dilemma. Di satu sisi ia ingin berterimakasih tetapi juga ingin memprotes kata-kata ayahnya. Kalaupun ia memutuskan melanjutkan di Kyung Hee, toh, dia tidak yakin akan mengambil Kriminologi.
"Benarkah? Ingin mengambil kriminologi juga?"
Pria itu berkata penasaran. Sorot matanya sedikit menajam, dagunya kini bertumpu pada satu tangan yang dilipat di meja, membuat Haechan kepayahan menelan makanannya.
"Mm.. mungkin?" Haechan menjawab ragu setelah beberapa detik (tidak, ia tidak terdistraksi oleh otot tangan Mark dan gurat nadinya yang terlihat jelas)
Mark menelengkan kepalanya, mata hitamnya menelisik. Pembawaannya sangat tenang, lain halnya dengan Haechan yang mulai merasa tidak nyaman. Walau begitu ia berusaha untuk tetap duduk tenang di kursinya. Hal itu bukan sesuatu yang mudah ketika seseorang memandangmu tajam seolah menghunuskan peluru tak kasat mata ke kepalanya. Haechan merasa ditelanjangi dosa-dosanya.
Haechan tidak yakin berapa lama waktu terlewat setelah ia melontarkan jawabannya. Baginya itu seperti berabad-abad walaupun hanya beberapa detik.
"Good luck, then," Mark berujar kalem sebelum menggigit gyoza yang bersarang di sumpitnya. Tidak lupa ia memberi pujian pada masakan ibunya, membuat wanita yang mengenakan gaun marun itu berseri-seri. Haechan menengok nasi dan sup kimchi yang sempat ia telantarkan dengan nanar, nafsu makannya seolah menyublim hilang di udara.
π
Haechan mengusak rambutnya gusar, wujudnya sekarang sudah seperti sarang burung dengan ujung rambut yang mencuat kemana-mana. Walaupun singkat, percakapan itu masih hangat di benaknya. Ia jadi bingung sendiri apa istimewanya dari percakapan tadi sehingga membuat konsentrasinya buyar.
Mungkin karena sebentar lagi ujian nasional.
Mungkin karena ia belum yakin jurusan apa yang akan diambilnya.
Yah, atau mungkin karena mata dan suaranga yang-tidak!
"Apa-apaan itu tadi?"
Ia mengerjap bingung, sejurus kemudian tanganya terangkat menarik-narik rambutnya dan mengerang frustasi. Mungkin benar kata Renjun dia terlalu tertekan dan stress sehingga omonganya melantur. Ya, benar, siapapun pasti tertekan karena ujian (setidaknya begitu Haechan mencoba menghibur diri sendiri). Apapun itu Haechan memutuskan untuk tidur, otaknya perlu istirahat dengan begitu ia bisa berfikir lebih waras.
Tanpa membereskan buku yang tersebar di meja-dan lantai, dia mematikan lampu belajar dan melangkah menuju kasur dengan tergesa-gesa, ia mengaduh pelan ketika kakinya terantuk kursi karena gelap-dasar ceroboh. Ia segera melemparkan tubuhnya ke atas benda empuk persegi itu setelah menyingkap selimut bertabur bintang miliknya. Matanya terpejam begitu kepalanya menyentuh bantal, sesaat kemudian meluncur ke alam mimpi.
Di mimpinya sosok manusia tinggi dengan mata tajam muncul tak diundang.
π
Menjelang pagi hawa dingin semakin menusuk tulang. Hujan yang mengguyur Seoul semalaman menurunkan suhu menjadi cukup rendah. Haechan makin menyembunyikan dirinya di bawah selimut, ia menggulungkan tubuhnya pada selimut. Terlihat persis seperti kimbap isi tuna.
"Wake up sleepyhead," sebuah suara familier memanggil-manggil namanya.
"Haechan," kini tubuhnya di goyang-goyangkan, Haechan hanya bergumam kesal tidak berniat untuk bangun sama sekali.
"You're not going to greet your brother?"
Seketika kelopak mata Haechan terbuka, menampilkan manik cokelat dan mata yang merah, rasa kantuk masih menggelayutinya tetapi ia cukup sadar akan siapa yang sekarang duduk di samping ranjangnya.
"Taeyong hyung?" Haechan berkata parau, tenggorokannya terasa kering. "Taeyong hyung!?"
Haechan melotot. Taeyong menahan tawanya karena mata Haechan terlihat seperti hendak keluar dari tempatnya. Haechan mendudukkan dirinya dan memeluk kakaknya singkat.
"Kapan kau datang? Kenapa tidak memberi kabar? Bagaimana keadaan di Chichago? Apa makanannya enak?"
Haechan membombardir Taeyong dengan seabrek pertanyaan beruntun bak senapan otomatis. Taeyong hanya menatap adiknya dengan senyum yang masih tetpatri di wajah tampannya. Haechan sudah bersiap membuka mulutnya tetapi segera dibungkam oleh telunjuk taeyong yang ditempelkan di bibirnya.
"Later, little bro. Aku masih mengantuk, berjam-jam duduk di pesawat membuat tubuhku kaku, let's sleep for now it's still early."
Taeyong menarik tubuh Haechan untuk kembali tidur dan memeluknya seperti guling. Biasanya Haechan akan protes jika seseorang menginvasi kasurnya (kasurnya tidak bisa dibilang besar dan membaginya bersama Taeyong membuatnya tidak bisa bergerak bebas), tetapi ia membiarkannya kali ini. Tidak bisa dipungkiri, dia memang sangat merindukan Taeyong.
Ia melirik ke jam dinding yang menunjukan angka 5. Pantas saja udara sangat dingin. Ia mengeratkan pelukannya pada Taeyong untuk mencari kehangatan. Kelopak matanya sudah akan menutup ketika suara Taeyong menyeruak memecah kesunyian.
"Nanti siang ikut hyung menemui teman ya."
"Hmm?"
"He's in the same department when I study in Harvard. Dia juga akan jadi rekan kerja hyung selama si Seoul nanti," Taeyong menjelaskan singkat, suaranya sarat akan kantuk dan lelah.
"Oke, oke. Dia orang korea?"
"Iya, dia murid ayah sewaktu di Kyung Hee."
Hati Haechan mencelos, dalam kepalanya sudah ada satu nama yang mengambang-ambang. Tapi kan murid ayah tidak hanya satu.
"Namanya Mark Lee."
Haechan tidak dapat memejamkan matanya sedetikpun. Bahkan setelah dengkuran halus Taeyong terdengar ia tetap terjaga, ditemani bunyi tetes hujan yang mengetuk-ketuk kaca jendela yang makin lama temponya makin cepat.
A/N: chap 2 up, mohon kritik dan sarannya ya^^
terima kasih buat yang sudah baca :D
