Semua orang ingin bahagia. Begitupun aku.

Aku, Jaejoong, pria pendosa yang mengikat pria baik-baik dengan ikatan pernikahan dalam hukum yang sah.

...

Fajar menyingsing. Oksigen terasa menipis. Semua samar. Abu-abu. Berfikir mimpi. Nyatanya bukan. Jenuh. Terus menunggu bagai idiot. Hari ke-201. Satu hari. Lagi. Terlewati. Terduduk diam. Menunduk di depan komputer. Link yang sama, malam tadi.

Apa yang salah?

Aku meninggalkan semua. Menjadi pelarian. Di negri yang asing.

"Daniel, are you there?"

Diam membisu. Daniel, itu aku. Namaku sekarang.

"You'r not slept again"

Kembali diam. Mengacuhkan pria kebangsaan Thailand. Rekan bisnis sekaligus teman.

"I am helpless, right!"

Menyedihkan. Itulah aku. Terlalu mahal bayarannya untuk kebahagiaan.

Aku, bukan wanita. Tidak ada tangisan tetapi ini lebih sakit.

Sekali lagi. Bertahan. Untuk yang terakhir. Aku butuh penjelasan. Untuk sebuah kebahagiaan.

"Phai, please take care the restourant."

...

Sepuluh tahun terlewati. Korea, Bandara Changi. Mencoba beradaptasi. Semua berubah. Orang. Iklim. Cuaca.

Berjalan. Menyusuri jalan bersamaan dengan puluhan orang menuju arah yang sama. Keluar. Tak seorangpun menjeritkan Kim Jaejoong. Tak satupun poster iklan dengan potret diri terpajang. Masaku telah lama ditinggalkan. Tenggelam dan hilang.

Taxi berhenti di depan. Menurunkan kaca mobil depan.

"Taxi?" Tawar pria yang ada di dalam.

"Yes." Membuka pintu penumpang. Meletakkan koper lebih dulu.

"Kemana Tuan?"

"Samsung-don."

"Wah, itukan daerah elit. Sudah kuduga sebelumnya." Ia terpukau. Melihat dari spion mobil.

Taxi berjalan. Memasuki tol.

Televisi dinyalakan. Music klasik terdengar. Bethovent simfoni. Damai.

Bunyi berz terdengar. Berganti dengan...

Mirotic.

Tersentak. Terbangun dari tidur.

"Apa perlu kuganti?" Tanyanya.

"No. it's oke."

Bingung. Ia Mengerutkan kening.

"Tidak perlu." Kelu. Lidah ini terasa asing mengucap bahasa ibu.

"Anda pasti sudah lama di luar negri." Ia tertawa. Ringan.

"Yah. Sudah lama tidak kembali. Korea banyak yang berubah."

"Haha, semakin maju bukan." Kembali tertawa. Bangga.

"Yah."

"Korea semakin bersih dan teratur. Sangat nyaman untuk tinggal. Ah, kau tahu gosip paling hot di sini. Jung Yunho telah kembali." Ucapnya antusias. Sesekali melihatku dari kaca spion.

"Yunho."

"Yang menyanyikan lagu ini. Memang lagu lama tetapi akhir-akhir ini sering diputar. Tersebar kabar dia tinggal di Kanada bukan di Amerika dan juga ada yang bilang dia menikah dengan pria. Hah, ada-ada saja. Anakku setiap hari terus membicarakannya."

Jung Yunho.

Paru-paruku terhimpit. Oksigen terasa menipis. Kembali mengusap lingkaran perak di jari manis. Menyesalkah kau. Hidup bersamaku, seorang Kim Jaejoong.

"Anda baik-baik saja?"

"Ah, It's fine."

Aku Jaejoong. Pria yang hanya ingin bahagia. Sepuluh tahun lalu. Di Capel. Memakai jas putih, merek terkenal. Berdiri bersama seseorang. Itu kau.

Menggigit bibir menahan senyuman yang merekah. Malu. Gugup. Bahagia. Haru. Menggaruk kening sekedar menutupi pendar merah diwajah. Menata rambut mengalihkan perasaan ingin meledak. Mengusap leher dikala gugup tak tertahankan. Mengucap janji pernikahan penuh antusias. Mengundang tawa. Hanya ada kau, aku, dan seorang pastur. Memimpikan kebahagiaan di negri yang asing. Berdua.

...

a/n: Cukup sekian dan terima kasih. Terima kasih untuk tegurannya atas penulisan nama Yunho yang benar. Terima kasih udah suka dengan gaya bahasa gw yang sebenernya sok2an berdiksi sih. #alah. Sebenernya buat updet, klo rajin saya bisa seminggu sekali bahkan lebih. Tergantung klo screenplay lagi rame sama cerita seru yang gw suka, gw ga bakal updet. Kenapa? Karena sejatinya gw adalah reader. wkwkwkwk. Satu lagi, bahasa inggris gw ancur banget. Jadi, jangan protes. 333