Tittle: The Butler did it

Rate : M

Pair: Guess who, Bromance NamTae

Warning :World war II era, Boys Love, BxB, the terror of typos, Bot!Tae, Tidak terlalu focus pada romance

Cerita ini tidak mengedepankan sebuah keromantisan, saya akan sangat menekankan bagaimana seorang butler yang sangat setia pada tuannya

Segeralah close jika pair tidak sesuai dengan yang diinginkan. Tinggal klik back atau tanda silang di pinggiran. So Easy,

Any Character is GOD mine and their parents of course.

Enjoy the Read!

.

London, Inggris 1919

Matahari pagi mulai bersinar hingga membuat beberapa burung bercicit berisik di atas pohon. Seorang tupai mulai keluar dari lubang pohon dan mulai mencari beberapa biji buah yang bertebaran di tanah. Seorang kelinci terlihat sedang melompat-lompat random dari belukar satu ke belukar lain. Desahan ular terdengar melata dengan tubuh merambat ke semak belukar dan akhirnya meraih satu tikus kelabu kotor dan menelannya hidup-hidup. Cahaya mulai naik dan menyinari seluruh bumi, terdapat rumah besar di tengah hutan berdiri kokoh dan angkuh seolah badaipun tidak akan merobohkannya.

Cahaya matahari mulai berebutan masuk di celah-celah jendela persegi panjang yang besar. Seseorang membuka tirai jendela hingga membuat sosok yang masih bergelung di atas tempat tidur menggeliat tidak nyaman. Sosok yang membuka tirai jendela kini hanya menghela napas lalu berjalan ke arah ranjang besar berisikan mahluk mungil yang masih sibuk membalutkan tubuhnya dengan selimut hingga badannya kini menyerupai sebuah kepompong besar.

"Tuan muda bangun" ucapnya pelan sembari membebaskan tubuh mungil tersebut dari lilitan selimut.

"Selamat pagi Joonie" gumamnya dengan suaranya yang lucu.

Joonie, sang pelayan hanya tersenyum hingga menampakkan dimple di kedua pipinya. Dia mengangkat tubuh si Tuan muda lalu menggendongnya hingga masuk kamar mandi dan memulai ritual mandi sang majikan. Setelah melaksanakan ritual mandi, kini si pelayan mulai memakaikan beberapa setel baju yang cocok dengan tubuh polos si tuan muda.

"Hari ini warna apa Joonie?" tanya si tuan muda dengan kaki mungil yang mengayun di atas pinggiran ranjang.

"Biru tua seperti kesukaanmu" jawab si pelayan yang kini memasangkan sepasang kaos kaki panjang berwarna hitam di lutut mungil majikannya.

Si tuan muda hanya bergumam sambil bersenandung pelan hingga kini dia membuka matanya yang sedari tadi masih menutup rapat.

"Apa aku memakai barret hari ini?" tanyanya lagi yang menatap si pelayan yang memasangkan sepasang sepatu oxford ber-hak dua centi berwarna biru tua di kakinya.

"Tentu, itu sudah menjadi ciri khasmu" jawabanya lagi hingga menimbulkan kekehan lucu dari sang majikan yang kini kepalanya sudah dihiasi oleh topi beret berwarna biru tua yang menutupi sebagian rambut coklat lembutnya.

"Aku ingin bertemu Papa" ucapnya sembari meraih cangkir teh yang sudah diseduh khusus untuknya.

"Tentu, setelah kau menghabiskan tehmu" jawab si pelayan sekali lagi dan membuat si tuan muda mengangguk semangat.

.

"Papa"

"Oh hai sayang" balas si Papa yang kini sedang asyik membereskan peralatan lukisnya "Kemarilah dan aku akan mengajarkanmu tentang melukis kembali" jelasnya hingga membuat anaknya menghampirinya dengan langkah girang.

"Tidak berlari tuan muda" peringat pelayannya hingga membuat anak berusia tujuh tahun tersebut cemberut lucu.

"Joonie tidak mengijinkanku berlari Papa" aduhnya pada Papanya yang kini tengah memangku tubuh kecilnya.

"Aku setuju dengannya. Kau memang tidak harus berlari" ucapnya sembari berkedip pelan pada pelayannya yang dibalas hal serupa oleh si pelayan hingga membuat anak tujuh tahun yang ada dipangkuannya menjadi semakin memajukan bibirnya.

"Terserah" rajuknya sembari menatap kanvas yang ada dihadapannya.

Sang Papa hanya tertawa geli melihat anaknya merajuk. Dia menatap pelayan anaknya yang berdiri di sudut dengan tenang "Namjoon, tidak keberatan jika Daehyun memanggilmu untuk sedikit berbincang tentang sesuatu bukan?" tanyanya pada Namjoon yang mengangguk kaku lalu menggumam permisi pelan lalu pergi meninggalkan ruangan yang sekarang penuh suara tawa tuan mudanya.

.

.

"Namjoon apa kau mengingat ketika hari pertamamu kemari?" tanya Daehyun yang menghirup tehnya pelan.

Namjoon terdiam, memorinya berputar kembali ketika dia terbangun di sebuah ranjang yang paling empuk selama masa hidupnya meskipun itu hanya satu kotak kasur busa datar yang tidak terlalu empuk. Namjoon mengerang dan mencoba mengingat semuanya hingga memorinya tentang bom, tembakan meriam yang memekakan telinga, rumah runtuh, hilangnya ibunya, malaikat pencabut nyawa, jiwa-jiwa putih yang berterbangan melolong minta ampun hingga dua sosok lelaki yang mempunyai wajah serupa tapi tak sama membawanya ke sebuah rumah megah di tengah hutan.

Namjoon bangun dengan nyeri di sekujur badan hingga seorang wanita anggun berwajah dingin mendatanginya dan mengobati lukanya. Tiga hari dirawat Namjoon bisa melihat lelaki bermata bulat yang menyelamatkannya mendatanginya dan mulai mengajarinya bahasa asing yang Namjoon sekarang ketahui adalah bahasa Inggris, mengajarkan bela diri hingga dasar menjadi pelayan. Namjoon dilatih sebagai pelayan loyal yang tangguh dengan kemampuan otak yang cerdas. Namjoon memutuskan untuk mengabdi pada lelaki bermata bulat yang ia ketahui bernama Daehyun tersebut hingga kematian menjemputnya kembali.

Dilatih selama setahun lalu diselundupkan di dalam koper besar hingga Namjoon merasakan ngilu pada seluruh badannya yang dipaksa terlipat di dalam koper tersebut lalu berlayar dengan waktu dua bulan hingga mendarat di daratan London yang kacau karena serangan Jerman. Daehyun membawanya ke sebuah rumah yang sama besarnya seperti di Korea hingga sampai saat ini, mengabdi pada Tuan mudanya yang dulu bentuknya hanya buntalan bulat yang lucu hingga sekarang berumur tujuh tahun sampai ajal menjemput.

"Tentu aku ingat, sir" jawab Namjoon "Tidak berdaya dengan luka di sekujur tubuh" lanjutnya kembali sembari menatap Daehyun yang merasa tertarik dengan perkataannya "Diobati dengan obat herbal yang membuat tenggorokkan kering seketika. Aku sangat mengingatnya, sir" ucapnya sembari mengangkat kedua bahunya acuh.

"Kau masih mengingatnya ternyata" gumam Daehyun tersenyum tipis "Kau ingat dengan janjimu bukan?"

"Aku tidak akan pernah lupa akan hal itu, sir" jawab Namjoon yang mulai merasa cemas akan sifat Daehyun yang tidak mudah ditebak. Pikiran lelaki itu terlalu rumit untuk otak tumpulnya "Itu bukanlah hanya sebuah janji. Itu sumpahku padamu yang sudah memungut tikus sepertiku untuk menjadi rubah yang berbahaya" jawaban Namjoon membuat Daehyun tersenyum puas.

"Perlu kau ketahui Namjoon, otakmu tidaklah tumpul dan juga kau bukanlah seekor rubah sekarang. Kau bisa dikatakan seorang monster saat ini" ucap Daehyun yang membuat Namjoon bergidik ngeri, bagaimana bisa lelaki ini membaca pikirannya dengan begitu mudah "Otakmu sudah diasah menjadi setajam katana. Kau sangat cerdas, aku mengingatnya ketika hari dimana aku mengajarkanmu bahasa inggris hanya dengan tenggak waktu satu minggu dan kau sudah bebas berbicara seperti seorang native" candanya dan Namjoon hanya meringis pelan.

"Sebenarnya apa yang ingin kau sampaikan, sir? Aku tahu kau memanggilku bukan hanya untuk mengenang masa lalu saja" tanya Namjoon yang membuat senyum di bibir tebal Daehyun semakin merekah.

"Sudah kuduga" gumam Daehyun yang kini meletakkan cangkir tehnya dan berdiri hingga memusatkan matanya pada pemandangan si balik jendela besar yang ada di ruangannya "Akan terjadi sesuatu pada diriku dan juga Baekhyun" jelasnya singkat yang membuat Namjoon bingung.

"Sir, tolong jangan katakan hal yang aneh" peringat Namjoon yang sudah tahu tentang sifat Daehyun yang penuh mistery.

"Ini tidaklah aneh Namjoon" sanggah Daehyun yang masih memunggungi badan Namjoon "Sesuatu akan terjadi padaku dan Baekhyun. Aku harap kau menjaga Taehyung apapun yang terjadi meskipun nyawa sebagai bayarannya" disitu Namjoon bisa menyimpulkan bahwa sesuatu yang berbahaya akan terjadi "Malam ini, kau akan bertemu dengan seseorang yang akan menatap Taehyung kami dengan pandangan memuja dan obsesi ingin memliki dengan kentara. Dia masih sangat kecil tapi jiwanya yang terlalu ambisius akan berdampak buruk. Aku harap kau menjaga anak nakal itu hingga akhir hayat" jelas Daehyun dengan senyum teduh di akhir yang membuat hati kecil Namjoon menjerit kesakitan. Tatapan mata terluka dan senyum teduh Daehyun membuat Namjoon ketakutan.

"Sir, apa maksud anda?" Namjoon terkejut ketika mendengar suaranya yang bercicit seperti tikus.

"Kau akan tahu" jawab Daehyun yang masih tersenyum teduh dan hal ini benar-benar membuat Namjoon ketakutan "Malam ini" lanjut Daehyun yang kini berjalan ke arah Namjoon "Malam ini akan dimulainya sebuah permainan kehidupan yang rumit" penjabaran singkat Daehyun tidak menjawab semua pertanyaan yang ada pada kepala Namjoon.

"Apapun yang terjadi aku akan melindungi kalian bertiga" ucap Namjoon yang membuat Daehyun tersenyum lebih lebar.

"Tidak Namjoon" bantah Daehyun yang meremas bahu kiri Namjoon yang dibalut jas rapi "Hanya lindungi Taehyung. Ingat sumpahmu" Dan karena hal itu Namjoon kembali merasakan ketakutan yang sama ketika mengetahui ibunya ditangkap tentara Jepang.

.

.

Malam ini, di hari yang sama ketika Namjoon terlibat pembicaraan serius dengan Daehyun. Namjoon yang sudah memandikan Taehyung kini merapikan penampilan tuan mudanya dengan jas berwarna hijau pastel yang sangat pas dengan kulit tannya yang halus. Taehyung bersenandung gembira ketika Namjoon menalikan sebuah pita berwarna kelabu dengan satu garis melintang berwarna hijau pastel di tengah pada lehernya. Dirinya terkekeh geli ketika Namjoon sedikit menggelitik telapak kakinya yang tadinya belum terpasang sepatu dengan benar. Bibirnya mengerucut maju ketika Namjoon mengatakan untuk tidak memakai sebuah beret malam ini.

"Bukankah kau yang selalu mengatakan jika beret adalah ciri khasku" rajuk Taehyung yang mulai mengacaukan simpul yang ada di lehernya.

"Apa kau tidak gerah dengan memakai beret setiap hari?" canda Namjoon sembari merapikan simpulan pita pada leher Taehyung kembali "Untung saja kau tidak memakai beret juga ketika tidur" candanya yang membuat Taehyung merengek lucu.

"Joonie aku ingin beretku" rengek Taehyung yang hanya ditanggapi kekehan geli oleh Namjoon.

"Bagaimana jika aku menolak?" canda Namjoon sembari menyembunyikan satu beret berwarna kelabu dibalik punggungnya.

"Joonie~~~" rengekkan Taehyung semakin keras dan lucu hingga Namjoon menggigit bibir dalamnya gemas. Bagaimana mungkin tuan mudanya ini sangatlah menggemaskan, padahal Papa dan Daddynya adalah orang yang paling misterius di dunia ini.

"Baiklah kau menang Tuan muda" kekeh Namjoon yang kini memasangkan beret tersebut di atas kepala Taehyung yang bersorak gembira.

Setelah Taehyung sudah rapi, kini Namjoon menuntun anak itu untuk menghampiri kedua orang tuanya yang sudah siap untuk pergi.

"Joonie akan ikut bersama kita bukan Daddy?" rengek Taehyung yang kini berada di gendongan Daehyun.

Yang ditanya hanya tertawa pelan lalu menatap Namjoon sebagai tanda dia harus mengikuti mereka. Namjoon menelan ludah gugup, selama ini dia tidak akan pernah-mau- mengikuti acara mewah ketiga majikannya. Namjoon sedikit membenci para bangsawan dengan baju mewah dan berat berlapis-khusus para wanita untuk point ini- mereka. Selama perjalanan ke tempat jamuan, Namjoon tidak berhenti memperhatikan ketiga majikannya dengan lekat. Dia memikirkan perkataan Daehyun kembali, jika benar malam ini akan menjadi malam penting, Namjoon harap dia tidak melewatkan sesuatu hal yang sangat penting.

.

Para tamu undangan berkumpul di tengah hall sebuah Mansion yang Namjoon ingat adalah Mansion Park, saudagar yang berasal dari Korea yang memiliki seorang istri bangsawan yang berasal dari London. Namjoon sedikit tidak menyangka jika ada orang Korea yang sukses di tengah perang yang melanda Negara mereka saat ini, padahal Negara itupun belum merdeka. Kesampingkan Daehyun dan keluarganya, Namjoon merasa majikannya tersebut bukanlah berasal dari bumi karena sifatnya yang sangat sulit ditebak.

Semua orang berkumpul, membuat beberapa gerombolan yang membicarakan bagaimana keadaan dagang dan hidup kebangsawanan mereka. Saling beramah tamah kepada sesama tetapi menjelekkan di belakang. Tipikal orang kaya dan bangsawan bangsat, keluh Namjoon dalam hati ketika melihat begitu banyak wanita bangsawan dengan dada menyembul juga pinggang yang terlalu ramping bergerumbul membicarakan seorang lelaki bangsawan dengan kipas berbulu menutupi mulut mereka yang terkadang mengumpat bosan atau jenuh. Pemandangan di sekitarnya membuat Namjoon gerah, jika tidak diutus untuk ikut oleh Daehyun, Namjoon tidak akan pernah sudi menapakkan kaki di lingkaran orang bangsawan seperti ini.

Matanya kali ini mengawasi Taehyung yang terus bergelandot di kaki Baekhyun seakan takut dengan keadaan sekitarnya. Namjoon tersenyum kalem, Taehyung adalah anak yang terlalu polos untuk mengetahui kebangsatan semua bangsawan disini. Dia bisa melihat seorang pria gemuk dengan kacamata bulat yang bertengger melorot hingga ujung hidungnya menghampiri ketiga majikannya bersama dengan seorang lelaki berwajah lonjong dan berpipi tinggi. Mereka berdua mencoba beramah tamah pada Daehyun yang memasang senyum kalem. Namjoon tahu, Daehyun sangat muak pada mereka berdua, terlihat dari tatapan mata Daehyun yang seolah mencemooh dua orang tersebut. Namjoon tersenyum miring, tuannya itu memang hebat dalam mempertahankan image malaikatnya.

Baekhyun menghampirinya dan mengatakan untuk menikmati pesta juga, Namjoon menggeleng lalu sedikit mengeluh jika suasana disini terlalu tidak menyenangkan untuk anjing kotor seperti dirinya. Baekhyun hanya tertawa lalu menggandeng tangan Taehyung untuk kembali bergabung bersama Daehyun yang kini masih dikerubuti oleh banyak bangsawan lain. Dia sempat membisikkan sesuatu pada Namjoon yang kini mencoba untuk tidak tertawa terbahak karena perkataan majikannya yang mempunyai wajah serupa anak anjing tersebut.

"Kau tahu, aku harus kembali ke sisi Daehyun sebelum suamiku itu mengumpati satu persatu bangsawan licin yang ada disana bukan" bisikan Baekhyun dengan nada bercandanya yang membuat mood Namjoon tidak seburuk tadi.

Namjoon bisa melihat seorang lelaki tinggi dengan seorang perempuan cantik berambut pirang bergelombang yang disanggul tinggi dengan hiasan beberapa mawar imitasi di sekitarnya turun dari lantai atas melalui tangga kembar yang lebar. Semua orang bertepuk tangan dan Namjoon mengamsusikan jika mereka berdua adalah pasangan Park yang mengadakan jamuan malam ini. Mereka berdua lansung saja menghampiri sosok Daehyun dan juga Baekhyun tanpa menoleh ke yang lain. Namjoon terkekeh ketika mendapati ekspresi kecewa bangsawan lain yang hanya dianggap angin oleh kedua pasangan Park tersebut.

Mereka berempat tersenyum singkat lalu saling menyapa satu sama lain. Namjoon bisa melihat Baekhyun mencoba mengenalkan Taehyung pada pasangan Park tersebut sebelum anak itu merengek karena malu. Baekhyun akhirnya menyerah dengan cengiran di bibir setelah mengatakan jika anaknya yang ajaib itu sedikit pemalu. Namjoon tesenyum geli sebelum membungkuk rendah kepada kedua pasangan Park yang menatapnya karena Baekhyun menyebutkan namanya sebagai pelayan pribadi keluarganya. Tidak ada senyum dari Tuan Park ketika melihat Namjoon, dia hanya melirik sebentar lalu kembali mencoba mengobrol pada Daehyun yang hanya memperhatikan dengan senyuman kalem dan mata mencemooh yang masih bertengger di wajah tampannya. Nyonya Park tersenyum kecil pada Namjoon yang hanya dibalas bungkukkan rendah lagi olehnya.

Baekhyun memanggilnya dan mengutusnya untuk menemani Taehyung ke ruang teh karena Nyonya Park berkata jika anak-anak ditempatkan disana. Namjoon mengangguk singkat lalu menggandeng tangan Taehyung yang sekarang bergelendot padanya sembari merajuk jika disini membosankan. Namjoon hanya terkekeh dan menyetujui perkataan tuan mudanya. Di ruang teh, yang tidak terlalu luas seperti hall di tengah ruangan tadi kini dipenuhi beberapa anak kecil yang sekiranya seumuran dengan Taehyung. Sekitar tujuh sampai sepuluh tahun kalau menurut Namjoon. Taehyung mencoba menyembunyikan tubuhnya dibalik kedua kaki jenjang Namjoon ketika anak-anak tersebut menatap mereka berdua penasaran. Salah satu anak bertubuh pendek dan berpipi bulat menghampiri Taehyung dan Namjoon dengan seorang pelayan berwajah datar mengikuti dari belakang.

"Hai aku pemilik rumah ini. Selamat bergabung" ucapnya dengan aksen Inggris yang lucu hingga membuat Namjoon tersenyum.

Namjoon lalu memaksa Taehyung untuk maju dan memaksanya mengenalkan diri dengan isyarat mata. Taehyung awalnya menolak dengan mata merajuk bak anak anjing, Namjoon tetap memaksanya hingga anak itu mengatakan namanya dengan lirih, sangat lirih "Panggil saja aku Jack*" lalu kembali bersenyembunyi di balik kedua kakinya.

"Aku tidak bisa mendengarnya" gumam anak pendek tersebut hingga pelayannya membisikkan sesuatu di telinga anak itu. Anak pendek itu hanya membulatkan mulutnya dengan ekspresi yang lucu lalu mencoba melirik Taehyung dari balik kaki panjang Namjoon. "Halo Jack, namaku Christian dan aku suka beretmu. Lihat itu sama sepertiku" ujarnya sembari menunjuk beret berwarna merah terang yang ada di atas kepalanya.

Taehyung melirik anak itu dari balik kedua kaki jenjang Namjoon, dia lalu tersenyum dan menunjuk beretnya juga lalu mereka berdua tertawa bahagia hingga berlari ke arah anak-anak lain yang ada di ruang teh. Namjoon tersenyum lalu menepi untuk mengawasi Taehyung yang kini menyambut ramah tangan anak lain yang juga ingin berkenalan dengannya. Disampingnya berdiri pelayan anak bernama Christian yang Namjoon ketahui nama sebenarnya adalah bernama Park Jimin** dengan wajah datar yang selalu mengawasi tuan mudanya. Namjoon tahu infomasi keluarga Park, karena terima kasih dengan sangat pada Daehyun yang selalu memberinya pelajaran untuk mengingat informasi tentang semua relasinya setiap hari Jumat malam.

Namjoon memperhatikan anak-anak yang bermain dengan gembira di atas karpet berbulu tebal warna coklat kalem tersebut dengan senyum mengambang. Senyumnya seketika lenyap ketika melihat seorang anak lelaki yang sepertinya berusia lebih muda dari Taehyung menatap anak lain dengan pandangan sedingin es sambil duduk di salah satu sofa yang disediakan di ruangan. Pandangan anak itu terfokus pada Taehyung dengan tatapan mata sedingin es namun sepanas kobaran api neraka.

Malam ini, kau akan bertemu dengan seseorang yang akan menatap Taehyung kami dengan pandangan memuja dan obsesi ingin memliki dengan kentara.

Perkataan Daehyun tiba-tiba teringat di kepala Namjoon hingga membuatnya terperanjat kaget. Namjoon kembali menatap anak lelaki yang masih memandang lekat Taehyung dengan pandangannya yang tidak biasa. Namjoon bisa melihat mata bulat nan kelam anak itu menyimpan jutaan ambisi sekaligus memuja akan sosok Taehyung. Namjoon bisa dengan jelas melihat tatapan tergila-gila dan obsesi anak tersebut yang tertutupi es tebal dengan kabut napsu yang tinggi. Demi Tuhan, anak itu bahkan lebih muda daripada Taehyung tetapi tatapan matanya sangat berbahaya. Namjoon sedikit berdehem pelan sembari melonggarkan sedikit kerah kemejanya yang seakan mencekiknya ketika mendapati kenyataan yang membuatnya pusing tujuh keliling.

"Apa kau butuh bantuan?" tanya sebuah suara berat yang berasal dari samping Namjoon. Namjoon menoleh lalu tersenyum canggung kepada pelayan Park Jimin tersebut.

"Tidak, aku baik" tolak Namjoon sopan sembari kembali memperhatikan anak berambut hitam sekelam matanya. Anak itu berbahaya, bisik Namjoon dalam hati.

"Bukankah kau sedikit takut pada tatapan anak itu?" tanya si pelayan di sampingnya kembali dan Namjoon lansung saja mengerti siapa yang dimaksud lelaki berambut pirang pucat yang hampir menyamai warna kulitnya yang pucat tersebut.

"Ya, dia berbahaya" jawab Namjoon yang masih tidak mengalihkan pandangannya dari anak bermata kelam tersebut.

"Sejak dia datang, udara di sekitar ruangan sangatlah dingin. Dia seperti menunggu seseorang. Sekarang aku tahu siapa yang dia tunggu" sahut si pelayan yang ada di sebelahnya dan Namjoon mengengangguk mengerti.

"Rambut hitam kelam, mata bulat bak kelereng black hole, bibir merah merona dengan kulit putih sehalus kapas. Hanya satu dari semua bangsawan di Inggris yang memiliki ciri khas seperti anak itu" gumam Namjoon yang disetujui oleh pelayan di sebelahnya

Namjoon kini merasakan kembali apa yang namanya rasa takut ketika melihat sosok anak kecil yang berbahaya tersebut. Daehyun benar, permainan tentang kehidupan yang sangat rumit akan dimulai. Permainan itu sudah dimulai sejak anak bermata kelam tersebut menatap Namjoon dengan angkuh dan dibalas kekehan geli oleh Namjoon sendiri yang seolah menerima dengan senang hati akan tantangan yang akan dibuat bocah tersebut.

.

TBC

.

Note:

* Nama Taehyung memanglah Taehyung jika di mansion(rumahnya sendiri), tapi untuk nama umum dia akan menggunakan nama Jack karena perintah Daehyun agar tidak ada relasi nakal daddynya melacak anak nakal itu dengan mudah.

** Hampir sama dengan alasan nama Jack yang dipakai Taehyung. Park Jimin mempunyai ayah berdarah Korea dan ibu berdarah bangsawan London. Dia mempunyai dua nama karena ibunya akan sangat keberatan jika anaknya hanya diberi nama Korea saja.

*** Bisa dikatakan Jack atau Christian hanyalah nama bisnis saja. Selebihnya mereka adalah Taehyung dan Park Jimin.

p.s: Apa kalian menyukai role Namjoon disini? Untuk saya, saya sangat menyukai role Namjoon.

Kenapa Daehyun dan Baekhyun? Itu karena saya menyukai dua orang tersebut. Simple

Pendek sekali fictnya, oh ayolah ini hanya awal *laugh*

Tebak siapa yang terobsesi dengan Taehyung?

Dan pembaca pasti tau siapa pelayan Park Jimin. sudah ah, saya banyak bicara.

See ya. Saya tunggu respon pembaca, jika kurang meyakinkan, entah lagi *laugh*