Arti Diriku Bagimu
.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : High School love,drama
Rated : T
Warning :
AU!, Typo(s), garing, OOC, gaje
.
Present~
.
Hyuuga Hinata tengah melajukan sepedanya pada pagi hari di sebuah jalan yang sepi. Udara masih sejuk, itu karena ia ingin menjadi orang pertama yang datang ke sekolah. Kalau bisa ia ingin datang lebih awal dari satpam sekolah, untuk kemudian pundung di depan gerbang sambil gigit jari. Kedinginan.
Waktu terasa begitu lambat, Hinata merasa jarak rumah ke sekolahnya menjadi sangat jauh, padahal sebelum ini ia bisa mengendarai sepeda lebih cepat. Sepeda yang ia naiki juga sedikit lebih berat. Saat ditengok, ban belakang sepedanya tidak bocor.
Ada yang aneh sepertinya, ia menengok lagi ke belakang dan melihat sepasang kaki bergoyang-goyang.
Wajah Hinata pucat pasi.
"GYAAAAH~ ADA TUYUL!" Hinata kalang kabut, ia berteriak yang kemudian diikuti makhluk random yang tadinya duduk anteng di jok belakang sepedanya.
"Huwaaaa~ mana tuyulnya kak?" Tanya sosok itu memeluk tubuhnya sendiri.
"Eh aku? Aku kan yang disuruh menumpang kakak tadi. Sepedaku ngambek, kak. Jangan insom deh." Pemuda cilik itu menggaruk lubang hidungnya, gatal.
"Tu-tunggu, me-memangnya ka-kamu siapa?"
"Kakak kok gagap sih? Aku Konohamaru, adiknya teman kakak." Ucap bocah itu.
"Ko-konohamaru?" Hinata menyipitkan mata lavendernya.
Konohamaru menguap lebar, bosan dengan acara putar ingatan perempuan dihadapannya. Mending putar gundu, pikirnya.
"Ja-jadi kakak sudah inga-"
"Tu-tunggu dulu, biar aku ingat." Hinata langsung menyilangkan kedua lengannya, kebiasaan saat berpikir keras.
Ia sampai lupa bahwa sepeda yang telah berhenti itu tak berpenyangga, dan secara otomatis membuat Konohamaru terjatuh dengan elegan ke tanah diiringi gerakan lamban ala sinetron.
"Huweee, kakak tolong aku jatuh!" Jeritan Konohamaru tak ditanggapi Hinata yang terlalu serius dengan ingatannya.
.
~Flashback singkat~
.
"Hinata, tolong antar si Konohamaru ke sekolah ya? Aku baru mau mandi, tapi dia ngeyel minta diantar sekarang." Sakura bertamu di rumah Hinata di pagi buta.
Sudah biasa sih, karena mereka bertetangga.
"Siapa itu Konohamaru?"
"Adik Naruto. Dia itu mirip dengan kakaknya, menyebalkan sekali."
"Oh, Naruto-kun. Boleh kok."
"Terima kasih ya Hinata-chan. Oh iya, nanti dia tidak akan kembali ke rumahku lagi kok, jadi kau tidak perlu menjemput anak itu."
"Oke oke, gampang."
.
~Flashback Off~
.
"Oh iya Kono, kakak ingat sekarang!" Hinata menepuk jidat.
Jidat orang.
"Kok aku dipukul? Aku kan baru jatuh, kak!" Konohamaru menatap tajam manik lavender Hinata.
"I-iya, kakak minta maaf ya?" Hinata lantas membantu Konohamaru berdiri.
"Kakak yang aneh." Gumam Konohamaru.
Maafkan Hinata dan segalanya kelemahannya untuk mengingat sesuatu. Kepalanya sudah dipenuhi cara mendapatkan perhatian Gaara, jadi ia lupa pada banyak hal.
.
.
.
Sakura sedang bersembunyi dibalik koran yang ia dapatkan dari perpustakaan. Yah, sebenarnya sekarangpun ia masih di perpustakaan. Matanya memicing, dan koran di tangannya hampir saja robek kalau saja tidak ada petugas perpus yang selalu mengancamnya dengan gunting.
Petugas perpustakaan biasa melakukan perbuatan tercela dengan guntingnya apabila ada anak yang merusak buku. Menggunting tali sepatu mereka, misalnya.
Sakura menelan ludah kuat-kuat, dan keringatnya diam-diam mengucur saking banyak yang ia pikirkan saat ini. Entah sudah berapa kali dialog yang ia rangkai hanya untuk menyumpah dalam hati.
Bukan, Sakura bukan sedang melihat pria idamannya dikelilingi banyak perempuan. Namun, lebih buruk dari itu. Niatnya yang ingin memberi hadiah valentine rusak oleh setumpuk hadiah yang sama di sekitar lelaki itu.
Iya, Sasori sedang anteng membaca buku di perpustakaan dengan banyak kado di samping mejanya.
Sasori pasti anak yang populer.
"Ah, bagaimana ini? Bagaimana caraku memberikannya sementara ia sudah dapat sebanyak itu?"
Sakura menggigit jarinya.
Cokelat mahal hasil menjarah isi dompet ayahnya kini ia tatapi penuh hina.
Dasar manusia hina…
"Emm, anu, Sasori senpai, aku ingin memberikan sesuatu untukmu."
Sakura mati-matian menunggu sampai Sasori menotisnya, yang lucunya benar-benar ia dapatkan. Sasori menoleh.
"Ada apa?"
"Ini untukmu." Cokelat yang disarankan dua temannya kemarin ia sodorkan ke depan muka Sasori.
"Taruh saja di situ."
Hah?
"Taruh saja, tidak dengar?"
Blaaaarrr!
Seperti baru saja disambar petir, Sakura merasakan hatinya pedih. Sasori benar-benar hanya menganggapnya sama seperti orang-orang yang telah memberinya hadiah. Sasori tidak tahu kalau perasaan Sakura ini berbeda dari para perempuan yang entah siapa itu.
Waktu berlalu begitu saja karena Sakura terlalu sibuk dengan pikirannya, hingga ia baru sadar kalau ada siswa yang tergeletak di lantai perpustakaan.
Puluhan detik yang lalu.
"Sasori senpai!"
Sakura membuang cokelatnya dan berlutut di depan Sasori yang tidak sadarkan diri.
.
.
.
Ino menyilangkan kedua tangannya. Ia sibuk sekali saat ini, sibuk memandangi Sai yang tengah menggambar dirinya. Sebenarnya tadi ia sudah hampir meledak gara-gara Sai susah sekali dihubungi ketika menjelang istirahat, tapi dengan iming-iming akan digambar, ia langsung luluh. Dasar perempuan.
Ino dengar ada yang berlarian di koridor, mungkin ada yang masuk uks, tapi ia tak terlalu memusingkannya. Ia dan Sai ada di bawah pohon rindang saat ini, yang artinya agak jauh dari ruang kelas. Tapi ngomong-ngomong, ia sedari tadi tidak melihat Sai menatapnya atau hal lain yang seharusnya dilakukan ketika menggmbar suatu objek.
"Kau sedang membodohiku?"
"Apa?" Sai menjawab dengan santai.
"Kau tidak sedang menggambarku, kan?"
"Aku sedang menggambarmu, kok."
"Kau sibuk dengan ponselmu sedari tadi!"
"Aku memang sedang menggambarmu, dengan mencontoh fotomu yang ada di ponselku."
Ino naik pitam.
"Jadi apa fungsinya aku di sini, hah!" Ino merebut kertas pacarnya dan menyobeknya begitu saja.
"Apa yang kau lakukan?"
"Aku menyobek kertasmu, bukankah kau lihat?" Ino kembali duduk anteng.
"Kenapa kau melakukannya? Tidakkah aku pernah cerita seberapa berartinya menggambar buatku?" Wajah Sai kaku.
Ino menghela napas lelah. "Ya sudah tinggal gambar lagi saja, kau kan biasa menggambar tiap hari."
"Kamu ini tidak pernah menghargai kerja keras orang lain ya?"
Ino tertawa paksa. "Kenapa sih? Kau tidak bisa bercanda ya? Sudah ku bilang tinggal gambar lagi."
Sai diam, ia memungut kertas yang sudah robek jadi dua bagian itu. Ia membenahi buku sketsa dan peralatan menggambarnya.
"Sai, kau mau kemana?"
"Istirahat sudah hampir selesai. Lebih baik aku diam-diam menggambar di kelas daripada kertasku dirobek lagi di sini."
Agaknya Sai masih tidak mengerti perihal perasaan perempuan.
"Aku melakukannya karena aku marah!" Ino meledak.
Sai menggeleng sambil terkekeh. "Kau melakukannya karena kau tidak tahu cara menghargai orang lain."
Kalau sudah begini, Ino tahu bahwa keadaannya tidak akan membaik dalam waktu dekat. Ya sudah sekalian saja, toh dia memang marah pada Sai sejak lama. Sejak buku sketsa menjadi satu-satunya pihak ketiga diantara mereka.
"Kau sendiri, pikirmu melihat orang menggambar tiap hari tidak jenuh, hah? Kenapa kau memacariku? Lebih baik kita putus saja kalau begini."
Sai menoleh sekilas. "Baiklah, kalau itu maumu."
Hah?
Kenapa jadi begini?
Ino hanya berusaha menggertak saja, tapi kenapa malah jadi begini?
.
.
.
"Hinata?"
Hinata kaget ketika mendapati Naruto berdiri tepat di samping lokernya dengan cengiran seperti setiap harinya.
"Naruto-kun?"
Hinata berhenti memasukkan bukunya ke loker.
"Ada apa?"
"Sakura bilang kau mengantar Konohamaru tadi, jadi terima kasih banyak ya, Hinata. Kalau tidak ada kau, mungkin Konohamaru mogok sekolah lagi."
"Ah, tidak masalah, Naruto-kun. Aku tidak keberatan, tapi, ya sama-sama hehe. Tapi ngomong-ngomong, kenapa Konohamaru bisa sampai mogok sekolah?"
"Ah itu…" Naruto menggaruk tengkuknya.
Hinata menatap pemuda itu dengan seksama.
"Dia selalu ingin jadi yang meletakkan tas pertama di sekolah. Ia ingin dapat bangku paling depan."
"Lucunya, seperti masa-masa sdku dulu." Hinata terkekeh geli.
"Ya begitulah dia, kadang aku sampai pusing kalau dia sudah merengek."
"Tidak apa-apa, Naruto-kun. Dia pasti nanti berubah kok."
Naruto hanya ikut tertawa. "Kalau begitu aku pergi dulu ya, Hinata, sampai nanti."
Hinata mengangguk sambil memandangi kepergian Naruto.
"Sudah selesai menatapinya?"
Seseorang lain mengagetkan Hinata, tengah menyender loker di belakangnya.
"Eh? Gaara-kun? Sejak kapan kau di situ?"
"Hmm." Gaara berlalu tanpa bicara lagi.
Hinata menatap Gaara bingung. Apa ia barusan salah bicara?
TBC
A/N : Kalo ada yang ngingetin, aku baru mau apdet. Biarin ah, aku pengen jadi author ngeselin sesekali. :3
Btw, maaf chapter ini tidak memuaskan. Ide mentok.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya~
Oh ya btw, ada yang suka KibaIno ga sih, pengen bikin pair itu dengan rate yang agak dinaikin dikit gitu. Mweheheheh. *dasar manusia hina*
