Miss Wuhan present
Tittle : Aku Sayang Papa
Author : Miss Wuhan
Cast : Kai, Kyungsoo, and Kim Kyungin(OC)
Pair : Kaisoo
Genre : Family, Sad
Length: Chaptered
Rated : T
Warning : Typos, OOC, GS (Gender switch for Kyungsoo), It's just a fanfiction
Happy Reading
Chapter 2
Ketika Kyungsoo membuka matanya pemandangan pertama yang tertangkap oleh indera penglihatannya adalah nuansa kamar rumah sakit yang serba putih dan aroma khas rumah sakit yang membuat Kyungsoo mual. Dia memejamkan kedua matanya sejenak untuk meredakan rasa mual karena menghirup aroma obat-obatan bercampur cairan antiseptic. Ketika efek mual tersebut sudah berkurang ia kembali membuka kedua matanya. Tangan Kyungsoo yang tidak terkena jarum infus bergerak ke arah wajahnya dan ia merasakan pipinya basah karena air mata.
Wanita itu kembali mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu. Dimana ia melihat sang suami yang begitu dicintainya menatapnya dengan mata penuh bara amarah. Lalu sebuah tamparan keras mendarat di pipinya. Tentu saja Kyungsoo ketakutan menghadapi kemarahan suaminya. Selama ia mengenal Kai, ia tidak pernah melihat Kai semurka itu kepadanya. Dan penyebab Kai begitu murka kepadanya adalah karena ia yang telah menyebabkan buah hatinya nanti akan terlahir cacat.
Airmata kembali lagi membasahi pipi Kyungsoo. Ia merasa sangat berdosa. Sebab kelalaiannya anak yang dikandungnya akan mengandung beban seumur hidupnya. Kedua tangan pucat Kyungsoo membekap erat mulutnya, menahan jerit pilunya agar tidak sampai terdengar oleh orang lain. Prahara itu telah datang. Mengguncang kedamaian keluarga kecil Kai bagai tsunami yang meluluhlantakkan apapun yang berada di dalam jangkauannya. Tak pernah sedetikpun dalam pemikiran Kyungsoo jika ia akan menghadapi ujian sepedih ini. Kyungsoo berharap jika apa yang dialaminya ini adalah mimpi buruk yang tak akan pernah terjadi di dunia nyata. Namun apa yang diharapkan Kyungsoo kini hanyalah tinggal angan. Bekas merah dan jejak air mata di pipiny sudah cukup menjadi bukti jika takdir buruk tersebut memang menimpa keluarga kecil Kyungsoo.
"Maafkan mama nak. Karena kelalaian mama kau harus mengalami takdir yang menyedihkan seperti ini."
Kyungsoo memandang sendu ke arah perutnya yang membuncit. Diusapnya perutnya dengan penuh kasih sayang. Membuat janin yang berada di dalam kandungannya menendang-nendang tempat dimana Kyungsoo mengusapnya tadi.
Pemikiran Kyungsoo kembali mengingat perkataan tegas suaminya yang menginginkan jika anak yang berada di dalam kandungannya untuk di aborsi. Perintah tegas yang diucapkan suaminya dengan tatapan tajam menusuk ke arah perut Kyungsoo. Menunjukkan bahwa Kai sangat tidak menginginkan anaknya terlahir di dunia ini. melihat perlakuan Kai tersebut tentu saja membuat hati Kyungsoo hancur lebur. Ia tidak menyangka dengan fakta anak mereka nantinya akan terlahir cacat akan membuat rasa kasih sayang Kai kepada anaknya menghilang.
Kedua mata Kyungsoo kambali menatap perutnya dan mengelusnya sayang. mengisyaratkan agar anaknya tidak bersedih dengan fakta bahwa ayahnya tidak menginginkan kehadirannya.
"Jangan takut Kyungin. Meskipun papa tidak menginginkan kehadiranmu, namun mama akan mempertahankanmu apapun yang terjadi nak. Jangan khawatir. Mama akan selalu ada untukmu sayang."
Tekat Kyungsoo sudah bulat. Apapun yang terjadi dia akan mempertahankan Kyungin. Dan membuat suaminya itu mau menerima kehadiran Kyungin. Karena Kyungsoo tidak akan mampu jika harus melepaskan salah satu diantara Kai dan Kyungin. Kyungsoo tidak akan bisa.
.
.
.
.
.
.
Suara dentuman musik yang memekakkan gendang telinga ditambah dengan banyaknya orang yang melampiaskan rasa penat menjadi tempat yang pas untuk didatangi Kai. Masalah keluarganya mau tidak mau membuat Kai stress berat. Dia membutuhkan pelampiasan untuk melepaskan masalah yang menghimpit dadanya.
Kai termasuk pribadi yang tenang. Sangat jarang menemukan Kai yang menampilkan emosinya secara berlebihan. Ia akan bisa menyembunyikan emosi dan tidak ada seorangpun yang tahu bagaimana perasaan Kai yang sesungguhnya. Pengecualian untuk masalah yang dihadapi Kai saat ini. Untuk masalah ini dia tidak bisa lagi memasang topeng di depan semua orang.
Kai menuangkan cairan air keras tersebut ke dalam gelas kemudian langsung menegaknya dalam sekali tegukan. Ia sesekali memejamkan matanya kala cairan memabukkan itu serasa membakar tenggorokannya. Ini pengalaman pertama kali bagi Kai meminum minuman keras. Kai berharap dengan kehilangan kesadarannya untuk sesaat karena pengaruh minuman alcohol.
Tetapi apa yang diharapkan oleh Kai tidak terjadi. Meskipun perlahan kesadarannya mulai menghilang, ia tetap tidak bisa melupakan masalah yang dihadapinya. Menyadari bahwa ia tidak bisa mengejahkan masalah di dalam kepalanya, Kai mulai meneguk minuman keras itu langsung dari botolnya.
Ia merasakan sebuah tangan yang menepuk pundaknya lembut. Di ambang kesabarannya Kai menolehkan kepalanya dan pandangannya bertemu dengan seorang wanita. Kai merasa tidak pernah bertemu dengan wanita yang saat ini dengan percaya diri duduk di sampingnya. Di lihat dari penampilannya, jelas Kai tidak akan pernah mengenal wanita itu. Dia memakai pakaian yang terlalu minim sehingga banyak mengundang hawa nafsu dari kaum adam. Kecuali Kai, seumur hidupnya wanita yang pernah dekat dengan Kai hanya Kyungsoo istrinya. Dia merasa jatuh cinta kepada Kyungsoo karena kesederhanaan dan kepribadiannya. Hanya Kyungsoo-lah wanita pertama dan terakhir dalam hidupnya.
Wanita itu semakin duduk merapat ke arah Kai. Entah hanya perasaan Kai saja atau bukan, wanita itu sengaja menunjukkan belahan dadanya yang menggoda itu kepada Kai.
"Hai tampan, kau datang sendiri? Apakah kau ingin kutemani untuk malam hari ini?"
Inilah yang menyebabkan Kai selalu menghindari tipe-tipe wanita seperti yang ada di sampingnya. Ia menghormati semua wanita yang ada di dunia ini kecuali tipe-tipe wanita seperti ini. Bagaimana Kai bisa menghargainya jika ia sendiri saja tidak bisa menghargai diri sendiri.
Kai meletakkan botol minumannya kasar dan bergegas beranjak dari tempat duduknya. Melihat gelagat Kai yang ingin pergi meninggalkannya wanita itu mencekal pergelangan tangan Kai, memaksa Kai untuk kembali duduk di sampingnya.
"Apa yang kau lakukan?" amarah Kai tak bisa lagi dipendam. Ia merasa sangat murka kepada wanita yang berani-beraninya mencegahnya untuk pergi.
Wanita itu bukannya takut melainkan menampilkan senyum menggodanya kepada Kai. Ia melirik jemari tangan Kai dan menemukan cicin pernikahan yang tersemat di sana.
"Kenapa kau ingin pergi buru-buru tampan. Aku bisa melihat dari berapa banyak botol yang kau habiskan masalahmu pastilah sangat rumit. Apa masalahmu sebenarnya sayang? Apakah kau mempunyai masalah dengan istrimu? Kau bisa menceritakannya kepadaku. Hari ini aku akan menjadi pendengar setiamu."
Pemikiran Kai kembali melayang ke kejadian dimana kecelakaan yang terjadi kepada Kyungsoo menyebabkan Kyungin beresiko tinggi akan terlahir menjadi anak berkebutuhan khusus. Niat awal Kai yang ingin meninggalkan tempat ini ia batalkan. Ia merasa marah kepada istrinya dan bertekat akan menjahui istrinya tersebut sampai Kyungsoo mau menggugurkan kandungannya.
Kai merasakan jika rahangnya dicium oleh bibir wanita itu hingga terdapat lipstick berwarna merah menyala di sana. Merasa jika tindakannya tidak mendapatkan penolakan dari Kai, wanita itu semakin berani mengarahkan tangannya untuk menjelajahi tubuh atletis Kai. Ia menyentuh, membelai dengan sentuhan lembut titik-titik tersensitif Kai sehingga membuat Kai mengeluarkan erangan kenikmatan.
Wanita itu mengeluarkan seringaian puasnya mendapati Kai yang bergairah karena sentuhannya. Sekarang bukan hanya tangannya, bibir sensual wanita itu juga mulai menjelajahi tubuh Kai. Tangan Kai terkepal erat dan ia memejamkan matanya menikmati ciuman wanita itu di titik tersensitifnya.
"Kita habiskan waktu malam ini dan lupakan segala permasalahanmu sayang."
Bisikan mesra itu membuat gairah Kai semakin memuncak. Tangan Kai yang sebelumnya terkepal kini mulai mengendur dan sebagai gantinya kini ia mulai meraba punggung wanita itu dengan sensual.
"Kau harus bertanggung jawab karena telah membuatku seperti ini." suara Kai yang serak karena diliputi oleh gairah membuatnya tampak semakin seksi. Bibir wanita itu mencium seluruh permukaan wajah Kai, mulai dari dahi, pelipis, kedua mata Kai yang kini tertutup, pipi, hingga sampai di bibir Kai.
Ketika Kai memejamkan kedua matanya tiba-tiba bayangan akan wajah Kyungsoo melintas di akan senyuman yang terbentuk indah di wajah Kyungsoo. senyuman yang selalu saja membuat jantung Kai berdebar di luar batas kewajaran. Bayangan itu berganti menjadi momen-momen indah dimana mereka menghabiskan waktu berdua. Momen yang harus Kai akui jika itulah momen terindah selama eksistensinya di dunia ini. Kini yang ada di dalam kepala Kai adalah tangisan kekecewaan Kyungsoo.
Kau berkhianat di belakangku Kai. Teganya kau mempermainkanku dengan wanita lain. Inikah pembalasan dendammu kepadaku. Karena kesalahanku anak kita akan terlahir sebagai anak berkebutuhan khusus.
Setiap tetesan air mata Kyungsoo serasa bagai sembilu yang menyayat hati Kai. Di dalam bayangannya terlihat jelas Kyungsoo mengucapkan kata itu dengan penuh kesedihan dan kekecewaan. Kai jadi mengingat janji yang diucapkannya kepada Kyungsoo. sebuah janji yang diucapkannya secara sungguh-sungguh.
"Apakah kau pernah menangis karena seorang laki-laki?"
Suatu hari di saat matahari senja bersinar membius retina semua orang yang melihatnya. Kai dan Kyungsoo, kedua sejoli yang sedang dilanda cinta duduk bersebelahan di taman dengan ditemani daun yang berguguran. Kepala Kyungsoo yang awalnya bersandar di dada bidang Kai perlahan terangkat. Kedua mata bulat nan indah milik Kyungsoo menatap Kai penuh arti. Masih tidak mengerti mengapa kekasihnya tersebut tiba-tiba bertanya seperti itu kepadanya. Alih-alih bertanya kepada Kai mengapa ia bertanya seperti itu, Kyungsoo menjawab pertanyaan Kai.
"Tentu, aku pernah menangis karena seorang laki-laki."
Tanpa Kyungsoo sadari tangan Kai yang tidak memeluk bahu Kyungsoo terkepal erat. Emosi tiba-tiba menguasai dirinya ketika mendengar Kyungsoo pernah menangis karena seorang laki-laki.
"Katakan padaku siapa pria brengsek yang sudah menyakiti hati wanitaku."
Kyungsoo mengulum senyumnya ketika mendapati sikap posesif Kai yang ditunjukkan kepadanya. Tangannya mengelus permukaan rahang Kai yang mengeras. Mendapatkan perlakuan lembut dari Kyungsoo perlahan emosi Kai mulai mereda.
"Benar kau tidak tahu siapa yang telah membuatku menangis?"
Kepala Kai menggeleng perlahan untuk menjawab pertanyaan dari Kyungsoo. Kyungsoo tersenyum kecil lalu mengecup sayang dahi Kai.
"Aku sangat ingat peristiwa itu. pertama kali aku menangis karena laki-laki adalah saat aku menerima telepon yang mengabarkan kepadaku jika laki-laki yang aku cintai tengah terbaring di rumah sakit karena mengalami kecelakaan. Kau tidak tahu Kai jika aku selama dua hari terus menangisimu yang terbaring koma di ranjang rumah sakit. melihatmu yang terus tertidur membuatku tersiksa Kai. Aku serasa ingin mati daripada melihatmu menderita dengan alat-alat mengerikan yang terpasang di tubuhmu seperti itu. Aku sangat takut kehilanganmu"
Belum sempat Kyungsoo melanjutkan perkataannya, bibirnya telah dibungkam dengan ciuman penuh rasa cinta oleh Kai. Ia melumat bibir Kyungsoo perlahan. Menikmati setiap celah bibir Kyungsoo yang seakan menjadi candu baginya.
"Maafkan aku yang telah membuatmu menangis. Aku sungguh-sungguh minta maaf."
Kai memandang Kyungsoo dengan tatapan penuh permohonan maaf. Kyungsoo tersenyum dan mencium bibir Kai sekilas.
"Tidak perlu meminta maaf. Hanya berjanjilah kepadaku jika kau akan lebih berhati-hati dan tidak terluka lagi. Aku sangat tersiksa jika kau terluka."
"Aku berjanji, Kyungsoo. Dan ingat kataku ini. kejadian waktu itu adalah untuk pertama dan terakhir kalinya aku membuatmu menangis. Aku berjanji bahwa aku tidak akan membuatmu menangis lagi. Kau bisa mencampakkanku dan meninggalkanku jika sampai aku melanggar janji yang sudah ku ucapkan."
"Kau tidak perlu berjanji seperti itu sayang. karena aku selalu percaya kepadamu. Aku percaya bahwa kau akan selalu membuatku bahagia. Bahwa kau adalah orang yang tidak mungkin menyakitiku karena aku tahu bahwa kau mencintaiku. Begitu pula sebaliknya, aku juga mencintaimu Kai, selamanya."
Refleks tangan Kai mendorong tubuh wanita itu agar menjauh darinya. Ia bergegas mengeluarkan uang dari dalam dompetnya dan meninggalkan begitu saja di meja. Kai berlari keluar dari club malam itu, meninggalkan wanita yang menatap bingung atas kepergian Kai.
Kai membanting pintu mobilnya dan memacu kendaraannya dalam kecepatan maksimal. Jalanan yang lenggang karena waktu yang menunjukkan lewat tengah malam semakin membuat Kai memacu mobilnya dengan kecepatan maksimal. Tak ia pedulikan jika tindakannya yang dilakukan akan membahayakan nyawanya sendiri. Pikirannya sekarang hanya dipenuhi oleh Kyungsoo dan calon anaknya. Bagaimana bisa ia melupakan janji yang pernah ia buat sendiri. Jika ia tidak akan membuat Kyungsoo menangis lagi. Namun apa yang tadi ia perbuat. Ia sudah membuat Kyungsoo menangis di depan matanya.
Bunyi decitan ban yang di rem secara mendadak menjadi pemecah keheningan di malam yang sunyi. Kai tiba-tiba menginjak rem mendadak. Ia memukul setir mobilnya dengan keras melampiaskan rasa frustasi yang dirasakannya. Pikirannya berkecamuk. Di satu sisi ia merasa sebagai laki-laki brengsek yang tidak bisa menepati janji yang telah diucapkan oleh bibirnya sendiri. Namun di sisi lain, ia juga tidak bisa begitu saja memaafkan Kyungsoo yang telah membuat buah hatinya menjadi anak berkebutuhan khusus. Apa yang harus Kai perbuat? Dia terlalu mencintai Kyungsoo hingga tak sanggup untuk membencinya.
.
.
.
.
.
.
.
Seminggu setelah insiden kecelakaan itu, Kyungsoo sudah diperbolehkan pulang ke rumahnya. Semenjak kejadian tersebut Kyungsoo berubah menjadi pribadi yang pemurung. Meskipun Kyungsoo masih beraktifitas seperti biasa namun tatapan mata bulatnya kosong, seakan tidak ada jiwa yang bersemayam di dalamnya. Semua orang di sekitarnya bisa memaklumi tindakan Kyungsoo. Peristiwa yang dialami Kyungsoo sangat berat sehingga orang-orang yang memberikan suportnya kepada Kyungsoo kecuali satu orang.
Saat ini Kyungsoo tengah sibuk berada di dapur untuk menyiapkan sarapan. Dengan dibantu oleh ibunya Kyungsoo memasak sup untuk menghangatkan pagi yang dingin ini. Sudah tiga hari ini ibu Kyungsoo memutuskan untuk tinggal bersama dengan anaknya. Beliau berencana tinggal sampai Kyungsoo melahirkan. Awalnya Kyungsoo menolak mentah-mentah usul dari ibunya. Ia merasa baik-baik saja dan tidak membutuhkan bantuan dari ibunya. Namun ibunya tidak menyerah, beliau terus membujuk Kyungsoo hingga ia menyetujuinya. Terlebih ibu mana yang tega meninggalkan anaknya sendiri dikala ia tengah mendapatkan cobaan.
Kegiatan Kyungsoo yang mengiris kentang terhenti ketika lewat sudut matanya ia melihat Kai yang turun dari tangga dengan mengenakan setelan jas rapi. Kyungsoo melirik jam dinding yang terdapat di sebelah kanannya. Jam menunjukkan pukul 7 pagi. Kyungsoo mengerutkan keningnya, bukankah ini masih terlalu pagi bagi Kai untuk berangkat ke kantor. Kai biasanya berangkat pukul 8 pagi.
"Kau mau pergi ke mana sayang? Bukankan sekarang masih terlalu pagi jika kau ingin berangkat ke kantor. Bahkan aku belum menyelesaikan memasak untuk sarapan kita." Tanya Kyungsoo saat Kai berada di depannya.
"Aku harus datang lebih pagi untuk menyiapkan presentasi." Jawab Kai dingin tanpa melihat ke arah Kyungsoo.
Kyungsoo tertegun melihat sikap Kai yang begitu dingin kepadanya. Ia merasa dadanya sesak atas perlakuan Kai kepadanya. Namun dengan cepat ia mengganti ekspresinya agar tidak ada satu orang pun yang tahu apa yang dirasakannya.
"Kalau begitu bisakah kau menunggu sebentar sampai masakannya matang. Lalu kita akan sarapan bersama." Tanya ibu Kyungsoo kepada Kai.
"Tidak perlu ma, aku akan sarapan di luar saja. Saya permisi dulu. Sampai jumpa."
Kai pergi begitu saja tanpa mengucapkan salam perpisahan. Selama dua tahun pernikahan mereka, Kai mempunyai kebiasaan mencium dahinya sebelum ia berangkat bekerja. Mata Kyungsoo sudah mulai berkaca-kaca. Bahkan Kai tidak sudi untuk menatap dirinya.
"Semua akan baik-baik saja nak. Percayalah kepada mama." Suara lembut ibunya memecah lamunan Kyungsoo. Sang ibu mengusap bahu Kyungsoo yang bergetar perlahan. Memberikan dukungan moral kepada anaknya bahwa ia pasti mampu melalui semua ini. Cukup sudah, Kyungsoo sudah tidak mampu lagi menahan tangisannya. Ia membekap mulutnya erat dan menangis semakin keras kala tubuh rapuhnya dipeluk oleh ibunya.
"Mama, Kai membenciku. Kai tidak bisa memaafkanku. Apa yang harus kulakukan untuk menghadapi semua ini."
"Sttt. Kai tidak membencimu sayang, ia sangat mencintaimu dan kau pasti tahu itu dengan pasti. Bersabarlah sayang. Percayalah jika kau bisa melewati semua ini dengan baik-baik saja."
Ibunya mendekap Kyungsoo lebih erat. Mendengar tangisan dari Kyungsoo mau tidak mau juga ikut menyayat hatinya. Tidak pernah terbayangkan dalam benaknya jika Kyungsoo akan mengalami masalah sepelik ini. Ia sendiri yang menjadi saksi betapa berubahnya sikap Kai kepada istrinya. Semenjak Kyungsoo menolak untuk melakukan aborsi sikap Kai tidak sehangat dulu kepada Kyungsoo. Kai menjauhi Kyungsoo. Kai akan selalu menghindar jika ia dan Kyungsoo berada dalam satu ruangan yang sama. Bahkan kini Kai lebih memilih tidur di kamar yang berbeda dengan Kyungsoo. Tidak ada lagi tatapan penuh cinta yang diperlihatkan Kai. Ia akan menghindari bertatapan mata langsung dengan Kyungsoo. ibunya hanya bisa berharap masalah yang dihadapi oleh anaknya akan segera berakhir dan Kyungsoo diberikan kesabaran untuk melalui ini semua.
.
.
.
.
.
.
Kai mencium tangan ibunya penuh sayang. Kali ini ia berada di kediaman orang tuanya. Kai berbohong kepada Kyungsoo. Ia berangkat pagi bukan untuk pergi bekerja melainkan untuk mengunjungi rumah orang tuanya yang letaknya cukup jauh dari rumahnya. Pikirannya akan pecah jika dia mengalami masalah seperti ini dan memaksakan untuk tetap bekerja.
Suara kicauan burung dari taman belakang kediaman orangtuanya mampu untuk merilekskan pikiran Kai untuk sejenak. Ditemani oleh secangkir teh hijau yang dibuatkan oleh ibunya dan semilir angin sejuk yang membuat jiwanya tenang.
"Bagaimana keadaan Kyungsoo?"
"Dia baik-baik saja."
"Benarkah jika ia baik-baik saja? Dia baru saja mengalami musibah yang besar, nak."
Berbagai perasaan berkecamuk di dalam pikiran Kai jika itu menyangkut Kyungsoo. ia meletakkan cangkir tehnya yang masih tersisa setengah ke meja lalu menghadapkan badannya untuk lebih dekat ke ibunya.
"Kyungsoo tidak baik-baik saja bu. Seminggu setelah kejadian itu ia berubah menjadi pemurung. Bukan hanya itu ia juga jarang makan. Ia hanya meminum susu untuk ibu hamil. Karena itulah tubuhnya menjadi lebih kurus daripada sebelumnya. Wajahnya juga tampak pucat."
"Bagaimana denganmu?"
"Aku baik-baik saja bu."
"Melihat penampilanmu yang tidak jauh berbeda dengan keadaan Kyungsoo cukup membuktikan bahwa kau tidak baik-baik saja sayang. apa yang sebenarnya mengganggu pikiranmu? Ceritakanlah kepada ibu."
Kemudian tanpa bisa ditahan lagi mengalirlah semua perasaan yang dirasakannya selama ini. dia menumpahkan segala cerita kepada ibunya. Ibunya pun mendengarkan secara seksama keluh kesah anaknya.
"Tidakkah kau berpikir jika ini semua bukan salah Kyungsoo?"
"Tidak ini salah Kyungsoo. Jika ia tidak gegabah anakku tidak akan terlahir menjadi anak cacat."
Ibu Kai mengelus perlahan pergelangan tangan Kai, berusaha meredakan emosi anaknya.
"Kai, pernahkan kau memposisikan dirimu sebagai Kyungsoo? Bukan keinginannya untuk menerima musibah seberat ini nak. Dia pasti juga merasa hancur. Bisa kau bayangkan betapa hancurnya hati Kyungsoo harus menerima kenyataan bahwa ia sendiri yang mencelakai anaknya. Ini semua sudah takdir yang harus kalian hadapi nak. Jangan lagi kau menyalahkan Kyungsoo karena ini bukan salahnya. Berat untuk Kyungsoo menghadapi ini semua sendiri. Ia membutuhkanmu sayang."
"Kenapa semua orang selalu berkata jika ini berat untuk Kyungsoo. ini juga berat buatku bu. Anak yang selama ini kudambakan akan berubah menjadi malapetaka hanya dalam sekejap dan ini semua salah Kyungsoo."
"Ini bukan hanya berat untuk Kyungsoo sayang. Ini juga berat bagi kita semua. Jujur ibu juga merasa sedih karena Kyungin merupakan cucu pertama ibu. Namun kembali lagi ini semua sudah takdir yang sudah digariskan oleh Tuhan. Bahkan kau termasuk beruntung sayang, karena kau telah diamanatkan oleh Tuhan untuk menjaga anak yang special. Semua ini anugrah yang patut untuk disyukuri nak. Mendapatkan seorang anak berkebutuhan khusus bukan suatu malapetaka."
Air mata mulai membasahi pipi Kai. Ia mulai mencerna perkataan ibunya. Perkataan ibunya serasa menohok hatinya. Karena semua yang dikatakan oleh ibunya benar adanya. Ia bersikap terlalu egois yang hanya memikirkan diri sendiri tanpa memikirkan perasaan istrinya. Kembali ia bersikap brengsek yang hanya bisa menyakiti Kyungsoo.
"Apa yang harus kulakukan bu? Aku sangat mencintai Kyungsoo namun aku tidak bisa memaafkan Kyungsoo begitu saja yang telah membuat anakku tidak normal. Aku menderita melihat Kyungsoo yang begitu tersiksa namun egoku tidak membiarkanku untuk membatu Kyungsoo melewati saat-saat terpuruk."
"Mulailah dengan menerima takdir ini sayang. Takdir yang digariskan bahwa Kyungin merupakan salah satu anak yang special. Jangan membiarkan Kyungsoo melalui semua ini sendiri. Telalu berat baginya untuk menanggun semuanya sendiri. Genggam tangannya dan laluilah ini bersama-sama. Ibu yakin kalian pasti akan melewati semua ini dengan baik-baik saja."
.
.
.
.
.
.
Kyungsoo memandang sendu jendela kamarnya yang menampilkan langit malam tanpa bintang. Seakan langit-pun ikut merasakan kesedihan yang dialami oleh Kyungsoo. kembali benaknya mengingat sikap dingin Kai yang ditunjukkan kepadanya. Ia tahu jika Kai sangat membencinya karena kelalaiannya Kyungin menderita. Namun itu semua diluar kehendak Kyungsoo. Kyungsoo tahu jika Kai sampai sekarang belum bisa menerima kenyataan pahit ini.
Tangan mungil Kyungsoo meraba permukaan perutnya yang membuncit. Ia elus dengan penuh kesayangan janin yang berada di dalam kandungannya.
"Sayang maafkan mama nak. Karena kesalahan mama kau yang tidak berdosa harus menanggung akibatnya. Maukah kamu memaafkan mama, Kyungin sayang?"
Sebuah tendangan yang berasal dari perut Kyungsoo menjadi jawaban atas pertanyaannya kepada Kyungin.
"Terima kasih sayang kau sudah memaafkan mama. Mama berharap papa juga akan memaafkan mama sama seperti kau yang memaafkan mama."
Jadilah kuat sayang. Karena kau-lah yang akan menjadi penyatu antara aku dan Kai. Mama berjanji mama akan menjadi lebih kuat untuk mempertahankanmu sayang. Mama mencintaimu.
Pintu kamar terbuka menampilkan sosok Kai dengan penampilan yang berantakan dengan mata memerah. Kyungsoo menduga jika Kai sehabis menangis. Terbukti dengan masih adanya jejak airmata yang ada di pipi suaminya. Kyungsoo sudah akan maju mendekat ke arah Kai dan memeluknya. Namun ia urungkan niat itu begitu mengingat fakta bahwa Kai masih menghindarinya. Kai sendiri terkejut mendapati Kyungsoo masih terjaga di kamar. Semenjak kehamilannya, Kyungsoo mempunyai jadwal tidur lebih awal. Oleh karena itu tadi ia dengan percaya diri masuk ke kamar ini bermaksud untuk mengambil pakaian di lemari. Ia yakin Kyungsoo sudah tertidur namun ternyata ia salah.
Suasana canggung tidak dapat dihindari. Keduanya hanya saling menatap tanpa memecahkan kesunyian yang ada diantara mereka. Yang satu menatap dengan penuh kerinduan sedangkan yang satunya menghindari tatapan lawannya. Kai maju perlahan melewati Kyungsoo untuk mengambil baju yang letaknya ada di belakang Kyungsoo. sedangkan Kyungsoo sendiri hanya bisa mengikuti setiap langkah Kai dengan tatapan mata nanar.
Saat selesai mengambil baju, Kai bermaksud untuk langsung keluar tanpa berbicara dengan Kyungsoo. Meskipun hatinya ingin, namun ia masih belum siap jika harus berhadapan dengan Kyungsoo. Tapi langkahnya terhenti ketika tangan Kyungsoo mencekal lengannya mencegah untuk pergi.
"Kai, we need to talk."
"Tidak ada yang perlu dibicarakan Soo. Sudahlah sekarang aku lelah ingin berisirahat."
"Tidak, kita harus bicara Kai. Mengapa selama ini kau menghindariku? Apakah kau marah kepadaku atas semua kejadian ini."
Kai melepaskan tangan Kyungsoo yang berada di lengannya. Lalu ia berbalik berhadapan dengan Kyungsoo. Mungin kali ini saatnya bagi mereka untuk menyelesaikan semua masalah yang tengah dihadapi. Ia menatap kedua bola mata Kyungsoo yang indah. Ya Tuhan Kai sungguh merindukan keindahan mata milik istrinya itu.
"Ya. Aku marah kepadamu karena kelalaianmu yang menyebabkan Kyungin menjadi seperti ini. dan aku juga marah kepada diriku sendiri karena aku tidak mampu menjagamu dan Kyungin, dua wanita yang sangat berharga bagiku."
Air mata jatuh dari pelupuk mata Kyungsoo, lalu ia berkata, "Maafkan aku. Sungguh maafkan aku."
Kai menghapus air mata Kyungsoo kemudian menciumnya lembut. Tangis Kyungsoo semakin menjadi karena ia dapat merasakan Kai yang mencintainya telah kembali. Kai memeluk Kyungsoo erat, melepaskan semua kerinduan yang dipendamnya selama ini. Saat Kai memeluk Kyungsoo seakan ia kembali menemukan kepingan dirinya yang tengah hilang. Kai tidak akan melakukan kesalahan yang sama hingga kehilangan Kyungsoo. Demi apapun dia tetap akan mempertahankan Kyungsoo tetap berada di sisinya.
"Kalau begitu kau bisa menerima Kyungin apa adanya sayang?" tanya Kyungsoo kepada Kai setelah mereka melepaskan pelukan.
"Tidak sayang. Aku tetap tidak menerima jika anakku akan terlahir cacat."
Bagai tersambar petir, Kyungsoo sangat terkejut akan perkataan yang dilontarkan oleh mulut Kai. Ia tersentak hingga tanpa terasa langkahnya mundur menjauhi Kai. Dia tidak mengerti dengan jalan pikiran Kai saat ini. Bukankah Kai sudah memaafkan dirinya. Jika ia sudah dimaafkan tentu saja Kai dapat menerima Kyungin bukan?
"Apa maksudmu yang sebenarnya Kai?"
"Aku memang sudah memaafkan kesalahanmu Kyungsoo. Tetapi aku tidak terima jika Kyungin terlahir menjadi anak cacat. Maka dari itu lakukanlah aborsi dan kita bisa membuat Kyungin-Kyungin yang lain di kemudian hari"
Sebuah tamparan tepat mendarat di pipi Kai. mata Kai terbelalak ketika ia mendapati Kyungsoo baru saja menamparnya.
"APA YANG SUDAH KAU KATAKAN? MELAKUKAN ABORSI? SAMPAI MATIPUN AKU TIDAK AKAN SUDI MELAKUKAN ABORSI. KYUNGIN INI ANAKKU. MESKIPUN DIA TERLAHIR CACAT DIA TETAP ANAKKU. AKU TIDAK AKAN PERNAH MENURUTI APA KEINGINANMU."
"Kumohon mengertilah Soo. Dengan melakukan aborsi satu kali tidak akan membuatmu tidak bisa memiliki anak lagi. kita bisa melakukan program memiliki anak setelah aborsi dijalankan."
"Apa kau sudah gila! Demi Tuhan Kai, Kyungin ini anakmu. Tidakkah kau mempunyai sedikit rasa kepedulian akan darah dagingmu sendiri."
"JUSTRU AKU SANGAT MEMPERDULIKAN KYUNGIN."
"PEMBOHONG JIKA KAU PEDULI KEPADA KYUNGIN KAU TIDAK AKAN TEGA UNTUK MEMBUNUHNYA."
"BERHENTILAH BERKATA SEPERTI ITU. AKU SANGAT MENGKHAWATIKRAN KYUNGIN. Bagaimana nanti jika ia besar lingkungan sosialnya tidak dapat menerima anak berkebutuhan khusus seperti Kyungin. Ia akan dihina, dikucilkan, bahkan dicampakkan oleh orang-orang. Demi Tuhan Kyungsoo, aku melakukan ini semua justru karena aku sangat mencintai Kyungin. Aku sangat peduli kepadanya hingga aku tak sanggup melihat Kyungin yang akan menghadapi hidup yang sangat berat."
Keduanya menangis meratapi takdir yang menimpa mereka. kyungsoo baru mengetahui ternyata inilah yang ada di dalam benak Kai selama ini. Ia terlalu mengkhawatirkan kehidupan Kyungin kelak jika ia tidak melakukan aborsi.
"Sayang apakah kau baik-baik saja?"
Mata Kyungsoo mulai memburam ketika ia mendengar suara panik Kai yang menanyakan keadaannya. Ia akan menjawab baik-baik saja sebelum Kyungsoo merasakan sakit yang luar biasa yang bersumber dari perutnya. Kyungsoo mengerang kesakitan hingga jatuh terduduk di atas lantai. Dia bisa merasakan Kai yang menggendongnya panic ke luar rumah.
"Ya Tuhan kau mengalami pendarahan. Bertahanlah Kyungsoo aku akan membawamu ke rumah sakit."
Kyungsoo bisa merasakan jika saat ini Kai tengah mendudukkannya di dalam mobil. Tangannya masih mencekeram erat perutnya menahan rasa sakit yang semakin menjadi-jadi. Hingga kesadaran Kyungsoo terenggut sepenuhnya karena ia sudah tidak kuat lagi merasakan sakit yang menderanya.
(TBC/END)
Mind to review?
