Bleach © Tite Kubo
A/N: Saking stressnya, saya juga update yang ini. XD Gak tahu deh kalo ntar melem juga publish ato update yang lainnya. Makasih buat yang review chapter kemarin. ^^
Fasten Your Belt, Please
Kedua tangan mungilnya mengangkat tinggi-tinggi satu jenis pakaian yang membuatnya tak berhenti merasa heran dengan dunia manusia. Ia melepas salah satu pegangan dan membuat pakaian itu terkulai pada satu tangan. Tangan yang lain ia letakkan pada pinggangnya dan membawa pakaian itu mendekati wajahnya. Tanpa berpikir, ia mengendus pakaian berwarna biru gelap itu dan kepalanya sedikit berputar akibat bau pewangi yang kuat.
Ia menjauhkan pakaian itu sambil memegang kepalanya, menjatuhkannya tiba-tiba pada tempat tidur Ichigo dan menatapnya tajam. Ia sedikit gemetar ketika angin yang masuk dari jendela kamar Ichigo yang terbuka lebar mengenai kulitnya. Tubuhnya masih terbalut handuk, hanya mengenakan bra dan celana dalam di baliknya.
Tak lebih dari lima menit lalu, ia baru selesai mandi. Ia menemukan kesempatan langka ketika ayah dan kedua adik Ichigo sedang tak berada di rumah saat sabtu siang. Tapi bukannya menemukan baju terusan yang tadi ia letakkan di atas kasur Ichigo, ia malah menemukan pakaian lain, blus ungu muda dan celana denim yang tengah ia tatap tajam. Di sampingnya ada sebuah ikat pinggang berwarna coklat tua yang melingkar.
Tak ingin merasa lebih dingin, ia segera memakai pakaian yang tak biasa baginya. Ia sedikit berputar ketika melihat ke arah belakang tubuhnya, meraba kedua pantatnya yang terasa lebih menonjol dan seperti terangkat. Ketika ia mencoba untuk berjalan, ia merasa celana yang dipakainya sedikit melorot dan memperlihatkan celana dalam krem yang dipakainya. Dengan wajah sedikit memerah, ia memegang ujung celana dengan kedua tangan dan ia tarik agar tak melorot. Ketika melakukan hal itu, ia menyadari celah yang terdapat antara kulit dan celana di sekitar pinggangnya.
Kedua alisnya berkerut, ia tak mungkin pergi dengan terus memegang celananya ketika berjalan. Kemudian ia merasa jarinya terselip ketika kembali menaikkan celana, ia melihat rongga yang terdapat di sekitar bagian pinggang celana. Biru-violet tertuju pada ikat pinggang di atas kasur dan rongga kecil yang menyelipkan jarinya. Sedikit ragu, ia meraih cepat ikat pinggang itu dan segera memakainya.
"Hei, Rukia! Cepatlah, kita sudah terlambat!" ia tersentak mendengar Ichigo berteriak dari bawah.
"Tak usah berteriak, strawberry! Aku bisa mendengarmu!" ia merapikan rambut pendeknya dengan tangan dan membiarkan handuk yang tadi dipakainya tergeletak di lantai. Ia berlari keluar dan menghampiri Ichigo yang tengah berdiri bersila dada sambil mengetukkan kakinya ke lantai dengan sedikit bergumam.
"Lama sekali." Ia mengerutkan kedua alisnya dalam ketika melihat Ichigo menatapnya tajam.
"Bukan salahku. Apa maksudmu mengganti pakaianku seperti ini?" ia menunjuk dua pakaian yang telah dipakainya.
"Heee… tak kusangka akan pas. Kemari sedikit." Ia menggerakkan jarinya dengan gestur agar Rukia berdiri di hadapannya.
"A-apa yang kau lakukan!" ia menampik tangan Ichigo yang menaikkan blusnya tiba-tiba.
"Tch! Pakai ikat pinggangmu dengan benar. Aku bisa melihatmu." Biru-violet terus menatap tajam kepala Ichigo yang kini sejajar dengan penglihatannya. Wajahnya sedikit memerah ketika menyadari apa yang Ichigo maksud dengan 'aku bisa melihatmu'.
"Baka." Ia melihat ke arah lain ketika Ichigo kembali menurunkan blusnya dan berdiri tegak.
"Heh, setidaknya kau manis seperti ini." Kedua matanya terbelalak ketika Ichigo melumat bibirnya tiba-tiba. "Ayo."
Ia menutup mulutnya dengan satu tangan ketika Ichigo menggandeng tangannya yang lain, berjalan keluar dari rumah dan menuju taman bermain.
Glossy Lip
Rukia menatap pantulan wajahnya pada sebuah cermin kecil di tangan kiri. Biru-violet tertuju pada bibirnya yang ia gerakkan dalam pose berbeda. Wajahnya ia bawa ke samping kanan maupun kiri, melihat bibirnya dalam berbagai sudut. Tak jauh dari siku tangan kanannya, terdapat satu tabung kecil dengan tutup bening yang berdiri tegak lurus.
Benda itu ia dapat dari Inoue ketika ia bertanya apa fungsi dari tongkat mini berwarna merah muda yang tengah ia bawa. Dengan mata berbinar, Inoue mulai menjelaskan panjang lebar dengan apa yang disebut dengan lipgloss, membuat Rukia kembali melupakan apa yang telah dijelaskan kecuali beberapa hal dasar seperti bagaimana menggunakannya. Dan sekarang, duduk di meja Ichigo sambil menggerakkan kakinya maju dan mundur, ia terus menatap bibirnya yang terpoles lipgloss warna merah muda.
Setelah puas terus-menerus memandangi bibirnya sejak tadi, ia menaruh cermin kecil itu dan meraih lipgloss, menyembunyikannya di bawah bantal dalam lemari. Ia segera keluar kamar Ichigo dan menuju dapur untuk mencari minum, tak perlu khawatir dengan keberadaan keluarga Ichigo yang lain, sebab penemuan tak sengaja oleh manusia alarm terhadapnya di dalam lemari beberapa hari lalu membuatnya harus mengarang cerita agar diizinkan tinggal.
Ia mengeluarkan nafas lega ketika hawa dingin keluar dari pintu kulkas yang dibukanya, ia segera meraih gelas dan menuang penuh jus jeruk dingin. Setelah menutup pintu kulkas, ia duduk di meja makan dan menyesap pelan jus dinginnya, berusaha agar lipgloss di bibirnya tak terlalu menempel pada gelas.
"Rukia…" ia hanya menatap Ichigo yang berjalan mendekatinya, kerutannya terlihat lebih dalam dari biasanya, mungkin karena suhu yang terlalu panas.
"Hei!" ia berusaha meraih kembali gelasnya yang masih berisi setengah penuh dari tangan Ichigo, tapi karena Ichigo berdiri dan dirinya duduk, tak ayal hal itu menjadi mustahil baginya. "Ambil jusmu sendiri. Itu milikku."
"Siapa bilang? Kau mengambilnya dari kulkas, dan itu aku yang membeli. Jadi ini juga milikku." Alisnya berkerut menatap Ichigo yang menghabiskan jusnya dengan cepat. Kesal dengan melihat ekspresi lega Ichigo, ia mengambil ancang-ancang dari bawah kursi untuk menendang tulang keringnya.
"OW!" ia tersenyum puas melihat Ichigo yang tengah melompat sambil memegang tulang keringnya. Ia terus menatap Ichigo yang kini duduk di hadapannya dengan sedikit meringis kesakitan. "Hei, kau pakai apa di bibirmu?"
"Apa urusanmu?" sebelah alisnya terangkat satu dan ia bersandar pada kursi sambil bersila dada.
"Kau tak cocok pakai seperti itu. Cepat hapus." Sepasang biru-violet berkilat mendengar pernyataan yang keluar begitu saja dari bibir Ichigo tanpa berpikir.
"Kenapa kau melarangku?"
"Kubilang kau tidak cocok! Cepat hapus!"
"Tidak mau!"
"Keras kepala." Tubuhnya yang telah berdiri untuk menghindari tangan Ichigo yang meraihnya terhantam pada pintu kulkas dan kedua matanya tertutup karenanya.
Tangannya menggenggam erat baju Ichigo ketika ia merasakan lidah Ichigo menjilat sepanjang bibirnya. Kedua bahunya terasa sedikit sakit akibat tangan Ichigo yang menahannya di pintu kulkas terlalu kuat, punggungnya nyeri ketika bertemu kontak dengan beberapa magnet timbul yang terpasang cukup banyak. Ia tak bisa melepaskan diri dari Ichigo ketika bibirnya mulai dilumat pelan, air liurnya terasa mengalir pelan dari celah bibirnya yang dimasuki oleh lidah Ichigo. Kedua kakinya tak mampu menahan tubuhnya lebih lama, jika bukan karena tangan Ichigo yang masih di bahunya, mungkin ia sudah merosot ke lantai.
"Nah, sudah terhapus. Aku tak ingin orang lain melihat dan berpikir yang tidak-tidak tentang bibirmu. Ini milikku." Tubuhnya sedikit gemetar ketika jempol Ichigo mengusap pelan bibirnya. Ia mengambil nafas panjang dan membiarkan tubuhnya merosot ketika Ichigo melepaskan kedua bahunya dan berjalan meninggalkannya di dapur. Biru-violet terpejam dan menyandarkan kepalanya pada pintu kulkas. Senyum kecil itu muncul saat mengingat lagi kata-kata posesif yang baru kali ini terucap dari bibir Ichigo.
Honeymoon
"Hei Ichigo, honeymoon itu apa?" ia menatap dengan antusias ketika si pemuda berambut cepak yang berdiri di hadapannya menyemburkan Ramune rasa cola dengan mata terbuka lebar. Ichigo sempat terbatuk karena soda yang serasa naik ke kepalanya.
"A-apa?" Ichigo mengusap dagunya yang dipenuhi aliran air soda yang menetes dari mulutnya.
"Honeymoon… apa maksudnya? Apa itu sejenis festival? Atau kau akan makan madu dalam satu bulan terus-terusan?" ia terus mendekatkan tubuhnya pada tubuh Ichigo yang secara insting menjauhinya.
"U-uuuh…" biru-violet yang terbuka lebar itu masih terus menatap Ichigo yang kini membuang muka, berusaha menyembunyikan rona merah yang perlahan muncul di pipinya. Entah karena pertanyaan atau karena tubuh Rukia yang terlalu dekat.
"Apa Ichigo? Cepat beritahu." Ia memiringkan kepalanya agar bisa melihat Ichigo tepat di mata. Lagipula ini pertama baginya untuk mendapat respon tak biasa dari Ichigo ketika ia bertanya sesuatu.
"Darimana kau mendengar hal itu?" ia mengedipkan kelopak matanya berulang kali, berusaha mengingat darimana ia mendengar satu kata yang membuat Ichigo mengeluarkan reaksi cukup heboh.
"Dari Inoue dan yang lainnya waktu makan siang. Aku cuma bisa mendengar dan tersenyum saja ketika mereka menanyaiku macam-macam."
"Kalau begitu jangan mendengarkan mereka." Ia menatap sebal punggung Ichigo yang berjalan menuju kran air minum di pinggir taman.
"Tapi aku penasaran. Mereka bilang kalau itu hal yang bagus, bahkan lebih dari bagus. Ayolah Ichigo~" ia berjalan mengikuti Ichigo yang kini menutup kenop keran dan berhenti ketika Ichigo berbalik arah kepadanya dan berkacak pinggang.
"Dengar, apapun yang mereka bilang bagus, itu sama sekali tidak bagus, kau mengerti? Mungkin bagus jika sudah bertahun-tahun kemudian di saat kau sudah cukup umur."
"Apa maksudmu?" ia memiringkan kepalanya, melebarkan biru-violet agar Ichigo mau menjelaskan lebih banyak. Ia tak peduli kalau Ichigo terlihat bosan sampai memutar kedua honey-ambernya.
"Ayolah… apa kau belum mengerti juga? Kau akan mengerti kalau aku sudah melamarmu!" ia menatap heran pada Ichigo yang kini menutup mulutnya dengan kedua tangan, disertai peluh yang bermunculan di keningnya.
"K-kau bilang apa, Ichigo?" ia bertanya, berusaha meyakini dirinya sendiri kalau apa yang tadi didengarnya sama sekali bukan main-main belaka.
"B-bukan apa-apa! Lupakan!" saat ini Ichigo tengah mengibaskan kedua tangannya, membentuk gestur pada Rukia untuk melupakan apa yang sudah dikatakan. Tapi Rukia adalah Rukia. Tak mungkin rasanya ia melewatkan satu berita yang membuat Ichigo serasa ingin dimutilasi.
"Ayolah. Kau tadi bilang ingin melamarku!" dan kini dengan senang ia mengejar Ichigo yang dengan panik berlari meninggalkannya.
"Tidak! Kau salah dengar, midget!"
"Ichigo akan melamarku!"
"Aaaaaah…!"
Insensitive
Ada kalanya ketika gadis bermata biru-violet itu benar-benar marah. Di ujung penglihatannya, ia melihat siluet satu pemuda yang dikenalnya betul tengah berbicara akrab dengan senior yang dikenal paling cantik. Di kepalanya berputar berbagai macam alasan bagaimana Ichigo yang sering dijauhi wanita, kini bisa berbicara santai dengan senior. Ia menggigit bibir bawahnya ketika ia melihat Ichigo menyunggingkan seringai dan membuat wajah si senior bersemu kemerahan.
"Sial kau Ichigo. Kau menyuruhku menunggu di depan gerbang sampai kakiku sakit, ternyata ini yang kau lakukan di belakangku." Ia menggenggam erat satu bungkus roti yang dibelinya karena capek menunggu. Kedua matanya berkilat ketika si senior mengulurkan kedua tangannya untuk kemudian menggenggam tangan kanan Ichigo dan tersenyum.
Dan yang paling membuatnya semakin geram, Ichigo sama sekali tak keberatan ketika disentuh seperti itu. Ia ingat ketika pertama kali mereka bertemu, bukan sapaan dan genggaman tangan yang ia dapat, malah dampratan dan tendangan yang ia terima. Di dalam hati, ia ingin membalas perlakuan yang didapatnya hari itu.
Biru-violet semakin membesar ketika si senior menarik Ichigo agar merunduk dan kemudian ia mendaratkan satu ciuman di pipi. Hal itu membuat Ichigo sedikit kaget dan hanya tersenyum, seakan itu bukan apa-apa.
"Cukup. Kau akan merasakan akibatnya, jeruk sial!" ia menutup mata sebentar dan mengambil nafas panjang, berjalan keluar dari tempat persembunyiannya dengan sinyal membunuh yang ditujukan pada dua orang yang masih belum menyadari kedatangannya.
"KUROSAKI ICHIGO! HARI INI KAU MATI!" ia berjalan tergesa ke arah Ichigo yang kini menatapnya horor. Ia segera melepaskan tangannya dari genggaman si senior dan berjalan mundur.
"Ru-Rukia! Ini bukan seperti yang kau pikirkan!" ia tak peduli, tak ingin mendengarnya, seakan ada selaput bening yang menutupi indera pendengarannya saat itu juga, mencegahnya untuk mendengar kalimat-kalimat memohon yang keluar dari bibir panik Ichigo.
"Mataku melihat lain!" dengan sekuat tenaga, ia mulai mengejar Ichigo yang kini telah berlari menghindarinya. Sekilas, ia melihat si senior hanya tersenyum melihat mereka dari pinggir.
oooOoooOooo
"Oooh… begitu ya?" ia hanya bisa melihat dua tangannya yang ia tangkupkan di atas pangkuan.
"Kau mengerti kan? Makanya dengarkan dulu baru memukul. Aduh!" ia mengangkat wajahnya, menatap Ichigo yang kini tengah menekan lebam di pipi dengan sekantung es.
"Salahmu sendiri. Tak perlu keenakan digandeng dan dicium olehnya kan?" ia bersila dada dan menatap arah lain ketika Ichigo berbalik menatapnya.
"Sudah kubilang, itu cuma sekadar sentuhan biasa. Lagipula dia bilang sendiri kalau itu sebagai hadiah terakhir." Ia semakin kesal ketika Ichigo membuatnya mengingat lagi gambaran-gambaran yang didapat dengan melihat sendiri.
"Memintamu jadi pacar dan memberikan ciuman sebagai tanda perpisahan jika ditolak? Itu lebih dari sentuhan biasa. Kau jenius, Kurosaki." Ia tak melihat raut wajah Ichigo yang sedikit berubah ketika menyebutnya dengan nama keluarga.
"Kau tahu kalau aku tak seperti itu kan? Aku tak bisa menolak jika ia melakukannya tiba-tiba. Masih bagus bukan bibir." Mood-nya serasa melayang jauh. Membayangkan Ichigo berciuman dengan gadis lain membuatnya gelap mata.
"Kau takkan berani." Ia melempar tatapan membunuhnya ke arah Ichigo.
"Yeah… terserah." Ia masih sedikit merasa tidak senang ketika Ichigo menutup jarak. Merasakan dua tangan Ichigo menangkup wajahnya dan ia menutup mata, terbawa arus.
Setelah beberapa saat, ia yang lebih dulu melepaskan diri. "Jika kau ingin membicarakan tentangku dengan gadis lain, tak perlu menggandeng tangannya." Ia berdiri sambil menepuk pipi lebam Ichigo, membuat Ichigo menjerit kesakitan dan ia hanya menyeringai meninggalkannya keluar.
Juice Box
Ia mengeluarkan nafas berat ketika angin kering menyentuh wajahnya. Rambutnya yang sedikit lembab karena keringat itu menempel pada dahi yang juga berpeluh. Ia melihat keadaan di sekitarnya, mengitari lapangan yang terlihat menguap karena fatamorgana sinar matahari. Di dekatnya, murid-murid lain juga berlari dengan ekspresi dan kondidi sama, kritis karena dehidrasi.
"Ayo cepat! Lima putaran lagi dan selesai!" ia mendecak ketika suara nyaring Kagine-sensei membuat telinganya mendenging. Serius, tak adakah kegiatan yang lebih menarik ketika jam olahraga daripada harus berlari di bawah sinar matahari yang terlalu terik? Setidaknya bermain basket atau dodgeball di ruang olahraga lebih terkesan normal di musim panas. Atau mungkin bisa masuk ke kolam renang yang sudah dibuka lagi seminggu lalu.
Tapi tidak, Kagine-sensei lebih senang melihat muridnya sengsara dipenuhi peluh dan dehidrasi. Betapa ia ingin menendang tulang kering Kagine-sensei sampai ia pingsan saking sakitnya. Tak sadar, ia menyeringai membayangkan gurunya pingsan dan murid-murid yang bersorak kegirangan karena bebas dari neraka.
Penglihatannya sekarang sudah terlalu parah. Bahkan ia bisa melihat dua Inoue yang berlari di hadapannya. "Uugh… seratus meter dan aku mati."
Ia terus membawa lari tubuhnya walau kepalanya sudah berkunang-kunang. Dan ketika ia menyentuh garis finish, bersamaan dengan murid lain, mereka mulai berjalan terseok ke arah pinggir dan berjalan menuju keran air. Ia melipat wajah ketika melihat keran-keran air yang telah dipenuhi kepala dari murid lain, bahkan ada yang sampai rebutan di satu keran. Kembali menghembuskan nafas, ia berbalik dan berusaha menjauh.
Ketika berjalan dengan memejamkan mata, ia sama sekali tak tahu jika ia akan menabrak seseorang. "Ah, maaf."
"Yo, midget!" kontan ia membuka matanya dan menatap Ichigo yang menyeringai di hadapannya.
"Apa?" ia hanya menatap Ichigo dengan ekspresi bosan.
"Tak ada respon lain?" ia hanya menggelengkan kepala, merasa tak punya tenaga untuk memulai pertengkaran konyol dengan Ichigo. "Ini."
Biru-violet berkilat ketika menatap tangan Ichigo yang menggenggam satu kotak jus ke arahnya. "Untukku?"
"Hm…" dengan senang ia merebut jus strawberry yang didapatnya cuma-cuma. Ia menggigit bibir bawahnya ketika masih sadar kalau ia sama sekali tak mengerti bagaimana cara kerja jus kotak. "Sini."
Ia tersentak ketika Ichigo menunduk dari balik punggungnya dan menancapkan sedotan pada lingkaran mini aluminium foil di atas kotak. Tak peduli dengan Ichigo yang keenakan memeluknya dari belakang, ia terus menyesap cairan manis dan dingin itu.
