magemage malas login LOL~ username-mu mencerminkan segalanya[?]. Iya, chapter lalu masih Prolog jadi sedikit lebih pendek, soalnya kalo dibuat terlalu panjang bisa-bisa semua ceritanya selesai dan ketebak di prolog duluan :) Ileyra Chapter 1? well, ini udah release :) terima kasih atas typo-warning-nya :) Iya, ada kesalahan waktu posting pertama kali, translationnya belum diketik, hehe. anyway. translation added, di check ya :) Raikyoku3173 Giotto kabur dari... psst~ masih rahasia :D ditunggu ya update-annya. Kagami Hikari Haha, oke ini lanjutannya :D Suzuru Seiyo Salam Kenal, sebenarnya itu hanya judul sementara, karena aku sendiri belum menemukan judul yang pas, tapi tenang aja, selain akan ada adegan action, romance juga bakal menghiasi fanfic ini kok :) Ya, itu baru prolog, dan mungkin Spade akan muncul lagi di chapter selanjutnya [dan belum bisa diberi tahu kapan :) ] Translation added di chapter prolog, di check lagi ya :)
For those who have submitted reviews, thank you so much :) and yeah, translation added for the prologue-chapter. and please do leave me some review, so i know which part should be written or should be not. and also tell me if there's any Typo :)
Disclaimer : Maybe If KHR was mine, I would Make the second season of the anime, and made Giotto the heroin. LOL.
Chapter 1: Vanno E Vengono
Someone might come and go and we will never know when will it happen
o0o
"Dino-nii!"
Seorang pria berambut kuning madu menoleh kebelakang, mencari-cari sumber suara yang baru saja memanggilnya. Ia tersenyum hangat saat menemukan sumber suara tengah berlari menuju ke arahnya, Tsunayoshi Sawada. Seorang anak berumur 5 tahun dengan rambut coklat dan mata coklat-karamel.
"Tsuna!" pria yang kerap dipanggil Dino itu berjongkok, melebarkan tangannya lalu menangkap Tsuna dalam pelukannya. "Dino-nii!"
"Kau bermimpi lagi?"
Tsuna mengangguk pelan lalu membenamkan kepalanya dileher Dino. "Lagi-lagi meleka muncul... dan..dan..meleka... meleka punya pistol, dan pisau, dan gelgaji besal". Tagis Tsuna-pun akhirnya tumpah, membasahi baju Dino. Dino tersenyum, ia menepuk pundak Tsuna, lalu mengelus kepalanya agar membuat bocah kecil itu merasa tenang.
"Itu hanya mimpi, Tsuna"
Tsuna mendongakan kepalanya, menatap Dino dengan mata berair. Dino tersenyum ramah sambil mengeringkan wajah Tsuna yang mulai basah oleh air mata dengan salah satu tangannya, mengusapkannya secara lembut. "Tadi aku menonton berita pagi, dan mereka bilang di Jepang tidak ada kejahatan apapun"
"Hontouni?"
Dino mengangguk. "Lebih baik sekarang kau mandi, karena nanti kita akan menemani Romario ke supermarket"
Seulas senyum muncul, mengukir wajah Tsuna dengan indahnya. Ia memeluk Dino erat, dibalas oleh pelukan hangat Dino.
"Aku mandi dulu, Dino-nii" Tsuna mencium pipi Dino saat Dino melepaskan pelukannya dan membiarkan bocah kecil itu berlari masuk kedalam.
Vongola Orphanage, sebuah panti asuhan yang didirikan oleh seorang pria tua bernama Timoteo. Usianya kurang lebih 70 tahun. Ia kini menetap di Italia dan menyerahkan Vongola Orphanage pada cucu-cucu wanitanya. Nana dan Bianchi. Kedua wanita ini mengurus segala kebutuhan hidup di Vongola Orphanage, dibantu oleh Romario dan Giannini dalam pelaksanaannya.
Selain sebagai panti asuhan, Vongola Orphanage juga berfungsi sebagai tempat penitipan anak. Sebagian penghuninya adalah anak-anak yang dititipkan orangtuanya untuk bekerja, mereka akan diantar pada pagi hari dan dijemput saat menjelang malam.
Gedung Vongola Orphanage sendiri berbentuk kastil kuno dengan gaya Eropa khas. Terdiri dari puluhan kamar tidur dan 2 perpustakaan. Tidak hanya itu, gedung Vongola Orphanage sendiri memiliki kebun bunga dan buah di belakang, serta sebuah taman bermain dengan berbagai wahana seperti jungkat-jungkit dan ayunan.
"Tsuna, kau yakin hanya mau itu?" Dino bertanya sambil menunjuk kearah sekotak biskuit coklat yang dipeluk Tsuna. Tsuna menunduk, menatap kotak biskuit yang dipeluknya lalu mengangguk, "Aku cudah beljanji pada Gokudela dan Yamamoto untuk membeli ini jika ke cuperlmalket, Dino-nii"
Dino mengusap dagunya, "Apa itu cukup? Selagi kita di supermarket belilah sesuatu yang lain, toh ada Romario bersama kita"
"Dino-san, apa barang yang kau beli tidak terlalu banyak?"
Dino menoleh, menatap pria bernama Romario dengan satu alis terangkat lalu menatap troli belanja yang ada disampingnya. Tumpukan makanan menjulang tinggi keatas, melebihi tinggi Dino sendiri. Dino tertawa, menampilkan deretan giginya yang mengkilap.
"Tidak apa-apa,kan? Toh akhirnya yang memakannya bukan hanya aku"
Setelah membayar semua barang-barang yang diperlukan, termasuk semuasnack milik Dino, mereka berjalan menuju tempat parkir, untuk meletakan semua barang belanjaan yang mereka bawa.
"Ah, Alaude-san" Dino melambaikan tangannya begitu ia melihat seorang pria bermantel hitam berdiri dihadapan mobil milik Romario. Pria yang disapa Alaude itu tak menggubrisnya, ia hanya berdecak kesal sambil merogoh kantong mantelnya. "Kali ini kau bebas" Ucap Alaude dingin sambil berjalan mendekat kearah Dino dan Romario serta Tsuna yang bersembunyi dibalik kaki Dino.
Untung aku sudah menyuruh Romario memarkirkannya di tempat yang benar...
"A-Alaude-san... Ma-Maafkan saya, Seharusnya waktu itu saya lebih berhati-hati untuk memarkirkan kendaraan" Romario membungkukan badannya, memohon maaf pada pria berambut perak yang memandangnya dengan tatapan tajam. Alaude mengangguk pelan, "il est bien" It's Ok, ucapnya singkat.
Alaude mengganti arah penglihatannya, menatap bocah kecil berambut coklat yang mencengkram erat celana Dino, rasa takut terpancar dari mata coklatnya.
"K-Konnichiwa, Alaude-cama"
Dino terkikik pelan mendengar ucapan Tsuna, ia mengelus kepala bocah kecil itu dengan penuh kehangatan. "Kenapa kau memanggilnya dengan sapaan –sama, Tsuna?"
Tsuna mendongak, menatap Dino yang masih tertawa pelan.
"Ka-Kalena Alaude-cama..." Tsuna terdiam. Ia mengeratkan cengkramannya di celana Dino dan tangan lainnya memeluk kotak biskuit yang tadi dibelinya. Dino tersenyum, "Apa boleh Tsuna memanggilmu 'Alaude-nii', Alaude?" Dino mengalihkan pandangannya menatap pria berambut perak dihadapannya, menampilka seulas senyuman yang dapat mencairkan suasana.
Alaude tak mengubah ekspresinya sedikitpun. Ia menatap Tsuna yang masih menatapnya dengan rasa takut, seolah Alaude adalah seekor binatang buas yang siap memangsanya kapanpun. "Aku harus pergi" ucapnya sambil berjalan melewati Dino, Romario dan Tsuna, meninggalkan ketiganya yang terdiam.
Dino menoleh, menatap punggung Alaude yang berjalan menjauh. Sigh...
o0o
"Terima kasih sudah membantuku, Tsu-kun" seorang wanita berambut coklat pendek tersenyum sambil mencoba memasukan sekantong makanan beku kedalam lemari es. "Cama-cama, Mama"
Tsuna menutup pintu lemari kabinet dengan kedua tangannya, lalu berjalan kearah Nana sambil tersenyum. Nana mengangkat alisnya, namun dengan segera ia tersenyum sambil mengelus kepala Tsuna.
"Kau ingin menemui, Gokudera-kun dan Yamamoto-kun, bukan?" tanya Nana ramah. Tsuna mengangguk penuh antusias. Nana tersenyum ramah, ia berdiri dan berjalan menuju sebuah laci dan mengambil sekantong permen. "Berikan ini pada mereka, dan ini untuk Kyoko-chan, mengerti?"
"Aye-Aye, sil"
Nana tertawa pelan. Ia mengambil 4 buah permen lolipop dari dalam kantong dan menyelipkannya didalam kantong baju Tsuna.
Begitu selesai bersiap-siap, Tsuna mencium pipi Nana lalu berlari menuju halaman belakang, tempat dimana taman bermain Vongola berada.
"Tenth!"
"Tsuna!"
Tsuna berhenti sesaat, ia tertawa riang dan kembali berlari menuju tempat Gokudera dan Yamamoto berada. Tsuna menunduk, kedua tangan menempel pada lututnya dan nafas terengah-engah saat ia sampai ditempat Gokudera dan Yamamoto. "Halo teman-teman-AH!"
Tsuna menjerit histeris saat menyadari permen lolipop yang ada di kantongnya berjatuhan ke tanah. Dengan segera Tsuna memungutinya dan mengelap permukaan plastik pembungkusnya dengan bajunya, menghilangkan debu yang menempel.
"Maaf teman-teman..."
"Tidak apa-apa, Tenth! Setidaknya permennya tidak kotor"
"Gokudera benar, Tsuna"
Tsuna mendongak, menatap kedua temannya dengan tatapan bersalah. Namun rasa cemasnya hilang saat melihat Gokudera dan Yamamoto tersenyum kearahnya. Kedua temannya meraih permen yang dipegang Tsuna, membuka bungkusnya dan memasukannya kedalam mulut mereka.
Gokudera dan Yamamoto, Kakak beradik keturunan Jepang-Italia. Umur Gokudera setara dengan Tsuna, 5 tahun, dan Yamamoto berumur 2 tahun lebih tua. Dua kakak beradik tersebut adalah teman bermain Tsuna, mereka menghabiskan waktu bertiga hampir setiap akhir pekan.
Ayah Mereka, Gokudera dan Yamamoto, bekerja di luar negeri sedangkan ibu mereka adalah ibu rumah tangga biasa. Setiap hari sabtu dan minggu mereka akan berkunjung ke Vongola Orphanage untuk bermain dan menemani Tsuna.
"Kau bermimpi lagi?" Yamamoto bertanya dari kejauhan. Tsuna yang berada diatas salah satu ayunan mengangguk dan meng-iya-kan. Yamamoto menatap Tsuna dengan sebuah alis terangkat, "Pasti sangat menyeramkan"
Gokudera menatap tajam kearah kakaknya, pandangan matanya seolah menyuruh Yamamoto untuk diam karena bisa saja apa yang ia katakan malah membuat Tsuna semakin takut. Yamamoto kembali menatap Gokudera sambil mengangkat bahunya, maaf...
"Tenang saja, Tenth! Apapun yang terjadi kami akan terus bersamamu! Kami adalah temanmu, dari dulu hingga kita besar nanti!" Gokudera meraih tangan Tsuna dan menggenggamnya erat. Tsuna tertawa kecil, setetes airmata mengalir dari sudut matanya.
"Gokudera benar! Kami yang akan jadi pelindungmu, Tsuna!" Yamamoto berdiri dihadapan Tsuna dengan tangan mengepal di udara. Menandakan semangatnya yang tak akan padam.
"Terima kasih, Teman-"
"Tsuna-kun!"
Tsuna tak sempat menyelesaikan ucapannya, seseorang memanggilnya dari kejauhan. Tsuna, Gokudera dan Yamamoto menoleh, mencari tahu siapakah pemilik suara lembut dan terdengar merdu itu.
Sasagawa Kyoko.
Adik dari petinju kelas junior terkenal, Sasagawa Ryohei, yang menginap di Vongola Orphanage setiap akhir pekan karena kesibukan kakak dan saudaranya yang lain.
Kyoko adalah gadis yang manis. Rambut coklat kemerahan yang serasi dengan warna matanya. Dia juga-lah yang selama ini menemani Tsuna jika Gokudera dan Yamamoto tidak bisa datang berkunjung.
"Apa itu?" Kyoko memiringkan kepalanya menatap permen yang ada dikantong baju Tsuna. Tsuna menunduk untuk emlihat kearah permen itu lalu tersenyum. Ia meraih permen itu dan menyodorkannya kearah Kyoko. "Mama bilang ini untukmu, Kyoko-chan"
"Benarkah? Terima kasih Tsuna-kun"
Kyoko menerima permen yang diberikan Tsuna, lalu memasukannya ke dalam tas kecil yang menggantung dipundaknya. Ia mendongakan kepalanya, menatap mata Tsuna yang sedikit basah di sudut-sudutnya lalu menatap Gokudera dan Yamamoto yang terlihat tak mau menatapnya.
"Tsuna-kun, apa kau baru saja menangis? Jadi kalian sudah memberitahu Tsuna?" Gadis kecil itu bertanya. Menaikan sebelah alisnya saat Tsuna menatap ketiga temannya dengan bingung.
"Che!" Gokudera Membuang perhatiannya kearah lain. Yamamoto hanya bisa menunduk, merasa seperti ingin mengatakan sesuatu namun ia tak sanggup. "Tsuna..."
"Ada apa ini?" Cemas. Tidak, mungkin lebih tepatnya takut, atau bingung?. Tsuna merasakan firasat aneh melanda pikirannya, bahkan bagi seorang anak kecil berusia 5 tahun. Tsuna mengepalkan tangannya di dada, merenggut kerah bajunya. Ia menatap Yamamoto dengan pandangan seolah bertanya apa yang terjadi, namun ia merasa takut untuk mendengarnya.
Sama. Ya, perasaan ini sama seperti yang ia rasakan saat bermimpi. Dimana Jepang tengah dilanda perang, dan semua bangunan rata dengan tanah.
"Kami akan pindah ke Itali"
o0o
"Tsu-kun, sudah waktunya makan malam" Nana berteriak dari balik pintu. Tangannya tak berhenti mengetuk pintu dengan cat putih dan papan nama Tsuna yang menggantung pada pegangan pintu. Nana mendesahkan nafasnya ke arah pintu dengan tatapan cemas lalu berputar, menatap Dino yang kembali menatapnya dengan tatapan yang tak kalah cemas.
"Bagaimana?"
Nana menggeleng pelan. "Dia tak mau keluar" Nana mendengus pelan, lalu ekmbali menatap pintu dibelakangnya. "Dan sepertinya Tsu-kun mengunci pintunya dari dalam"
Dino terdiam menatap pintu dihadapannya.
Sejak pulang sore tadi, Tsuna bertingkah aneh. Ia hanya diam dan menunduk sambil menggenggam erat bajunya. Ia tak menjawab sapaan Nana seperti yang biasanya ia lakukan. Ia juga tak berlari ke pelukan Dino saat melihat Dino melambaikan tangan untuk menyapanya. Bahkan saat Bel dengan sembarangan masuk ke kamarnya, ia tidak berteriak dan mengadu pada Dino sambil menangis.
"Sepertinya mereka sudah mengatakannya pada Tsuna-" ucap Dino sambil melamun. Tatapan matanya berubah dari yang semula tampak ceria menjadi tatapan serius. "Tentang kepindahan mereka ke Italia"
"Kita tak bisa berbuat apa-apa lagi, itu sudah kebijakan dari kantor ayah Gokudera dan Yamamoto, dan mereka akan berangkat besok sore"
"Apa Tsu-kun akan baik-baik saja?"
"Tenang saja, Tsuna akan kembali ceria secepatnya" Dino tersenyum, mencoba menenangkan pikiran Nana.
"Tapi aku tak percaya kalau dia akan sesedih ini" Nana menggumam pelan. Nana adalah orang pertama yang tahu keberadaan Tsuna, ialah orang pertama dan satu-satunya yang mengenal Tsuna dengan amat sangat baik. Sudah seperti anaknya sendiri. Ya, walaupun Tsuna memanggil Nana dengan sebutan Mama, Tsuna bukanlah anak kandung Nana. Tsuna anak yatim piatu, 5 tahun yang lalu seseorang meletakannya didepan pintu Vongola Orphanage, membiarkan Tsuna seorang diri dan menangis.
"Aku akan mencoba bicara padanya" Ucap Dino sambil berjalan mendekati pintu, membuyarkan lamunan Nana. Nana mengangguk pelan dan berjalan menjauhi pintu. Membiarkan Dino dan Tsuna dibalik pintu.
Dino menatap kepergian Nana, menatap punggung wanita muda itu dengan seulas senyum. Ia menarik nafas panjang lalu mengetuk pintu dihadapannya. "Tsuna, ini aku, Dino"
Tak ada jawaban.
"Mama sudah pergi, hanya ada aku disini"
Masih tak ada jawaban.
"Tsuna..." Dino menutup matanya, mencoba memfokuskan pendengarannya. Namun tak ada suara apapun.
"Dino-nii..."
Dino membuka matanya, saat itulah pintu mulai terbuka dan sosok kecil Tsuna berdiri dibaliknya, dengan wajah yang merah dan basah oleh airmata. Dino tersenyum lalu berjongkok, menyetarakan pandangannya pada Tsuna kecil. "Kenapa kau tidak menjawab saat Mama memanggilmu?"
Tsuna mengusap sudut matanya dengan jemarinya lalu menatap takut ke arah Dino. "Aku takut Mama khawatil"
"Dengan tidak menjawab malah membuatnya semakin khawatir , Tsuna"
"Eek? Ja..jadi? Mama khawatil? Apa Mama malah padaku?" Tsuna menundukan kepalanya, bulir airmata kembali muncul di sudut matanya. Dino tersenyum sekali lagi lalu mengusap kepala Tsuna. "Dia akan marah jika kau tidak ikut makan malam, jadi sekarang juga cuci dulu wajahmu dan bersiap makan malam, oke?"
Tsuna menatap Dino dan terdiam.
"Baiklah" ucapnya pelan sambil tersenyum.
o0o
"Bel-senpai! Itu kroket-ku!" Seorang gadis berambut hijau emerald menodongkan sumpitnya pada Bel yang tersenyum, menampilkan deretan giginya yang rapih. Bel menatap ujung sumpit yang mengarah ke wajahnya. "Ushishishi, Fran-chan, sumpitmu bisa saja melukai mataku"
"Kau bahkan tidak punya mata, Baka-senpai"
"Hoo, seorang wanita tidak seharusnya mengatakan hal itu pada Senpai-nya tercinta" Bel berdiri dari kursinya, membungkuk diatas meja dan mendekatkan wajahnya ke arah gadis berambut hijau yang menatapnya dengan pandangan bosan. "Ucapkan kata itu sekali lagi, dan aku akan membunuhmu"
"Baka-senpai. Baka-senpai. Baka Baka-Senpai"
"AWAS KAU FR-"
"Bel! Duduk ditempatmu atau kau tidak akan kebagian pencuci mulut" Nana menegur Bel dari depan lemari es, mengambil puding yang dibuatnya tadi sore. Bel menatap puding yang muncul dari dalam lemari es lalu menatap Fran yang menggumamkan 'Baka-senpai'. "Che!"
"Kau selamat kali ini, gadis kodok!" Bel kembali duduk ditempatnya dan meneruskan makan malamnya.
"Mama, apa boleh becok aku mengantalkan Yamamoto dan Gokudela?" Tsuna mendongakan kepalanya dari mangkuk nasinya dan menatap Nana. Beberapa butir nasi menempel di pipinya. "Ushishi, bocah kecil sepertimu pasti akan tersesat dijalan"
"Bel-chan, jangan meledek Tsu-kun terus-terusan. Selesaikan dulu makananmu"
Bel kembali diam saat melihat puding yang dibawa Nana dan diletakan diatas piring besar. Gulp...
"Apa kau bisa mengantar Tsu-kun, Dino?"
Dino mendongakan kepalanya, menempelkan ujung sumpit dibibirnya. Ia menatap Nana dengan satu alis terangkat. "Mengantar? Entahlah, aku sudah ada janji besok, tapi mungkin aku bisa mengantarnya untuk mampir di pagi hari, sebelum mereka berangkat"
"Mama, boleh kunyalakan Tvnya?" Fran meraih remote tv yang ada diatas meja kecil dan menekan tombol power bewarna merah.
"Kalau begitu besok pagi kau harus bangun lebih awal, Tsu-kun" Nana tersenyum. Tsuna mengangguk pelan lalu melanjutkan makanannya. Menghabiskan sisa nasinya hingga tak bersisa. "Mama, aku mau pudingnya, boleh?"
"Berita hari ini..."
"Oi, wanita kodok! Kecilkan suaranya!"
Tsuna menutup kedua telinganya dengan sangat kencang. Suara TV membuatnya merasakan sakit ditelinganya. "Flan-nii, kecilkan suara TVnya" Ucap Tsuna setengah menjerit.
Fran dengan cepat mengecilkan suara TV dan dengan otomatis suasana menjadi hening. Semuanya terdiam kaku di posisi masing-masing.
"Apa kalian mendengarnya?" Dino menelan ludahnya ragu, merasakan ketegangan di kedua telapak tangannya yang mengepal. Nana, Bel, Fran, Giannini dan Romario yang baru saja tiba mengangguk pelan. Mereka memutar badan mereka, menatap Tsuna dengan tatapan tak percaya.
"Tsuna..." Dino menggumam.
"Eh?" Tsuna membuka matanya dan merasakan aura aneh saat orang-orang disekitarnya menatapnya dengan tatapan aneh.
"TSUNA BISA MENGUCAPKAN HURUF 'S'!"
"Ah, Baka-senpai, kau berteriak ditelingaku..."
o0o
Tsuna merangkak ke atas tempat tidurnya, diikuti oleh Dino yang sudah memakai piyama hijau . Dino mengangkat tubuh kecil Tsuna dan menidurkannya diatas tempat tidur, menutupi badannya dengan selimut dengan gambar angka 27 besar ditengahnya.
"Dino-nii tidak ingin tidur bersamaku?" Tanya Tsuna kecil dengan wajah memerah dibalik selimut yang menutupi wajahnya hingga ke hidungnya. Dino tersenyum lalu mengusapkan tangannya diatas kepala Tsuna. "Aku masih harus menolong Bianchi merapihkan ruang bermain, Tsuna. Bianchi sedang sibuk menjaga Lambo, kau tahu sendiri kan? Saat mengantuk Lambo bisa saja menghancurkan segala sesuatu yag ada disampingnya"
Tsuna mengangguk sambil tertawa kecil, membayangkan tingkah Lambo kecil yang merengek meminta susu dan merasa mengantuk.
Setelah memberikan sebuah ciuman di kening Tsuna dan mengucapkan selamat malam, Dino melangkahkan kakinya menuju pintu dan mematikan lampu. "Selamat tidur, Tsuna"
"Selamat tidul, Dino-nii"
Tsuna tersenyum, memeluk erat sebuah boneka kelinci putih usang dan mencoba menutup matanya karena matanya terlalu berat terasa untuk dibuka dan terus terjaga.
Satu domba….
Dua domba….
Tiga domba…
Empat-
Mata Tsuna terbuka lebar saat mendengar suara ribut dari arah jendela. Terdengar sangat keras, seperti sebuah benda besar yang terjatuh dari langit.
Dengan penuh rasa takut Tsuna turun dari tempat tidurnya, memeluk erat boneka kelincinya dan berjalan menuju jendela. Dengan satu tangan, ia membuka jendela kamarnya, dan membiarkan angin menerpa wajahnya.
"Selamat malam, bocah kecil"
Tsuna menundukan kepalanya, menatap seorang pria yang tersenyum ke arahnya. Tsuna menaikan kedua alisnya. "Siapa kamu?"
"Hanya seorang pria misterius yang sedang menghirup udara malam" ucapnya dengan seulas senyum dingin. Tsuna hanya diam, mata coklat karamelnya terpaku pada perut si pria berambut biru gelap.
"Kau terluka?"
"Hng?" Pria itu mengikuti arah pandangan Tsuna, menatap perutnya yang dibasahi oleh cairan berwarna merah yang mengotori bajunya. Pria itu hanya diam. "Kufufufu, Hanya luka ringan"
Tsuna meletakan kelincinya di sebelahnya lalu meraih kotak tisu yang ada diatas meja yang berada tak jauh darinya. Dengan bantuan kursi kayu, ia memanjat jendela dan menyodorkan kotak tisu itu pada pria misterius.
"Mama pelnah bilang, kalau luka tidak dilawat bisa jadi semakin palah. Nanti kamu bisa mati"
"Kufufu, Siapa namamu, anak muda?"
"Tsunayoshi Sawada, tapi olang-olang memanggilku Tsuna"
Pria itu terdiam. Ia menatap mata coklat Tsuna dengan lekat.
"Sawada?"
Tsuna mengangguk pelan.
"Sepertinya nama itu tak asing ditelingaku…" pria itu bergumam pelan. Sangat pelan hingga Tsuna kecil tak mampu mendengarnya.
"Namamu?"
"Panggil aku Mukuro"
Pria bernama Mukuro itu berdiri dengan menyanggahkan badannya didinding, mencoba menahan rasa sakit diperutnya akibat darah yang terus mengalir. Ia menatap Tsuna sesaat lalu tersenyum.
"Terimalah ini" dengan satu tangannya ia menyerahkan sesuatu dalam kotak merah pada Tsuna. Tsuna menatap kotak merah itu lalu mengambilnya dan tersenyum saat Mukuro mengambil gulungan tisu yang tadi dibawa Tsuna. "Anggap saja tanda terima kasih atas tisunya"
Mukuro membalikan badannya, membelakangi Tsuna dan bersiap pergi.
"Apakah Muku-chan akan kembali lagi kesini?"
Mukuro tersenyum, namun ia tak menunjukannya pada Tsuna, "Kufufu, mungkin suatu saat nanti aku akan kembali untuk mengambil kembali kotak itu"
Dan angin kencang pun berhembus, menghilangkan sosok Mukuro dari hadapan Tsuna yang terdiam sendirian.
o0o
Translation:
Hontouni : Sungguh ?
Konnichiwa : Good Afternoon/Hello
il est bien : It's Ok/No Problem
wow, it's 6927 scene!
Anyway, I've been searching for any interesting G27 AU fanfic out there. and well, i've found only... maybe less than 20, or maybe 10? . the rest of them? They wrote them like, hmm... PWP and TWT. they wrote them without any specific plot and I'm totally sick of it. what they wrote were, giotto and tsuna make-love and then tsuna felt jealous and then Giotto apologized and they make-love again for another hour and...DONE. so, the point of the story only the 'Lemon' scene?
If you guys know some G27 AU fanfic please tell me :)
Constructive reviews are welcomed :)
