Semua berawal dari kisah ini...

Dimana rasa sepi yang aku rasakan selalu terngiang dibenakku.

Hanya dia...

Ya hanya dia yang sekarang menjadi penghiburku disaat rasa sepi datang.

PAIN

Genre: Romance, Family,Hurt,Humor.

Pair: Sasuke. U x H. Hinata.

DISC: NARUTO MASASHI KISHIMOTO.

Warning:AU,typo bertebaran,berantakan.

rate: M

Chapter 2Happy reading...Setelah mandi Sasuke merasa segar dan pasti saja pikiran suntuknya hilang. tak lupa ia beranjak ke dapur untuk mencari sesuatu yang bisa ia makan.

Sasuke tinggal disebuah desa bersama kakaknya dan ayahnya.

Kakaknya yg bernama Ithaci yang kini kerja sebagai penagih barang yang dijual belikan secara cicil kepada ibu-ibu rumah tangga. Dan ayahnya bernama Fugaku yang bekerja sebagai petani.

Rumah mereka lumayan luas, dikelilingi halaman yang cukup indah dan banyak ditanami bunga-bunga yang bermekaran. kenapa bisa begitu?

yah jelaslah itu semua peninggalan Mikoto mendiang Ibunya yang telah meninggal.

Sasuke hanya mendengus pelan ketika mendapati tak ada satupun lauk ataupun yang bisa dimakan.

apa yang bisa ia perbuat kalau begini jadinya?...

drrrrrtt drrrrttt drrrttt.

Sebuah getaran berasal dari saku celana Sasuke, dengan cepat ia merogoh kantong celananya.

Sebuah panggilan dari kontak yang tak asing lagi. My Hinata. Begitulah Sasuke menuliskan kontak nomor telepon Hinata dihandphonenya.

Sasuke mengangkatnya dengan menekan tombol hijau dibagian kiri.

"halo... " katanya sambil bersandar ke dinding dekat meja makan.

"apa kau baru bangun Sasuke kun? " tanya sang penelepon dari seberang sana yang tak lain adalah Hinata.

"aku sudah dari tadi bangun Hinata" dustanya yang semata-mata agar tak kena omel atau ceramah panjang lebar dari sang kekasih.

"lantas kenapa kau tak mengabariku?" tanya Hinata lagi.

"oh itu... aku tak punya pulsa... maaf yah" jawabnya yang masih santai.

"oh begitu. ya sudah, Sasuke kun sudah makan?" Hinata menanyakannya dengan suara yang lembut sekali.

"belum..." .

"hmm memangnya Sasuke kun sekarang ada dimana?" tanya Hinata.

"rumah".

"hmmm begini saja, sebentar pulang kuliah aku singgah bawa makanan buat Sasuke kun" tawar Hinata pada Sasuke.

"iya".

"baiklah, sampai ketemu Sasuke kun" terdengar suara riang dari seberang itu, membuat Sasuke tersenyum kecil, lalu panggilannya dimatikan.

'yah setidaknya aku makan' .

Sasuke beranjak keruangan tengah yang memang letaknya tak jauh atau bisa disebut saling terhubung dengan dapur, entah apa yang akan ia lakukan kali ini.

Mencoba mencari kesibukan yang mungkin membuatnya tak bosan, mungkin menonton tv?.

Bukannya hiburan yang Sasuke dapat saat menonton tv, malah dirinya tambah bosan. Sasuke yang bosan kemudian tanpa pikir panjang melangkahkan kakinya keluar dari rumah, entahlah apa yang akan ia buat.

Setelah ia berada di halaman rumahnya yang tadi niatnya sama yaitu mengusir kebosanannya, malah tambah bosan.

'kenapa seperti ini, sangat bosan'Sasuke menggerutu dalam hatinya.

Sasuke povLantas apa gunanya diriku yang bangun di siang hari begini, Ithaci saja sudah berangkat kerja dan juga ayah mungkin subuh-subuh tadi sudah mengecek sawahnya.

Sementara aku?

Seandainya saja aku menjalani kuliahku dulu dengan serius, mungkin aku tak akan di D.O. dan pastinya aku sudah punya kerja.

Ibu maafkan aku yang menyia-nyiakan usahamu dulu.

kejadian itu masih teringat jelas dibenakku. mungkin itu adalah kutukan bagiku.

Tapi sudahlah, semuanya telah berakhir.

Mungkin aku bisa melanjutkan sisa hidupku ini.

End Sasuke pov Lama Sasuke termenung dengan pandangan lurus menerawang kedepan, tanpa sadar ia juga sedikit menggumamkan kata-kata yang entah apa yang terucap.

Dari sini di halaman yang cukup luas ini, ia bisa menghirup udara segar. Tidak seperti di kota dimana ia kuliah dulu.

"Tiiin tiiin"

"Tiiin"

Sasuke tersadar dari lamunannya, ketika mendengar suara klakson motor.

Sasuke mengalihkan pandangannya ke arah kiri seberang jalan, dan memang disana ada motor yang sedang menuju masuk ke halamannya. Tadi pikirnya itu Ithaci, tapi ternyata bukan.

"oy Sasuke... apa kabar?" sapa orang yang mengendarai motor itu, kemudian dia turun dari motornya, tak lupa juga dengan cengirannya.

"Naruto?" tak menjawab Sasuke malah heran, pasalnya orang yang menyapanya itu tumben datang ke rumahnya., dan juga pakaian Naruto terlihat sangat rapi.

"Hey apa kabarmu? lama tak berjumpa" kata orang yang bernama Naruto itu.

"Ah baik, hmmm kau mau kemana rapi-rapi begitu?" tanya Sasuke.

"Ah sekarang aku kerja hehehehe" jawab Naruto sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.

Naruto adalah sahabat Sasuke dari kecil, akhir-akhir ini mereka jarang sekali ketemu karena tempat tinggal mereka berjauhan.

Kenapa Sasuke yang sekarang ini heran melihat Naruto yang rapi? karna memang dari sananya Naruto itu berantakan.

Dilihat dari pandangan manapun, hari ini memang Naruto terkesan rapi, lihat saja dengan kameja kotak-kotak yang berwarna orange hitam itu, dan juga celana kain berwarna hitam, sepatu fantopel yang mengkilat, menambah kesan jika dipandang orang.

"kerja apa?" Sasuke to the point.

"ah ini, aku kerja di koperasi" jawabnya sambil senyum.

"Koperasi? bukannya itu seperti orang yang meminjamkan uang berbunga?" tanyanya lagi.

"yah begitulah. sistem kerjanya harian, sekarang ini aku sebagai kolektor alias penagih" jelas Naruto yang kini duduk di jok motornya.

"oh"

"dan juga daerah tagihanku disini, yah mungkin kau akan melihatku tiap hari" jelasnya lagi sambil merogoh kantongnya dan mengambil sebatang rokok eceran.

"hmm begitu"

"hey kau punya korek?" tanya Naruto.

"hn ada rokok, ada korek" kata Sasuke dengan senyum kecil.

tak lama kemudian keduanya tertawa lepas, sebab kalimat yang barusan Sasuke ucapkan itu, mengingatkan mereka pada masa sekolah dulu.

ada korek, ada rokok.yang maksudnya jika seseorang meminta korek, pastilah ada imbalan untuk yang punya korek. dan seperti itulah masa sekolah kedua remaja ini.

"hoy Sasuke, apa kau ingin kerja di tempatku? jika kau mau, aku bisa memasukanmu, dan gajinya lumayan" tawar Naruto kepada Sasuke yang menyodorkan korek pada Naruto.

"entahlah, aku masih ingin istrahat saja" kini Sasuke menerima sebatang rokok dari Naruto dan juga koreknya.

"apa yang kau katakan? ini sudah lama sekali kau menganggur" Naruto mencoba meyakinkan Sasuke yang kini tengah membakar rokoknya, lain hal dirinya yang kini menikmati isapan dari rokok eceran yang dia beli.

"entahlah Naruto, aku masih ingin begini" begitulah kata dari sang pemalas Sasuke.

Lama kedua sahabat itu mengobrol dan rokok keduanya pun sudah habis.

kini saatnya Naruto pamit pada Sasuke, yang katanya kerja.

Sasuke melihat kepergian Naruto dengan motor andalannya, yang dulu mengingatkan Sasuke pada masa sekolah dulu.

Sasuke hanya merasa tenang ketika semuanya terasa aman dan tak ada masalah, tanpa harus dia memiliki kerja.

sampai semuanya berubah...

DRRRRRT

DRRRRT

Sasuke mengambil ponselnya dan mengeceknya, dan ternyata itu panggilan dari Hinata kekasihnya, ia langsung mengangkatnya.

"kau dimana? aku sudah dekat, tunggulah di pagar halaman" suara lembut dari seberang itu selalu membuatnya tersenyum.

Sasuke mematikan handphonenya, dan melangkahkan kakinya ke dekat pagar yang ada di halaman rumahnya.

Dan benar saja, di ujung jalan nampak sebuah kendaraan motor matic berwarna biru mendekatinya.

Hinata langsung berhenti ketika sampai, dan kemudian turun dari motornya. Sasuke mengambil alih dengan membawa masuk motor Hinata kedalam halamannya dan memarkirnya.

Setelah terparkir dengan baik, Hinata membuka sadelnya dan mengambil kotak makanan yang disimpan di jok motornya.

mereka berdua masuk ke dalam rumah, tepatnya di ruang tamu, sesampainya di ruang tamu, Hinata duduk disofa yang ada disudut ruangan dandan Sasuke duduk disebelah kiri Hinata.

"ah hari ini panas sekali" keluh Hinata yang jelas sekali mengibaskan tangannya bertujuan mendapatkann udara yang dapat menghilangkan gerahnya.

"hn"

"Sasuke kun ayo makan, ini nasi gorengnya" Hinata menyodorkan Sasuke kotak makanan yang ia bawa tadi.

Sasuke hanya diam, dan membuka penutup kotak makanan tersebut, dan terpampanglah hidangan yang nampak lezat itu, nasi yang berwarna agak kemerahan dengan dilengkapi telur yang digoreng. dan tak lupa potongan tomat yang kecil disekelilingnya.

Sasuke mengambil sendok yang sudah tersedia, dan mulai menyantapnya.

dalam diam, hening, itulah suasana yang tercipta antara mereka berdua.

Hinata yang diam dari tadi mulai membuka suara.

"Sasuke kun, apakah kau tak bosan seperti ini terus? emm maksudku setidaknya kau harus punya kegiatan yang mungkin mengisi waktu luangmu" ucap Hinata sambil merapikan rambutnya yang tertiup angin ketika berada diperjalanan tadi.

Yang ditanya hanya diam sambil menikmati makanannya.

"kita kan sudah dewasa, dan mungkin pikiran kita sudah sampai disana, apa baik kalau kau harus seperti ini terus?" Hinata terus berbicara, meskipun tahu lawann bicaranya tetap diam.

"apa kau serius dihubungan ini" kini suara Hinata agak mengecil dibanding sebelumnya.

Sasuke terhenti dengan acara makannya. ia diam tanpa sepatah katapun.

"yang lain sudah menikah, lalu kita kapan Sasuke? apa kau tak bosan seperti ini terus?" suara Hinata mulai bergetar... isak tangisnya mulai terdengar.

Sasuke benci dengan keadaan seperti ini, bukan benci dengan Hinata yang kini menangis, tapi ia benci karena hal yang dapat membuat Hinata menangis itu karena ulahnya.

Sasuke memeluk tubuh itu, mendekapnya, mengecup pucuk kepala gadisnya itu, ia merasa tak berguna sebagai seorang lelaki, ini juga salahnya yang dulu menjanjikan Hinata kebahagiaan, maksudnya bukan ia menyesali membuat janji itu, tapi ia hanya bisa memberi janji tanpa bukti. Dan kini orang itu datang tiap hari atau setiap saat untuk menagih janji itu, apalah daya Sasuke yang hanyalah pengangguran.

"aku berjanji akan melamarmu, jadi tenanglah" ucap Sasuke dengan lembut sambil mengusap punggung kekasihnya.

"ini sudah berapa kali kau mengatakan itu, mana buktinya?" kata Hinata.

"aku masih berusaha, jadi sabarlah" bujuk Sasuke.

"berusaha katamu? selama ini kau bilang ini berusaha? dengan caramu yang bermalasan tiap hari! " kini suara Hinata mulainmeninggi dan ia melepaskan pelukan dari Sasuke.

Sasuke hanya diam, tak tahu ingin berkata apa, karna memang yang dikatakan Hinata ada benarnya, selama ini dia hanya diam di rumah dan tak melakukan apapun.

"apa sebenarnya yang ada di otakmu itu? kau pikir dengan diam seperti ini kita bisa menikah hah?!" sekarang Hinata berdiri dan menunjuk Sasuke.

"apa kau pikir kehidupan itu akan ditanggung selamanya oleh orang tua? aku bingung Sasuke, sebenarnya kau serius dihubungan ini atau tidak? coba jawab? "suara Hinata seakan serak mengatakan hal itu, dia seakan akan membentak.

Sasuke tak bisa berkata apa-apa, dirinya hanya bisa diam, dan mencoba memikirkan apa yang harus ia lakukan.

"terserahlah, aku tak tahu harus berbuat apa lagi Sasuke kun, percuma kita harus jalani ini, jadi kupikir kalau memang kau serius, carilah pekerjaan agar kau punya penghasilan." ucap Hinata yang menunggu jawaban dari Sasuke, tapi apa daya, Sasuke tetap bungkam.

Hinata kecewa, hatinya terasa sakit melihat Sasuke hanya diam, tak butuh berapa lama ia melangkahkan kakinya menujun pintu keluar.

sesampainya di ambang pintu, Hinata terhenti dan menoleh lagi pada Sasuke.

"aku pulang dulu, dalam sebulan ini jika kau masih belum kerja, mungkin kita harus mengakhiri ini" katanya dengan nada yang pelan, tapi masih bisa ditangkap oleh indra pendengar Sasuke.

Sasuke yang tetap diam bisu tak mengatakan apa-apa. Seperti inilah dia jika Hinata membicarakab soal masa depan mereka. hanya diam.

Hinata kini menyalakan motornya dan berniat pulang, tapi sesekali ia memandang rumah Sasuke, jujur saja dilubuk hatinya terdalam, ia tak tega berkata seperti itu, tapi jika ia diamkan terus seperti ini, Sasuke akan seperti itu dan tak mau berusaha.

"maaf Sasuke kun, berusahalah sayang" katanya, dan menjalankan motornya menuju jalan pulang.

Sasuke menutup matanya dan menarik nafasnya kemudian ia hembuskan.

'apa yang harus aku lakukan? mengapa aku harus seperti ini kami sama'

Tanpa ia sadari air matanya mengalir dipipinya. memang benar apa yang dikatakan Hinata, jika dia terus seperti ini tak akan ada perubahan.

Apa yang dia pikirkan kini menjadi bebannya, semua jalan keluar dari masalah mungkin tak ada yangnbisa membuka pintu hati yang selama ini ditutup rapat olehnya, mengapa?

karena sebuah pikiran kecil mungkin dapat membuatnya tenang seperti contohnya tidur pulas tanpa harus tahu jam brapa ia akan bangun.

'tidak, aku tak boleh seperti ini terus'

tiba-tiba Sasuke teringat dengan ucapan Naruti yang barusan berbicara dengannya saat dia berada dihalaman rumah.

"hoy Sasuke, apa kau ingin kerja di tempatku? jika kau mau, aku bisa memasukanmu, dan gajinya lumayan"Tanpa basa-basi lagi, Sasuke langsung meraih handphonenya dan mencari nama kontak Naruto lalu menekan tombol hijau.

ia mendekatkan Handphonenya ditelinga.

"maaf sisa pulsa anda tidak mencukupi untuk melakukan panggilan ini, segeralah melakukan pengisian ulang".

Sasuke merutuk dalam hati, dan ia juga geram akan mengutuk suara wanita costumer service itu, dirinya lupa kalau dia tak punya pulsa. poor sasuke.

TBC

A/N: chapter ke 2 dah updet, maaf nih garing amat, sy tdk terlalu tau caranya menulis. yah namanya juga belajar kan. yosshhh!! mohon reviewnya minna _

atau mngkin taj ada yang mau baca hehehehehe.

semua orang pantas di maafkan