Scorpius Hyperion Malfoy.

Mengikuti tradisi keluarga Black―keluarga ibunya, Draco Malfoy memutuskan untuk menamai anak pertamanya Scorpius. Yang berasal dari rasi bintang Scorpius yang berarti kalajengking. Hyperion sendiri diambil dari nama dewa cahaya dalam mitologi Yunani.

Lahir pada tanggal 1 Desember 2001. Scorp, begitulah orang-orang memanggilnya. Secara fisik, ia seperti miniatur ayahnya. Kulit pucat, dagu runcing, rambut pirang platina dan mata abu-abu. Hal lainnya yang membuatnya mirip dengan ayahnya adalah kegemarannya terhadap Quidditch. Tak ada hari tanpa Quidditch bagi pasangan ayah dan anak ini.

Satu-satunya hal yang menurun dari ibunya pada Scorpius adalah keberanian dan sikap bossy-nya. Menurut Daphne Zabini―itu dikarenakan peran Scorpius sebagai anak pertama. Namun bagi Ron Weasley dan Harry Potter, itu semua memang karena turunan dari ibunya.

"Baiklah, Scorp. Ingat pesan mom tadi. Jangan nakal," kata Hermione mewanti-wanti putranya itu ketika mereka berada di Stasiun King's Cross Peron 9 3/4. Yup, ini adalah tahun pertama Scorpius.

"Jangan sampai masuk Hufflepuff," Draco menambahkan sambil meringis ketika bayangan putranya berada diasrama itu terlintas diotaknya.

Hermione mendelik tajam pada Draco yang ada disampingnya, "Kurasa kita sudah sepakat untuk bersikap netral."

Draco hanya mengangkat bahunya acuh.

Kemudian Hermione menatap Scorpius lagi, "Mom serius, Scorp. Jauhi Hutan Telarang, patuhi peraturan, belajar yang giat. Jangan―"

"Mione, please. Scorpius tahu apa yang harus dia lakukan. Kau sudah mengatakannya sejak kita masih di rumah tadi." Draco memotong ketika mendengar istrinya kembali mengeluarkan nasihat yang sudah ia keluarkan sejak putranya itu selesai sarapan. Hermione memutar bola matanya sementara Scorpius melemparkan terima kasihnya lewat tatapan pada ayahnya.

"Baiklah," Hermione memeluk putranya sulungnya itu. Sekarang ia mengerti bagaimana perasaan orang tuanya ketika melepasnya ke Hogwarts dulu, "Yang terakhir, jangan lupa kirimi kami surat, oke? Aku akan merindukanmu."

Scorpius tersenyum sambil mengangguk ketika ibunya melepas pelukannya, "Pasti mom. Aku juga akan merindukanmu."

"Jaga dirimu baik-baik, son. " tukas Draco ketika memeluk putranya.

"Sayang sekali, Cassie dan Ori tidak bisa ikut mengantar. Mereka pasti akan saling merindukan satu sama lain." gumam ibunya pelan ketika Scorpius membalikkan tubuhnya untuk memasuki Hogwarts Express. Scorpius yang masih bisa mendengarnya hanya memutar bola matanya malas.

Merindukan mereka? Yang benar saja!

Ia mempercepat langkahnya ketika melihat beberapa orang dikenalinya. Yang pertama, seorang pria dengan rambut hitam berantakan yang dikenalnya sebagai James Sirius Potter. Kedua, seorang pria berkulit gelap yang ia identifikasi sebagai Demian Maxwell Zabini. Dan yang terakhir dan merupakan perempuan satu-satunya adalah si rambut merah Rosemary Linny Weasley.

Bagaimana Scorpius bisa saling mengenal mereka? Jawabannya mudah. Orangtuanya dan orangtua mereka berteman. Dan mereka selalu membuat semacam acara keluarga bersama setiap sebulan sekali. Hampir mirip sebuah pesta tapi bukan sesuatu yang formal. Lebih seperti acara makan-makan dengan diselingi oleh permainan dan cerita tentang bagaimana mereka di Hogwarts dulu.

"Dan inilah dia kalajengking keluarga Malfoy," kata James setengah bercanda ketika Scorpius sampai didekat mereka. Scorpius mendelik namun tetap tak menghentikan langkahnya untuk mencari kompartemen kosong. Serius, sekalipun memang arti namanya itu ia tetap tidak suka disebut itu.

"Diam, Jamie." James mendengus. Ia sama tidak sukanya dengan Scorpius ketika mendengar panggilannya waktu kecil itu.

Demian yang pertama menemukan kompartemen kosong. Keempatnya langsung masuk dan menyamankan diri mereka didalam kompartemen.

"Cassie tidak ikut mengantarmu?" James kembali bersuara.

Giliran Scorpius yang mendengus, "Dia masih di sekolah muggle."

Scorpius tidak bodoh untuk tahu jika James menyimpan ketertarikan pada adiknya itu. Dan jika saja ayahnya tahu, Scorpius tak yakin Potter yang satu itu akan pulang dengan selamat setiap bermain dirumahnya.

Untuk beberapa saat, hanya ada keheningan diantara mereka.

"Oke, karena ini tahun pertama kita. Mari bertaruh tentang asrama mana yang akan kita tempati nanti." kata Demian sambil menyeringai.

Scorpius mendengus―lagi―, "Mudah untukmu dan James untuk memprediksikan asrama kalian. Orangtua kalian berada di asrama yang sama. Sudah pasti kalian akan berada diasrama itu juga."

"Tidak juga. Kau tidak ingat Sirius Black? Ayah baptisnya Paman Harry dan juga sepupunya nenekmu? Dia Gryffindor pertama dikeluarganya. Orangtuanya jelas-jelas Slytherin." sahut satu-satunya perempuan disana, Rose. Scorpius menyipitkan matanya.

"Seharusnya kau berpihak padaku. Orang tua kita sama-sama dari asrama yang berbeda, Rose."

Rose memutar bola matanya, "Aku hanya mengatakan fakta."

"Tapi―"

"Quite, lovebirds," Demian menengahi pembicaraan yang berpotensi menjadi perdebatan itu, "Taruhan ini bukan hanya menebak asrama diri sendiri. Tapi asrama kita berempat―jika salah satunya ada yang salah berarti tetap dianggap kalah."

"That's sounds great. Tapi, apa hadiah dan hukumannya?" tanya James.

"Hadiahnya yang kalah harus memberikan apapun yang diinginkan yang menang." jawab Demian enteng.

"Great, sudah lama aku menginginkan jubah gaib." Scorpius mengerling pada James.

"Tapi James tidak mungkin membawanya. Bibi Ginny tidak akan―"

"Aku membawanya." potong James. Membuat sebuah kerutan imajiner dikening dahi gadis berambut merah itu.

"Hanya Bibi Ginny yang melarangnya, Rose. Paman Harry jelas tak merasa keberatan. Dad juga tak akan merasa keberatan jika aku meminta menyelundupkan sapu terbang kurasa. Tapi aku tak ingin mengecewakan mom."

Rose menatap kearah sepupunya, "Paman Harry pasti tidak ingin kau menyalahgunakannya tetap saja, James." Pandangannya beralih pada Scorpius, "Kalau ayahmu sih aku juga tidak heran."

"Hei, hei. Kalian mau mendengar lanjutan taruhannya atau tidak?" Demian kembali berkata ketika melihat Scorpius hendak membalas. James yang langsung kembali memfokuskan diri pada topik awal mereka.

"Hadiahnya terdengar cukup mengagumkan. Tapi hukumannya?"

Sebuah seringai tercetak diwajah Demian, "Hukumannya mencium Filch."

Hening.

"Kau gila?" Rose yang pertama kali memecah keheningan.

"Kau takut, Rose? Well, itu akan memudahkanku mencocokan asramamu. Awalnya kupikir kau Gryffindor seperti Paman Ron. Tapi sepertinya kau lebih Slytherin seperti Bibi Pansy." Demian mengeluarkan senyum puasnya ketika melihat wajah Rose yang berubah warna seperti rambutnya.

"Tidak, aku tidak takut!"

"Kuanggap kau setuju kalau begitu." Demian beralih pada Scorpius dan James, "Bagaimana dengan kalian?"

"Aku ikut." James menjawab.

"Yeah, aku juga." Entah apa yang akan dipikirkan orang-orang nanti jika tahu seorang Scorpius Malfoy mencium petugas sekolahnya. Harga dirinya pasti hancur lebur―tapi gengsinya juga penting. Ia bukan pengecut.

"Oke, kalau begitu dimulai dari aku," Demian kembali berkata, "Aku Slytherin, James Gryffindor, Rose Gryffindor, Scorp Slytherin."

"Ternyata kau diam-diam berharap satu asrama denganku ya, Zabini."

"Koreksi, ini prediksi bukan harapan, Malfoy."

"Kurasa lebih baik kita tulis supaya tidak ada yang tiba-tiba merubahnya." Rose menyarankan yang langsung disetujui oleh ketiganya. Dan dia hanya bisa mendengus sebal ketika mereka menyuruhnya yang menulis karena itu adalah idenya.

"Selanjutnya siapa?" kata Rose yang sudah selesai menulis milik Demian.

"Aku saja. Aku Gryffindor, Demian Slytherin, Scorp Slytherin, Rose Slytherin."

Rose menyipitkan mata mendengar perkataan sepupunya, "Jadi menurutmu aku akan masuk Slytherin?"

James nyengir, "Terkadang kau sangat ambisius dan sedikit sombong."

Wajah Rose kembali merah padam.

"Aku tidak―"

"Ayolah, Rose. James hanya mengutarakan pendapatnya." Demian memotong. Rose akhirnya hanya memilih menghela nafas setelah membenarkan ucapan Demian dalam hati.

Rose yang sudah selesai mencatat melanjutkan, "Scorp?"

"Ladies first."

"Look who's trying to be a gentleman here." Demian mencemooh. Scorpius hanya memutar bola matanya malas tanpa berniat menanggapi.

Sebenarnya ia mengulur waktu karena ia masih ragu tentang asrama mana yang akan ia tempati. Tidak sulit menembak asrama temannya―Scorpius sudah mengenal mereka. Dia tahu bagaimana karakter sehingga ia bisa memprediksi dengan baik asrama mana yang akan mereka tempati. Tapi dirinya sendiri―itu sangat sulit baginya.

Orang-orang selalu bilang ia adalah miniatur ayahnya. Benar-benar duplikat ayahnya ketika kecil dulu. Tapi banyak juga yang bilang jika ia benar-benar seperti ibunya. Dan itu membuat Scorpius tidak bisa menentukan kira-kira diasrama mana ia akan berakhir. Ditambah fakta jika ibunya adalah seorang Gryffindor sejati dan ayahnya adalah seorang Slytherin sejati. Atau mungkin dia akan masuk asrama lain yang menyimpang dari asrama orang tuanya seperti kata Rose tadi? Tapi ia sama sekali bukan Ravenclaw, ia saja belajar hanya pada saat ulangan. Tidak seperti adiknya Orion yang tiada hari tanpa membaca dan belajar. Dan jika ia masuk Hufflepuff―Scorpius sama sekali tidak bisa membayangkan reaksi ayahnya nanti.

"Scorp?"

Scorpius mengerjap beberapa kali ketika tersadar jika perhatian teman-temannya tertuju padanya.

"Apa?" tanyanya dengan wajah tanpa dosa. Demian dan James mendengus bersamaan.

"Prediksimu, Malfoy." kata Rose malas.

"Memangnya kau sudah?" Rose mengangguk.

"Mangkannya jangan melamun melulu, kalajengking." celetuk James membuat tangan Scorpius gatal untuk mencekik pria berambut berantakan itu.

"Apa memangnya prediksimu?" Scorpius memilih mengabaikan James akhirnya.

"Aku Gryffindor, Demian Slytherin, James Gryffindor, dan kau err―Gryffindor."

Scorpius terdiam untuk beberapa saat. Dua temannya memprediksinya masuk Slytherin dan satu Gryffindor. Menurut voting berarti kemungkinan besar Slytherin. Kalau begitu, ia ikut yang lebih banyak saja. Well, setidaknya jika salah ia tak harus melakukan hukumannya seorang diri.

"Demian Slytherin, James Gryffindor, Rose Gryffindor, dan aku―" Scorpius menelan salivanya dengan susah payah, "―Slytherin."

"Kau tidak terdengar yakin diakhir." komentar Demian. Scorpius hanya mengangkat bahunya berusaha terlihat acuh.

Ya, semoga saja ia benar. Hitung-hitung menyenangkan hati ayahnya. Kalau ibunya pasti akan mengerti dimanapun ia ditempatkan.

"Kelas satu! Kelas satu ke sini!" kata sesosok lelaki bertubuh sangat besar yang sangat mencolok ditengah kerumunan anak. Scorpius mengidentifikasinya sebagai Hagrid yang diceritakan oleh ibunya dalam beberapa kesempatan.

Wajah Hagrid yang besar berewokan tersenyum diatas lautan anak-anak.

"Masih ada kelas satu lagi? Ayo ikut aku! Hati-hati melangkah." suaranya terdengar membahana.

Scorpius memutuskan untuk berada dibarisan paling belakang. Ia benci berdesak-desakan ditengah kerumunan, sehingga ia memilih menunggu teman-temannya berjalan lebih dulu.

Decakan kagum terdengar ketika mereka sampai di kastil Hogwarts setelah melewati dermaga dengan perahu kecil. Scorpius tak bisa membayangkan apakah ada sekolah lainnya yang lebih besar daripada Hogwarts. Kerlip-kerlip cahaya muncul dari jendela-jendela. Menara-menara tampak besar menjulang tinggi. Dinding kokoh gagah berdiri. Segera saja bangunan itu menimbulkan sebuah petualangan imajiner yang tanpa batas. Scorpius sekarang mengerti kenapa ibunya begitu mencintai Hogwarts.

Scorpius mulai merasa blank ketika berjalan memasuki kastil itu. Ia tak begitu memperhatikan sekelilingnya, tahu-tahu si topi seleksi sudah selesai bernyanyi dan sekarang giliran nama murid tahun pertama disebut satu per-satu. Scorpius meringis, sepertinya ia memang terlalu banyak melamun hari ini.

"Avalon, Miranda." Scorpius mengenali dengan jelas siapa pria yang menjabat sebagai profesor yang kini menyebutkan nama-nama murid untuk diseleksi. Pria itu sering ikut berkumpul dalam acara keluarga setiap bulan. Ia belum memiliki anak sekalipun sudah menikah.

"Gryffindor!"

"Goldstein, Martin."

"Ravenclaw!"

"Potter, James."

Hening untuk beberapa saat ketika nama itu disebutkan. Scorpius menepuk bahu temannya itu untuk memberinya semangat. Tapi James memang masih terlihat santai seperti di kereta tadi. Scorpius memuji mentalnya diam-diam.

"Gryffindor!" Kemeriahan terdengar dari meja Gryffindor. Scorpius bisa memahaminya mengingat ayahnya James merupakan pahlawan perang utama dunia sihir. Jelas semua asrama menginginkan kehadiran James ditengah mereka.

"Zabini, Demian."

"Slytherin!" Sebuah seringai puas tercetak diwajah pemuda tan itu. Terlihat sangat puas dengan hasilnya. Pemuda itu langsung bergabung ke meja Slytherin.

"Tidak diragukan lagi," komentar Rose yang masih berada disampingnya.

"Thomas, Daniel."

"Gryffindor!"

"Macmillan, Ducan."

"Hufflepuff!"

"Weasley, Rose."

Scorpius langsung menoleh ke sampingnya. Rose terlihat sama gugupnya dengan dirinya ketika maju. Pandangan mata gadis itu tidak lepas dari meja Gryffindor atau lebih tepatnya kearah Weasley lainnya yang berada disana. Ada Victorie, Fred, Roxanne dan Weasley lainnya disana―yang juga menatapi Rose. Dan James juga terlihat sedang menyemangati sepupunya itu lewat tatapan dari sana.

"Hmm, Weasley lagi. Tapi kali ini ada yang berbeda..." kata si topi. Jeda sebentar. "Ada darah Parkinson disini. Slytherin dan Gryffindor bercampur. Jadi, dimanakah aku harus menempatkanmu?"

Scorpius yang masih dapat mendengar ocehan si topi yang ditunjukkan pada Rose meringis. Ia juga campuran Slytherin dan Gryffindor masalahnya.

"―tapi keberanian mendominasi dalam dirimu. Oh, ada juga keinginan yang kuat untuk membuktikan diri. Dan kalau begitu―Gryffindor!"

Rose terlihat begitu lega mendengarnya. Scorpius ikut merasa senang untuk temannya itu karena dia tahu Rose ingin sekali di Gryffindor sekalipun ibunya akan lebih suka ia di Slytherin.

"Smith, Eleanor."

"Hufflepuff!"

"Davies, John."

"Ravenclaw!"

Scorpius mendengus. Kenapa namanya lama sekali dipanggil?

"Malfoy, Scorpius."

Dan saat yang Scorpius nanti akhirnya tiba.

"Hm, menarik. Campuran Slytherin dan Gryffindor yang sangat kuat lagi." si topi mulai kembali mengoceh, "Keberanian, itu terlihat jelas. Ada kegigihan dan pantang menyerah―jenis yang sangat Gryffindor..."

Scorpius hanya bisa menghela nafas. Apapun asramanya, ia hanya berharap itu yang terbaik untuknya.

"Ada kekerasan hati, seperti orang tuanya. Ada bakat dan keinginan yang cukup besar untuk membuktikan diri. Tapi kau akan memperoleh kebanggaan di―"

"Gryffindor!" Kemeriahan kembali terdengar di meja Gryffindor. Scorpius berani bertaruh itu semua dikarenakan status ibunya dulu yang merupakan trio emas Gryffindor. Ayahnya yang bilang padanya tentang ini. Walaupun ayahnya terdengar seperti menghina saat mengatakan itu, tapi Scorpius tahu jika ibunya memanglah salah satu kebanggaan asrama Gryffindor.

Rose dan James bertepuk tangan paling keras dimeja Gryffindor. Keduanya melambai dan Rose menunjuk-nunjuk tempat disampingnya. Segera saja, Scorpius berjalan kesana.

Matanya melirik sekilas kearah meja Slytherin―ke arah temannya, Demian, lebih tepatnya. Pemuda itu terlihat kecewa. Dan Scorpius bisa mengerti mengapa pemuda itu merasa kecewa.

Mereka berempat cukup dekat, dan tiba-tiba hanya Demian yang berada diasrama yang berbeda. Itu pasti akan membuatnya sedikit terasingkan, jika Scorpius jadi Demian.

Sekarang, jika Sirius Black adalah Gryffindor pertama dalam keluarga Black maka Scorpius menjadi Gryffindor pertama dalam keluarga Malfoy.

"Jadi, siap mencium Filch eh, Malfoy?" Rose berbisik sambil menyeringai.

Pupil Scorpius melebar. Astaga, ia lupa soal taruhan itu.

A/n :

Perkenalan tokoh pertama, Scorpius Hyperion Malfoy. Dari chapter ini bisa disimpulkan kan pairing disini selain Dramione? Yup, ada HarryGinny, RonPansy, BlaiseDaphne. Untuk yang lainnya menyusul di chapter-chapter selanjutnya :p