Leeteuk's POV
Dia melihat ke sini lagi. Jantungku berdebar dengan tidak karuan saat aku sadari sepasang iris mata berwarna hitam pekat menilik ke arahku, memperhatikan diriku dari sudut samping kelas, berbeda beberapa kursi dariku. Aku tidak pernah berani menatap balik pada dirinya, aku takut tidak bisa mengendalikan degupan tak nyaman yang selalu menghantuiku saat kedua iris mata itu mengunci gerakanku, yang bisa aku lakukan hanyalah pura-pura tidak sadar dan kembali sibuk dengan pelajaran Kartografi yang sedang berlangsung, iris mataku berusaha fokus ke depan walau jantungku seakan melompat-lompat tidak nyaman. Aku baru sekali seperti ini, aku seperti seorang gadis yang sedang jatuh cinta.
Dia sudah tidak memperhatikanku lagi, pikirku saat aku merasakan iris mata tersebut sudah beralih ke depan kelas, memperhatikan pelajaran. Kini dengan ragu aku menoleh ke arah dirinya, sosok pemuda yang selalu memperhatikanku dalam diamnya, seorang pemuda yang terlihat sangat dingin dan agak menyeramkan, namun aku tahu ada kehangatan di dalam dirinya yang tak semua orang bisa melihatnya. Senyumnya sangat tipis sekali namun sangat menenangkan, dia sosok yang tanpa aku sadari juga selalu aku perhatikan. Aku yakin dia sering melihat wajah suramku atau wajah sedihku, namun pandangannya tetap tidak berubah, pandangan suka, pandangan menerima apa adanya, pandangan yang seolah menggambarkan jika dia akan selalu melindungiku dengan segala yang dia punya. Aku tersenyum kecut, kadang aku merasa sangat bersyukur ada yang menyukaiku dengan segitunya, namun aku takut menyakitinya. Aku takut jika dia tahu bagaimana aku sesungguhnya dia akan menjauhiku selamanya, tidak akan memperhatikanku seperti ini lagi.
Aku menghela napas dan kembali fokus ke depan kelas, biarlah dulu begini. Aku duduk dalam diam dan mencatat materi yang menurutku penting hingga jam pelajaran berakhir. Aku menghela napas lagi entah untuk kesekian kalinya, beban pikiran sangat menghantuiku hingga jika aku tengah sendirian seperti ini, serasa sangat berat hal yang perlu aku pikirkan. Iris mataku menatap hampa ke bawah, seakan lantai jauh lebih menarik dari segalanya, aku yakin tidak ada yang memperhatikanku karena siswa yang lain sudah keluar kelas beberapa detik setelah lonceng berbunyi. Namun aku salah, iris mata sehitam kayu eboni, sedingin batu obsidian masih di sana, memperhatikan setiap gerak gerikku dalam diamnya.
PLAK!
Aku menampar kedua pipiku dengan lumayan keras. Aku harus fokus dan jangan terlihat muram terus di hadapannya. Aku harus terlihat bersemangat walau aku yakin itu tak akan bisa mengelabuinya semudah itu. Tapi biarlah, toh aku sudah berusaha. Lagipula setelah ini aku ada janji dengan temanku, Kim Yesung. Aku berjanji bertemu dengannya di kursi taman sekolah setelah usai jam pelajaran. Dengan cepat aku bangkit dari dudukku, tersenyum cerah kemudian mulai beranjak pergi, kembali menghiraukan iris mata sehitam eboni yang masih memperhatikan diriku. Saat aku keluar kelas aku melihat sosok namja yang aku tahu bernama Lee Sungmin tengah bersandar di dinding dekat pintu, aku hanya tersenyum kecil padanya sebelum benar-benar berjalan menjauh.
"Keberadaannya mengganggu saja." Ujarku dengan pelan, rasa cemburu menghampiriku, aku tahu namja itu selalu berada di sekitar orang yang aku sukai secara diam-diam. Dan aku tak menyukai itu, aku posesif, dan aku belum bisa mengubahnya.
Leeteuk's POV END
Your Shadow
"Sauriva Angelast"
Disclaimer : Semua member SUJU bukanlah milik saya, mereka adalah milik diri mereka sendiri…
Warning : OOC, Alur ribet, banyak typo(s) dan miss typo(s), saya membuat banyak sekali perbedaan. Baik itu sifat dan kehidupan tokoh. Alurnya sedikit berat dan agak memusingkan, sehingga yang tidak suka, saya sarankan segera menekan tombol back.
Don't like don't read
Rate : T
Summary : Aku menyukainya tanpa aku sadari. Aku tahu dia menyukaiku, aku tahu keberadaanku adalah warna dalam hidupnya, dan keberadaannya adalah anugerah dalam hidupku. Aku rasa kami saling melengkapi, walau nanti bukan hanya jalan mulus yang kami lewati, aku rasa aku siap menjalaninya asal selalu bersama dengannya. Kami mengikat janji yang akan selalu aku jaga selama aku bernafas, aku meyakinkan hatiku untuk selalu memilikinya dan menjadi miliknya.
HAPPY READING~~
Angin yang sangat nyaman bertiup dengan lancar tanpa henti, awan-awan yang menutupi sinar matahari membuat suasana menjadi tak menyengat seperti biasanya. Kesempatan ini digunakan oleh sepasang kekasih untuk menikmati suasana tersebut bersama-sama dalam damai.
Leeteuk merebahkan kepalanya pada paha milik Siwon, sedangkan pemuda berambut hitam tersebut bersandar di pagar pembatas dengan posisi duduk santai, tangannya membelai rambut Leeteuk dengan lembut, membuat pemuda manis yang tengah memejamkan mata di pangkuannya tersebut berwajah damai, merasa aman. Siwon yang melihat jika kekasihnya sangat menikmati waktu istirahatnya seperti ini mau tak mau tersenyum kecil, dia bahkan tak peduli jika jam istirahat sudah berakhir beberapa waktu yang lalu, baginya asal dapat membuat kekasihnya nyaman, hal yang menghalangi itu tidak akan dia pedulikan.
"Kau benar-benar sangat manis," Ujar Siwon dengan pelan, dia masih membelai rambut Leeteuk dengan lembut, bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman, sebuah senyuman yang sejak awal tidak juga pergi dari wajah rupawannya.
"Terima kasih." Iris mata semanis almond terbuka, senyuman mengembang di wajah manis itu sebelum dia menangkup wajah Siwon dengan kedua tangannya, Leeteuk semakin melebarkan senyumannya saat melihat iris mata Siwon terfokus padanya dan tak mau berpaling.
"Kau sangat tampan, Chagi." Leeteuk bangkit dari tidurnya, kemudian menyandarkan tubuhnya di pagar pembatas juga tepat di samping Siwon, bahu mereka bersentuhan, saling menyamankan posisi masing-masing.
"Apa istirahatmu sudah cukup?" Ada nada cemas di sana, saat Siwon merangkul bahu Leeteuk dan membawa pemuda itu dalam rangkulan eratnya.
"Ya. Aku baik-baik saja, Chagi." Leeteuk menjawab dengan ceria.
"Kau kurang tidur, bukan? Saat kau tertidur tadi, wajahmu terlihat sangat lelah… Ne, Teukie. Aku mohon jaga kesehatanmu, ya?" Siwon berujar dengan nada cemas. Dia merendahkan wajahnya hingga dia wajahnya menyentuh rambut-rambut halus Leeteuk.
"Aku juga berusaha untuk itu. Terima kasih, Chagi." Sahut Leeteuk, dia melepas rangkulannya dari Siwon, pemuda manis tersebut mendudukkan dirinya tepat di hadapan Siwon yang menatap penuh tanya padanya.
Leeteuk menaikkan posisi duduknya hingga sejajar dengan tinggi duduk Siwon, dia tersenyum manis sekali, membuat Siwon terus terpesona dan tak bisa berpaling, seakan-akan namja ini tahu bagaimana memikat orang lain hanya dengan senyumannya saja.
"Aku bersyukur kau ada di sampingku."
CUP…
Bibir hangat namja manis berambut pirang kecoklatan menyentuh dahi Siwon dengan mesra, iris mata Siwon membola, dia kaget namun tak bisa bergerak, wajahnya memanas dan jantungnya berdegup dengan sangat kencangnya, namun hal tersebut tak berlangsung lama saat dia merasakan air hangat menyentuh wajahnya, menetes dengan bebas melewati dagunya, diselingi suara isakan kecil, tanpa bertanyapun Siwon langsung merentangkan kedua tangannya dan membawa pemuda yang sangat dia cintai itu dalam sebuah pelukan hangat, dengan erat dia dekap, tak akan dia lepaskan, akan dia lindungi sampai napasnya berhenti.
"Aku di sini." Siwon berbisik dengan sangat lembut, dia merasa jika Leeteuk mulai tenang dan kembali memejamkan matanya, tidur. Siwon tersenyum sejenak sebelum raut wajahnya berubah serius, dia tahu apapun yang mengganggu pikiran Leeteuk itu bukanlah hal yang baik, dan dirinya merasa jika hal tersebut bisa membuat Leeteuk lepas dari genggamannya. Dia takut jika pemuda yang kini masih bisa direngkuhnya menghilang.
# # #
Pemuda itu melangkahkan kakinya pada halaman sebuah rumah yang tergolong mewah dan besar, dia menutup pagar di belakangnya dan mulai berjalan sangat pelan menuju pintu utama rumah mewah tersebut. Iris matanya yang semanis almond tidak menunjukkan kilaunya sejak awal, iris mata itu dingin dan tidak sedikitpun menggambarkan emosinya, wajahnya datar dan terkesan beku, gerak tubuhnya saja yang terlihat ulet, namun segala yang dia tunjukkan palsu, seakan-akan rumah ini adalah tempat yang tidak ingin dia datangi. Kedua tangan pemuda itu mengerat sebelum dengan pelan membuka pintu rumah tersebut, gelap langsung menguasainya.
"… Belum pulang juga ya?" Ujarnya dengan geram sambil menekan tombol lampu yang ada di dekat pintu. Namun hal tersebut hanya dia akhiri dengan helaan napas.
Leeteuk melepas sepatunya dan menggantinya dengan sandal rumah sebelum dengan cepat dia menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Tidak ada senyuman seperti yang dia tunjukkan pada Siwon, tidak ada raut hangat sama sekali di wajahnya, ini adalah Kim Leeteuk yang lain, Kim Leeteuk yang sesungguhnya, kah?
Tubuh kaku itu melemparkan dirinya sendiri ke atas sebuah tempat tidur king size yang ada di kamarnya, kamar tersebut masih gelap, sang pemilik kamar tidak bermaksud menyalakan lampu sama sekali. Manusia itu memang mudah sekali berubah dan terbawa suasana karena alur hidupnya yang menurutnya sangat sulit dan gelap, dan pelan-pelan mereka akan berubah menjadi pribadi yang lain. Mungkin pemuda yang tengah memejamkan matanya ini adalah salah satunya, salah satu manusia yang membenci dunia, terlebih membenci dirinya sendiri.
"Kalau seperti ini terus, sama saja dengan tidak ada sama sekali." Bibir tipisnya berujar dengan sangat dingin dan dalam, ada dendam di sana yang tidak mudah dimengerti oleh orang lain.
PRANG!
Tangannya mengambil sebuah pigura yang berada di meja samping tempat tidurnya dan membuangnya ke arah dinding kamarnya, membuat kaca pigura tersebut pecah berkeping-keping, sebuah pigura yang membingkai sebuah foto berukuran 5R yang mengabadikan foto sebuah keluarga utuh dengan anggota empat orang, mereka tersenyum cerah sekali, seakan-akan tak ada beban di antara mereka, seakan-akan tak masalah yang mendera mereka, berbeda sekali dengan sekarang. Ya, setiap manusia itu berubah, semua berubah karena memang mereka tidak sanggup mengatasi segala masalah jika tidak berubah, seperti bunglon yang harus bisa beradaptasi dengan lingkungannya, manusia juga melakukan hal tersebut untuk merasa aman, untuk lari dari masalahnya. Dan itu sama sekali tidak menyelesaikan masalah. Namun meski demikian, manusia sudah merasa cukup hanya dengan tidak menguak lukanya.
"Aku…aku benci dunia." Bibir tipis itu kembali berujar, iris matanya berkilat di dalam kamarnya yang remang-remang, di bibirnya tercipta sebuah senyuman aneh yang tidak pernah dia tunjukkan selama ini di hadapan orang lain.
Namun senyumannya hilang saat dia merasa ada getaran halus dari saku celananya, dia menatap layar utama ponselnya dan menemukan nama kekasihnya di sana, nama orang yang untuk saat ini dia beri kesempatan berada di sisinya, Choi Siwon. Iris matanya berubah berbinar saat kekasihnya tersebut menelpon dirinya, mungkin dia cemas.
"Ya? Chagi?" Jawabnya dengan senang, kegelapan hatinya kembali bersembunyi dan hilang. Untuk sementara.
'…Sudah sampai di rumah? Kau baik-baik saja?' Suara Siwon terdengar cemas, mau tak mau hal tersebut membuat Leeteuk terkikik geli, kekasihnya ini memang sangat tahu bagaimana merubah moodnya yang tadinya sangat buruk menjadi lebih baik, ya lebih baik.
"Tentu saja aku baik-baik saja! Kau pikir kau sedang berhadapan dengan siapa, Chagi?" Sahut Leeteuk dengan gemas, gelak tawa di seberang sana membuat hati Leeteuk menghangat. Ya, walau dunia menjauhinya, walau kegelapan menguasainya, dia masih memiliki tempat untuk kembali, dia masih memiliki tempat untuk pulang, tempat dimana dirinya diterima, seburuk apapun dirinya, sejahat apapun dirinya, dia masih memiliki Siwon yang teramat sangat mencintainya, dan sampai kapanpun akan tetap begitu, tempatnya bersandar, tempatnya untuk merasa aman. Mungkin dia tidak salah pilih, namun tiba-tiba ketakutan menghantuinya. Bagaimana jika Siwon bosan? Bagaimana jika ternyata Siwon tidak sebaik yang dia kira. Bagaimana jika Siwon juga akan meninggalkannya? Iris mata itu kembali menggelap. Manusia itu sama saja, bukan? Jika manusia itu sudah bosan akan sesuatu, maka dengan mudah akan ditinggalkannya. Tidak! Dia tidak mau ditinggalkan lagi!
'Teukie? Teukie!'
"Eh? I, iya?" Bentakan dari seberang membuat Leeteuk tersadar, dengan gugup dia menyahut panggilan dari Siwon.
'Aku ada di depan rumahmu, mau makan malam bersama?'
Mendengar hal tersebut, Leeteuk langsung membelalakkan matanya, dengan cepat dia bangkit dari tidurnya dan menyalakan lampu kamar, selanjutnya kakinya berlari menuju jendela, dan menatap keluar. Benar saja. Di luar pagar rumahnya ada seorang pemuda tampan yang tengah bersandar pada sebuah tiang listrik, di tangan kiri pemuda itu ada sebuah ponsel yang masih menempel di telinganya, sedangkan tangan kanannya melambai ke arah Leeteuk. Suasana di luar sudah gelap.
"Tunggu di sana, Chagi!" Ucap Leeteuk dari ponselnya sebelum namja itu menutus sambungan telpon.
Leeteuk menatap jam dinding di kamarnya, sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam, rupanya dia memejamkan mata lumayan lama, dengan cepat dia mengganti bajunya dan mengambil mantel yang sudah tersampir di dekat pintu kamarnya, kemudian dia mengambil ponselnya, sebelum berlari-lari kecil keluar rumah untuk menemui kekasihnya yang tengah menunggunya di depan rumah. Dia tidak menyangka jika Siwon senekat ini, namun dia senang, toh jika tidak begini dia tidak akan bisa merefreshkan pikirannya.
"Sudah lama menunggu?" Tanya Leeteuk saat dirinya sudah berada di depan Siwon, keringat mengalir di wajahnya yang menambah kesan manis dalam dirinya, tangan kirinya menyeka keringat yang akan jatuh dari pelipisnya, desah nafasnya terdengar menggebu-gebu.
"Tidak sama sekali." Sahut Siwon, dia membantu menyeka keringat Leeteuk dengan sapu tangan yang memang sengaja di bawa di saku mantel hitam yang dia kenakan. Apa yang dia lakukan tersebut mengundang rona bagi keduanya.
"Syukurlah…" Senyuman Leeteuk mengembang.
"Apa aku mengganggumu? Kau sedang tidur tadi, bukan?" Tanya Siwon dengan cemas, dia melihat sejak awal jika lampu kamar Leeteuk tidak menyala, dia takut jika kedatangannya justru mengganggu waktu istirahat orang yang sangat dia cintai ini, dia tahu jika kekasihnya ini memang membutuhkan istirahat yang lebih lagi, namun salahkan saja keegoisannya yang memang selalu ingin berada di samping orang yang dia sayang. Padahal dulu ya setidaknya beberapa hari yang lalu dia tidak seperti ini, dia puas hanya dengan melihat Leeteuk dari jauh, namun kini ada rasa posesif yang dia tidak tahu kenapa selalu menghantuinya, dia tidak senang jika pemuda manis yang kini melingkarkan tangannya di lengannya tidak berada dalam jarak pandangnya, rasanya sangat menakutkan jika dia tidak bisa lagi melihat Leeteuk dalam waktu yang lama.
"Aku baik-baik saja, Chagi! Ne, lalu kau ingin mengajakku makan malam di mana, Chagi?" Tanya Leeteuk sambil mencubit kedua pipi Siwon, dia berjingkit sedikit karena memang Siwon lebih tinggi darinya.
Siwon tidak menjawab melainkan hanya tertawa pelan kemudian membawa pemuda manis di hadapannya ke dalam pelukannya sebelum keduanya sambil bergandengan tangan berjalan berdampingan disertai dengan canda dan tawa, melupakan sejenak beban pikiran yang menghantui keduanya. Mencoba saling mencari kedamaian di lengan masing-masing.
# # #
Kim Leeteuk tertawa kecil dan semakin lebar saat tangannya melihat-lihat hasil foto foto berdua dengan Siwon, tawa mereka yang lepas, gaya aneh yang mereka lakukan, benar-benar membuat tawanya tak mau berhenti, sedangkan Siwon yang melihat tingkahnya hanya ikut tertawa kecil dan sesekali meremas-remas rambutnya, dia memang senang sekali memandang wajah Leeteuk, terlebih jika dia tengah tertawa seperti ini, dia bahkan tidak sadar jika dia memandang dengan begitu dalamnya.
"Hahaha, Chagi. Wajahmu lucu sekali!" Seru Leeteuk, dia mengambil sebuah foto yang menampilkan gaya aneh mereka berdua, yang sedang dalam posisi tidak menguntungkan adalah Siwon, karena memang dalam foto itu wajahnya terlihat lucu sekali.
"Dan di foto ini, wajahmu sangat cantik, Chagi." Balas Siwon tak ingin kalah, dia mengatakan cantik untuk foto dimana Leeteuk terlihat sangat aneh dan lucu. Dan itu jelas mengundang tawa bagi keduanya. Mereka beanr-benar menikmati waktu mereka sebaik-baiknya.
Kedua pemuda yang memang sedang terlihat dimabuk cinta itu berjalan berdampingan di sisi-sisi jalan dan melihat-lihat toko yang memang berjejer di samping jalan, dari aneka macam jenis jualan. Leeteuk menggandeng lengan kekasihnya dengan begitu erat, di salah satu tangannya ada satu cup es krim yang baru saja mereka beli di toko yang mereka lewati sebelumnya. Malam mulai larut namun keduanya tak ada yang berniat untuk menyudahi mala mini sekarang, mereka masih ingin begini, masih ingin berdua seperti ini, sama-sama tidak ingin mengakhirinya secepat ini.
'Hei, hei, itu Kim Leeteuk, bukan?'
'Waah, mereka ternyata memang menjalin hubungan…'
'Pasti akan sama saja dengan sebelumnya, Kim Leeteuk akan meninggalkan namja itu…'
Choi Siwon jelas mendengar banyak sekali nyanyian di sekitar mereka, terlebih dari satu kelompok anak muda yang baru saja berpapasan dengan mereka, itu mungkin adalah sekelompok anak muda dari sekolah yang sama dengan mereka, dia juga tidak tahu, namun dia tidak suka bagaimana mereka menilai dirinya dan Leeteuk, namun bagian terakhir dari desas-desus yang dia dengar barusan membuatnya tidak nyaman. Bagaimana jika Leeteuk benar-benar akan meninggalkannya? Leeteuk itu sempurna, mendapatkan pemuda atau perempuan yang jauh lebih baik dari dirinya adalah perkara yang sangat mudah.
Hanya dengan memikirkan hal tersebut saja sudah memflip kan mood Siwon. Pemuda yang tengah menggenggam erat lengannya kini adalah orang yang sangat dia cintai, dengan berasumsi jika pemuda ini akan jauh darinya saja sudah membuatnya tidak nyaman, apalagi jika pemuda ini meninggalkannya, mungkin dia bisa gila. Cintanya memang sudah tidak terbendung lagi, sebuah obsesi yang sangat besar dia pendam dengan begitu rapi dan menggebu, dia tidak mau ditinggalkan, cara agar dirinya tidak ditinggalkan, bagaimana? Rasa bosan seseorang juga tidak terbendung. Bagaimana jika Leeteuk bosan padanya? Bagaimana jika Leeteuk tak ingin berada di sampingnya lagi? bagaimana jika ternyata Leeteuk menemukan hal yang tidak dia suka dari dirinya? Bagaimana jika Leteuk memilih untuk pergi? Selama? Bagaimana ji-
"…Chagi…"
"Eh?" Panggilan dari Kim Leeteuk yang berada di sampingnya membuat pikiran buyar, Siwon menatap pemuda di sampingnya dengan penuh tanya dan bingung, namun ketika dia melihat kilat cemas di sana, sebersit rasa bersalah langsung menghantuinya. Dia tidak ingin Leeteuk memandangnya penuh cemas, hanya dia yang boleh memandang Leeteuk dengan pandangan seperti itu, tidak boleh sebaliknya. Dia hanya ingin memberikan kenangan baik saja dan kebahagiaan untuk pemuda ini, dia tidak ingin sebaliknya.
"Kau kenapa, Chagi? Ada yang mengganggu pikiranmu?" Tanya Leeteuk dengan lembut, mereka kini duduk di sebuah kursi taman yang lumayan sepi, mungkin karena malam memang sudah lumayan larut.
"Tidak ada. Kau tidak udah cemas, ayo kita jalan lagi…" Ajak Siwon dengan tawa renyah, dia sudah mau beranjak pergi namun ditahan oleh sebuah tangan yang meraih tangannya dengan begitu lembut.
"Aku tidak tahu apa yang mengganggumu. Tapi, Chagi. Aku ada di sini…" Ujar Leeteuk, dia membawa tangan Siwon dalam genggamannya dan mencium tangan itu dengan begitu mesra, walau tindakannya itu membuat pipinya merona dengan begitu jelas, namun dia tidak peduli, toh dia memang serius dengan Siwon, apapun yang terjadi dengan mereka, Leeteuk tetap akan mempertahankan pemuda ini, kecuali Siwon berkehendak sebaliknya, namun Leeteuk tidak akan memikirkan kemungkinan terburuk tersebut, yang dia tahu saat ini yang dia inginkan hanya bersama dengan pemuda ini.
Luluh. Pertahanan Siwon luluh sudah, dengan cepat dia membawa pemuda yang masih duduk di bangku taman ke dalam pelukannya, dia merengkuh tubuh mungil dan rapuh itu dalam pelukannya yang sangat erat, dia bodoh karena terlalu berpikiran jauh, seharusnya bisa menghabiskan waktu bersama dengan orang yang sangat dia sayang seperti ini saja sudah membuatnya puas, tidak perlu berpikiran buruk jika Leeteuk akan meninggalkannya, cukup buat pemuda di dalam pelukannya ini merasa nyaman dan beri kebahagiaan, itu sudah cukup. Masalah yang akan terjadi nanti, akan dia hadapi nanti, yang saat ini harus dia lakukan hanyalah bertindak sewajarnya, berpikir seadanya, namun rasa cintanya pada pemuda ini yang akan menemukan jalannya. Siwon sadar hal tersebut.
"Aku hanya takut jika kau sudah bosan padaku, Sayang…" Ujar Siwon untuk pertama kalinya dia berujar tentang masalah yang dia rasakan kepada Leeteuk, selama ini dia hanya diam dan berdebat dalam pikirannya saja. Namun menurutnya, Leeteuk pantas untuk tahu apa yang tengah dia rasakan, walau singkat umur hubungan yang mereka ikat, namun Siwon sudah merasa jika rasa posesif yang dia miliki sudah sangat besar, daripada menyakiti Leeteuk dengan sikapnya nanti, lebih baik dia jujur sekarang.
"Apa itu sangat menghantuimu hingga tak terbendung lagi, Chagi?" Tanya Leeteuk dengan pelan, anggukan dari Siwon membuat dia mengeratkan pelukannya pada punggung Siwon. Dia juga merasakan hal yang sama, merasakan ketakutan yang sama, mungkin benar, mereka memang memiliki rasa posesif yang sama, mungkin Leeteuk tidak salah pilih, Siwon adalah orang yang memang dapat memberinya cinta yang tulus, rasa posesif, rasa takut kehilangan, rasa ingin membuat pasangannya bahagia, selama ini hanya itu yang dia lihat dari Siwon saat memandangnya, pemuda itu serius dengan dirinya, tidak selamanya pemuda yang terlihat dingin seperti Siwon akan tahan mendengar desas-desus tidak enak tentang hubungan mereka, tidak selamanya pula pemuda itu bisa bersikap dingin dengan segala ketakutan dan masalah yang dimiliki. Leeteuk paham akan hal itu, karena dia merasakan hal yang sama. Mungkin inilah saatnya dia membangun pilar yang baru untuk hubungan mereka yang Leeteuk inginkan bertahan selamanya dan akan lanjut ke jenjang berikutnya.
"Kau tahu, Chagi… Aku sangat mencintaimu. Aku tanpa sadar menjadikanmu tempatku bersandar dari segala hal buruk yang aku alami, aku merasa aman jika kau berada di sampingmu. Bagaimana mungkin aku akan meninggalkanmu? Aku ini lemah, Siwon… Memikirkan jika kau akan jauh dariku saja sudah membuatku sedih, apalagi jika kau benar-benar meninggalkanku?" Ujar Leeteuk, dia melepaskan pelukan mereka, iris matanya yang semanis almond memandang ke dalam obsidian yang tengah menatapnya juga, ada kilat posesif yang sama-sama mereka rasakan.
"Tentu saja aku tidak akan meninggalkanmu." Dingin dan tegas. Siwon menyahut dengan lantang, menatap langsung pada iris mata orang yang sangat dia sayangi.
"Kalau begitu, aku juga tidak akan meninggalkanmu. Jika kau merasa aku akan meninggalkanmu atau kau tengah berpikiran buruk seperti itu, cukup raih aku, genggam tanganku, bawa aku dalam pelukanmu, dan yakinkan hatimu jika aku akan tetap di sana, Sayang." Sahut Leeteuk dengan senyuman manis sekali. Baru kali ini Siwon melihat Leeteuk sangat cantik dari biasanya, lebih bersinar dari biasanya, malaikatnya, malaikatnya memang sangat mempesona.
Tanpa ragu, Siwon meraih tangan Leeteuk, membawanya dalam menggamannya, dia berlutut di hadapan namja itu, mencium tangannya dengan sangat lembut sebelum pelukan hangat dia berikan kepada Leeteuk, dia sudah mulai tenang, dan untuk seterusnya mungkin dia bisa meyakinkan hatinya dengan cara ini bahwa pemuda yang ada di dalam pelukannya tidak akan kemana-mana, akan selalu berada di sisinya sampai kapanpun.
"Ne, Chagi. Rupanya acara melankolis kita ini menghabiskan banyak waktu. Sekarang sudah larut malam, apa sebaiknya kita pulang saja?" Canda Leeteuk dengan kikikan geli saat melihat rona merah di kedua pipi Siwon.
"Ayo kita pulang, Sayang."
# # #
Siwon membuka pintu rumahnya dengan pelan, walau sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam, lampu di rumahnya belum juga padam, yang artinya penghuni di dalamnya belum berlabuh ke alam mimpi. Siwon terdiam sejenak, ingatannya kembali bergulir ke belakang, seketika dadanya menghangat. Dia senang sekali malam ini.
"Kau tampak sangat senang. Apa date nya berjalan dengan lancar?"
"O, Omma?" Siwon berujar dengan terkejut ketika sosok wanita cantik menyambut kedatangannya.
"Bagaimana, Wonnie? Apa dia memang yang kau inginkan?"
"Ya. Dia yang aku inginkan, Omma." Sahut Siwon dengan sangat yakin, hal tersebut mengundang senyuman pada wajah sang wanita cantik, rupanya anak kesayangannya sudah tumbuh segini dewasa.
"Sepertinya banyak yang akan kau ceritakan. Mau berbagi?" Tanya Omma Siwon dengan jahilnya kala menemukan rona merah di kedua pipi anaknya, hal yang jarang sekali dia lihat. Rupanya, siapapun orang yang dimaksud oleh Siwon, pastilah itu sangat spesial karena berhasil membuat puteranya seperti ini.
# # #
"Aw…!" Jemari itu tergores oleh kepingan kaca saat Leeteuk berusaha memungut kembali dan membersihkan pecahan kaca dari pigura yang dia lembar hari ini, namun naas karena jemarinya tanpa sengaja menggores kepingan kaca tersebut, dengan cepat dia usap darah tersebut dengan sapu tangan dari Siwon yang ternyata masih dia simpan di balik mantelnya.
Iris matanya yang semanis almond menerawang, malam ini benar-benar sangat menyenangkan, benar-benar sangat bersyukur dirinya memiliki Siwon di sampingnya, sebaiknya dia juga jangan terlalu memikirkan hal yang buruk, jalani saja, dan pasti ada jalannya. Dia tersenyum kecil.
Bunyi mesin mobil yang berhenti di depan rumah membuat Leeteuk terdiam untuk beberapa saat, dengan cepat dia mematikan lampu kamarnya, dan beranjak menuju tempat tidur, dia tidak mau mendengar perkataan apapun dari orang yang baru saja pulang ke rumah tersebut.
TBC
Balasan Review :
Tama : Hehehe melankolis hanya dalamnya saja lo, Tama-chan. Klo luarnya dia dingin minta ampun, kecuali di depan Leeteuk. Oia, makasih udah review ya.
Fazarzee : Haha, memang jarang sekali pairing ini, makanya pengen coba. Makasih klo hasilnya bagus … dan makasih udah review ya.
Lee seokie : Karena jarang, aku mencobanya. Padahal aku ini KyuTeuk sukanya, dan juga YeTeuk. Tapi pengen yang WonTeuk. Wkwkwk karena kena angin apa gitu… Sifat Leeteuk Cuma satu aja, dia aja yang pakai topeng untuk menutupi semuanya. Hehe … Umm gimana ya? Jelas ga ada motif, cinta keduanya murni kok, aku start dari sana. Hehehe… dan makasih udah review ya.
Shofie Kim : Hehehe, iya. Aku juga berusaha ini ga gantung kok, hehehhee makasih udah review ya.
Nisca31tm-emerald : Masa begitu, Nisca-chan? Padahal aku merasa jika cerita ini agak maksa banget, aku sengaja ngambil setting dimana memang keduanya sudah saling mencintai, sehingga masalah hati gak akan aku bawa, aku akan lebih fokus ke konflik yang lain untuk membumbui semua itu. Dan jangan ingatkan aku pada fic yang lain T.T aku berusaha meneruskannya, Nisca-chan! XD
Narumi Kadaya : Muahahahhaha, senang sekali saya (ups, akhirnya pakai kata saya juga, padahal sudah mengubah pakain 'aku') mendengar kata-kata anda, Narumi-san. Saya akan berusaha sebisa saya .. makasih udah review ya.
Penpen Sugura : Hihihi makasih Sugura-chan! Akan aku lanjutkan sekuat tenaga. Wkwkwkwk makasih udah review ya.
Guest1 : Udah lanjut dan makasih udah review ya.
Minyak Wangi : Belum jelas karena memang di chap awal, tp di chap 2 ini semua sudah jelas, kan? Hehehe mereka saling mencintai, mereka saling melindungi dan sama-sama takut kehilangan, walau semua itu belum terungkap semua. Wkwkwk
Haikal Kaichou : hehehehhee makasih yaaa dan sekali lagi makasih udah review ya.
Guest2 : Ini udah lanjut dan makasih udah review ya.
Neko chan 75470 : Hehehe iya ini WonTeuk. Ini udah lanjut dan makasih udah review ya.
TeukTeukTeukie : WKWKWKWKWK, Oennieee! Akhirnya saya bikin fic lagi, muahahahahah dan saya mengabulkan keinginan Oennie yang ingin WONTEUK. HAHAHAHA … #plaakk! Fiuh, dan hasilnya bagus yaa? Hhohoho makasih,,, tapi fic lain belum update, saya sedih… #plaakkkk! Tapi saya akan berusaha Oennieee... XD
Ya, setidaknya fic ini akan lanjut hingga beberapa chapter ke depan, dan rasanya saya sangat berterima kasih kepada kalian yang sudah review dan memberikan masukannya kepada saya, hehhe… :D
