Chapter 2
Ketukan sandal kayu itu menggema di koridor kantor berlantai lima yang sepi tanpa seorangpun yang melewatinya kecuali seorang gadis berkimono putih dan bertubuh mungil serta berambut lavender pucat panjang. Mata violetnya terlihat sangat tenang walau terdapat rasa lelah di sana.
Tepat di ujung koridor, senyum tipis terlihat di bibirnya tatkala mengingat sudah sebulan ia tak berkunjung ke tempat yang telah menemaninya selama tiga tahun terakhir. Segera ia putar knop pintu kayu itu hingga menimbulkan decitan pelan dan melangkah masuk. Seorang pria berambut putih langsung menyambut ramah kedatangannya dan menyuruhnya untuk duduk di sofa empuk di sampingnya.
"Shirayuki-chan, selamat atas novel ke-35 mu. Kau benar-benar seorang penulis yang cemerlang."
Gadis itu hanya tersenyum tipis menanggapinya, "Dan juga, sangat disayangkan kami harus kehilangan penulis sepertimu, Shirayuki-chan." Ucap pria itu dengan nada getir. Gadis itu memandang tanya padanya.
"Apa maksudmu, Ukitake-san?"
"Kuchiki Byakuya memintaku untuk memutuskan kontrak kerja kita segera." Jawabnya sambil menyerahkan sebuah amplop cokelat pada gadis yang telah bekerja padanya selama tiga tahun. "Padahal aku sudah mengatakan padanya bahwa aku tak bisa melakukannya kecuali kau sendiri yang mengatakannya padaku, Shirayuki-chan. Tapi, Kau tahu bagaimana kakakmu dibanding diriku kan, Shirayuki-chan?"
Tangan putih gadis itu menerima amplop itu dengan gemetar. Mata violetnya melebar tak percaya dan suaranya tercekat. Tanpa sadar, ia menggenggam terlalu erat amplop coklat itu hingga membuatnya menjadi rusak.
"Apa-apaan ini, Nii-sama?" gumamnya.
~Bleach~
Pairing: Ichigo x Rukia
Genre: Drama and Romance
Warning: OOC, Typo bertebaran. Jika ada kesamaan cerita, mohon dimaafkan
Karena cerita ini sepenuhnya dari otak author.
"R-Rukia-sama, Kuchiki-sama sedang ada tamu." Ucap seorang wanita dengan nada pasrah sambil mencoba menahan tubuh seorang gadis mungil yang bahkan tak mengeluarkan suaranya sama sekali. Tangan mungilnya tengah menggenggam erat sebuah amplop coklat. Gadis berambut hitam sebahu terlihat tak peduli sama sekali akan sopan santun saat ini dan terus berjalan hingga ia mendobrak kasar pintu kayu itu.
Disana, dengan wajah dinginnya, seorang pria berambut hitam panjang menatap gadis mungil yang tengah mengusik dirinya bersama pria berambut silver. Ia mengangkat tangan kanannya, mengisyaratkan agar wanita yang menjabat sebagai sekretarisnya untuk pergi sedangkan pria berambut silver itu hanya tersenyum sembari melangkah keluar ruangan.
Merasa bahwa hanya tinggal dirinya dan sang kakak, ia berjalan mendekat dan menjatuhkan dirinya di atas kursi yang sebelumnya diduduki oleh pria silver asing tadi sambil menyilangkan tangannya dengan angkuh.
"Apa yang Nii-sama lakukan kali ini?" Tanya Rukia dengan nada datar khas Kuchiki miliknya. Mata violetnya menatap nyalang ke arah kakak yang dulu sangat ia hormati.
"Berhenti menjadi penulis hal yang tak penting dan laksanakan pertunanganmu dengan Shiba Kaien segera." Jawabnya datar. Rukia mendengus pelan mendengar ucapan Kuchiki Byakuya. Tak penting? Apakah bertunangan dengan seseorang yang tidak ia cintai dan mencintainya itu penting? Pikirnya.
Gadis itu meletakkan amplop coklat dan menyerahkannya pada Byakuya, lalu berdiri dari duduknya. Mata violet-nya menatap nanar sosok Byakuya yang tetap memasang wajah dingin padanya. Hatinya semakin terluka dengan sikap sang kakak yang hanya taat pada peraturan Kuchiki dan menghukum siapapun yang melanggar aturannya tanpa terkecuali termasuk dirinya.
Sosok kakak penyayang dan hangat yang ia cintai telah hilang entah kemana, digantikan dengan sosok dingin yang akan mencapai apapun agar kekayaan keluarga Kuchiki tidak berakhir. Rukia hanya menghela napas pelan dan mulai melangkah menjauhi sang kakak dan berhenti tepat di depan pintu. Hilang sudah tingkah angkuh dan tatapan menantangnya. Ia merasa bahwa sia-sia saja jika berbicara dengan kakaknya seperti tadi.
"Jangan mengurus urusanku lagi, Nii-sama. Rukia yang dulu sudah lama hilang semenjak Nii-sama mengusirnya tiga tahun yang lalu tanpa memberinya kesempatan sedikitpun. Rukia yang sekarang akan melakukan apa yang ia inginkan tanpa paksaan siapapun termasuk dari Nii-sama."
"Yang kubutuhkan bukanlah uang, tahta ataupun pakaian indah yang selalu Nii-sama berikan padaku melainkan rasa percaya dan sayang Nii-sama padaku. Tapi, sepertinya itu hanya mimpi yang sulit kugapai. Bukan begitu, Nii-sama?" Pintu kayu itu ia buka dan melangkah pergi dari sana, meninggalkan sosok Byakuya yang masih menatap datar pintu dan beralih ke seonggok amplop rusak di atas meja.
Disisi lain, Rukia mempercepat langkahnya bahkan hampir berlari meninggalkan gedung perusahaan Kuchiki dengan air mata yang mengalir deras di pipi putihnya. Syal putih yang semula terlilit rapi kini sudah berantakan namun ia tak memperdulikan sama sekali. Bahkan suara orang-orang yang memanggil dirinya tak ia dengarkan.
Setelahnya, ia merasa dirinya di tarik oleh seseorang dengan kuat kebelakang dan membuatnya jatuh di atas tubuh orang tersebut. Dapat ia rasakan, orang itu terengah-engah dan tangannya yang memeluk tubuhnya dengan gerakan protektif.
"Apa yang kau lakukan, gadis kecil?!" Gertak orang itu dengan kasar membuat dirinya terkejut. Suara gertakan itu terasa familiar baginya dan ia mendongak menatap kaget sosok pemuda berambut jingga berantakan dengan mata hazel yang ia sukai tengah menatap marah sekaligus cemas padanya bersamaan dengan keringat yang banyak mengalir di dahinya.
"Kurosaki... Ichigo-san?"
Helaan napas pelan keluar dari mulut sosok pemuda berambut jingga berantakan yang tengah bersandar di dinding sambil bersedekap tangan menatap seorang pria separuh baya berjas putih khas seorang dokter yang membalut pergelangan kaki gadis mungil berambut hitam yang terus berdiam diri sejak tadi.
Beruntung saja ia masih bisa menarik gadis mungil itu sebelum ia ditabrak mobil. Sedari perjalanan menuju kemari, gadis itu terus saja menangis dalam diam tanpa ada ekspresi syok sama sekali. Beruntung juga saat kejadian tadi, tak ada satu orangpun mungkin yang memotret kejadian dirinya dan malah mencemaskan keadaan gadis mungil yang baru ia temui untuk kedua kalinya.
Gadis mungil itu terus menatap kosong kearah lantai dengan ekspresi yang tak bisa pemuda itu baca. Terlalu banyak emosi bercampur, membuatnya tak bisa menyimpulkan apa yang tengah gadis mungil itu hadapi saat ini.
Matanya beralih ke sosok pria separuh baya yang sepertinya sudah selesai memerban kaki gadis mungil itu dengan amat rapi.
"Bagaimana kakinya, Oyaji?"
"Hanya terkilir gara-gara kau salah menarik dirinya, anak bodoh. Seharusnya kau bersikap lebih lembut pada seorang gadis apalagi gadis manis seperti dia." Gerutu pria bernama Kurosaki Isshin pada anaknya pertamanya.
Ichigo menatap tajam pada sosok ayah yang ia anggap ayah terbodoh dan teraneh di dunia. Isshin mengabaikan tatapan tajam Ichigo dan memilih tersenyum manis pada sosok gadis yang terlihat melamunkan sesuatu dihadapannya.
"Jadi, katakan padaku siapa namamu, gadis manis?" Tanya Isshin dengan nada semangat pada Rukia. Gadis itu tersentak pelan dan memandang kikuk Isshin yang tengah tersenyum hangat padanya.
"Aku merasa berterima kasih padamu karena akhirnya putra bodohku membawa pulang seorang gadis. Hampir saja aku mengira dia homo karena selalu dengan teman laki-lakinya." Bisiknya pelan didekat Rukia sambil sesekali mengintip Ichigo dengan tatapan kasihan.
Buagh! Praang!
Tubuh Isshin berhasil terpental keluar jendela dengan tidak elitnya setelah mendapat tendangan dari Ichigo. Wajahnya tampak menahan emosi karena mendengar bisik Isshin yang bisa dibilang tidak pelan dan tak masuk akal sama sekali.
Gadis itu hanya memandangi kejadian itu dalam diam. Ia pandangi sosok Ichigo yang tengah menggaruk kepalanya sambil berjalan mendekatinya.
Ctaak!
"Ittai..." Gumamnya pelan sambil mengusap dahinya yang memerah akibat jentikkan tiba-tiba Ichigo. Pemuda jingga itu tampak tak peduli dan mengambil kursi milik ayahnya dan meletakkannya tepat di hadapan gadis yang belum ia ketahui namanya.
Gadis itu kembali diam sembari tangan putihnya tetap mengelus dahinya. Ichigo terus memandanginya tanpa ada niatan untuk meminta maaf dan menunggu gadis itu untuk berbicara.
"Arigatou dan gomennasai, Kurosaki-san." Ucap Rukia tiba-tiba dengan suara lemahnya. Ichigo tak menanggapi perkataan gadis itu sama sekali seakan jika ia menanyainya, gadis itu kembali bersedih dan ia tak menginginkan sama sekali melihat gadis itu menangis hingga ia memilih untuk menanyakan hal lain."Siapa namamu, gadis kecil?"
"Rukia. Kuchiki Rukia." Ucap gadis itu dengan suara lemah. Pemuda itu menganggukkan kepalanya. Akhirnya ia mengetahui nama gadis yang ia temui sebelumnya.
Pemuda itu kemudian bangkit dari duduknya dan mengulurkan tangannya pada Rukia.
"Sudah waktunya makan malam. Ayo, kau harus ikut makan bersama keluargaku. Aku yakin Yuzu sedang memasak sekarang." Ucap Ichigo dengan senyum tipisnya. Gadis itu menerima uluran tangan itu dengan ragu. Saat hendak berdiri, tubuhnya sedikit oleng mengingat kakinya yang terkilir dan saat menuju kemari, ia digendong oleh pemuda itu dipunggungnya. Beruntung, Ichigo dengan sigap menahan tubuh gadis itu dan membantunya berjalan menuju dapur.
Dan benar dugaannya. Adiknya, Yuzu, tengah memasak dan dibantu oleh kembarannya tak lupa juga sang ayah yang sudah melepaskan jas kerjanya dan mengganggu kegiatan adik-adiknya memasak yang langsung di tendang oleh Karin.
Yuzu yang menyadari keberadaan mereka berdua, langsung menunda pekerjaannya dan menyambut Rukia dengan penuh semangat, berbeda dengan kembarannya yang hanya tersenyum tipis dan bersikap sopan.
"Kau sedang masak apa, Yuzu?" Tanya Ichigo saat melihat betapa banyaknya sayur yang sedang dipotong Karin dan juga mencium aroma pedas dari pot besar.
"Karena Onii-chan bilang akan pulang hari ini, jadi aku membuat ramen. Dan sangat kebetulan cuaca sedang dingin makanya aku membuat ramen pedas. Kau tak keberatan kan, Onee-chan?" Rukia sedikit kebingungan dengan situasi dan hanya menganggukkan kepalanya. Yuzu tersenyum lebar dan menyuruh Ichigo dan Rukia untuk menunggu ramennya selesai di ruang makan, lalu kembali dengan kegiatan memasaknya.
Wajah Rukia kembali cerah seperti awal Ichigo bertemu beberapa hari yang lalu setelah makan malam yang dihiasi oleh tingkah konyol ayahnya. Setidaknya, kekonyolannya kali ini berguna, pikir Ichigo.
Saat ini, Ichigo dan Rukia hanya duduk di beranda belakang rumah di temani secangkir teh hangat yang telah dibuat oleh Ichigo sendiri sedangkan anggota keluarga yang lain tengah sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Isshin menyuruh Rukia untuk menginap malam ini di rumah mereka hingga esok setelah menanyakan dimana si gadis tinggal dan ia mengatakan bahwa ia tak memiliki tempat tinggal di kota Karakura dan berencana hanya menyelesaikan pekerjaannya hari ini dan berangkat setelah menyelesaikannya. Namun, karena kecelakaan tak terduga tadi dan juga hari sudah larut malam, tentu saja tidak akan ada pesawat yang akan melakukan penerbangan menuju Soul Society saat ini.
"Kau tidak kedinginan?" Tanya Ichigo sambil menatap gadis mungil yang menolak menggunakan jaket milik Ichigo dan hanya menggunakan kaos tipis ungu miliknya padahal sedari tadi bibirnya terus bergetar kedinginan.
"Bohong jika kubilang tidak." Balas Rukia sambil tersenyum tipis. Ia merasa dirinya sudah jauh lebih baikan jika bersama Ichigo maupun keluarganya. "Aku hanya merasa tenang jika seperti ini, Kurosaki-san. Rasanya seperti bebanku dibawa oleh dinginnya salju." Lanjutnya.
Ichigo mendengus pelan mendengarnya. Ia segera melepaskan jaket miliknya hingga menampakkan sweater biru tua tebal dan memasangkannya di tubuh gadis rapuh itu, "Jangan menolaknya. Aku tak mau kau mati kedinginan hanya karena pikiran konyolmu itu. Setidaknya jika kau punya masalah, kau bisa mengatakannya padaku dan bukannya membekukan tubuh mungilmu di tumpukan salju atau sebagainya." Rukia hanya terdiam dan sesaat kemudian tersenyum malu dengan guratan merah tipis di pipi putihnya. Bibir mungilnya menggumamkan terima kasih dengan sangat pelan.
"Dan juga, aku ingin kau memanggilku dengan Ichigo. Aku tidak terlalu suka jika kau memanggilku dengan nama keluargaku, seakan-akan kau memanggil ayahku dan bukannya diriku." Sambungnya sambil memalingkan wajahnya ke arah lain selain wajah Rukia dengan rona tipis yang juga menempel di pipinya. Ia sedikit malu saat mengatakan permintaannya pada sosok yang bahkan baru ia temui dua kali itu.
Rukia menganggukkan kepalanya dan suasana kembali hening. Mereka larut dalam pikiran mereka masing-masing hingga hanya suara hembusan angin yang terdengar. Walau begitu, entah kenapa suasana heningnya terasa nyaman dan mereka sangat menyukainya.
Tanpa mereka sadari, sedari tadi terdapat tiga tumpukan kepala yang mengintip kegiatan mereka dan tersenyum penuh arti pada mereka. Setelahnya, salah satu dari mereka mulai beranjak dari sana sambil mengibas-ngibaskan tangannya ke wajahnya, membuat yang lain bertanya-tanya apa yang terjadi padanya.
"Panas sekali di sini. Lebih baik aku ke kamar dulu, Yuzu, Oyaji." Ucap salah satu pengintip yang ternyata Karin, saudara kembar Yuzu. Seakan mengerti dengan ucapan Karin, Isshin dan Yuzu langsung cengengesan dan beranjak dari sana dan membiarkan dua orang yang tengah larut dalam suasana romantis mereka sendirian. Namun, Karin sedikit menyesali ucapannya tadi dan kini ia dihadapkan dengan tingkah konyol ayahnya yang tengah memeluk poster sang Ibu yang luar biasa lebar dan melompat-lompat seperti anak kecil.
"Masaki, sebentar lagi kita akan memiliki cucu!"
Sementara itu, seorang pria bertubuh tinggi tengah merapikan koper hitamnya sambil tersenyum riang. Hatinya merasa senang karena akhirnya ia bisa kembali ke kota tempatnya tinggal dulu dan juga menemui pujaan hati yang telah lama tak ia jumpai.
Esok, ia akan meninggalkan Hueco Mundo dan kembali ke Soul Society dikarenakan sang ayah yang menugaskannya untuk memimpin salah satu perusahaan milik ayahnya padanya di Soul Society yang hampir bangkrut.
Ia menghempaskan tubuhnya di atas kasur setelah selesai memasukkan seluruh pakaiannya ke dalam koper. Rasa penatnya hilang saat mengingat sosok pujaan hati yang selama ini terus menghampiri pikirannya. Sosok yang menyatakan cintanya tepat sebelum keberangkatannya menuju Hueco Mundo empat tahun yang lalu dan berjanji akan menunggu dirinya dengan sabar.
"Rukia, tunggulah aku."
To Be Continued
Chapter 2 update!
huwa! maaf ya minna-san, udah sebulan lebih Reiko gak nulis fanfic T_T dan malah bikin Rukia dan Byaku-nii berantem. huwaa, gomenne! #plak.
oh ya, ada yang bisa nebak siapa pemuda yang lagi mikirin Rukia sekarang? dan alasan Byaku-nii ngusir Rukia?
makasih juga untuk Viselle, Azura Kuchiki, Classiera Niza, virgo24, VQCristhya, Rini desu, dan Izumi Kagawa atas review dan sarannya. Reiko benar-benar terbantu :)
baiklah, kalau begitu sampai ketemu di chap depan, minna-san!
akhir kata,
RnR, please?
