Yah, berhubung, (ga) banyak yang minta lanjutin, jadi saya (ga) lanjutin~ Yaak~ Chap 2 update~ ^^/ Waay, hepi reading, jangan lupa siapin kantung muntahan dan duduk deket telpon, supaya gampang buat menghubungi Rumah Sakit terdekat yaa~ :*


Title :

Yahari Ore Tachi no Family wa Maccigatteiru!

Note :

Sekuel dari AkaKuro no Family

Disclaimer :
I don't own anything

Story :
©Rall Freecss

Cast :

Aomine x Kagami, Child Kuroko & Akashi, etc

Warning :

OOC, Yaoi, Newbie, Typo everywhere, GaJe, etc :v


Pagi yang indah menyambut chapter ke-dua dari Yahari Ore blablabla. Kagami menyibak groden yang menutupi jendela kamar putra kesayangannya.

"Baiklah, baiklah, kalian berdua cepat bangun!" perintah Kagami, Kuroko dan Akashi bangkit dari alam tidurnya, jangan lupakan rambut 'bangun tidur' mereka yang sukses membuat warga sekampung ketawa ngakak.

"Selamat Pagi, Kaa-san" ucap Kuroko dan Akashi kompak sambil mengucek-ngucek mata mereka. Kagami segera 'menggiring' kedua putranya itu menuju kamar mandi. Setelah keduanya sampai di kamar mandi, Kagami berjalan keluar kamar dan menuju perhentian berikutnya.

"Daiki! Daiki! Ayo cepat bangun!" Kagami menarik selimut yang menutupi tubuh besar suaminya itu. Namun, pria berkulit tan itu malah kembali menarik selimutnya.

"Aku masih mengantuk!" keluhnya, Kagami menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Ayolah, jangan seperti anak kecil!" bujuk Kagami, si surai biru masih meringkuk di atas kasur King Sizenya itu.

"Aomine Daiki!" Kagami mulai meninggikan suaranya, pria yang dipanggil Aomine Daiki itupun akhirnya mengalah dan bangkit dari tempat tidur empuknya.

"Baiklah, baiklah" Aomine duduk dan mengcek-ngucek matanya. Kagami tersenyum puas melihat suaminya kini telah bangun dari tidurnya. Kagami berjalan menuju pintu. Tiba-tiba.. Chuu~ /

"Da-Daiki!" "Kau lupa morning kiss ku!" "Jangan lakukan secara tiba-tiba!"

Aomine berjalan meninggalkan Kagami yang wajahnya kini semerah rambut Akashi, asap keluar dari telinga Kagami. Aomine terkekeh melihat tingkah –uhuk- istrinya –uhuk- yang sangat kekanakan itu.

5 menit berlalu~

Aomine, beserta dua jagoannya, kini telah duduk manis di meja makan. Menikmati waffles yang dibuat oleh Kagami sepenuh hati. Jangan lupa vanila shake special Kagami menemani mereka. Seperti biasa, Kagami tengah sibuk menyiapkan bekal untuk ketiganya.

"Too-san, hari ini kami akan pulang agak telat. Jadi tidak perlu dijemput" ucap Kuroko,

"Ada apa? Ikut aktivitas klub?" tanya Kagami dari dapur, Kuroko dan Akashi mengangguk kompak. Aomine menyeruput kopinya.

"Klub apa?" tanya Aomine, "Ahomine tumben peduli"

"Akashi, ga boleh begitu" nasihat Kuroko, Akashi Cuma nyengir, aura hitam yang muncul entah darimana, mengelilingi tubuh Aomine.

"Aku baru menyadari hal ini, tapi kami berdua benar-benar seperti anak Kaa-san dan Too-san ya" ujar Kuroko disertai senyuman manis,

"Eh? Maksudnya?" tanya Akashi, "Ituloh, rambut Akashi merah seperti punya Kaa-san, dan milikku biru seperti punya Too-san" jelas Kuroko. [Jujur, author sendiri juga baru sadar loh :v] Suasana menjadi sunyi, krik krik krik,

"Bicara apa sih, kalian berduakan memang anak kami" tukas Kagami, Aomine tersenyum,

"Ya, anak yang kami besarkan dengan susah payah," tambah Aomine sambil mengacak-acak rambut Akashi dengan gemasnya. Meledaklah tawa ke-empatnya, wajah bahagia menyertai mereka. Ah~ Benar-benar keluarga yang menyenangkan yaa~


Di Sekolah,

Seperti biasa, kedatangan mobil biru dengan plat ****, mengundang perhatian masa.

"Baiklah, sampai jumpa nanti malam!" Aomine melambaikan tangan dan langsung tanncap gas. Kuroko dan Akashi secara kompak mengayunkan tangan mereka, membalas lambaian sang Ayah tersayang.

"Yah, selamat pagi Aomine bersaudara" sapa Teppei, Kuroko membalas sapaan itu dengan sapaan, sementara Akashi... *stare*stare* CUEK!

"Akashi, kenapa tidak membalas sapaan Kiyoshi-sensei?" tanya Kuroko, Akashi menoleh.

"Aku tidak mau" jawabnya, "Tapi, Akashi.."

"Tetsu, kamu lupa? Semua perkataanku adalah mutlak, tidak ada yang boleh melawan!"

"Baiklah, baiklah. Akashi memang selalu benar." Akashi tersenyum puas kemudian mengacak-acak rambut saudaranya itu.


Di Kelas,

Mereka tiba di Kapal Pecah, ehem, ruang kelas 7-1. Entah mengapa ruang kelas ini benar-benar terlihat seperti kapal pecah -_- Bahkan lebih parah. Semua siswa sibuk dengan aktivitas masing-masing. Ada yang konser, ada yang kumur-kumur, ada yang nyinden, ada yang tidur, bahkan yang ingin mencoba menguasai bahasa alienpun ada. [Kelas macam apa ini?] Akashi dan Kuroko langsung duduk di bangku mereka masing-masing. Dalam sekejap, keduanya langsung dikelilingi oleh para anak perempuan yang entah muncul darimana.

"Kuroko, nanti kita makan bersama ya!" "Jangan! Sama aku aja!" "Aku saja!" "Aku!"

Akashi sudah mulai sibuk dengan guntingnya, kesal melihat saudaranya itu digoda oleh para gadis centil. Sampai para gadis yang dari tadi menanyainya dihiraukannya. Dianggap seperti butiran debu yang tertiup angin.

"Maaf, tapi, aku harus makan siang bersama saudaraku" jawab Kuroko, jangan lupa wajah sedatar dinding yang selalu Kuroko gunakan saat berhadapan dengan para gadis.

Semua gadis yang mengerumuni Kuroko tampak kecewa,

"Baiklah, mungkin lain kali" "Lain kali ya~" "Lain kesempatan, janji yaa!"

Kuroko hanya mengangguk pelan, semua anak perempuan yang tadi berkumpul sekarang bubar seperti orang-orang yang udah dapet sembako hasil rebutan (?)

"Tetsu? Apa tidak masalah?" tanya Akashi, Kuroko menoleh, memasang wajah ramah yang biasa ia gunakan saat di rumah.

"Kalau aku menerimanya, Akashi akan marah" jelas Kuroko, Akashi tersenyum bahagia mendengarnya, ia langsung memeluk erat Kuroko.

"Tetsu~ Aku mencintai muu~ :*" "Aku juga, Akashi"

Yak, begitulah kisah cinta antara kakak dan adik yang begitu mengharukan (?) ini ._.a Abaikan saja narasi gila hasil ketikan Author sarap ini.


Di rumah,

Kagami sibuk memotong semua bahan makanan, sesekali matanya melirik ke arah jam. Menanti kepulangan jagoannya.

Kini jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Seharusnya Aomine sudah pulang dari tadi, namun batang hidungnya tak kunjung muncul. Kalau soal Akashi dan Kuroko, Kagami tidak terlalu khawatir.

"Halo, Daiki?" Kagami menempelkan ponselnya ke telinga kirinya.

"Eh? Pulang terlambat?" ekspresi Kagami berubah, alisnya turun, ia tampak kecewa.

"Yah, mau bagaimana lagi. Hati-hati ya, Daiki," Kagami mengakhiri panggilan kepada suaminya itu. Ia menghela nafas panjang. Sepertinya Aomine punya pekerjaan lebih banyak hari ini sehingga tidak bisa pulang seperti biasanya.

Kagami melanjutkan acara memasaknya. Sejujurnya, Kagami benar-benar bosan hanya bisa diam di rumah, dan mengerjakan pekerjaan rumah. Namun, ini adalah permintaan terbesar Aomine. "Aku tidak ingin kau digoda orang lain," begitulah alasan si surai biru itu.

Kini, matahari mulai ternggelam, Kagami melirik jam,

"Sudah jam segini, belum ada yang pulang" gumam Kagami, tiba-tiba ponsel Kagami berdering.

"Halo, Kaa-san?" terdengar suara Kuroko dari seberang sana,

"Tetsu, kalian kemana? Kenapa belum pulang?" tanya Kagami harap-harap cemas.

"Maaf, kami akan pulang telat, ada acara penyambutan anggota baru klub basket"

Kagami menghelas nafas, "Baiklah, jangan pulang terlalu larut ya!" pesan Kagami,

Percakapan mereka berakhir hingga di sana. Kagami menghela nafas panjang, ia berjalan menuju ruang makan dan menyantap makan malamnya. Hidangan bagian Kuroko, Akashi, dan Aomine ia letakkan di kulkas.

Setelah selesai makan, Kagami memutuskan untuk menonton TV,

"Yah, sekalian menunggu mereka pulanglah" pikir Kagami, tangan besarnya mengotak-atik remote, mencari siaran yang sesuai moodnya saat ini. Namun, tak ada yang menarik hatinya. Tanpa sadar, mata Kagami menjadi sangat berat, ia berusaha melawan kantuk, namun akhirnya, Kagami terjatuh ke dalam tidur yang nyenyak.

KLEK! BLAM!

"Kami pulang!" seru Aomine, Akashi, dan Kuroko kompak. Kepulangan mereka disambut oleh Kagami yang telah tertidur pulas di depan TV yang masih menyala.

"Kaa-san pasti menunggu kita" kata Kuroko, Aomine tersenyum kecil,

"Kalian segeralah mandi dan berganti pakaian. Biar Too-san yang urus Kaa-san"

"Jangan apa-apakan Kaa-san ya," pesan Akashi iseng, Aomine hanya bisa nyengir mendengar pesan dari putranya itu.

Aomine duduk di samping Kagami, dielusnya rambut merah kepunyaan Kagami.

"Benar-benar ceroboh, tertidur di sini dan pintu tidak terkunci" tutur Aomine,

Aomine menggendong Kagami menuju kamar, sepertinya, hal ini membuat Kagami terbangun.

"Oh, Daiki, selamat datang," ucap Kagami yang baru saja terbangun,

"Kau ini benar-benar ceroboh, ini akan jadi hukuman yang pantas untuk mu, Kagami Taiga" Aomine melayangkan ciuman pada Kagami yang kini masih ia gendong ala Bridal Style. Yak, sebuah ciuman panas tepat pada bibir Kagami. Aomine melumat bibir Kagami. Kehabisan oksigen Aomine melepaskan ciuman itu.

"Hhhh, Da-daiki, jangan lakukan tiba-tiba!" protes Kagami, Aomine hanya tersenyum, kemudian kembali memberikan ciuman pada bibir Kagami. Aomine terus-terusan memberikan ciuman pada Kagami berkali-kali, hingga kini mereka tiba di kamar.

Yah, marilah kita akhiri chapter kali ini sampai disini, agar tak terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Authorpun harus segera memastikan apakah Akashi dan Kuroko melihat kejadian ini atau tidak. Kalau begitu, byee-nee~

To be continued~


Yak, chapter 2 O to the Wa to the Ri, OWARI~ Yah gimana? Lagi-lagi garing ya? Ga memuaskan? T^T Ah, Author benar-benar kehilangan sentuhan ajaib andalan Author ya? T^T /nangisdipojokkan/ Yah, makasi banget kalo anda-anda sekalian masi mau membaca cerita nista seperti ini T^T Yah, dilanjutin ato ngga itu tergantung dari reaksi anda-anda sekalian pemirsah~ Yak~ Aishiteruuu~ :*