Tittle : Take Me Away (Sekuel of Stupid In Love)
Chapter : 2
Genre : hurt, angst, mistis -_-
Cast : Woogyu, Myungsoo, Sungyeol
Happy reading ^^
Author POV
Flashback
"aku penasaran.."
Woohyun yang sedang sibuk dengan kertas kertas pekerjaan di hadapannya memalingkan wajahnya hanya untuk sekedar mendengarkan perkataan kekasih tercintanya. Ia melepaskan kacamata bacanya, dan kemudian meraih tubuh Sunggyu, memeluknya erat dari belakang.
"hhmm, wae? Apa yang membuatmu penasaran?" dihirupnya aroma lembut dari rambut madu Sunggyu dan mengecup lembut tengkuknya, membuat Sunggyu menggeliat geli karenanya.
"hentikan Nam Woohyun, kau membuatku geli!" Sunggyu kembali menggeliat namun sama sekali tak ada niatannya untuk melepaskan pelukan Woohyun.
Woohyun tersenyum simpul, ia membalik tubuh Sunggyu agar berhadapan dengannya. Tangannya menuntun tangan Sunggyu agar memeluk erat leher Woohyun, dan kemudian dikecup singkat bibir cherry Sunggyu.
"kau belum menjawab pertanyaanku. Apa yang membuatmu penasaran?" tanya Woohyun kembali.
Sunggyu menautkan kedua tangannya yang memeluk leher Woohyun dan membuat pose berpikir, membuat Woohyun semakin gemas dengan hamster kesayangannya itu.
"aku hanya penasaran, mengapa kau menyukaiku? Maksudku, banyak yeoja dan namja lain di luar sana yang lebih baik daripadaku. Aku hanya seorang yatim piatu, walaupun harta peninggalan orangtuaku cukup berlimpah"
Woohyun memandang Sunggyu dengan wajah datar, ia mendekatkan wajahnya dengan wajah Sunggyu hingga jaraknya tereliminasi mendekati 1cm.
"mwo?" Sunggyu gugup karena Woohyun menatapnya dengan tatapan tak biasa.
"mau kuberitahu suatu rahasia?"
"apa?"
"kau benar, aku hanya mengincar hartamu saja. Dan sebaiknya kau mulai hati hati dari sekarang!" perkataan Woohyun membuat Sunggyu melepaskan pelukannya dengan kasar, dan beranjak meninggalkannya.
Woohyun terkekeh, tak menyangka candaannya dianggap serius oleh Sunggyu.
"hey hey, kau marah?"
Sunggyu sama sekali tak mendengarkan seruan Woohyun. Ia menghentakkan kakinya sebagai tanda kekesalannya, dan berbalik menghadap kembali ke arah Woohyun.
"menurutmu?"
"aku hanya bercanda chagi!" Woohyun semakin terkekeh dengan tingkah Sunggyu yang menggelembungkan pipinya jika ia sedang kesal.
"candaanmu sama sekali tak lucu Tuan Muda Nam" Sunggyu memalingkan wajahnya, enggan memandang wajah tampan Woohyun yang sudah membuatnya kesal.
"kau sama sekali tak akan bisa marah padaku Tuan Muda Kim"
"ck, seolah kau memiliki segalanya saja"
"memang benar!" seloroh Woohyun
"pada hitungan ketiga, kau tak akan marah lagi dan semakin mencintaiku" Woohyun memandang Sunggyu dengan tatapan menantang, sedangkan Sunggyu masih bertahan dengan egonya untuk tak memandang ke arah Woohyun.
"Gyu one.." Woohyun memanggil Sunggyu dengan nada suara menggoda, meski begitu tak membuat Sunggyu bergeming dari posisinya.
"Gyu twoo" Woohyun bergerak mendekati Sunggyu..
"Gyu three.." Sunggyu terperanjat saat Woohyun menariknya dan menghadiahi ciuman permintaan maaf. Sunggyu tersenyum diantara lumatan bibir Woohyun, sebelum akhirnya mendorong pelan dada Woohyun hingga pagutan bibir mereka terlepas.
"Bodoh. Aku tak mengerti kenapa bisa jatuh cinta dengan telak kepadamu!" decak Sunggyu tak percaya. Ia menarik tubuh Woohyun dan membenamkan diri dalam hangatnya pelukan Woohyun. Woohyun hanya terkekeh mendengar umpatan Sunggyu..
"aku memiliki berjuta alasan mencintaimu Gy, yang tak mungkin kusebutkan satu persatu. Kau tak perlu khawatir karna sampai matipun aku tak akan pernah berhenti mencintaimu dan menjagamu. Saranghae Kim Sunggyu.."
"jangan bicara tentang kematian Hyun, itu membuatku takut.."
"tapi smua orang akan mati Gyu termasuk kau dan aku.."
"kumohon, jangan bicara lagi atau aku akan melompat dari balkon apartement ini di hadapanmu" Sunggyu memandang Woohyun dengan tatapan serius. Ia tak suka jika harus membicarakan tentang kematian, cukup kedua orangtuanya yang dibawa pergi oleh malaikat kematian, ia tak sanggup untuk menerima kehilangan kembali.
"mianhae, aku tak akan bicara lagi.." lirih Woohyun, kemudian mengecup kembali bibir Sunggyu..
Flashback end
"nnnggghhhh" Sunggyu menggeliat saat kembali terbangun dengan paksa dari tidurnya. Ia mengerjapkan matanya berkali kali, berusaha memfokuskan pandangannya yang masih sedikit mengabur.
"myungg.." panggilnya lemah. Ia berusaha mencari keberadaan Myungsoo, namun sama sekali tak didapatinya sosok Myungsoo di dalam kamarnya. Sunggyu bangkit dari tidurnya dan duduk di tepian bed. Ia berusaha mengumpulkan tenaganya, namun tubuhnya masih terasa lemas dan dadanya masih terasa sesak. Sunggyu beranjak dari bednya, dan dengan perlahan melepaskan infus yang menancap di tangannya.
"aakh" sedikit meringis saat jarum infus terlepas.
Sunggyu berjalan perlahan keluar dari kamarnya, dengan niat mencari Myungsoo. Namun langkahnya terhenti dan ia mengalihkan kakinya ke tangga menuju atap Rumah Sakit..
Setibanya di atap, Sunggyu berjalan menuju pagar pembatas dan duduk di tepian dinding pembatasnya. Ia memejamkan matanya, dan menghirup sebanyak banyaknya udara yang menyejukkan di atas atap Rumah Sakit. Ia kembali membuka mata saat dirasakannya tubuhnya sedikit limbung dan hampir jatuh ke lantai dasar.
"eoh" Sunggyu sedikit terkejut saat akan jatuh, namun sebuah tangan menahan pinggangnya dan menariknya sebelum ia benar benar terjatuh.
"kau berniat bunuh diri?"
Sunggyu menoleh kearah suara seseorang di belakangnya. Ia sedikit merasa risih saat merasakan tangan orang itu memeluk pinggangnya dengan erat.
"ani, tadi aku merasa sedikit pusing dan hampir jatuh. Terima kasih sudah menolongku" ujar Sunggyu sembari melepaskan tangan pemuda itu yang masih menempel di pinggangnya.
"Lee Sungyeol imnida..siapa namamu?" Sungyeol mengulurkan tangannya dan disambut dengan baik oleh Sunggyu.
"namaku Kim Sunggyu.." balas Sunggyu pelan.
"sedang apa kau disini? Wajahmu terlihat tidak sehat. Lebih baik beristirahat di kamar"
"anii, aku sudah bosan di kamarku. Dan ingin menghirup udara segar"
Sunggyu kembali menghadapkan tubuhnya ke arah langit biru, membuat Sungyeol menatapnya dalam. Terlihat jelas raut rindu yang tak mungkin disembunyikannya.
"kau sedang menunggu seseorang?" Tanya Sungyeol kembali.
"terlihat jelas ya?"
"ya, sangat jelas. Bahkan seorang anak kecil pun pasti dapat menebaknya hahaha" Sunggyu terdiam, Ia kembali teringat dengan Hyo Min, gadis kecil itu pasti sudah berada di tempat yang sama dengan Woohyun sekarang.
"kau harus merelakannya Sunggyu yaa, ia tak akan bisa pergi dengan tenang jika kau masih belum mengikhlaskannya"
"ck, jangan mengguruiku" Sunggyu membalikkan tubuhnya berniat turun dari pagar pembatas saat tangan Sungyeol menahan bahunya.
"mau kuberitahu suatu rahasia?" ucapan Sungyeol membuat alis Sunggyu berkerut..
"Woohyun mengawasimu dari tempatnya, dan ia sangat tidak senang karena kau berusaha bunuh diri berulang kali" Sungyeol menatap tajam mata Sunggyu seolah tatapannya itu mewakili Woohyun.
"mwo? Darimana kau tau soal Woohyun?" Sunggyu setengah berteriak, ia tak menyangka untuk kedua kalinya bertemu dengan orang yang seolah dapat membaca hidupnya. Apakah di dunia ini sudah mulai banyak cenayang?
"Woohyun yang memberitahuku secara langsung"
"jangan bercanda"
"aku bersungguh sungguh! Mungkin kau akan menjadi orang kesekian yang akan menganggapku gila. Tapi kuberitahu satu hal. Aku memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan arwah. Dan arwah Woohyun meminta bantuanku untuk menolongmu"
Sunggyu menyeka airmatanya yang mulai mengalir dengan kasar..
"kau tau berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk meyakinkan diriku bahwa Woohyun sudah meninggal? Aku sedang berusaha untuk melepaskannya. Namun si bodoh itu malah meninggalkan jantungnya untukku, membuatku semakin tak bisa melepaskan bayang bayangnya. Dan sekarang kau datang mengenalkan diri sebagai pembawa pesan dari Woohyun. Katakan padanya aku tak butuh siapapun untuk menyelamatkan hidupku karna hidupku sudah mati semenjak ia meninggalkanku" Sunggyu menatap tajam mata Sungyeol sambil kembali menyeka kasar airmatanya dan beranjak meninggalkan atap Rumah Sakit.
"Gyu one.."
Sunggyu terdiam mematung mendengar panggilan Sungyeol. Seperti de javu, ia seperti kembali ke masa lalu saat Woohyun memanggilnya seperti itu. Tak bisa dipercaya, ini pasti sebuah lelucon!
"Gyu two.." Sungyeol memberanikan diri terus memanggil Sunggyu seperti yang dibisikkan arwah Woohyun di sampingnya..
"Gyu three…"
"hentikaaaannn. Aku tak mau mendengarnya lagi" Sunggyu berteriak histeris sambil menutup kedua telinganya. Sungyeol segera berlari kearah Sunggyu saat Sunggyu terlihat limbung akan pingsan.
"Sunggyu yaa, ireona" panggil Sungyeol pelan
"hentikaan.." lirih Sunggyu pelan sebelum akhirnya ia benar benar kehilangan kesadarannya.
"Sunggyu yaaa.." Woohyun yang berada di samping Sungyeol ikut memanggil Sunggyu dengan lirih.
"sudah kubilang kalau ia tak akan sanggup menerimanya.." ujar Sungyeol kepada Woohyun. Ia mengangkat tubuh Sunggyu ala bridal style dan membawanya menuju kamar Sunggyu.
Author POV
Myungsoo terkejut saat ia tak mendapati Sunggyu ada di kamarnya..
"Hyung eodiga?" teriaknya panic sambil menyelusuri seluruh ruangan termasuk kamar mandi. Wajahnya semakin diliputi kepanikan saat menemukan infus Sunggyu yang tertinggal diruangan tersebut.
"Hyung, kau dimanaa?"
Braak, seseorang mendobrak pintu membuat Myungsoo menoleh ke arah pintu. Sungyeol datang dengan membawa Sunggyu dalam gendongannya.
"Hyung kau kenapa?" Tanya Myungsoo panic
"dia pingsan, sebaiknya kau segera panggil Dokter!" ujar Sungyeol. Myungsoo yang masih kebingungan dengan Sungyeol yang membawa Sunggyu dalam keadaan pingsan, lebih memilih mencari Dokter Lee daripada menginterogasi Sungyeol lebih lanjut. Keselamatan Sunggyu Hyung lebih utama, batinnya..
Sunggyu POV
Seperti terbawa mesin waktu, tubuhku terasa melayang menyusuri cahaya putih yang menyilaukan dan membawaku kembali kemasa itu. Masa dimana Woohyun masih sampingku, menjagaku.. Aku masih belum bisa memaafkan semua kebodohannya. Tidak, tak akan pernah, dan selamanya tak akan pernah. Bayangan wajahnya seperti musim dingin yang abadi, semakin kulihat semakin menjeratku dalam kebekuan hingga tak punya pilihan selain mati atau menyerah dalam ketiadaan.
Memori itu kembali hadir dalam pikiranku. Memori saat Woohyun menegaskanku sebagai miliknya, hanya miliknya.
"Woo Woohyun aah" aku terperanjat saat Woohyun mengecup dalam telapak kakiku.
Tubuh kami telah telanjang sempurna dengan hasrat yang semakin tak terbendung untuk saling memeluk dan memiliki.
"apa yang kau lakukan?"
"tak ada, aku hanya memuja kaki orang yang amat aku cintai" ujar Woohyun membuat semburat merah itu kembali hadir di kedua pipiku. Semburat yang hanya muncul jika aku bersamanya. Ciumannya naik bersamaan dengan tangannya yang terus menyentuh setiap inchi kulitku. Rasanya seperti tersengat jutaan volt listrik. Dalam hitungan detik ciuman dan sentuhan itu telah menyentuh paha mulusku. Membuatku matian matian menahan desahanku..
"nnggggg" kututup mulutku agar desahan itu tak berubah menjadi panggilan nakal
"jangan ditahan chagii.. mendesahlah untukku" bisik Woohyun di telingaku membuat tubuhku kembali bergetar karena hembusan nafasnya menggelitik kulit leherku..
Woohyun menarikku untuk tidur di bawah dekapannya, tubuh atletisnya menempel sempurna dengan tubuhku. Dapat kurasakan keringatku dan keringatnya membanjiri sprei yang kami gunakan untuk bercinta. Benar benar terasa hangat dan menggairahkan.
"saranghae Kim Sunggyu.." ujar Woohyun pelan sebelum menghadiahiku kembali dengan ciumannya. Ciuman penuh hasrat dan cinta. Perlahan, aku mulai membalas ciuman dan lumatannya. Sedikit kewalahan karena ciuman yang semula lembut berubah menjadi ciuman yang menuntut dan tak sabaran.
Aku terlalu terbuai dengan ciumannya hingga tak menyadari gerakan Woohyun yang telah menyatukan tubuh kami.
"aaakkk" rasa sakit sekitar menjalar ke seluruh tubuh bagian bawah ku, membuatnya terasa sangat panas dan perih. Ingin memakinya karena sudah membuatkku merasa amat kesakitan, namun Woohyun kembali melumat bibirku untuk mengurangi rasa sakit yang kurasakan dan kubalas ciumannya dengan serakah agar rasa sakit itu dapat kulupakan.
Woohyun kembali melakukan gerakannya membuat jeritan kesakitanku berubah menjadi desahan yang memabukkan, saat tubuh kami telah menyatu sempurna.
"nngghh Hyuuuunnnn" desahku dengan lemas.
Kucengkram lengannya dengan kencang untuk menopang tubuhku yang semakin terasa lemas, dapat kurasakan Woohyun tersenyum penuh kemenangan dan mempercepat gerakannya saat aku mendesah memanggil namanya, hingga desahanku berubah menjadi teriakan histeris.
"aakkkhh, Woohyun aah. Aku mencintaimuuu"
Woohyun tersenyum penuh arti dan mengecup lembut keningku. Gerakannya semakin konstan kemudian sedikit melambat saat kami mencapai klimaks kenikmatan.
"hah, hahh, hah" kucoba mengatur nafasku yang terasa semakin habis, namun sepertinya Woohyun tak akan membiarkanku beristirahat. Ia kembali melumat bibirku dan menciumi lembut rahangku, ciumannya turun ke leherku dan ia mulai menghisap titik titik favoritnya. Membuatku semakin tak kuasa menahan hasratku.
"nnnggghh, Hyuniee"
Dan kembali suara desahan kami berdua memenuhi ruangan kamar tidur ini.
…
Author POV
Woohyun terbangun dari tidurnya, tangannya bergerak menyentuh bantal disebelahnya, dan sedikit terganggu saat tak mendapati Sunggyu berada di sampingnya.
"Gyu.." panggilnya pelan.
Matanya mencari ke seluruh ruangan mencari sosok Sunggyu. Dan akhirnya ia menangkap sosok Sunggyu sedang berdiri di balkon apartementnya. Melamun ke arah langit malam sambil mendekap erat tubuhnya menggunakan kedua tangannya. Kemeja yang digunakan Woohyun sebelum mereka bercinta melekat sempurna di tubuh Sunggyu. Sedikit kelonggaran, hingga bahu kanan Sunggyu sedikit terekpos.
Woohyun tersenyum simpul melihat keindahan tubuh Sunggyu yang hanya berbalut kemejanya. Ia beranjak dari tempat tidur dan meraih handuk putih miliknya, kemudian melingkarkannya ke pinggang atletisnya, cukup untuk menutupi tubuh bagian bawahnya. Sambil menghampiri Sunggyu di balkon apartemen, Woohyun meraih selimut yang tergeletak di atas bed.
"kau bisa kedinginan chagi.." bisik Woohyun pelan di telinga Sunggyu. Ia melilitkan selimut yang dibawanya ke tubuh Sunggyu dan memeluknya dari belakang.
Woohyun membenamkan kepalanya ke ceruk leher Sunggyu dan menghirup dalam dalam aroma favoritnya, aroma tubuh Sunggyu. Sunggyu tersenyum mendapat perlakuan seperti itu dari Woohyun dan membalas dengan menggenggam erat tangan Woohyun yang melingkar di pinggangnya.
"apa yang kau pikirkan?"
"tak ada.."
"kotjimal, kalau kau terbangun di malam hari pasti kau bermimpi buruk"
Sunggyu menyandarkan punggungnya di dada Woohyun dan semakin menggenggam erat lengan kekar Woohyun.
"aku tak pernah bisa berbohong padamu.. kau benar, aku baru saja aku bermimpi buruk"
"mimpi apa?" Tanya Woohyun kembali.
"mimpi terburuk kurasa, kau pergi meninggalkanku menyusul appa dan eomma"
"bukankah aku sudah berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu chagi.."
Sunggyu melepaskan pelukan Woohyun dan berbalik menghadapnya. Ditatapnya dalam wajah tampan Woohyun dan membelai lembut rahang tegas Woohyun. Tangan Woohyun bergerak untuk meraih telapak tangan Sunggyu, mengikuti tangan halus tersebut yang bergerak menyusuri rahang tegasnya.
"tapi kau jarang menepati janjimu Hyun, bahkan kau sering lupa peringatan hari jadi kita.." ujar Sunggyu
Woohyun tersenyum, ia kembali memeluk tubuh Sunggyu yang berbalut selimut dengan erat. Tak ada keinginan untuk melepaskannya, bahkan mungkin jika itu titah Sang Pencipta, ia akan memilih untuk menjadi manusia yang terbuang.
"benarkah seperti itu?"
Sunggyu mengangguk, ia membenamkan wajahnya di dada Woohyun dan semakin mempererat pelukannya.
"mianhae, untuk smua janji yang kulanggar. Tapi kupastikan, kau bisa memegang janjikku yang satu ini" lirih Woohyun pelan di telinga Sunggyu, mengundang senyum kehangatan di bibir cherry pria berwajah manis itu.
Woohyun bersenandung, masih dengan posisi memeluk tubuh Sunggyu yang terlilit selimut..
Manjil suga eobseodo dwae (it's okay even I can't touch you)
Aneul sudo eobseodo dwae (it's okay even I can't hug you)
Lonely love yes I love you
Nae unmyeong cheoreom (like my destiny)
Geudael neukkil su isseoyo (I can feel you)
Takdirku adalah slalu bersamamu Gyu…
Author POV
Myungsoo menatap tajam Sungyeol yang tertunduk di hadapannya. Tatapannya menuntut penjelasan mengenai Sunggyu yang pingsan dalam gendongan Sungyeol.
Sungyeol sendiri hanya bisa menunduk dalam, ia tak tahu harus bagaimana menceritakan semuanya di hadapan Myungsoo. Myungsoo terlihat seperti orang yang akan tak akan mudah percaya dengan hal hal berbau mistis, ia pasti akan mengganggap penjelasan Sungyeol seperti sebuah omong kosong.
"aku menunggu penjelasanmu. Apa yang kau lakukan hingga Sunggyu Hyung pingsan seperti itu?" tanya Myungsoo
"kalaupun kuceritakan, kau hanya akan menganggapku gila"
"cobalah untuk bercerita" ujar Myungsoo kembali sembari menyilangkan kedua tangan di dadanya.
Sungyeol menghela nafas panjang, dan mulai mengatur kalimatnya untuk bercerita di hadapan Myungsoo.
"Aku memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan arwah. Dan arwah Woohyun meminta bantuanku untuk menyelamatkan Sunggyu yang sering berusaha bunuh diri" ujar Sungyeol
Myungsoo mengerutkan keningnya, ia benar benar tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Sungyeol. Kemampuan melihat arwah apa? Yang benar saja..
"carilah alasan yang lebih baik daripada itu" Myungsoo kembali mendelikkan matanya ke arah Sungyeol.
"tapi itulah kebenarannya. Woohyun belum bisa pergi dengan tenang sampai Sunggyu tak lagi berusaha bunuh diri dan mengikhlaskan kepergian Woohyun"
"kau gila" tegas Myungsoo sebelum membalikkan badannya untuk pergi meninggalkan Sungyeol.
"Chogiyo Myungsoo ssi!" panggil Sungyeol kembali.
"apa?"
"di malam kecelakaan sebelum Woohyun meninggal, ia melihatmu dan Sunggyu berciuman mesra dan ia juga mendengar pengakuan cinta yang kau ungkapkan kepada Sunggyu.."
Myungsoo terkejut bukan main mendengar perkataan Sungyeol. Bagaimana mungkin Sungyeol tau soal kejadian malam itu.
"bagaimana kau.."
"bagaimana aku tahu? Sudah kubilang kalau aku bisa berkomunikasi dengan arwah Woohyun dan ia yang memberitahukanku semuanya" Sungyeol berusaha meyakinkan Myungsoo sekali lagi, sedangkan Myungsoo sendiri masih berusaha menelaah smua perkataan Sungyeol.
"aku tak ingin mendengar omong kosong lagi" Myungsoo beranjak menjauhi Sungyeol. Ia sama sekali tak ingin mendengar apapun yang dikatakan pria berpostur badan tinggi itu. Tidak, jika Sunggyu masih bisa diselamatkan, maka ialah yang akan mejadi penyelamatnya. Bukan orang lain!
To be Continued
