CAMARADERIE
Summary : Sasuke Uchiha, yang kaya, tampan, dan ramah. Namun sering berpindah-pindah sekolah dengan alasan tak mempunyai teman dan tak pernah diperlakukan dengan baik oleh teman-teman sebayanya. Entah apa sebabnya.
Warning : Hard—Out of Characters, AU, First Fanficion, etc.
Author's note : Aigoo~, maaf lama updatenya, readers.. Gara-gara Kompie Naka harus diinstall ulang tapi gak ada product key-nya.. Naka gak bisa ngetik di Microsoft Word dan harus ngetik di WordPad. #alesan
Sudahlah, ini chap. 2, semoga aja lebih baik daripada chap. sebelumnya~
Arigato..^^
xxXXxx
Sasuke mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru lapangan sekolah. Disampingnya masih ada kakaknya—Itachi Uchiha. Tidak jauh beda dari sekolahnya yang sebelumnya, Sasuke lagi-lagi menerima pandangan takjub seolah-olah dia dan kakaknya adalah seorang pangeran dari negeri dongeng yang memakai jubah berlapis emas. Cowok itu menundukkan kepalanya. Bukan, bukan karena dia malu, dia sudah terbiasa dengan tatapan mereka, tapi hanya saja bayangan itu masih membekas dan kadang masih terngiang-ngiang dalam benaknya, sepertinya ia masih trauma dengan suasana sekolah. Tapi Sasuke tak peduli, kalau menuruti kehendak perasaannya terus-menerus, bagaimana dengan pendidikannya? tetap membolos dan meringkuk dikamarnya benar-benar tidak membuat semuanya lebih baik. Toh, disini juga bukanlah sekolah nerakanya yang dulu. Disini adalah Konohagakure High School. Sekolah yang terkenal bonafit. Tidak hanya terkenal dari biayanya yang mahal dan siswa-siswinya yang berdompet tebal. Tapi memang sekolah tersebut berisi siswa-siswi pilihan, yang notabene berotak encer dan membuat etalase sekolah penuh dengan piagam penghargaan. Yah, bagi Sasuke—si cowok multitalenta—menjadi siswa pilihan bukanlah hal sulit. Dalam pelajaran? jangan ditanya lagi, cowok itu selalu masuk peringkat paralel. Dalam hal ketampanan? Oh, yang ini sudah pasti Sasuke yang nomor satu. Dalam bidang olahraga? Sasuke sudah termasuk si cowok gesit yang lihai di lapangan. Musik? Sasuke bisa memainkan piano dan gitar, itu sudah cukup mewakili bukan? Tapi tunggu dulu, mari kita tutupi kesempurnaan tersebut dengan kepayahan Sasuke dalam bergaul. Nol besar memang nilai yang cocok untuk Sasuke dalam bidang tersebut. Sampai-sampai menyebabkan insiden sedemikian rupa mengerikannya. Beruntungnya cowok itu masih bisa berkeliling-keliling kembali bersama sang kakak, melancong mencari sekolah yang tepat. Yah, semoga Konohagakure High School adalah yang tepat untuknya.
Sesampainya mereka di depan ruang tata usaha, Sasuke memilih menunggu diluar. Sedangkan Itachi, ia harus masuk kedalam ruangan untuk menghadap Mrs. Tsunade—Kepala sekolah, dan beberapa staf sekolah lainnya. Banyak yang harus diurus Itachi untuk membereskan kepindahan adiknya. Sedangkan Sasuke, anak itu duduk diatas kursi panjang yang terdapat di depan ruang tata usaha. Cowok itu mengabaikan beberapa anak yang berbisik-bisik dan membicarakan tentang dirinya. Entah apa yang mereka bicarakan. Sasuke kurang tahu pasti. Anak itu diam saja dan memasang muka dingin. Ciri khasnya.
Tak lama kemudian, Itachi keluar dari ruangan tersebut dengan seorang pria berambut kecoklatan dan berwajah tegas. Sasuke lantas berdiri dari duduknya, dan membungkukkan badannya untuk memberi hormat untuk pria itu.
"Ini adik saya, Sasuke Uchiha," ucap Itachi, membuat Sasuke kembali menegakkan diri.
"Ah, ya.. Selamat datang di Konohagakure High School," pria itu menghampiri Sasuke, lalu merangkul bahu anak itu. Sasuke tersenyum.
"Arigatou, sensei.." balas Sasuke.
Itachi tersenyum lega, dia tak lagi melihat raut wajah takut Sasuke, dan itu sudah membuatnya cukup tenang, setidaknya Sasuke bisa belajar lagi dengan bebas tanpa kenangan buruk yang menghantuinya.
"Baiklah kalau begitu saya mohon undur diri dulu, saya titip Sasuke disini.." pamit Itachi—membungkuk.
"Ah, tentu saja, akan kami jaga Sasuke baik-baik," pria itu membalas membungkuk pada Itachi.
Itachi mengganguk, lantas menghampiri Sasuke dan memeluk adik semata wayangnya itu, "Baik-baik, ya.. Aniki pulang dulu.."
Pelukan Itachi semakin erat. Sedangkan Sasuke? Anak itu diam saja, memberontak tidak membuat semuanya lebih baik. Dia tahu benar watak sang kakak—melarang sama saja menyuruh.
xxXXxx
Asuma-sensei, ya.. Orang berwajah tegas dengan rambut coklat gelap mengantar Sasuke hingga kedepan pintu kelasnya. "Nah, Sasuke.. Ini kelasmu.. Umm.. 10-3, kamu bisa langsung masuk sekarang dan ikuti pelajaran seperti biasa.."
Sasuke mengangguk, "Ya, sensei, terimakasih.." ucapnya sembari membungkuk, cowok itu beringsut meraih kenop pintu bermaksud membukanya, namun diurungkan kembali setelah cowok itu mendengar suara lelaki bicara—atau lebih tepatnya menerangkan—dengan serius terdengar samar dari dalam ruangan tersebut.
Asuma-sensei tersenyum, ia sudah tahu kondisi Sasuke sejak Itachi menceritakannya tadi. Pria itu maklum, lalu meraih bahu Sasuke, dan membuat Sasuke tersadar dari kegugupannya sendiri.
"Mau masuk sendiri atau sensei temani?" tawar Asuma-sensei.
Sasuke terkekeh, memainkan jari-jarinya, "Maaf, sensei.. Sa-saya.. sebenarnya tidak ingin merepot.. kan.. uhm.. sensei.. ta—"
"Iya, sensei mengerti.. sekarang sensei temani masuk, ya?" tanpa menunggu persetujuan anak didepannya, Asuma-sensei membuka kenop pintu.
Sasuke mengerjap, masih belum terbiasa dengan sinar matahari yang masuk melalui jendela ruangan tersebut. namun sedetik kemudian, matanya berangsur beradaptasi. Dari pemandangan terang dan menyilaukan, berangsur menjadi pemandangan yang membuat Sasuke tergugup pada saat itu juga. Beberapa orang diruangan tersebut menatapnya bingung, ada yang berbisik-bisik, ada juga yang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Kedatangan cowok manis itu membuat kelas yang tadinya tenang menjadi agak bising.
Asuma mendorong Sasuke pelan, membuat Sasuke yang terbengong menjadi sadar. Pria itu menatap rekan kerjanya yang tersenyum menyambut kedatangan murid barunya.
"Permisi, Kakashi-sensei, maaf telah mengganggu waktu anda.." kata Asuma, membungkuk.
Kakashi. Ya.. Pria berambut keperakan itu membalas senyuman rekannya, membalas membungkuk juga, "Ah, silahkan, Asuma-sensei.. dan.. kamu pasti siswa baru itu, ya? Nah, silahkan kamu perkenalkan diri di depan teman-temanmu.."
Sasuke terkesiap, lalu melangkahkan kakinya hingga dirinya sekarang berada di tengah muka kelas. Anak itu tersenyum. Manis sekali. Membuat anak-anak perempuan terkikik.
"Nama saya Sasuke, Sasuke Uchiha lengkapnya.. Saya pindahan dari Fregass High School.. Mohon bantuannya teman-teman," Sasuke membungkuk, membuat poninya berangsur turun, menutupi dahinya, lalu beberapa detik kemudian, anak itu menegakkan diri lagi.
Kakashi meraih bahu Sasuke, "Sasuke, kamu bisa duduk dibangku Shikamaru —" Kakashi menunjuk bangku kedua dari belakang pojok, yang sudah di duduki oleh anak berambut jabrik terkuncir.
"—atau.. Disamping anak berambut kuning itu. Naruto.."
Sasuke mengangguk. Menghampiri Naruto—anak laki-laki berambut kuning. Anak berkulit agak kecoklatan itu menepuk-nepuk kursi disampingnya yang kosong—bermaksud menyilahkan Sasuke yang tampak ragu untuk segera duduk.
"Hei, ayo sini.. Duduklah.." kata Naruto riang. Tampaknya dia harus mengeluarkan jurus friendly-nya dengan ekstra. Dia tahu, tipe anak seperti Sasuke ini memang sedikit sulit ditaklukkan untuk menjadi teman baik. Tapi bukan Naruto namanya kalau mudah menyerah begitu saja.
Sasuke mengangguk, lalu duduk di bangku kosong di sebelah Naruto tadi, "Thanks.." ucapnya singkat.
"Yo!" Naruto mengacungkan jempolnya.
Pelajaran berlangsung dengan tenang. Kakashi-sensei memberi beberapa soal maut kepada murid-muridnya. Beberapa anak mendesah kebingungan. Tapi tidak halnya dengan Sasuke si cerdas, anak itu mengerjakan soal-soal super rumit yang diberi Kakashi-sensei dengan mudahnya.
xxXXxx
Setelah bel istirahat, hampir seluruh siswa berhambur keluar entah kemana. Termasuk Naruto. Sekarang kelas 10-3 hanya ada Sasuke dan gadis berambut merah muda yang duduk di depan bangku Sasuke dan Naruto. Gadis itu sudah menatap Sasuke 5 menit lamanya. Membuat Sasuke mau tak mau risih juga. Cowok itu menutup buku Fisika yang sedari tadi di bacanya, lantas menatap gadis itu.
"Hei, kenapa kamu liatin aku terus? Gak enak, tahu!"
Gadis itu tertawa kecil, lesung pipinya terlihat jelas, membuat Sasuke sedikit gugup juga, "Kamu kok tampan banget? Aku suka liatnya, apalagi mata kamu!" ucapnya semangat sambil menuding-nuding wajah Sasuke dan menatapnya lebih intens.
"Kenapa sama mata aku?" Sasuke bingung. Mengangkat satu alisnya.
"Gak tau pokoknya aku suka!" Gadis itu bertingkah seolah-olah terlalu gemas melihat Sasuke.
Sasuke memutar kedua bola matanya, lalu membuka kembali buku fisikanya, dan kembali berkutat membacanya.
"SAKURA!" teriakan itu berasal dari luar pintu kelas. Sedikit keras. Membuat Sasuke dan gadis berambut merah muda itu menoleh kearah luar kelas.
Benar saja, seorang gadis berambut pirang tengah berlari kecil kearah mereka.
"Sakuraaaa.. Kamu gak ke kantin? Tumben banget—" gadis cantik berambut pirang itu bergelayut manja di lengan Sakura—si gadis berambut pink. Lalu perhatiannya tertuju pada Sasuke yang termenung dan berkutat dengan buku 200 halaman-nya. "—Eh, siapa kamu? Anak baru, ya?" pandangannya beralih ke Sasuke. "Tampannyaa.."
Gadis itu lalu mendudukkan dirinya disamping Sakura, "Siapa namamu?" tanyanya.
"Sasuke Uchiha," jawab Sasuke tanpa mengalihkan pandangannya dari buku fisikanya.
Gadis itu mengangguk-angguk, "Kamu dari sekolah mana? Dan kenapa kamu pindah dari sekolahmu? Kan sayang, ini kan sudah semester kedua.."
"Bukan urusanmu.." jawab Sasuke dingin.
Mendengar itu, gadis itu sedikit terkejut. Namun sedetik kemudian ekspresinya normal kembali, "Jutek banget, sih.. Yasudah, ayo Sakura kita pergi ke kantin! Perutku sudah keroncongan, nih..." Gadis berambut pirang itu menarik Sakura yang berada disampingnya untuk berdiri. Namun yang ditarik sama sekali tidak bereaksi.
Si Gadis berambut pirang protes, "Sakuraaaaaaaa.."
Sakura menggelengkan kepalanya, "Aku tidak lapar Ino, kamu ke kantin sendiri aja, ya?" katanya masih tetap memandangi Sasuke intens.
"Jadi begini Sakura Haruno kalau sudah ketemu cowok cakep? Teman baiknya sudah gak—"
"STOP!—" Sakura menyela. Gadis bermata Jade itu menutup kedua telinganya dengan telapak tangan, lalu melepasnya lagi. "—Ok, aku ikut denganmu! Sebentar, aku mau ambil dompet dulu di tas.." lanjutnya.
Mendengar itu, si gadis berambut pirang melompat senang, "Nah, gitu dong.." katanya sembari mengalungkan tangannya keleher Sakura.
"Ah, kamu selalu begitu! Aku kan bukan kamu yang sudah punya cowok.. Jadi biarkan sahabatmu ini memandang anak baru yang cakep itu.." rengek Sakura. Berjalan disamping Ino—keluar kelas.
"Yah, maaf kalau aku mengganggu moment pendekatan kamu.. Tapi kan temanmu yang satu ini juga butuh teman.."
"Ya sudahlah.. Apa boleh buat.."
xxXXxx
Bel pulang hanya kurang 15 menit lagi. Tapi Sasuke sudah tak mampu lagi menahan pening di kepalanya. Anak itu memijit-mijit pelipisnya. Mukanya tampak sangat pucat. Nafasnya menderu. Haah, kelemahan Sasuke yang kedua, mudah sekali sakit.
Disampingnya, Naruto yang sedari tadi mendengarkan sensei yang sedang menerangkan materi kesukaannya merasakan sedikit hawa panas disampingnya. Benar saja. Teman barunya kini sudah tak mampu lagi menopang kepalanya. Mukanya memerah dan bibirnya pucat.
"Hei, Sasuke.. Sasuke.. Kamu kenapa? Ya Tuhan —" Naruto menyentuh dahi Sasuke yang berkeringat, lalu berjengit, "—Tuhan, Badanmu panas, Sasuke.. Kamu sakit! Ayo aku antar ke Ruang Kesehatan!"
Naruto menyeret Sasuke keluar kelas. Setelah sebelumnya meminta izin pada sensei yang sedang menerangkan. Cowok itu terburu-buru, melupakan fakta bahwa Sasuke sedang sakit. Menopang kepala saja berat, apalagi lari-larian? Tak kuat lagi, akhirnya Sasuke pingsan. Naruto terkejut bukan kepalang. Bagaimana tidak? Dia sudah menyebabkan anak baru tak sadarkan diri gara-gara sifat cerobohnya.
"Sasuke, Wake up.. Aduuh.. Gimana ini?" Katanya sembari mencari-cari bala bantuan yang dapat dimintai pertolongan.
"Na-naruto.. sedang apa kamu disini? Eh, si-siapa itu? Kenapa dia ti-tiduran disini?"
Oh, Tuhan.. Terimakasih..
"Hinata! Syukurlah.. Tolong bantu aku.. Dia temanku.. Dia sedang sakit dan.. Dan tadi saat aku hendak membawanya ke ruang kesehatan dia sudah pingsan begini.." Ujar Naruto panik. Napasnya menderu.
Gadis itu menatap anak lelaki yang terkapar disamping Naruto.
"Te-tenanglah, Naruto.. Kebetulan aku membawa minyak angin.. Mu-mungkin, ini bisa membantu.." gadis bernama Hinata itu langsung mengeluarkan botol kecil dari sakunya. Dan hendak membukanya.
"To-tolong hadapkan wajahnya kesini.." pinta gadis itu.
Tanpa menunggu lama, Naruto segera mendudukkan Sasuke kehadapan Hinata.
"Tutup botolnya sulit dibuka—" gadis berambut indigo itu menguatkan tangannya untuk membuka botolan kecil tersebut. "—Ah, I did it.. Sek—" ucapan gadis itu terpotong setelah menatap wajah Sasuke yang pingsan. Ingatannya melayang. Dia pernah bertemu Sasuke. Pernah. Dan pertemuan itu adalah aib. Tidak, ini tidak mungkin! Kenapa juga Sasuke harus bertemu dengannya?
Jangan sampai Sasuke mengingat wajahnya. Dia harus segera pergi dari sini. Sebelum Sasuke melihat wajah yang pernah menorehkan traumanya.
"Na-naruto.. Aku harus pergi dari sini sekarang.. Maaf aku tak bisa membantu banyak.. Sebaiknya bawa saja dia ke Ruang kesehatan. Disana ada dokter penjaga.. Maaf, Naruto.. Aku permisi dulu.." gadis itu beranjak dari posisi jongkoknya. Mengibaskan roknya yang agak kusut terkena lipatan kaki. Lalu berlari kecil meninggalkan Naruto yang semakin panik.
Naruto mengalungkan lengan Sasuke pada bahunya. Lalu dengan perlahan berdiri. Meringis sediki merasakan beban Sasuke. Namun cowok bermata sapphire itu tetap menopang Sasuke agar mampu mengiringi langkahya sekarang menuju ruang kesehatan.
xxXXxx
Sasuke mengerjapkan matanya. Kepalanya sungguh terasa berat saat ini. Tanpa sadar dia menekan-nekan pelipisnya agak keras. Bermaksud mengurangi rasa sakitnya itu. Namun yang dia harapkan justru sebaliknya, rasa sakit di kepalanya sungguh tidak bisa ditoliir lagi. Dia hendak menarik rambut hitamnya, namun seseorang mencegahnya.
"Hei-hei.. Sudah, Sasuke, nanti pusingmu malah lebih parah kalau kau begitukan.. Daripada itu, lebih baik kamu minum saja obat ini.." larang Naruto sembari menyerahkan segelas air putih dan sebutir obat penghilang sakit kepala.
Sasuke menerimanya, namun sama sekali tidak ada reaksi dia akan meminum obat tersebut. Melihat hal tersebut Naruto bingung sendiri.
"Kenapa tidak diminum? Ayo cepat diminum, supaya kamu gak pusing lagi.. Lagipula semua orang di sekolah ini sudah pulang semua.. Tinggal kita berdua saja.. Kau dengar aku gak, sih? Ayo cepat diminum!"
Sasuke menatap sebutir pil ditangannya, lalu menatap Naruto, "Ini bukan obat bius kan?" katanya kalem.
Naruto kaget mendengar kata-kata yang terlontar dari bibir Sasuke, "Hei, apa yang kau bicarakan? Tentu saja bukan.. Kau pikir aku akan meracunimu, hm? Sudahlah kalau kau gak mau minum lebih baik aku pulang saja! Daripada aku disangka yang tidak-tidak?" Naruto beranjak dari kursi yang ia duduki di samping ranjang. Namun Sasuke menangkap tangan kanannya. Mencegahya pergi.
"Ma-maaf, aku tidak bermaksud demikian.. Hanya saja aku.." Sasuke bingung sendiri harus menjelaskan apa. Dia sendiri bingung dengan kata-kata 'obat bius' yang seenak jidat keluar dari bibirnya.
"Ahh, ya sudahlah, tidak usah dipikirkan lagi, oke? Sekarang terserah kamu mau minum obatnya atau tidak.. tapi sekarang, lebih baik kamu cepat-cepat mengambil keputusan! Agar kita segera keluar dari sini dan aku akan mengantarmu pulang.." Naruto mengambil ransel miliknya dan Sasuke, yang sebelumnya ia sampirkan di sandaran kursi. Ia menatap Sasuke yang akhirnya mengambil keputusan meminum obat pemberiannya. Lalu beringsut menyodorkan segelas air mineral yang ada diatas meja.
Sasuke mengelap sisa air yang menempel disekitar mulutnya dengan telapak tangan, "Kakakku akan segera menjemputku.." Sasuke berganti menatap Naruto.
"Well, tentu saja aku akan tetap mengantarmu pulang.. Itu akan membuat kita berdua lebih baik.. Kita berdua akan cepat sampai dirumah kita masing-masing.." gerutu Naruto masih dengan kesibukannya membereskan barang-barang yang berserakan diatas meja kedalam ransel Orange-nya.
"Kau tak perlu repot.." Sasuke angkat bicara. Memutar bola matanya. Cowok itu berniat bangun dan turun dari ranjang. Namun penglihatannya tiba-tiba terasa aneh, seolah-olah berputar, membuatnya terjungkal kembali ke bantal.
"Sasuke, stop.. Jangan bergerak dulu.. aku tahu kamu masih pusing.." Naruto membantu Sasuke berbaring kembali ke ranjang.
"Tapi kelihatannya kau sedang terburu-buru, aku tidak mau merepotkan.. Aku hanya anak baru.." ucap Sasuke merasa tidak enak sendiri.
"Maka dari itu, karena kau anak baru.. Jadi aku akan menjagamu dan mengantarmu pulang.. Jadi stop mengomel, biar aku yang membantumu.."
"Aku bukan anak kecil.." sergah Sasuke jengkel. Dia berpikir bahwa Naruto adalah teman yang benar-benar Overprotectif.
"Hei, ini demi keselamatanmu.. Bagaimana kalau kamu diculik, huh? Atau dipukuli orang?"
Deg! Sasuke teringat lagi. Dipukuli lagi? Oh, tidak.. sangat mending sekali kalau dia bersama Naruto yang overprotectif dan cerewet, daripada ia babak belur lagi.
"Sas?" Naruto mengibaskan tangannya, dan menyadarkan lamunan Sasuke.
"Ah, oke.. tapi aku mau telepon kakakku dulu.."
xxXXxx
Itachi mengambil ponsel yang ada disaku kemejanya. Beberapa detik yang lalu, benda hitam canggih itu bergetar. Sengaja ia silent mode ponselnya agar tidak mengganggu jalannya rapat. Ia melirik Caller ID yang muncul dilayar ponselnya, 'Beloved Brother-Sasuke'.
Pria itu keluar dari ruangan setelah sebelumnya meminta izin kepada rekan kerjanya. Ia memencet tombol hijau di ponselnya.
"Halo? Ada apa, Sasuke..?"
/Itachi—/
"Panggil aku kakak atau Aniki.."
/Sudahlah, aku hanya ingin bilang tak usah menjemputku sekarang../
"Oh, Tuhan.. Sasuke aku hampir lupa.. Aku baru ingat kamu sudah pergi sekolah, tidak berguling-guling lagi dirumah.." Itachi menepuk keningnya. Bagaimana bisa ia lupa? Apa faktor usia adalah salah satunya?
/Haah, kamu itu.. Yasudahlah.. Akan kumatikan teleponnya../
"Tunggu, Sas.. Kamu pulang dengan apa—" tuut.. tuut..
Itachi menghela napas. Meskipun adiknya sudah dewasa, tapi ia tetap saja tak bisa menahan perasaan khawatir terhadap adik semata wayangnya itu. Apalagi disaat adiknya sendirian, dan tak ada dirinya dirinya disampingnya.
Dan kesekian kalinya, Itachi sama sekali tak mengindahkan perkataan adiknya. Mengambil kunci mobil, dan meluncur di tengah sore menjelang malam.
xxXXxx
Naruto memapah Sasuke menuju mobil hitamnya, cowok bermata biru itu begitu khawatir terhadap orang yang kini mengalungkan lengan kirinya di bahunya. Pasalnya, tubuh Sasuke yang bersentuhan dengan kulitnya benar-benar terasa panas. Belum lagi wajah pucatnya, lalu hidungnya yang memerah.. Tampaknya teman barunya ini terserang flu berat.
"Gimana keadaan kamu?" kata Naruto ketika keduanya sudah berada di dalam mobil.
"Aku sudah tidak apa-apa.."
"Stop berbohong,,"
"Oke, aku gak baik-baik saja.. kepalaku benar-benar pusing.. sakit sekali.."
"Kamu rebahan saja di kursi mobil, berbaring saja, jangan duduk dulu kalau masih pusing.."
"Ya,"
Naruto tersenyum, "Dimana rumahmu?"
Sasuke yang hendak berniat tidur tersadar lagi, merogoh saku celananya dan mengeluarkan kartu berwarna biru dari sana. Dia sudah tak sanggup lagi, walau hanya untuk sekedar berbicara satu kata.
Naruto memerima kartu tersebut dan membaca di setiap katanya.
"Ohh.. Dekat rumah Sakura.. Sekalian mampir, ah.." Naruto tersenyum penuh arti.
xxXXxx
Itachi mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru sekolah. Tidak ada tanda-tanda kalau adiknya ada disana. Tentu saja, bukannya Sasuke sudah bilang dia akan pulang tanpa dirinya?
Pria itu berbalik, hendak kembali masuk kedalam mobil. Namun matanya menangkap sosok berambut pirang kekuningan yang sedang menuntun seseorang yang.. mirip dengan adiknya. Itachi terkejut bukan main, sungguh, bagaimana kalau insiden buruk yang menimpa Sasuke dulu kejadian lagi? Oh tidak bisa, Itachi tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi..
Dengan sigap ia masuk kedalam mobilnya dan mengikuti mobil hitam yang lebih dulu melaju di depannya.
To be Continued..
Haaah.. akhirnya tuntas juga chapter 2nya, molor banget sihh aku #nepukkepala
Mana hancur lagi #cry
Naka udah buat fic ini disela-sela kesibukkan Naka, jadi maaf kalau chapter ini sungguh tidak memuaskan.. Banyak kalimat-kalimat yang rancu dan tidak baku..
Dan apa-apaan itu Sasuke yang sakit dan lemah? :O sungguh membuat image Sasuke yang cool hilang lenyap entah kemana..
Dan yang trakhir maaf kalau ada tambahan bahasa jepangnya yang gak sempurna.. Naka agak lupa, padahal dulu lumayan bisa, sih.. kalau cuma kata-katanya ajah.. sekarang malah lupa total.. :(
yasudahlah, ini balesan review chapter 1 kemarin, makasih ya minna-sama !
/Angie : Wah, suka Sasuke yang OOC, ya ? Sama dong kayak Naka ! Rasanya Sasuke lebih cocok kalau jadi anak baik, tapi tetep harus dibubuhi sikap aslinya yang cool, dong.. Oke deh, makasih ya reviewnya.. Ditunggu lg review di chap lain :)/
/Dijah-hime : Uwaaaa.. makasih, eng.. *manggil apa, nih?* teman.. Tenang aja, entar ada SasuSakunya juga kok.. Dan lumayan banyak juga, sih.. -_- oo, mengenai judul, Camaraderie itu artinya persahabatan.. itu gak sengaja Naka temuin pas ubek-ubek kamus bhs. inggris.. :) Makasih, reviewnya../
/me : Waa.. makasih :* ow, tentang itu Sasuke kaburnya masih make kursi roda kok, dan belum bisa jalan.. makasih reviewnya../
/Sasuhina-caem : Makasih reviewnya... v('v')/
/Mist.a Railgun Fubuki : Ah, haloo.. *bungkukin badan* Aaa.. alurnya rumit, ya? Naka juga ngerasa kayak begitu.. MissTypo(s)? ini dia kesalahan fatal Naka kalau ngetik fic.. -_- makasih ya, Mist desu, yang udah ngasih review yang membanguuuuun banget.. ini dia reviewer idaman Naka.. :D/
/Uchiha Kagamie : Hahaha.. iya, nih, authornya lagi suka menyiksa Sasuke #digeplak SasuFG.. Oke, deh, Uchiha Kagaime-san.. jawabannya ada di chapter-chapter selanjutnya.. Makasih buat reviewnyaaaa... :*/
