Uhm entah kenapa aku pengen bilang gini: hidup ini sulit. Gak akan ada keputusan besar tanpa alasan yang seimbang. Tapi terkadang orang dewasa merasa yang lebih muda cukup tahu seperlunya.

.

.

(Sasuke pov)

.

Makan malam kami berbeda kali ini. Bukan hanya karna tambahan anggota baru sejak seminggu yang lalu, tapi juga kali ini putri tunggal ayah -maksudku tuan Haruno- ikut bergabung. Entah apa alasannya setelah lebih dari dua tahun tak memunculkan dirinya dihadapan kami. Maksudku akan lebih masuk akal jika dia bergabung dengan wajah tertekan atau marah. Bukannya wajah riang penuh cengiran. Jadi apa alasannya selama ini menghindari kami bukan karna membenci kami?

"Kau mau tambah lauknya, Sakura-chan?" Tanya ibuku manis. Ugh, sebisa mungkin aku ingin menjauhkan pikiran jika ibuku seorang penjilat. Biasanya itu terlintas dengan sangat mudah jika di tengah situasi ini.

Biar ku jelaskan, tuan Haruno -yang sejak dua tahun lalu ku panggil ayah- menikahi Ibuku dan ibu Sasori sekaligus. Aku tak mengerti alasannya. Saat itu ku pikir aku tak berhak ikut campur urusan orang dewasa. Mereka selalu memiliki pemikiran rumit dan aku tak mau masuk ke dalam kerumitan itu.

Setelah pernikahan, otomatis membuatku dan Sasori menjadi seorang Haruno dan kami berlima tinggal di rumah ini. Yang masih mengganjal adalah putri tunggal Haruno yang tak muncul sama sekali. Setidaknya sampai malam ini.

Bagiku sangat aneh karna tiba-tiba aku memiliki ayah dan dua orang ibu. Aku juga memiliki adik yang terlalu manis untuk ukuran anak lelaki. Dia lebih muda empat bulan dariku. Dan dia bekerja sebagai model lolypop Candy. Itu sangat cocok mengingat wajah dan postur tubuhnya yang imut. Tingginya hanya seratus lima puluh lima centi, dia yang terpendek di antara kami.

Dan setelah kurang lebih dua tahun, aku harus menerima keluarga baru lagi. Nyonya Kushina dan putranya, Naruto. Aku tahu aku tak memiliki hak untuk keberatan dengan penambahan anggota keluarga lagi. Apalagi Sasori dan kedua ibuku menerima mereka dengan baik. Meski banyak pertanyaan berkeliaran di otakku, seperti alasan apa yang membuat ayah menikahinya? Sedangkan sangat jelas terlihat jika nyonya Kushina mampu menghidupi dirinya dan putranya. Ku dengar suaminya dulunya adalah sekretaris ayah. Tentu saja aku tak menyuarakan pikiranku, karna aku merasa tak berhak mencampuri keputusan ayah. Orang dewasa selalu memiliki alasan aneh di setiap keputusan mereka.

Dan di saat ku pikir tujuh orang dalam satu rumah sudah terlalu banyak, ayah menikah lagi dengan seorang yang... entahlah. Aku benar-benar tak bisa memikirkan apa alasan ayah menikahi Nyonya Nanase dan membawa putranya ikut pindah ke rumah ini dengan paksaan. Apakah sebegitu cintanya ayah pada nyonya Nanase sampai memaksa Neji -itu nama putranya- pindah ke rumah ini menggunakan bodyguard? Aku benar-benar tak mengerti jalan pikiran tuan Haruno. Dan yang lebih mengejutkan, putrinya datang dan memutuskan tinggal di rumah ini seminggu setelah pernikahan ayah dengan nyonya Nanase. Itu terlihat mencurigakan di mataku. Karna puluhan kali bujukan ayah selama dua tahun ini sama sekali tak didengar putrinya. Dan sekarang, kami makan bersama. Ha! Ku harap kepalaku tak menyia-nyiakan tenaga dengan memikirkan hal yang bukan kepentingan ku.

"Ibu Miko ingin membuat perutku buncit?" Rajuk Sakura manja. Apa? Manja? Aku benar-benar tak mengerti pola pikir seorang gadis.

"A ha ha berhentilah makan kalau sudah kenyang, Sakura-chan. Jangan sampai kau menggendut." Kali ini Nyonya Azura yang berucap menggoda satu-satunya gadis di meja makan.

"Aku tak akan menggendut." Sakura mengerucutkan bibirnya pura-pura sebal. Mengundang tawa dari mereka semua. Setidaknya, kecuali aku, ayah dan Neji.

"Meski gendut Sakura-nee tetap cantik." Sasori mengacungkan jempolnya. Adikku itu memang orang dengan pikiran seratus persen positif.

Perbincangan hangat terus berlanjut. Tak ada suara di meja makan merupakan sebuah omong kosong di keluarga ini. Justru momen makan di gunakan sebagai waktu bercengkrama. Yah mungkin mempertimbangkan kesibukan tiap orang.

Manikku bergulir menatap Neji dengan wajah kerasnya. Auranya benar-benar gelap. Seolah tak akan mencair dengan keceriaan yang lain. Nyonya Nanase menggenggam tangan Neji dan meremasnya pelan. Aku mengernyit. Mereka seperti tak menikmati aliran suasana ini. Bahkan aku tak bisa melewatkan amethys Neji yang menatap Sakura penuh kebencian. Lagi-lagi banyak pertanyaan muncul di kepalaku. Sayangnya aku bukan orang yang tertarik mengusik privasi orang lain. Dalam kasus ini adikku. Adik tiri termudaku.

Brak! Gebrakan di meja makan itu membuat suasana hening. Semua mata memandang Neji yang sekarang berdiri dengan wajah merah padam. Aku tak tahu apa masalahnya, tapi menurutku dia terlalu agresif dengan merusak suasana.

"Ne... Neji..." Nyonya Nanase dengan panik mengusap punggung Neji. Berusaha meredakan kemarahan adikku itu.

"Apa yang kau lakukan, Neji?!" Aku melirik ayah yang sepertinya menahan diri agar tak membentak Neji.

"Ini memuakkan!" Ujar Neji frontal yang lagi-lagi membuatku mengernyit. Tapi tak cukup untuk membuatku membuka mulut. Aku memang sangat tak menyukai kekacauan yang dibuatnya. Tapi di sini buka aku yang tertua. Yeah, sebut aku panggil hierarki.

"Neji!" Tegur Nyonya Nanase. Aku jadi kasihan padanya yang terlihat bingung, marah dan panik sekaligus.

"Yang termuda bukan berarti membuatmu menjadi bayikan? Itu tak akan berhasil, asal kau tahu." Kali ini Sakura berucap dengan enteng cenderung meremehkan. Aku melirik Putri tunggal Haruno yang meminum jusnya dengan tenang. Ini semakin aneh. Ada apa dengan mereka?

"Brengsek!" Neji menendang kursinya dan meninggalkan meja makan. Semua orang terdiam saat nyonya Nanase meminta maaf dan mengejar putranya. Kecuali Sakura, gadis itu terkekeh tapi aku yakin bukan kekehan seseorang yang merasa terhibur.

"Aku selesai. Aku akan ke kamar lebih dulu, selamat malam ayah, para ibu dan... para adikku." Sakura bangkit dan meninggalkan meja makan.

Selera makan ku hilang. Aku merasa kedamaian di rumah ini yang ku rasakan selama dua tahun akan menjadi sejarah. Ucapan Sakura tadi... tak biasa. Aku merasa tersindir. Atau aku hanya terlalu sensitif? Entahlah.

Makan malam berakhir dengan suasana canggung yang membuatku risih sepeninggal tiga orang itu. Aku tak peduli. Ah aku peduli karna mereka sekarang keluargaku. Ini terasa sialan saat aku harus mempedulikan selain nilaiku juga ibuku.

"Aku tak suka pada Neji." Aku menoleh saat mendengar suara lesu Sasori. "Dia menyeramkan." Tambahnya disela-sela langkah kami menuju kamar.

"Kau benar." Sahutku sekadarnya. Yah, Sasori dan energi positifnya mungkin sensitif dengan aura suram Neji.

Sebagai informasi, kamar kami sebagai lima anak tuan Haruno berderet di lantai dua. Urutannya dari tangga, kanan: Aku dan Sasori. Kiri: Naruto dan Neji. Di ujung lorong kamar Sakura. Aku ingin mendengus melihat tatanan kamar yang seolah kami berempat haremnya nona Haruno itu.

"Kau terlalu polos otouto, itu bukan seram tapi keren." Aku ingin tertawa mendengar sanggahan Naruto yang kini merangkul bahu Sasori. Aku jadi mengkhawatirkan kepositifan Sasori jika terus dipengaruhi Naruto. Mungkin saja suatu hari nanti positifnya Sasori membalut negatifnya. Ah apa yang ku bicarakan.

"Jika itu keren, maka Sasuke-nii lebih keren Naruto-nii..." kali ini aku benar-benar ingin tertawa. Bukan tanpa alasan Sasori mengatakan itu. Ku pikir Naruto juga tahu.

"Ck, lagi-lagi kau terlalu polos Sasori. Sasuke bukan keren tapi menyebalkan." Sanggah Naruto yang tak di sahuti Sasori. Adik imutku itu justru mengerucutkan bibirnya tak setuju pada Ucapan Naruto. Sasori akan masuk dalam daftar orang yang ku sukai. "Hei teme!" Panggil Naruto saat aku akan membuka pintu kamarku.

Ini menyebalkan, tapi entah kenapa aku selalu menoleh saat si baka dobe itu memanggilku teme sejak kami tinggal bersama. Seolah aku terbiasa dengan panggilan sialan itu.

"Aku tak menyukai sifat sialanmu!" Aku mempertahankan wajah datarku saat mendengar ucapannya.

"Oyasumi Sasori dan... dobe!" Ucapku kalem sebelum menutup pintu.

"Kau sialan teme!" Jerit Naruto tak terima. Siapa yang peduli. Dia memberiku panggilan sialan tapi tak terima dengan panggilan sialanku untuknya. Sangat kekanakan.

"Oyasumi Sasuke-nii." Sasori memang yang paling manis di rumah ini. Dia akan benar-benar masuk ke dalam daftar orang favoritku.

Satu debaman lembut dan satu bantingan sadis menunjukkan kalau dua adikku itu sudah memasuki kamar masing-masing. Bukan hal baru melihat Naruto mengatakan hal brengsek. Beberapa bulan bersamanya membuatku mengerti jika anak itu hanya butuh teman berdebat. Sasori terlalu manis, Neji lebih suka menggunakan tinjunya daripada mulutnya, dan aku terlalu malas meladeninya. Karna itulah dia selalu membuat onar di sekolah. Sialannya sebagai kakak tertua aku yang di minta ayah untuk mengurus setiap masalahnya. Atau mungkin mulai sekarang tidak lagi, mengingat Sakuralah yang menjadi kakak tertua. Aku bersyukur untuk itu.

Pagi harinya aku harus sibuk mengurus Sasori. Maksudku, nyonya Azura tidak punya waktu mengurus putranya mengingat kondisinya yang terlalu sering drop. Ah apa aku belum bilang kalau aku terlalu risih dengan hal-hal yang berantakan? Dan Sasori adalah semua yang aku kategorikan sebagai hal berantakan. Dia tak bisa memakai dasi. Dia juga selalu melupakan banyak hal. Intinya dia butuh pengasuh. Aku jadi berpikir bagaiman bisa orang yang seperti ini jadi seorang model? Terserahlah.

"Akan lebih baik saat aku melakukan ini pada anak SD." Ucapku datar. Sebenarnya aku kesal karna setiap hari harus mengurus bayi besar ini. Tapi apa boleh buat, aku tak mungkin membiarkannya berangkat sekolah dalam keadaan berantakan. Sialan. Salahkan saja rasa risihku yang berlebihan.

"Maaf Sasuke-nii." Aku tak menanggapi Sasori yang terlihat menyesal. Dia meminta maaf setiap hari dan membuatku mengurusnya setiap hari. Tak ada yang berubah.

"Oke, kita turun untuk sarapan." Ucapku puas setelah melihat dasi dan pakaian Sasori rapi. Aku bahkan memastikan rambut merahnya tersisir rapi. Aku memang luar biasa. Bukan berarti aku membuatnya klimis, bedakan rapi dan klimis.

Sasori mengangguk patuh dan mengikutiku keluar kamar. Aku sengaja mewajibkannya ke kamarku setiap pagi demi memastikan penampilannya. Dan setiap kali keluar kamar aku akan mengerang jengkel melihat penampilan Naruto yang entah kenapa selalu bersamaan keluar kamar denganku.

"Rapikan seragammu Naruto." Ujarku terganggu.

"Dan siapa kau berani memerintahkan?" Sahutnya cuek berlagak mengabaikan ku. Dia tahu aku akan marah, tapi dia selalu mengulanginya. Menyebalkan. Dia sengaja dan aku tak bisa mengabaikannya. Aku benci diriku sendiri.

"Diam!" Dengan cepat satu tanganku menahan lehernya. Mendorongnya ke tembok. Sementara tanganku yang lain memaksa merapikan pakaiannya. Ini bodoh. Hanya saja aku tak bisa berhenti jika mengingat disekolah nanti aku juga yang harus merapikan seragamnya. Aku anggota komite siswa yang harus memastikan kerapian dan kelengkapan setiap siswa.

"Sialan! Kau pikir kau siapa melakukan ini padaku?!" Naruto berontak. Percuma saja, itu hanya akan membuatku semakin kejam. Aku baru melepaskannya yang nyaris kehabisan nafas setelah pakaiannya rapi.

"Coba kau buat berantakan lagi, dan aku akan melemparmu ke lantai satu." Ancamku pada Naruto yang siap mengacak-acak penampilannya lagi. Dia mengerucutkan bibirnya mengomel tak jelas. Mengurungkan niatnya mengacak seragamnya. Dia tahu aku serius. Naruto sudah merasakannya sekali. Ku pikir itu cukup membuatnya berpikir beberapa kali jika ingin menantang ku.

Aku membiarkan Naruto mengomel selagi tanganku dengan cekatan memasangkan dasinya. Merapikan sisirannya. Ck, kenapa aku terlalu peduli pada penampilannya sih.

"Kau babysitter? Menggelikan!" Aku menahan umpatanku saat Neji berucap sembari melewati kami. Mataku memicing melihat dasinya tak terpasang dengan benar.

"Rapikan dasimu!" Tandasku. Neji berhenti dan berbalik.

"Rapikan saja kalau kau mau." Ucapnya mengedikkan bahu acuh. Aku mengeluh dalam hati karna tak memiliki adik yang sepemikiran denganku. "Kau benar-benar menggelikan sebagai babysitter." Imbuhnya saat aku merapikan dasinya. Neji sialan. Rasanya aku ingin meninju wajah sengaknya. Jika Naruto bicara menjengkelkan karna butuh teman berdebat, maka Neji bicara menjengkelkan yang murni berasal dari hatinya. Aku harap ada angin segar yang membersihkan mulut kotornya.

Akhirnya yang ku lakukan hanyalah menghela nafas dan menggiring para adikku ke meja makan. Sekilas aku menoleh ke arah pintu kamar Sakura, apa aku harus memanggilnya? Beberapa detik berpikir aku memutuskan jika itu tidak perlu.

Biasanya sarapan pagi akan di ikuti oleh anggota keluarga secara lengkap. Sayangnya itu tak berlaku di keluarga Haruno. Justru makan malam yang mewajibkan setiap anggota keluarga hadir. Alasannya? Mengontrol jam malam. Sangat konyol.

Dan pagi ini Ayah sudah pasti berangkat kerja lebih cepat dari karyawannya seperti biasa. Membuatku kasihan pada sekretarisnya, dan juga pengawalnya. Mereka harus bangun lebih pagi daripada ayah. Lupakan itu.

Aku yakin saat ini ibuku sedang sibuk. Dia memiliki bisnis online sejak menikah dengan ayah. Lagi-lagi peraturan tak boleh melewatkan makan malam selalu membuatnya melewatkan sarapan. Dia harus bekerja lebih pagi agar tepat waktu untuk makan malam. Bisnisnya berjalan sangat baik hingga membuatnya sibuk. Sangat sibuk.

Lalu Nyonya Kushina? Apa aku sudah bilang jika dia mampu menghidupi dirinya sendiri bahkan Naruto. Ya, wanita itu sibuk dengan bisnis kulinernya. Aku tak pernah memastikan bentuk bisnisnya. Itu bukan urusanku.

Jika biasanya hanya nyonya Azura yang sesekali menyambut kami di meja makan. Maka kali ini ada nyonya Nanase. Wanita ini sehat wal'afiat, hingga bisa selalu ada di meja makan menyambut kami sejak dia menjadi anggota keluarga.

"Apa kalian sekelas?" nyonya Nanase membuka percakapan saat dia selesai dengan makanannya. Aku tak tahu dia bertanya pada siapa, tapi melihat Naruto yang sibuk menggoda Sasori, mungkin dia bertanya padaku.

"Tak perlu mempedulikan mereka ibu, kita akan segera keluar dari keluarga sialan ini." Dengus Neji yang membuatku mengeratkan genggaman ku pada sendok. Anak ini tak pernah belajar menilai situasi. Konfrontasinya terlalu kekanakan. Apa itu karna dia yang termuda? Tapi hey, kami berlima satu tingkat disekolah. Membayangkan para Haruno junior wisuda bersamaan, wow terdengar begitu antik.

"Kau tak akan kemana-mana baby boy." Sahut Sakura yang baru turun. Gadis itu dengan ringan mengacak rambut Neji. Aku menahan Geraman tak suka.

"Jangan sentuh aku!" Tandas Neji yang tak di gubris Sakura.

"Ohayou Ibu Nanase..." dengan manis Sakura mengecup pipi nyonya Nanase mengabaikan kilat membunuh yang terpancar di amethys Neji.

"Ohayou Sakura. Maafkan Neji, dia hanya..."

"Tak masalah." Potong Sakura menarik kursi untuknya duduk. "Apa ada yang sekelas denganku?" Tanya Sakura entah pada siapa sembari mengunyah roti. Aku risih melihat cara makannya yang berantakan.

"Makan pelan-pelan Sakura. Dan kau akan sekelas dengan Neji... ugh." Aku melotot tak terima saat Sakura menggeplak kepalaku.

"Panggil aku Sakura-nee, tak ada bantahan. Itu berlaku untuk kalian berempat." Aku menatap datar gadis yang menelan potongan terakhir rotinya. Bukan masalah bagiku memanggilnya seperti itu. Tapi sepertinya itu masalah bagi dua orang yang menggebrak meja secara bersamaan. Neji dan Naruto.

"Aku tak mau!" Jerit mereka bersamaan yang menghasilkan pelototan Sakura. Apakah gadis itu sedang menjalankannya perannya sebagai kakak?

"Katakan itu jika kalian ingin mengurangi keberuntungan kalian." Aku menatap Sakura yang berucap dengan percaya diri.

"Memangnya kau siapa?! Aku tak pernah beruntung jika berurusan denganmu!" Raung Neji tak terima.

"Kau hanya lebih tua beberapa bulan dariku. Kau pikir itu bisa membuatku memanggilmu seperti itu?" Jerit Naruto nyaris bersamaan dengan Neji. Aku ingin menggebrak meja dan mengatakan jika mereka berlebihan. Memanggil Sakura dengan tambahan nee tak akan membuat mereka menua atau mati.

"Kalian adikku. Itu alasan yang cukup untuk memanggilku nee-san. Kalian tak keberatan dengan itu kan Sasuke? Sasori?" Sakura menggunakan nada manisnya lagi.

"Hmmmpp. Aku sama sekali tak keberatan Sakura-nee!" Sahut Sasori semangat. Sedangkan aku hanya mengangguk sekadarnya saja.

"Terserah. Kau tak bisa memaksaku!" Tandas Neji tak mau kalah. Dia mencium pipi ibunya lalu melangkah keluar rumah.

"Dan aku juga." Naruto melangkah mengikuti Neji. Sepertinya mereka memiliki ketertarikan yang sama dalam membuat kekacauan. Bedanya, Naruto pada semua orang sedangkan Neji hanya pada keluarganya. Lebih tepatnya pada Sakura dan ayah. Ah mungkin mulai sekarang aku harus membiasakan diriku dengan memanggilnya Sakura-nee.

Sakura mengedikkan bahunya acuh. Melihat dia meraih tasnya, aku dan Sasori pun mengikutinya. Setelah berpamitan pada nyonya Nanase, kami menuju garasi. Sebagai informasi saja, kami mendapatkan mobil plus supir masing-masing dari ayah. Tapi sepertinya kali ini sedikit berbeda. Atau tidak sedikit...

"Apa maksudnya ini, Sakura! Kau kemanakan mobil dan supirku?!" Desis Neji tak terima. Aku hanya bisa menghela nafas melihat betapa mudahnya Neji marah pada apapun yang menyangkut Sakura.

"Opss. Sepertinya aku lupa bilang. Mulai sekarang kalian semua ikut mobilku. Aku sudah memantapkan diriku menjadi kakak yang baik. Dan panggil aku Sakura-nee!" Sungguh, aku ingin tertawa mendengar wajah serius Sakura yang sama sekali tak sesuai dengan nada bicaranya. Dia bahkan mengangguk-angguk seolah mengejek Neji.

"Kau..."

"Tapi Sakura-nee, aku ada pekerjaan jam empat sampai jam setengah tujuh nanti." Adu Sasori memotong Geraman Neji.

"Kami akan mengantarmu sweetie. Kau tak masalah dengan itu kan?" Lagi-lagi Sakura membuatku ingin tertawa dengan panggilannya untuk Sasori.

"Hmmpp. Aku tak masalah." Sahut Sasori lengkap dengan senyuman manisnya. Sesuai dengan yang diharapkan dari si positif thinking Sasori.

"Jangan menyamakan kami dengan otouto. Dia memang yang paling mudah di atur." Kali ini Naruto yang bicara tak suka. Aku berterima kasih pada sisi positif Sasori yang membuatnya tak mudah tersinggung.

"Kalau begitu jadilah semanis Sasori jika tak ingin jalan kaki. Ah aku akan memastikan kendaraan manapun yang kalian gunakan selain mobilku akan masuk jurang." Aku yakin bukan hanya aku yang mengernyit mendengar ancaman Sakura..-nee. Ck, meski tak keberatan, rasanya tetap saja aneh memanggilnya begitu. Lupakan itu. Karna sekarang telingaku berdenging mendengar sumpah serapah yang keluar dari bibir Naruto dan Geraman jengkel Neji. Sedangkan Sasori dengan manis sudah masuk ke kursi di samping kemudi mobil Sakura. Jika saja dua anak ini semanis Sasori, betapa damainya dunia.

Brak! Tep! Tubuhku menegang. Neji terbelalak. Sasori bungkam dan Naruto mengerang. Kalian tahu pemandangan yang kami lihat saat ini? Sakura menendang Naruto hingga tersungkur lalu menginjaknya. Gadis Haruno yang terhormat sedang bersikap bar-bar. Apa dia berniat memutuskan jantungku!?

"Aku tak suka dibantah. Kalian bisa melakukan apapun dengan bebas jika kalian mampu membuatku membebaskan kalian. Jadi mulai sekarang, bersikaplah manis." Aku meneguk lidahku kasar. Apa dia seorang gadis? Tatapannya seperti seorang psikopat. Aku melirik tiga adikku yang sepertinya masih shock dengan aneki mereka. Ck, sepertinya kami memiliki kakak seorang monster yang bahkan melebihi ku. Ini membuatku sedikit percaya jika ancamannya tentang masuk jurang bukanlah omong kosong.

.

Tbc...

.

Chap depan Sasori pov. Karna Sasori pov, tentu akan dikemas semanis yang aku bisa ehe he he.

Bubye~~~