HYPERVENTILATION!

2017. CHRYSSANS289 PRESENT

CHANBAEK

T+

BOYS LOVE/YAOI/BL

DON'T LIKE DONT'T READ!

.

.

.

Enjoy...

.

.

.

"Seharusnya kau mati saja! Dasar sialan!"

"M..mama.. hiks.. mama.."

"Seharusnya aku menggugurkanmu saat itu!"

PLAKK!

Buyi tamparan itu terasa bergema diantara kesunyian malam, hingga beberapa detik setelahnya hanya terdengar bunyi hembusan nafas tak teratur dari seorang wanita dewasa, dan bunyi isakan lirih dari seorang bocah berusia tujuh tahun yang kini tengah meringkuk di lantai.

"Hiks.. B..Baekkie janji ti..hiks...tidak akan nakal lagi..." anak manis itu memohon, jari-jari mungilnya senantisa memegang pipi gembilnya yang kini di hiasi ruam kemerahan akibat tamparan sang mama.

Sementara si wanita dewasa berdecih, kemudian dengan kasar menjambak rambut bocah mungil tersebut.

"Aku sudah tidak tahan mengurusmu sialan. Kau hanya merepotkanku saja! Mulai besok kau akan tinggal dengan Eunjin! Aku sudah muak melihat wajahmu!

"Ja...jangan! Ma.. Baekkie tidak mau tinggal dengan bibi.. Ma.. hiks.. Baekkie sayang mama... mama.. hiks.. ja..jangan tinggalkan Baekkie.."

"Persetan! Dengarkan ini baik-baik Byun Baekhyun, Tak ada yang menginginkan kehadiranmu!.."

.

.

Kata-kata itu... terasa begitu menusuk di pendengaranku, kalimat yang tidak akan pernah bisa aku lupakan sampai saat ini..

.

.

CHANBAEK

.

.

BRUGH!

"Ups, maaf, aku tidak sengaja menyenggol lelaki penggoda.. hahaha.." Siswi cantik berambut kepang kuda itu tertawa sarkas, puas karena melihat target bully-annya sukses jadi pusat perhatian di pagi hari. Sementara teman-teman wanitanya ikut mentertawai, tanpa berniat membantu Baekhyun yang kesulitan memungut buku-buku yang berserakan di koridor.

Baekhyun hanya terdiam, mengela nafas seakan sudah biasa akan perlakuan wanita itu, diantara siswi lain, Mina lah yang paling sering menindasnya, Baekhyun tidak tahu apakan dia punya salah di masa lalu sehingga wanita itu seakan punya dendam padanya? Pria cantik itu segera memungut buku-buku pelajarannya, mengabaikan beberapa murid yang melihatnya tanpa berniat membantu. Kaki kecilnya ia langkahkan kearah kelas, dengan pandangan lurus kedepan Baekhyun berjalan, hal seperti ini, belum seberapa.

Baekhyun cukup bersyukur pagi ini anak-anak di kelasnya tengah berbaik hati. Biasanya dia akan menemukan gunungan sampah di mejanya, namun pagi ini mejanya cukup bersih, setidaknya tak ada lagi sisa-sisa bungkus makanan yang berbau menyengat, mungkin karena ada murid baru di kelas mereka, jadi mereka cukup bertoleransi.

Berbicara mengenai si murid baru, Baekhyun masih bertanya-tanya akan sikap anak itu, kenapa dia bersikap sok dekat dengannya? Apa dia juga berniat membully-nya seperti anak-anak yang lain? Selama dia bersekolah di Santa Maria, tak pernah ada yang ingin berteman dengannya, bersikap baik pun enggan, apalagi menjalin pertemanan. Hanya satu orang selalu bersikap baik kepadanya di sekolah ini, dia Oh Sehun, sunbaenya.

Baekhyun adalah orang yang cukup peka akan sekitar, dia bisa membaca karakter dari wajah seseorang dengan presentase hampir akurat, tetapi Park Chanyeol itu, Baekhyun pikir pria itu punya kepribadian yang tidak bisa ditebak.

"Memikirkanku, cantik?"

"Ah!"

SRET!

GREP!

Baekhyun yang terkejut karena mendengar bisikan di belakang telinganya refleks menepiskan tangannya ke belakang, dan si pelaku pembisikan, Park Chanyeol, dengan sigap menangkap tangan kanan Baekhyun yang melayang di udara. Keduanya terdiam, saling mengunci pandangan satu sama lain. Baekhyun yang masih dalam mode shock-nya, semenjara park Chanyeol setia memasang wajah dingin.

"Apa-apaan reaksimu itu?" Suara dingin Chanyeol terdengar menusuk, ia menarik tangan Baekhyun hingga jarak keduanya semakin dekat.

"M..menjauh.. dariku.. engh.." Telapak tangan kiri Baekhyun meremas dadanya yang terasa memberat. Nafasnya mulai terasa tak teratur dan mata beningnya berkaca-kaca.

"Hah... hah...le..lepa..skan.."

"Hey Byun, are you ok?" tanya Chanyeol, dengan segera ia melepas cengkramannya, ia ganti meremas kedua pundak Baekhyun, menatap heran karena pria mungil di depannya membungkukkan badan seraya meremas bagian dada dengan kedua tangan.

Reaksi ini lagi?

"Baekhyun. Tenang.. hey..!" Chanyeol menangkup pipi Baekhyun dengan kedua tangannya, ia cukup terkejut melihat kedua mata Baekhyun berkaca-kaca. Nafas anak itu pendek dan tak teratur, seperti orang yang tengah terkena serangan asma.

"Baekhyun! Lhat aku.. tenang.. bernafas dengan pelan.. perlahan oke.."

Pria mungil itu hanya bisa menurut, ia memejamkan matanya, mencoba bernafas dengan pelan dan teratur. Tak akan ia biarkan penyakitnya kambuh disaat seperti ini. Baekhyun benci terlihat lemah di depan orang lain, ia tak suka dikasihani.

"Good boy.. kau melakukannya dengan baik.." tanpa sadar chanyeol tersenyum tipis, sangat tipis. Lamat-lamat ia perhatikan wajah cantik Baekhyun, anak itu tetap terlihat mengagumkan meski wajah cantiknya dihiasi keringat tipis. Tanpa bisa ia cegah tangannya mengusap pelan keringat yang ada di dahi Baekhyun. Sementara Baekhyun yang merasakan jari-jari besar seseorang mengusap wajahnya membuat ia membuka kedua mata, terdiam tanpa bisa berkata-kata menatap wajah Park Chanyeol di depannya.

"Wow.. pagi-pagi sudah ada drama live disini.." Suara berisik Kim Jongin memecah keheningan yang sempat tercipta. Suasana kelas memang sepi dikarenakan waktu masih cukup pagi untuk para murid datang ke sekolah. Dan Chanyeol baru tersadar dengan apa yang baru saja dia lakukan kepada Baekhyun.

'Apa kau mulai gila Park Chanyeol?'

Mencoba menghilangkan kecanggungan yang ada, Chanyeol berdehem pelan dan kembali memasang wajah dinginnya, ia memilih duduk di bangkunya dan bersikap seolah tak terjadi apapun. Dapat ia lihat dari sudut matanya, baekhyun hanya terdiam seraya menundukkan kepala.

"Hey Park, bisa kau ceritakan sinopsis drama yang baru saja kalian perankan tadi?" Jongin menarik kursi dan duduk di depan Chanyeol.

"Idiot Kim, kembalilah kepelukan ibumu dan menyusu layaknya bayi.."

Jongin tertawa pelan, "Hey, ayolah, apa mulai ada benih-benih cinta disini? Antara seorang pangeran yang akan menjadi kesatria bagi si tuan putri yang setiap harinya selalu dikejar-kejar monster?"

"Diam atau aku akan merobek mulutmu sekarang juga." Nada Chanyeol terdengar tidak main-main, namun Jongin yang dasarnya berwatak batu tak mau ambil pusing. Baginya Chanyeol yang sedang dalam mode serius seperti ini terlihat seperti seorang badut yang lucu.

"Iyuhh, sang pangeran marah. Bagaimana kalau kutanyakan pada tuan putri saja?" pria berkulit tan itu merubah arah pandangannya, menatap Baekhyun yang masih setia menundukkan kepalanya, itu terlihat menggemaskan di mata Kim Jongin, Jangan salah paham, Byun Baekhyun bukan tipenya.

"Byun, apa tadi tadi Park-bastard-Chanyeol melakukan tindakan tidak senonoh padamu?"

"KIM!" – Chanyeol

"T..tidak..!" – Baekhyun

Chanyeol dan Baekhyun berucap serentak, membuat Jongin tersenyum penuh arti,

"Woah, bahkan kalian sangat kompak! Apa yang aku lewatkan? Apa kalian sudah berkencan. Tidak kusa-"

"Jo..Jongin-ssi.. i..itu tidak benar.." Baekhyun menyela, ia agak risih juga mendengar ucapan Jongin yang membawa-bawa namanya seolah ia punya urusan dengan Chanyeol. Padahal tidak, ia sama sekali tidak suka mencari masalah.

"Kim Jongin, kembalilah ke tempat dudukmu sekarang atau aku akan menyewa pembunuh bayaran untuk melubangi kepalamu dengan senapan laras panjang!"

"Wo..wo..wo.. santai bung. Oke, aku menyerah, aku kembali sekarang.." dengan nada sedikit bercanda Jongin akhirnya kembali ke kursinya.

Chanyeol dan Baekhyun tenggelam dalam keheningan, sibuk dengan pikiran masing-masing. sementara kelas mulai terisi beberapa siswa yang sudah berdatangan.

.

.

.

"Permisi.. Ahn Seongsangnim?" kepala Baekhyun menyembul dari balik pintu, melirik seorang pria paruh baya yang tengah sibuk berkosentrasi dengan beberapa kertas di meja. Guru berkacamata itu mendongak, kemudian tersenyum tipis.

"Ah, Baekhyun.. masuklah.."

"Nde.." dengan pelan, Baekhyun masuk ke dalam ruangan tersebut, tak lupa menutup pintu.

"Benar, Seongsangnim memanggil saya? Apakah ini masalah nilai?" tanya Baekhyun dengan sedikit waspada. Topik tentang nilai adalah hal sensitif bagi baekhyun. Karena dirinya adalah seorang murid penerima beasiswa, maka jelas dirinya harus berusaha mati-matian mempertahankan prestasi agar ia tidak di depak dari Santa Maria. Dirinya hanya bisa mengandalkan otak yang cerdas untuk bisa bersekolah di sini.

"Tidak.. tidak.. maaf sedikit merepotkanmu, tapi aku ingin meminta tolong. Kemarin ada sedikit keterlambatan dalam pemberian seragam untuk Park Chanyeol. Dan kebetulan hari ini baru bisa diberikan. Jadi, bisa kau tolong aku untuk memberikannya? Aku terlalu sibuk dengan berkas-berkasku.."

Baekhyun nampak berpikir sejenak, kalau boleh jujur, dia tak ingin terlibat lebih jauh dengan Park Chanyeol. Tapi tak enak juga menolak gurunya sendiri yang sedang kesusahan. Akhirnya, meski ragu Baekhyun menangguk.

"Baguslah, terimakasih banyak Baek. Tolong kau berikan padanya ya, ini ada satu set seragam sekolah wajib, seragam olahraga, dan seragam musim panas. Dan juga tolong sampaikan permintaan maaf dariku karena keterlambatan seragamnya."

"Te..tentu seongsangnim, saya permisi.." setelah membungkuk singkat, Baekhyun berjalan pelan keluar dari kantor guru dengan sebungkus paper bag ditangannya. Sepertinya dia memang tidak bisa jika tidak terlibat dengan Park Chanyeol. Ia menghela napas pelan,

"Park Chanyeol.." Baekhyun bergumam.

.

.

.

Bel pulang sekolah telah berbunyi, seluruh siswa yang ada di ruang kelas sibuk untuk segera keluar, suasana bising tentu saja tidak bisa dihindarkan. Sepuluh menit kemudian suasana kelas II-A sudah mulai lenggang, hanya ada beberapa siswa yang masih tinggal karena tak ingin berdesakan. Park Chanyeol sendiri salah satunya, ia baru mengemasi alat-alat tulisnya setelah kelas sepi, gerakannya menyandang tas terhenti saat Baekhyun menyodorkan sebuah paperbag berukuran medium tanpa sepatah kata.

"Apa ini?"

"Seragam.."

"Oh, tidak, terimakasih, aku lebih senang memakai seragam sekolah lamaku." Dengan acuh Chanyeol melewati Baekhyun.

Pria mungil yang lebih pendek kesal, ia meniup poninya jengkel, kemudian menarik tangan Chanyeol hingga mereka berdua berhadapan.

"Dengar Park Chanyeol-ssi. Aku tidak tau seberapa mahal harga seragammu itu. Tapi bisakah kau mengambil ini, ini adalah Santa Maria, jadi kau wajib mengenakan seragam khusus sekolah ini. Bahkan Ahn seongsangnim sampai meminta maaf karena telat memberikan ini padamu. Seharusnya kau menghargainya." Baekhyun mendongak, tanpa takut menatap mata tajam milik pria tampan di depannya.

Pria bermarga Park itu mendengus, "Aku tidak memintanya, jadi seharusnya dia tidak perlu repot memberkan seragam itu padaku." Chanyeol tak mau kalah.

"Tapi ini adalah aturan sekolah, Park Chanyeol-ssi. Kau tidak boleh egois!"

"Well.. pantas saja banyak orang yang tidak menyukaimu.." Chanyeol maju selangkah, kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana.

"A..apa maksudmu?" Mata Baekhyun bergerak gelisah, ia semakin memundurkan langkahnya ketika Chanyeol mempersempir jarak diantara mereka. Refleks, Baekhyun menjatuhkan paperbag yang ia pegang, kedua tangannya ia gunakan untuk menahan dada Chanyeol agar pria itu tak semakin dekat dengan tubuhnya yang sudah terpojok ke dinding kelas.

Satu tangan Chanyeol di letakkan disamping kepala Baekhyun, dengan seringai tipis, pria itu mendekatkan wajahnya,

"Aku atau kau, yang egois?"

"A..apa maksudmu?!" sekali lagi Baekhyun mengulangi pertanyaannya, ia sampai harus memiringkan wajah karena wajah Chanyeol terasa begitu dekat, mereka seperti berbagi nafas. Dan sialnya lagi, di dalam kelas itu kini hanya tersisa mereka berdua sehingga tak ada yang bisa Baekhyun harapkan untuk dimintai pertolongan. Tapi walaupun ada, mungkin mereka tak akan perduli.

"Kau itu pemaksa ya.. aku suka melihat orang-orang lemah yang berlagak sok kuat."

Baekhyun terdiam, menunggu kalimat selanjutnya dari mulut Chanyeol. Kini jantungnya sudah berdegup sangat kencang, ia takut. Entah apa yang membuatnya gelisah, Baekhyun tak pernah mengalami yang seperti ini saat ia di bully, Baekhyun memang takut ketika para siswa mulai menyiksanya, tapi rasa takut ketika bersama Chanyeol dengan rasa takut ketika para siswa menyiksanya adalah berbeda. Chanyeol sanggup menekan mentalnya bahkan hanya dengan kata-kata. Tapi sekali lagi, sebisa mungkin Baekhyun harus menyembunyikan ketakutannya. Semakin ia takut, maka penyakit sialannya berpeluang besar untuk muncul, Baekhyun tak suka ketika penyakitnya mulai kambuh.

"Byun Bakhyun.. aku akan jujur kepadamu, aku punya rasa ketertarikan tinggi melihat orang-orang lemah sejenismu. Ketika melihat mereka, rasanya aku ingin membuat mereka sadar bahwa menjadi orang lemah adalah salah. Aku ingin mengajarkan mereka betapa mereka harus menjadi kuat. Aku benci melihat orang lemah! Dengan menyiksa mereka secara mental ataupun fisik, hal itu akan membuat mereka kuat tanpa mereka sadari.." Hidung bangirnya terlena akan harum lembut dari ceruk leher Baekhyun, kedua matanya terpejam menikmati aroma memabukkan tersebut.

"A..apakah k..kau bipolar? Atau psikopat?!" Baekhyun berbisik

" Tentu saja bukan, dasar bodoh. Well,aku hanya ingin membuat orang yang lemah menjadi kuat. Itu saja.." bisik Chanyeol rendah, ia merasakan friksi aneh namun menyenangkan ketika bibirnya bersentuhan dengan kulit leher milik Baekhyun.

"Engh.. ta.. tapi caramu salah.." Jemari lentik Baekhyun mencoba mendorong dada Chanyeol, namun nampaknya hal tersebut tak berhasil, kini malah kedua tangan Chanyeol menahan telapak tangannya agar berhenti bergerak.

"Ini aku, dan aku berhak menggunakan caraku sendiri. Kau tidak perlu repot menceramahiku.."

"Ch..Chanyeol.. kumohon. Hen..tikan.." Baekhyun mulai khawatir ketika Chanyeol mengecupi ceruk lehernya, ia takut, Baekhyun jelas lebih memilih di pukul daripada di lecehkan seperti ini.

"Kau sangat indah Baek.."

"S..stop.. engh.. please..." Jari lentiknya meremas jari-jari Cahnyeol yang masih setia menangkup tangannya. Tubuh kecilnya tidak biasa menerima rasa asing akan hal seperti ini.

Gerakan Chanyeol terhenti ketika ia merasakan tubuh pria mungil di depannya agak bergetar. Ia mulai mengambil jarak, namun masih setia memegang tangan Baekhyun, bahkan tanpa ia sadari.

"Anggap saja ini adalah permulaan Byun.. yang berikutnya mungkin akan lebih seru.. persiapkan dirimu, cantik.." Chanyeol menyeringai tipis, kemudian segera berlalu pergi meninggalkan Baekhyun yang merosot ke lantai, memegangi dadanya yang berdetak tak karuan.

Bola matanya kembali berkaca-kaca, Baekhyun menangis dalam diam. Kedua tangannya ia gunakan untuk memeluk lututnya, kepala bersurai hitam itu tertunduk, bersembunyi diantara celah lutut yang ia tarik sampai kebatas dada.

Byun Baekhyun yakin hari-hari berikutnya akan lebih menyiksa daripada saat sebelum Chanyeol datang dalam kehidupannya.

.

.

.

.

.

.

Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Langkah kaki ramping milik Baekhyun nampak tergesa, mata puppy-nya menatap lurus kedepan. Kejadian setelah pulang sekolah yang melibatkan dirinya dengan Park Chanyeol tiba-tiba melintas di otaknya, Baekhyun tak habis pikir dengan anak baru itu. Ada apa dengannya? Anak itu bersikap aneh. Oh, mungkin anak itu memang punya kepribadian ganda, hanya saja dia tidak mau mengaku, begitu pikir Baekhyun. Well, hari ini dia pulang agak terlambat karena Baekhyun harus mengembalikan buku catatan milik Minseok (salah satu teman sekelas yang tidak pernah membully dirinya). Rumahnya cukup jauh, jadi cukup memakan waktu, ditambah Baekhyun menggunakan transportasi umum. Bukan apa, Baekhyun takut ia akan kena marah lagi ketika sampai dirumah, atau yang lebih parah ia bisa dipukuli hingga memar.

CKLEK!

Gelap. Hanya gelap yang pertama kali menyapa indra pengelihatannya.

"Apa paman belum pulang?" bisiknya. Jari telunjuknya ia arahkan untuk memencet saklar lampu ruang tamu, namun ketika lampu menyala dan menerangi seluruh ruangan, seorang pria yang tengah duduk di sofa tiba-tiba memanggilnya.

"Byun Baekhyun!"

"P..paman.." Baekhyun tergagap, kepala kecilnya ia tundukkan. Sepertinya dia harus siap dipukuli lagi malam ini.

"Darimana kau hah?! Jam seperti ini baru pulang. Seharusnya sekalian saja kau tidak usah pulang brengsek!" pria paruh baya yang dipanggil paman oleh Baekhyun itu berjalan sempoyongan, tangan besarnya ia arahkan untuk mencengkram surai Baekhyun hingga kepala remaja itu mendongak.

Ringisan pelan meluncur dari belah bibir Baekhyun, paper bag yang sedari tadi ia pegang jatuh ke lantai karena tangannya kiri ia gunakan untuk menahan tangan sang paman meski hal tersebut tak membuahkan hasil apapun.

"Akh..m..maaf paman.. a..aku harus mengembalikan.. ugh.. b..buku Minseok.."

"Alasan!"

PLAK!

Tangan kiri pria itu menampar pipi Baekhyun dengan keras hingga membuat pipi Baekhyun memerah.

"S..sungguh paman.. hiks.. B..baekhyun tidak berbohong..."

"Hei bocah, siapa tau jika dirimu berbohong atau tidak. Gara-gara kau pulang telat aku sampai kelaparan dirumah, dasar tidak berguna."

BRUGH.

Tubuh Baekhyun dihempaskan kelantai, dengan gontai pria itu berbalik hendak kembali ke sofa. Namun sayangnya ia tersandung kakinya sendiri hingga membuatnya ambruk kelantai. Baekhyun yang terkejut segera bangkit dan membopong pamannya duduk di sofa dengan susah payah.

"Paman mabuk lagi.." bisiknya pelan. Sementara pria di sebelahnya nampak tak merespon, sepertinya pria itu tertidur.

Jari lentiknya mengambil beberapa lembar tissue, kemudian ia gunakan untuk mengelap keringat di dahi pamannya. Meski pamannya sering berlaku kasar, tapi Baekhyun tak pernah marah apalagi menaruh dendam. Pria berusia 34 tahun itu sering memukulnya dalam keadaan tidak sadar akibat pengaruh alkohol, jadi Baekhyun memaklumi hal itu.

Kim Minhyuk, itu adalah nama dari suami Kim Eunjin, bibi Baekhyun. Baekhyun mulai tinggal dengan keluarga Kim sejak dirinya berusia tujuh tahun. Bibi Eunjin sangat menyayangi Baekhyun, ia sudah menganggap Baekhyun seperti anak sendiri karena Eunjin tidak bisa mempunyai anak dikarenakan punya penyakit kanker rahim yang sempat dinyatakan sembuh oleh dokter. Begitupun dengan Minhyuk, pria itu juga menyayangi Baekhyun layaknya anak sendiri. Namun semua perlahan berubah ketika Baekhyun menginjak umur enam belas tahun. Kanker rahim bibi Eunjin dinyatakan aktif kembali secara tiba-tiba.

Hal itu cukup membuat syok Baekhyun dan juga Minhyuk, namun Eunjin selalu mengatakan semua akan baik-baik saja. Wanita cantk itu selalu menolak jika Minhyuk menawarkan untuk berobat ke rumah sakit. Hingga enam bulan seteahnya, penyakit wanita itu semakin kronis dan terpaksa harus melakukan perawatan tetap di rumah sakit. Baekhyun bahkan harus kerja sampingan untuk biaya sekolahnya, ia tak ingin semakin membebani bibi dan pamannya.

Dan di suatu minggu pagi, ketika ia tengah mengerjakan tugas di kamarnya, ia mendapat telefon dari pamannya di rumah sakit. Di sebrang telefon, ia bisa mendengar betapa sedihnya suara Minhyuk kala itu. Tanpa sempat mengganti pakaian rumahnya, Baekhyun bergegas ke rumah sakit tempat bibi Eunjin dirawat. Ketika ia sampai disana, matanya hanya bisa menemukan pamannya yang terduduk di sebuah kursi dengan kepala tertunduk dan bahu yang bergetar.

"P..paman.."Baekhyun menyapa dengan lemah. Pelan, kepala Minhyun terangkat. Baekhyun juga bisa merasakan betapa terpukulnya pamannya itu, dilihat dari matanya yang sembab dan penampilannya yang nampak kacau. Baekhyun pun bergegas memeluk pamannya, berharap paman yang sudah ia anggap sebagai ayahnya itu dapat menghilangkan sedikit kesedihannya.

"P..paman.. semua akan baik-baik saja.."

"Baekhyun.. termakasih.." bisik Minhyuk di telinga Baekhyun.

Dua minggu setelah pemakaman bibinya, sikap Minhyuk mulai berubah, pria itu sering pulang larut malam dengan keadaan mabuk. Baekhyun jelas memaklumi hal itu karena ia pikir Minhyuk belum bisa menerima kenyataan atas kematian istri tercintanya. Tapi lama-kelamaan, ulah Minhyuk semakin keterlaluan, ia sering melampiaskan emosinya dengan memukul Baekhyun. Bahkan terkadang butuh waktu berhari-hari hingga lebam di tubuhnya menghilang. Sampai sekarang, Baekhyun mulai terbiasa dengan segala perlakuan Minhyuk. Ia yakin kalau pamannya itu sebenarnya punya hati dan kepribadian yang baik, hanya saja sampai saat ini Minhyuk belum bisa menerima kenyataan kalau Eunjin telah pergi.

"Eunjin..." bisikan lirih itu menyadarkan lamunan Baekhyun, ia menatap sedih kearah sang paman, sudah satu tahun berlalu, tapi Minhyuk masih belum bisa melupakan mendiang istrinya, Baekhyun cukup salut akan kecintaan Minhyuk terhadap Eunjin.

"Paman.. tidurlah.." Jemari Baekhyun mengelus surai Minhyuk dengan pelan, dan pria itu tak lagi bergumam dalam tidurnya.

Baekhyun tersenyum tipis, kemudian bangkit dari duduknya. Ia berniat mengambil selimut untuk pamannya. Tak mungkin juga ia membopong tubuh Minhyuk yang sudah terlanjur ketiduran di sofa. Ia memungut paper bag berisi seragam Chanyeol yang tadi sempat terjatuh. Dirinya berinisiatif untuk memberikannya besok, Park Chanyeol harus menerima seragam ini, titik.

Tanpa ia sadari, bibirnya menyunggingkan senyum ketika ia membayangkan wajah Chanyeol.

"Ah.." Dan dia menyesal sudah membayangkan wajah pria menyebalkan itu hingga membuat ia tersenyum aneh, akibatnya bibirnya terasa perih akibah luka sobek di sudut bibirnya tertarik. Well, tamparan pamannya itu tak pernah main-main. Langkah kaki ia percepat naik ke lantai atas. Ia harus segera membersihkan diri, mengobati sudut bibirnya yang terluka, dan kemudian segera pergi tidur. Baekhyun punya hari yang panjang untuk dihadapi besok.

.

.

.

Aroma harum masakan menyeruak ke segala penjuru dapur, dengan cekatan jemari indah Baekhyun membuat berbagai jenis masakan untuk sarapan. Pagi ini moodnya sedang baik meski semalam kejadian tak mengenakkan baru saja terjadi.

Tinggal menggoreng beberapa telur, dan semuanya akan siap. Baekhyun mengambil dua buah telur dari dalam kulkas, ia memecahkan cangkang telur dengan sendok, kemudian menuangkan isinya kedalam mangkuk, tak lupa ia menambahkan sedikit garam dan penyedap rasa. Kemudian ia aduk perlahan agar tercampur merata.

Gerakannya terhenti secara mendadak ketika sepasang lengan melingkar di perut rampingnya. Baekhyun semakin terkejut ketika merasakan bibir orang tersebut mulai mengecupi lehernya.

"Kau terlihat manis dengan apron itu.." bisiknya di telinga Baekhyun.

"P..paman!" Baekhyun menggeliat, dengan segera ia melepaskan tangan Minhyuk di pingganggnya. Ia berbalik menatap wajah Minhyuk yang nampak terkejut dan seperti orang yang kehilangan pikiran untuk sesaat.

"B..Baek...hyun?" Suara minhyuk nampak tergagap, ia seakan masih mencerna apa yang baru saja terjadi. Baekhyun? Itu Baekhyun?

"Paman? Kau baik-baik saja?" telapak tangan Baekhyun memegang lengan Minhyuk pelan, pria itu nampak sedikit terkejut.

"Oh.. aku..."

"Biar kutebak, paman pasti mengira aku ini bibi kan?" Baekhyun tersenyum tipis.

Minhyuk menghela nafas berat, jari telunjuk dan ibu jari ia gunakan untuk mengurut pangkal hidungnya.

"Maafkan aku, ini terjadi lagi. Kurasa semalam aku mabuk berat."

"Tak apa. Baekhyun mengerti..." Ucap Baekhyun pelan.

"Maaf Baek.."

"Sudahlah, jangan terlalu di pikirkan. Duduklah paman, aku sudah menyiapkan teh favorite paman. Tunggulah sebentar, aku akan menggoreng telur lalu kemudian kita bisa sarapan."

Minhyuk menganguk pelan. Pria itu duduk di kursi tanpa banyak kata. Sesekali ia menyesap teh kesukaannya. Tak lama Baekhyun datang dengan sepiring telur dadar. Ia menyendokkan semangkuk nasi untuk Minhyuk dan semangkuk untuk dia sendiri. Baekhyun dan Minhyuk sudah terbiasa duduk bersebelahan ketika makan bersama. Itu akan memudahkan Baekhyun jika Minhyuk membutukan sesuatu.

"Baek.."

"Ya?"

"Aku tak ingat apapun semalam. Apa.. aku menyakitimu lagi?" gerakan Baekhyun menyumpit telur dadar terhenti, ia menunduk sesaat untuk menimbang apa yang harus ia katakan.

"Tid-"

"Jangan berbohong. Sudut bibirmu terluka. Ini ulahku, benar?" Minhyuk mengelus sudut bibir Baekhyun dengan ibu jarinya.

"Uh.. y-..ya. ta..tapi itu tidak sakit kok.."

Lagi-lagi Minhyuk mendengus, "Bukankah sudah pernah ku katakan padamu, kau bisa menendang atau mencakarku jika aku mulai menyakitimu. Baekhyun, kalau begini terus, kau akan selalu merasakan sakit."

"A..aku baik-baik saja.. sungguh.."

"Berhenti bersikap sok kuat Baaekhyun. Jika kau merasa terancam, maka kau harus bisa membela diri. Kau tau kan kalau aku bisa lepas kendali jika sudah mabuk. Bahkan tadi, bisa-bisanya aku menganggap kau itu Eunjin.. padahal dia sudah..."

"Umh.. itu bukan sepenuhnya keslahan paman. Baekhyun bisa memakluminya.. dan, Baekhyun mohon.. paman jangan terlalu sering minum, itu tidak baik untuk kesehatan."

"Yah.. untuk itu mungkin aku tidak bisa berjanji, hanya dengan minum aku bisa melupakan Eunjinuntuk sesaat, tapi aku akan berusaha mulai sekarang.."

"Um.." Baekhyun mengangguk seraya tersenyum manis. Dan Minhyuk tak tahan untuk mengelus surai lembut milik Baekhyun. Bisa-bisanya ia menyakiti bocah manis seperti Baekhyun.

"Em, Baekhyun, mulai besok aku akan pergi ke Jepang bersama atasanku selama lima belas hari untuk mengurus beberapa cabang perusahaan disana. Kuharap kau bisa tinggal sendiri."

"Paman.. aku bukan akan kecil lagi tahu.. umh.. jaga kesehatan paman selama disana ya.."

"Tentu. Ngomong-ngomong, kau harus berangkat ke sekolah kan? Hari ini biar paman antar."

"T..tidak perlu.. aku bisa naik bus kok.."

"Tak apa, sekalian aku akan langsung pergi ke kantor."

"Umh.. baiklah, terimakasih paman..'

"Yah.. tak perlu berterimakasih Baek.."

.

.

.

"Park Chanyeol-ssi!"

Langkah kaki Chanyeol terhenti, ia membalikkan tubuhnya kebelakang dan mendapati sesosok manusia bertubuh pendek dengan wajah imut tertunduk dengan nafas tersengal di depannya. Imut eh?

"Byun?"

"Langkahmu sangat cepat seperti jerapah!"

Chanyeol tertawa sinis, merasa konyol akan ucapan anak di depannya, "Dasar bodoh. Ada urusan apa? Kau mau ku tindas?"

"Ish. Aku hanya mau memberikan ini tau!" Baekhyun menyodorkan sebungkus paper bag ke depan wajah Chanyeol.

"Bukankah sudah kubilang aku tidak mau?"

"Tapi hari ini sedang ada jadwal olahraga. Dan kau harus pakai ini!"

"Hey idiot, kau menyuruhku memakan baju olahraga sementara kau sendiri tidak?"

"A..a...itu.. ish. Pokoknya kau harus ambil ini. Ambil saja! Apa susahnya sih, ambil dan setelah itu terserah kau mau memakainya atau tidak. Jika sudah kau ambil maka tanggung jawabku memberikan seragam ini padamu sudah selesai. Jadi aku tidak perlu repot-repot berurusan denganmu lagi!" Baekhyun menyelesaikan kata-katanya dalam satu tarikan nafas. Park Chanyeol bertepuk tangan dalam hati mengapresiasi hal tersebut.

"Cerewet sekali. Kau terdengar seperti wanita. Pantas saja kau sering di tindas."

"A..apa?!"

"Sudahlah.. aku ambil ini, dan ayo kita ganti baju bersama." secara tiba-tiba tangan Baekhyun ditarik oleh Chanyeol kearah ruang ganti siswa. Jantung Baekhyun mulai berdegup tak beraturan, kemanapun asal jangan ke ruang ganti.

"Y..yak! hey! Chanyeol-ssi! Kumohon lepaskan aku!"

"Kenapa? Kau takut rumor itu benar adanya?"

Rumor? Oh!

"Tidak. Bukan rumor itu. Ini karena hal lain! Chanyeol-ssi.. kumohon!"

"Sudahlah Byun.. ikut saja. Kau tidak perlu takut jika rumor itu tidak benar kan?"

"Chanyeol-ssi..! bukan karena itu..!"

"Diam Byun..kau sangat berisik.."

Baekhyun pun hanya bisa pasrah, semoga tak ada hal buruk yang menimpanya nanti. Semoga.

.

.

.

TBChanyeol...

.

.

.

Wohohoho~ udah lumayan yha.. lumayan ancur #plakk... masih banyak rahasia dan masa lalu Baekhyun dan Chanyeol yang belum terkuak. Itu bakal dijelasih perlahan di chappie-chappie berikutnya. Begitu juga dengan penjelasan penyakit Baekhyun. Dan buat adegan Baek ama pamannya itu. Ehm, maaf ya, emang Chrys buat kek gitu untuk mendukung alur cerita. Mohon dimaklumi. Tenang aja, Baek ama Minhyuk itu ga bakalan ada benih lope-lope yak..

Makasih banyak banyak banyak buat yang udah review di chapter prologue kemarin. Chrys seneng banget kalian udah review epep ini. Maaf ga bisa balesin satu-satu yah. Tapi semua review kalian pasti Chrys baca kok J...

Oke, keep review untuk kelanjutan cerita ini ya... kelanjutan cerita tergantung jumlah review #ModusKlasikAuthor (pssstttt, kalo reviewnya banyak author update cepet, muehehehe..) kalau ada yang mau tanya-tanya atau mengkrip(t)ik silahkan tuangkan di kolom review.

.

Sampai jumpa di Chapter depan.. salam Yaoi.. wohooo~

.

.

.

Chryssans289

14/04/2017