Beloved Enemy

.

.

.

02

.

.

.

^_^ Happy Reading ^_^

.

.

.

"Kenapa anda ingin bertemu dengan saya, padahal anda tahu betul saya berdiri sejajar dengan orang yang menyatakan dirinya sebagai musuh besar anda?"

Chanyeol menatap Heechul yang duduk di hadapannya dengan tatapan datarnya.

Heechul terlihat meremat kedua tangannya. Perlu waktu lama baginya untuk berpikir sebelum akhirnya dia memutuskan menemui Chanyeol yang notabene tangan kanan musuh besarnya.

Bukan tentang kepentingannya, tapi tentang kepentingan putri kecilnya.

"Saya ingin meminta sesuatu pada anda, bisakah?" tanya Heechul balik, mengabaikan pertanyaan yang diajukan Chanyeol padanya.

"Kenapa pada saya anda meminta? Padahal permintaan itu mungkin saja saya tolak?"

"Chanyeol-ssi! Masalah yang saya hadapi dengan Hankyung, tak seharusnya menjadi sebesar ini kalau saja dia mau sedikit mengerti keadaan saya, tapi semua sudah terlanjur, persaingan itu terlanjur terjadi dan..."

"Saya tidak memiliki waktu untuk mendengar cerita anda. Langsung pada intinya saja, karena saya banyak urusan."

Heechul menelan ludahnya perlahan. Tak jauh beda dengan Hankyung, Chanyeol ternyata juga cukup sadis dalam berinteraksi dengan orang lain.

"Rencana penyerangan itu, saya sudah tahu."

"Kenapa anda tidak melarikan diri?"

"Percuma, karena kemana pun kami pergi, Hankyung pasti akan mengetahuinya."

"Lalu?"

"Dia dendam pada saya, dia ingin menghabisi keluarga kami, saya bisa terima itu. Yang tak bisa saya terima adalah kalau dia juga akan menyakiti bahkan menghabisi putri kecil saya."

"Nyonya Kim! Saya sudah membuang waktu dengan datang memenuhi undangan anda. Kalau anda masih berbelit-belit, lebih baik saya pergi dari sini."

"Chanyeol-ssi! Bisakah anda merawat putri saya setelah saya tiada?"

Chanyeol mengernyitkan dahinya. Perempuan dihadapannya ini, tidakkah dia salah dalam mengambil keputusan? Dia berdiri di pihak musuh Heechul, tapi bisa-bisanya Heechul menyuruhnya menjaga putrinya sepeninggal dia nanti.

Chanyeol tersenyum sinis.

"Apa yang sedang anda rencana sebenarnya? Saya berdiri di pihak musuh anda, tapi anda meminta bantuan saya untuk merawat putri anda? Nyonya Kim! Bukankah yang harus anda lakukan meminta bantuan rekan-rekan anda? Yang menjadi sekutu anda?"

"Saya tak memiliki rencana apapun, saya hanya ingin ada yang menjamin keselamatan dia. Usianya masih sembilan tahun, tidak seharusnya dia menjadi korban dalam perseteruan ini."

"Saya tak akan menolong anda." Jawab tegas Chanyeol.

"Chanyeol-ssi! Saya mohon, hanya anda harapan saya satu-satunya."

Chanyeol kembali tersenyum sinis.

"Anda sangat aneh. Anda tak khawatir menyerahkan dia pada saya sedangkan anda tak pernah tahu bagaimana hati saya."

"Anda orang baik, itu yang saya yakini."

"Atas dasar apa anda mengatakan hal itu?"

"Perasaan saya sebagai seorang ibu yang mengatakan demikian."

Chanyeol terdiam, dia tertegun mendengar jawaban perempuan yang usianya memasuki kepala empat itu.

Dia orang baik?

Benarkah?

Dia saja tak yakin kalau dia orang baik, sudah terlalu banyak orang yang dia buat terluka sejak dia bergabung di bisnis gelap pamannya itu. Lalu, masih pantaskah dia di sebut orang baik?

"Tak ada yang menilai saya seperti itu. Bagi mereka, saya tak ada bedanya dengan Hankyung ahjussi. Penjahat kelas kakap yang tak punya belas kasihan pada siapapun juga."

"Saat saya sedang memikirkan hal itu, nama anda yang pertama kali terlintas dalam pikiran saya. Saya tak tahu apa sebabnya, tapi yang harus anda tahu, hati saya meyakini anda adalah orang baik."

"Kalau begitu ijinkan saya meluruskan pemikiran anda. Saya tak sebaik yang anda sangka. Putri anda, bisa juga saya bunuh nantinya."

Heechul menatap Chanyeol dengan ragu. Nyalinya menciut, keyakinan yang dia tanamkan dalam hatinya tentang sosok Chanyeol yang adalah orang baik, perlahan mulai terkikis.

"Anda mulai ragu?"

"Chanyeol-ssi! Saya mengenal wanita yang melahirkan anda dengan baik. Dia, orang paling baik yang pernah saya kenal. Meski dia tak membesarkan anda sampai anda dewasa, tapi saya yakin, kasih sayang yang dia berikan selama hidupnya untuk anda, anda masih menyimpannya di dalam hati. Dengan sisa rasa kasih sayang itu, tolong selamatkan nyawa putri saya."

Chanyeol cukup tertohok dengan ucapan Heechul. Dia juga berusia sembilan tahun ketika ibunya pergi meninggalkan dia untuk selama-lamanya, sedangkan sosok sang ayah sama sekali tak dia kenali. Dia hanya tahu ibunya dan Hankyung saja yang menjadi keluarganya, selebihnya... Semua musuh. Seperti itu Hankyung menanamkan dalam otaknya tentang orang-orang di sekitarnya.

Tapi, seperti dugaan Heechul, Chanyeol berbeda dari Hankyung. Dia lebih beradab, lebih bisa bersikap rasional, tak hanya mengedepankan emosi dalam mengambil setiap keputusan. Dia masih memiliki hati dan rasa kasih sayang meski harus diakui sikapnya sangat dingin terhadap orang lain.

"Pada hari penyerangan nanti, saya akan meminta pengasuh putri saya untuk mengantarnya ke bagian utara Mansion saya. Tunggu dia disana."

"Nyonya Kim!"

"Saya mungkin salah menafsirkan bagaimana hati anda. Tapi, biarlah saat ini saya yakini, anda orang yang tepat untuk menjaga putri saya. Tolong saya! Jangan lihat saya sebagai musuh dari paman anda, tapi lihatlah saya sebagai seorang ibu yang mengharapkan pertolongan anda."

Chanyeol membuang nafasnya perlahan.

"Suatu saat kalau dia tahu kebenaran yang terjadi, mungkin dia akan sedikit kecewa pada anda, tapi jangan khawatir karena saya akan menjelaskan semuanya pada dia. Bahwa orang yang bersamanya adalah orang baik yang sudah menolong ibunya. Chanyeol-ssi!"

"Baiklah. Bawa dia ke utara Mansion anda. Saya dan anak buah saya akan menunggu disana."

Heechul menatap Chanyeol dengan binar kebahagiaan.

"Gomapta Chanyeol-ssi."

"Jangan berterimakasih. Anggap ini hari keberuntungan putri anda."

Heechul mengangguk pelan. Masalah terbesar dalam hidupnya sudah selesai. Chanyeol, mungkin bukan yang terbaik, tapi dia orang baik yang akan menjamin hidup putrinya.

.

.

.

"Eugh!"

Baekhyun menggeliat saat merasakan sepasang lengan kekar mendekap tubuh mungilnya.

Tanpa membuka mata pun dia tahu siapa pemilik lengan itu.

"Kau sudah pulang?" tanya Baekhyun tanpa membuka matanya.

"Ehm."

"Jongdae-ssi, dia mengatakan kalau kau akan pulang lusa."

"Aku sudah menyelesaikan semua urusanku disana hari ini." Bisik Chanyeol sembari menghadiahi kecupan bertubi-tubi di bahu telanjang milik kekasihnya itu.

Hal itu membuat bulu kuduk Baekhyun meremang.

"Eemmhhh!" keluh Baekhyun. Dia memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan pria yang selama lebih dari dua belas tahun ini menemaninya.

Chanyeol tersenyum tipis, lalu tanpa ragu dia sedikit menurunkan wajahnya demi bisa meraup bibir tipis gadis mungil itu.

"Aku sangat mencintaimu. Setiap hari aku merindukanmu." Bisik Chanyeol kemudian, setelah beberapa saat menyesap bibir manis itu dan melepaskannya kemudian.

"Nado."

Chanyeol memeluk erat tubuh kecil itu, sebelum memutarnya hingga gadis itu kini berada diatasnya.

"Aku menginginkanmu malam ini."

"Ehm. Tapi kau harus berjanji hanya sekali."

Chanyeol menyingkap lembut rambut panjang Baekhyun, lalu menyimpannya di sela telinganya.

"Wae?"

"Besok aku ada ujian masuk kuliah."

Chanyeol terlihat mengerutkan dahinya. "Besok?"

"Ehm."

"Kau belum mengatakan padaku akan kuliah dimana dan mengambil jurusan apa."

Baekhyun menatap Chanyeol manja sambil memainkan jari telunjuknya di atas dada bidang pria itu.

"Aku memilih Exordium university, untuk jurusannya... ehm... " Baekhyun menggigit bibir bawahnya. Dia terlihat ragu.

"Kenapa? Kau melakukan kesalahan?"

"Bukan kesalahan besar, hanya saja mungkin terdengar salah di telingamu."

"Apanya?"

"Aku mengambil jurusan sejarah korea."

Chanyeol kembali mengerutkan dahinya. Sejarah Korea, baginya, tak penting Baekhyun belajar apa di bangku kuliahnya. Toh nanti pada akhirnya, Baekhyun akan menjadi istrinya. Dan bila hal itu terjadi, dia tak akan membuat Baekhyun bekerja. Kalaupun gadis mungil itu ingin bekerja, dia mampu memberikan pekerjaan yang sangat ringan untuknya.

"Aku hanya penasaran tentang negara ini, karena di Perancis aku tak mendapatkan pelajaran tentang Korea sama sekali."

"Ehm. Asal kau menjalaninya dengan senang hati, aku juga ikut senang."

"Benarkah?"

"Ehm. Sekarang bisa kita lanjutkan?"

Baekhyun tersenyum tipis, sebelum kemudian mendaratkan ciumannya diatas bibir Chanyeol. menyesap dan melumat lembut bibir favoritnya itu.

Setelah itu, yang dengar selanjutnya hanya desahan demi desahan yang saling bersahutan. Baekhyun berusaha menyenangkan Chanyeol dengan berada diatas tubuh pria itu, demikian pula sebaliknya.

"Haaaaaahhhhhh!"

.

.

.

Baekhyun turun dari lantai dua Mansion itu dengan pakaian yang lebih rapi dari biasanya. Rok span sebatas lutut berwarna abu-abu tua di pilihnya dengan dipadukan kemeja oversize berwarna putih tulang yang bagian lengannya digulung hingga sebatas siku. Rambut panjangnya dikuncir kuda dengan hiasan pita berwarna pink. Sepatu yang di pilihnya juga terlihat lebih simple, dia memakai sneaker putih.

"Pagi!" sapanya dengan senyum lebar pada Chanyeol yang duduk di ruang makan, tengah menikmati sarapannya.

Chanyeol menatap Baekhyun sekilas sambil mengumbar senyum tipisnya.

Baekhyun kemudian duduk di kursi dekat dengan tempat Chanyeol duduk setelah menghadiahi pria itu dengan kecupan ringan di pipi. Dia bersiap menikmati sarapannya, yang kali ini adalah nasi goreng kimchi. Makanan favoritnya namun dulu tak bisa setiap saat di nikmatinya.

"Mereka sudah datang Tuan." Beritahu Jongdae. Pria itu masuk ke ruang makan dengan membawa dua sosok yang asing bagi Baekhyun.

"Siapa nama kalian?" tanya Chanyeol.

"Bae Joo Hyun imnida. Saya berusia dua puluh satu tahun." Jawab sosok perempuan yang menurut Baekhyun memiliki sorot mata dingin. Yang membuatnya sedikit tak nyaman.

"Kau?" tanya Chanyeol pada sosok pria yang berdiri di samping Soo Jung.

"Jackson Wang. Saya juga berumur dua puluh satu tahun." Sahut pria itu, daripada Soo Jung, menurut Baekhyun, Jackson lebih terlihat bersahabat.

"Jongdae sudah menjelaskan semuanya pada kalian bukan. Mulai hari ini, kalian akan mengikuti semua kegiatan dia selama berada di kampus. Pastikan dia tak lepas dari pandangan kalian dan pastikan tak ada ancaman untuknya selama dia berada di lingkungan kam..."

"Tunggu!" seru Baekhyun. Dia menatap dua orang itu, lalu menatap Chanyeol. "Apa maksud ahjussi dengan semua ini?" tanyanya dengan nada tak terima.

"Maksudku sudah jelas, mereka akan mengawasimu selama kau berada di kampus. Mereka akan ada di kelas yang sama denganmu."

"Ahjussi!"

"Wae?"

Baekhyun berdiri dari duduknya. Setiap kali masuk bangku sekolah, selalu ada perdebatan sengit antara dua orang yang terpaut usia cukup jauh itu. Chanyeol yang begitu over protectif pada Baekhyun dan si mungil yang jengah dengan tindakan berlebihan dari pria tinggi itu.

"Ahjussi, ini sudah sering terjadi. Dari aku kecil hingga aku masuk bangku kuliah di Perancis. Kau sudah mengatur sedemikian rupa orang-orang yang akan menjadi guardku, yang mengikutiku kemana pun aku pergi. Tak bisakah kali ini kau membiarkanku dengan tenang pergi ke kampus sendirian tanpa pengawalan?"

"Tidak!

"Ahjussi!" Baekhyun memekik kesal. "Putri presiden saja tak seperti ini, kenapa aku diperlakukan seperti ini?"

"Karena kau lebih berharga dari putri presiden sekalipun."

"Kalau ahjussi tetap melakukan hal itu, lebih baik aku tidak kuliah."

"Pilihan yang tepat. Setelah sarapan bersiaplah untuk kembali ke Perancis."

"Ahjussi!" pekik Baekhyun semakin kesal

"Kau tinggal disini sekarang Baekhyun-ah! Ikuti semua peraturan yang sudah ku buat untukmu. Kalau kau tak mau melakukannya, kembali ke Perancis sekarang!"

"Shirreo!" tolak Baekhyun keras. Matanya berkaca-kaca melihat Chanyeol yang berdiri tepat dihadapannya.

"Kalau kau tak mau kembali ke Perancis sekarang, ikuti semua peraturan itu!"

Baekhyun mempoutkan bibir tipisnya, tak lama kemudian airmatanya leleh. "Ahjussi selalu melakukan apapun atas diriku dengan semau ahjussi. Kapan aku bisa bebas seperti orang lain, yang kemana-mana jalan sendiri tanpa merasa khawatir di buntuti oleh mereka." racau Baekhyun, masih tak terima dengan apa yang diputuskan Chanyeol atas dirinya.

Chanyeol membuang nafasnya perlahan. Dia juga tak ingin melakukan hal ini, tapi karena Baekhyun adalah orang yang dicari pamannya selama dua belas tahun ini, karena Baekhyun adalah titipan yang harus dijaganya, dia melakukan berbagai cara agar gadis itu aman. Setidaknya untuk saat ini.

Identitas Baekhyun tak pernah terbuka pada khalayak ramai, selama ini Chanyeol menutupi jati diri gadis itu dengan sangat rapi. Dia tak ingin, kecerobohan Baekhyun justru menjerumuskan gadis itu dalam bahaya.

Maksud Chanyeol melakukan hal ini baik, hanya saja, karena Baekhyun tak pernah tahu tujuan penjagaan atas dirinya yang cukup ketat itu, dia beranggapan bahwa Chanyeol adalah orang jahat.

"Jangan menangis!" Chanyeol mendekati Baekhyun, lalu mengusap lembut pipi basah gadis cantik itu.

"Aku hanya ingin kebebasanku. Aku ingin pergi dengan teman-temanku, nonton bioskop, main ke taman bermain atau..."

"Untuk saat ini, aku harap kau mengerti Baekhyunie. Aku melakukan semua ini untukmu, demi keselamatan dan keamananmu."

"Dari siapa?!" Baekhyun menepis tangan Chanyeol yang menangkup pipinya. "Aku tak pernah tahu siapa musuhku, aku tak tahu siapa sebenarnya yang mengincarku tapi kau selalu memakai alasan itu untuk meyakinkanku bahwa ada orang yang memang mengincarku. Apa ini bukan akal-akalanmu saja?"

"Baek-ah!"

Baekhyun mengusap kasar pipinya yang masih basah. "Kau akan selalu benar. Apapun yang kukatakan kau bisa membantahnya, kau pandai menyangkalnya. Terserah kau saja, kau ingin aku pergi dengan mereka? Baik, aku akan pergi dengan mereka, agar kau PUAS!"

Baekhyun menarik tali tasnya kasar, dia lalu melangkah cepat meninggalkan ruang makan itu.

Chanyeol kembali menarik nafas dan membuangnya berat. Matanya terpejam perlahan.

Sementara itu, Jongdae memberi isyarat pada Soo Jung dan Jackson untuk segera menyusul Baekhyun.

Setelah keadaan lumayan sepi, Jongdae mendekati Chanyeol.

"Anda tak apa-apa?" tanya Jondae.

"Kepalaku hanya sedikit sakit." Sahut Chanyeol sambil kembali duduk di tempatnya tadi.

"Anda membutuhkan obat?"

Chanyeol memberi isyarat pada Jongdae untuk tak melakukan apapun. Kepalanya memang selalu berdenyut sakit setiap kali dia mulai bertengkar dengan Baekhyun.

Ada banyak hal yang harus dia sembunyikan dari Baekhyun, untuk saat ini, dia belum bisa banyak membaginya dengan gadis itu. Caranya memperlakukan Baekhyun mungkin memang salah, tapi sampai dengan saat ini, hal itulah yang terbaik yang bisa dia lakukan untuk memberikan keamanan pada gadis yang sangat dicintainya itu.

"Tuan!"

"Ehm."

"Tuan besar ingin bertemu anda!" beritahu Jongdae, Chanyeol menatap Jongdae sebentar sebelum kemudian mengangguk.

.

.

.

"Kau kemarin ke makam eommamu Chanyeol-ah?" tanya Hankyung yang saat ini sedang duduk di kursi kebesarannya, di Mansionnya yang tak kalah besar dengan Mansion Chanyeol.

Chanyeol menatap Hankyung sekilas. Kemarin? Kemarin dia hanya berada di kantornya dan menghadiri beberapa pertemuan penting lainnya, ehm...

"Nde. Hanya sebentar."

Hankyung mengangguk-angguk. Matanya yang cukup tajam memperhatikan gerak gerik Chanyeol yang di nilai tak seperti biasanya. Ada kegelisahan di mata keponakan yang dibesarkannya itu.

"Apa yang kau pikirkan?" tanya Hankyung kemudian.

Chanyeol terlihat cukup terkejut dengan pertanyaan itu. Dia menatap pamannya itu sekilas, sebelum kemudian menggeleng perlahan.

"Kau sangat tahu aku tak suka kebohongan Chanyeol-ah, jadi jangan sekali-kali mencoba berbohong padaku." Sahut Hankyung dengan suara datarnya yang khas.

"Tak ada untungnya aku berbohong pada ahjussi, karena serapi apapun itu, kau pasti mengetahuinya." Balas Chanyeol.

Hankyung tersenyum miring. Yang dikatakan Chanyeol tak salah, dia tahu dan akan tahu. Yang dilakukan Chanyeol saat ini, sebenarnya dia tahu. Ada yang coba disembunyikan keponakannya itu darinya, dia sedang mencari tahu hal itu dan kalau dia menemukan hasil dari kecurigaannya itu, bukan tak mungkin dia akan membuat Chanyeol menderita.

"Kau sangat tahu dan mengenal bagaimana aku, jadi jangan sembunyikan apapun dariku."

Chanyeol tersenyum kecil untuh menutupi kegundahan hatinya.

Inilah yang dia takutkan saat Baekhyun ada di Korea. Dia takut Hankyung akan mengetahui keberadaan Baekhyun, dia takut kehilangan gadis itu akibat tindakan pamannya yang tak berperikemanusiaan itu.

Hankyung mencari keberadaan Baekhyun sudah sangat lama. Sejak kejadian malam itu, dimana pamannya menghabisi semua penghuni Mansion keluarga Byun dan tak menemukan Baekhyun. Hankyung bukan orang bodoh yang percaya begitu saja ketika salah satu orang kepercayaannya menyatakan tak ada anak yang lahir dari rahim Kim Heechul, kalau pun ada, kemungkinan besar anak itu sudah meninggal sebelum dilahirkan karena berdasarkan pencarian orang kepercayaannya itu, tak ada satu pun rumah sakit di sekitar Mansion Byun atau di seluruh Seoul bahkan Korea yang menerima Heechul sebagai pasien persalinan pada beberapa tahun yang lalu.

Untuk hal itu, bukan Chanyeol yang turun tangan menghapus semua jejak keberadaan Baekhyun di dunia ini. Sepertinya, Heechul sendiri sudah sangat paham akan konsekuensi dari berurusan dengan Hankyung. Bisa jadi, ibu Baekhyun itu sendiri yang menghapus jejak hidup putrinya sendiri.

Lalu bagaimana bisa Hankyung begitu yakin bahwa Heechul memiliki seorang anak?

Menurut pamannya, satu hari beberapa tahun yang lalu, dia pernah melihat Heechul menggandeng sesosok gadis kecil di sebuah jalanan Myeondong. Hankyung yakin gadis kecil itu anak Heechul, dari cara Heechul memperlakukan gadis kecil itu.

Tapi...

Kenyataannya, sampai dengan saat ini Hankyung belum menemukan gadis itu. Jejak dari anak yang dia yakini sebagai anak Heechul itu hilang seiring dengan meninggalnya dua orang yang paling dia benci itu,

"Ada urusan apa Ahjussi datang kemari?" tanya Chanyeol mengalihkan pembicaraan.

"Tak ada apa-apa. Aku hanya ingin melihat eommamu dan juga dirimu."

"Kau yakin hanya itu ahjussi?"

Tak berselang lama setelah pertanyaan itu keluar dari mulut Chanyeol, Hankyung terlihat tersenyum miring.

"Ada yang sedang kucari disini."

Chanyeol merasakan firasat yang tak baik. Hankyung yang setelah dua belas tahun lebih memilih tinggal di China, sejak kemarin berada di Korea. Apakah mungkin Hankyung mulai kembali mencari-cari dimana keberadaan Baekhyun? Kalau memang iya, seharusnya dia bisa lebih tegas untuk tak membiarkan Baekhyun ada di negara ini.

Hah!

Chanyeol tiba-tiba merasa menyesal atas keputusannya yang justru membuat Baekhyun melanjutkan pendidikannya disini.

"Apa yang sedang ahjussi cari?" tanya Chanyeol. Dia tahu jawaban dari pertanyaannya itu, tapi tetap saja dia ingin menanyakan hal itu, bukan karena penasaran, hanya sebagai bentuk kepeduliaannya terhadap pria yang sudah membesarkannya seperti anaknya sendiri itu.

"Masih sama. Aku masih mencari dimana keberadaan anak Heechul."

Chanyeol mendengus perlahan.

"Bukankah semua orang yang ahjussi sewa sudah menyatakan, Heechul tak pernah melahirkan anak. Kalaupun saat itu ahjussi sempat melihat Heechul menggandeng seorang gadis kecil, bisa jadi itu anak saudaranya atau mungkin anak salah satu orang yang bekerja di Mansionnya."

Hankyung menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri, dia memberi isyarat penyangkalan untuk pernyataan Chanyeol.

"Aku tak percaya hal itu. Yang kuyakini sampai dengan saat ini, gadis kecil itu adalah darah dagingnya dengan laki-laki brengsek itu."

Chanyeol menatap Hankyung yang terlihat sedang berusaha menahan amarahnya. Dia sangat tahu dan mengenal bagaimana Hankyung. Setiap kali menyebut ayah Baekhyun, dia pasti menggunakan istilah laki-laki brengsek.

Dari cerita yang pernah dia dengar, Hankyung dan Heechul dulunya adalah sepasang kekasih, namun satu hari pamannya itu harus menerima kenyataan bahwa perempuan yang sangat dicintainya itu menikah dengan pria lain karena dirinya yang tak terlahir dari keluarga kaya raya.

Cara ayah Heechul merendahkan Hankyung yang membuat pria itu begitu menaruh dendam pada keluarga perempuan yang dicintainya itu.

Dan dendam Hankyung tersimpan untuk waktu yang sangat lama, setelah pernikahan itu, dia bertekad akan membuat keluarga Heechul menyesal telah melakukan hal itu padanya.

Hankyung memulai usahanya, semua bisnis dia coba termasuk bisnis bawah tanah yang berkembang cukup pesat di daratan China dan Korea. Kerajaan bisnis Hankyung beranak pinak dan bahkan dia berhasil membuat ayah Heechul bertekuk lutut di bawah kakinya.

Tapi...

Dendam yang dia simpan itu, tak mampu dikalahkan oleh cintanya pada Heechul. Hingga dia berbuat apapun demi membalaskan dendam itu termasuk dengan cara melakukan perbuatan keji itu.

Malam itu, Hankyung melakukan penyerangan pada Mansion Byun. Tujuannya tentu untuk menghabisi seluruh penghuni mansion itu, tanpa terkecuali. Sayangnya...

"Kau bisa membantuku menyelidiki hal ini Chanyeol-ah?" tanya Hankyung yang membuat lamunan Chanyeol terganggu. Pria tinggi berambut ikal itu menatap pamannya dengan tatapan yang sulit diartikan.

Membantu Hankyung itu sama artinya dia mendorong Baekhyun masuk ke dalam jurang.

Sebenarnya, bisa saja dulu dia mengabaikan Baekhyun, tapi setelah permintaan Heechul malam itu, dia menyelidiki tentang bagaimana si kecil Baekhyun. Dan boleh percaya atau tidak, Chanyeol yang saat itu berusia sekitar dua puluh empat tahun, jatuh dalam pesona sosok kecil itu.

Katakan ini gila, tapi memang seperti itulah kenyataannya.

Seorang Chanyeol yang saat itu dikenal dingin dan tak punya hati, sama seperti pamannya, jatuh dalam pesona seorang gadis kecil berusia sembilan tahun.

"Aku tak punya waktu melakukannya. Perusahaan membutuhkan banyak perhatian ahjussi."

"Kau bisa meminta bantuan pada timmu, yang aku tahu, kau mengumpulkan orang-orang yang benar-benar loyal padamu. Yang tak akan berpaling dari kesetiaannya denganmu, meski aku sering menawarkan pada beberapa dari mereka banyak uang."

"Ahjussi! Katakan yang kau katakan benar, apa alasanmu ingin menghabisinya juga. Karena dendammu pada ibunya? Coba pikirkan, dia tak tahu apa-apa. Dia hanya seorang anak yang kebetulan lahir dari rahim wanita yang ahjussi anggap telah melakukan pengkhianatan terhadap diri ahjussi."

Hankyung berdiri dari duduknya, lalu melangkah ke dekat jendela kaca besar di ruangan itu.

"Aku tak akan puas, sampai keluarga itu habis. Mereka tak boleh menyisakan keturunannya di dunia ini."

Chanyeol menatap punggung Hankyung sendu. Dalam hati dia berujar lirih.

"Seperti kau yang ingin menuntaskan dendammu, aku pun akan melakukan hal yang sama untuk perempuan yang sangat kucintai ahjussi. Mian! Cara kita menyikapi cinta berbeda. Kau yang tak terbiasa dengan kata kalah, sekali waktu harus mengalah ahjussi. Eomma! Demi aku, tolong lindungi dia yang kucintai dengan segenap jiwa ragaku."

.

.

.

Di kantin Exordium university

Baekhyun terlihat tenang menyantap satu kotak susu rasa strawberry dan sepotong roti. Ujian masuk perguruan tinggi ini, sudah selesai sekitar satu jam yang lalu, dan dia belum ingin meninggalkan calon kampus barunya itu.

Rasa kesal yang dia simpan untuk Chanyeol sejak tadi pagi, masih terasa hingga sekarang. Banyak pertanyaan yang muncul di hatinya.

Sebenarnya apa yang coba Chanyeol sembunyikan darinya?

Masalah apa yang tak bisa Chanyeol ceritakan padanya?

Dan semakin dia menyimpan banyak pertanyaan, hatinya semakin merasa penasaran.

Apakah semua ada hubungannya dengan masa lalunya?

Sementara Baekhyun tengah dibuai dengan berbagai macam pertanyaan. Di salah satu sudut kantin itu, ada dua orang pria yang tengah membicarakan Baekhyun.

"Kau berani mengajaknya berkenalan Sehun-ah?" tanya pria yang memiliki kulit sedikit lebih gelap dari pria yang di panggilnya Sehun itu.

"Tentu saja berani. Kau menguji kemampuanku menaklukkan dalam wanita Kim Jongin-ssi." sahut Sehun dengan nada sombong.

"Lakukan saja, aku akan lihat dari sini." Balas Jongin sambil mendorong tubuh Sehun yang lebih besar darinya.

Sehun yang merasa tertantang dengan apa yang dikatakan Jongin. Berdiri dari duduknya lalu mulai melangkah mendekati Baekhyun.

Sesampainya di hadapan Baekhyun, Sehun terlihat menggaruk kepala belakangnya. Dia menolehkan kepalanya pada Jongin yang jaraknya lebih dari dua meter darinya.

Jongin memberi isyarat pada Sehun untuk melanjutkan aksinya.

Sehun kembali menatap Baekhyun. Agak ragu dia mengulurkan tangannya.

"Boleh kenalan?" suara Sehun terdengar tercekat di tenggorokan.

Baekhyun mengalihkan tatapannya pada sosok tinggi dihadapannya yang sedang mengulurkan tangannya dan tersenyum tampan padanya.

"Aku sedang tak ingin berkenalan dengan siapapun. Pergilah!" sahut Baekhyun tegas.

Sehun menarik tangannya, bukan menyerah karena jawaban Baekhyun. Tapi dia justru dibuat penasaran dengan gadis itu. bukannya pergi, Sehun justru duduk di kursi di hadapan Baekhyun.

"Kau cantik, tak seharusnya gadis secantik dirimu bersikap sombong. Aku hanya ingin kenalan, apa itu tak boleh?"

Baekhyun melirik Sehun tak suka. "Bukankah aku sudah mengatakan, aku tak mau. Kau bisa pergi karena kehadiranmu menggangguku."

"Oh Sehun. Itu namaku, semua gadis di kampus ini ingin berkenalan denganku, tapi terkadang aku malas meladeni mereka. Kau seharusnya meras..."

Baekhyun menatap Sehun dengan mata dinginnya, setelah itu dia beralih menatap Joo Hyun dan Jackson yang duduk tak jauh darinya. Gadis cantik itu memberi isyarat pada dua guardnya itu untuk mengusir Sehun dari hadapannya.

Joo Hyun dan Jackson berdiri dari duduknya, lalu menghampiri Sehun. Memiting kedua lengan Sehun.

"Apa yang kalian lakukan?!" pekik Sehun karena terkejut dengan tindakan dua orang berbeda jenis yang tak dikenalnya itu.

"Agashi sudah memintamu pergi darinya, kenapa kau tak mendengarnya?" sahut Jackson kasar.

Baekhyun berdiri dari duduknya. Kembali menatap Sehun dengan tatapan dinginnya, lalu melangkah pergi dari tempat itu.

Joo Hyun melepaskan pitingannya pada lengan Sehun, demikian halnya dengan Jackson. Mereka hendak mengikuti Baekhyun, tapi sebelum itu, Jackson sempat berujar datar di telinga Sehun.

"Jangan mengganggunya lagi kalau kau tak mau berakhir dengan luka lebam di sekujur tubuhmu. Camkan itu!"

Jackson menyusul langkah Joo Hyun dan Baekhyun keluar dari tempat itu.

Satu jam kemudian

"Kalian dimana?" suara Jongdae terdengar dari earphone yang terpasang di telinga Jackson.

"Myeongdong. Sejak keluar dari kampus tadi, Agashi memilih berjalan-jalan, lalu naik bis dan kami sedang di Myeongdong saat ini."

"Baiklah. Aku akan mengirimkan beberapa orang untuk membantu kalian disana."

"Nde."

"Siapa?" tanya Joo Hyun pada Jackson yang baru saja mengakhiri pembicaraannya.

"Tuan Kim. Dia menanyakan keberadaan kita."

Joo Hyun mengangguk mengerti. Matanya waspada mengawasi Baekhyun yang berjalan sekitar dua ratus meter di depannya.

Sementara itu, tak seperti biasanya ketika berjalan-jalan di pusat keramaian yang tentunya banyak orang berjualan, Baekhyun sama sekali tak membelanjakan uangnya. Dia hanya berjalan di tempat ini, mengikuti kata hatinya yang sepertinya menuntunnya untuk datang ke tempat ini.

Matanya juga tak seperti biasanya yang melihat ke kanan dan ke kiri dengan tatapan takjub setiap kali melihat hal baru. Baekhyun lebih banyak memasang tatapan datar, raut wajahnya juga tanpa ekspresi.

Sekali lagi, pertengkarannya tadi pagi dengan Chanyeol, membuat suasana hatinya tak nyaman.

"Baekhyunie jangan lari sayang!"

Baekhyun terpaku di persimpangan, matanya menatap sebuah kedai kecil dihadapannya. Telinganya seperti menangkap suara perempuan yang meneriakkan namanya.

"Baekhyunie!"

Baekhyun kembali tersentak. Kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan. Memperhatikan keadaan sekitar. Tak ada siapapun yang dia kenal, lalu suara siapa itu?

Tak berselang lama. Baekhyun merasakan di kepalanya berputar pada kejadian beberapa tahun silam. Buram tapi dia merasa pernah berada di tempat ini.

"Ah!"

Baekhyun melihat sosok gadis kecil jatuh tersungkur di dekat kakinya. Gadis itu hanya menatap kebingungan.

"Bukankah eomma sudah mengatakan padamu, jangan lari sayang."

Gadis itu melihat seorang perempuan dewasa mendekati gadis itu, suara itu sepertinya sangat dia kenal, tapi...

Baekhyun bahkan berusaha membungkuk demi melihat wajah perempuan itu, tapi tetap saja dia tak bisa melihatnya karena perempuan itu memunggunginya.

"Aku ingin makan sup ayam disana eomma."

"Iya, eomma tahu. Tapi kau harus pelan-pelan jalannya."

"Nanti supnya habis."

"Tidak sayang. Ahjumma tahu kau akan datang, jadi dia pasti menyisakan satu porsi untukmu."

"Jeongmal?"

"Ehm."

Baekhyun mengulurkan tangannya, berusaha menyentuh pundak perempuan itu. Dia berhasil menyentuhnya, tapi saat perempuan itu memalingkan kepalanya pada dirinya, tubuhnya tiba-tiba terasa lemas.

"Agashi!" pekik Joo Hyun saat melihat tubuh Baekhyun limbung ke depan. Beruntung keduanya bergerak cepat untuk menangkap tubuh kecil Baekhyun hingga gadis itu tak sampai jatuh menyentuh tanah.

"Agashi!" panggil Joo Hyun sekali lagi.

"Kalian melihat perempuan dan gadis kecil tadi?" tanya Baekhyun dengan tatapan sayu dan tubuh lemasnya.

Joo Hyun dan Jackson saling menatap keheranan.

"Tidak ada gadis kecil dan perempuan yang anda maksud agashi. Kami hanya melihat anda berdiri terpaku disini." Jelas Joo Hyun.

Baekhyun terlihat kebingungan. Meski sedikit samar, dia bisa memastikan ada gadis kecil jatuh tersungkur di dekat kakinya tadi. Dia juga melihat perempuan yang menolong gadis kecil itu. Tapi...

"Sebaiknya kita pulang agashi!" ajak Jackson.

"Aku melihat gadis kecil itu jatuh disini." Baekhyun menunjuk jalan yang dia pijak.

Joo Hyun dan Jackson kembali saling menatap dalam keheranan.

"Anda terlalu lelah agashi. Mari kita pulang!" Jackson terpaksa membopong tubuh Baekhyun. Mereka meninggalkan tempat itu dengan langkah lebar.

"Siapa mereka? Kenapa perasaan ini muncul? Kenapa aku merasakan rindu yang luar biasa pada perempuan itu?" batin Baekhyun bergumam.

Baekhyun merasakan tubuhnya begitu ringan beberapa detik kemudian. Dia tak lagi bisa mendengar apapun.

Gadis itu jatuh pingsan dalam bopongan Jackson.

.

.

.

Chanyeol melangkah lebar masuk ke dalam Mansion. Hal yang pertama dilakukannya tentulah mencari keberadaan Baekhyun.

Raut wajahnya yang khawatir tak bisa dia sembunyikan dengan baik.

"Mana Baekhyunie?" tanyanya pada Kwon ahjumma. Kaki jenjang Chanyeol sudah berada di anak tangga kedua.

"Dia ada di kamarnya."

Chanyeol sedikit mengerutkan keningnya mendengar jawaban itu. "Kamarnya?" ucap Chanyeol mengulangi jawaban dari asisten rumahtangganya itu.

"Nde. Sejak pulang tadi, dia ada di kamarnya."

Kamarnya? Yang di maksud Kwon ahjumma dengan kamarnya disini adalah kamar Baekhyun sendiri di Mansion ini.

Hal ini jarang sekali terjadi, Baekhyun lebih sering tidur di kamar Chanyeol, sejak dulu, sejak dia pertama kali dibawa pulang ke Mansion ini. Kalau pun selama hampir sebelas tahun dia tak pernah pulang ke Korea, di Mansion yang di Perancis pun dia lebih senang tidur di kamar Chanyeol. Baekhyun sangat suka tidur bergelung dalam dekapan hangat pria tampan itu. Dan kalau Chanyeol tak ada disisinya, tidur di kamar pria itu saja sudah cukup menyenangkan untuknya.

"Panggilkan Joo Hyun dan Jackson!" perintah Chanyeol pada Kwon ahjumma.

Perempuan yang tahun ini berusia lima puluh lima tahun itu kemudian berlalu dari hadapan Chanyeol setelah sebelumnya mengangguk hormat.

Tak berapa lama, Joo Hyun dan Jackson datang dengan raut wajah takut tentunya.

"Bagaimana dia bisa pingsan?" tanya Chanyeol tanpa basa basi.

"Kami tak tahu sebabnya. Kami sedang mengikutinya di jalanan sekitar Myeongdong. Tiba-tiba agashi berhenti di salah satu persimpangan. Sekitar lima menit dia terdiam disana sambil menatap sebuah kedai penjual sup. Lalu... setelah itu tubuhnya terhuyung dan dia pingsan kemudian." Jelas Jackson singkat.

Chanyeol terlihat berpikir mendengar penjelasan itu. Ada apa? Apa yang membuat Baekhyun pingsan?

"Tuan!" panggil Jackson.

"Apa?"

"Sebelum jatuh pingsan, agashi sempat menanyakan pada kami tentang seorang perempuan dan gadis kecil yang di lihatnya."

Chanyeol mengerutkan dahinya.

"Kami tak melihat kedua orang yang disebut agashi. Tak ada perempuan dan anak kecil di sekitar agashi tadi, tapi dia tetap bersikukuh kalau dia melihat seorang gadis kecil tersungkur jatuh di dekat kakinya."

Chanyeol terlihat berpikir keras. Ada yang terdengar aneh disini, gadis kecil dan seorang perempuan?

"Kalian boleh pergi!" perintah Chanyeol. Untuk beberapa saat dia mengabaikan kegundahan hatinya. Dia bisa memikirkan itu nanti, saat ini dia ingin melihat Baekhyun dan memastikan gadis itu baik-baik saja.

Chanyeol melanjutkan langkah kakinya menapak anak tangga. Namun baru sekitar lima langkah, dia menghentikan langkahnya. Keterangan Jackson memaksanya untuk berpikir keras.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Apakah ini ada hubungannya dengan masa lalu Baekhyun?

Kalau benar hal itu terjadi...

"Jongdae-ah!"

"Nde." Sahut Jongdae dari anak tangga paling bawah.

Chanyeol kembali turun demi mendekati Jongdae.

"Ajak Jackson ke tempat dimana Baekhyun berhenti sebelum pingsan tadi. Bawa foto kecil Baekhyun dan tunjukkan pada pemilik kedai. Aku ingin tahu apa jawabannya." Bisik Chanyeol yang hanya bisa di dengar oleh Jongdae.

Jongdae mengangguk lalu pergi dari tempat itu.

Sedangkan Chanyeol melanjutkan langkahnya hingga sampai di depan pintu bercat coklat yang letaknya berseberangan dengan pintu kamarnya.

Tangan kanannya menarik handle pintu itu, tak berapa lama pintu itu terbuka setelah dia mendorongnya.

Mata bulat itu terlihat lega melihat gumpalan selimut diatas ranjang queen size itu.

Chanyeol melangkah masuk ke dalam kamar itu. Dengan perlahan dia naik ke atas ranjang. Seperti biasanya, dia mendekap tubuh kecil itu dengan penuh kasih sayang.

"Maaf untuk kejadian tadi pagi sayang." Lirihnya sambil mengecup kepala gadis yang selalu berhasil membuatnya merasakan kekhawatiran luar biasa itu.

"Eugh. Ahjussi!" Baekhyun melenguh pelan sebelum memutar tubuhnya. Gadis itu, meski dengan matanya yang masih tertutup, seakan mengerti akan kehadiran sosok yang selalu membuatnya hangat. Dengan gerakan pelan, Baekhyun meringkuk dalam dekapan hangat Chanyeol.

Inilah hal kecil yang selalu membuat Chanyeol merasakan kebahagiaan. Dengan sikap dan tindakan kecil dari Baekhyun itu, dia merasa menjadi orang yang paling dibutuhkan oleh gadis itu. Dan kenyataan itu sangat disyukurinya.

"Aku mencintaimu sayang. Saat ini, nanti dan untuk selamanya."

.

.

.

Tbc

Note : Terimakasih untuk cinta dan perhatian kalian terhadap cerita ini.

Maaf kalau masih banyak kesalahan dan penulisan.

Maaf kalau mungkin ada beberapa kalimat yang membuat kalian tak nyaman.

Semoga kalian bisa menikmati chap 2 ini.

Big Love For You Guys 3

.

.

.

^_^ Lord Joongie ^_^