Chap 2

"...nesia? Indonesia?!"

Indonesia membuka matanya. Ia mengerjapkan mata, menoleh ke sumber suara.

Pria paruh baya berpeci bertingkah cemas. Ia menengok ke belakang seakan menunggu seseorang. Indonesia mendesis saat bekas luka di kakinya berdenyut. Sontak, pria tambun itu menoleh ke arahnya.

"Kau tidak apa-apa, Indonesia?" tanyanya panik.

Indonesia menggeleng. "Tidak. Ada apa?"

Pria itu terdiam. Bibir tebalnya melengkung. Hidung besarnya kembang kempis. Matanya melotot ke kanan-kiri. Indonesia hampir mengiranya kesurupan jika pria itu tidak menghentikan kegiatan senam wajah.

"Tadi ...," jeda sebentar, "kau menyebut nama seseorang." Pria itu menatap wajah Indonesia dengan wajah mengerut geram.

Tubuh Indonesia kaku seketika.

"Siapa dia? Dik? Dirk? Atau siapalah itu. Dia bukan orang Belanda, 'kan?" tukas pria itu dengan nada meninggi.

Sejenak, Indonesia melihat emosi meluap dari pria tambun di depannya. Kalut marut membuat pundaknya naik turun, mengambil napas siap melontarkan amarah.

Indonesia sangat mengerti akan kemarahan pria di depannya. Ya, dia sangat mengerti.

"Bukan."

Pria itu mendelik tak percaya. Indonesia tersenyum tipis.

"Dia bukan orang Belanda, Sukarni. Dia adalah orang yang bersamaku saat penyekapan berlangsung," jawab Indonesia kalem.

Sukarni menghela napas. Lega atas kekalutannya.

"Ya, maafkan aku, Indonesia. Bukannya aku tak percaya, hanya saja ..."

"Aku mengerti. Jangan khawatir. Aku pun ingin bebas sepertimu. Jauh dari kompeni atau nippon sialan itu," ujar Indonesia sambil menggenggam telapak tangan Soekarni yang gembul.

Sukarni tersenyum. Terkekeh saat mendengar umpatan kecil Indonesia.

"Ah! Rapatnya sebentar lagi dimulai. Anda mau ikut atau beristirahat?" tawar Sukarni sambil melihat ruam di kaki Indonesia.

"Mm, sepertinya aku beristirahat saja. Titip maafku karena tidak bisa menyambut Sukarno dan Hatta. Juga pada Wikana dan Chaerul karena aku tak bisa mengikuti rapat."

"Tidak masalah. Justru kami yang harusnya minta maaf. Kami baru bisa memerdekakan Anda."

Indonesia menggelengkan kepala. "Tidak. Justru aku yang tidak bisa berbuat lebih untuk pengorbanan kalian. Aku sangat berterima kasih kepada kalian semua."

Pria paruh baya itu menahan napas. Rasa bangga menyeruak ke dalam rongga dada, membuat mata hitam itu berkaca-kaca. Ia menyeka mata sejenak, kemudian terkekeh pelan.

"Baiklah. Aku akan bergegas ke rapat. Kalau butuh apa-apa, panggil namaku saja."

Indonesia mengangguk.

Setelah pria itu keluar, ia pun menatap sekeliling ruangan. Ruangan berpetak kecil itu minim furnitur. Tempat tidur reyot, meja panjang, dan satu tempat duduk. Lampu minyak gantung di langit-langit ruangan. Jendela kecil ada di sebelah kiri tempat tidurnya.

Angin sepoi menerpa wajah paras tampan. Ada gemuruh menggebu di dalam tubuhnya. Mungkin sebab para rakyat yang tak sabar untuk segera merdeka.

Indonesia tersenyum menatap langit biru dari jendelanya.

Semoga rapat Rengasdengklok berjalan lancar. Indonesia tahu pasti bagaimana emosi para golongan muda yang menginginkan kemerdekaan. Hingga berbuat nekat dengan 'menculik' dua tokoh penting.

Ia memang belum pernah berbicara langsung dengan keduanya. Desas-desus, keduanya sangat berwibawa dan tak terjamah. Segan untuk sekadar berbicara, apalagi bernada tinggi. Indonesia menghela napas panjang. Semoga Achmad bisa menenangkan dirinya saat mendengar kabar dua tokoh dibawa pergi tanpa seizinnya.

Indonesia pun berbaring pelan menatap langit-langit.

Bunyi gemeresak membuat matanya mengerjap. Ia gerakkan bantalnya, bunyi semakin nyaring terdengar. Ia pun meraba sela bantal dan kasur. Kertas—amplop terasa di jemarinya.

Penasaran, Indonesia pun menarik amplop misterius itu dari tempat persembunyian.

Amplop putih tak bernama. Tertutup rapi, erat dan tak terlihat isinya jika diterawang. Alis hitam mengerut heran. Siapa yang menaruh amplop itu di bawah bantalnya?

Dibukanya surat itu dengan perlahan—takut merusak isi surat. Ah, sepertinya ia tahu surat apa yang datang kembali padanya.

Surat yang ia terima terus menerus sejak penjajahan Jepang. Surat tak bernama yang ditutup rapi dengan amplop putih sebagai pelingkupnya. Surat yang hanya berinisial di sudut kanan bawah.

Juga surat yang diawali dengan dua kata bahasa Belanda.

Lieve Indië

.

.

Pertama kali ia mendapatkan surat tak bernama itu di tahun 1942, setelah Jepang mengusir Belanda.

Tentu Indonesia tak tahu-menahu mengenai surat misterius. Secara mendadak, surat itu terselip di meja, bawah pintu, kasur, atau di mana pun tempat yang biasa ia lalu. Tentu ia sangat kaget saat melihat surat pertama tergeletak di bawah selipan pintu.

Baru membaca dua patah kata, ia langsung merobek dan membakarnya. Begitu pun surat kedua hingga kedelapan. Ia tak mau tahu apa yang tertulis di sana.

Di surat kesembilan, Indonesia menyerah. Ia membuka, membacanya pelan-pelan. Surat itu bertuliskan bahasa Indonesia yang begitu kaku. Tidak bisa disebut surat jika hanya satu dua kalimat yang tertulis.

Kening Indonesia berkerut bingung.

Dear Hindia,

Kembalilah. Engkau milikku.

DvF

Indonesia merobeknya tanpa pemikiran panjang.

Surat kesepuluh datang kembali sebulan setelahnya. Begitu pun surat kesebelas hingga dua puluh. Isinya tak jauh berbeda. Kata pembuka, isi dan inisial. Tanpa butuh nama, Indonesia sangat tahu siapa gerangan penulisnya.

Siapa lagi kalau bukan si Kompeni berengsek.

DvF. Dirc van Freerk. Nama samaran untuk Kompeni saat keseharian. Sama seperti dirinya yang bernama Satria Wilaga.

Hanya beberapa orang yang mengetahui siapa diri mereka. Sebab mereka tak menua. Akan menjadi keributan jika banyak orang mengetahui sosok manusia kekal.

Tempat tinggal pun berpindah-pindah. Jika lama menetap, maka berita aneh yang tersebar. Namun memang, keberadaan Indonesia dulu sangat minim terdengar. Ia menjadi tahanan penjajah, baik Belanda ataupun Jepang. Bedanya, bersama Jepang ia masih bisa lepas dari kungkungan. Walau tetap dengan pengawasan tinggi di sekitarnya.

Ditatapnya surat yang entah keberapa dengan pandangan sendu.

Ia tentu tak menunggu kehadiran surat itu belakangan ini. Oh, tentu saja dia tidak berbohong. Untuk apa menunggu surat dari penjajah berengsek yang menjajah anak-anakmu? Akan menjadi pengkhianat dirinya kelak, apabila gelisah saat tak mendapat surat.

Omong-omong masalah surat, pemikiran, 'Siapa yang membawa surat itu padanya?,' pasti terlintas. Tiap kali ia menerima, mau tidak mau seribu pemikiran menyapa.

Siapa? Siapa yang bisa menyelipkan berbagai surat ke dalam ruangannya? Atau bahkan hingga ke tempat persembunyiannya kini di Rengasdengklok. Tempat yang dijaga ketat dari arah Jakarta ataupun Bandung. Golongan tua pun sama sekali belum mengetahui bahwasanya dua tokoh dibawa pergi oleh golongan muda. Hanya sebatas yang mengikuti rapat golongan mudalah yang mengetahuinya.

Memikirkan Sukarni, Wikana atau yang lain menyelipkan surat rasanya tidak mungkin. Sukarni begitu membenci Belanda. Dulu ia bahkan berkelahi dengan anak-anak Belanda. Pemikiran membenci Belanda ditanam oleh gurunya, Mohammad Anwar. Wikana ataupun yang lain juga tak mungkin. Untuk apa mereka bergegas meminta kemerdekaan jika sempatnya untuk mengikuti perintah Belanda. Walau memang hanya sekadar menyelipkan surat.

Indonesia menghela napas panjang. Pemikiran berat membuatnya pening.

Ia meraih buku catatan yang selama ini menemani dirinya. Buku catatan tua dengan serat kertas mengembang. Diselipkannya surat itu di halaman acak.

Ia tak akan membacanya sekarang. Kemerdekaan diri dan anak-anak lebih penting dari surat tak berfaedah.

Maka dibaringkan tubuhnya, memejam mata hingga semua menjadi gelap. Sayup-sayup suara samar terdengar. Ingatan lama merasuki pikiran.

Ketika ia termakan alam bawah sadar, maka saat itulah ia menapaki diri kembali sebagai Hindia.

Sang Jajahan Belanda.