[episode dua]
From the very first time i saw you with your blue eyes like a sky, i never know our meet is a thing that have been planned.
[western story]
[cast: taehyung x jungkook x stephan x philips]
.
.
.
Musim semi di negeri ini telah tiba.
Awal tahun baru, bunga-bunga bermekaran mewarnai kota. Sepanjang pandangan hanya warna hijau yang menyelimuti, udara hangat khas musim semi menerpa wajah. Semua orang selalu suka pancaran cahaya matahari musim semi setelah berjuang melawan dingin selama tiga bulan terakhir. Musim baru, semangat baru pula. Penduduk-penduduk Kota Vaduz saling menyapa ketika bertemu di persimpangan jalan. Kafe-kafe kembali ramai pengunjung, begitupula tempat wisata yang di banjiri turis dari berbagai negara.
Aku mengawali hari pertama Musim Semi ku dengan semangat.
"Pastikan untuk mengajak V makan malam di rumah kita hari ini, Jungkook." Ibu berucap saat sarapan.
Aku mengangguk, menyendok sereal ke mulutku.
"Dan katakan padanya untuk mengajak kedua orangtuanya juga." Lanjut Ibu.
"Ayolah, Anna. Tentu saja V akan datang bersama orangtuanya." Ayah mengomentari di sela kesibukannya membaca koran pagi di seberang meja.
Ibu mendengus. "Kau mana tahu perilaku pemuda Yunani, Jacob."
"Akan kusampaikan pada Taehyung." Sela ku cepat sebelum kedua orangtua ku memulai perdebatan.
"Taehyung?" Gerakan menyuap Ibu terhenti. Dia menatapku. "Apa nama asli V itu Taehyung?"
Aku mengangguk.
"Kenapa kau tahu?"
"Err. Karena dia menyuruhku untuk memanggilnya seperti itu?"
Ibu tidak bergeming di tempat. Aku mengerjap bingung. Hei, apa yang salah?
"Jacob. Kau tahu apa maksud dari ini?" Tatapan Ibu beralih ke Ayah.
Ayah mendengus, tapi kemudian ikut menatapku.
"Ada apa?" Dahiku terlipat.
"Dari yang dapat kuartikan dari tatapan Ibumu, dia mengatakan kalau mungkin saja V menaruh hati padamu. Jadi, ada baiknya kalau kau berkencan dengannya."
Aku hampir tersedak. Mataku melotot ke arah Ibu yang memasang cengir tidak bersalahnya.
"Ibu, jangan gila."
"Ayolah, Jungkook. Dia tampan, bukan? Cobalah untuk kencan dengannya." desak Ibu.
Aku menggeleng kuat-kuat. Tidak, itu tidak akan terjadi. Aku baru mengenal Taehyung tidak lebih tiga minggu dan sudah mengetahui gelagat pemuda bermata biru itu. Ku akui, dia memang tampan. Tapi sifatnya jauh dari tipe yang kuidamkan.
"Tapi tetap saja, Ibu lebih memilih dia daripada Stephan." Ibu kembali bersuara santai.
Lagi-lagi aku hampir tersedak. Astaga, sesudah Taehyung, sekarang pun Stephan?
Ayah tertawa. "Hiraukan saja, little. Anna hanya kesal karena setiap hari di cercoki nenekmu untuk memberinya keturunan asli Korea, bukan campuran lagi."
"Taehyung juga bukan keturunan asli Korea, bu." Aku bangkit dari meja, membawa mangkuk ke wastafel.
"Tapi dia gagah dan seksi, jadi itu tidak masalah."
Ayah semakin tertawa keras. Wajahku memerah.
Tiba di sekolah, aku bertemu Stephan di gerbang. Perkataan Ibu terngiang, tapi cepat-cepat aku menepisnya.
Kaki ku berlari kecil ke arah Stephan yang menyadari kehadiranku. "Guten Morgen."
Stephan tersenyum. "Guten Morgen, Jungkook."
Kami berdua melangkah memasuki pekarangan sekolah. Kelas baru akan di mulai dua jam lagi namun sudah banyak murid yang berdatangan. Mungkin sama sepertiku, mereka juga bersemangat menyambut hari pertama bersekolah di musim semi.
"Kau dikirimi pesan oleh Will?"
Aku mengangguk. "Soal rencana liburan itu, bukan?"
Stephan bergumam. Dia menendang asal-asalan batu di jalan. "Sepertinya mereka menerima V sepenuhnya."
"Itu wajar. Taehyung jago beradaptasi."
"Hei, aku baru tahu kau memanggilnya Taehyung?" Stephan menatapku dengan alis tertaut. Badannya sengaja di majukan, mencoba mengintimidasi.
Aku mendorong bahu Stephan menjauh, malas menanggapi.
Tapi Stephan tetap di posisinya. "Sepertinya perjalanan ke Triesenberg membuat kalian akrab?"
"Itu tidak seperti yang kau duga." Aku memutar bola mata jengah. "Lagipula, karena kami sama-sama orang Korea, ada baiknya saling memanggil dengan nama Korea kami."
"Kau tidak pernah se terbuka ini sebelumnya, Jungkook." kukuh Stephan.
Aku mengerang kesal. "Tenang saja, oke? Seterbuka apapun aku dengan Taehyung, kau tetap yang utama." Ucapku kesal.
Stephan menyeringai dan rasanya aku ingin menimpuk wajah itu sekeras yang kubisa. Sifatnya dari kecil yang gemar menggodaku tidak pernah berubah. Dan Stephan selalu saja berhasil, aku tidak akan pernah bisa menahan rasa kesalku.
Begitu tiba di kelas, hiruk pikuk yang ganjil terdengar memekakan telinga.
Di tengah ruangan, tepatnya di atas satu-satunya meja di dalam ruangan–karena meja yang lain telah di geser ke pojok kelas–ada Taehyung dan Pangeran Philips yang sedang adu panco.
"Ayo, V! kau pasti bisa!" Para lelaki berseru-seru menyemangati Taehyung.
Sedangkan kaum wanita berada di belakang Pangeran Philips. Mereka tak mau kalah hebohnya. "Sedikit lagi, Pangeran! Kalahkan V!"
Kejadian yang sebenarnya terjadi, Pangeran Philips di ambang kekalahan. Dia sekuat tenaga mengerahkan tenaganya untuk menumbangkan Taehyung, tapi berkali-kali gagal. Tangan Taehyung kokoh seolah tertempel di atas meja, bahkan tidak bergetar sama sekali. Wajahnya menyebalkan, menyeringai. Berbanding terbalik dengan Pangeran Philips yang telah berkeringat, wajah merah padam.
Aku bergerak mendekati Will. Tidak ada yang menyadari kehadiranku dan Stephan. "Hoi, Will. Situasi macam apa ini?"
"Ah! Jungkook!" Will menoleh. Wajahnya berseri-seri. "Tidak ada alasan khusus. Tadi V sedang berbincang penuh canda dengan Pangeran, lalu entah bagaimana keduanya berakhir di atas meja ini. Mengagumkan, bukan?"
Aku tidak menjawab. Tatapanku fokus ke mereka berdua. Aku ngeri melihat Pangeran Philips yang kesusahan, sementara Taehyung malah dengan cueknya mengupil. Apa-apaan tenaga pemuda Yunani ini.
"Bagaimana, Pangeran? Sudah mengalah?" tanya Taehyung setelah semenit hanya memperhatikan usaha keras Pangeran Philips.
Pangeran Philips menggeleng tegas. "Tidak, belum. Aku pasti akan menang." Suaranya serak dan berat.
Taehyung mengangkat bahu. "Baiklah. Mari lihat sejauh mana kau bisa."
Para wanita di kelasku mengerang kesal melihat tingkah menyebalkan Taehyung. Mereka menuding Taehyung bermain curang, tapi para pria langsung menyemprot mereka dengan pembelaan kepada Taehyung.
"Kau pasti curang, V! sengaja kan ingin melihat Pangeran menderita?!" Elizabeth yang paling tidak terima.
"Hei hei, ladies. Jelas-jelas V tidak bermain curang." seru Jose balas tidak terima.
Cara maju selangkah. "Tapi dia sengaja mempermainkan Pangeran!" matanya melotot hingga mau keluar.
"Ini namanya pertandingan jantan antar lelaki! Kau yang hanya tahu memoleskan bedak di wajah diam saja!" Tangan Sebastian melindungi Taehyung yang hampir di serbu Cara.
"Apa kau bilang?!" Para wanita semakin panas. Tidak ada lagi dukungan untuk sang Pangeran, mereka tersulut emosi pribadi.
Seketika suasana ricuh. Kedua belah pihak saling berseru-seru tidak mau kalah. Kedua objek yang sedari tadi di agungkan justru di lupakan sekarang. Aku dan Stephan hanya memandangi, sesekali menahan badan teman yang bertindak terlalu jauh hendak menarik rambut para wanita.
Saat perang hampir meletus, suara tawa Pangeran Philips tiba-tiba terdengar.
Kami sama-sama menoleh. Tidak disangka, kini Pangeran Philips dan Taehyung telah duduk di kursi, menonton perkelahian ini dengan tangan menopang di dagu.
"Eh? Sejak kapan kalian disitu?" Will bertanya polos.
Pangeran Philips tertawa keras. "Sejak kalian bertengkar. Astaga, tunggu–perutku sakit. Ini lucu sekali."
Taehyung mengibaskan tangan. Wajahnya datar. "Jadi? Kenapa perangnya tidak di lanjut? Aku dan Pangeran baru saja memesan popcorn dan cola."
Spontan teman-teman yang lain menyerang Taehyung. Taehyung mengaduh tidak terima di salahkan. Suasana berubah drastis. Tawa membahana. Aku juga ikut tertawa, di sampingku Stephan hanya mendengus tidak peduli.
Kericuhan baru reda dua puluh menit setelah kami juga selesai memperbaiki kelas. Jam pertama akan di mulai lima menit lagi, jadi kami telah duduk di bangku masing-masing dengan tenang.
Aku menatap Taehyung yang duduk paling depan. Dia masih bercakap dengan teman kelasku yang lain, berbagi tertawa. Ingatanku berkelana ke tahun dimana aku menginjakkan kaki di bangku SD. Tidak ada yang tertawa bersamaku saat itu. Aku terlalu takut untuk bergaul, menutup diri dengan duduk di pojok belakang kelas. Tapi, pemuda Yunani itu bahkan telah berhasil mengambil hati Pangeran Philips. Dia mengagumkan.
"Psst!"
Lamunanku buyar. Kutatap Will yang berdesis di sampingku.
Dahiku terlipat. "Ada apa?"
"Aku lupa memberitahumu dan Stephan. Pulang sekolah nanti kita akan mengadakan rapat untuk membahas soal ekspedisi itu. Kau ada waktu, kan?"
Kulirik Stephan yang menelungkupkan kepala di meja. Dia duduk di belakangku. "Stephan, kau mau ikut?"
Pemuda itu bergumam. Dan aku tahu itu berarti dia setuju.
Wajah Will berbinar. "Bagus! Kalau begitu rapatnya akan berlangsung di Börsencafé Barista."
"Kenapa tidak di sekolah saja?"
"Kebetulan keluarga Bangsawan akan mengadakan pertemuan disana, jadi Pangeran Philips bilang sekalian saja."
Aku berhenti menulis. Tatapanku kembali ke Will. "Pangeran Philips akan ikut?"
Will mengangguk semangat. Senyumnya semakin mengembang. "Kabar bagus, bukan? Tapi setelah melihat dia yang akrab dengan V, kurasa itu bisa dijadikan alasan untuk pergi."
Pandanganku mengarah ke Taehyung yang berada di kananku, lalu bergulir ke arah kiri tempat Pangeran Philips duduk di barisan paling depan, tepat di samping jendela. Dia sedang membaca buku.
Aku termenung. Pangeran Philips dan Taehyung mirip dengan Liechtenstein. Keduanya berbeda, penuh kontras, tapi anehnya begitu gampang menyatu dan menghasilkan perpaduan yang menawan.
-o-o-o-o-
Waktu di sekolah tidak terasa telah usai. Matahari persis berada di atas kepala, bersinar dengan sangat terik. Sekolah kami berakhir pada jam 1 siang. Tidak lama, memang. Sistem pendidikan di Liechtenstein mengutamakan kesejahteraan siswanya, kami di beri fasilitas terlengkap juga mutu pendidikan yang tidak main-main.
Aku sedang membereskan mejaku saat Will dengan semangatnya datang berkunjung. "Jadi? Bagaimana kalau berangkat sekarang?"
Aku melirik Pangeran Philips yang berdiri di depan kelas. Menunggu kami. Dia tersenyum lebar. "Ayo, Crust. Kau pasti sudah lapar."
"Aku juga lapar, Pangeran. Kenapa tidak bertanya padaku?" Elizabeth pura-pura merajuk. Aku hampir saja melemparinya tempat pensil.
Pangeran Philips tertawa. Dia mengibaskan tangan. "Entschuldigung*. Maksudku, kalian semua. Baiklah, akan kutunggu di mobil saja. Ah, Jack, mau ikut denganku turun bersama?"
Taehyung yang bermain ponsel di bangkunya menggeleng. Dia mengedikkan bahu ke arah kami. "Aku bersama mereka saja."
"Baiklah. Sampai jumpa di bawah." Kemudian sosoknya menghilang di pintu kelas.
Elizabeth sudah akan berseru histeris namun aku lebih dulu melotot ke arahnya. "Jangan bilang yang aneh-aneh lagi atau kau akan kubakar." Ucapku mengancam.
Teman-temanku tertawa. "Oh, Jungkook. Wajahmu memerah~" Will semakin jahil menggoda.
Aku mengerang kesal. Rumor ini sama sekali tidak membuatku senang. Ini justru menjengkelkan. Entah mengapa mereka tiba-tiba mengatakan kalau Pangeran Philips menaruh hati padaku lalu akhirnya selalu mengganggu kami. lebih tepatnya, mengangguku. Karena tidak mungkin mereka berani menggoda sang Pangeran.
Kami kemudian turun ke lantai bawah. Kelas ku berada di lantai tiga, lantai khusus untuk kelas tingkat akhir yang akan tamat tahun ini. Will dan yang lain masih gencar menggodaku, tapi aku memilih untuk mengabaikan dan berjalan cepat di depan.
Mobil yang akan mengantar kami ke Börsencafé Barista terparkir di pekarangan sekolah. Itu limousin Kerajaan. Pangeran Philips selalu memberi kami tumpangan bila kami melakukan kegiatan yang sama dengannya. Tapi dia tidak bergabung di dalam mobil itu, mobil khusus Pangeran berbeda lagi.
"Uwah, aku baru pertama kali ini naik limousin." Taehyung berujar takjub saat kami masuk ke dalamnya. Dia memandang terpesona ke setiap sudut mobil.
"Berteman dengan Pangeran memang membawa banyak keuntungan." Will tertawa.
Kami semua duduk saling berhadapan. Disampingku, ada Stephan dan di depanku adalah Taehyung.
Mobil pun berjalan meninggalkan sekolah. Puas memandangi seluruh interior mobil, Taehyung beralih menatapku.
"Jadi, Crust. Dengan segala fasilitas ini, kau masih menganggap Liechtenstein itu negara yang membosankan?"
Aku mengeryit. Taehyung menggunakan bahasa Korea.
Taehyung tertawa kecil. "Ini jelas spektakuler, berteman dengan Pangeran. Seperti di dunia dongeng saja."
"Akan berbeda lagi kalau kau lahir disini." Aku memilih untuk balas berbicara dengannya menggunakan Bahasa Korea. Hei, sungguh. Aku ini pandai berbahasa Korea. Ibu saja yang tidak tahu.
Taehyung semakin tersenyum lebar. "Semua orang merasakan itu, Jungkook. Aku juga bosan dengan Yunani."
"Karena itu keluargamu memilih untuk pindah, kan."
"Kasusnya berbeda. Aku di usir, bukan pindah. Walaupun bosan, aku ini masih mencintai Yunani."
Aku menatap bola mata biru Taehyung. "Kalau kau mencintai negaramu, harusnya kau tetap tinggal disana walaupun keluargamu di berhentikan dari pekerjaannya."
Taehyung hendak menjawab, tapi mobil terlanjur berhenti. Kami telah tiba di tujuan. Baguslah, aku juga tidak ada niat membalas ucapannya lebih lanjut.
Memasuki Börsencafé Barista, kami di sambut dengan ramah oleh para pelayan. Pangeran Philips berjalan di depan kami, tersenyum hangat. Manajer kafe membimbing kami ke lantai atas, sedangkan Pangeran Philips ke ruangan VIP di lantai satu.
"Aku akan kesana setelah pertemuan ini selesai." seru Pangeran Philips dari bawah tangga.
Teman-temanku bahagia. Itu tandanya kami bisa makan sepuasnya. Pangeran Philips berjanji untuk membayarkan seluruh makanan kami. Will menunjuk ke barisan kursi di beranda lantai dua. Rapat di luar ruangan. Itu saran yang bagus. Taehyung yang paling cepat menyetujui. Dia senang karena dapat melihat pemandangan gunung Alpen dari tempat kami. Lantai dua kafe ini ramai pengunjung. Sebagian besar adalah para turis.
Stephan menghempaskan bokong di sampingku.
"Baiklah! Freund und freundin*, fokus lah padaku!"
Kami semua menatap Will yang berdiri di depan meja.
"Karena semuanya sudah lengkap, mari memulai rapat kita."
"Warte*, biarkan aku bertanya satu hal–" Tangan Sebastian teracung sopan. "Apa ada yang telah menunjukmu sebagai ketua panitia perjalanan kali ini, Will?"
Wajah Will berubah masam. Kami semua tertawa melihatnya. Sebastian menyeringai jahil, dia hanya bercanda. Selama ini Will memang selalu dipilih menjadi ketua regu di kelas. Jiwa kepemimpinan telah mendarah daging di darahnya, seperti Pangeran Philips.
"Oke, akan kulanjutkan." Will kembali berbicara serius. "Dengar, jadi, sebelum kita mulai, ada baiknya untuk menjelaskan sedikit kepada anggota baru kita, V. Jadi, setiap liburan di mulai sejak kelas satu, kami rajin mengadakan liburan bersama-sama. Entah itu liburan musim semi ataupun musim panas, setidaknya kami akan meluangkan dua-tiga hari untuk liburan kelas. Tempat liburan pun beragam. Kadang kami hanya pergi mengunjungi museum, belajar beternak, bermain ski, pergi ke kebun binatang, ataupun kalau lagi berminat kami akan pergi mendaki."
"Tahun lalu kita bahkan ke Switzerland." Jose menambahi.
"Woah, itu terdengar seru." Taehyung menyeringai di tempatnya.
Will mengangguk. "Memang seru. Dan kehadiranmu akan membuat ini semakin seru lagi. Jadi, kami berencana untuk mengadakan ekspedisi keliling negeri agar kau dapat melihat negeri kami sebaik mungkin. Rencananya, liburan ini di adakan selama tiga hari saja mengingat kesibukan Pangeran yang tidak bisa di ganggu gugat. Bagaimana? Kalian setuju?"
Ada beberapa yang mengangguk, selebihnya saling pandang. Tiga hari merupakan waktu yang terlalu singkat. Liechtenstein terdiri dari empat belas kota. Setidaknya butuh lima hari agar bisa mendalami tiap kota secara baik.
"Karena itu!" Will buru-buru menengahi. "Aku memutuskan ada beberapa kota yang hanya kita lewati saja. Sedangkan ada juga kota yang dapat kita tinggali untuk menginap. Saranku, empat kota dalam tiga hari itu cukup."
"Lalu? Kota apa saja itu?" tanya Elizabeth.
Will menggeleng. Dia kembali duduk di bangkunya. "Ini lah gunanya rapat. Kita harus membahas kota apa yang akan kita kunjungi."
Elizabeth beralih menatap kami satu per satu. "Ada saran?"
Kami semua saling pandang.
"Triesen akan menjadi destinasi terakhir, bukan?" ucap Stephan setelah lama tidak angkat suara.
Will mengangguk. "Karena kita akan camping di gunung Grauspitz, Triesen jadi kota terakhir."
"Bagaimana kalau memulainya dari utara?"
"Kota Ruggell hingga Triesen? Itu ide yang bagus, Jose." Will menopang dagu. "Bagaimana yang lain?"
Semua kembali berbisik-bisik.
"Aku setuju dengan ide Jose." Aku bersuara.
Semua mata menatapku. Will mengangkat bahu. "Jelaskan, Jungkook."
"Kita bisa memulai dari Kota Ruggell, kemudian ke kota Eschen, menginap disana, lanjut melewati kota-kota yang lain, singgah di Schaan, menuju kota Balzers, menginap di Vaduz, kemudian akhirnya tiba di Triesen." Aku mengedikkan bahu. "Mudah, bukan?"
Lengang sejenak.
Taehyung yang paling pertama bersuara. "Aku tidak tahu letak kota-kota itu dimana, tapi kurasa itu ide yang hebat. Sudah lama aku ingin berkunjung ke Eschen."
Aku tersenyum lebar ke arahnya.
Will akhirnya mengangguk setuju. Yang lain juga menerima, ide ku dianggap sebagai skenario terbaik rute perjalanan kami.
"Usulan lain?" tanya Will mengedarkan pandangan.
Teman-temanku serempak menggeleng.
Will tertawa. "Baiklah. Mari lanjut ke pembahasan selanjutnya tentang kegiatan kita."
Rapat itu berlangsung dengan lancar. Lima belas menit kemudian Pangeran Philips bergabung dengan kami. Dia terima-terima saja dengan segala usulan, wajahnya bersemangat. Pangeran menawarkan berbagai fasilitas di setiap kota yang langsung saja di tolak mentah-mentah. Tujuan kami untuk liburan tidak akan seru apabila di fasilitasi dengan lengkap. Justru lebih seru menjadi seperti backpacker–ucap Peter sok bijak. Pangeran Philips tertawa, menyerah membujuk kami.
Satu jam setelahnya, rapat selesai. Kami makan siang beberapa menit, kemudian akhirnya pulang kerumah masing-masing. Limousin Pangeran Philips dengan baik hati mengantar kami satu-satu hingga di depan pekarangan rumah. Masyarakat Vaduz antusias melihat mobil tersebut saat berhenti di rumah Taehyung. Untung saja rumahku berada di pemukiman yang sepi, sehingga mobil ini tidak mengundang perhatian.
Rumah sepi. Ibu dan Ayah belum pulang dari kerja mereka. Setelah makan dan membersihkan diri, aku segera merebahkan badan di atas kasurku.
Aku mengingat kembali agenda kami. Mengelilingi negara. Terdengar seru, tapi aku tidak yakin akan seseru yang di bayangkan. Beberapa kota di Liechtenstein tidak menyediakan situs wisata yang menarik. Sebagian besar sama saja dengan kota kota di belahan Eropa lain. Taehyung mungkin akan kecewa setelah perjalanan ini selesai.
Tanpa kusadari, kantuk menyerang. Mataku perlahan menutup. Tenggelam ke alam bawah sadar.
-o-o-o-o-
Aku terbangun akibat teriakan marah Ibu.
"Apa kubilang! Kau pasti lupa menyuruh Taehyung untuk datang makan malam disini!"
Aku benar-benar melupakannya. Padahal hampir seharian ini aku bersama Taehyung. Tapi pikiran tentang liburan ini sangat mengusikku hingga aku lupa tentang pesan Ibu tadi pagi.
Tidak ingin dimarahi lebih lanjut, aku cepat-cepat berpakaian dan melesat keluar rumah menuju rumah Taehyung. Pukul 5 sore. Aku masih sempat. Semoga saja keluarga Taehyung bukan tipe yang makan malam pada jam 6 sore.
Jalanan di Ibukota ramai. Para pekerja memenuhi trotoar jalan, baru pulang dari kantor. Mobil-mobil melintasi jalan, tidak membuat macet namun cukup padat. Turis turis yang lewat menyapaku dengan ramah, aku balas menyapa mereka dengan tersenyum. Rumah Taehyung tidak terlalu jauh. Selama tahu jalannya, aku dapat berjalan kaki menuju kesana.
Untung saja, keluarga Taehyung belum makan malam.
"Makan malam dirumahmu?" Taehyung menautkan alis, bersandar di pintu. "Untuk apa?"
"Undangan makan malam. Sesama bangsa Korea, begitulah. Ibuku lupa menyimpan nomor ponsel Ibumu, jadi tidak sempat mengabarinya."
"Lalu kenapa kau baru memberi tahuku sekarang?"
Aku menghela nafas. "Aku lupa."
Taehyung tertawa. Matanya menjadi berbentuk bulan sabit. Untuk pertama kalinya, dia akhirnya terlihat seperti orang Asia. "Baiklah. Akan kutanya Ibu dulu."
Dia kemudian kembali masuk ke dalam rumah. Aku menunggu dengan sabar.
Lima menit setelahnya, Taehyung muncul dengan seorang wanita di sampingnya.
"Dear, maaf karena membuatmu menunggu disini." Ibu Taehyung lah orangnya. Dia memandang panik kearahku. "Ayo masuk dulu, Jungkook. Akan kubuatkan cokelat hangat."
"Tidak perlu repot-repot, Miss." gelengku cepat-cepat.
Ibu Taehyung mengerjap. "Ah, baiklah. Tapi, maksudku, terima kasih banyak telah mengundang kami makan malam. Bisakah kau menunggu lima menit lagi? Aku akan bersiap dengan cepat. Taehyungie bisa pergi seperti ini saja."
Aku mengangguk. Tidak masalah.
Ibu Taehyung tersenyum lebar. Kemudian dia melengang masuk ke rumah. Taehyung masih berdiri menyandar di pintu. Ia hanya memakai celana selutut berwarna krem juga baju kaos putih berlengan pendek. Ada snapback yang tersampir di kepalanya, menutupi surai pirang keemasannya.
Mata biru Taehyung semakin terlihat jelas.
"Bagaimana menurutmu soal liburan kita nanti?" tanyaku basa-basi.
Taehyung melangkah mendekatiku. Dia mengedikkan bahu. "Aku senang – senang saja. Itu akan menjadi perjalanan yang menyenangkan."
Aku menatapnya. "Kau sudah menentukan untuk membawa apa?"
"Belum. Mau membantuku, Crust?" Taehyung menyeringai.
Aku memutar bola mata malas. Gelak tawa Taehyung terdengar. Tidak lama, Ibu Taehyung muncul. Setelah menutup pintu, kami pun melesat ke rumahku.
"Aku penasaran kenapa orang-orang Liechtenstein tidak pernah mengunci rumahnya." Taehyung bertanya selama di perjalanan. Ibunya berjalan di depan, aku dan dia berjajaran di belakang.
"Itu karena tidak ada kasus kejahatan disini."
"Mana mungkin tidak ada. Pasti ada satu dua orang dari kalian yang pernah punya niat jahat."
"Tapi kurasa mereka memilih untuk mengubur dalam-dalam niat jahat itu." Aku menatap Taehyung. "Proses hukum di Liechtenstein setahuku rumit. Penjaranya saja di Switzerland."
Taehyung masih mengeryit tidak paham. "Jadi, negeri ini sama sekali tidak pernah terjadi kasus kejahatan?"
"Pernah. Tahun 1997 dulu, ada kasus pembunuhan." jawabku kalem. Taehyung mendengus.
"Asal kau tahu, Liechtenstein juga tidak punya penjara. Polisi seluruh negeri hanya berjumlah 20-an orang. Parlemen juga membubarkan tentara. Alasannya mungkin karena penduduk tetap Liechtenstein sebagian besar adalah pekerja. Tidak ada pengangguran disini, semua sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Niat jahat tidak akan timbul di lingkungan produktif."
"Aku tetap tidak mengerti." Taehyung menghela nafas. "Kecuali jika Liechtenstein memang benar-benar hanya dihuni oleh orang baik."
"Kudengar, proses untuk di akui sebagai warga negara di Liechtenstein cukup sulit, Jungkook?" Ibu Taehyung menoleh kepada kami. Dia mungkin tertarik dengan pembahasanku dan Taehyung.
Aku mengangguk. "Malah, sangat sulit. Apa kalian tidak mengetahuinya?"
"Aku membacanya sekilas. Seperti kita harus tinggal disini minimal tiga tahun, dan harus disetujui parlemen negara." jawab Taehyung ketus.
Aku tertawa kecil melihat reaksi Taehyung. Dia selalu saja terlihat mempesona jika marah. "Benar. Di kota tertentu, penduduk lokal bahkan di minta melakukan pemungutan suara untuk menentukan apa kau pantas tinggal di negeri ini atau tidak."
Ibu Taehyung membelalakkan mata. "Seserius itu?"
Aku mengangguk lagi.
"Taehyungie, dengar apa yang Jungkook katakan? Mulai sekarang jadi lah anak baik agar disukai seluruh kota."
Kali ini aku benar-benar tertawa.
Saat akan menyebrangi jalan, Taehyung tiba-tiba menyelipkan tangannya di tanganku, menautkan jemari kami.
Aku menoleh ke arahnya. Dia berlagak tidak peduli, langsung menyebrangi jalan. Saat aku hendak melepas tautan setiba di seberang jalan, tangan Taehyung justru menariknya semakin erat.
Apa maksudnya ini?
Aku hendak protes, tapi urung mengingat ada Ibu Taehyung di depan kami. Baiklah. Tidak ada salahnya bergenggaman tangan hingga tiba di rumah. Telapak tangan Taehyung juga hangat. Sehangat mata birunya.
Ibu menyambut antusias di depan pintu rumah.
"Akhirnya kalian tiba juga. Aku sudah cemas jangan-jangan kau dan sekeluarga sudah makan malam, Soojung. Ah, mana suamimu?"
Ibu Taehyung tersenyum ramah. "Sepulang kantor dia akan langsung kesini, Anna. Terima kasih sudah mengundang kami."
"Tidak masalah! Ayo, silahkan masuk! Ah, ini dia sang dewa Ares–"
Perkataan Ibu terputus. Aku baru menyadari saat mengikuti arah pandangnya. Tautan tanganku dengan Taehyung belum terlepas. Cepat-cepat aku melepasnya. Ibu telah salah paham.
Taehyung dengan santainya memasang cengiran lebar. "Selamat malam, bibi."
Wajah Ibu berkali-kali lipat lebih berseri-seri dari sebelumnya, dan itu, jujur saja membuatku ngeri.
"Selamat malam juga, Taehyung! Silahkan masuk! Anggap rumah sendiri!" Ibu menarik tangan Taehyung dengan semangat, melayangkan kedipan ke arahku.
Ingatkan aku untuk menjelaskan Ibu apa yang sebenarnya terjadi nanti.
Rumah kami yang biasanya sepi menjadi sedikit ramai. Ayah Taehyung datang tidak lama setelah kami memulai acara makan malam. Berbagai macam jenis masakan Korea tersaji di atas meja. Aku kagum Ibu masih mengingat semua jenis resep ini. Ayah dan Ayah Taehyung saling bercakap ringan membahas urusan pekerjaan, Ibu dan Ibu Taehyung juga demikian. Sedangkan Taehyung hanya sesekali menanggapi dengan tertawa. Aku mengamati semuanya dalam diam.
"Ah, Jungkook. kudengar dari Taehyung, kalian akan mengajaknya keliling negara?" tanya Ayah Taehyung padaku.
Aku mengangguk.
"Benarkah? Itu pasti seru sekali." Ibu menimpali. Dia menatapku berseri-seri. "Apa ini agenda liburan baru kalian?"
Aku mengangguk lagi. "Pangeran Philips juga ikut."
"Woah, bahkan Pangeran berpartisipasi?" Gerakan memasukkan samgyupsal ke dalam mulut Ibu Taehyung terhenti. Dia menatapku dengan hangat dan sekilas bisa membuatku merasakan kehangatan yang sama saat Taehyung menatapku. "Aku sungguh berterima kasih padamu, Jungkook. Taehyung pasti merasa nyaman karena ada sesama Asia di kelasnya."
Oh, ya. Ibu Taehyung tidak tahu kalau Pangeran Philips memutuskan ikut dengan kita berkat kehadiran Taehyung. Dia berteman dengan caranya sendiri, bukan karena aku.
"Pergaulan di Yunani sejujurnya membuat kami khawatir. Taehyung banyak bergaul dengan anak liar Yunani yang kerjanya hanya hura-hura, melakukan kenakalan remaja. Tapi tidak ada yang perlu kami cemaskan di sini. Taehyung pasti akan berubah menjadi anak baik."
Pandanganku bertemu dengan Taehyung. Dia sedang mengaduk supnya malas-malasan. Telinganya memerah, tapi aku tidak tahu penyebabnya.
Ibu Taehyung tiba-tiba menggenggam lembut lenganku. Aku sedikit terperanjat.
"Jaga Taehyung, ya?" Ucapnya penuh harap.
Aku menelan ludah. Tapi kemudian mengangguk pelan.
"Iya, bibi. Percayakan Taehyung padaku."
-o-o-o-o-
37.000 penduduk Liechtenstein tersebar di empat belas Kota. 5 Kota besar, selebihnya kota kecil yang lebih mirip desa. Kota-kota Liechtenstein saling berdekatan satu sama lain, tidak akan memakan waktu satu jam untuk tiba di destinasi selanjutnya. Kota Ruggell adalah kota paling utara yang berbatasan langsung dengan Austria, sedangkan yang paling Selatan adalah Triesen yang berbatasan dengan Swiss. Ada beberapa kota yang memiliki wilayah dataran pegunungan, sedangkan beberapa yang lain justru berada di hilir Sungai Rhine. Ini adalah negeri dengan berbagai kontras di kiri dan kanannya.
Kami berjanji untuk bertemu di terminal bus tepat pukul 6 pagi. Saat aku tiba disana di antar oleh Ayah, Will dan Elizabeth adalah yang paling pertama datang.
"Guten Morgen, Crust!" sapa Elizabeth bersemangat.
Aku tersenyum, melambaikan tangan. "Guten Morgen. Kalian bersemangat sekali."
"Tentu saja kita harus. Ini adalah liburan terakhir kita sebelum lulus." Ucap Will menimpali.
Ah. Benar juga. Ini adalah liburan terakhir kami sebelum melanjutkan pendidikan di jenjang yang berbeda. Dadaku sekilas berdenyut sakit.
"Come on Will~ kau tidak perlu membahasnya. Merusak suasana saja." jengah Elizabeth.
Will hanya tertawa. Dia kembali berkutat dengan cup cokelat hangatnya. Aku memilih duduk di bench terminal sedangkan Elizabeth pergi membeli roti di toko terdekat.
Suasana canggung menyelimuti. Aku jarang berinteraksi dengan Will. Dia memang sering menggodaku, tapi itu hanya di depan yang lain. Saat kami hanya berdua, aku bingung harus berbicara apa. Kurasa Will juga merasakan hal yang sama.
Kutatap pegunungan Alpen di seberang sana. Kabut menyelimuti puncaknya. Wajar saja, sekarang masih terlalu pagi. Jalanan Vaduz sepi, hanya satu dua orang yang berlari-lari kecil di trotoar untuk olahraga pagi.
"Hai kalian! Guten Morgen!"
Dari kejauhan kudengar suara Jose dan Cara. Mereka melambaikan tangan di seberang jalan, menunggu lampu hijau. Aku tersenyum, balas melambaikan tangan. Masing-masing dari mereka membawa tas backpacker yang penuh.
Will menyahut malas di sampingku. "Mereka seperti akan pergi mendaki Everest."
Aku tertawa.
Teman-temanku yang lain perlahan menyusul datang. Pangeran Philips yang paling terakhir datang di antar langsung oleh Ibunya, Putri Mariah. Dia berpesan untuk menjaga Pangeran sebaik mungkin dan kami mengangguk mantap. Setelah acara perpisahan singkat, kami pun naik ke atas bis.
"Terlambat tiga puluh menit dari jadwal, tapi tidak masalah." Will mengecek jam tangannya. Dia duduk paling depan.
"Ayolah, Will. Jangan kaku begitu." sahut Jose dari deretan kursi paling belakang. "Kalau terlalu terpacu pada peraturan sensasi petualangannya tidak akan terasa."
Teman-teman yang lain tertawa.
Will juga terkekeh. Dia merebahkan badan. "Baiklah, mari kita sesantai mungkin. Lupakan soal peraturan. Lakukan saja yang kau mau."
"Itu baru lelaki jantan." Taehyung meninju bahu Will. Semuanya kembali tertawa. Aku juga tertawa. Stephan di sampingku hanya mendengus.
Perjalanan pun di mulai.
Bis bergerak meninggalkan kota Vaduz, terus menuju utara. Gedung-gedung tinggi perlahan di gantikan dengan rumah-rumah penduduk khas Eropa. Jalanan masih sepi sehingga bis kami bergerak leluasa.
Aku sengaja mengambil tempat duduk di samping jendela. Perjalanan ke Ruggell memakan waktu 1,5 jam. Dan karena aku bukan tipe orang yang gampang tertidur di dalam mobil, maka melihat pemandangan luar adalah satu-satunya pilihan untuk melawan rasa bosan.
Suasana bis ramai. Para lelaki yang duduk tidak jauh di belakangku–Jose, Christ, Peter, Dirk, Sebastian–heboh bermain game online bersama. Aku dapat mendengar teriakan kesal Dirk, umpatan Christ setelah di kalahkan Jose, dan tawa Jose yang keras sekali. Itu membuatku ikut tersenyum tanpa sadar. Di deretan depan bis, para wanita juga sedang asik berbincang. Sepertinya mereka bergosip tentang Susan yang habis dicampakkan kekasihnya–aku tidak bermaksud untuk curi dengar, sungguh. Elizabeth memaksa Susan untuk ikut kencan buta bersamanya. Aku kali ini tertawa. Samar-samar suara berat Taehyung juga dapat kudengar. Dia terlibat obrolan seru dengan Will dan Pangeran Philips di deretan bis paling depan.
"Hoi, Jungkook! Apa Stephan tertidur?" seru Sebastian dari belakang.
Aku melirik Stephan. Pemuda itu tidak tidur. Dia asik dengan ponsel di tangan. Kiri kanan telinganya tersumpal earphone.
Aku melongokkan kepala dari balik kursi bis. "Hanya sedang menikmati dunianya sendiri."
Sebastian tertawa. "Kalau begitu sadarkan dia. Kami butuh bantuan bos Stephan untuk mengalahkan Scheiße* ini."
Menuruti kata Sebastian, aku menggoyangkan bahu Stephan pelan. Pemuda itu menoleh kearahku, melepas satu earphonenya.
"Ada apa?"
"Sebastian mengajakmu bermain game bersama."
Stephan mendengus. Tapi dia tetap bangkit, mengusak surai pirangnya lalu berjalan malas-malasan menuju kerumunan kaum pria deretan paling belakang. Walau tidak terlihat seperti itu, Stephan mencintai dunia game. Para lelaki di kelasku semua memuja keahlian Stephan sehingga dia di juluki "bos".
"Aku harap kalian sedang tidak melawan kumpulan pecundang berlevel 20-an."
"Uwah, calm down, bos~ Jangan memakan kami. Kami akan berusaha keras demi bos, tenang saja~"
Rengekan Sebastian langsung di hadiahi cemoohan dari satu bis. Para gadis berseru jijik mendengar nada sok manja milik Sebastian, tapi sang pelaku hanya terpingkal tidak merasa bersalah. Aku juga tertawa keras. Kudengar, suara tawa Taehyung dan Pangeran Philips juga menggelegar.
Tidak terasa satu jam telah terlewatkan. Para gadis di depanku telah jatuh terlelap, suara-suara berisik game dari arah belakang bis juga sudah tidak terdengar. Aku menopang dagu, menatap pemandangan di luar. Kami melintasi daerah peternakan sapi. Sejauh mata memandang, hanya ada lapangan rumput hijau yang rindang. Warna hijaunya menyilaukan, memantulkan sinar matahari yang bersinar di atasnya. Seperti sebuah emerald. Darahku berdesir melihat pemandangan tersebut. ini indah. Bak mahakarya seni.
Sisa setengah jam perjalanan di habiskan teman-temanku dengan bernyanyi bersama. Jose yang memetik gitar, yang lainnya bernyanyi. Sebastian yang paling semangat bernyanyi, terkadang segera ditimpuk oleh Stephan karena suaranya melenceng dari nada. Aku tertawa, ikut bernyanyi. Taehyung melongok tidak paham akan lagu yang kami nyanyikan. Tapi senyumnya tercetak lebar sekali.
Tepat pukul 10 pagi, kami tiba di Kota Ruggell.
Perjalanan ini secara resmi telah di mulai. Perjalanan yang akan penuh suka, duka, semangat, cerita persahabatan, dan kisah asmara yang akan melengkapi masa remajaku. Dengan perjalanan ini lah, cara pandangku kepada Liechtenstein pun akhirnya berubah.
.
.
.
To Be Continued
*note:
Entschuldigung: maaf
Freund und freundin: teman-teman
Warte: tunggu sebentar
Scheiße: sialan
Hai. this is my first time edit cerita lewat hp, dan ternyata susah cuy:") ah dan yah, saya gajadi buat ini trilogy. ternyata naskah yg jalan2 itu lebih panjang dari yang saya duga hehe. but maybe gabakalan sampe chapter 10, gatau deh:")
bytheway saya baru sadar kalo saya itu introvert banget disini, gapunya temen sama sekali yang aku pernah kontakin langsung, baik itu sesama penulis ffn atau reader-readers saya.
so, add my social media and lets be friends!
twitter: xiruliin
ig: xirulin_
(yg mau nanya2 juga boleh hehe) curious cat: xirulin
hope you like this chapter as well!
Last,
Mind To Review?
sincerely,
XiRuLin.
