Entah kenapa, ini yang duluan di update.
Chapter 2
"The Dark Market"
Ruang Klub Penelitian Ilmu Gaib adalah markas utama Rias beserta peerage-nya. Di dalam sudah berkumpul para anggota Rias yang seluruhnya adalah murid Kuoh Gakuen. Rias yang duduk di mejanya menatap serius kepada seluruh pelayannya. Ini penting untuk Rias, dia harus memikirkan strategi matang untuk bertarung melawan tim Naruto.
"Kalian semua dengarkan! Lawan pertama kita di rating game adalah tim Akuma no Mi yang diketuai oleh Naruto Bael, sepupuku. Ingat ini baik-baik, mereka bukan tim biasa." kata Rias serius.
Seluruh orang menatap Rias dengan serius. Mereka mengangguk membenarkan perkataan King-nya. Kecuali 2 orang yang menatap Rias dengan tatapan bingung. Mereka adalah Issei dan Asia Argeto.
"Ano… Buchou?" panggil Issei.
"Ada apa Issei?"
"Hem… etto… memang seberapa hebat tim sepupu Buchou itu?"
Rias menghela nafas. Wajar kalau Issei tidak tahu apa-apa tentang Naruto. Selain merupakan anggota baru, Issei juga baru pertama kali bertatap muka dengan Naruto. "Hm, bagaimana mengatakannya ya… Naruto Bael telah melakukan rating game sebanyak 6 kali, dan seluruhnya menang. Sampai saat ini dia belum terkalahkan. Kekuatan yang dimilikinya juga sangat menakutkan. Lengah sedikit saja, kau akan kalah." Jelas Rias membuat Issei sulit menelan ludah.
"Ara ara~ yang dikatakan Buchou benar. Naruto-kun itu orangnya berbahaya lho." Timpal Akeno.
Sebagai sahabat Rias dari kecil. Akeno mengenal Naruto cukup dekat karena pernah bertemu dengannya beberapa kali dan sempat mengobrol lama. Akeno tak terlalu tahu bagaimana sifat Naruto sebenarnya. Yang jelas, Akeno mengetahui Naruto sebagai orang yang kuat dan berbahaya. Kenapa berbahaya? Entahlah, dirinya sendiri juga bingung kenapa bisa berfikiran kalau Naruto itu berbahaya. Mungkin karena tatapan Naruto yang tajam dan dingin, juga karena hawanya yang tidak mengenakkan.
"Aku akan berjuang sekuat mungkin Buchou! Aku tak peduli lawanku seperti apa, yang jelas aku akan memenangkan rating game ini!" teriak Issesi semangat.
Semua menatap kaget Issei. Sedetik kemudian seluruh kelompok Penelitian Ilmu Gaib tersenyum. Mereka yang tadinya was-was dan pesimis kini mulai optimis. Semangat mereka seakan-akan terbakar. Pemicunya? Kata-kata semangat yang dilontarkan Issei. Dia memang memiliki aura berbeda. Aura yang dapat membuat orang disekitarnya bersemangat.
Rias berdiri, membuat seluruh pasang mata beralih padanya. "Kita harus optimis menang! Kita akan menjadi tim pertama yang dapat mengalahkan tim Naruto! Kalian semua, berjuanglah dengan keras agar kemenangan dapat diraih!"
"Yosh!"
Semuanya berkata dengan penuh semangat.
Malam menjelang di kota Kuoh. Sekarang sudah pukul 9 malam, namun aktifitas di Kuoh masih terbilang ramai. Terlihat Naruto yang duduk sambil membaca buku di dekat jendela yang sengaja ia buka. Angin berhembus masuk ke dalam, menerpa kulit tan milik Naruto.
Suasana di sini cukup tentram. Tidak ada suara ribut seperti di pusat kota. Jujur saja, Naruto suka suasana yang hening tanpa ada kegaduhan yang dapat membuat telinganya panas. Karena itulah dia memutuskan bertempat tinggal di pinggiran kota yang jarang terkena keramaian. Kecuali hari-hari tertentu seperti hari festival budaya Jepang.
Naruto terlihat berkonsentrasi dengan buku yang dibacanya. Tak pernah dia terlihat memalingkan pandangan dari buku yang dibacanya. Wajahnya datar, namun matanya bergerak cepat.
Naruto berada di ruang pribadinya. Ruangan luas dengan hanya memiliki 1 jendela besar. Ruang ini mirip seperti kamar tidur.
Tok tok tok
Beberapa menit kemudian, terdengar suara seseorang yang mengetuk pintu. Naruto tak memperdulikan itu, dia tetap melanjutkan acara bacanya.
Tok tok tok
Lagi, suara pintu yang diketuk. Namun Naruto masih tak memperdulikannya.
Krieet
Kini, suara seseorang yang membuka pintu. Itu Walburga. Dia lalu masuk ke dalam tanpa menutup pintu. Dan Naruto pun sama sekali tak menarik pandangannya dari buku yang sedang dia baca.
"Dia sudah datang, Tuan Muda." Kata Walburga datar sambil membungkuk hormat.
Mendengar ucapan Queen-nya itu, gerakan mata Naruto terhenti di tengah. Dia menutup buku yang sedang dibacanya lalu menatap Walburga datar.
Sedetik kemudian Naruto menyeringai lebar.
Naruto berdiri lalu berjalan menuju pintu. Saat melewati kasur, dia mengambil mantel kuning yang tergeletak di kasur lalu memakainya di bahu. Membiarkan mantel itu bergerak bebas tertiup angin.
Naruto berjalan santai melewati Walburga. Lalu menuruni tangga. Walburga ikut di belakang Tuannya setelah sebelumnya menutup kembali pintu. Tujuan Naruto saat ini adalah lantai bawah tanah. Naruto sedikit mendekorasi rumahnya dan menambah beberapa lantai di dasar tanah. Total ada 2 lantai yang ada di dasar tanah. Ini semua Naruto lalukan untuk bisnisnya.
Terlihat seluruh anggota sudah berkumpul di depan pintu yang menuju ruang bawah tanah. Naruto tak mempermasalahkan itu dan terus berjalan sampai di depan pintu. Ia lalu membuka pintu dan turun ke bawah menuju ruang bawah tanah. Tempat pertemuan rahasia dengan rekan-rekan bisnisnya. Seluruh anggotanya mengikuti di belakang.
"Maaf membuat kalian menungu lama," kata Naruto yang sudah berhadapan dengan rekan bisnisnya. Dia lalu duduk di sofa empuk yang sudah disediakan khusus untuknya. Para anggota Naruto hanya berdiri di belakang.
"Tak apa-apa. Aku sudah terbiasa dengan sifatmu ini."
Dari suaranya. Bisa dikatakan orang yang bertemu dengan Naruto adalah seorang perempuan. Dia memiliki surai panjang berwarna hitam legam.
"Jadi, apa yang kau inginkan dariku? Jangan-jangan kau akan menyuruhku untuk membantai lagi." Naruto berkata sambil tertawa pelan.
"Sayangnya iya. Kau tahu 'kan aku terlalu sibuk untuk mengurusi anggota yang membangkang,"
"Lalu kenapa kau repot-repot menyuruh kami? Bukannya masih banyak anggotamu yang dapat diperintah sesuka hatimu?"
"Memang benar. Tapi sayangnya para bawahanku terlalu sibuk untuk mengurusi tikus-tikus pembangkang. Jadinya aku menyuruhmu. Seperti dulu."
"Haha… kau berbicara seakan kau atasanku. Ingat ini baik-baik, kita hanya rekan bisnis saja." Naruto berkata datar sambil memincingkan matanya. Mengintimidasi orang yang duduk tepat di depannya. Meskipun dia tahu wanita di depannya tak akan terpengaruh sedikit pun.
"Hn." Hanya itulah balasan atas ucapan Naruto.
"Naruto Bael! Setelah ini aku ingin bertarung denganmu!" Seru suara yang bersumber dari seorang lelaki berambut perak yang berdiri di belakang tamu Naruto.
Naruto menatap pemuda perak itu sambil terkekeh pelan. "Rupanya kau masih belum jera juga ya. Berapa kalipun kau mengajakku bertarung hasilnya sama saja. Kau akan kalah."
Rahang pemuda perak itu mengeras, tanda amarahnya naik. "Kau! Sialan. Jangan remehkan aku!"
"Hahaha, aku tak meremehkanmu. Itulah kenyataannya. Apa kau sudah lupa kekalahan telakmu? Kau yang dengan sombongnya berani menantangku dan mengarahkan pukulan padaku. Lalu apa yang selanjutnya terjadi? Di luar dugaan 'kan? Kau malah terpotong-potong dengan hanya 1 seranganku. Memalukan! Kau tak pantas menyandang gelas Hakuryuukou terkuat sepanjang masa!"
"Apa! Tarik kembali ucapan-"
"Hentikan Vali! Tak ada gunanya mencari ribut di sini!"
Suara feminin datar itu sukses membekam mulut pemuda perak itu yang bernama lengkap Vali Lucifer. Dengan kesal Vali pun mendecih sambil memalingkan wajah ke arah lain.
"Maaf atas suasana yang sedikit memanas ini."
"Ya, tak perlu dipikirkan."
"Kembali ke topik semula. Aku ingin kau membantai seluruh Fraksi Maou Lama yang sudah menentangku. Mereka tidak layak hidup di dunia ini lagi. Sebagai imbalannya…,"
Tanpa ada sedikit gerakan apapun, muncul lingkaran sihir di atas meja dengan tiba-tiba. Lingkaran sihir itu mengeluarkan sejumlah tumpukan uang yang cukup besar. Jika dihitung, mungkin uang yang keluar dari lingkaran sihir itu berjumlah lebih dari 200 juta yen.
"… adalah uang ini."
"Hahaha, entah kenapa aku merasa seperti pembunuh bayaran. Tapi bagaimanapun, aku akan menerimanya."
"Baguslah kalau begitu. Lakukan secepatnya! Oh satu lagi, Fraksi Maou Lama akan melakukan kudeta saat Rating Game berjalan. Anggap saja informasi ini adalah bonus untukmu."
"Begitu ya. Seperti yang diharapkan dari Sang Ketidakbatasan, Ouroborus Dragon… Ophis. Kau memang selalu mengetahui apapun."
"Kalau begitu kami pamit dulu." Kata Ophis sambil berdiri. Sedetik kemudian Ophis dan Vali lenyap, tanpa ada sihir teleportasi sebagai perantara perpindahannya.
Naruto memegang keningnya. Dia menyeringai tipis. 'Keberuntungan selalu berpihak padaku. Nfufu.'
Deg!
Naruto tiba-tiba merasakan sensai yang sudah tak asing lagi baginya. Tidak salah lagi! Sensasi ini yang selalu Naruto tunggu. Seringai di bibirnya melebar. "Kamakuri. Aku ingin kau melakukan sesuatu." Perintah Naruto.
"Apa itu?"
"Sensai ini… tak salah lagi. Ini adalah kebangkitan Akuma no Mi yang lainnya."
"Apa!" Seketika seluruh pelayan Naruto terkejut, sekaligus senang.
"Aku ingin kau membawa buah iblis itu dengan selamat. Letaknya berada di perbatasan antara Underworld dan Grigori. Hati-hatilah!" lanjut Naruto.
Seketika Kamakuri menyeringai lebar. "Dengan senang hati akan kulakukan." Detik berikutnya Kamakuri hilang ditelan lingkaran teleportasi yang dibuat oleh Walburga.
Mereka lalu bubar dan menuju ruang masing-masing. Naruto kembali ke ruang pribadinya. Tapi dia diikuti oleh Raynare di belakang. Entah apa yang Raynare inginkan. Mukanya selalu memerah ketika sedang bersama Tuannya.
"Na-Naruto-sama," panggil Raynare dengan suara imutnya.
Naruto yang hendak membuka pintu terpaksa berhenti dan menatap Raynare yang ada di belakang. "Ada apa? Jangan bilang kau ingin tidur di ruanganku lagi?"
"Eh?! Etto.. ano…" Raynare kesulitan berbicara, dia jadi salah tingkah.
"Lakukan sesukamu," lanjut Naruto lalu membuka pintu dan masuk. Membiarkan Raynare yang membeku di depan pintu.
Setelah sadar, Raynare lalu masuk dan menutup pintunya. Tak lupa menguncinya.
Naruto kembali duduk di bangku yang sebelumnya ia duduki, lalu melanjutkan acara membaca yang sempat terganggu tadi.
Raynare berjalan ke arah Naruto dan memeluknya dari belakang. Naruto hanya acuh saja.
Oke. Ini sudah biasa bagi Naruto. Setiap malam, selalu saja ada yang datang untuk tidur bersama dirinya. Kecuali anggota laki-laki. Bukan untuk macam-macam sih, hanya tidur bersama saja. Tidak lebih. Asal tidak mengganggu Naruto, itu sudah cukup.
"Heeh, kukira Naruto-sama sedang membaca buku mesum. Ternyata hanya buku sejarah kaum Iblis." Komen Raynare yang penasaran dengan buku yang dibaca King-nya.
"Aku tidak sebejad itu," geram Naruto. Urat di keningnya mulai menonjol. "Bagaimana dengan kontrakmu hari ini? apakah lancar?"
"Tentu saja! Aku sudah menyeludupkan seluruh barang illegal sesuai permintaan klien." Kata Raynare senang.
"Baguslah kalau begitu."
Kelompok Evil Piece yang diketuai oleh Naruto adalah kelompok spesialis pasar gelap. Kelompok Naruto hanya memenuhi kontrak yang berkaitan dengan pasar gelap seperti penyeludupan, pembantaian, bisnis kotor, dan masih banyak lagi. Jadi jangan heran kalau manusia yang mengontraknya kebanyakan bos-bos dunia bawah. Contoh sederhananya adalah Yakuza dan Mafia. 2 organisasi itu yang paling banyak meminta kontrak dengan kelompok Naruto.
"Ne Naruto-sama," gumam Raynare.
"Apa?"
"Terimakasih,"
"Untuk?"
"Karena telah menyelamatkanku."
"Tak usah dipikirkan." Balas Naruto.
Raynare semakin menguatkan pelukannya. Dirinya senang karena dibalik sifat Naruto yang dingin ada sifat terpandam, yaitu peduli pada anggotanya.
"Ne Naruto-sama, malam ini anda ingin service?"
Matahari mulai nampak di kota Kuoh. Pertanda pagi akan segera datang. Terlihat Naruto yang sudah duduk di sofa ruang tengah. Di hadapannya kini ada seorang manusia yang telah menjalin kontrak cukup lama dengannya. Manusia itu bergender pria berusia 26 tahun, dengan rambut pendek hitam. Dia terlihat gelisan dan ketakutan.
"Tumben kau datang ke sini, Yukiatsu-kun. Ada apa? Wajahmu terlihat pucat." Kata Naruto.
Rahang Yukiatsu mengeras. Tatapannya menajam. Amarahnya naik sampai batas tertinggi. "Aku ingin balas dendam!" gumamnya.
"Balas dendam? Kepada siapa?"
"Mereka yang bersayap gagak… mereka yang telah membunuh istri dan anakku! AKU TAK TERIMA DENGAN KELAKUAN MEREKA! AKU INGIN BALAS DENDAM!"
Naruto menyeringai tipis. "Lalu apa hubungannya denganku?"
"Aku datang ke sini untuk meminta kekuatan! Kekuatan untuk membalas dendam!"
"Hahaha… kau tahu, kekuatan itu mahal lho. Kekuatan yang kau minta tidak sebanding dengan apapun bahkan nyawamu sendiri. Aku bisa saja memberimu kekuatan… tapi dengan harga yang pas."
"Kumohon! Tolonglah aku! Aku akan melakukan apapun asal dapat membalaskan dendamku!" kata Yukiatsu sambil membungkuk.
"Nfufu, baiklah. Aku akan memberimu kekuatan, tapi dengan 1 syarat. Kau harus menuruti segala perintahku dengan kata lain menjadi budakku seumur hidupmu. Bagaimana?"
"Baiklah aku setuju!" balas Yukiatsu cepat. Yang ada di otaknya saat ini hanyalah balas dendam dan balas dendam.
Naruto mengeluarkan sesuatu di dalam kotak di depannya. Itu adalah buah aneh berbentuk bulat, besar, warna ungu yang terdiri dari banyak komponen seperti titik-titik kecil air mata dengan pola berulir dan daun hijau tumbuh di tangkai. Bentuk dan tampilan keseluruhan nyaris menyerupai nanas atau sekelompok anggur besar. Itu adalah buah iblis yang berhasil Kamakuri dapatkan dan langsung diberikan pada Naruto malam harinya.
"Makanlah ini, dan kau akan mendapatkan kekuatan."
Tanpa pikir panjang apakah buah aneh itu beracun atau tidak, Yukiatsu dengan cepat memakan dan menelan buah itu sampai tak bersisa.
Deg!
Ada sesuatu yang aneh terjadi pada Yukiatsu. Tubuhnya diselimuti aura kegelapan. Badannya yang sedari tadi nampak biasa kini mulai terlihat gejala-gejala aneh seperti rambut yang memanjang dan tumbuhnya janggut hitam.
Aura gelap itu semakin menyebar namun lenyap seketika saat Yukiatsu mulai berdiri. Dia menyeringai sadis.
"Saatnya untuk balas dendam."
Yukiatsu hilang ditelan oleh kegelapan. Menyisakan Naruto seorang diri di dalam ruangan, sambil menyeringai senang. 'Satu lagi pion yang kudapat. Nfufu.'
"Teh sudah datang Naruto-sama. Are? Kemana perginya Yukiatsu itu?" kata Raynare yang datang sambil membawa 2 gelas teh panas.
Masa bodo dengan Yukiatsu, Raynare lalu menghampiri Naruto dan memberinya segelas teh. "Silahkan diminum, Tuan."
"Terimakasih." Naruto mulai menyeruput tehnya dengan khidmat.
"Lain kali, biarkan aku memberikan service ya? Kenapa Naruto-sama selalu saja menolak?"
"Hn. Entahlah."
"Itu adalah jawaban yang sama untuk ke-12 kalinya."
"Begitu ya? Kukira sudah 100."
"Mou~ Naruto-sama tak lucu!"
"Jelas. Aku bukan pelawak."
Dan perbincangan hangat antara King dan anggota terus berlanjut sampai membangunkan yang lainnya. Untuk pertama kalinya Naruto dapat berbicara lepas seperti sekarang ini. membuatnya mengingat masa lalu.
To Be Continued
AN: Sepertinya saya harus fokus dulu pada fic ini. Jadi saya memutuskan untuk menghiatuskan fic multi-chapter yang lainnya. rencananya saya akan menamatkan fic ini dulu.
Jangan lupa review yang banyak ya!
© Indra Kusuma
