Namun semakin kesini, kekuatan Daehyun tidak dapat dikendalikan.
Bahkan Daehyun membuat polisi bingung, kalang-kabut mencari pembunuh yang sebenarnya tidak ada.
Bahkan mereka menyebar pamflet tentang pembunuhan berantai.
Daehyun jadi tertekan dan menarik diri dari dunia luar.
"Sayang? Daehyun? Kau didalam? Temanmu datang" ibu Daehyun memanggil dari depan.
"U..uh? I..iya umma.. aku akan segera turun" Daehyun memakai jaketnya dan turun.
Disana terlihat temannya yang memang berencana mengerjakan tugas kelompok bersama.
"Kau lama sekali, seperti perempuan saja" ejek temannya.
Daehyun hanya tersenyum dan menggaruk tengkuknya.
Kerja kelompok mereka ternyata sampai jam 9 malam, dan mereka bersiap untuk pulang dari rumah Daehyun.
"Ah ini sudah sangat malam, aku mulai mengantuk" kata salah satu temannya.
"Ya pulanglah" kata Daehyun mengantar mereka sampai gerbang.
"Kita harus berhati-hati, takutnya pembunuh gila berwajah jelek akan membunuhmu dan mencincang daging-dagingmu~ huu~"
"Ck, kau ini, sudah ya daehyun-ah! Kami pulang dulu!"
Lalu dua teman Daehyun tersebut pulang dari rumah Daehyun.
"Apa itu? Pembunuh gila berwajah jelek? Mati saja sana!" Kesal Daehyun.
Beberapa detik kemudian ia langsung sadar dan menutup mulutnya.
"Ya ampun.. apa yang kukatakan?" Daehyun langsung berlari mengejar dua temannya.
Ternyata dua temannya masih ada di trotoar, akan menyebrang.
Daehyun menghembuskan nafas lega.
'ya ampun, kupikir mereka sudah mati.. hahh'
Begitu berbalik, ia mendengar suara truk besar dan teriakan dua temannya.
Dan saat Daehyun kembali berbalik, ia melihat temanya tergeletak di aspal.
"A..ah.." kaki Daehyun lemas seketika.
Dan sejak kejadian itu Daehyun benar-benar menjadi anak pendiam.
Tidak ada Daehyun yang cerewet.
Dan Daehyun benar-benar menjaga pikirannya.
Sudah satu tahun terlewat, dan tidak terjadi apapun.
Daehyun menghela nafasnya berat.
"Setahun ini sangat tenang, kurasa aku mulai bisa mengendalikan ini.." monolognya.
"Kenapa Tuhan memberikanku hal seperti ini padaku? Kenapa tidak pada orang lain? Mengapa harus aku?"
Daehyun kembali teringat orang-orang memanggil kekuatan Daehyun 'malaikat kematian'
Mulai muncul spekulasi mistis tentang semua kematian yang terjadi.
Dan karena semua itu, Daehyun semakin tertekan.
"Hyung?" Pintu kamar Daehyun terbuka.
Daehyun masih didalam pikirannya.
"Hyung ayo main, appa membelikan bola baru" adiknya menunjukkan sebuah bola.
"Nanti, Hyung sedang tidak mood sekarang"
"Hyuung~"
Adiknya menggoyangkan tangan Daehyun.
Daehyun yang dari awal sudah kesal menjadi lebih kesal.
"Yak! Sudah kubilang aku tidak bisa! Pergi sana! Enyahlah!" Kesal Daehyun.
Adiknya menunduk mendengar perkataan kakaknya, meninggalkan bolanya dan pergi keluar kamar.
Tak lama kemudian ia mendengar suara keras di tangga dan teriakan ibunya.
Daehyun langsung keluar kamar dan melihat adiknya jatuh dari tangga dan mengalami pendarahan.
Daehyun panik.
"Tidak..tidak.. tidak mungkin.. tidak.. a..aku.. aku.. aku tidak.." Daehyun gemetaran
Daehyun kembali ke kamarnya, dan mengunci pintu.
"Aku tidak melakukannya.. bukan aku.. bukan aku.. bukan.. tapi.. aku yang.. ini salahku.."
"Aku tidak melakukannya.. ini karena kekuatan sial ini! Semua karena ini!!" Daehyun memukul kepalanya dan menjambaki rambutnya sendiri.
Menyalahi semua kematian karenanya.
Bahkan adiknya mati karena dirinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
