"Halo?" Suara itu terdengar dari seberang telepon. Suara dehaman pun terdengar, tepat sebelum sang penelpon bersuara.

"Halo? Yoon Gi-ah? Bagaimana kabarmu?"

"Baik. Kamu? Bagaimana hubunganmu dengan Ah Reum-ssi

Ketika pertanyaan itu terlontarkan, keheningan mulai menghampiri mereka. Lelaki itu tampak tidak tahu bagaimana untuk menjelaskan semuanya. Ia kehabisan kata-kata.

"Aku… aku sudah putus dengan Perempuan itu."


The Little T-Rex, The Angel, and Our Heartbeat

a BTS fanfiction by MalaikatJgTahu

Romance . Drama

Slight!Comedy

Chapter 2:

"Love isn't just about loving. But it needs to accepting too."


"Apa?! Jadi… jadi Anda adalah penulis novel terkenal itu, RM-ssi?"

Setelah Seok Jin menyajikan beberapa buah kue Macaroon untuk Nam Joon, ia bekerja melayani pelanggan lain sembari menemani Nam Joon bercerita. Begitulah cara Seok Jin bekerja. Melayani sembari menemani para pelanggannya berbicara.

Nam Joon tersenyum. Ia senang ketika ada seseorang yang mengenalnya. Gigitan-gigitan kecil di pinggiran Macaroon itu semakin banyak.

"Hmm, begitulah. Saya adalah RM-ssi itu."

"W-woah… kebetulan, saya suka sekali membaca novel Anda," ucap Seok Jin dengan sorot mata penuh antusias. "Sungguh suatu kehormatan untuk bisa bertemu dengan penulis favorit saya, RM-ssi. Oh ya, apakah tidak apa-apa jika saya yang menemani Anda berbincang-bincang? Maksud saya, saya hanyalah anak dari pemilik toko roti—"

"Tak apa. Lagipula, saya bukanlah seseorang yang seperti itu," Nam Joon menghindari tatapan Seok Jin. "Saya penasaran, apa yang membuat Anda menyukai novel-novel saya?"

Mata Seok Jin melebar. Ia sudah lama ingin bertemu dengan Nam Joon dan mengutarakan semua yang ingin ia ucapkan kepada Nam Joon, sebagai penulis novel-novel yang Seok Jin suka.

"Um… sebetulnya saya bingung, ingin memulai dari mana… tetapi, saya merasa bahwa tulisan Anda seperti memiliki ciri khas tersendiri. Salah satunya, setiap chapter dari novel Anda menceritakan berbagai macam kisah cinta dari sudut pandang yang berbeda. Dan, sungguh, saya tidak bisa pilih kasih terhadap semua tokoh-tokoh fiksi yang Anda buat. Satu kata untuk novel-novel dan cerpen- cerpen Anda, 'unik'. Tetapi, itu baru salah satunya."

Nam Joon tercengang mendengar penjelasan Seok Jin. Perasaannya tercampur aduk—senang, kaget… semuanya tercampur. Nam Joon menggaruk kepalanya—yang sama sekali tidak gatal—dengan canggung.

"Haha… terima kasih. Sepertinya Anda suka sekali dengan karya-karya saya, ya."

"Betul! Cerpen-cerpen Anda juga bagus—" Seok Jin hendak menyelesaikan kalimatnya, namun Ibu Seok Jin memanggil nama dari dapur.

"… maaf, saya akan kembali lagi secepatnya." Nam Joon hanya tersenyum sebagai tanggapan.

Ketika Seok Jin kembali, kue Macaroon di piring Nam Joon habis begitu saja. Tersisa remah-remah kecil yang tak terhitung lagi jumlahnya. Seok Jin mengerjapkan matanya berkali-kali, kemudian sebuah lengkungan kecil terpateri di bibirnya.

"Apakah Anda ingin menambah lagi?"

"… sementara ini tidak. Saya hanya ingin duduk-duduk sebentar disini, kebetulan saya sedang stuck."


Dua pria duduk berhadapan, di sebuah kafe terdekat yang telah dijanjikan. Dua cangkir kopi yang isinya berbeda jenis—satu Espresso, satu Americano. Dan dua pasang mata yang tujuan tatapannya berbeda satu sama lain. Namun, suasana santai di antara mereka berdua terlihat jelas.

Pria jenjang itu terkekeh pelan—meski tatapannya masih tertuju ke Espresso-nya yang meluap-luap.

"Dan, seperti yang telah kamu dengar. Perempuan itu memutuskanku."

Perempuan itu. Seminggu telah berlalu, tetapi Nam Joon masih saja tidak mau menyebut nama mantannya. Hanya 'Perempuan itu'.

Yoon Gi. Min Yoon Gi-lah nama lengkapnya. Ia, hanya menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menggeleng pelan. Ini bukanlah untuk pertama kalinya, seorang Nam Joon mencurahkan semua ke-galau-annya kepada Yoon Gi, teman baiknya—yang juga seorang penulis novel romance.

"Apa ada alasan ia memutuskanmu? Apa kamu pernah melakukan kesalahan kepada—"

"Katanya, 'Kamu bukan lagi Nam Joon yang kukenal'." —sebuah kalimat yang dapat membuat Yoon Gi terbungkam milyaran kata, ribuan bahasa.

Sejujurnya, Yoon Gi telah memperkirakan semua ini, kala ia mendengar kabar bahwa kini Nam Joon bertetanggaan dengan tunangannya. Ah Reum pasti akan menemukan 'diri Nam Joon' yang tak pernah wanita itu lihat. Kecerobohannya. Itu dialah penyebab dari semua ini.

"Dia tidak pantas untukmu, Nam Joon-ah."

Sungguh, Nam Joon ingin sekali berteriak gemas. "Justru akulah yang tidak pantas untuknya."

"Apa yang membuatmu berpikir seperti itu?" Yoon Gi menyilangkan tangannya. "Apakah kamu merasa bahwa Ah Reum-ssi begitu sempurna di matamu?"

"Aku mencintainya, Yoon Gi-ah. Tetapi, pernahkah kamu mencintai seseorang, lalu kamu menyadari bahwa kamu tidak pantas untuknya?" Pada akhirnya Nam Joon mengatakannya. Meski kedua matanya panas, meski luka di hatinya semakin terbuka, meski kalimatnya terbata… ia mengungkapkannya.

Yoon Gi termenung. Jika ia pikir-pikir lagi, belum pernah sekalipun ia jatuh cinta, mencintai, dan merasakan cinta yang sebenarnya. Yoon Gi terlalu sibuk mengejar impiannya, ketimbang mengejar para perempuan-perempuan cantik di sekitarnya. Mengapa Yoon Gi tidak pernah menyadari hal ini?

"Disitulah posisiku saat ini. Mencintai, namun aku tidak akan pernah lagi berharap agar ia tetap bersamaku."


Awalnya sang Malaikat hanya terdiam, lalu ia terbahak-bahak.

"Apakah kau itu tinggal di hutan—ah, ya, kamu ini memang tinggal di hutan, ya." Malaikat itu berdeham.

"Maksudku, bagaiamana bisa, kamu tidak mengetahui apa itu 'cinta'?

Kedua mata sangar itu menatap tanah, T-Rex tersebut tak kuasa menahan tangisnya jika ia tetap menatap si Malaikat kecil.

Andai ia hanyalah seekor Lesothosaurus

atau pula hewan yang seringkali ditemukan seperti kijang, kelinci, atau beruang.

Bukan seekor T-Rex. Yang besar. Yang menyeramkan Yang ditakuti oleh seluruh hewan yang tinggal di hutan ini.

I wish I could love myself.


Sebuah troli merah terpenuhi oleh tiga buah boneka maskot singa dan beruang cokelat. Ryan dan Brown-lah nama maskot itu, maskot dari sebuah aplikasi messenger—sekaligus salah satu maskot ChocoTalk dan Curve Messenger yang menjadi maskot kesayangan Nam Joon.

Ini sudah ke-lima belas kalinya, Nam Joon mengelilingi mini market serba ada ini. Es krim ada, minuman—mau dingin, mau hangat—ada, mie instan juga ada, shampoo merek apapun juga ada. Dan terakhir, barang-barang bergambar maskot-maskot ChocoTalk dan Curve Messenger.

Tentu, mini market ini bagaikan surga bagi Nam Joon, tempat dimana Nam Joon bisa menenangkan dirinya. Relaxing himself.

Ketika Nam Joon pergi membayar boneka-bonekanya, suara penjaga kasir itu membuat Nam Joon mendongak, menatap langsung wajah itu dengan kedua matanya.

"Nam Joon-ssi? Tumben-tumbennya kamu ke sini—dan kamu membeli Ryan dan Brown plushies lagi! Kamu ingin menambah koleksimu lagi?"

Ho Seok—Jung Ho Seok—adalah tukang kasir di mini market serba ada ini. Ho Seok telah mengenal Nam Joon sejak awal aplikasi ChocoTalk dan Curve Messenger terbentuk. Salah satu hobi Nam Joon, berburu boneka dan action figure tokoh-tokoh fiksi.

"… hehe, rasanya, tidak bisa jika aku tidak menambah bonekaku lagi." Sepasang lesung pipi hinggap di pipi Nam Joon. Pandangannya terkunci di tiga boneka itu, dengan tatapan penuh cinta.

Termasuk jarang bagi Ho Seok, menemukan seorang pria yang memiliki waktu untuk mempunyai kesukaan terhadap sesuatu. Lagi-lagi—kebanyakan, waktu dan perhatian pria-pria jaman sekarang telah tersita oleh cintanya terhadap lawan jenis. Karena itu, Ho Seok hanya dapat menyunggingkan senyumnya.

Bel mini market itu berbunyi. Lantas, Ho Seok dan Nam Joon menolehkan kepalanya. Mereka mendapati seorang lelaki dengan kemeja putih. Tampaknya, lelaki itu adalah seorang freeters di toko ini.

"Park Ji Min-ssi! Silahkan, silahkan. Oh ya, ini hari pertamamu di sini, ya?" Pertanyaan Ho Seok ditanggapi dengan anggukan dari freeters itu—Ji Min.

"Oh ya, Nam Joon. Sebentar ya…." Ho Seok mengambil sebuah bon dan memberikannya kepada Nam Joon. "Ini, terima kasih telah berbelanja dengan kami. Semoga harimu baik."

"…ya, terima kasih. Semoga hari Anda juga baik."

Seketika, Ho Seok menjadi sibuk. Mengenalkan cara menjadi penjaga kasir yang baik, cara menggunakan mesin kasir, sampai menangani pelanggan yang menyebalkan kepada Ji Min. Nam Joon terkesima melihat Ho Seok dan Ji Min, yang ternyata-oh-ternyata, menjadi seorang penjaga kasir tak semudah ia menatap mereka.

Tentu, banyak orang dengan profesi yang 'siapa saja bisa'. Namun, ketika kamu sudah coba menjalaninya, mungkin kamu tidak akan pernah lagi menganggap remeh suatu pekerjaan itu—salah satu contohnya, menjadi ibu rumah-tangga.

Getaran berulang-ulang dari sebuah ponsel memanggil si pemilik. Ketika Nam Joon merogoh kantongnya dan melihat nama sang penelpon, ia mengerjapkan matanya berkali-kali.

Ibu.

Nama itulah yang muncul di layar ponselnya. Nam Joon membersihkan dahaknya sebelum ia mengangkat telepon dari ibunya. Satu… dua… tiga….

"Halo, Ibu?"

"Nam Joon-ah! Bagaimana kabarmu? Baik-baik saja kan?"

"Aku baik-baik saja, Bu, Ibu tidak usah khawatirkan aku. Ibu sendiri bagaimana? Lalu, Ayah?"

"Untunglah…. Ibu dan Ayah baik-baik saja, Nam Joon-ah." Nam Joon mendesah lega begitu mendengar kabar orangtuanya.

"Anu… hari ini—kebetulan—Ibu sedang mengunjungi teman lama Ibu di Seoul. Ibu berencana untuk mampir ke apartemenmu dan menginap barang satu-dua hari. Tak apa kan, Nam Joon-ah

Lantas, ia seperti sedang tertimpa tangga—tidak, bola dunia yang berukuran sangat besar! Bagaimana Nam Joon bisa menjelaskan hubungannya dengan perempuan itu kepada ibunya? Bagaimana jika ayahnya marah besar dan menyalahkan Nam Joon?

"Halo? Nam Joon-ah

"Ya? Oh ya… tidak apa-apa, Bu. Ibu bisa menginap di sini lebih lama, tidak cuma sehari-dua hari saja. Ngomong-ngomong, Ibu sudah tahu alamat apartemenku?"

"Sudah, sudah. Ibu sudah menanyakan alamatmu ke teman baikmu."

Yoon Gi, Nam Joon berbatin.

"Sekarang Ibu berada di lift menuju apartemenmu. Kamu sedang di apartemenmu 'kan?"


"Hei! Kamu tahu yang namanya cinta itu apa?"

Si Malaikat menyadarkan T-Rex itu dari lamunannya.

T-Rex itu menggeleng, dan sang Malaikat pun menghela nafas.

"Rupanya, kamu cukup pemalu juga ya…,"

"cinta itu abstrak, tak memiliki wujud. Kamu tahu arti 'tak memiliki wujud?"

"Aku sudah tahu tentang itu semua. Tentang cinta yang 'tak memiliki wujud,'tak kasatmata'…."

"Bingo! Karena itulah, banyak orang menanyakan arti cinta—sama halnya sepertimu yang bertanya kepadaku, bukan?"

Seulas senyum mulai menghiasi wajah mungil si Malaikat.

"Kamu tahu? Padahal, sebetulnya cinta itu tidak serumit itu."

Malaikat itu menggeleng pelan, lalu menatap mata dinosaurus itu dengan penuh percaya diri.

"Mencintai dan menerima."


To Be Continue.