Chapter 2 Our Past

Rumah Sakit -

Luhan side

Luhan tersadar dari pingsannya. Lagi-lagi dia terbaring di bangsal rumah sakit. Ia perlahan duduk sambil memijit pelipisnya yang terasa pening. Lalu dipandangnya sekeliling ruangan itu, dia masih di kamar yang sama dengan yang sebelumnya.

'Ah, berapa lama aku tertidur?' batinnya.

Kemudian matanya terbelalak,

"Tasku! Dimana tasku? Gawat!" ia seketika turun dari tempat tidurnya dengan sedikit limbung.

Dicarinya tas miliknya di semua sudut kamar, namun tetap nihil, dia tak mendapati tasnya dimanapun. Seketika dia lemas.

"Appa, aku kehilangan sesuatu itu..appa, maafkan aku. Aku tak bisa menjaganya dengan benar."

Terdengar suara langkah kaki mendekati kamar Luhan, ia bergegas naik kembali ke tempat tidurnya dan berpura-pura tidur.

Seseorang memasukki kamarnya, kemudian, suara sebuah bangku di letakkan di sisi ranjangnya dan seseorang duduk di bangku itu. Luhan tahu ini, tapi masih pura-pura tertidur. Pikiran Luhan mengatakan bahwa saat ini yang duduk disamping ranjangnya pastilah gadis yang sempat datang menemuinya tadi sebelum ia pingsan. Ia sangat hafal aroma ini, namun masih tidak yakin.

Karena entah kenapa Luhan menyukai bau harum yang menguar dari tubuh gadis itu. Walaupun ia tahu, tadi hanya bertatap muka tak lebih dari 10 menit, ia benar-benar terpikat dengan aroma itu. Dan kini pikirannya melayang kemana-mana. Perlahan ia membuka matanya, melihat apa yang sedang dilakukan gadis disampingnya ini. Luhan menatap sebentar ke wajah gadis itu, 'cantik dan manis,' pikir Luhan.

Kemudian matanya tertuju pada apa yang sedang dipegang oleh gadis itu. Saat gadis itu mendongakkan kepalanya, Luhan memejamkan matanya lagi. Dirasakannya gadis itu mendekat kearahnya, Luhan tahu itu lewat aroma gadis yang makin menguar. Menganggu sistem otaknya bekerja, sekaligus membuat jantungnya berdebar kencang tanpa alasan. Ia pun tak tahan lalu membuka matanya, melihat gadis itu akan pergi, ia segera meraih tangan gadis itu dan menariknya. Ingin sekali ia menatap gadis itu dari dekat.

Dan pertama kali dalam hidupnya ia merasakan hal ini lagi. Luhan menatap tajam ke mata gadis itu, yang saat ini tengah membelalakkan matanya terkejut. Ia serasa mengenal mata itu. Merasa pernah melihat tatapan itu, tapi dimana.

Seketika Luhan terpaku akan gadis itu. Ia ingat, kenangan itu terlintas dengan jelas di otaknya. Kenangan menyakitkan yang tak kan pernah ia lupakan sebelumnya.

Flashback on*

Beijing 2001

Sebuah rumah yang terlihat mewah dan megah, berdiri kokoh dengan angkuh ditengah pusat keramaian kota.

Sekilas, tak ada yang menyadari keanehan pada rumah itu dari luar.

Tapi jika kalian mau berhenti sejenak, maka akan terlihat keanehan yang terjadi dirumah itu.

Selama ini, belum pernah ada orang yang berani lewat atau hanya sekedar berhenti untuk mengamati bagian luar rumah saja. Entah kenapa, pemilik rumah ini, siapa pun dia, membuat sebagian orang di situ memilih untuk menghindari rumah/jalan di blok itu. Mereka menganggap rumah mewah itu terlalu menyimpan banyak rahasia dan misteri. Dan kebanyakan orang-orang tak mau dengan bodohnya berurusan dengan salah satu penghuni rumah itu. Malah mereka tak keberatan memutar jalan.

Dan siapakah sebenarnya pemilik rumah ini? Kenapa orang-orang merasakan ketakutan yang berlebihan pada sebuah rumah? Padahal mereka hanya sekedar lewat saja?

Pemilik rumah itu tak lain tak bukan adalah pemilik Lu Corp. Perusahaan paling besar di seluruh Asia. Ah, bukan, mungkin malah hampir separuh dunia di bawah kepemimpinan Lu Corp.

Namun tak banyak yang tahu dengan apa yang ada didalam Lu Corp. Mereka memang memproduksi banyak hal dan semua orang hampir tak ada yang tak mengetahui produk buatan Lu Corp.

Sebuah kesuksesan yang gemilang, memang selalu terlihat menakjubkan dari luar, namun disana yang ada hanyalah sebuah pondasi yang retak dan berlubang.

Pemilik Lu Corp mempunyai seorang putra yang sangat menggemaskan dan tampan. Ia baru berusia 11 tahun, namanya Lu Han. Tapi jangan salah, dia memiliki kejeniusan yang tak bisa dibayangkan oleh siapapun untuk anak seusia itu.

Walaupun begitu, ia tidak pernah mau berurusan dengan segala tetek bengek tentang perusahaan. Ia lebih suka menikmati masa mudanya yang bahagia seperti anak remaja lainnya.

Hingga hari ini, terjadilah suatu peristiwa besar.

Beberapa orang mendatangi rumah keluarga Lu. Mereka semua nampak seram, bertubuh besar dan membawa senjata tersembunyi di balik pakaian mereka. Setidaknya itulah yang dilihat oleh Lu Han.

* Lu Han Side

Dia berdiri bingung memperhatikan kedatangan sekelompok orang yang tak dikenalnya lewat balkon lantai atas. Ia merasa aneh dengan pakaian yang mereka kenakan. Berbeda dengan para tamu yang sedang datang di rumah ayahnya ini.

Seingatnya, hari ini adalah perayaan kesuksesan peluncuran produk baru perusahaan ayahnya. Namun kali ini ada yang tidak biasa menurut pemikiran Lu Han.

Biasanya ayahnya akan mengundang seluruh rekan kerja beserta seluruh keluarga rekan kerjanya. Tapi kali ini hanya beberapa orang saja yang datang. Mungkin tak lebih dari 10 orang saja.

Dan yang lebih mengherankan lagi adalah para penjaga di luar rumahnya yang bertambah banyak.

Dia terus merasa aneh, bahkan anak kecil yang hanya tahu bermain dan belajar saja pasti akan menyadarinya. Ia juga melihat teman dekat ayahnya hadir di acara itu. Padahal setahu dia, jarang sekali ia melihat ayahnya mengunjungi temannya itu. Hanya pernah kemari dua kali saja, itu pun dia masih kecil. Setelahnya tak pernah lagi terlihat.

Ayahnya juga selalu merahasiakan sesuatu tentang teman ayahnya yang satu itu. Namun ia tak pernah berani menanyakan hal itu pada ayahnya. Karena sebetulnya tanpa sepengetahuan ayahnya, ia selalu mengawasi ayahnya berdiskusi dengan temannya itu di tempat rahasia yang tersembunyi di salah satu bagian didalam rumahnya.

Beberapa orang bersenjata yag datang kerumahnya kali ini, benar-benar tak diduga oleh ayahnya. Membuatnya ia ikut penasaran, hal apa kira-kira yang ingin dilakukan oleh mereka disini?

Lu Han kemudian turun dari lantai atas rumahnya dengan diam-diam, lalu bersembunyi di balik guci besar di sudut ruang pertemuan itu. Namun ia sedari tadi merasa tak nyaman, seperti ada yang mengawasi dirinya.

Mengikuti nalurinya, sekilas ia menoleh ke arah pintu sebuah kamar di dekatnya. Ia melihat sepasang mata kucing mengintip di balik pintu itu, memandangnya dengan tatapan penuh ketakutan, yang kemudian tertutup oleh punggung seorang anak laki-laki lain dan segera pintu itu tertutup.

Lu Han sangat heran, sejak kapan mereka ada di kamar itu? Dan dari mana mereka datang? Kenapa mereka bisa ada dirumahnya? Untuk apa mereka ada disini? Berbagai pertanyaan muncul di pikirannya, mengalihkan perhatiannya dari sekelompok orang yang tengah berdiskusi.

Braaaak!!!!

Lu Han terlonjak mendengar suara gebrakan meja. Hampir saja ia terjungkal dari posisinya saking kagetnya, yang untungnya nasib baik masih berpihak padanya.

Kembali ia mengintip apa yang dilakukan orang-orang itu. Terlihat mereka semua nampak marah dan yang lain nampak meremehkan. Tiba-tiba seseorang menepuk pundak Lu Han, membuat ia kembali terlonjak. Rupanya anak laki-laki yang sempat ia lihat di kamar tadi. Anak itu terlihat lebih tinggi dan mungkin beberapa tahun lebih tua darinya. Anak laki-laki itu meletakkan telunjuknya dibibirnya, menyuruh Lu Han untuk diam, lalu mengajaknya ikut masuk kedalam kamar itu. Lu Han bingung, namun tetap mengikuti anak laki-laki itu.

Setelah masuk ke dalam kamar itu, ia mendapati 2 orang anak remaja seusia dirinya berada di kamar itu. Satu laki-laki dan satu perempuan.

Mereka berempat bersembunyi bersama dalam diam. Diantara mereka tak ada yang berani membuka suara sedikitpun. Tapi Lu Han dapat melihat bahwa anak perempuan itu duduk di tempat tidur dengan keadaan terguncang. Ia semakin penasaran, apa sebenarnya yang terjadi disini?

Dia satu-satunya yang tidak tahu dengan apa yang sedang terjadi disini dan itu membuatnya sedikit merasa buruk di hatinya. Apalagi saat melihat mata gadis di sana itu nampak menyimpan suatu rasa takut dan sakit secara bersamaan. Dan seketika entah kenapa malah ia pun juga merasakan hal yang sama. Apa ini?

Mata gadis itu, saat pertama kalinya Lu Han melihatnya, seketika menarik perhatian pikiran dan hatinya. Tapi ia tak tahu apa yang dirasakannya, ia hanya anak remaja berusia 11 tahun dan sekarang sedang mengalami situasi yang menurut dirinya diluar nalarnya.

Tanpa peringatan suara tembakan bertubi-tubi terdengar dari luar. Mereka semua langsung terkejut bercampur panik, ingin sekali Lu Han berlari keluar sana untuk melihat keadaan ayahnya. Namun ia ditahan oleh anak laki-laki yang tadi mengajaknya masuk itu. Mendekap tubuhnya serta menutup mulutnya, mencegahnya berteriak.

Lu Han sekuat tenaga mencoba melepaskan diri, namun tentu saja ia tak berhasil dan baru berhenti memberontak setelah melihat satu-satunya anak perempuan disana berlari ke bawah meja kerja yang berada disana. Bersembunyi dengan menutup telinganya dan bergetar hebat. Lu Han melihatnya, anak perempuan itu menangis tanpa suara dan terguncang. Dan Lu Han akhirnya berhenti memberontak, lalu terduduk lemas.

Memandang sekelilingnya dan yang dilihatnya, hanyalah teman-temannya yang menangis penuh kepedihan. Teman? Ia baru ingat selama ini ia tak pernah punya teman, satupun, bahkan di tempatnya bersekolah.

Ia melirik ke anak laki-laki kedua, yang kini tengah duduk membelakanginya sambil terisak mencengkram sisi tempat tidur yang didudukinya.

Didengarnya lagi suara berkelontangan dan tembakan kembali terjadi. Ia pun dilanda rasa takut sekarang. Ia mendongakkan kepala saat didengarnya anak laki-laki yang paling tua berbisik.

"Kalian semua, aku mohon dengarkan perkataanku. Kita tak bisa bersembunyi terus menerus disini. Mereka pasti akan segera menemukan kita. Jadi, aku akan pergi dengan adikku terlebih dahulu melalui jendela itu, lalu kalian menyusul. Ingat lakukan dengan hati-hati, jangan sampai mereka menyadari keberadaan kita," kata anak laki-laki tertua, sambil memasukkan sebuah buku kedalam tas. Membujuk anak perempuan yang rupanya adik dari anak laki-laki tertua itu, supaya mau melarikan diri dari sana. Lu Han masih terus mengawasi.

"Kau, yang disana? Apa kau tidak ingin pergi?" tanya Lu Han pada anak laki-laki yang masih terdiam menunduk sedari tadi tempat duduknya.

"Ayo, kita juga harus pergi dari sini," ajak Lu Han. Anak itu tetap diam tak menjawab.

"Aku tak mau," jawab anak itu.

"Tapi kenapa..."

"Sudah aku bilang aku tak mau, kalian pergilah sendiri, aku..aku mau tetap disini," ucap anak itu mantap namun masih terdengar getar dalam suaranya.

Lu Han tak peduli lagi, ia pun memanjat jendela kamarnya dan segera kabur dari sana. Baru saja berlari beberapa langkah, ia mendengar suara tembakan dari arah kamar itu. Lu Han kaget, ia bingung antara ingin kembali dan ingin melarikan diri.

Tak disangka seseorang dari rombongan yang bersenjata itu melihat dirinya. Terpaksa ia secepat kilat kabur dari tempat itu sejauh mungkin. Namun orang-orang bersenjata itu seperti tak kehabisan tenaga, terus saja mengejar dirinya tanpa henti.

'Apa yang harus dilakukannya?' batinnya.

Ia melihat dari kejauhan, sepasang kakak adik yang tadi bersamanya berlari ke arah jalan raya, segera ia menyusul mereka. Tapi sial ia tak memperhatikan jalannya, membuatnya tersandung dan terkilir. Saat ia terjatuh, ia ternyata tersandung sebuah buku tergeletak dijalan tak jauh dari sana. Dengan sisa kekuatannya ia memungut buku itu, dan berusaha mencari tempat bersembunyi di sekitar tempat itu. Beruntung ada sebuah rumah yang terlihat tak terurus. Segera ia masuk kesana, kelelahan, sakit dan berharap orang-orang itu tak menemukannya. Tapi perkiraannya meleset, mereka sudah memasukki rumah itu sekarang, dan tengah mencari dirinya. Dimasukkannya buku itu kedalam pakaiannya, ia selipkan ke dalam kausnya.

Jantungnya makin berdegup kencang saat didengarnya beberapa orang itu berada di dekatnya. Lalu suara telepon berdering milik salah satu dari mereka. Entah apa yang mereka bicarakan, mereka langsung pergi dari tempat itu. Lu Han bernafas lega, ia menunggu beberapa saat sebelum akhirnya keluar dengan tertatih. Merasa tak nyaman dengan keadaan kakinya sendiri, ia mencari potongan kayu untuk ia bebatkan di kakinya. Ia gunakan kemejanya untuk mengikat kayunya. Setelah yakin ia merasa baikan, ia berjalan pelan, sedikit mengernyit, pulang ke rumahnya. Ia yakin orang-orang bersenjata itu sudah pergi dari sana.

Namun sesampainya disana, ia kaget dengan pemandangan yang ada didepan matanya ini. Mayat bergelimpangan, darah tercecer dimana-dimana. Ia seketika lupa dengan rasa sakitnya, berlari mengecek ke semua sudut rumahnya, berharap apa yang di bayangkannya tadi tak menjadi kenyataan. Dengan pikiran kalut, ia menuju ruang pertemuan ayahnya tadi.

Dan benar saja, ia melihat ayahnya tergeletak tak bernyawa bersimbah darah. Ia lemas seketika, dia mendekat ke jasad ayahnya, berlutut di sampingnya, suaranya bergetar saat menyebut nama ayahnya. Ia bukan tak mengerti dengan apa yang selama ini terjadi dan dirasakan oleh ayahnya. Ia hanya berpura-pura tak tahu, karena ia tak mau ayahnya bertambah khawatir pada dirinya.

Saat ia tenggelam dalam kesedihannya, tiba-tiba di dengarnya suara langkah kaki seseorang. Ia lalu terdiam dan waspada, perlahan ia tolehkan kepalanya. Ia terkejut dengan seseorang yang ada dihadapannya sekarang ini. Matanya membelalak, kemudian menghela nafas. Merasa lega karena ternyata orang itu salah satu anak laki-laki yang bersembunyi bersamanya dikamar tadi.

Namun belum sempat ia mendekati teman barunya tadi itu, sebuah pistol ditodongkan ke arahnya. Ia pun bingung dan reflek mundur kebelakang. Lu Han ingin berkata sesuatu namun sebuah peluru telah ditembakkan ke arahnya. Ia terkejut, dan tak habis pikir kenapa temannya menembak dirinya.

Sesaat sebelum jatuh tak sadarkan diri, ia melihat sekilas seseorang berdiri dibelakang temannya itu. Ia melihat dengan jelas siapa orang itu. Ia menatap orang itu penuh amarah. Lu Han bersumpah jika ia diberi kesempatan untuk hidup sekali lagi, seumur hidupnya akan mencari orang itu, dan 'teman' barunya yang dikenalnya beberapa jam yang lalu. Meskipun ia sendiri tak tahu siapa nama anak laki-laki itu, ia akan mencarinya untuk membalas dendam atas apa yang sudah dia lakukan padanya dan keluarganya.

Kemudian semua menggelap, Lu Han jatuh tak sadarkan diri.

* Flashback Off

"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Lu Han.

"A..ak..aku hanya sedang..."

"Ssssst...diam," kata Lu tiba-tiba.

Minseok bingung, namun tetap diam. Mata Lu terpejam, mencoba mendengar sesuatu yang sedang terjadi di luar sana. Sementara Minseok malah sibuk memperhatikan wajah Lu Han, dan kali ini dari jarak yang lebih dekat. Jantung Minseok makin berdegup kencang tatkala Lu membuka matanya dan menatap dirinya dengan tatapan tajam, namun sulit diartikan. Dia tak tahu apa yang ada dipikiran Lu Han. Minseok kini merasa tak nyaman, karena saat ini posisi mereka berdua terlihat sangat, janggal. Jika sampai terlihat oleh orang lain, pasti mereka akan langsung salah paham.

Mereka masih terus saling bertatapan, hingga akhirnya Minseok juga menyadari ada sesuatu yang terjadi di luar sana.

Lu Han segera bangkit dari tidurnya, melepas genggaman tangannya pada Minseok, membuat Minseok sedikit oleng karena dorongan Lu Han.

Segera di pungutnya buku yang sempat terjatuh tadi. Lalu ia masukkan ke dalam tas pemuda itu, sambil memperhatikan apa yang sedang dilakukan oleh pemuda itu.

* Minseok side

Ia berjalan mendekati Lu Han, sangat penasaran dengan apa yang sedang dilakukan oleh Lu Han yang rupanya sedang mengunci pintu kamar ini. Hah..kunci! Dari mana Lu Han bisa mempunyai kunci itu? Semua pertanyaan muncul di kepala Minseok tanpa henti. Baru saja ia ingin mengucapkan sesuatu, terdengar suara tembakan dari lorong rumah sakit itu, dan orang-orang menjerit. Minseok terkejut, ia sedang tidak siap saat ini. Ia tahu ia baru saja lulus dari sekolah kepolisian. Tapi ini benar-benar berbeda dengan yang pernah ia lakukan saat latihan dahulu. Sangat berbeda, ia sendiri saja sampai saat ini masih bertanya-tanya kenapa ia bisa lulus ujian dulu.

Selagi Minseok sibuk dengan kekalutannya, tiba-tiba Lu Han menarik tangannya untuk bersembunyi di dalam kamar mandi yang ada disana. Pintu kamar Lu Han di dobrak dari luar.

Minseok sudah tak bisa berpikir lagi. Ia merosot kebawah lantai kamar mandi, tangannya mulai gemetar dan wajahnya berubah pucat. Minseok menutup telinganya sendiri, ia masih merasa trauma dengan suara tembakan. Ia tidak siap.

"Oppa, kau dimana? Aku membutuhkanmu sekarang," katanya lirih.

* Lu Han side

Ia memandang Minseok yang kini tengah berjongkok menutupi telinganya sambil memejamkan matanya. Persis seperti saat yang ia lihat terakhir kali dulu. Hatinya meluluh dengan sendirinya. Ia ikut berjongkok di hadapan Minseok seraya menggenggam tangan Minseok. Yang kemudian disambut dengan tatapan heran oleh Minseok. Lu Han menganggukkan kepalanya sambil menarik Minseok berdiri.

"Mian, tapi aku harus.." Lu Han menggantungkan perkataannya seraya membuka pintu kamar mandi itu.

Mereka berdua keluar dari tempat persembunyian itu. Lu Han menembakki satu persatu orang-orang bersenjata yang telah masuk ke kamarnya, sedangkan tangan satunya menggandeng Minseok. Minseok yang masih syok dengan apa yang dilihatnya saat ini, berusaha keras mencoba menghilangkan rasa takut dan traumanya sekali lagi. Ia sadar tak bisa selamanya menjadi kalah karena trauma masa lalu.

Minseok tidak bersama kakakknya saat ini, ia hanya melihat Lu Han sedang melindunginya saat ini. Keberaniannya mendadak muncul entah dari mana. Minseok melepaskan diri dari genggaman tangan Lu Han.

Lu Han menoleh heran, sesaat perhatiannya teralih, membuatnya tak fokus. Dan melihat Minseok mengacungkan senjata tepat ke arahnya. Atau mungkin itu yang ada dipikiran Lu Han. Namun ternyata dugaannya meleset. Minseok menembak seseorang yang ada di belakangnya.

Jantung Lu Han hampir saja berhenti berdetak saat ia mengira Minseok mengacungkan pistol ke arahnya. Tapi ternyata bukan dia sasarannya.

Kemudian ia melihat sesuatu yang tak pernah dilihatnya. Seringai dari seorang Minseok. Lu Han sempat terkejut, namun akhirnya mengangguk mengerti. Ia melihat sekeliling kamar itu, setelah ia yakin tak ada yang masih bisa terbangun, ia menggandeng Minseok keluar dari kamarnya. Tak lupa dengan tasnya yang berisi barang sangat berharga baginya.

* Onew side

"Ada apa kau memanggilku kemari? Bukankah aku sudah mendapatkan barang itu untukmu? Jadi kapan kau akan menepati janjimu?" Onew berkata dengan gigi bergemeletuk saking ia menahan amarahnya.

Orang yang dipanggil 'kau' oleh Onew hanya terkikik geli, namun geli yang mengerikan. Ia berdiri dari kursinya mendekat ke arah Onew.

"Kau, harus bisa menahan amarahmu, hyung. Itu tak baik untuk jantungmu," ucap orang itu.

"Cukup Sehun! Aku selama ini sudah bersabar dengan tingkahmu yang kekanakan itu. Tapi kesabaran seseorang ada batasnya, kau tahu! Kau sudah berubah!" hardik Onew.

"Mian, hyung, untuk sekarang aku masih belum bisa menepati janjiku padamu. Karena, kau tahu, aku masih punya satu tugas lagi untukmu. Dan aku janji setelah ini, aku akan memberikan semua yang kau mau, hyung," Sehun menyeringai.

"Baiklah, sekarang katakan apa maumu? Dan katakan dengan cepat, aku sudah tak punya banyak waktu lagi," Onew masih berusaha menahan amarahnya.

"Baiklah, ini berkasnya," Sehun melempar sebuah map ke atas mejanya, dan Onew mengambilnya dengan ogah-ogahan, "Kau hanya tinggal melakukan semua seperti yang tertera pada berkas itu."

"Lu Han? Siapa dia? Untuk apa aku harus mencarinya? Dan...kau memintaku membunuhnya? Kau gila!" Onew melempar map itu.

"Aku sudah bilang padamu kalau aku tidak mau membunuh lagi! Jika hanya mengambil barang atau menghabisi sekelompok geng bodoh, aku tak keberatan! Tapi ini, hah! Aku tak bisa!"

"Itu terserah kau, hyung. Kalau kau tak mau, ya sudah, berarti aku tak perlu menepati janjiku tentu saja. Dan ini lebih mudah untukku," Sehun melipat tangan di dadanya tak peduli.

Onew menggertakkan giginya geram.

"Baiklah, tapi jika kali ini kau seperti ini lagi, aku akan membunuhmu detik itu juga," Onew meyambar map itu serampangan, lalu keluar dari sana dengan jengkel.

Ia keluar dengan menendang terbuka pintunya, lalu menghempaskannya lagi.

* Sehun side

'Hyung, aku minta maaf padamu atas perlakuanku padamu selama ini. Hanya ini yang bisa aku lakukan untukmu, ah bukan, tapi untuk kalian,' batin Sehun.

Ia menatap kepergian Onew dengan tatapan sedih.

* Flashback on

Beijing 2001

Sehun hanya seorang anak remaja berusia 11 tahun. Yang dia inginkan hanyalah ingin menjadi seorang anak remaja pada umumnya. Bersekolah di sekolah umum dan memiliki banyak teman. Kalau perlu menjadi murid sekolah yang konyol dan jahil seperti murid nakal lainnya. Atau setidaknya bebas menghabiskan waktu luang bersama teman-temannya.

Tapi apa mau dikata, semua yang di punyainya tidaklah seperti yang dimiliki anak-anak remaja lainnya. Yang dia punyai malah sebuah keluarga yang tak pernah ada, yang artinya dirinya itu hanyalah seorang anak kecil yang tak pernah mengetahui asal usulnya. Ingin sekali Sehun mencari tahu tentang keluarganya yang sebenarnya, namun selalu dilarang oleh ayahnya.

Oh, dia bukan yatim piatu, dia masih punya seorang ayah. Tapi benarkah ayahnya itu adalah ayah kandungnya? Ia tak yakin. Mana ada seorang ayah yang setiap hari selalu memberi perintah kepadanya untuk melakukan suatu pekerjaan yang harusnya tak dilakukan anak seusia dirinya.

Jangankan kasih sayang, perhatian pun tak pernah ia dapatkan. Bahkan saat ia merindukan dan membutuhkan pelukan dari seorang ibu, ia selalu hanya menahan dan menahan semuanya. Yang ia dengar setiap hari hanyalah perintah, perintah dan diperintah. Bodohkah ia jika selalu menuruti semua perintah dari ayahnya? Yang ia tahu, ia hanya menginginkan sebuah pujian dan perhatian tulus dari ayahnya. Dan yang ia harapankan ialah suatu hari nanti, ayahnya melihat kearahnya.

Hari ini, Sehun dipanggil untuk datang ke tempat 'kerja' milik ayahnya. Dengan perasaan malas, ia datang kesana, menghadap ke ayahnya, dan tak menyangka ia mendapat sambutan hangat untuk pertama kalinya dari ayahnya.

Sehun merasa bingung sekaligus heran. Ada apa gerangan ayahnya tiba-tiba bersikap baik dan lunak padanya.

"Sehun, mulai besok kau akan masuk ke sekolah. Aku memutuskan untuk memasukkanmu ke sekolah umum seperti teman-temanmu yang lain, supaya kau bisa memiliki banyak teman. Bagaimana, kau pasti suka kan?" ayah Sehun berkata padanya dengan sedikit nada mencibir. Dan Sehun menyadari itu, ia mendengus.

"Sudahlah ayah, katakan saja apa yang harus aku lakukan sebagai ganti imbalannya," ucap Sehun ketus.

Ayah Sehun tertawa keras,

"Ternyata kau memang sangat pintar anakku. Inilah yang aku suka darimu. Tak pernah membuang-buang waktu," ayah Sehun berkata sambil menepuk pundak Sehun, merasa bangga pada putranya. Sedangkan Sehun diam tak bergeming.

"Jadi tugas ini tidaklah sulit. Malah sangat menyenangkan, kau tahu," Sehun memalingkan wajahnya, ia benci pada ayahnya saat ini.

"Disana kau hanya harus membuat pertemanan dengan seseorang, atau kalau kau mau, kau bebas menjadikannya sahabatmu, atau musuhmu, siapun. Tapi jangan lupa, cari informasi sebanyak yang kau bisa dari mereka, hingga informasi yang terkecil sekalipun. Jika kau sudah mendapat sesuatu, kau harus memberitahukannya padaku, mm? Bagaimana?"

Sehun memutar bola matanya malas. Ia tahu setiap kebaikan yang dilakukan ayahnya padanya, membutuhkan timbal balik darinya. Ia sangat hafal itu. Harapan untuk mendapat perhatian dan kasih sayang tulus dari ayahnya tak kan pernah bisa ia gapai. Sehun rasa, ia akan terus mengingat alarm ini untuk dirinya sendiri kelak.

Perlahan Sehun mengambil map dihadapannya. Ada dua buah map berbeda di situ. Yang satu sebuah profil seorang anak laki-laki, dan yang satu perempuan. Ia hanya melihat nama mereka yang tertera di sampul map saja, tanpa mau melihat isinya, bahkan foto mereka pun tak mau ia lihat.

Buat apa ia melihat isinya? Paling hanya berisi biodata ini dan itu. Dan bukankah ia tadi disuruh mencari tahu soal kedua orang itu, sudah pasti tak ada informasi penting di map itu.

~Skip Time~

Dua hari kemudian Sehun memulai hari pertamanya sebagai siswa sekolah seperti yang ia idamkan saat ia kecil, tapi seharusnya bukan dengan keadaan dan pikiran buruk semacam ini. Ia membenci dirinya sendiri sekarang. Walaupun apa yang dilakukannya nanti sekedar perintah dari ayahnya, tapi tetap saja ia hanya seorang remaja.

Sehun sengaja datang terlambat hari ini karena tak ingin menjadi pusat perhatian murid-murid yang lain. Dengan santainya ia berjalan menuju ruang staf tata usaha milik sekolah. Ia berjalan sambil melihat pemandangan sekitar sekolah barunya. Ia tersenyum, untuk pertama kalinya ia merasakan apa yang hanya bisa ia impikan dulu.

Tapi senyumnya langsung lenyap tatkala sebuah panggilan telepon berdering dari ponselnya. Nama ayahnya tertera disana, ia menghela nafasnya, tahu pasti hal yang akan disampaikan oleh ayahnya. Ia menerima panggilan itu dengan sedikit malas.

"Halo, ya ayah, ada apa? Ini masih terlalu awal untuk menginterogasiku. Sudahlah, aku terlambat, dan aku juga harus mencari ruang staf guru.

Aaah, aku lupa, sebaiknya kau singkirkan mata-matamu itu. Aku tak suka dan itu malah akan membuatku nampak mencurigakan. Satu lagi, aku juga sudah membuang alat pelacak yang kau pasang di tas sekolahku. Jadi jika kau memang mempercayai aku selayaknya putramu sendiri, lebih baik awasi saja aku dari tempatmu duduk sekarang ini," Sehun memutuskan panggilan ayahnya tanpa memberi kesempatan pada ayahnya untuk berbicara padanya.

Ia merasa harinya yang indah telah dirusak oleh ayahnya. Seketika moodnya turun.

Saat Sehun akan memasukkan ponselnya ke kantung celananya, tiba-tiba lewat seorang murid yang tengah berlari, lalu tanpa sengaja menyenggol sikunya, dan membuat ponselnya terlempar. Ponsel itu jatuh tepat dikaki seorang murid yang tengah berjalan ke arahnya. Murid itu terkejut melihat ada ponsel terlempar kearahnya, kemudian ia berjongkok untuk mengambil ponsel Sehun, yang mana sekarang Sehun sedang sibuk merutuk sebal ke arah siswa yang jelas bersalah namun tetap tak peduli. Ia menggelengkan kepalanya kesal, lalu beralih mencari kemana ponselnya terlempar.

Saat Sehun kebingungan kesana kemari, seseorang mengulurkan ponselnya. Ia tersenyum, lalu menoleh.

"Terima ka..." Sehun terpaku, ia terkejut melihatnya.

Matanya kemudian menatap ke arah name tag siswi itu, disana tertera nama Xiumin Lee.

Ia belum siap, jantungnya berdebar kencang saat ini. Perlahan ia melirik ke wajah siswi itu lagi. Ia tertegun melihat gadis dihadapannya saat ini. Dalam hatinya ia terus bertanya, apa dia benar Xiumin Lee alias Lee Minseok yang ada di berkas map kemarin, yang bahkan ia tak mau melihatnya.

"Andwe..andwe, maldo andwe," Sehun masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Ia terus mengelengkan kepala sambil menggumam sendiri.

"Kau tak apa-apa?" tanya Minseok.

"A..aku tak apa, maaf aku harus pergi," Sehun ingin bergegas pergi dari sana, tapi...

"Hei, kau salah jalan, disitu jalan ke gudang sekolah. Kalau kau ingin ke ruang guru, jalannya ada disebelah kananku," kata Minseok mencoba menjelaskan sebiasa mungkin. Namun terlihat sekali kalau Minseok sedang mengulum senyumnya.

Sehun bergegas berbalik kembali. Dalam hatinya, ia merutuki kebodohannya sendiri. Dan mencoba bersikap senormal mungkin saat lewat di sebelah Minseok.

Saat ia merasa yakin dia sudah jauh dari Minseok, ia menghela nafas.

"Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku berdebar seperti ini?" ia mencengkram dadanya sendiri, "Benarkah dia Lee Minseok yang diinginkan ayahku? Tapi kenapa ayahku menginginkannya? Ah, sudahlah masa bodoh, toh ini bukan urusanku."

Sehun mengusak rambutnya sendiri.

"Hei, apa kau benar-benar baik-baik saja?" tanya Minseok sambil menepuk pundak Sehun.

Seketika jantung Sehun serasa keluar dari dadanya sendiri. Ia menoleh dan membelalakkan matanya saat melihat Minseok sudah muncul lagi di depannya.

"K..ke..kenapa kau mengikutiku? Kau mau menguntitku ya, eh Xiumin?" tanya Sehun ingin mencoba bersikap cool namun gagal.

Minseok heran, lalu terkikik geli, seketika Sehun seperti terbius dengan senyuman Minseok. Sehun tak mengerti dengan apa yang ia rasakan, ia hanya merasa Minseok sangat, apa ya, cantik, menurutnya.

"Kau ini lucu sekali, untuk apa aku menguntitmu? Dan panggil aku Minseok saja, karena aku tak suka nama itu," Minseok berhenti tertawa dan mendengus, "Aku bahkan tak mengenalmu, Tuan Oh. Aku ini hanya ingin ke ruang staf guru saja, sama sepertimu."

"Itu..itu..lalu darimana kau tahu aku akan ke ruang guru? Kau memata-mataiku kan?" Sehun menggigit bibirnya, lalu memukul kepalanya sendiri sementara Minseok tertawa tanpa henti sekarang.

Sehun menggumam pada dirinya sendiri, "Bagus Sehun kau terlihat benar-benar bodoh sekarang. Kenapa kau berkata seperti itu? Sehun bodoh, kau bodoh."

"Bisakah kau berhenti tertawa sekarang, ini tidak lucu," Sehun mulai tak nyaman.

Ia takut terlalu terpesona pada Minseok.

Minseok berhenti tertawa, namun masih mengulum senyumnya.

"Jadi Tuan..Oh Sehun," Minseok melihat nametag milik Sehun, "Aku perjelas, aku sama sekali tidak menguntitmu atau apa kau bilang tadi, ah ya, memata-mataimu, tidak.

Aku hanya ingin ke ruang guru, yang lalu secara kebetulan aku melihatmu tadi sedang kebingungan mencari ponselmu. Dan karena aku baru pertama kali melihatmu disini, aku mengira pasti kau siswa baru. Kau pasti tahu kan, biasanya yang dicari siswa baru saat pertama masuk sekolah pastilah ruang guru, aku benar kan?"

Sehun yang takjub medengar penjelasan dari Minseok, hanya menganggukkan kepalanya. Tak cuma sekali, tapi berkali-kali, mengangguk-anggukkan kepalanya lucu.

"Stop!" Minseok menghentikan anggukkan Sehun dengan jarinya yang ia tempelkan ke dahi Sehun, membuat Sehun menatap Minseok, dan berhenti menganggukkan kepalanya.

"Cukup sekali, aku sudah paham."

Sehun berdehem dan menyingkirkan telunjuk Minseok dari dahinya.

"Baiklah, sekarang kau pergilah duluan, aku harus..."

Tanpa peringatan Minseok menggandeng Sehun masuk ke ruang guru.

"Kau temuilah kepala staf di ujung ruangan itu, aku akan ke ruang kepsek. Bye," Minseok berlalu, tak peduli dengan Sehun yang melongo karena sikap Minseok kepadanya.

~Skip Time~

Sehun tengah berdiri di atap sekolah sekarang. Ia sedang mengingat pertemuannya dengan Minseok tadi, senyum selalu teulas di wajahnya sekarang.

Entah kenapa, ia merasa nyaman saat bersama gadis itu. Ini adalah pertama kalinya ia mendapat seorang teman. Teman? Apa itu teman? Sehun tak mengerti apa arti dari teman, selama ini ia hanya dikurung di penjara emas bersama para pengawal payah suruhan ayahnya.

Ia tahu betul apa pekerjaan ayahnya, maka dari itu kadang ia bersyukur tak memiliki seorang teman. Ia takut ayahnya kelak akan menyakiti orang-orang disekitarnya. Ia bahkan curiga kalau ibunya pasti tak sudi hidup bersama ayahnya karena pekerjaan ayahnya itu.

Setelah ia bertemu dengan Minseok tadi, ia jadi ragu dengan misi ayahnya sekarang ini. Untung saja ia tak sekelas dengan Minseok, jadi ia bisa menghindari menjawab pertanyaan ayahnya nanti.

Sehun menghela nafasnya, dan memutuskan untuk tidur saja di bangku atap sekolah itu. Baru beberapa detik memejamkan mata, sekelompok kakak kelasnya membuat keributan di atap sekolah itu. Sehun mencoba tidak peduli dengan keributan itu. Ia pikir selama para kakak kelas itu tak mengganggunya, ia juga tak akan membuat masalah dengan mereka.

Samar-samar ia mendengar percakapan mereka, ada yang berteriak-teriak dan saling mengumpat. Merasa terganggu dengan kebisingan itu, Sehun pun akhirnya bangun dan memutuskan untuk pindah saja ke tempat lain. Namun salah seorang dari mereka mengucapkan nama seseorang yang serasa familiar ditelinganya. Maka dia mengendap-ngendap berusaha mencuri dengar percakapan mereka.

"Yak, Onew, kau tahu kan, jika kau membuat masalah dengan kami, kau pasti akan habis oleh kami," kata salah satu siswa.

"Heh, aku tak pernah merasa membuat masalah dengan kalian. Kalian saja yang mau di bodohi olehku," jawab siswa bernama Onew itu.

"Beraninya kau menganggap kami ini bodoh! Kau tak tahu sedang berurusan dengan siapa sekarang! Teman-teman, habisi saja dia," perintah siswa yang mengomel tadi.

Sehun masih diam mengawasi, dia melihat nametag bertuliskan Onew Lee, di seragam siswa yang sedang dikeroyok oleh geng sekolah itu. Ia melihat siswa bernama Onew itu jago berkelahi, tapi dia sedang di keroyok saat ini. Dan mereka berjumlah 8 orang. Ini tak seimbang.

Sehun mendekat kearah mereka, menangkis pukulan salah satu siswa yang mengeroyok Onew dengan tangannya, lalu menendang siswa itu hingga jatuh terkapar.

"Apa sunbae tak apa-apa?" tanya Sehun pada Onew, yang sempat terkejut dengan kemunculan Sehun yang tiba-tiba.

"Iya, aku baik-baik saja, tapi siapa kau tiba-tiba ada disini dan menolongku? Kau tahu, aku tak butuh pertolongan, teman-temanku akan segera kemari," Onew berkata sambil memukul jatuh siswa lain.

Tapi Sehun tetap tak peduli dengan ucapan Onew. Dia tetap membantu Onew melawan para kakak kelas sok preman itu.

Mereka berkelahi bersama, dan tentu saja mereka menang dengan mudah karena memang Onew mempelajari taekwondo. Dan Sehun tentu saja ia diam-diam mempelajarinya di rumah tanpa sepengetahuan ayahnya, tapi ia yakin ayahnya tetap akan tahu nantinya.

Mereka berdua sama-sama menyunggingkan senyum penuh arti,

"Kau boleh juga hobae, temanku pasti akan senang bertemu denganmu," Onew menepuk pundak Sehun.

Namun tiba-tiba salah seorang sunbae itu bangkit dan memukul Onew dari belakang, Sehun terkejut, dan segera saja ia menangkap Onew yang akan terjatuh. Darah mengalir di kepala Onew, Sehun melirik marah pada siswa yang telah memukul Onew. Maka, ia pun meletakkan Onew pelan, dan menghampiri siswa itu.

Dia memungut kayu yang baru saja dipakai oleh mereka, saat akan memukul siswa itu, ia tak sanggup melakukannya dan akhirnya menendang siswa itu dengan sekuat tenaganya. Berusaha melampiaskan amarahnya pada siswa itu. Setelah itu, ia berusaha menggendong Onew, namun ternyata ia sendiri tak mampu.

Untunglah teman-teman Onew datang. Dan mereka langsung menolong Onew, Sehun berusaha menjelaskan dengan cepat apa yang terjadi pada Onew. Dan bersama-sama mereka membawa ke klinik sekolah, membuat perawat sekolah itu kaget bukan kepalang. Segera ia menelpon ambulans dan sementara menunggu, ia memberi pertolongan pertama terlebih dahulu pada Onew.

Sehun yang terdiam sedari tadi, akhirnya buka suara,

"Maaf, Bu, di atap juga ada beberapa sunbae yang terluka," perawat itu melotot horor pada Sehun yang saat ini tertunduk menyesal, "Tadi kami berkelahi di atap dan.."

"Apa?? Kenapa kau baru bilang sekarang?" perawat itu kaget dan mulai mengomel, "Kalian juga kenapa diam saja! Kalian kan kakak kelas, harusnya beri contoh yang baik untuk adik kelas kalian. Oh..Tuhan apa yang harus aku lakukan pada kalian," perawat sekolah itu mulai emosi.

"Sekarang kalian semua, cepat bawa mereka kesini!" perintahnya.

Teman-teman Onew mengangguk, kecuali Sehun, ia masih terdiam. Matanya menangkap sosok Minseok dikejauhan yang terlihat panik, dan sedang berlari menuju ke arah klinik sekolah.

Sehun bingung,

"Apa yang harus aku katakan jika ia bertanya padaku nanti?" batinnya.

Minseok panik,

"Oppaku, mana oppaku, kenapa dengan oppaku? Apa yang terjadi? Dia berkelahi lagi?" Minseok menatap Sehun curiga, "Apa jangan-jangan kakakku berkelahi denganmu?"

Sehun membelalakkan matanya lalu menggelengkan kepalanya.

"I..it..itu aku juga berkelahi, eh, maksudku, aku memang disana, tapi dia..mereka..aissh.."

Sehun memalingkan wajahnya frustasi.

Minseok menatap heran Sehun.

"Kau.."

"Awas..awas..minggir sedikit, jangan di jalan. Minseok minggir sedikit," beberapa teman Onew masuk menggendong para sunbae yang pingsan di atap tadi. Minseok terkejut, lalu ia melirik galak ke arah Sehun yang sedari tadi terus menatap Minseok, dan menunjuk Sehun,

"Hei, kau, Tuan Oh, kita harus bicara, sekarang!" Minseok berjalan menjauh dari klinik.

Sehun mengikuti dalam diam, ia tak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini.

"Jadi, Tuan Oh, bisa kau jelaskan dengan detil apa yang terjadi pada kakakku?" Minseok menyilangkan tangannya di dada.

Sehun menghela nafas kesal,

"Bisakah kau berhenti memanggilku dengan sebutan itu?"

"Ada apa memangnya? Aku suka dengan panggilan itu. Terdengar cocok untukmu."

Sehun memutar bola matanya malas, "Tapi aku tidak suka."

"Kalau begitu beri aku penjelasan dulu, kenapa kakakku bisa cedera seperti itu. Dan bagaimana kau bisa kenal kakakku? Apa kau ini semacam preman sekolah yang suka menjahili temanmu, makanya kau keluar dari sekolah lamamu dan masuk kemari?"

Sehun mengernyitkan dahinya.

"Apa-apaan itu? Kenapa kau menuduhku sembarangan. Aku ini anak baik-baik. Dan ketahuilah, aku tak tahu apa masalah kakakmu. Aku hanya kebetulan ada disana dan melihat kakakmu dikeroyok. Jadi aku tak bisa diam saja," jawab Sehun.

"Benarkah? Kau hanya kebetulan ada disana? Bukan bagian dari geng sekolah buatan kakakku yang konyol itu?" Minseok menyipitkan matanya.

"Itu benar, aku harus menjawab bagaimana lagi? Dan aku minta padamu berhenti memanggilku dengan sebutan konyol itu. Aku bukan tuan," Sehun mulai jengah.

"Kenapa? Dilihat dari penampilanmu saja kau sudah terlihat seperti anak orang kaya," Minseok meneliti Sehun dari atas kepala hingga ujung kaki. Sehun merasa risih bercampur gugup dipandangi Minseok seperti itu.

"Kalau tak ada lagi yang ingin kau tanyakan aku pergi," Sehun langsung pergi meninggalkan Minseok yang masih keheranan.

Mobil ambulance memasukki pekarangan sekolah. Mereka segera membawa Onew ke rumah sakit, Minseok ikut serta menemani kakaknya. Sehun memandang semua itu dari jendela kelasnya. Ia masih bingung dengan pesan ayahnya. Kenapa ia harus berteman dengan Minseok dan Onew? Dan kenapa ia harus menyelidiki semua tentang mereka juga? Ada apa sebenarnya?

Sepanjang pelajaran berlangsung, ia tak bisa berkonsentrasi dengan benar. Yang ia pikirkan hanya Minseok dan kakaknya Onew.

~ Skip Time ~

Sekolah telah berakhir sejak 3 jam yang lalu, namun Sehun tak juga beranjak pulang. Ia tengah bersembunyi di ruang kesenian saat ini, karena hanya ruangan ini saja yang masih tak terkunci. Seharian ini ia menghabiskan waktunya berkeliling sekolah barunya dan kini ia sudah hafal semua tempat yang ada. Ia tersenyum sendiri, lalu membuka tasnya, mengambil makanan yang sempat ia beli di kantin tadi.

Ia makan sambil memutar mp3 player. Baru kali ini ia merasakan kedamaian. Ia ingin menikmati ketenangan seorang diri, tanpa ada suara ayahnya beserta para pengikutnya.

Tak berapa lama, ia mendengar suara langkah seseorang. Ia bangkit, mematikkan mp3 playernya, membereskan barang bawaannya dan bergegas mengikuti arah langkah kaki yang ia dengar barusan. Tapi ternyata ia tak bisa menyusulnya, ia akhirnya memutuskan untuk pulang saja, dari pada nanti ia terlalu malam sampai rumah.

Sesampainya digerbang sekolah, sebuah mobil mewah tiba-tiba berhenti di depannya. Ia memutar bola matanya malas.

"Sekretaris Kim? Kenapa kau kemari? Aku sudah bilang untuk tak usah datang menjemputku kan? Pulanglah, aku mau pulang sendiri."

"Maaf, Tuan Muda, saya harus segera membawa pulang anda. Karena.."

"Tuan Muda?"

Sehun dan sekretaris ayahnya terkejut mendengar ada orang lain disana. Sehun menoleh ke belakang.

"Minseok?"

"Benar kan apa kataku, kau itu tuan muda. Kenapa tak mau kupanggil begitu?" Minseok mencibir.

Sehun memutar bola matanya.

"Karena aku tak suka dengan panggilan itu."

Sehun menoleh kembali ke arah sekretaris ayahnya.

"Paman, bilang pada ayahku aku tak bisa pulang bersamamu, karena aku sudah ada janji pergi dengan temanku. Sudah ya paman, daah..ayo Minseok."

"T..tap..tapi aku.."

Sehun langsung menggandeng tangan Minseok dan mengajaknya secepat mungkin pergi dari sana. Ia ingin menghindari siapapun yang berhubungan dengan ayahnya saat ini. Ia lalu menoleh ke arah Minseok yang sekarang sedang menatap heran ke arahnya, sedangkan Sehun masih tak sadar kalau dia masih menggandeng Minseok. Sampai..

"Yaaak..Tuan Muda Oh, kenapa kau menyeretku kemari? Arah pulangku bukan kesini, tapi sebaliknya," Minseok sudah kehilangan kesabarannya, ia menarik tangannya dari gandengan Sehun, membuatnya tersadar dari lamunannya.

"Kau membuatku harus memutar jalan pulang dan itu sangat jauh, kau tahu."

Sehun terdiam. Ia merasa tak enak hati dengan Minseok sebetulnya, namun ia sangat benci dengan seseorang yang memanggilnya seperti Minseok tadi.

"Bisakah kau berhenti memanggilku seperti itu, Minseok?" ia menggertakkan giginya mencoba bersabar karena itu Minseok.

"Memangnya kenapa? Kau memang Tuan Muda kan?" Minseok mencibir.

"Lagipula.."

"Hentikan! Kumohon berhenti!" Sehun mulai kehilangan kesabarannya, membuat Minseok terlonjak kaget. Sehun melihat itu, ia pun menghela nafas.

"Maafkan aku Minseok.

Tapi sekali lagi aku mohon padamu untuk jangan memanggilku dengan sebutan itu, aku tak menyukainya. Bahkan aku sangat membencinya!" Sehun mengucapkannya dengan nada marah bercampur sedih.

Minseok terdiam. Pertama kalinya ia dibentak oleh orang lain selain orang tua dan kakaknya.

Sehun lalu duduk di halte, Minseok pun mengikutinya dalam diam.

Sehun menghela nafasnya.

"Ibuku selalu memanggilku dengan sebutan itu. Aku merasa senang dipanggil seperti itu olehnya, tapi itu dulu," Sehun menundukkan kepalanya. Minseok mendengarkan dengan sabar.

"Tapi, ia kini sudah tak bisa lagi memanggilku dengan panggilan itu. Karena, ia sudah tidak ada lagi di dunia ini sekarang."

Minseok terkejut sebentar, lalu menatap Sehun dengan sedih bercampur simpati. Ia memegang pundak Sehun, bermaksud untuk menenangkannya. Tapi malah Sehun meringis kesakitan. Minseok pun heran.

"Sehun, ada apa dengan pundakmu? Sini aku periksa," Sehun berusaha menolak, tapi Minseok memaksa.

Setelah terbuka, Minseok terkejut melihat luka memar yang sangat besar di pundak Sehun.

"Sehun, kenapa ini? Kau terluka tapi kau diam saja?" Sehun diam tertunduk.

"Aku tak ingin membuat semuanya bertambah repot, dan juga karena kakakmu terluka lebih parah dari aku, makanya aku..."

"Tapi ini tak bisa diabaikan begitu saja. Ayo, kau harus ikut aku ke rumah sakit. Kau harus di obati, sekalian kakakku ingin bertemu denganmu juga. Jadi kau tak boleh menolak atau beralasan untuk menghindar," Minseok gantian menggandeng Sehun menuju halte lain.

Sehun hanya diam menurut, tapi dia diam-diam tersenyum saat melihat tangan Minseok menggandeng tangannya.

*Author side

Di belakang mereka berdua, ternyata sekretaris ayahnya masih mengawasi Sehun dan Minseok. Ia menelpon ayah Sehun.

"Tuan, sekarang Tuan Muda sedang pergi bersama Nona Lee. Baiklah, saya akan terus mengawasi mereka. Baik, Tuan."

*Di tempat ayah Sehun

"Aku akan bersabar untuk ini. Hal besar kadang membutuhkan sedikit waktu untuk bisa menjadi sempurna,"

Tuan Oh berbicara pada anak buahnya.

"Kenapa anda ingin sekali tuan muda memata-matai Lee bersaudara? Bukankah jika menggunakan kami itu akan jadi lebih mudah, Tuan?" tanya salah satu orang keprcayaan ayah Sehun.

Tuan Oh terkekeh,

"Itu karena mereka berdua menyimpan sesuatu yang berharga dari kedua orang tua mereka. Dan jika kita terang-terangan mengejar orang tua mereka, pasti mereka akan bersembunyi dari kita, mereka tidak bodoh. Tapi jika kita mendekati putra putri mereka dulu, saat mereka sadar, mereka sudah terlambat untuk lari bersembunyi. Sedangkan aku sudah memegang kunci rahasia dari sesuatu hal yang berharga milik mereka."

Ayah Sehun tertawa puas.

"Biarkan saja putraku melakukan yang ia mau. Awasi saja dia dari jauh. Jika ia mulai curiga, segera bawa ia pulang ketempatku."

"Baik, Tuan Oh."

"Sekarang kita beralih dahulu ke perusahaan Lu Corp. Aku benci dengan kesombongan mereka yang makin menjadi-jadi. Sesekali mereka harus dapat teguran, supaya mereka tetap sadar." Tuan Oh menyeringai mengerikan.

"Kapan jadwal pertemuan mereka?"

"Satu minggu lagi, Tuan,"

"Baiklah, kita sebaiknya melakukan persiapan dulu mulai sekarang," Tuan Oh bangkit dari duduknya, dan berjalan masuk ke sebuah pintu rahasia di ruang kerjanya.

TBC

A/N : Haaaah...akhirnya chap ini kelar juga. Mian chingu, author up nya lama bingits, maklumin ya..beberapa hari ini sibuk banget. Udah mulai masuk kerja, terus bias-bias kita baru rilis album baru. Jadi ya ga bisa fokus deh.

Yang pasti congrat buat EXO dan EXOL, we are trully legend. Yeeey..cuma EXO yang bisa kalahin EXO.

O..iya aku masukkin beberapa momen Xiuhun disini. Bukan karena di mv baru EXO ada momen mereka loh ya, tapi alurnya memang begono dari awal. Castnya juga udah dari awal pake dedek Thehun. Karena selain Sehun, aku ga bisa nemuin chemistry yang pas buat Minseok, kecuali Luhan loh ya...xiuhan mah ga usah tanya, chemistry ama feel mereka mau dibikin gimanapun tetap berasa.

Dan buat para readers semua, makasih banget untuk reviewnya. Setiap hari selalu ditunggu loh..

Kamsahamnida

Saranghae.. *bow