Hyahooo~ makasih banyak ya reviewnya dan maaf ga bisa saya bales satu-satu, saya bales via cerita dalam fanfic aja ya, hehe :D
Saya seneng banyak banget yang review~ dengan senang hati juga saya melanjutkan~ oh ya, saya mohon maaf kalo emang ada yang menjurus kesana kemari~~ *dance-dance*
Saya tahu, 2 hari lagi UN, cuma kepikiran aja mau ngelanjutin :P
Fandom/Disclaimer: Axis Power Hetalia (c) Himaruya Hidekaz-sensei; Plot (c) saya
Warning(s): AU, OOC, Gender-bender, country names used.
Reverse Exponent
/
Part II – Innocent Chaos
Dengan cepat waktu sudah bergeser ke hari berikutnya. Sudah dua hari teman sekamar Hungary belum ditemukan—siapa lagi kalau bukan Belarus, cowok yang dingin mulai dari ekspresi sampai kata-katanya. Absensinya selalu bolong-bolong, dan ia kadang pulang ke asrama, kadang tidak pulang ke asrama, entah hilang kemana.
Pagi ini, sang tokoh utama bangun lebih pagi. Dan yah, sang Hungary tetap sendiri di kamarnya, dan memakan sarapan sederhana hasil buatannya sendiri. Sebagai cowok, Hungary jago urusan rumah tangga, terlebih masak—itu semua bisa dilihat dari koleksi teflon yang mengenyampingkan koleksi pisau milik teman sekamarnya, atau jumlah doujinshi yuri yang ia beli rutin tiap akhir minggu ketiga.
TING TONG
"Hmm? Sebentaaaar~" Hungary menaruh roti yang ada di genggamannya ke atas piring dan membuka pintu.
"Ini aku," suara bernada kelam merayap melalui interphone. "Hungary, cepat buka pintunya."
Ketika Hungary membuka pintu, ia menemukan teman sekamarnya sudah compang-camping, mukanya babak belur dan jaket panjang yang ia kenakan sudah tidak karuan bentuknya.
"Da-darimana saja kau!" Hungary gelagapan. "...Dan kenapa luka-luka begini? Mending bawa oleh-oleh daripada luka-luka."
"Ceritanya panjang..." ucapnya tenang. Seperti sebuah dialog FTV. "Kau ada tisu...err, kau punya obat merah?"
/
Setelah sekian menit membersihkan luka dan mengganti baju ke seragam, Belarus akhirnya mau bercerita—setidaknya, menjelaskan garis besar tentang apa yang ia alami tanpa pisau ataupun paku.
"Jadi...kau pasti sudah tahu aku sedang apa kan, Hungary?"
Ketua kelas pasti tahu kelakuan tiap anggota kelasnya—apalagi teman sekamarnya itu. Belarus adalah pengoleksi senjata tajam yang entah bisa dibilang maniak atau sudah berubah menjadi fetish mengenai kakak keduanya—Russia. Kalau-kalau Belarus hilang dari kamar, ia pasti menguntit kakaknya tersebut di gedung A dan asrama wanita tanpa diketahui siapapun (kecuali mungkin Canada).
Tapi hari ini sungguh aneh, kenapa ia bisa babak belur seperti itu?
"Aku tidak sengaja ditemukan seseorang di ruang ganti wanita," ucapnya seraya melirik kanan dan kiri. "Cewek itu gila, rambutnya perak, kulitnya putih bersih, ada bekas luka di pipinya dan pakaian dalamnya warna hitam menggoda."
"Kurasa aku tidak butuh laporan yang terakhir," Hungary hanya tersenyum—seraya membayangkan apa yang Belarus bilang barusan. "Lalu? Kau hanya digebukin dia?"
"Nggak juga sih, jadi dia teriak kencang—lalu beberapa wanita sudah berkumpul di TKP hanya mengenakan handuk—yah, untungnya tidak ada oneechan—kalau tidak aku sudah mimisan dan tertangkap di tempat." Belarus menjelaskan tetap dengan ekspresi datar. "Aku kabur saat kakak ceweknya Liechtenstein yang ketua kelas 2-2 itu mengangkat Desert Eagle,"
"Aah, aku bahagia kau bisa kabur, Belarus." Cowok berambut coklat muda itu bisa membayangkan kakak Liechtenstein—Switzterland—apabila sudah ada pistol di tangannya. Ia ingat beberapa tahun silam saat ia berusaha mendamaikan Austria dan Swiss yang sedang berantem hebat, beberapa kaca rumah Germany bolong karenanya. "...Sebentar lagi sudah bel masuk, kau mau ikut denganku atau kau mau pergi sendiri?"
"...Terserah,"
Belarus adalah cowok yang tak ada gubahannya dengan anak-anak kelas 2-5 lain, sebenarnya. sosoknya kadang bisa membuat para gadis di gedung A melting atau mulai ber-fangirl ria, apalagi dengan sorot matanya yang garang dan caranya berbicara. Tidak ada yang tahu soal perasaannya pada kakaknya terkecuali Hungary dan kakak laki-lakinya, Ukraine yang menjadi guru Matematika di sekolah itu.
/
Sesampainya di kelas, ternyata bel belum berbunyi dan tidak ada tanda-tanda wali kelas 2-5 masuk ke ruangan tersebut. Hari ini yang ada di kelas (lagi-lagi) Nesia dan Seychelles. Ada beberapa murid wanita mengunjungi kelas mereka; yaitu Spain—salah satu sahabat akrab Hungary, salah satu adik Nesia—Singapore dan juga Australia—salah satu rekan Ukko yang juga tetangga dekat Nesia dirumahnya.
"Mereka bertiga ini dari kelas sebelah?" tanya Hungary.
"Tidak, kok~" Spain menyela. "Aku dari kelas 2-3, kalau Singapore dan Australia dari kelas 2-1, kami disini karena Hindia-kun memanggil kami."
"Yang lain kemana?" tanya Belarus, singkat, padat dan berisi.
Seychelles pun menjawab, "Belgium bilang mau membicarakan soal goukon akhir minggu ini dengan anak kelas 2-4..."
"Oh—HAH? GOUKON? BUAT APAAN?" mendadak Nesia salting.
Sekedar informasi, goukon adalah bahasa jepang, bila di translate, artinya menjadi 'kencan buta'. Intinya, sekelompok cewek dan cowok berkumpul di sebuah cafe atau tempat berkumpul lain dalam rangka mengakrabkan diri.
"Eh? Bukannya kakak sudah setuju mau datang karena kalah taruhan ayam sama kak Malaysia kan, kak Nesia? Katanya Nethere-chan juga mau datang," timpal Singapore dengan imutnya.
Nesia K.O ditempat, tapi pembicaraan masih berlanjut.
"Kalian bertiga ikutan goukon ini?" tanya Hungary pada tiga cewek disana.
"Tidak, tidak~ kami ada tugas akhir minggu oleh Madame Ramen," ucap Spain seraya mengibas tangannya. "Oh, maksudku si nenek Roman."
"Kok ramen sih?" Belarus mengalihkan pembicaraan.
"Biasaaaaa, si Japanko suka memelesetkan nama orang," jelas Australia yang belum kebagian dialog. "Atau mungkin dia sedang kelaparan,"
Beberapa menit berselang, bel berbunyi. Para murid putri sekejap kabur ke gedung A, dan langsung anggota murid 2-5 merayap masuk sambil membawa murid-murid wanita kelas 2-4 yang baru saja dimutasi kemarin bersama mereka. Belarus melihat sosok yang menangkapnya basah kemarin, jadi ia memutuskan menarik diri dari keramaian dan duduk di mejanya ditemani Indonesia yang tadi K.O.—sementara personifikasi negeri bunga tulip sudah ada di pojok kelas dengan beberapa kamera.
"Sister! Ternyata kau dikelas sebelah~" Prussia memeluk cewek berambut kuning sebahu, itu adalah personifikasi Germany yang langsung dikenali oleh Hungary—mengingat dulu mereka satu komplek perumahan.
"Sudah, sudah; lepaskan aku, West!" walaupun dengan kakaknya sendiri, sifatnya yang formal tak pernah berubah.
"Aku kangen tau~" Prussia masih bergelantungan pada adiknya. "Kau sekamar dengan Itaria sih, jadi kita jarang ketemu~"
"Benar juga sih," Germany tidak bisa menolak kakaknya dan hanya tersenyum lebar. "Bagaimana kalau hari ini kita ke cafe biasanya, sister?"
Sementara itu, Austria sedang mengobrol dengan dua wanita lain di luar kelas. Kenapa harus diluar kelas ya?
"Jadi...kau sekelas dengan adikku Belarus?" Russia, sosok gadis yang tinggi semampai dan tak lepas dari syalnya ada disana, memelankan suaranya. "Kalau begitu aku tidak akan masuk ke dalam, da."
"Me, memangnya adikmu kenapa, Russia-san?" salah satu personifikasi dari tiga negara Baltik membuntuti di belakang Russia, tersebutlah Latvia.
"Fufu, itu bukan urusanmu, Latvia-chan~" kata Russia dengan nada lembut yang entah dibuat-buat atau alami. "Kalau begitu aku permisi dulu, Austria-chan," dengan gemulainya ia melambai pergi.
Di kelas pembicaraan soal goukon juga semakin menjadi-jadi, Germany sudah kembali ke kelasnya mengingat Bu France datang on time. Belgium sudah menentukan siapa saja yang akan menjadi host dan hostess (loh), bahkan ia menulisnya besar-besar di papan tulis sebagai berikut:
Tempat: Cafe General Winter, Hetalia Sedayu Group.
Waktu: Sabtu, April. Pukul 13:00 pm
Acara: Goukon / Group Date
Host: Hungary, Liechtenstein, Belarus, Indonesia, Malaysia, Belgium.
Hostess: Prussia, Austria, Nethelands, Germany, Russia, Latvia.
Belarus yang melihat nama Russia langsung melongo—entah karena merasa ini semua halusinasi atau merasa kasmaran; Indonesia makin K.O; Hungary terima takdir—malahan dia senang sih; Liechtenstein yang tersebut senyum-senyum saja; Malaysia jaws drop dan segera membatalkan rencananya menstalk Ukko; sisa kelas lain hanya ber 'oh' mengenai pengumuman; sementara Netherlands sedang dilanda euforia.
"Goukon tuh kayak apa sih, Hunga?" Prussia bertanya sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Nanti juga tau kok," Hungary terkekeh. "Aku ngincar siapa yaaaa...Austria-chan atau Prussia-chan?" ucapnya sambil sedikit bercanda.
"Bawa saja Obaka-chan, aku tidak butuh." Austria berkomentar pedas.
"Aww, Austria-chan, jangan maraaah~" Prussia merangkul teman sekamarnya itu dengan (sok) akrab.
"Lepaskan aku, Obaka-chaaan!" cewek beriris kelabu itu hendak melepaskan diri.
"Aku bercanda kok, siapa yang kupilih akan kurahasiakan~" goda Hungary.
"Jangan lupa untuk memilihku yang awesome!" ucap sang gadis albino dengan pede. "Austria-chan...biarkan saja dia dipilih oleh Malaysia—"
Austria sudah menarik pipi Prussia. Tak mau kalah, personifikasi kerajaan Jerman itu menjewer telinga sang gadis aristokrat. Hal itu berulang terus menerus, tak ada yang mau mengalah.
"Hahahah, hei, hei! Sudah hentikan, kalian berdua! Berantem melulu nggak baik~" Hungary yang nonton tertawa tebahak-bahak.
"Ingat, acaranya besok loh! Harus datang ya!" pekik Belgium antusias ke penjuru kelas. "Nggak datang traktir ramen di kantin seminggu!"
Mendengar kalimat terakhir, Nesia yang biasa terkena penyakit kantong kering hanya bisa pasrah. Kebanyakan dari mereka ada yang bersorak-sorai tidak jelas. Tidak lama, seorang guru memasuki ruangan kelas—tepatnya, guru Matematika sekaligus kakak tertua Belarus, Pak Ukraine.
Sementara itu, diluar sana awan gelap mulai bergerumul menutupi cahaya mentari...
/
Benar saja, saat jam pulang sekolah, hujan deras mulai menyapa bumi. Untungnya Hungary mempersiapkan payung di kolong mejanya jadi ia bisa pulang ke rumah. Para murid di gedung A sudah mengosongkan kelas, lain dengan gedung B yang sebagian besar tidak membawa payung dan memutuskan untuk main-main di sekolah sampai hujan mereda. Jarak asrama dengan sekolah sangatlah jauh, apalagi asrama putri—tak heran putri selalu bisa pulang lebih dulu dari pada putra—yah, kadang para cowok senang melancong ke arah kota atau kerja sambilan.
"Tinggal saja," ucap Belarus singkat. "Aku ada urusan dengan gedung A, dan aku takkan pulang sampai selesai goukon besok."
"Oke," Hungary memberi jempol pada Belarus. "Aku pulang ya, semua~!"
"Yooo~!" sambut para murid yang sedang di aula besar; mereka menghabiskan waktu sambil main petak umpet dengan beberapa siswi yang baru selesai urusan OSIS (baca: Ukko, Japanko, Germany, Estonia, South Korea dan North Italy), ada beberapa yang berpojok di sisi aula entah sedang membaca buku berlabel 'Humor Gokil' (baca: Indonesia, Vietnam, Thailand—loh?).
Hungary menyusuri setapak jalanan gravel dengan seksama, kadang ada kubangan air yang dapat membuat orang terpeleset hingga basah kuyup, kadang ada juga lubang besar yang tertutup genangan air. Sekelilingnya hanya terlihat siluet sederhana karena hujan terlalu deras.
Terpintas satu hal terlihat di mata coklatnya. Sebuah benda berwarna putih tergeletak di ujung semak-semak—tepat di depan gerbang asrama cowok. Hungary mengucek-ngucek matanya sejenak, dan menyadari bahwa yang ia lihat nyata.
Tunggu sebentar. Putih? Dan setelah dilihat-lihat, kenapa benda (?) putih tersebut mengenakan pakaian seragam yang sama dengannya.
"Preuβen...?" nama itu mendadak keluar dari bibirnya.
Ia mendekati figur tersebut, menyentuhnya beberapa jengkal. Benar, itu badan manusia! Dan tampaknya dugaan Hungary benar bahwa itu Prussia!
"Heeei, Prussia-chaaan~ jangan bercanda, ayo bangun~" Hungary kembali menepuk-nepuk punggung wanita tersebut— nihil, tidak ada jawaban.
Hungary menanggalkan payung yang menutupi sebagian kepalanya, ia menarik tubuh teman kecilnya yang tak berdaya tersebut, melihat wajahnya yang memang sudah sepucat mayat, dengan ekspresi yang tampak kelelahan— tentu dengan mata yang tertutup sempurna. Ia masih bernafas, karena itulah Hungary merasa lega. Sesaat ia memegang kening gadis itu, dirasanya sedikit hangat.
Tetapi, tidak ada pilihan lain bagi ketua kelas untuk menyelamatkan teman kecilnya itu disaat seperti ini selain...
/
Asrama Pria World Academy W, kamar 314
Hal pertama yang dilakukan cowok itu setelah lolos dari pengawasan guru asrama cowok (Bu France—red), adalah mengeringkan diri dan juga mengeringkan orang pingsan—tanpa tutup mata—yang ia baringkan di kasurnya sendiri. Memang kasur di kamar Belarus kosong—sebaiknya ia cari aman. Setiap asrama berisikan sama, dua kamar tidur terpisah, satu ruang tamu sekaligus dapur dan ruang makan tanpa sekat serta satu kamar mandi.
Ia lalu pergi ke dapur memasakkan bubur dan air panas, juga mengeluarkan beberapa kain handuk dan sebaskom air. Berselang tiga puluh menit, gadis albino itu belum kunjung sadarkan diri. Cowok itu sudah mengganti seragam Prussia yang basah dengan salah satu kemeja putih kepanjangan yang ada di lemarinya, dan sesuai laporan teman sekamarnya, memang gadis albino itu memakai pakaian dalam berwarna hitam yang menggoda—sudah, sebaiknya kita lupakan saja hal coretpentingcoret itu.
"Hh... semoga saja Bu France tidak melakukan inspeksi kamar hari ini," cowok itu mendengus. "Bisa-bisa kena skors—tapi ga tau juga, mengingat Bu France itu seperti—"
PIP PIP PIP PIP
Suara hape yang ada di saku seragam Prussia mengagetkannya. Ia melihat hape yang agak basah tersebut—ada panggilan masuk dari Austria dengan nama kontak 'Aristokrat Tsundere'—sebenarnya, belum jelas yang ketahuan Tsundere siapa sih.
"Ya, halo? Hungary disini." Hungary menjawab dengan nada formal.
"Obaka—Oh, l-loh, kok Hungary-kun?" suara di seberang telepon terdengar kebingungan. "Tunggu, aku tidak punya nomor hapemu—hah? Jangan-jangan..."
"Austria-chan, aku bukan laki-laki sekotor itu," bohong, buktinya Hungary adalah ketua klub Fudanshi di akademi tersebut, dan otaknya juga bisa dinilai dengan skor dobel positif mesum. "A-Aku memegang hape Prussia-chan karena...yaaaa, dia ada di kamarku sih..."
Terdengar suara Austria berdecak syok. "A, A—Hungary-kun, kau mau aku lapor langsung ke Bu France?"
"Kubilang bukan ITU. Lagipula mana aku tertarik pada gadis kelewat tomboy seperti dia sampai-sampai ke ranjang!" lagi-lagi, Hungary tampak berbohong. Dan, oh, kalimat itu sangat menjurus. "Intinya, aku menemukan dia tergeletak di depan asrama pria, jadi kubawa ke kamarku,"
"Ooh..." Austria bernafas lega. "Kupikir kemana dia sampai belum pulang di hujan deras begini...tadi dia bilang mau ke perpustakaan sebelum pulang, tapi ia belum pulang jadi kutelpon...Apa dia baik-baik saja?"
"Tampaknya dia pingsan karena kehujanan, nanti akan kuperiksa suhu badannya," jawab Hungary. "Nanti akan kuantar Prussia kalau ia sudah bangun—"
"Biarkan saja dia disana dulu. Besok hari Sabtu, kan? Lagipula, tidak baik kalau kau keluar juga, malah nanti kau yang sakit, Hungary-kun." ucap Austria. "Tumben juga Obaka-chan bisa pingsan..."
"Hmph, aku juga tidak percaya." Hungary mengangguk setuju. Perlahan tercium wangi pekat dari dapur, sepertinya bubur yang ia masak sudah matang. "Oh, sepertinya buburnya sudah matang, nanti akan kutelpon lagi bila apa-apa, bye, Austria-chan~"
Hungary tergopoh-gopoh menuju dapur dan menuangkan beberapa sendok besar bubur panas ke mangkuk. Tiba-tiba, suara bel pintu dibunyikan mengagetkannya.
TING TONG
"Siapa?"
"Hungría-kun~" nada manis dan menggoda bisa terdengar dari interphone. "Ini aku, France-sensei~"
Nada suara itu membuat Hungary facepalm sekaligus sweatdrop. Bu France adalah guru bahasa Perancis merangkap Sejarah Dunia sekaligus supervisor dari asrama laki-laki, setiap seminggu sekali, pasti saja ia mendatangi kamar-kamar muridnya untuk inspeksi—karena dikhawatirkan ada kejadian yang 'aneh' terjadi.
"MEIN GOTT!" pekik Hungary dalam hati. Dengan cepat ia menutup Prussia yang sedang tidur dengan selimut tebal, merapikan seragam Prussia yang belum ia rapikan ke dalam kamar mandi, menutup panci bubur dan akhirnya membuka pintu.
"Se-selamat sore, sensei~" sambut Hungary agak gelagapan. Guru berambut panjang pirang bergelombang—agak lebih kriwil dari Netherlands, dengan pakaian seksi (kancing terbuka, rok diatas lutut berwarna biru tua—red) plus bunga mawar tersemat di bagian dadanya, ditambah senyum yang selalu merekah tak kenal waktu—itulah Ibu guru France—yang sampai sekarang masih berstatus lajang.
"Ara, ara? Bubur buatanmu wangi sekali~ boleh aku minta semangkuk? Cuacanya dingin sekali~" Bu France masih dengan nada-nada suara manis yang sangat dibuat-buat.
"Silahkan masuk, sensei. Dan, err, Belarus tidak ada di kamar, ia bilang akan menginap disekolah." Hungary mempersilahkan guru tersebut masuk, ia menyodorkan salah satu mangkuk bubur yang ia tuang untuk dirinya sendiri.
"Mmmh~ Tidak usah repot-repot, ibu sedang sibuk. Sebentar lagi Ukraine-sensei dan Fritz-sensei mengajak minum-minum~"
"Ah, hahaha. Bagus untukmu, bu!" Hungary tertawa garing.
"Sampai jumpa hari Senin ya, Hungría-kun~" setelah sedikit kiss-bye, sang guru coretcentilcoret itupun pergi. Cowok berambut coklat itu bernafas lega, ia pun mengunci pintu dan kembali menuju kamarnya.
Hanya untuk menemukan sebuah pemandangan yang tidak pernah ia lihat.
Prussia—ya dia, gadis teman kecilnya itu ditemukannya terduduk diatas kasur dengan mata berair dan wajah merona merah padam, ia memeluk lututnya dan melihat ke arah bawah. Isak tangis memenuhi kamar tersebut.
"P-Preuβen?"
Heran, bingung, terpana. Itulah yang cowok itu rasakan. Ia tidak bisa berkata apa-apa, lidahnya terasa hampa, kosong. Melihat sosok yang ceria bagai mentari fajar itu mendadak menangis dihadapannya...sungguh drama yang tak pernah ia bayangkan—sampai ia merasa itu hanya mimpi. Ketika ia memasuki kamar, gadis albino itu turun dari tempat tidur milik Hungary dan sekejap merengkuh personifikasi negara republik tersebut, membuatnya goyah hingga keduanya jatuh terduduk ke tanah. Gadis itu mencengkeram kaus putih yang Hungary kenakan, tangisnya semakin memecah keheningan hujan.
"Preuβen...ada apa...? Kenapa kau..." Perlahan kedua tangan Hungary melingkari tubuh hangat gadis albino tersebut, salah satu tangannya mengelus-elus mahkota keperakan yang dimiliki gadis itu.
"..." Ia tidak menjawab.
"Tidak apa-apa kalau kau tak mau jawab," Hungary memperdalam pelukan mereka. "Tenanglah...jangan menangis, aku ada disini."
Gadis dalam rengkuhan tersebut tengah menutup matanya kembali—kembali ke peristirahatannya. Hungary membaringkannya diatas tempat tidur, ia ikut duduk disamping teman kecilnya itu terbaring. Beberapa memori lama kembali terangkat di benaknya.
Dulu sekali mereka bertiga—bersama Austria, tentunya—sering bermain di padang bunga sekitar pelataran kompleks bernama Eropa itu. Berlarian tak kenal lelah dari hari yang terik hingga malam yang dingin, tidur dibawah naungan pepohonan rimbun bersama. Tawa, canda, saat bahagia—semua membuat hidupnya merasa terpenuhi.
Melihat pelupuk matanya yang tertutup kini, bukanlah perasaan yang sama. Ia tidak tega meninggalkan dendalion rapuh begitu saja di taman yang sudah meranggas. Walau ia tidak tahu apa yang terjadi, kesedihan tengah menggerogoti mentalnya. Entah atas dasar apa, ia menelpon Austria kembali.
"Halo, Hungary-kun? Ada apa?"
Mendadak kata-kata yang ingin ia utarakan tersangkut di tenggorokannya.
"Hn, kenapa? Obaka-chan baik-baik saja, kan?"
"Emm..." nadanya agak getir. "A-Ah iya...dia baru saja bangun lalu tidur lagi,"
"Ada apa sih? Kok kayaknya murung?" tanya Austria penasaran.
"O-Oh ya! Besok pagi akan kuantar Prussia-chan kembali ke asrama wanita. Usahakan kau bangun sebelum aku datang, ya~"
"Baiklah...kalau begitu,"
Hungary menutup pembicaraan, sesekali ia membelai pipi Prussia yang tengah basah akibat tangisnya. Ia bertanya, ada apa? Kenapa ia tergeletak disana ketika itu? Apa yang sudah terjadi?
Hujan masih turun ke bumi, tidak menandakan akan berakhir. Malam itu berlalu sunyi, berharap esok hari akan lebih cerah dari hari ini.
/
Bersambung.
INI KOK MALAH JADI MENDAYU-DAYU GINI SIH O_o *authorgeblek*
Yak, saya kebanyakan baca wacana bahasa indonesia jadi beginilah jadinya, gombal! HUMORNYA GA KERASAAAA! /plek (?)
Rasanya kok Prussia OOC banget jadi versi fem! ...apa cuma perasaan saya doang ya orz. Chapter berikutnya bakal nyeritain soal goukon dan pastinya habis UN baru saya update. Ada yang bisa nebak kenapa si Prussia? Lumayan juga sih saya menyediakan twist romens aneh untuk cerita geblek ini...
Anyways, ada reviewkah untuk penutup chapter ini~? *diamuk massa*
