"Itu tadi Om ku, Jong. Bagimana?" Tanya Kyungsoo ketika aku memasuki kamarnya.

"Bagaimana apanya, Soo?" Aku berbalik tanya.

"Ihhh maksudku bagaimana penilaian mu terhadap Om Sehun ketika bertemu tadi?" Jelas Kyungsoo.

"Oh itu…. Ah biasa saja dia. Yang model om mu ini mah gampang dicari diluar sana." Aku berbohong pada Kyungsoo.

"Ah syukurlah, kalau kau menggodanya dan kalian ada main belakang. Akan kuhajar kau, Jong!" Kata Kyungsoo.

"Uhhh kau menyeramkan sekali, Soo…" Ungkapku.

Aku terus bersikap seperti tidak terjadi apa-apa. Padahal, dalam hatiku seperti ada api yang meluap-luap karena melihat kesempurnaan seorang Sehun. Ini tidak benar, sangat tidak benar. Untuk pertama kalinya, aku membohongi sahabatku sendiri. Maafkan aku, Soo…. Kali ini aku sepertinya tergila-gila pada pandangan pertama dengan om mu itu.

"Jong, aku mandi dulu ya. Tadi aku sudah pesan pizza nya. Uangnya di dompetku. Ambil saja, kau tidur-tidur dulu sambil tunggu ya!" Kata Kyungsoo sambil melepas bajunya didepanku.

"Siap nona! Assssiiikkk di traktir makan pizza." Aku kegirangan sambil berguling-guling di tempat tidur milik Kyungsoo.

Sembari menunggu pizza datang, aku iseng-iseng membuka ponsel milik Kyungsoo. Pikiran jahatku mulai beraksi, aku mencari-cari no ponsel Om Sehun. Tak lama mencari no ponsel Om Sehun, akhirnya ketemu juga. Kyungsoo memberi nama "Om Sehun Ganteng", agak kurang ajar memang dia. Tapi memang begitulah Kyungsoo yang ku kenal. Seperti pencuri, aku mulai menyalin nomor ponsel Om Sehun. Jangan sampai ketahuan Kyungsoo, harus kunamai apa ya? Om? Ah tapi nanti tertukar dengan jajaran Om-Om ku yang lainnya. Kunamai Om Sehun? Nanti Kyungsoo malah marah-marah. Yap, akhirnya kunamai "Daddy" terlihat mencolok namun jika Kyungsoo satu saat bertanya tentang ini, akan kujawab saja bahwa dia adalah teman kencanku. Yak, lihat betapa cerdasnya Kim Jongin ini? Selesai menyalin nomor ponsel Om Sehun, aku meletakkan ponsel Kyungsoo ke tempatnya kembali. Karena bosan, aku keluar dari kamar Kyungsoo, siapa tahu bisa bertemu Om Sehun lagi, pikirku. Dan benar saja, tak lama aku berjalan disekitar rumah Kyungsoo, aku mendapati Om Sehun yang sedang duduk santai dipinggir kolam renang. Wajahnya begitu serius membaca buku tebal yang dipegangnya itu. Tipikal orang-orang pintar dan berwibawa tinggi, menurutku. Sialnya, lagi-lagi aku merasa dia sangat seksi bahkan pada waktu membaca seperti itu. Apa yang harus kulakukan selanjutnya ya? Menyapanya? Mendekatinya? Atau hanya memperhatikannya dari jauh? Aku tak mungkin langsung bertindak seperti jalang didepan Om Sehun. Bisa hancur reputasiku sebagai sahabat Kyungsoo ini.

Mata laki-laki itu tiba-tiba mengarah padaku. Tatap tajam dominannya seolah menangkapku yang diam-diam memperhatikannya. Ah sejak kapan dia tahu bahwa aku ada disini? Sial! Jongin bodoh! Jongin bodoh! Aku merutuki diriku sendiri.

"Jongin, kau kah itu?" Om Sehun bersuara.

"Eh… Emm… Iya, Om…" Jawabku sekenanya, aku gugup.

"Kenapa disana? Kemarilah!" Om Sehun menyuruhku mendekatinya.

"Maaf Om, aku tadi sedang jalan-jalan saja. Aku tidak tahu Om ada disini." Ungkapku.

"Ya, tidak apa-apa. Apa kau sudah makan? Aku seperti orangtua yang tak sopan pada tamunya karena tidak menyuguhkan apapun." Katanya.

"Ah tidak apa-apa Om, aku dan Kyungsoo sudah memesan pizza tadi." Jawabku.

"Oh benarkah? Bagus kalau begitu, Kyungsoo pasti lebih tahu tentang selera sahabatnya yang cantik ini." Om Sehun mengeluarkan rayuannya lagi.

"Hehe… Om bisa saja. Kalau begitu, saya pergi ke kamar Kyungsoo lagi ya Om." Ucapku.

"Buru-buru sekali?" Om Sehun menarik tanganku tiba-tiba.

Tangannya yang kokoh penuh dengan urat kehijauan itu menyentuhku, menggenggamku. Membuat degup jantungku tak karuan, takut-takut lompat dari tempatnya. Ia mencegahku pergi? Uh, aku sangat kaget dengan apa yang dia lakukan.

"Anu, om… Saya takut Kyungsoo mencari saya." Aku gugup, sangat gugup.

"Kamu cantik sekali, Jong… Ijinkan saya untuk mengenal kamu." Ucapnya, gila bagiku.

"T…Ta…Tapi… Om.. Om … Saya … Saya harus kembali menemui Kyungsoo dulu." Rasanya mau mati ditatap dan dicengkram tangannya oleh Om Sehun.

Demi apapun Kyungsoo, Om mu sangat-sangat hot dan menarik. Aku sungguh minta maaf atas semuanya. Aku takut khilaf.

"Baiklah, maaf sudah memaksamu. Lain kali jika kita bertemu, aku harap bisa berkenalan lebih denganmu." Ungkap Om Sehun padaku. Ia pun melepaskan cengkramannya dan membiarkan tanganku terbebas kini.

"I…I..Ya , Om. Maaf sudah mengganggu waktu Om. Saya permisi dulu." Akupun langsung menghilang dari hadapan Om Sehun.

Jantungku masih berdegup sangat kencang meski sudah menjauhkan diri dari Om Sehun. Tak biasanya seperti ini, harusnya dialah yang tunduk akan pesonaku. Harusnya aku tak perlu gugup seperti ini, jika diingat aku sudah berkali-kali menghadapi lelaki macam Om Sehun. Tapi dia memang berbeda, entah kenapa, dia benar-benar menarik perhatianku.

"Jong… Jongin…" Kyungsoo terdengar berteriak memanggilku.

"Iya Soo… Aku ada dibawah." Aku membalasnya dengan berteriak juga.

"Mana pizza nya?" Tanya Kyungsoo menghampiriku.

"Belum datang, Soo. Macet kali." Jawabku sekenanya.

"Ah aku kira kau tadi kebawah menemui pengantar pizza. Ternyata malah belum datang." Kata Kyungsoo.

"Iya mana aku tau, tadi aku cek diluar belum ada orang." Padahal aku tidak mengecek keadaan luar, tapi malah menemui Om Sehun.

"Ya sudah tunggu saja diluar sana! Aku buatkan teh ya. Kau kan suka sekali teh." Ucap Kyungsoo sambil berjalan menuju dapur.

Dan lima menit setelah Kyungsoo mengatakan hal itu, pizza pesanan kami datang.


Kyungsoo membuka laptopnya tepat setelah aku membersihkan lantai kamarnya dari sisa-sisa pizza yang berceceran. Yap, kami berdua akan menyelesaikan tugas yang sudah menumpuk beberapa hari lalu. Kali ini aku harus fokus dengan tugas, tidak dengan hal-hal tak bermanfaat diluar sana, seperti Om Sehun misalnya. Jangan, pokoknya jangan! Harus fokus tugas terlebih dahulu.

"Kyungsoo, aku sudah menandai bagian isi dibuku yang kemarin aku pinjam di perpustakaan. Tinggal menyalin saja, lalu buat kesimpulan di akhirnya. Kau paham apa maksudku, kan?" Aku mulai fokus pada tugas.

"Iya, iya, akan ku ketik dengan baik nantinya. Lagipula tinggal menyalin saja, mudah itu Jong…" Jawab Kyungsoo yang kini juga sibuk menekan-nekan keyboard.

"Jong, tolong catatkan referensi buku yang telah kita ambil tadi. Harus dilampirkan disini."

"Siap nona Kyungsoo!"

Kamipun larut dengan kesibukan yang seharusnya memang dilakukan mahasiswi lain. Bukan dengan sex, alcohol, atau bermain-main di klub malam. Sebuah kehidupan yang memang seharusnya dijalani, sayangnya kehidupan seperti ini terlalu membosankan bagiku dan Kyungsoo. Harus ada tantangan lain yang bisa membuat hidup berwarna. Seperti bermain-main dengan lelaki, misalnya.

KRING… KRINGG…

Ponsel Kyungsoo berbunyi.

"Angkat Soo!" Ucapku, yang merasa tak nyaman dengan suara ponsel Kyungsoo itu.

"Malas, paling juga om-om genit." Jawab Kyungsoo, terdengar acuh.

"Angkat dulu, lalu katakan kau sedang membuat tugas."

"Kau saja yang angkat!" Titah Kyungsoo padaku.

"Baiklah… Baiklah…" Aku mengalah.

"Halo… Ya, ini Kim Jongin, teman Do Kyungsoo."

"Halo… Ini Park Chanyeol." Kata lelaki diseberang telepon sana.

"Ada perlu apa ya? Kyungsoo sedang sibuk membuat tugas kuliahnya." Ucapku.

"Tugas? Yang benar saja? Dia membuat tugas? Sungguh keajaiban. Oh iya, Kim Jongin, tolong sampaikan salam rinduku pada temanmu yang galak-galak manis itu ya." Kata Chanyeol.

"Oh okay, hanya itu saja?"

"Satu lagi, nanti malam aku akan menemuinya dirumah. Aku sudah tahu dimana rumah Kyungsoo." kata Chanyeol, membuatku kaget.

"Soo, Chanyeol mau kerumahmu nanti malam. Bagaimana ini?" tanyaku, membuat Kyungsoo kaget bukan kepalang.

"Apa? Si brengsek itu mau kerumah nanti malam? Mati aku, bagaimana jika Om Sehun tahu?" Kyungsoo bingung.

"Ya sudah katakan saja jika Chanyeol adalah teman kuliahmu. Beres, kan? Lagipula ada aku yang akan membelamu." Ucapku, membuat Kyungsoo tenang.

"Ck, aku akan membunuhnya nanti malam. Katakan itu pada Chanyeol, Jong!" Titah Kyungsoo.

"Halooo… Park Chanyeol… Kyungsoo bilang akan membunuhmu nanti malam." Ucapku ditelepon.

"Hah? Benarkah? Aku seperti tidak sabar ingin dibunuh oleh gadis manis nan galak seperti Kyungsoo itu. Katakan pada Kyungsoo bahwa aku akan membawa kondom yang banyak." Ujar Chanyeol.

Kyungsoo yang mendengar hal itu langsung naik darah.

"Bajingan kau Park Chanyeol! Awas saja nanti malam kau datang padaku, akan kubunuh kau!" Teriak Kyungsoo ditelepon.

"Soo, sabar Soo! Santai saja, santai. Hahaha… Ya Tuhan, kau mudah sekali emosi seperti ini hahaaha…. Sangat lucu." Aku hanya mampu tertawa melihat Kyungsoo marah-marah ditelepon.

Seketika Kyungsoo pun mengambil ponselnya dan mematikan panggilan dari Chanyeol.

"Dia memang gila!" kata Kyungsoo.

"Kau lebih gila, Soo. Berteriak ditelepon seperti itu." Ungkapku.

"Ahhh aku tidak menyangka lelaki bajingan itu sampai mencari alamat rumahku. Dia tak bohong padaku."

"Sebentar, sebentar. Bisa kau ceritakan padaku, siapa Chanyeol dan kenapa dia tiba-tiba ingin menemui mu dirumah? Aku belum pernah tahu kau punya kenalan bernama Park Chanyeol itu." Kataku.

"Maaf, Jong… Aku menyembunyikannya darimu. Aku mengenal Chanyeol sebulan yang lalu. Kau ingat ketika aku mengajakmu ke klub malam, tapi kau sedang flu? Ya, itu akhirnya aku pergi sendirian dan berkenalan dengan Chanyeol di klub malam itu." Kyungsoo menjelaskan.

"Iya, lalu? Kenapa dia bisa tahu rumahmu? Dan untuk apa menemuimu? Memangnya dia menyukaimu?" Aku bertanya, penasaran.

"Itu dia, Jongggg… Kami melakukan one night stand, dan dia bilang kalau dia sangat menyukaiku. Dia adalah junior manager di Love Hotel dekat klub malam langganan kita. Dia bilang sangat tertarik denganku dan ingin bertemu denganku lagi." Tambah Kyungsoo.

"Oh begitu, tapi kurasa tidak begitu masalah bagimu. Ya biarkan saja nanti malam dia kesini. Lagipula ada aku, semua akan baik-baik saja jika kita menghadapinya bersama. Benar bukan?"

"Tapi, Jong… Bagaimana jika nanti aku kelepasan ingin bercinta dengan Chanyeol? Bagaimana jika Om Sehun juga curiga? Bagaimana jika Om Sehun tahu bahwa keponakannya yang imut ini adalah gadis nakal? Bagaimana Jong? Bagaimana?" Kyungsoo panik.

"tenangkan dirimu, Soo. Tenang. Semuanya akan baik-baik saja. Om mu tidak akan tahu. Biar nanti aku yang mengalihkan perhatiannya." Ungkapku.

"Sungguh? Kau akan membantuku untuk menutupi semuanya?" Tanya Kyungsoo, dengan raut berbinar.

"Tentu saja! Kita kan sahabat. Kau harus ingat itu! Tak ada rahasia diantara kita." Jawabku sambil tersenyum pada Kyungsoo.

Kyungsoo memelukku, kami berbagi rasa satu sama lain. Ada kekhawatiran dalam dirinya, namun semua itu segera kutepis. Membiarkan Kyungsoo percaya padaku, sahabatnya yang akan selalu membantunya, kapanpun.


Malam harinya aku masih menemani Kyungsoo dikamar. Ia memintaku menginap malam ini. Tentu aku tidak menolak karena memang aku juga harus menyelesaikan tugasku secepatnya bersama Kyungsoo. Dan satu lagi, aku juga harus menemui Chanyeol, takut-takut ia macam-macam pada Kyungsoo ku itu.

"Dia akan datang jam berapa kira-kira?" Tanyaku pada Kyungsoo yang masih asik mengetik tugasnya.

"Aku juga tidak tahu. Dia belum menelepon lagi." Jawab Kyungsoo.

"Atau jangan-jangan dia tidak jadi kesini gara-gara tersesat?" Ungkapku.

"Mungkin saja, Jong. Aku juga tidak tahu, yang penting aku harus menyelesaikan tugasku ini. Baru kita bisa bebas." Kata Kyungsoo.

"Bukannya masih ada dua tugas lagi?"

"Ah iya ditambah dua tugas itu juga. Uhhhhh aku bosan sekali seharian hanya berkutat dengan tugas lagi, tugas lagi." Kyungsoo mengacak rambutnya.

"Aku lelah, Soo. Aku tidur dulu ya." Kataku.

"Jangan Jongggg! Bagaimana jika Chanyeol tiba-tiba datang?" Katanya.

"Ya kan ada Om Sehun, dia pasti melindungimu." Jawabku, sambil memejamkan mata karena lelah.

"Jong, tunggu sebentar! Jangan tidur dulu! Bagaimana jika Chanyeol membuka rahasia kita didepan Om Sehun? Aku bisa dilaporkan ke ibu." Kata Kyungsoo, panik.

Aku beranjak dari tempat tidur Kyungsoo.

"Baiklah, baiklah… Aku tidak akan tidur sampai Chanyeol datang." Ucapku.

"Nah gitu dong, Jong… Kau memang sahabat yang setia." Kyungsoo tersenyum.

"Tapi buatkan aku makanan dulu, aku lapar."

"Kau yakin ingin makan malam? Nanti gemuk loh…" Ujar Kyungsoo.

"Persetan dengan gemuk itu! aku mau makan, Soo… Mau makan…" Aku akhirnya berteriak padanya.

"Aish,, iya iya… Aku buatkan. Kau tunggu disini ya! Aku mau kedapur dulu." Kyungsoo langsung berjalan menuju dapur.

"Kalau jalan-jalan didalam rumahmu boleh tidak, Soo?" Tanyaku terlebih dahulu.

"Terserah! Yang penting kau jangan merusaknya saja. Hahaha…" Teriak Kyungsoo dibalik pintu.

"Baiklah! Siap nonaaaaaa…" Balasku.

Yap, kegiatan membuat tugas seperti ini sangat membosankan bagiku. Beruntung masih ada teman seperti Kyungsoo yang setia membagi waktu dan tenaganya untuk menyelesaikan tugas-tugas dikampus. Karena bosan, aku akan jalan-jalan sebentar. Oh ya, ngomong-ngomong dimana kamar Om Sehun itu? Entah kenapa aku jadi penasaran lagi. Padahal tiap aku berhadapan dengannya, aku berubah jadi gadis yang kaku dan bodoh. Aihhh,… Bahkan jantungku pun seakan ingin melompat dari tempatnya saat melihat Om Sehun didepanku. Bagaimana bisa dia terlihat sangat seksi seperti itu? Bukankah beruntung menjadi istrinya?

Aku berjalan pelan keluar kamar Kyungsoo. Setahuku ada beberapa kamar lagi setelahnya. Kamar itu kalau tidak salah pernah dipakai oleh Kakak Laki-laki Kyungsoo yang sudah menikah dan kini menetap di China. Apakah kamar itu kini ditempati oleh Om nya Kyungsoo? Aku perlahan coba melihatnya. Pintu kamarnya tidak tertutup sempurna, dan aku yakin didalam sana pasti ada seseorang. Om Sehun kah?

Gila! Aku gila! Seperti seorang penguntit professional, aku meihat dari celah pintu. Didalam kamar sana ada Om Sehun yang kini hanya memakai selembar handuk dipinggangnya.

"Terkutuk kau Kim Jongin!" Aku mengutuk diriku sendiri karena kalangkabut melihat pemandangan didepan sana.

"Dia, baru selesai mandi?" Gumamku pelan.

Tubuhku bergetar, jantungku berdegup kencang. Apa dia keturunan dewa Eros? Kenapa ia sangat sempurna dan seksi seperti itu? Tubuhnya kekar dan berotot, dadanya bidang dan perutnya membentuk enam kotak-kotak disana. Ditambah dengan rambut hitam legamnya yang kini basah, membuatku gila melihatnya.

"Oh shit! Kim Jongin! Kau sudah berapa kali melihat om-om seksi sepertinya? Sudah sangat sering, tapi kenapa untuk yang satu ini kau malah begitu lemah hanya dengan melihatnya saja?" Gumamku lagi, tak karuan.

Akhirnya aku tetap melanjutkan kegiatan menguntitku meski perasaanku sudah diluar kendali. Aku tetap saja penasaran dengan pria satu ini. Di usianya yang sudah dewasa, ia sangat pintar merawat diri. Mungkin saja dia masih rajin berolahraga dan menjaga pola makannya? Ini semua terlihat dari lekuk tubuh yang ia miliki. Kalau om-om dengan dompet tebal yang biasa kujumpai di klub malam sih sudah buncit dan keriput sana-sini. Tapi ini benar-benar berbeda, dia om-om special rupanya.

Sesekali, Om Sehun mengusap rambut basahnya. Membuatku mulai berfantasi gila tentang bagaimana jika aku bercinta dengannya dibawah guyuran air? Kupastikan ia sangat seksi dan menggairahkan.

CKLEKK…

"Kim Jongin bodoh!" Aku berteriak dalam hati, tak sengaja menyentuh gagang pintu dan akhirnya menimbulkan bunyi yang mengagetkan.

"Sembunyi! Ah sial, sembunyi dimana?" Teriakku dalam hati sambil panik tidak karuan.

"Siapa?" Om Sehun menoleh kearahku.

"Omo, apa aku ketahuan?" Aku gemetar.

"Kyungsoo?" Om Sehun memanggil Kyungsoo sekenanya.

"Atau… …" Ia melanjutkan kata-katanya.

"Jongin?"

"Kau kah itu, Jongin?" Om Sehun memanggilku sambil berjalan mendekati pintu.

Aku tidak bisa kabur lagi, tubuhku kaku. Aku harus bagaimana? Harus memberi alasan apa? Bodoh! Aku harus mengarang cerita!

"Jongin? Kenapa diluar?" Tanya Om Sehun sambil membuka pintu perlahan dan menemukanku mematung disana.

"Aku… Aku… Aku…. Emmmm…." Aku gugup sekali.

"Kenapa kau ada diluar? Ada perlu apa denganku?" tanya Om Sehun begitu tenang.

"Itu… Om… Itu… Aku…" Sial sial sial! Bibirku kelu.

"Kau tidak sedang mengintipku, kan?" Pertanyaan membunuh dari Om Sehunpun akhirnya keluar.

"Hah? Mengintip? Ah… Aku? Ah tidak… Akuuu… Aku…" Sial masih saja sulit berujar didepan Om Sehun ini.

"Jongin, santai saja. Kenapa denganmu ini?" Om Sehun tersenyum padaku.

Tangannya kemudian meraih tengkukku, membelai pipiku dengan tangannya. Ia tersenyum begitu indah didepanku. Sedang aku masih terpaku dan gemetar dengan apa yang ia lakukan kini. Harus apa aku? Ini gila, sangat gila.

"Tenang saja, Jong. Jangan takut padaku. Lihat wajah cantikmu itu, jadi pucat gara-gara panik. Katakan pelan-pelan, ada apa sebenarnya?" Tanya Om Sehun lagi.

"Tidak… Tidak ada apa-apa." Jawabku sekenanya masih dengan suara bergetar.

"Jika memang tidak ada apa-apa, berarti kau sengaja mengintipku, huh?" Tanya Om Sehun lagi. Semakin membuatku gila.

Harus jawab apa aku? Ditambah lagi, kini Om Sehun semakin mendekatiku. Tubuh half nakednya membuatku tak bisa fokus.

"Ayo jawab, cantik… Apa bibir ini tidak bisa berfungsi dengan baik?" Tanya Om Sehun sambil mengusap bibirku dengan jarinya.

Sial, ingin ku sesap saja jari-jari kokohnya itu. Tapi aku harus menjaga reputasiku, aku tidak boleh terlihat nakal didepan Om Sehun. Tidak, tidak boleh!

"Kim Jongin… Kau tidak menjawab lagi." Kata Om Sehun.

"Ada apa? Bibirmu kaku, huh?"

"Perlu dilemaskan? Atau bagaimana?" Om Sehun menarik daguku, sehingga pandanganku kini tertuju pada wajah tampannya.

Apa yang akan dia lakukan dengan posisi seperti ini? Bukankah ini posisi lelaki yang akan mencium wanitanya? Tunggu… Tunggu… Secepat inikah tindakan Om Sehun padaku? Ah sial, aku sudah membayangkan yang tidak-tidak. Bibirnya, lidahnya, tangan kokohnya, tubuh kekarnya, dan… dan… permainannya di ranjang? Uh kotor sekali otakku.


Halooo... Terimakasih untuk review di Chapter 1 nya. Mohon maaf karena masih banyak kekurangan di update-an fiction kali ini. Akan disempatkan tiap hari update, makanya untuk yang penasaran stay tune terus yaa ^_^ . Maaf sekali untuk yang minta panggilan "OM" nya diganti. Saya sudah nyaman menulis pakai "OM" jadi akan tetap saya teruskan menulis dengan panggilan "OM".

Kalau susah bayangin Sehun jadi Om-Om, coba lihat foto-foto dia dengan dandanan dewasa deh, pasti bakalan ngena. Itu menurut akusih. Hahaha. Jangan lupa type review kalian ya, saya masih harus belajar banyak dari kalian para pembaca. Kalau ada yang gak enak selain panggilan "OM" tolong kasih tahu saya.

Terimakasih.