[ Perhatian! ]
Keseluruhan cerita adalan milik Authorwatiek tercinta, dilarang keras plagiat atau me-remake tanpa ijin kadi Kanjeng Thortiek. Nama karakter dalam cerita merupakan hak dagang milik temen arisan Kanjeng, Nyai Sooman.
.
SEONSAENGNIM, I LOVE YOU!
선생님, 사랑해요!
[ ChanBaek Yaoi ]
.
.
.
제 02 화
[ Revisi ]
.
.
Seperti sebelumnya, Chapter ini masih merupakan revisi dari naskah awal yang pernah aku upload. Ada sedikit penambahan dan pengurangan disana-sini, Hope you like it.. Chapter berikutnya udah updatean baru ya.
Review please 3
-Thortiek-
Abaikan Typo!
.
Hari ini adalah hari pertama Baekhyun di sekolah barunya. Dengan ditemani Ibu, Ia melangkahkan kakinya memasuki lingkungan sekolah menyusuri setiap koridor yang ada menuju ruang guru.
Baekhyun tak dapat menahan pandangannya terhadap sekelilingnya, SMA Keseki merupakan salas satu sekolah yang terkenal di Seoul, banyak anak-anak pejabat, pengusaha dan artis yang bersekolah disana. Baekhyun merasa cukup beruntung diterima disekolah ini, Ia juga sebenarnya masih sering bertanya-tanya dengan kapasitas otaknya yang lemah dan kecil ini entah pelet apa yang digunakan ibunya hingga berhasil membuatnya diterima masuk.
Baekhyun menyapa setiap orang yang ditemuinya dengan riang gembira, terlebih lagi saat bertemu orang-orang yang Ia tahu merupakan anak konglomerat Korea.
"Hai, namaku Baekhyun!"
"Wooaahh! Kau kan…. Kau Kim Min Seok anak Si pengusaha Ramyeon itu kan!?"
"Ka.. kau! Aktor berbakat, Park Oh Sah kan!?"
"Ommo ommo.. Ayahmu anggota dewan yang ketahuan korupsi itu kan!?"
"Kau anak Presdir Agensi SGM Entertainment kan!"
"Kau! Kau anak siapa?"
.
.
Dan disinilah mereka sekarang, berdiri di depan pintu ruang guru. Perlahan Ibu memutar gagang pintu dan mendongakkan kepalanya kedalam, "Annyeonghaseo…" sapanya.
"Omo, Annyeonghaseo Eommoni.. selamat datang disekolah kami." Sambut Wakepsek ramah yang langsung menyalami Ibu dan mempersilahkannya duduk disalah satu kursi diruangan tersebut.
"Aku mengantar anakku yang ingin bersekolah disini." Ibu mendorong Baekhyun yang sedang berdiri disampingnya.
"Kau pasti Baekhyun kan? Semoga kau bisa betah disekolah ini." Ucap Wakepsek yang akhirnya menjabat tangan Baekhyun.
"Annyeonghaseo, Byun Baekhyun-imnida." Balas Baekhyun dengan melakukan deep bow.
"Baiklah Seonsaengnim, Aku permisi dulu masih ada urusan lain yang hasrus kukerjakan. Aku menitip Baekhyun padamu. Kalau nakal dijewer saja, hahaha… Baekhyun-ah, jadilah anak baik, Ok!?" Ibu mengusap pelan puncak kepala Baekhyun dan akhirnya pamit keluar dari ruangan.
Setelah mengantar kepergian Ibu Baekhyun, Wakepsek kembali menghampiri Baekhyun dan mengajaknya ke meja salah satu guru yang sedang sibuk dengan komputer dihadapannya. "Baiklah Baekhyun, mari temui wali kelasmu. Beliau merupakan guru yang mengajar IPA disini.
"Park Chanyeol-ssi?" ucap Baekhyun reflex, terkejut melihat sosok dihadapannya.
"Baekhyun!?" Chanyeol mengentikan kegiatannya, mengalihkan pandangannya dari layar monitor dan menatap takjub kearah Baekhyun.
"Kalian sudah saling mengenal?" Tanya Wakepsek.
"Iya, kami pernah beberapa kali bertemu sebelumnya." Chanyeol tersenyum, mematikan komputer dan meraih tumpukan buku di mejanya.
"Baiklah kalau begitu, berarti kita tidak perlu berkenalan lebih lanjut kan? Park Seonsangenim, mulai hari ini Baekhyun akan menjadi anak walimu, dia tanggungjawabmu sekarang."
"Baekhyun, ayo ikut aku ke kelas.. jam pelajaran pertama akan segera dimulai." Chanyeol berdiri dan membawa Baekhyun yang mengikutinya dari samping berjalan menyusuri koridor menuju ruang kelas 11-4.
"Jadi Oppa mengajar disini?" Tanya Baekhyun antusias.
"Ya, aku mengajar IPA. Tidak kusangka kita akan bertemu lagi sebagai guru dan murid, berteman baiklah dnegan teman-teman sekelasmu nanti." Ucap Chanyeol ramah.
Baekhyun mengangguk, merasa benar-benar senang. Dia hanya terus memandang wali kelasnya dengan tersenyum.
"Berhenti memandangiku seperti itu, kita sudah sampai. Ini kelasmu." Chanyeol menyentil pelan kening Baekhyun.
"Auuw.." gerutunya.
"Ayo masuk." Chanyeol membuka pintu kelas dan melangkah masuk diikuti Baekhyun. Kelas yang tadinya ramai menjadi hening ketika Baekhyun menunjukan wajahnya, semua pandangan kini mengarah ke Baekhyun. Baekhyun hanya tersenyum dan tetap memandangi Chanyeol.
"Selamat pagi anak-anak. Duduk di kursi kalian masing-masing, hari ini kelas kita kedatangan murid pindahan." Ucap Chanyeol berwibawa, semua murid duduk mendengarkan dengan tenang.
"Nah Baekhyun, sekarang perkenalkan dirimu kepada teman-teman kelasmu!" Ucapnya lembut.
Baekhyun maju selangkah dan berdiri menghadap teman-teman sekelasnya. "Annyeonghaseo yeorobun! Namaku Byun Baekhyun, siswa pindahan dari Yeonju. Mohon bantuannya!"
Baekhyun melakukan deep bow, mengangkat tubuhnya dan menujukkan senyum lebar diwajahnya. Baekhyun siap untuk memulai perjalanan cintanya!
.
.
.
.
[ Jongin's Point of View ]
Membosankan. Sama seperti hari-hari biasanya, hari ini pun terasa membosankan bagiku. Aku merasa heran dengan mereka yang selalu datang ke sekolah dengan penuh semangat. Jujur saja tidak suka aturan-aturan disekolah yang terkesan mengekang, tidak boleh begini dan tidak boleh begitu. Aku ingin menjadi orang yang bebas, tidak suka terikat dengan aturan.
Aku iri dengan burung-burung yang dapat terbang bebas di udara, mengepakkan sayapnya melawanan angin tanpa takut terjatuh. Jika saja bias terlahir kembali, aku ingin terlahir sebagai burung, bukannya seseorang yang memiliki burung.. eehh, apaan sih?
Mungkin karena itulah aku disebut sebagai pembuat onar dan berandalan disekolah. Sebuah sebutan yang membuatku ingin semakin mendalami peran yang mereka berikan padaku.
Dan seperti belum cukup, suasana di kelas pagi ini benar-benar berisik. Tidak bisakah mereka diam saja? Apa gunanya mengobrol dengan suara sekeras itu? Kadang aku penasaran, apa sih yang selalu mereka obrolkan setiap pagi.
Ah.. ini semua salah Ayah! Jika saja dia mengabulkan keinginanku untuk berhenti sekolah, aku tak perlu berada di tempat ini dan dapat melakukan hal-hal yang kusuka, mendaki gunung atau mengelilingi tempat yang ingin aku kunjungi. Aku pasti tidak akan semenderita ini, aku tidak ingin menghabiskan 3 tahun berhargaku seperti ini!
"Yaakk... bias diam sedikit tidak? Ini masih sangat pagi bagi kalian untuk meributkan hal-hal yang tidak perlu! Apa tidak ada ketua kelas disini? Kenapa berisik sekali!" teriakku memukul meja dengan perasaan muak. Kini semua tatapan dikelas tertuju padaku, tatapan kesal dan takut.
Persetan dengan tatapan mereka! Setidaknya suasana kelas menjadi jauh lebih tenang dan aku bisa melanjutkan tidurku yang sempat terpotong karena harus bangun pagi.
Aku memejamkan mata berusaha untuk tidur. Perlahan rasa kantuk mulai menyusup dan berhasil membuatku sedikit terlelap. Samar-samar dapat kudengar suara Park-ssaem yang menyuruh semua siswa untuk duduk di kursi masing-masing. Ah, entah apa yang akan terjadi nanti, aku benar-benar mengantuk.
.
.
.
Aku tiba-tiba terbangun karena merasakan sesuatu di pipi ku, sesuatu seperti sebuah tusukan yang lembut. "Akh.." gerutuku kesal. Ada apa ini? Siapa yang berani mengganggu tidur berhargaku? Aku membuka mataku perlahan dan mengakat kepala dari atas meja.
Pandangan mataku langsung menangkap sesosok cowok atau mungkin cewek? Ahhh entahlah.. sedang duduk disampingku, tersenyum.
"Siapa kau?" ucapku tak suka.
"Namaku Baekhyun." Jawabnya.
Baekhyun? Itu artinya dia seorang namja kan? Aku sempat mengira dia Yeoja karena wajahnya yang manis. Ngomong-ngomong siapa dia? Aku tidak pernah melihatnya dikelas ini.
"Siapa kamu? Kenapa siswa dari kelas lain masuk ke sini?"
"Waah waahh.. sepertinya kau terlalu asyik tisur sampai tidak tau kalau aku siswa baru di kelas ini, aku teman sebangkumu." Ucapnya mengelus-elus puncak kepalaku dengan senyum meremehkan diwajahnya. "Kau beruntung Park-ssaem mengabaikan dan tidak menghukummu."
Aku menatapnya tajam, merasa tersinggung dnegan sikapnya yang menurutku tidak sopan. Baekhyun balas menatapku masih dengan senyuman yang memuakkan, mengabaikan pandangan tak suka yang aku berikan. Sepertinya dia benar-benar tidak kenal takut. Mungkin dia belum tau siapa aku.
"Ayo kita makan siang sama-sama di kantin, sudah jam istirahat." Ajaknya. Cowok itu berdiri dan menggerakkan jarinya seolah-olah sedang memanggil anak anjing.
"Gak mau. Kenapa harus aku?" tanyaku. Tunggu dulu! Apa dia sedang mencoba menjadi akrab denganku? Kami bahkan tidak saling kenal.
"Kau kelihatan kesepian, sepertinya tidak punya teman di kelas ini. Jadi mari berteman!" Baekhyun mengulurkan tangannya.
Kini sku merasa benar-benar geram. Aku berdiri dan memberinya peringatan, "Kau.. berhentilan sok akrab padaku! Apa kau mengenalku? Menjauhlah, aku tidak mau berteman dengan orang sepertimu." Aku meraih tas disampingku dan langsung berjalan pergi dari kelas.
Namja itu harus merasa bersyukur, jika saja bukan karena wajahnya yang manis aku pasti sudah memukulnya dengan kedua tanganku.
Samar-samar dapat kudengar teriakan lemahnya, "Jongin-ahh.. kau mengambil tasku!"
[ Jongin's POV End ]
.
.
.
.
Baekhyun berjalan santai menuju kantin sekolah. Sejauh ini hari pertamanya di SMA Keseki berjalan lancar, ada Park-ssaem yang tampan, teman-teman kelas yang dengan senang hati memberikannya contekan tugas, bahkan penjaga toilet yang dengan ramahnya hendak akan membuka resleting celana Baekhyun saat hendak buang air kecil kalau saja tidak dicegah oleh salah satu teman yang tidak dikenalnya. Semuanya terasa menyenangkan bagi Baekhyun, setidaknya sebelum dia berkenalan dengan cowok menyebalkan bernama Kim Jongin.
"Kalau dipikir-pikir, apa salahku? Aku hanya sedang mencoba bersahabat dengannya. Semua teman-teman di kelas menyambutku dengan baik kecuali dia. Ahh.. sungguh tipe cowok yang kaku." Ucapnya bermonolog.
Baekhyun berjalan menuju food stand mengambil nampan makanan dan mulai mengisinya. Tidak lupa Baekhyun juga mengambil Milk Shake Strawberry kesukaannya. Ia kemudian berjalan mencari tempat duduk yang kosong. Cukup sulit baginya untuk menemukan meja yang kosong karena kantin akan sangat ramai saat sedang jam istirahat.
Bekhyun memutar matanya mengitari kantin, mencari kalau-kalau ada satu saja meja kosong yang bias Ia duduki. Dan yak, dia beruntung . di pojok kantin ada satu kursi yang kosong, dan kursi itu bersebelahan dengan tempat Park Chanyeol duduk.
"Heol, beruntung sekali aku!" batinnya girang.
"Park-ssaem!" sapa Baekhyun menghampiri gurunya itu. Chanyeol menghentikan suapan supnya dan menoleh kearah Baekhyun.
"Baekhyun-a, kau baru akan makan?"
"Iya, tapi susah sekali menemukan tempat yang kosong. Perutku sudah sangat kelaparan, seandainya saja ada orang baik yang mengijinkanku duduk di pangkuannya.." ucap Baekhyun mengerutkan bibirnya mengabaikan kursi di samping Chanyeol, pandangannya kini sedang tertuju kearah paha gurunya itu.
"Oh, kau beruntung ada satu kursi kosong disampingku, ayo duduk!" seru Chanyeol sembari menepuk kursi disamping tempatnya duduk.
Baekhyun meletakkan nampan makanannya di meja dan duduk, merasa senang bias makan berdua dengan Chanyeol. "Terima kasih Oppa. Hihihii.." bisiknya pelan, tersipu malu. Chanyeol hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya, dia sudah mulai terbiasa dengan sifat Baekhyun yang 'tidak biasa'.
"Bagaimana hari pertama mu disekolah? Apa semuanya lancer?" Chanyeol mencoba membuka percakapan sambil kembali melanjutkan suapan supnya.
"Menyenangkan! Sungguh sangat menyenangkan. Sekolah ini sangat besar dan luas, koridornya pun banyak sekali, aku sudah beberapa kali tersesat karenanya. Aku juga mendapatkan banyak teman yang baik." Celoteh Baekhyun dengan antusias.
"oh, syukurlah kalau begitu.."
"Seonsaengnim sendiri, apa benar tidak punya pacar?"
"Hummphhftt… apa?!" chanyeol hamper saja memuntahkan makanan di mulutnya karena kaget mendengar pertanyaan yang tiba-tiba.
"Tidak ada, aku tidak punya pacar."
"Kenapa? Bukannya banyak murid yang suka sama Ssaem?"
"Hahaha.. Baekhyun-a, meskipun begitu aku tidak mungkin pacaran dnegan muridku sendiri, itu melanggar aturan dan sumpahku sebagai seorang guru." Chanyeol tersenyum pada Baekhyun.
"Yahh.. berarti denganku…" gumam Baekhyun lirih, memasang wajah cemberut.
"Kau mengatakan sesuatu?" Tanya Chanyeol, sepertinya tidak mendengar ucapan Baekhyun barusan.
"Ah tidak Ssaem, ayo lanjut makan." Ucap Baekhyun canggung.
.
.
.
.
"Kalian semua, kelilingi ruangan ini dan cari murid-murid yang melanggar aturan!" Perintah Jennie, si ketua OSIS, lantang kepada anggota OSIS yang lain.
Siang ini seperti yang sudah rutin dilakukan setiap seminggu dua kali, mereka akan berpatroli keliling lingkungan sekolah dan menagkap siswa-siswa yang kedapatan tidak disiplin. Dan sekarang mereka sedang berpatroli di kantin sekolah. Satu per satu anggota OSIS berjalan menyusuri area kantin yang sedang ramai.
Baekhyun yang sedang menyantap makan siangnya melihat itu dan bertanya pada Chanyeol, "Apa mereka OSIS? Apa yang mereka lakukan disini?"
Chanyeol meminum jusnya hingga tandas kemudian mengangguk pelan, "Benar, mereka OSIS. Sepertinya sedang melakukan sweeping."
"oohh.." ucap Baekhyun tanda mengerti. Mengabaikan kehadiran para OSIS, Baekhyun kembali mencoba focus melanjutkan makan siangnya. Baekhyun tidak merasa terganggu apalagi takut, toh dia tidak pernah melanggar aturan kan?
"Ketua, ada satu disini!" teriak salah satu OSIS.
Baekhyun hamper menyemburkan makanan dimulutnya saat mengetahui suara teriakan tersebut berasal dari sampingnya. Baekhyun kemudian menoleh kesamping dan mendapati salah satu OSIS sedang duduk jongkok memandangi sepatunya.
"Sepatuku bagus kan? Mahal loh harganya, jangan disentuh ya." Ucap Baekhyun ramah.
Jennie beserta dua anggota OSIS disampingnya berjalan menghampiri tempat Baekhyun dan Chanyeol duduk. Kemudian berdiri bersedekap dan menatap tajam kearah Baekhyun.
"Kau memakai sepatu putih!" ucap Jennie tegas.
"Memang, terus kenapa?"
"Sepatuh putih dilarang disekolah ini!"
"Apa!?" ucap Baekhyun setengah berteriak, kemudian menoleh kearah Chanyeol, "Benarkah Ssaem? Kenapa tidak memberitahuku?"
"Mian, kau kan tidak Tanya. Lagipula mana aku tau kalau malam itu kau membeli sepatu putih." Ucapnya tersenyum.
"Ssaem!" Baekhyun merengut.
"Kalian.. Bawa anak ini!" ujar jennie pada Seonho dan Kenta. Sejurus kemudian, Baekhyun sudah berada dalam genggaman dua anggota OSIS itu.
"Yaaakk! Lepaskan! Aku mau dibawa kemana? Setidaknya ambil saja sepatuku… Park-ssaem.. toloong akuuu.." Baekhyun berusaha melepaskan genggaman pada kedua tangannya, meminta pertolongan pada Park Chanyeol.
Tapi tunggu dulu! Apa Chanyeol baru saja menggeser kursinya menjauh dan mengabaikannya? Park Chanyeol mengabaikannya? Tiba-tiba saja dada baekhyun terasa sakit. "aigoo… ini salah, kenapa aku bias jatuh cinta pada pria sepertinya?" batin Baekhyun.
"Park-ssaem…." Lirih Baekhyun, memasang puppy face andalannya, terus berharap pada Chanyeol. Tetapi tetap saja, sepertinya jurus tersebut kurang mempan. Chanyeol masih megacuhkannya.
"Ayo bawa dia!" ucap Jennie dengan nada tegas. Baekhyun kemudian diseret paksa keluar dari kantin, kini tanpa perlawanan apapun. Sekarang Baekhyun pasrah, dia masih syok dengan sikap acuh Park-ssaem tadi.
Dan tepat di depan kantin, Baekhyun yang melihat Jongin kemudian berteriak, "Jongin-a.. disini!"
Jongin yang mendengar teriakan Baekhyun kemudian berbalik, "sial, namja itu lagi!" batin Jongin menggerutu.
"Sunbae, namja itu.. bawa dia juga! Dia memakai kaos biasa, bukankah itu melanggar aturan?" seru baekhyun antusias pada Jennie si ketua OSIS.
Baekhyun bias melihat tatapan membunuh dari mata jongin. Baekhyun balas tersenyum jahil dan memeletkan lidahnya.
"rasakan! Setidaknya aku tidak dihukum sendirian." Batin Baekhyun penuh kemenangan Baekhyun puas bisa membalas perlakuan kasar dan menyebalkan Jongin pagi tadi.
"Kau, namja berkulit gelap disebelah sana.. ikut kami!" ucap Jennie tanpa bantahan.
.
.
.
.
[ To be continued ]
