Hopelessness

I'M NOT HIM

HUNHAN

Sebelumnya...

"Hyungieh... Ppallihae..." Rengek Luhan terburu-buru. Yeonseok sangat menyukai rengekan kekasihnya ini.

"Baiklah sayang, aku ak-"

TOK...TOK...TOK*

"YEONSEOK-AHH... LUHAN-AAH... CEPAT KELUAR, KITA MAKAN SIANG!"

Teriakan dan ketukan dari pintu kamar, suara dari seorang wanita paruh baya mengganggu kegiatan mereka... Membuat dahi Yeonseok mengeluarkan urat kesal dan telinga yang memerah...

"Eommaaaaaa... Aaaaaakh... Dasar wanitaaa tuaaaaa..." Teriak Yeonseok yang kini berguling-guling kesal, sambil mengacak-acak seprei sutranya, dan Luhan? Ia hanya bisa menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

[-]

~I'M NOT HIM~

[-]

Luhan menarik lengan Yeonseok berusaha menenangkannya sambil tersenyum kearah kekasihnya yang seperti tersiksa batin karena gangguan dari sang eomma membuat Luhan merasa kasihan. Dan Luhan memperbaiki suaranya dengan deheman kecilnya.

"Sebentar eommaaaa... Aku merapikan kamar Hyungie yang berantakaaa...aaan..." Teriak Luhan dan diselingi seringaian membuat Yeonseok melebarkan senyumannya saat sang eomma membalas.

"Baiklah sayaaaaang, jangan terburu-buruuu..."

Dengan gerakan seperti seorang atlet yang memenangkan mendali, begitu pula Yeonseok mengangkat kedua kepalan tangannya seperti mendapat beratus-ratus ton mendali kemenangan.

"Assaaaa!" Bisiknya riang.

Yeonseok pun kembali menindih Luhan dan membuka paha Luhan dengan terburu-buru, membuat Luhan terkikik kecil melihat kekasihnya yang terlalu senang, dan Yeonseok memasukkan dua jarinya kedalam mulut nya mengambil ludahnya berikut menyapu lubang Luhan agar sedikit licin.

"Tu-tunggu sebentar Hyungie..." Luhan menginterupsi kegiatan Yeonseok.

"Kenapa sayang?" Tanya-nya sambil terus menyapu jarinya di sekitar hole Luhan.

"Kau tidak memakai pengaman? Kau tau kan aku ini namja yang punya rahim.." Tanya Luhan dan herannya Luhan melihat Yeonseok mengangguk.

"Sayang... Kita akan menikah.. Hidup bersama... Jika kau hamil itu bukan masalah bukan.. Aku ingin secepatnya membuatmu mengandung anak kita.." Jawab Yeonseok mantap. Luhan pun akhirnya membiarkannya dan menikmati kembali sapuan jemari Yeonseok yang selalu membuat Luhan hilang akal.

[-]

Drrttt... Drrrttt...

Drrrtt... Drrttt...

"Hyungie, ponselku.." Ujar Luhan dengan suara yang sedikit serak karena kegiatan panas mereka tadi dan Yeonseok bergerak pelan saat masih merengkuh Luhan dengan lengan kirinya sambil mengambil ponsel Luhan dengan tangan kanannya yang bebas.

"Eoh—Bai Xian.. Adikmu yang menelfon.. Aku angkat."

"Yeoboseyo"

-Ini Yeonseok hyung? Ni hao?-

"Iya Baekhyun, aku baik.. Ni hao? Selamat atas wisudamu hari ini, maafkan kami yang tidak dapat menghadiri acaramu.. Gege manismu sangat merindukan mu.."

-Aku juga baik.. Tak apa-apa hyung, aku mengerti kesibukan kalian berdua. Cen te ma? Mana gege-ku.. Heheehe..-

Ponsel kini beralih ke telinga Luhan.

"Xian!"

-Gege!-

"Wo siang niii.. Selamat atas gelar mu Xian.."

-Xiexie ge! Wo ye siang ni.. Hen siang ni..- (aku juga merindukanmu.. Sangat merindukanmu)

"Aku harap kau siap mengadu nasib di Seoul.. Bagaimana pelajaran bahasa hangeul-mu Bai Xian?"

-Aku sudah belajar sedikit demi sedikit ge.. Walau sulit aku terus belajar bahasa hangeul.-

"Kau pasti berjalan lagi dari halte ke rumah.. Kenapa tidak bawa mobil?"

-Pu yao..- (Tidak mau)

"Jangan sering-sering sendirian saat pulang ke rumah.."

-Hanya ingin berjalan kaki ge.. Duibuqi..-

"Tak apa, aku hanya kuatir kepada adik cantikku.. Tunggu aku datang ya Xian.."

-Aku tampan ge! Aku akan menunggumu ge.. Hwaiting..-

"Baik lah tampan.. Tiga hari lagi aku akan mengunjungi mu..do'a kan aku.."

-Baiklah.. Kalau begitu aku tutup ge, aku hampir sampai.. Pai-paiii..-

"Pai-pai.."

Luhan pun menekan icon merah, dan meletakkan kembali ke meja nakas, pandangannya beralih ke Yeonseok yang hampir tertidur.

"Ayo Hyungie, sebaiknya kita membersihkan diri.. Appa dan eomma pasti sudah menunggu terlalu lama.." Luhan berusaha bangkit walau sangat lelah dengan olah raga siang bersama kekasihnya.

"Umm... Kajja.." Yeonseok membantu Luhan berjalan ke arah kamar mandi dengan tubuh polos mereka.

"Eomma.. Appa.. Mianhae, aku membantu Luhan membersihkan kamar, sudah lama tidak dibersihkan.." Sapa Yeonseok saat ia dan Luhan memasuki ruang makan mendudukkan dirinya di samping Tuan Oh Tae Woo sembari meneguk sedikit air putih yang berada di depannya, dan Luhan yang mendudukkan dirinya disamping Nyonya Oh Seo Hyun.

"Kau membersihkan kamar atau membersihkan tubuh Luhan oeh?" Tanya Nyonya Oh Seo Hyun sarkastis—

"Uhuk.. Uhuk.."

—membuat Yeonseok tersedak minumannya.

Luhan dengan cepat mengusap punggung Yeonseok yang terbatuk karena kalimat Nyonya Seo Hyun yang menusuk. Dan Tuan Tae Woo hanya terkekeh melihat nya.

"Eomma.. Apa yang kau katakan?" Rengek Yeonseok kesal, sekaligus malu bahwa sang eomma mencurigai kebenaran dari kata-katanya.

"Ya! Saekki-ya! Kau pikir aku tidak tau apa isi otak mu oeh? Dan kau telah menjamah anakku Luhan." Kalimat itu kini benar-benar membuat Tuan Oh Tae Woo meledak tertawa dan membuat Yeonseok melebarkan matanya, berbeda dengan Luhan yang tertunduk malu.

"Aigoo.. Apa eomma memata-matai kami berdua? Aisshh.. Jincha..!" Yeonseok menggaruk kepalanya yang tak gatal dan sedikit malu karena ketahuan dengan apa yang ia dan Luhan lakukan. Tuan Oh Tae Woo masih saja terkekeh melihat perkelahian mulut antara istri dan anak sulungnya, dan Luhan? Tentu saja masih dengan wajah memerah tertunduk malu sesekali menyumpit nasi dan mengisi kedalam mulutnya.

"Aku tidak memata-matai kalian berdua.." Jawab Nyonya Oh Seo Hyun. "Tapi aku menguping apa yang kalian lakukan." Lanjutnya santai menggoyang-goyangkan kepalanya sambil menyumpit udang asam manis kedalam mulutnya dan mengunyah dengan elegan..

"Uhukk.. Uhuk.." Luhan tersedak nasinya, dan dengan sigap Nyonya Oh Seo Hyun mengambil air minum dan membantunya meneguk air putih tersebut..

"Mianhae sayang." Kata Nyonya Oh Seo Hyun menyesal, sambil mengusap punggung Luhan lembut.

"A-aniyo eomma.. gwaenchanseumnida.." Jawab Luhan tetap menundukkan pandangannya. Dengan lembut Nyonya Oh Seo Hyun menyentuh dagu Luhan agar memandangnya. "Apa yang membuatmu malu sayang?" Tanya-nya.

Luhan memandang Nyonya Oh Seo Hyun dengan mata yang berkaca-kaca, dan itu membuat hati Seo Hyun semakin mencintai Luhan calon menantunya. "Aku minta maaf eomma.. Aku telah berbohong padamu.. Tentang membersihkan kamar.." Jawab Luhan menyesal.

"Ya ampun sayaaaang... Aku tau apapun itu jika kau bersama setan kecil itu. Semua yang kau lakukan pasti karena anak brengsek itu sayang, eomma tidak marah padamu.." Seo Hyun memeluk Luhan erat.

"Ya! Eomma.. Aku ini anak-mu.. Kenapa kau beri julukan setan kecil." Teriak Yeonseok dengan mulutnya yang terisi.

"Aigoo.. Dasar anak tidak tau malu.. Kau memang setan kecil.." Pekik Seo Hyun pada anak sulungnya.

"Beri alasan kenapa aku dijuluki setan kecil?" Teriaknya sambil menarik Luhan dari pelukan sang eomma dengan pancaran mata 'kembalikan.. Luhan milikku'.

"Itu karena kau telah mengotori pikiran malaikat eomma mu sayang.. Hahaaha..." Tuan Oh Tae Woo menambahkan sambil tertawa. "Yeobo.. Sudahlah.. Kasihan anak-mu.." Lanjutnya.

"jeongmarimnikka Appa? Baiklah kalau begitu, aku akan membawa Luhan pergi jauh hahaaha.." Ujar Yeonseok sambil memeluk Luhan posesif.

"Ya! Coba saja kalau berani! Pergi saja jauh-jauh sendirian, aku yang akan menjaganya.. Aishh.." Teriak Seo Hyun membuat Luhan dan Tuan Oh Tae Woo terkekeh.

"Eommaaaaa..." Teriak Yeonseok. "Aigoo.. Sejak kapan kau menjadi manja seperti Sehunnie oeh? Apa mau eomma buatkan susu?" Tanya Seo Hyun sambil mengedip-kedipkan matanya genit, membuat yang melihat menjadi face-palm -_- .

Luhan terkekeh sambil mengumpul dan mengangkat piring-piring kotor dari atas meja. "HAJIMAAA..." Teriak Seo Hyun, membuat semua memandang kearahnya.

"Yeobo, Wae geurae?" Tanya Tuan Oh Tae Woo.

"Luhan.. Jangan angkat itu sayang.. Nanti benih dalam perutmu melemah jika kau mengangkat yang berat-berat.."

BRUAK... PRANKK...!

"EOMMAAAA.. KAU MENGUPING SEMUANYAAA?" Teriak Yeonseok.

"Upss... Mianhae sayang, eomma hanya mendengar sedikit kok.. Heheehe..."

Luhan kembali menundukkan kepalanya menyembunyikan wajahnya diatas meja sambil tetap menahan piring-piring yang hampir ia jatuhkan tadi, ia sangat malu dan wajahnya makin memerah seperti udang rebus. Sedang Yeonseok menahan rasa kesalnya dengan menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Dan Tuan Oh Tae Woo dengan wajah melongo membuka lebar bibirnya tak menyangka dengan apa yang istrinya lakukan...

Dan bagaimana dengan Nyonya Oh Seo Hyun? Dengan santainya ia memanggil para maid untuk membersihkan kekacauan diatas meja akibat ulahnya, sambil terus saja tersenyum bahagia karena ia berpikir akan ada tawa riang dari penghuni baru yaitu calon cucu-nya. Semoga.

[-]

~I'M NOT HIM~

[-]

Seorang namja manis berjalan menyusuri jalan setapak, sendiri tanpa teman, sambil membenarkan letak ransel yang ia jinjing, sesekali menarik nafasnya jengah.. Ia mengeluarkan benda segi panjang dan menekan, sesekali menggeser permukaan benda tersebut. Setelah tersenyum sebentar, langsung meletakkan benda itu di dekat telinganya sambil terus berjalan menyusuri lorong-lorong setiap toko-toko yang ada tanpa perduli orang-orang sekitarnya yang berlalu-lalang.

"Ini Yeonseok hyung? Ni hao?"

-Iya Baekhyun, aku baik.. Ni hao? Selamat atas wisudamu hari ini, maafkan kami yang tidak dapat menghadiri acaramu.. Gege manismu sangat merindukan mu..-

"Aku juga baik.. Tak apa-apa hyung, aku mengerti kesibukan kalian berdua. Cen te ma? Mana gege-ku.. Heheehe.."

-Xian!-

"Gege!"

-Wo siang niii.. Selamat atas gelar mu Xian..-

"Xiexie ge! Wo ye siang ni.. Hen siang ni.." (aku juga merindukanmu.. Sangat merindukanmu)

-Aku harap kau siap mengadu nasib di Seoul.. Bagaimana pelajaran bahasa hangeul-mu Bai Xian?-

"Aku sudah belajar sedikit demi sedikit ge.. Walau sulit aku terus belajar bahasa hangeul."

-Kau pasti berjalan lagi dari halte ke rumah.. Kenapa tidak bawa mobil?-

"Pu yao.." (Tidak mau)

-Jangan sering-sering sendirian saat pulang ke rumah..-

"Hanya ingin berjalan kaki ge.. Duibuqi.."

-Tak apa, aku hanya kuatir kepada adik cantikku.. Tunggu aku datang ya Xian..-

"Aku tampan ge! Aku akan menunggumu ge.. Hwaiting.."

-Baik lah tampan.. Tiga hari lagi aku akan mengunjungi mu..do'a kan aku..-

"Baiklah.. Kalau begitu aku tutup ge, aku hampir sampai.. Pai-paiii.."

-Pai-pai..-

Namja itu adalah Xi Bai Xian atau Xi Baekhyun adik kandung dari Xi Lu Han. Sambil memasukkan ponsel ke dalam saku celananya kemudian ia sedikit berlari menyusuri perumahan elite area Mongkok sambil membuka pintu gerbang yang ternyata adalah mansion keluarga Xi, Bai Xian terus saja berjalan sambil sesekali tersenyum dan mengatakan "aku pulaaaang.." Pada para maid yang menyambutnya.

"Ni hao tuan muda Bai Xian? Bagaimana wisuda mu hari ini?" Tanya kepala pelayan Lim yang merangkap koki pada kediaman keluarga Xi pada Bai Xian.

"Seperti biasa paman Lim, aku sendirian.." Jawab Bai Xian.

"Duìbùqǐ, tuan muda, hari ini banyak barang yang masuk ke restauran jadi tidak bisa menemanimu." Paman Lim membantu Bai Xian mengeluarkan toga-nya dari dalam ransel.

"Mei khun si paman Lim.." Bai Xian tersenyum manis. (Tidak masalah)

"Oh ya paman, Luhan ge akan datang tiga hari lagi. Meminta restu Baba dan Mama, ia akan menikah dengan Yeonseok hyung bulan depan, aku titip rumah dan restaurant disini," Lanjutnya.

"Rumah ini terlalu besar dan kosong jika kau tidak ada Xian." Paman Lim membuang formalnya saat mendengar Bai Xian ingin meninggalkan Beijing.

"Aku ingin berada disisi Luhan ge, paman.." Bai Xian memegang kedua telapak tangan paman Lim saat melihat pria paruh baya yang telah bertahun-tahun menjaganya ini.

"Xian.. Kau sudah seperti anakku sendiri.. Aku tak sanggup berpisah dengan Luhan waktu itu, dan kini kau pun ingin pergi." Paman Lim menundukkan wajahnya menyembunyikan air matanya.

Bai Xian memeluk paman Lim erat. "Duìbùqǐ paman, tapi aku harus.. Rasanya sulit bagiku bernafas saat mereka meninggalkan ku." Bai Xian ikut menangis dalam pelukan paman Lim.

"Aku tidak tau bagaimana caranya mengatakan pada bibi-mu tentang kau akan pergi ke Seoul mengikuti Luhan dan tinggal bersamanya." Bai Xian melepaskan pelukannya.

"Ya Tuhan paman.. Aku melupakan bibi-ku.. Sepertinya paman harus menyiapkan tisu lagi di setiap ruangan, seperti saat Luhan pergi kuliah di Seoul.." Paman Lim terkekeh dan Bai Xian pun ikut terkikik kecil.

"Pada saat kau lelah dan hilang arah disana, paman mohon kembali lah.. Paman sudah tua. Kita sama-sama mengurus peninggalan orang tua-mu.." Ucap paman Lim membuat Bai Xian terharu mendengarnya.

"Siap paman.. Aku akan ke dalam sebentar memberi hormat pada mama dan baba." Paman Lim mengangguk dan Bai Xian melangkah ke arah pintu merah maroon besar, didalam ruangan yang luas dengan jendela yang tinggi, terdapat dua foto besar terpampang di hadapan Bai Xian dengan dua papan nama dan dupa.

Bai Xian kini berada di dalam ruangan abu dari baba dan mama.

Ternyata Luhan dan Bai Xian yatim piatu. Karena orang tua mereka telah meninggal..

"Baba.. Mama.. Ni hao? Hari ini aku telah menyandang engineering didepan namaku, dan itu pun tanpa adanya kalian disisiku.." Bai Xian sedikit terisak.. "Wo siang ni men.." Lanjutnya (aku rindu kalian)

"Luhan ge tiga hari lagi akan berkunjung dan membawaku bersamanya. Aku harap kalian memberi restu atas pernikahan Luhan ge dan kepergianku ke Seoul." Bai Xian mengusap lembut pipinya yang basah karena air mata.

"Bukan aku tak ingin berada disini, tapi tanpa kehadiran kalian dan Luhan ge, aku serasa seperti mayat hidup." Makin deraslah linangan air mata Bai Xian. Sambil mengambil dua dupa, membakar dan meniupnya, Bai Xian pun memegang dupa dan membungkuk dan bangun, melakukannya beberapa kali memberi hormat dan kemudian menusuknya di dalam mangkuk yang telah terisi pasir.

Bai Xian duduk didekat bufet yang terdapat puluhan gambar ia, Luhan juga baba dan mama-nya. Mengenang kembali saat-saat sebelum kecelakaan itu terjadi dan merenggut nyawa ke dua orang tua mereka. Bai Xian mulai berpikir apa ia mampu meninggalkan kedua orang tua-nya? Sesekali ia mengusap air matanya yang masih saja mengalir, memeluk salah satu bingkai foto keluarga-nya. Memeluk erat sambil merebahkan diri di lantai, sampai lelah tertidur. Poor Bai Xian.

[-]

~I'M NOT HIM~

[-]

Hari keberangkatan Luhan di bandara Incheon...

Luhan sesekali melirik ke arah yeoja paruh baya yang kini memperlihatkan wajah cemberutnya.

"Eomma~" Bisiknya manja.

"..." Tak ada respon, masih tetap memandang ke arah lain.

"Eomma sayang.." Lanjutnya lagi.

"..." Tetap saja Seo Hyun tak mau melihat Luhan, sesekali sesenggukkan dan menarik nafasnya keras lewat hidungnya seperti menahan tangisan yang bisa pecah kapan saja.

Luhan menghela nafasnya frustasi. Ia memeluk yeoja paruh baya itu dengan sayang.

"Aku janji setelah Hyungie menjemputku, aku langsung pulang.. Percayalah eomma.."

Akhirnya Seo Hyun membalikkan tubuhnya dan pelukan Luhan terlepas, tetapi Luhan harus melihat mata yang berkaca-kaca dan hidung yang telah memerah dari yeoja yang telah ia anggap eommanya ini.

"Kau telah berjanji.." Isaknya. "Kalau kau lama, aku yang akan menjemputmu.." Lanjutnya sambil menutup matanya dan akhirnya pecah juga tangisan Seo Hyun sang calon ibu mertua Luhan.

"Huaaaa~ ini menyedihkan.. Aaaa~ jinchaaa~"

Dengan lembut Luhan kembali memeluk Seo Hyun.

"Eomma, jangan menangis, apapun yang terjadi aku tetaplah anakmu." Seo Hyun mengangguk sambil memeluk Luhan erat dan terlihat Yeonseok berjalan kearah mereka berdua.

"Ini tiket mu sayang, barang-barang sudah masuk bagasi.. Oh ayolah eomma.. Kau terlihat seperti uke-nya Luhannie-ku.." Ujar Yeonseok yang melihat interaksi antara eomma-nya dan Luhan.

SREEET*

"A-aaa... Ya! Eomma! Kenapa menjewerku.. Aishh.. Appo.."

Teriak Yeonseok.

"Itu akibat dari mulut dan otak-mu yang pabbo!"

Melihat itu Luhan terkekeh dan sebenarnya ia tahu apa yang dilakukan kekasihnya adalah agar Seo Hyun eomma tidak bersedih karena kepergiannya.

Nyonya Oh Seo Hyun terus saja mengoceh memarahi Yeonseok dan sambil mengusap telinganya yang memerah Yeonseok tersenyum tampan kearah Luhan yang kini menatapnya penuh sayang. "Saranghae.." Bisik Luhan dan walau tak mendengarnya Yeonseok dapat menangkapnya dari gerakan bibir Luhan dan ia juga menjawabnya tanpa suara, hanya menggerakkan bibirnya. "Nado.."

Kini Luhan memasuki pintu masuk setelah pemberitahuan untuk penumpang yang akan berangkat ke Beijing, tak lupa tadi ia memeluk sang calon ibu mertua juga calon suaminya.

"Tunggu aku disana." Kata Yeonseok mengiringi kepergian Luhan kekasih tercintanya.

Sebelum mengubah profil penerbangan pada ponsel-nya Luhan menyentuh gambar kontak dan mencari nama seseorang disana. "Xian.." Lirihnya. Sambil meletakkan benda tersebut di telinganya.

-Hallo.. Gege!-

"Xian, aku sudah di pesawat, jangan lupa jemput aku, ajak paman dan bibi."

-Yeeeyyy.. Baiklah.. Kami akan menjemputmu..-

"Oke aku tutup.. Pai-pai.."

Luhan menutup percakapan sambil mengubahnya menjadi profil penerbangan, dan menyimpannya didalam tas selempangnya. "Beijing.. Aku datang.." Bisiknya.

[-]

Bai Xian sedang membantu bibi Lim membersihkan kamar Luhan, walau kamar Luhan selalu dibersihkan setiap hari tetap saja bibi Lim membersihkannya, seperti saat ini, mengubah letak lemari, mengganti seprei, gorden, dan karpet, tak lupa ia sematkan boneka-boneka rusa kecil sekaligus bambi tokoh kartun kesukaan Luhan. "Heummm.. Bibi tidak sabar melihat Luhan menempati ruangan ini.." Ujarnya sambil menatap suaminya dan Bai Xian yang tergeletak karena kelelahan.

"Yah.. Dan kami yang lelah mengikuti semua permintaanmu mengubah setiap benda dikamar Luhan.. Baik lemari, tempat tidur, meja rias juga bufet berikut kursi minum teh.. Karpet yang besar bukan kecil dan harus bolak-balik ruang penyimpanan gara-gara itu, harus naik tangga lipat memasang gorden itu padahal kau baru menggantinya dua hari yang lalu.." Oceh paman Lim yang masih mengatur nafasnya karena lelah.

"Bibi bisa jadi monster jika kita tidak mengikuti kemauannya paman.." Sahut Bai Xian mengejek.

"Eiii.. Kalian itu laki-laki, harus kuat dan melakukan apapun yang memang pekerjaan kalian." Balas bibi Lim sambil merapikan gorden dan membuka pintu balkon sambil menghirup udara yang masuk. "Dan kau jangan cerewet baobei, anak kesayanganku akan datang, aku ingin yang terbaik sebelum pernikahannya." Lanjutnya lagi.

Drrrtttt... Drrttt...

Drrrttt... Drrrttt...

"Euh.. Bibi anak kesayanganmu menelfonku.." Ujar Bai Xian.

Bibi Lim dengan mata yang berbinar menunggu Bao Xian mengangkat telfon dari Luhan.

-Xian!-

"Hallo.. Gege!"

-Xian, aku sudah di pesawat, jangan lupa jemput aku, ajak paman dan bibi.-

"Yeeeyyy.. Baiklah.. Kami akan menjemputmu.."

-Oke aku tutup.. Pai-pai..-

Bai Xian menyimpan kembali ponselnya di saku.

"Paman.. Bibi.." Bai Xian tersenyum sumringah.

"Kenapa tuan muda?" Tanya mereka bersama-sama.

"Luhan ge telah naik pesawat menuju Beijing..."

"Yeeeeeeyyyyyyy..." Teriak mereka bertiga sambil lompat-lompat walau hanya Bai Xian dan paman saja, tetapi bibi Lim hanya berputar-putar mengitari kamar.

"Kini saatnya memasak makanan kesukaan anakkuuuuu... Kuài diǎn.. Kuài diǎn.. Aku tak mau anakku datang tidak ada makanan, dan kalian berdua, tuan muda.. Baobei.. Segera pakai apron rusa kitaaa.. Wooohooo.." Teriak bibi Lim bahagia sambil keluar dari kamar..

Paman Lim dan Bai Xian? Hanya bisa saling merangkak kelelahan mengikuti bibi Lim.. #poor uncle and Bai Xian.

[-]

Luhan telah sampai di Beijing, setelah beberapa jam lamanya berada di pesawat dari Incheon, akhirnya Luhan melenguh lega menginjak bumi. Jujur saja Luhan sangat takut dengan ketinggian, apa lagi seperti menaiki pesawat, membuat jantungnya berdetak cepat berusaha menetralkan rasa takutnya.

Kini Luhan sedang menunggu di bagian bagasi, setelah mengambil kopor dan tas oleh-oleh untuk Xian, paman dan bibi Lim, memasukkan kedalam troli sambil melangkah ke pintu keluar.

Pandangannya kesegala arah, dan seketika ia mengernyitkan dahinya melihat seorang namja imut yang melambai-lambai kedua tangannya keatas dan dua orang yang tersenyum manis menatap penuh rasa rindu padanya.

"Ya Tuhan, mereka yang aku rindukan.." Dengan cepat Luhan mendorong barang bawaannya dan secepat kilat memeluk Bai Xian juga paman dan bibi Lim..

"Kyaaaa... Wo lai lee.. Wo siang ni men.." Teriaknya sambil memeluk tiga orang yang ia sayangi..

"Kami juga merindukanmu tuan muda ku sayang.." Teriak paman dan bibi Lim bergantian.

"Gege.. Wo siang niii..." Bai Xian tak mau kalah.

"Paman.. Bibi.. Kenapa kalian masih saja memanggilku tuan muda.." Luhan cemberut dan membuat bibi Lim makin erat memeluknya.

"Sudahlah ge! Aku pun lelah, sampai tenggorokanku kering mengatakan pada mereka jangan memanggil begitu lagi, tapi tetap saja, mereka tidak perduli." Sahut Bai Xian sambil terkekeh melihat bibi Lim memeluk Luhan seperti tak ingin lepas lagi.

Sret!

"Awww... Bibiiii... Kenapa mencubit pipiku? Sakiiit.." Teriak Bai Xian membuat paman Lim dan Luhan terkekeh.

"Apa salahnya Hmm... Aku memanggil kalian tuan muda dan itu cuma panggilan.. Tapi kalian tetap anak-anak ku tersayang.."

"Oooowwww sooo sweeeeeeet.." Teriak Luhan dan Bai Xian bersamaan membuat bibi Lim merengut lucu dan paman Lim tertawa lepas.

"Baobei kau menertawakan ku? Malam ini kau tidur diluar.."Oceh bibi Lim.

"Wuaaahhh kau mengusirku? Ya sudah tak apa.. Nanti aku tidur dengan kedua anakku saja.." Jawab paman Lim sambil memeluk Luhan dan Bai Xian, sangat bahagia melihat mereka tertawa. Sambil menyusuri jalan ke arah parkiran mereka tetap saja masih tertawa, bercanda, dan melepas rindu tentu saja.

[-]

Kini Luhan berada dikamar tidurnya, memandang sekeliling sambil tersenyum melihat barang-barang miliknya yang tetap sama, hanya tata letaknya saja yang berubah.

"Pasti bibi mengerjai Xian dan paman lagi, kasihan mereka." Pikirnya dan Luhan terkekeh sambil merogoh tas selempangnya dan mengambil ponsel miliknya langsung mengaktifkan profil 'normal', seperti yang ia duga, banyaknya pesan yang masuk dan itu dari calon ibu mertuanya Seo Hyun juga kekasih tercintanya Yeonseok.

Luhan menekan angka satu sedikit lama, panggilan cepat menghubungi Seo Hyun.

-Yeoboseyo Luhannieee..-

"Eommaaa..."

-bogosiphoyeo.. Kau baik-baik saja sayang?-

"Nado, aku sampai dengan selamat."

-Baguslah, oh ya siapa yang kau cintai Luhannie, Yeonseok atau eomma dan appa?-

"Tentu saja, eomma dan appa.."

-Kau memang anakku yang cantik, kau harus memprioritaskan kami berdua sayang.. Jangan lupa menghubungi kekasih setan-mu itu, dia terlihat kesal karena kau sangat mencintai eomma dan appa..-

"Haahaha.. Tentu saja aku akan menghubunginya setelah ini eomma."

-Kalau begitu cepatlah sayang, boom mau meledak.. Saranghae..-

"Baiklah eomma.. Nado saranghae.. Pai-paii."

Luhan pun bangun meregangkan kedua lengannya dan menekan lama nomor dua menghubungi Yeonseok kekasihnya.

-CHAGI-YA.. KAU TEGAAA...-

"Ya! Hyungie... Kenapa kau berteriak begitu?"

-Aku kesal... Kau menelfon eomma untuk yang pertama, bukan aku..-

"Sama saja, kenapa kau harus marah.."

-Seharusnya kau menelfonku lebih dulu baru eomma..-

"Tapi tetap saja Hyungie aku akan menghubungimu sayang.."

-Tetap saja, aku harus kau jadikan prioritas, aku ini 'calon suami-mu' sayang..-

"Ya sudah.. Ya sudah.. Aku kini dikamar dan memikirkan mu.. Aku sangat merindukanmu.."

-Kau memang harus memikirkan ku dan adik kecilku ini, kami berdua sangat merindukanmu chagi.-

"Yaaa! Hentikan mesum-mu itu, nanti eomma dan appa mendengar.."

-Hahahaa... Rindu wajah merajukmu chagi.. Sulit rasanya makan tanpa-mu.. Tunggu aku datang ya sayang, dua hari lagi pekerjaanku selesai..-

"Iya sayang.. Palliwa.. Oeh! Chagiya jangan lupa jaga kesehatan, manhi mogoh.. Nanti aku hubungi lagi.. Saranghae.. Pai-pai.."

Luhan menutup percakapannya sambil tersenyum melepas lelah melangkah kearah kamar mandi membersihkan diri.

"Air hangat sepertinya akan membantu tubuhku yang lelah.." Lirihnya.

[-]

~I'M NOT HIM~

[-]

"Eommaa.. Berhentilah menghubungi Luhan. Mungkin ia belum sampai." Yeonseok menyumpit daging bulgogi dan melahapnya bersama nasi.

"Luhan anakku, aku tau ia sudah pasti sampai, eomma telah menghitung waktunya, pasti Luhan sudah dirumahnya." Seo Hyun akhirnya menyerah.

"Seharusnya eomma—

Drrrtttt- Drrrrrtttt-

"Kyaaaa uri Luhannie menelfoooon..." Teriak Seo Hyun.

—menuggu.. MWO? Kenapa eomma yang lebih dulu ia hubungi?" Kesal Yeonseok yang berharap Luhan menghubunginya pertama kali.

"Karena Luhan anakku.." Seo Hyun terkikik senang dan melangkah menjauh, Yeonseok hanya mencibir kesal.

"Yeoboseyo Luhannieee.."

-Eommaaa...-

"bogosiphoyeo.. Kau baik-baik saja sayang?"

-Nado, aku sampai dengan selamat.-

"Baguslah, oh ya siapa yang kau cintai Luhannie, Yeonseok atau eomma dan appa?" Seo Hyun me-melet-kan lidahnya mengejek Yeonseok yang masih kesal.

-Tentu saja, eomma dan appa..-

"Kau memang anakku yang cantik, kau harus memprioritaskan kami berdua sayang.. Jangan lupa menghubungi kekasih setan-mu itu, dia terlihat kesal karena kau sangat mencintai eomma dan appa.." Seo Hyun sengaja membesarkan suaranya agar terdengar oleh Yeonseok dan Seo Hyun melihat anak sulungnya makin kesal membuat ia terkekeh geli karena sukses mengerjai anaknya yang menurutnya sudah sering memperlihatkan ekspresi merajuk selain ekspresi datar..

-Haahaha.. Tentu saja aku akan menghubunginya setelah ini eomma-

"Kalau begitu cepatlah sayang, boom mau meledak.. Saranghae.."

-Baiklah eomma.. Nado saranghae.. Pai-paii..-

Seo Hyun menutup percakapannya, sambil melangkah kearah meja makan kembali.

"Luhan memang kekasihmu—tapi... Luhan adalah anakku—" Seo Hyun mengedip-kedipkan matanya bahagia, membuat Yeonseok memasukkan banyak nasi kedalam mulutnya.

Saat ia ingin membuka mulutnya membalas perkataan Seo Hyun sang eomma tiba-tiba—

Drrrttt... Drrrtttt..

—ponsel Yeonseok bergetar, dan dengan sigap ia merogoh saku celana kantornya mengambil ponsel dan sesegera mungkin mengangkatnya.

"CHAGI-YA.. KAU TEGAAA" teriak Yeonseok dengan mulut penuhnya.

-Ya! Hyungie... Kenapa kau berteriak begitu?-

"Aku kesal... Kau menelfon eomma untuk yang pertama, bukan aku.." Yeonseok cemberut manja.

-Sama saja, kenapa kau harus marah..-

"Seharusnya kau menelfonku lebih dulu baru eomma.." Yeonseok masih dengan bernada manja, sambil melangkah menuju kamarnya.

-Tapi tetap saja Hyungie aku akan menghubungimu sayang..-

"Tetap saja, aku harus kau jadikan prioritas, aku ini 'calon suami-mu' sayang.." Rajuknya penuh penekanan pada Luhan.

-Ishh.. kekanakan sekali.. Ya sudah.. Aku kini dikamar dan memikirkan mu.. Aku sangat merindukanmu..-

"Kau memang harus memikirkan ku dan adik kecilku ini, kami berdua sangat merindukanmu chagi.." Goda Yeonseok.

-Yaaa! Hentikan mesum-mu itu, nanti eomma dan appa mendengar..-

"Hahahaa... Rindu wajah merajukmu chagi.. Sulit rasanya makan tanpa-mu.. Tunggu aku datang ya sayang, dua hari lagi pekerjaanku selesai.."

-Iya sayang.. Palliwa.. Oeh! Chagiya jangan lupa jaga kesehatan, manhi mogoh.. Nanti aku hubungi lagi.. Saranghae.. Pai-pai..-

"Nado saranghae.. Pai-pai.." Yeonseok pun menutup percakapannya dan sama seperti Luhan, ia ingin mandi sambil membayangkan menjemput Luhan secepatnya.

[-]

~I'M NOT HIM~

[-]

Yeonseok sesekali melihat arloji dipergelangan tangannya.

"Sabar sayang, kau akan segera bertemu dengan belahan jiwa-mu." Ujar Tae Woo appa membesarkan hatinya yang tak sabar ingin cepat menemui Luhan kekasihnya.

"Ya! Yeobo.. Jangankan Yeonseokie.. Aku saja tak sabar ingin cepat-cepat bertemu dengan Luhannie-ku." Sahut Seo Hyun yang sama tak sabarnya seperti Yeonseok, membuat sang suami terkekeh sambil merangkul istri tercintanya.

"ATTENTION PLEASE...

ASIANA AIRLINE BOEING 767-300F PASSENGERS, BEIJING DESTINATION, PLEASE...bla-bla-bla-bla.."

"Eomma.. Appa.. Itu pemberitahuan no penerbangan ku menuju Beijing.. Aku masuk ya.." Ucap Yeonseok segera bangkit dari ruang tunggu.

"Baiklah sayang, cepat pulang setelah meminta restu pada ke dua orang tua Luhan." Seo Hyun membantu anak sulungnya memakaikan coat-nya.

"Ne, eomma.. Aku akan membawa pulang pelita hatimu segera.." Yeonseok mengecup kening Seo Hyun lama, memeluknya erat, sangat erat malah, membuat Seo Hyun sang eomma mengerutkan keningnya, seperti merasakan aura berbeda, jantungnya berdetak cepat, segera saja ia menepis rasa kuatir-nya dan tersenyum mengusap lembut wajah anak sulungnya.

"Kembalilah dengan selamat sayang.." Seo Hyun sekali lagi menghapus kegundahan hatinya.

Ada apa ini.. Semoga Luhan baik-baik saja. Lirih Seo Hyun dalam hati.

Dan kedua orang tua Yeonseok melepas kepergiannya, hanya menatapnya sampai tubuh tegap itu hilang diantara pilar-pilar lorong gate keberangkatannya.

"Yeobo, mengapa dada-ku seperti terasa sesak, sakit sekali disini.. Seperti ada yang mengganjal..maksudku seperti perasaan tak rela." Ucap Seo Hyun pada suaminya saat mereka dalam perjalanan pulang setelah mengantar Yeonseok.

"Apa aku panggilkan dokter kita sayang?" Jawab Tae Woo mengkuatirkan istrinya. Dan di balas anggukan oleh Seo Hyun setelahnya, dengan segera Tae Woo menghubungi dokter keluarga mereka.

Sementara itu Yeonseok yang sedang dalam perjalanan menuju Beijing sedang asik memandang foto-foto Luhan di dalam ponselnya.

"Yeoja yang Cantik.. Dia kekasihmu?"

Yeonseok menoleh, yeoja cantik di sampingnya masih memandang kearah ponselnya. "Hai.." Sapanya lagi tersenyum manis kearah Yeonseok.

Sambil ikut tersenyum Yeonseok menggaruk tengkuknya. "Hai.. Mmm.. Iya.. Tepatnya ia adalah tunanganku... Tapi.. Dia.. Eumm.. Namja." Jawabnya canggung dan jawabannya membuat wajah yeoja cantik itu menjadi tegang.

"Ja-jadi kalian pasangan gay? Benarkah?" Tanya-nya lagi.

Dengan perasaan tidak enak Yeonseok hanya mengangguk sambil menunduk, kuatir ia akan di cemooh oleh yeoja di sampingnya.

"Kyaaaaaaa..aaaa..." Yeoja cantik itu pun tiba-tiba berteriak, membuat Yeonseok dan penumpang yang lain memandang kearahnya, dan reflek ia menutup mulutnya.. "Ups.. Maaf.." Kata-nya.

Saat itu juga seorang pramugari menghampiri bagian tempat duduk mereka dan bertanya. "Maaf, apa yang terjadi? Apa yang dapat saya bantu.."

"A-aniyo.. Gwaenchana.." Jawabnya kikuk.

"Baiklah kalau begitu nona, anda bisa menekan tombol ini jika anda butuh bantuan.." Ucap sang pramugari tersenyum manis sambil melangkah meninggalkan Yeonseok dan yeoja disampingnya. Dan kini yeoja itu menatap lekat padanya.

"Yeeeeyyyy..." Teriak yeoja tersebut, teriakan setengah berbisik agar tak terdengar dan hanya Yeonseok saja yang dapat mendengar..

"Kenalkan, aku Ji Won.. Kim Ji Won.. Bhanggapseumnida.." Ia menarik tangan kanan Yeonseok dan menggenggamnya erat bersalaman mengenalkan diri tentu saja.

"Yeonseok.. Oh Yeonseok.."

"Maaf karena aku berteriak tadi, jujur saja aku senang sekali mendengar ternyata kau adalah gay, dan yang di foto tadi kekasihmu sangat imut sekali, jadi jiwa fujoshi dalam diriku yang dulu saat masa-masa sekolah menguak kembali.." Seru Ji Won berapi-api dan Yeonseok hanya bisa menganga heran memandang yeoja disampingnya ini.

"Dan kau tau? Tau? Tidak tau? Aku suka mengoleksi foto-foto pasangan seperti itu.." Lanjutnya dan sambil mendekatkan bibirnya ke telinga Yeonseok. "Begitu juga foto-foto pasangan gay porn.." Bisiknya pelan..

"Ooo..." - Yeonseok

Krikk.. Krikk..

Krikk.. Krik..

Kriikk.. Krikk..

"WHATTT!"

Yeonseok berteriak membuat Ji Won menutup mata berikut kedua telinganya dengan kedua telapak tangannya. Teriakan Yeonseok lah kini yang membuat semua penumpang memandang kearah mereka begitu juga sang pramugari yang melangkah kearah Yeonseok dan Ji Won.

"Ada yang bisa saya bantu tuan?" Tanya pramugari tersebut, Yeonseok hanya menutup wajahnya sambil menggeleng tanpa berkata-kata. Sang pramugari hanya bisa menghela nafas dan mundur kembali ketempat duduknya.

"Mianhae.." Ucap Ji Won. "Setidaknya aku berusaha jujur, seharusnya aku menjaga image-ku lebih baik saat berkenalan dengan orang baru, tapi aku sangat menyukai semua yang berhubungan dengan Yaoi, Shounen-ai, juga Boys love.. Mianhae.." Lanjutnya malu-malu dan hanya di balas "Ooo.." Oleh Yeonseok.

"Walau jaman sekarang sudah banyak pasangan sesama jenis tetapi tetap saja masih ada sekelompok orang-orang yang tak menerima." Sahut Yeonseok agak canggung.

"Dan tadi kau pasti berpikir aku merasa jijik, iya kan?" Tanya Ji Won, membuat Yeonseok tersenyum tampan.

"Eummh apa sekarang kita berteman?" Lanjutnya lagi.

"Tentu saja.." Sahut Yeonseok. "Kalau begitu apa aku boleh meminta sesuatu padamu?" Tanya Ji Won lagi dan itu membuat Yeonseok berpikir.

"Minta sesuatu? Apa itu?" Balas Yeonseok bingung.

"Apa kau menyimpan banyak foto kalian berdua di ponselmu?" Lagi-lagi Ji Won bertanya.

"Tentu saja." Jawab Yeonseok bertambah bingung.

Dengan memperlihatkan puppy eyes-nya Ji Won sedikit merapatkan diri disamping Yeonseok. "Bolehkah aku melihatnya..? Sebentaaarr saja, sedikiiitt saja." Ucapnya dengan antusias sambil terus saja memperlihatkan wajah seperti puppy yang butuh kasih sayang dari majikannya, 'imut sekali' pikir Yeonseok, membuatnya jadi tak sabar ingin bertemu Luhan-nya.

"Baiklah.. Tentu saja boleh.." Yeonseok tersenyum ramah sambil menggeser tanda kunci pada ponselnya, menyentuh layar bertuliskan picture sambil membuka file bertuliskan 'You and I' dan memberikan ponsel tersebut pada Ji Won.

"Itu semua fotoku dengannya, namanya Luhan." Seru Yeonseok.

"Maafkan kelancanganku, tapi jiwa fujoshi-ku mengalahkan semua." Dengan cepat Ji Won menyambar ponsel milik Yeonseok. Pemiliknya hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Ji Won yang terus saja menggeser layar ponsel tersebut dan sesekali memekik bahagia melihat semua foto Luhan dan Yeonseok dalam ponsel tersebut.

Setelah beberapa menit Yeonseok yang tertidur dan Ji Won yang masih saja dengan permainan barunya 'melihat foto YeonHan' tiba-tiba terjadi guncangan membuat Yeonseok terbangun dan Ji Won menahan nafasnya.

"TING-TONG..-" *lampu tanda memakai sabuk menyala*

"KEPADA SEMUA PENUMPANG, DIHARAPKAN DUDUK KEMBALI DAN MEMAKAI SABUK PENGAMAN ANDA, KARENA TERJADI SEDIKIT GUNCANGAN..

SEKALI LAGI KEPADA SEMUA PENUMPANG, DIHARAPKAN DUDUK KEMBALI DAN MEMAKAI SABUK PENGAMAN ANDA, KARENA TERJADI SEDIKIT GUNCANGAN..

TERIMAKASIH.."

Lampu tanda sabuk pengaman menyala, Yeonseok mengeluarkan keringat dingin, memakai kembali sabuk pengamannya dan menerima kembali ponsel yang Ji Won kembalikan dan menyimpannya disakunya. Begitu juga yeoja cantik itu Ji Won, memakai kembali sabuk mengamannya.

Guncangan pada pesawat semakin kencang, Yeonseok hanya bisa terdiam menutup matanya, berdo'a agar ia baik-baik saja dan segera bertemu kekasihnya.

Klik!

Tiba-tiba lampu mati dan keadaan menjadi gelap, Yeonseok membuka matanya melihat sebagian penumpang yang panik dan beberapa pramugari yang menenangkan penumpang yang terlihat ketakutan, udara semakin menipis, Oxygen mask pun keluar dengan sendirinya dari langit-langit dinding pesawat dan seketika itu lampu tanda jalur mengarah kepintu darurat telah menyala.

"Ya Tuhan, apa yang terjadi.." Batin Yeonseok makin berdebar.

Tekanan udara melebihi dari batas yang ditentukan. Ada gangguan tekhnik pesawat.

DUARRRR..

Terdengar bunyi ledakan, teriakan para penumpang mendominasi, semua panik dan seketika pesawat terasa ringan seperti oleng terjatuh, Yeonseok membuka penutup jendela disisi kanannya dan melihat asap yang keluar dari sisi ujung sayap, terjadi kerusakan mesin sehingga bagian sayap kanan terbakar, jantung Yeonseok seperti berhenti berdetak.

"Ya Tuhan.." Lirihnya pelan sambil melihat ke arah Ji Won yang juga melihat apa yang terjadi, air matanya mengalir menatap Yeonseok sangat ketakutan. Asap pun memasuki ruangan, dan tiba-tiba—

DUAARRR*

—bunyi ledakan kedua sampai memecahkan dinding pesawat sisi kanan dan membuat Yeonseok berbalik arah menutupi dirinya melindungi Ji Won yang ketakutan melihat kobaran api..

"Luhan—aku—mencintai-mu—" lirihnya dalam hati dan seketika semuanya gelap—

TBC

.

.

.

.

Karena aku suka menulis cerita ini tetap aku lanjutkan walau hanya beberapa yang membaca... Thanks buat silent rider juga yang membuatku juga termotivasi karena ada yang mau mencoba membaca tulisan fiksi ini hueeeheheheheheh...