Title :

Can I

Cast :

Park Chanyeol & Byun Baekhyun

Other Cast :

Choi Sooyoung, Oh Sehun, Kai & More

Genre :

Romance, Comedy, AU, School Life, Friendship

Length :

Series

Author :

Syong ( Smbfam)

.

.

.

"Shhh! Gura!"

Baekhyun mengacak rambutnya gusar, memandangi Gura dengan geraman. Tau akan tatapan membunuh sang majikan, Gura meringkut jauh dari hadapan Baekhyun. Pemuda itu menghela nafas berat.

"Aku dalam masalah besar, bodoh sekali!"

Pantatnya terduduk didepan pintu lift yang tertutup. Gura ikut terduduk disampingnya, memandangi sang majikan dalam diam.

"Aku harus berangkat"

Baekhyun buru-buru berlari menuju apartment Chanyeol. Mengambil kilat tas yang berada diatas sofa ruang tamu. Tubuhnya berjongkok dihadapan Gura, mengelus lembut tubuh penuh bulu itu, sebelum benar-benar pergi.

"Aku pergi. Jangan mainkan hal yang macam-macam!"

Baekhyun memperingatinya dengan telunjuk, menodong-nodong kehadapan wajah Gura.

"Jaga baik-baik rumah!. Aku pergi"

.

.

Chanyeol

"Jessica, dimana Sooyoung?"

Ia menoleh kepalanya secara cepat, Jessica memandangi ku heran, alisnya menarik bingung. Ada yang salah memang?

"Ketoilet"

Langkah ku menarik diri menuju toilet, setelah itu. Namun, belum sampai ketempat yang aku tuju. Sooyoung sudah ada diambang pintu kelas.

"Soo?"

Ia memandangi ku. "Apa?"

"Makalahnya..."

"Iya? Makalahnya?"

Tatapannya penuh kerutan, alis yang naik sebelah, tentu saja gadis itu penasaran setengah mati. Aku menggaruk ubun ku, lidah ku terasa kelu.

"Sobek"

Shhh! Suaru ku lebih mirip seperti cicitan tikus. Mencuit dikata terakhir. Tatapannya kali ini lebih tajam dari pada, apa yang ku perkirakan sebelumnya.

Ringsutan tubahnya gelisah, rambut itu ia acak secara gusar. Berdengus, gadis itu lantas berkacak pinggang. Langkahku mundur, takut-takut Sooyoung meledak mendadak.

"Hidupmu selamat kali ini, Chan"

Ia pergi dari hadapanku setelah itu. Aku menyerit, memandangi Sooyoung dengan bingung. Gadis itu menuju mejanya disebelah Jessica. Merogoh sesuatu dalam tasnya. Sebuah kliping ia taruh diatas meja.

"Mina menyuruhku untuk membuat salinannya, jaga-jaga"

Aku mendekatinya. Tersenyum seperti saat ini bukanlah kebiasaan ku. Hanya saja aku merasa lega, Guru Moon itu killer sekali. Sooyoung terlonjak kebelakang, mendelik melihat senyum ku yang aneh.

"Astaga, Chan!"

Ia mendekap tubuhnya. "Senyumanmu itu menyeramkan! Kau tau?"

Sooyoung memekik nyaring setelah itu, karna aku mendekapnya secara mendadak. Oh Tuhan, setidaknya aku tidak mati ditangan Guru Moon.

"Ya! Park Chanyeol!"

.

.

Chanyeol

"Aku minta maaf, Chan"

Suara bisikannya terdengar dari sisi samping ku. Cup kopi tersohor berbarengan dengan roti entah dari mana ia dapat.

"Kau belum sarapankan?"

Matanya mendelikku lamat, berdengus, aku memandanginya tanpa minat. Baekhyun sedikit tertunduk, mungkin saja ia takut melihatku.

"Anggap itu sebagai permintaan maaf ku"

Matanya terarah pada makanan didepan ku.

"Aku benar-benar tidak tau jika kertas itu makalah mu, sumpah"

Telapak tangannya terangkat setinggi bahu, seperti seorang mempelai yang berikrar didepan pastur. Tatapan sendu penuh penyesalan, tubuhnya yang ringkih sedikit mendekat kearah ku.

"Chan..."

Mukanya yang memelas, sedikit meringsut kearah ku. Bangku ku tarik menjauh dari sisi tubuhnya. Memberikan tatapan glare pada Baekhyun.

"Kau memaafkan ku kan?"

Ia bersekiras. Aku mendengus keras.

"Chan..."

"Bisakah kau diam!"

Aku berteriak kewajahnya. Memandanginya dengan geraman. Aku sudah sebal akibatnya, ditambah ia yang terus berisik, tentu saja otakku hampir mendidih dibuatnya.

"Park Chanyeol?!"

Ahh... aku melupakan sesuatu. Sekarang pelajaran Guru Moon. Aku pernah bilang sebelumnya, bahwa guru itu killer sekali. Kesalahan yang sebenarnya tidak harus dipermasalahkan dengan panjang, itu tidak akan berlaku jika dengan guru Moon.

"Keliling lapangan tiga kali"

Aku memandangi cepat kearah Baekhyun, memplototi wajah pemuda itu yang terlihat menunduk. Argh!

.

.

Chanyeol

Wajah ku rasanya telah ditutupi dengan tembok yang rapat, menjadi pusat perhatian dengan keadaan memalukan seperti ini tentu saja membuat merasa kesal.

Aku memang bukan murid yang jenius, tapi guru-guru mencap-ku sebagai murid yang teladan dan tidak pernah cari masalah. Tapi sekarang?

Tidak hal yang menyatakan murid teladan sedang dihukum. Aku benar-benar malu, terlebih tawa disekitar koridor lapangan.

Ahh, Byun Baekhyun sialan. Bersabarlah Park Chanyeol, semua pasti ada balasannya. Tapi aku merasa tidak kuat.

Tujuh menit yang terasa amat lama bagi ku berakhir, tiga kali putaran lapangan -layaknya lapangan bola- sudah kukitari. Ini benar-benar melelahkan terlebih teriknya matahari, membuat sekujur tubuh ku terasa banjir keringat.

Tubuhku yang lelah, terduduk pada samping lapangan. Perut ku sakit sekali dan kaki ku kram luar biasa. Setelah ini aku harus ke klinik.

Mataku mengitari. Deket pohon bersebrangan dengan ku, seseorang terlihat sembunyi dari balik batangnya. Rambutnya yang familiar, serta cup kopi dan roti dikedua tangannya tidaklah asing bagi ku. Iya, betul, tentu saja si Baekhyun.

Ahhh, kepala ku pusing mendadak. Kehadiarannya bukanlah suatu hal yang diinginkan. Tidak yang memgharapkannya, khususnya diriku. Dalam sehari -bahkan belum dua belas jam- dua hal yang berat telah terjadi.

Bagaimana rasanya? Tentu saja aku benar-benar ingin membunuhnya.

Tubuh pendek itu berjalan melintang kearahku. Rambutnya bersinar akibat pantulan cahaya matahari. Aku membuang muka. Sayangnya, aku benar-benar ingin pergi dari sini, kalau saja kaki bodoh ini tidak kram menyakitkan.

"Anu..."

Suaranya menciut entah bagaimana, yang pasti aku memandanginya dengan tajam.

"Kau masih berani datang kesini? Membuat ku dua kali dalam masa hal yang sulit?"

Tubuhnya mundur kebelakang, ringisannya yang gusar, serta tundukannya yang semakin dalam.

"Ya, kau wajar marah"

"Tentu saja"

Aku mendecih setalah itu. Menendang kerikil kecil kehadapannya. Kedua kaki pemuda itu bergerak saling menggesek, -mungkin- sebuah kebiasaan bagi Baekhyun ketika ia merasa gelisah. Oh, siapa yang peduli memang?

Kedua tangannya yang masing-masing terisi satu cup kopi dan roti, ia taruh disebalah kursi ku. Tubuh ku yang lelah hendak beranjak dari sana. Setengah berdiri, Baekhyun menyela gerakan ku.

"Kau-"

Kedua tangannya terambang menghadapan kearah ku, menggunakan kedua telapak tangan untuk menyuruh ku agar tetap ditempat. Matanya hanya berkisar empat detik memandang mata ku, lalu membuang pandang kesamping kanan.

"Tetaplah disitu"

Kedua tangannya saling meremas kuat. "Biar aku yang pergi"

Ia berbalik kilat, berlari membelah lapangan menuju kelas. Tubuhku meringsut lelah.

Mata ku terjun untuk menunduk, melihat dua makan itu tergelak diatas kursi samping ku. Kopinya memang tidak hangat, namun roti coklat itu cukup membuat perut ku meraung kelaparan.

Aku berdiri lalu memungutnya. Berjalan membelah lapangan menuju kantin. Kalau masuk sekarang yang ada aku semakin diceramahi, jadi dari pada aku mati kelaparan, lebih baik mengisi perut yang kosong.

Cup kopi dan roti sebelumnya ku buang dibak sampah.

.

.

.

Baekhyun memandang dalam diam bahu Chanyeol didepannya dari balik tiang koridor. Pemuda jangkung itu megarah kearah kantin sekolah. Namun, hal yang membuat Baekhyun tercengang adalah, Chanyeol membuang pemberiannya ketempat sampah.

Langkah pemuda bertubuh pendek itu berjalan kearah bak sampah, setelah matanya benar-benar memastikan tidak lagi menangkap keberadaan Chanyeol. Dengusannya yang geli, namun dibalik itu, terselip nada kefrustasian.

"Ya, kau memang pantas membuangnya"

Baekhyun memandanginya sesaat dengan pandangan sendu. Tubuhnya yang lesu meringsut menjauh, sebelum meludahi bak sampah, dimana makannya dibuang barusan.

"Baekhyun!"

Baekhyun berbalik, merasa terpanggil dengan sebuah teriakan diujung koridor. Matanya yang sipit dapat melihat Sooyoung yang tengah berlari kearahnya.

"Kau bertengkar dengan, Chanyeol?"

"Yah..."

Baekhyun buang pandang dengan kedikan dikedua bahunya. "Ku rasa"

"Apa yang terjadi?"

Sooyoung yang berada dibelakangnya melangkah mundur, untuk tetap melihat wajah pemuda yang berjalan lurus kedepan. Matanya yang bulat memandangi Baekhyun dengan lekat.

"Gura-"

Ia menggantungkan ucapannya sekedar untuk melihat ekspresi yang Sooyoung berikan. "Anjing, ku. Ia menyobek makalah Chanyeol. Membuatnya menjadi gumpalan bola kecil"

"Astaga!"

Pekikannya meredam dari balik kedua tangannya yang menutupi seluruh mulutnya. Ia tidak berjalan mundur lagi didepan Baekhyun, melainkan berjalan sejajar meskipun tubuhnya tetap miring menghadap Baekhyun.

"Jadi karna itu? Tapi, Memang kau tidak memeriksanya?"

"Kertas itu sudah tergumpal sebelumnya, meskipun belum menjadi bola kertas yang sempurna. Aku tidak memeriksanya ketika meremasnya menjadi sebuah bola"

"Kurasa kau dalam masalah besar"

Sooyoung menatap Baekhyun prihatin.

"Yah, seperti yang kau pikirkan"

"Eyy, jangan khawatir"

Sooyoung menenangkannya sambil merangkul bahu Baekhyun yang tegap. Rangkulannya membawa Baekhyun menuju kantin, setalah bunyi bel istirahat terdengar nyaring.

"Aku minta maaf, Sooyoung"

"Untuk?"

"Aku menghancurkan makalah kalian"

Sooyoung terkikik setalah itu, menepuk-nepuk bahu kanan Baekhyun dengan cengiran.

"Kalau aku sih tidak masalah"

Tubuh keduanya berbelok kekanan. Sooyoung menarik pintu kantin.

"Toh, tidak ada kendala yang terjadi"

Tangannya yang kurus memberi Baekhyun dengan nampan.

"Bibi, lobaknya tolong dilebihi ya?"

Baekhyun mendengus geli. Sooyoung memang dewi makan, rasa gensinya jauh lebih sedikit dari pada rasa kepuasan perutnya. Gadis itu memekik redam ketika satu sendok penuh sayuran menghiasi penuh nampan makan siangnya.

Sooyoung menunggu dengan sabar, Baekhyun yang masih mengisi makanan dinampannya. Tubuh Sooyoung berbalik, mengambil satu gelas air, lalu menaruhnya dinampannya. Mengambil satu lagi, kemudian mendekat kearah Baekhyun.

"Terimakasih"

Baekhyun tersenyum ketika gelas berisi air, diberikan Sooyoung yang ditaruhnya di nampan.

"Kita kesana"

Sooyoung menunjuk dengan dagunya, kearah meja diujung ruang. Kakinya yang panjang mendahului berjalan dari langkah Baekhyun.

"Oh hei, Sooyoung!"

Kai memandangi Sooyoung yang mendadak datang dengan membawa setumpuk makan dinampannya.

"Dimana Baekhyun?", Sehun bertanya.

Mata Chanyeol yang duduk dimeja yang sama mendelik secara cepat, meremas sumpit dalam diam. Sooyoung terlonjak

"Shhh, bocah itu!"

Sooyoung mengeram. "Tunggu ya, jangan habiskan makanan kalian!"

Kemudian Sooyoung berlari kemeja paling depan dimana Baekhyun duduk sendirian disana.

"Ayo!"

Kedua tangannya yang kurus menarik tangan kanan Baekhyun paksa. Mendorong bahu pemuda itu dengan desakan dipunggung belakangnya. Baekhyun memegang mejanya erat, tidak ingin dipaksa untuk mendekat.

"Astaga, Choi Sooyoung! Demi dada Hyorin yang besar! Kau tau kan bagaimana keadaan ku dengan Chanyeol saat ini?!"

Baekhyun menggeleng-geleng keras, kedua tangannya erat memegang tiang meja, meringsut kelantai.

"Maka dari itu!"

Tangan Sooyoung menarik semakin beringas, rasanya masih besar tenaganya dari pada Baekhyun. Sooyoung bersumpah kali ini.

"Jika kau terus diam menjauh darinya, semuanya semakin runyam"

Baekhyun terjatuh setelah itu.

"Apa yang kalian lakukan?"

Seorang gadis berambut blonde dengan warna yang pekat mendekat dengan nampan. Alisnya yang tegas menyerit heran, memandangi Sooyoung dan Baekhyun, melihat keadaan mereka yang tidak mengenakan untuk dipandang.

"Oh hei, Jess"

Mata Baekhyun begitu bersinar, seperti pantulan cahaya matahari mengenai arusnya pantai. Mata Jessica -gadis berambut blonde barusan- menunduk melihat Baekhyun yang terduduk dilantai kantin.

"Kau akan menolongku, kan?"

Tangannya memeluk erat pada kedua kaki Jessica, gadis kelahiran America itu hampir terjatuh dengan nampan yang siap menghantam kepala Baekhyun. Jessica menendangnya, memandangi pemuda dibawahnya sambil menggertak. Baekhyun meringsut takut kebelakang.

"Menjadi pusat perhatian penjuru kantin dengan keadaan seperti ini, bukankah kalian punya muka tembok?"

Sooyoung hanya mendengus nyaring. Tau bahwa setiap sindiran yang gadis itu ucapakan selalu dapat membuat kepalanya mengeram dengan api. Selalu bergejolak, untuk bergerak membunuh si bule itu. Namun, alih alih membunuh Jessica dengan pisau dapur atau menganggtungnya di kedatangan pintu kantin, Sooyoung dengan sabar mengajak kerja sama padanya.

"Ayo Jess-"

Kedua tangan Sooyoung melingkari pergelangan Baekhyun. "Kau dorong punggungnya, aku tarik tangannya"

"Menculik bukanlah hal baik, Soo"

"Ohoy Jess. Aku mual, berhenti bicara seolah kau yang terbaik"

"Baik, baiklah!. Kemana?"

Sooyoung menunjuk dengan dagunya kearah meja Kai, Sehun, dan Chanyeol. Jessica mengangguk mengiyakan. Kemudian kakinya mengarah kepunggung Baekhyun, mendoronganya dengan kaki kanannya.

"Yak, Jess!"

Baekhyun memekik sambil berdiri. Membersihkan bajunya yang baru saja dikotori oleh kaki Jessica.

"Makanya jalan saja!"

Tidak ingin bajunya dikotori lebih jauh oleh sepatu wadges hitam berhak lima centi meter milik Jessica, Baekhyun bangkit dalam sekejap.

"Aku cari tempat lain saj-"

Ucapan Baekhyun menggantung saat mendapati nampan makanannya diatas meja entah hilang kemana. Matanya mendelik ke utara, mendapati Sooyoung yang tengah membawa nampannya menuju meja tempat Chanyeol, Kai, dan Sehun berada.

"Ayo jalan!"

Ucapannya penuh ketegasan, sorotan mata yang tajam, serta tatapan dingin yang ia berikan, Baekhyun tidak dapat berkutik ditempat. Jessica penyandang Ice Princess dikelas menghadapi Baekhyun si periang paling ribut dikelas, tentu saja pemuda itu merasa takut. Bagaimanapun luar ataupun dalamnya kedingin Jessica tidak ada bedanya.

"Tidak ingin pergi?!"

Baekhyun berlari setelah itu. Mengambil duduk tepat disamping Kai yang bersebrangan dengan Chanyeol.

Kai memandangi Baekhyun yang terlihat beda, sesuap nasi dari kedua sumpitnya terarah kedalam mulut.

"Kau bertengkar dengan Chanyeol?"

Ucapannya tidak terdengar dengan jelas akibat terhalang oleh nasi yang mengisi rongga mulutnya. Setelah itu, mata Kai mendelik kearah Baekhyun dan Chanyeol secara bergantian.

"Aku pergi"

Chanyeol berdiri, begitu juga dengan Sooyoung yang refleks mengikutinya. Mulut Sooyoung yang penuh dengan sayur lobak, mencegah Chanyeol untuk pergi. Kedua tangannya berada dimasing-masing bahu Chanyeol, menindihnya kebawah.

"Tidak boleh!"

"Kalau begitu aku yang pergi"

Baekhyun ambil alih, menunduk bersiap untuk pergi. Sooyoung meremas rambutnya frustasi.

"Astaga!"

Entah bagaimana terjadi, Sooyoung menghalangi Baekhyun dengan pel yang kebetulan berada tidak jauh dari sekitarnya. Mengurungnya dengan tongkat pel yang basah.

"Jess"

Sooyoung memberi, intruksi pada Jessica. "Duduk!"

Dan Baekhyun duduk kembali.

"Ya, Choi Sooyoung! Pelnya mengenai wajah ku, bodoh!"

Sehun memekik mendapati kain pel tepat mengenai mukanya. Tidak ingin wajahnya yang sempurna dikotori dengan pel murahan, Sehun mendorong pel itu menjauh darinya secara kasar. Sooyoung terhenyak ketika bunyinya begitu keras.

"Astaga Oh Sehun!"

Kai berdiri dengan pejaman mata akibat pukulan pel yang menghantam kepalanya. Itu sakit sekali sungguh, terlebih kepalanya terasa berkunang-kunang.

"Ini sakit tau!"

Dan kantin pada hari ini dihiasi dengan sebuah pertengkaran.

.

.

.

Chanyeol berdiri menghadap pada empat sahabatnya dan satu kakak tirinya. Klinik sekolah mendadak kedatangan lima pasien yang tak terduga, akibat yang semula berawal dari pertengakaran kecil antara Kai dan Sehun.

Ini berawal dari cek cok Kai yang tidak terima kepalanya terpukul oleh pel yang tidak sengaja Sehun dorong sembarang. Sehun dihadiahi sebuah pukulan keras dari sendok Kai pada jidatnya, yang sekarang berubah ungu kebiruan, yang benjol sebesar kelereng.

Sehun yang merasa tidak bersalah mencoba membela diri dengan menyalahkan Sooyoung, karna menaruh pel -yang sebenarnya tidak sengaja- kemukanya. Sooyoung tidak terima dan mencoba membela diri, mengatakan ia hanya mencegah Baekhyun dan tidak sengaja melakukan itu.

Sehun bersikeras menuduh-nuduhnya, namun yang ada ketika ia mencoba mengelak, tangannya tidak sengaja menghantam wajah tepat dimata Jessica yang berada dibelakangnya. Jessica mencoba membalas, namun karna Sehun sigap menghindar, malah Sooyoung kena cakaran Jessica dipipinya.

Jessica minta maaf berulang kali, namun karna suasana sudah mendidih, Sooyoung menyalahkan Sehun sebagai tersangka pertama dari permasalahan mereka. Keduanya ingin memukul Sehun, Baekhyun mencoba menengahi dengan berada ditengah-tengah mereka, tapi naas ia terhantam oleh bogem mentah Sooyoung.

Bagaimanapun, Sooyoung pemegang sabuk hitam dalam eskul karate disekolah mereka. Baekhyun tau itu, sakit sekali.

"Baekhyun yang paling parah disini"

Mrs. Seolhyun berkata, seorang pengurus klinik disekolah mereka. Sooyoung menatap Baekhyun yang berada diujung kursi dengan pandangan bersalah.

Sooyoung berucap maaf tidak habis-habis dari pertama mereka di kantin sampai dibawa keklinik. Meskipun Baekhyun berkata tidak apa-apa, Sooyoung terus seperti itu dengan memeluk tangan Baekhyun. Hampir menangis kalau saja Baekhyun tidak mentertawakannya, meskipun gagal karna ia meringis merasakan nyeri dirahangnya akibat pukulan Sooyoung.

"Oh iya, dan kalian, Sehun, Kai, dan terutama kau Baekhyun. Kompres lagi ketika pulang"

Kai dan Sehun mengangguk patuh, memegangi kepalanya yang terluka. Sehun meringis keras ketika tangannya menotol keras jidatnya yang benjol.

"Astaga wajah tampan ku"

Sehun bercermin dengan dramatis, memegangi benjolnya dengan amat hati-hati. Matanya mendelik kearah Sooyoung dengan tajam.

"Apa?"

Sooyoung berucap, tangan kanannya menutupi cakaran Jessica dipipi kanannya.

"Jess-"

Sehun memanggil Jessica yang berada disamping Kai. "Terimakasih karna mencakarnya. -AKH!"

Sehun memekik keras setalah itu, ketika mendadak Sooyoung berdiri sambil menoyor benjol Sehun dengan keras. Pemuda itu terjatuh diatas kasur klinik, hampir saja menangis merasakan betapa dahsyatnya nyeri itu menyengat jidatnya.

"Makanya jangan banyak omong, Hun!"

Jessica berlalu setelah itu sambil memeluk tangan kanan Sooyoung membawanya menjauh dari dalam klinik.

"Matamu tidak papa, Jess?"

Sooyoung bertanya.

"YAK! CHOI SOOYOUNG! JESSICA JUNG!"

"Yang sabar, Hun"

Kai menepuk bahu kanan Sehun prihatin diiringi dengan kekehan Baekhyun. Meninggalkan pemuda itu sendiri di dalam klinik, diikuti Chanyeol dan Baekhyun.

"YAK! KALIAN!"

.

.

.

Ketika pulang, Baekhyun menyempatkan diri untuk membeli alat kompres dari apotek tidak jauh terletak dari apartement mereka. Sekarang ia mencari alat pemukul yang pas untuk menghancurkan es batu.

Energinya rasanya terkuras habis dan Baekhyun tidak punya kekuatan untuk menghantam es batu menjadi lebur dengan palu.

Diam-diam Chanyeol berada tidak jauh dari dapur melihat Baekhyun yang lesu terduduk dilantai dengan es batu serta palu menemaninya. Kakinya yang panjang melangkah mendekat kesisi Baekhyun.

Baekhyun hampir saja memekik keras ketika secara mendadak Chanyeol mengambil alih palu serta es batu batangan ditangannya. Pemuda itu menandangi dalam diam melihat Chanyeol dengan cekatan memukul-mukul es batu.

"Mana?"

Chanyeol meliriknya. "O-oh, apa?"

"Kompres"

"A-ah, ini"

Baekhyun menyerahkan itu dengan gemetar. Chanyeol mengambilnya, membukanya, lalu menaruh es batu kedalam kompresnya.

Tangannya terjulur memberikan kompres es batu kerahang Baekhyun yang biru. Pemuda itu meringis dengan pejaman mata.

"Aww-"

"Maaf"

"Eh?"

Mata Baekhyun langsung terbuka lebar, satu kata yang membuat ia sangat terkejut. Oke mungkin ini berlebihan, cuman kata maaf memang. Tapi coba ingat, menurut pandangan Baekhyun. Pemuda macam Chanyeol yang irit bicara, judes, dingin dan bla bla bla. Kata maaf mungkin menjadi tabu, tidak menggambarkan Chanyeol si sadis. Chanyeol style aniya!

Ya mungkin, pikirannya pasti tentu saja Chanyeol gengsi mengucapkannya. Tapi sekarang, bukankah Chanyeol sedikit... lembut?.

Baekhyun yang terkesiap dengan ketidak percayaannya begitu juga dengan Chanyeol yang terkejut menganggap bahwa sikapnya terlalu lembut, kelewat lembut malah.

"Kompres sendiri"

Chanyeol melemparkan kompres itu tepat kerahang Baekhyun yang biru. Tuh kan! Seperti itulah dia.

"Astaga! Ini sakit, tau!"

.

.

.

Sudah sembilan hari berlaru semenjak kejadian dikantin, itu artinya tinggal dihitung dengan jari, libur musim panas akan segera datang. Semua rencana sudah disiapkan, mulai dari tempat piknik, penentuan hari, perlengkapan, dan transportasi menuju tempatnya.

Ibu Sooyoung adalah seorang wisatawan, mobil van khusus berlibur tentu saja ada. Jadi urusan transportasi sudah beres.

Baekhyun mengusul kepulau Jeju disetujui dengan Sehun, namun, dapat protes dari Chanyeol. Sooyoung bilang, kata ibunya pantai disekitar Ilsan itu bagus. Berhubung tidak memakan perjalanan jauh setidaknya dibandingkan dengan Jeju, Chanyeol mengiyakannya dengan terpaksa, sementara yang lain terlihat antusias.

Dimeja dan Baekhyun sekarang menjadi rutinitas tempat nongkrong Sehun, Kai, Sooyoung dan Jessica. Setiap hari berlaru, Sooyoung selalu membawa makan pada louchbox besar yang ia bawa hari-harinya, entah itu isinya buah-buahan, sandwich, roti dan makanan lainnya.

"Sooyoung sudah tiga hari kau selalu bawa sandwich, aku bosan makan ini-ini mulu, tau?!"

Sehun menodong-nodong dengan kipas ditangan kirinya, sementara mulutnya asik menguyah sandwich bawaan Sooyoung.

"Meskipun kau mengeluh, tetap saja kau makan"

"Syukuri apa yang ada, Sehun"

Baekhyun menambahkan sambil mengambil sandwich di louchbox Sooyoung. Memandangi Sehun dengan alis yang menyerit naik.

Sehun cemberut mendadak, kakinya melipat. Sooyoung melempari Sehun dengan tisu yang Jessica berikan barusan, kemudian memagar makanannya dengan dekapan tangan.

"Jangan dimakan kalau begitu". Sooyoung berkata sinis.

"Ngomong-ngomong tentang camping-"

Kai berpindah duduk, naik kemeja untuk duduk disamping Sehun. Tangannya yang memegang sandwich milik Sooyoung, terambang didepan. Matanya melirik kemasing-masing mata sahabatnya.

"Siapa yang akan menyetir?"

Semua penjuru mata disekitar mereka, mendelik kearah Chanyeol yang meminum milk shake ditangan kanannya. Tau akan hal, diantara mereka yang paling baik menyetir adalah Chanyeol.

"Wae?"

"Kau yang menyetir"

Sooyoung menjetikan tangan kearah Chanyeol yang memandanginya.

"Tidak mau"

"Oh ayolah"

"Aku tidak ikut berarti"

"Tidak, tidak"

Sooyoung menggeleng keras setelah itu, matanya memandangi kesikitar. Bertemu dengan mata Kai yang menyerit kearahnya.

"Kau"

Jarinya yang lentik mengarah kearah Kai, pemuda itu memberontak tidak terima.

"Bodoh!, kenapa aku?!"

"Lalu, kau ingin dia?-"

Sooyoung melirik kearah Sehun. "Van ibuku rusak, kita semua akan mati. Mobil mu yang tercebur ke got tempo hari, harusnya menjadi pelajaran"

Sehun bangkit dari duduknya, protes tidak terima dihadapan Sooyoung.

"Itu kecelakaan, Sooyoung"

"Bilang saja kau tidak bisa menyetir. Harusnya maju, bukan mundur"

"YA!"

"Baik! Baik! Aku yang akan menyetir"

.

.

.

Chanyeol bangkit dari tidur paginya, yang sebenarnya terlalu jauh untuk dikatakan pagi. Ini masih subuh, sumpah. Siapa yang berani mengganggu tidur nyenyaknya?

Suara pecahan kaca terdengar dari arah dapur. Bunyi itu begitu familiar. Chanyeol buru-buru bangkit dari tidur, tidak ingin untuk kedua kalinya Baekhyun menghancurkan dapurnya.

Benar, pintu kamar Baekhyun sudah terbuka lebar, serta lampu ruang tamu dan dapur menyala. Matanya mendapati empat koper besar dekat sofa serta tiga termos piknik.

Kakinya yang panjang melangkah kearah dapur yang terdengar gaduh. Selama pandangannya mengeliling, Chanyeol mendapati dapur layaknya kapal pecah.

Sooyoung yang terlihat sibuk dengan sandwich, lalu Sehun dan Jessica yang masih tidur mengenaskan dikursi meja makan. Serta Kai dan Baekhyun yang asik memunguti isi kulkasnya.

Bunyi rebusan sup dalam panci terdengar, Sooyoung yang lebih peka bergegas mematikan kompor. Asap mengepul sangat banyak ketika ia pertama kali membuka tutup panci. Sendok yang sebelumnya ia taruh disampingnya, Sooyoung ambil untuk menyendok sesendok sup yang masih panas.

"Aku tau masakanku selalu enak"

Kemudian ia tertawa sendiri, Chanyeol merinding sendiri karnanya. Satu kali berdehem rupanya masih tidak mempan untuk menyadarkan mereka bahwa pemilik rumah sudah berdiri disinggah sananya.

"Ehem"

"Ehem!"

"EHEM!"

Astaga, bahkan rasa tenggorokan Chanyeol terasa dikeruk dengan dehemannya sendiri. Terselip benda apa ditelinga mereka, sehingga deheman Chanyeol yang keras tidak dihiraukan?

"Apa yang kalian lakukan?"

Kai menjatuhkan botol minuman jus karna terkejut mendengar suara dadakan Chanyeol layak geraman. Baekhyun memekik keras karna kakinya yang terbalut sendal tidur tipis dijatuhi botol jus. Sakit, oh pasti.

"Oh hei, Chan"

Sooyoung menanggapi dengan santai tanpa menghiraukan tatapan nyalang dari kedua mata Chanyeol yang berapi. Alih-alih meminta maaf karna mengotori dapur pemilik rumah, Sooyoung justru kembali asik mengaduk sup dipanci.

"Kau bisa membantuku?"

Chanyeol mendecih. "Demi Tuhan, ini masih jam setengah lima subuh. Haruskah?"

"Harus"

Sooyoung mengangguk mantap. "Aku bahkan terbangun jam dua dini hari. Rekor terbaruku"

Ia tertawa setelah itu, memutar-mutar sendok sup lalu mengibaskan rambut membanggakan diri.

"Ayo bantu aku memasukkan supnya kedelam termos"

"Masukkan sendiri!"

Kemudian Chanyeol berbalik untuk kembali menuju kamarnya, tidur lagi meskipun Chanyeol tau, ia tidak akan bisa tidur senyenyak sebelumnya mengingat suara gaduh didapur sangatlah berisik.

.

.

.

Chanyeol terpaksa harus mengubur dalam-dalam niatnya untuk melanjutkan tidurnya yang tertunda saat perjalanan. Van yang diisi oleh Sehun, Baekhyun, Kai, Sooyoung, Jessica dan juga dirinya, benar-benar berisik entah Sehun yang selalu ingin bermain dengan sambung kata aneh atau sesekali Baekhyun mengguyon candaan dan juga Jessica yang bercerita ketika ia berlibur dipulau menyeramkan.

Untungnya Chanyeol duduk disamping Kai yang sedang mengemudi, tidak ada pembatas sama sekali untuk depan dan belakang kecuali kursi yang ia dan Kai duduki.

"Chanyeol-"

Kai mengajak mengobrol meskipun ia berkonsentrasi pada kemudian, matanya yang tajam melirik kesamping Chanyeol.

"Aku tau kau sebenarnya tidak ingin ada acara seperti ini"

"Aku tersanjung kau begitu pengertian, Kai"

Kai tertawa setelah itu, tangan satunya terletak mengelus-ngelus dagunya.

"Memang apa yang dilakukan Baekhyun, jadi kau sampai ikut?"

Matanya memandangi Baekhyun -dari kaca spion dalam- yang terlihat sibuk bercerita dengan tiga orang yang menjadi pendengarnya.

"M-maksudmu?"

"Sooyoung, Jessica, dan Sehun membujukmu secara bergantian dan kau menolak. Kami menyuruh Baekhyun, dan kau menyetujuinya"

"Kau pintar sekali"

"Aku butuh jawaban, bukan komentar"

Chanyeol terbatuk, merasakan disekitar sekarang menegang. Intimidasi serta tatapan seserius Kai, tentu saja bahwa keadaan yang terjepit seperti ini mendesaknya mau tidak mau menjawab.

"Dia tiap hari selalu memintanya"

"Aku tau kau berbohong"

Iya, karna Kai sahabat dari ia kecil. Berbohong kepadanya adalah sebuah kesalahan.

"Baiklah, tidak sekarang"

Chanyeol menyerit memandangi Kai yang terkikik. "Apa maksudmu?"

"Kau pasti tau maksudku"

"Giliran Chanyeol!"

Sooyoung mendadak mendekat dengan acungan jari ke hadapan wajah Chanyeol. Mata Chanyeol mendelik kearah tiga orang dibelakangnya, ia menjadi pusat perhatian, semua memandanginya seperti menunggu undian berhadiah emas batangan.

"A-apa?"

"Tidak bisa menjawab!"

Sooyoung memekik disambut dengan sorakan antusias ketiga orang dibelakangnya.

"Chanyeol yang akan meneraktir kita makan!"

"Yeayyy!"

.

.

.

Chanyeol dengan terpaksa merelakan tujuh puluh lima ribu won-nya terkuras dari dalam dompet, untuk meneraktir kelima orang yang kini telah kekenyangan.

Sehun mendadak bersendawa keras didalam pengapnya Van yang mereka naiki. Sooyoung yang merasa itu jorok sekali menginjak bahu Sehun dari arah bekalang, karna ia terkapar tidak berdaya pada kasur Van.

"Aku tidak tau apakah para gadis disekolah kita masih suka pada Sehun, mengingat ia begitu jorok"

Jessica berkomentar dengan sarkatis bersandar pada dinding Van. Matanya mendelik tidak suka kearah Sehun yang bersila ditengah-tengah Van.

"Ini hidupku"

"Tapi kau harus tau diri"

"Sudah! Kita berangkat"

Kai berujar menengahi kemudian menginjak pedal gas menancap ketempat yang mereka tuju.

"Oh iya, Jess"

Sooyoung berucap sambil membenarkan duduknya. "Kudengar Minhyuk anak band itu pacaran dengan salah satu gadis dikelas kita"

"Oh itu-"

Jessica kemudian merogoh-rogoh kantung celananya, mencari benda persegi yang canggih dimana sumber berita selama ini ia dapat.

"Coba tebak siapa pacarnya Minhyuk?"

Jessica tersenyum sambil memandangi ponselnya. Kemudian ia beralih menatap satu persatu orang disekitarnya.

"ChoA?", Baekhyun bangkit dari rebahannya. Dan Jessica menggeleng menyikapi Baekhyun.

"Sulli?"

"Tidak"

"Mina?", Sehun menebak

"Bukan"

"Lalu?"

Sooyoung geram sendiri jadinya.

"Sena"

"HAH?!"

Semua orang yang berada didalam Van berteriak keras, bahkan Chanyeol juga ikut yang semula tidak tertarik sama sekali. Jessica tertawa setelah itu melihat ekspresi yang menggelikan bagi pandangannya.

"Si culun itu?"

"Mereka bahkan berciuman di bar"

Sooyoung bergegas menarik paksa ponsel ditangan Jessica, melihat gambar yang menampilkan Minhyuk dan Sena tengah benciuman dilantai dansa. Sehun dan Baekhyun ikut mengkrubungi dari balik sisi bahu Sooyoung.

"Desas desusnya sih, Jaerin selingkuh dengan Johnny", Jessica menambahkan sambil membersihkan kukunya.

"Kepolosan jadi hal yang tenar untuk menutupi kenakalan ya?"

"Aku tidak bisa bayangkan bagaimana gemparnya sekolah kalau memang benar Sena selingkuh dengan Johnny mengingat sekarang Minhyuk naik sabuk jadi hitam gelap"

Sooyoung merinding sendiri saat tangannya mengembalikan ponsel Jessica. Baekhyun menyetujui dengan satu jentikkan jari diudara.

"Dia, kan. Emosional. Aku yakin dia akan mengamuk dengan karatenya"

"Ku rasa kelasnya Johnny terbelah jadi dua"

Sehun tertawa keras setelah itu diikuti dengan tawa Baekhyun yang renyah.

"Kau kalah dengan Minhyuk, Soo"

Sehun tertawa lebih keras dari sebelumnya menyetujui ucapan Baekhyun dengan anggukan yang mengejek. Sooyoung berdengus nyaring, kala Sehun mengejeknya.

"Fisik perempuan dengan pria, kan, beda"

"Tapi kau, kan, pria"

"YAK! OH SEHUN!"

"Sampai!"

Kai lebih dulu memekik. Bergegas menanggalkan sabuk pengaman yang melingkari tubuh depannya. Menarik kuncian mobil, lalu turun didahului kaki kiri.

Sooyoung bergegas ingin turun, Sehun menghalangi aksesnya, membuat Sooyoung dengan kesempatannya mendorong Sehun menajuh dari dekat pintu Van. Sehun mengaduh kesakitan karna kepalanya sukses mendarat ditiang penyangga kasur atas Van.

Jessica tertawa melihat itu. Kemudian ketika Sehun ingin bangkit lagi, Jessica ikut-ikutan mendorong bahu Sehun kesamping, membuat tubuh kurus pemuda itu kembali terjatuh diatas kasur Van.

"Yak kalian!"

Jessica tertawa keras setelahnya.

"Kau apakan dia Jess?"

"Aku mendorongnya, seperti mu"

Mereka berhigh five bersama, tertawa puas disaat yang sama. Tidak peduli sama sekali dengan sikorban yang sedang mendidih dibelakang sana.

"Tempat ini sangat bagus, aaaaaaa!"

Baekhyun mendadak berseru nyaring sekali sambil merentangkan kedua tangannya diudara. Sekarang sudah jam lima sore, itu berarti mereka menghabiskan waktu empat jam untuk perjalan ditambah dengan acara makan-makan satu jam.

Matahari masih dalam posisi ingin bertumbuk dengan luasnya pantai. Baekhyun memandangi dengan mata yang menyipit bagaimana warna matahari yang kuning kemerahan bersinar dipantulkan air pantai.

Kedua sudut bibirnya melengkung. Seseorang menghampirinya.

"Kau benar"

Kai merangkul bahu Baekhyun sambil tersenyum memandangi matahari.

"Ayo mandi dipantai"

Kai langsung menarik tubuh Baekhyun untuk mendekat ketepi pantai. Tidak peduli pada rengekan Baekhyun yang meronta minta dilepas. Baekhyun memekik ketika air pantai membasahi kakinya sampai kelutut.

Bajunya sudah setengah basah akibat siraman Kai pada badannya. Pemuda itu tertawa sambil membalas perlakuan Kai dengan hentakan kakinya, membuat kedua baju orang itu basah kuyup.

"Tunggu ya, aku ambil pelampung kasur "

Baekhyun mengangguk bertepatan dengan sepeninggalan Kai menuju Van yang terletak diatas gundukan pasir pantai.

Baekhyun berbalik kebelakang melihat gelombang kecil yang akan menerjangnya. Kakinya bergerak secara refleks kebelakang. Namun karna kedapnya air pantai, Baekhyun menginjak karang dibawahnya, tubuhnya terjatuh terduduk. Gelombang pantai yang semula kecil kelihatan dari jauh ternyata cukup membuatnya ikut terhanyut dengan gelombang itu.

Baekhyun menyesali bahwa Kai belum datang atau salah satu dari Sooyoung, Jessica, Sehun, dan Chanyeol tidak kemari.

Beberapa saat berlalu Kai kembali datang dengan dada telanjang sambil membawa dua pelampung kasur dari masing-masing tangannya. Matanya memandangi bingung, melihat Baekhyun yang tidak ada disekitarnya. Matanya menyipit mendapati jauh sekali tangan seseorang terambang mengepak-ngepak dalam air, seperti tenggelam.

"Astaga!"

Kedua mata Kai membelakak.

"BAEKHYUN TENGGELAM!"

Sooyoung, Sehun, Jessica dan Chanyeol melihat kesumber suara jauh didepan sana. Melihat Kai yang tergopoh-gopoh berenang menyebrangi pantai. Gelas ditangan Chanyeol terjatuh dan ia berlari menyusul Kai.

.

.

.

TBC

.

.

Ehehe balik nih bawa kelanjutannya. Ada yang masih ingat? Maaf yah telat update, telat banget malah. Bakal dilajut kalau banyak yang minat^^