A/N: Ayayaya, gak nyangka responnya positif. Padahal ini baru fic pertama,looo. Terima kasih bagi para Readers yang sudah setia membaca dan para reviewer yang sudah memberi komen. Saya jadi termotivasi untuk bikin ini jadi lebih bagus lagi.
Meski saya bilang saya akan publish chap. 2 kalau jumlah review dah lebih dari 5, tapi tangan saya dah gatel bwat mublish.
Ya, toh gakl masalah. Anggap saja memberi service pada readers.
Oh, iya. Menggalau dulu ya.
OWW,MAN! DUA ASISTEN GURU GW MESRA BANGET! KYAA! Pair SteVian! SteVian! *nama yang dikasih ama Perkumpulan Fujoshi di sekolah ku buat tuh dua orang* sibuk menggalau tentang dua asiten gurunya yang sumpah CAKEP ABIS plus COCOK-BANGET-GW –PASANGPASANGIN! And sifat mereka berdua, ah so-Gay-so-sweet. Ah, salah. Mereka berdua emang paling HOT di sekolah gw. Kemana-mana berdua, apalagi kalau pas dikelas. Beuhh-kalau guru lagi nerangin, mereka langsung mojok berduaan dibelakang kelas. Pernah juga ada pengakuan tak langsung dari sang seme.'...Enggak kok 'kan ada kak Vian.' Fufufu. Ini mah bukan sekedar sahabatan lagi antara sesama rekan kerja. Udah pacaran aja lo berdua!
Silakan lewatkan Kegalauan saya bila kalian masih waras.
Yaksud! Happy Reading.
Don't Like? Don't Read
Warning: cerita didominasi oleh konten Boys Love a.k.a Yaoi, OOC demi keperluan cerita, miss typo.
Pairing: PrusCan, USUK and other pairing (ini OTP saya, kalau tidak suka jangan dibaca) , Slight SpaMano and FraCan
Summary: Dimana ketika hati itu terkoyak. Dimana saat kau bawa diri itu menghilang. Kupastikan aku akan menemukanmu. Karena tanpa kau sadari, benang merah yang selalu menghubungkan kita lah yang membawaku ketempat mu.
Red Thread
(...Tak akan pupus... meski langit dan bumi menjadi pembatasnya...)
Original Story by Rin
Disclaimer © Hidekaz Himaruya
Family, Friendship, Hurt/Comfort, Romance
Rated T-M (rated bisa berubah sewaktu-waktu)
.
Chapter. 2
.
Kediaman Jones. Wednesday, Month XX, Year 20XX. 06.45 AM
.
Burung-burung berkicau menyanyikan lagu kebangsaannya. Menyongsong sang mentari yang beranjak dari perabadiannya menggantikan sang penjaga malam menjaga waktu.
Tirai korden membiarkan surya pagi menyusupi celah-celah kecilnya, membangunkan sang majikan yang masih menyelam dalam bunga tidur masing-masing.
Kelopak mata itu menegerjap, terganggu akan sinar mentari yang menyorot masuk matanya. Mata yang tadinya tertutup itu terbuka, memperlihatkan biru safir yang menghias wajah tampan itu.
Sedikit gerakan sehingga dirinya terduduk diatas kasur. Sampai akhirnya dia menyadari sesosok tubuh polos tanpa sehelai benanpun tertidur pulas disampingnya. Bibir merah itu tersenyum menatap sosok british itu. Tangannya terangkat mengelus lembat pirang yang sedang tertidur.
"Selamat pagi, Iggy." Bisiknya ditelinga pemuda itu sembari memberi kecupan kecil diwajahnya yang hanya ditanggapi dengan erangan kecil meluncur keluar, tapi tak cukup untuk membuat kelopak mata berisikan permata emerald tersebut terbuka.
Tak mau mengganggu, Ia pun beranjak dari pembaringannya dan mengkenakan sekenanya piyama miliknya yang sudah berserakan dilantai dan beranjak turun keruang makan dimana pastinya adiknya sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk mereka.
"Kuharap ada Hamburger." Harapnya untuk menu sarapan pagi ini.
Harum masakan menguar dari ruang makan yang bersatu dengan dapur yang kini menjadi tujuannya. Dari sini, Bisa ia lihat punggung sang adik yang mengkenakan celemek masak sedang sibuk menyiapkan sarapan entah apa menunya.
Seringai jahil terukir ketika otaknya berputar mendapat ide untuk mengisengi sedikit adiknya itu. Perlahan ia memperkecil jarak dengan adiknyanya. Sebisa mungkin tanpa suara. Jangan sampai adiknya sadar.
Sementara, pria berkacamata dengan pirang ikal yang terpotong rapi sebahu itu masih menyibukkan diri dalam pekerjaannya tanpa menyadari sang kakak sudah mengangkat kedua tangannya. Bersiap menerjang sang adik.
Dengan gerakan tiba-tiba, Alfred memeluk Matthew yang lengah dari belakang.
"Pagi Matt!"
–'!'
.
.
Klontang –
–PLAK!
.
.
Iris violet itu mengecil. Sirat ketakutan terpancar jelas dari wajahnya. Nafasnya memburu cepat. Keringat dingin mengalir mulai dari dahi hingga jatuh bisu kepermukaan. Tangannya terasa nyeri, memerah akibat tamparan yang baru saja dilakukannya pada orang yang tiba-tiba memeluknya.
Alfred membelalak. Tidak menyangka kalau ia akan mendapat tamparan menyisakan bekas merah yang ketara jelas diwajahnya sebagai reaksi dari perbuatannya. Sebelah tangannya mengusap bekas merah panas di wajahnya. Meringis sedikit ketika perih menyerang.
Matthew pun tersadar, panik ketika tahu siapa orang yang telah ditamparnya.
"A-Alfred? Ah,ah ma-maafkan aku. Aku tidak tahu kamu yang..." panik melandanya. Iris violet yang tadinya menyiratkan ketakutan tergantikan kecemasan pada luka tang disapat saudaranya. Luka yang ia buat.
Alfred masih terdiam, kepalanya tertunduk menghindari kontak mata dengan mata violet adiknya, memikirkan sesuatu. Sikap itu justru membuat Matthew semakin takut kalau Alfred akan... membencinya.
Namun, semua pemikiran negatif itu terhapuskan ketika sebuah tangan menepuk hangat kepalanya. Dia mendongak sehingga mendapati cengiran lebar yang terpampang diwajah kakak kembarnya.
"A-Al?" heran Matthew akan sikap kembarannya.
"Tadi itu tamparan hebat Mattie!" seru Alfred berapi-api.
...
"Hah?"
"Ayolah Matt, kau bisa gunakan itu kalau misalnya Francis atau pria lain mengganggumu!" Matthew hanya bisa sweat drop dan tertawa garing menanggapinya.
"Ah.. Haha, be-begitu,ya?"
"Ngomong-ngomong kau masak apa untuk sarapan?"
Matthew terdiam sesaat sebelum akhirnya tersenyum. Senang karena kakaknya mau mengerti perasaannya untuk tidak mengungkit-ungkit masalah tadi seterusnya.
"Aku hanya membuat roti bakar isi dengan telur mata sapi saja."
Jawaban Matthew membuat Alfred langsung muram karena makanan kesukaannya tidak ada dalam daftar sarapan pagi ini.
"... dan Hamburger untukmu."
Matthew, kau memang malaikat yang diutus dari surga untuk menjadi adikku.
"Kemana kak Arthur? Apa dia masih tidur?" celetuk Matthew tiba-tiba, heran karena tidak mendapati sosok British itu pada jam ini. Alfred yang sedang memakan Hamburgernya yang ketigapun menengok ke atas tangga. Memang, tidak terasa akan sesosok pun yang akan menuruni papan bertingkat itu.
"Tadi pas aku bangun dia masih tidur. Semalam juga dia mungkin akan bergadang menyelesaikan laporannya kalau tidak kutarik paksa keranjang. Mau kupanggilkan?" tanyanya dan disambut dengan seulas senyum manis.
Segera saja Alfred beranjak meninggalkan ruang tempat ia duduk dan melangkahkan kakinya menginjakkak tangga yang mengeluarkan derit tiap ia berpijak. Namun, dipertengahan tangga ia terhenti. Tubuhnya berbalik menatap ruangan yang telah ia tinggalkan dimana adiknya sedang duduk sembari menunggu dia dan Arthur.
Tangannya kembali meraba bekas tamparan Matthew tadi. Masih ada sedikit pedih disana. Matanya menyorot sedih ketika pikirannya memutar ulang kejadian itu. Mengingat refleksi pancaran sirat ketakutan dari wajah yang tertangkap retinanya tadi.
'Harusnya aku yang meminta maaf... karena hampir melupakan 'hal' itu.' Batinnya berbicara sedih ketika kenangan lama yang menyakitkan itu terputar ulang.
Terutama untuk Matthew.
.
.
"Eh, kau sudah mau balik ke Inggris?" tanya itu terlontar dari mulut kembar identik yang menikmati sarapannya sambil berbincang kecil.
"Ya, besok keberangkatannya." Jawab Arthur menyesap Earl Grey Tea -nya.
"Kenapa cepat sekali? Baru kemarin kau disini."
"Benar Iggy, masa kau tidak rindu sama aku... sama Matthew juga."
Arthur meletakkan cangkir tehnya dan menghela nafas," Apa boleh buat, aku tidak mungkin meninggalkan perusahaan lebih lama."
Ya, benar. Arthur adalah salah seorang kepala direktur yang memegang kantor cabang salah satu perusahaan terbesar di Inggris. Dia mengenal Alfred dan Matthew juga karena kedua orang tua mereka adalah rekan bisnis. Berhubung Arthur satu-satunya bungsu di keluarga Kirkland, Alfred dan Matthew yang notabene lebih muda dua tahun darinya, maka Arthur mengambil posisi kakak bagi mereka sampai mereka berusia 10 tahun dan Arthur 12 tahun.
Arthur kembali bertemu mereka lima tahun kemudian saat ia menginjakkan bangku 3 SMU – dikarenakan ia mengikuti kelas percepatan satu kali. Saat itu Alfred dan Matthew yang – tidak disangkanya menjalani kelas percepatan tiga kali menjadi adik kelasnya. Sebagai siswa transfer dari Amerika.
Dan dimasa itu pulalah dimana Arthur dan Alfred menjalin hubungan asmara.
Ow, Arthur memerah mengingatnya.
Namun, setelah ia lulus dari pendidikannya atau lebih tepatnya dua tahun lalu, saat ia berusia 19, kedua orangtuanya meninggal dalam kecelakaan dan sejak saat itu kendali akan perusahaan keluarganya dipegang oleh kakak sulung mereka, Scott Kirkland.
Dan hasil kerja kerasnya terbayar, karena saat ini ia memimpin salah satu cabang perusahaan keluarganya yang paling besar dalam usia muda. Itu membanggakan. Tapi, karena itu pulalah dia menjadi sulit bertemu Matthew dan – terutama Alfred karena sibuk mengurusi pekerjaannya.
"...-di bagaimana Iggy?"
Arthur tersadar dari lamunannya. "Eh? A-apa?"
"Iggy! Jadi dari tadi aku bicara kamu sama sekali 'gak dengar?" marah Alfred karena sedari tadi omongannya tidak digubris.
"Ah, maaf git. Memang apa yang kau bicarakan?"
"Gak jadi!" Alfred melakukan pose memanyunkan bibir dan menggembungkan pipinya tanda dia mengambek berat. "Kau ini..." Arthur menghela nafas berat, kekasihnya satu ini benar-benar kekanakan. Hhh, dia jadi rindu dengan Alfred saat ia masih kecil. Imut, lucu dan lebih manis daripada sekarang – meski masih tidak bisa dibandingkan dengan Matthew.
Ngomong-ngomong soal Matthew, mana dia?
"Matthew kemana, Al?" tanya Arthur.
"Dia sudah berangkat ke Universitas dari tadi." Oh, yeah. Kelihatannya dia melamun cukup lama kali ini. "Kau sendiri tidak kuliah?"
Alfred menggeleng, "Kuliahku lusa, jadi dua hari ini aku santai. Dan besok Matt juga tidak ada kuliah jadi kami bisa mengantarmu ke bandara." Mungkin Alfred tidak sadar tapi Arthur menyadari ada yang salah dengan lelaki ini ketika menyebut nama adiknya.
"Apa ada masalah Alfred?"tanya Arthur hati-hati. Alfred sedikit bergeming sebelum menjawab, "...Ya, aku kesulitan meneruskan game dari Kiku, nih."jawab Alfred mengelak.
"Apa ada hubungannya dengan Matthew?" selidik Arthur lagi.
Tidak ada jawaban.
Pria Amerika itu segera beranjak dari kursi di ruang makan dan pergi kearah ruang keluarga
"Ck!" Arthur mengikuti kemana Alfred pergi, ia mendapati Alfred sedang duduk bersila dihadapan Televisi dan mengacak-ngacak kaset game koleksinya.
"Jangan coba-coba bohong padaku, Al. Ada apa dengan Matthew?" tanya Arthur lagi, kali ini dengan geram emosi dalam suaranya.
Tidak ada sahutan.
"ALFRED!" bentak Arthur kali ini.
...
"Entahlah Iggy..." jawab Alfred lirih membuat Arthur benar-benar khawatir, kenapa dengan dia?
"...Aku takut, kelihatannya aku membuat trauma akan 'kejadian itu' pulih." Arthur membelalak, paham apa yang dimaksud Alfred. Yang dimaksud dengan 'kejadian itu'.
Perasaan kesal yang baru saja dirasa sekarang tergantikan dengan rasa simpati. Perlahan kakinya membawa dirinya mendekati sang kekasih dan memeluknya dari belakang. Tangannya mengelus Dirty Blonde didepannya bermaksud menenangkan, seperti apa yang sering ia lakukan padanya ketika mereka masih dalam masa kanak-kanak. Hening merayap menyusup diantara mereka.
"...aku tidak mau melihatnya seperti dulu lagi, Iggy."bisa dirasakan Alfred menahan air matanya."...Seperti waktu itu...dia benar-benar hancur..."
"Shht, Alfred. Aku tahu." Bisiknya lembut sembari mengecup pelan dalam bisu kepalanya, "Semua akan baik-baik saja Al." Katanya menenangkan Alfred. Atau untuk dirinya sendiri?
Untuk beberapa saat mereka bertahan dalam posisi itu. Arthur terkejut, tangan yang tadinya digunakan untuk mengusap kepala Alfred sudah berpindah tempat pada genggaman besar kekasihnya. Mata emeraldnya mendapati biru safir itu kini menatapnya dengan pandangan yang tidak bisa digambarkan. Bisa dirasakan punggungnya menyentuh lantai dingin yang tertutupi karpet saat lengan itu mendorong kedua bahunya. Ia bisa merasakan nafas panas dari wajah kekasihnya yang semakin mendekatkan dirinya sebelum akhirnya mereka terpaut dalam ciuman panas.
"Nghh..." erang Arthur saat lidah itu menyusup masuk dalam rongga mulutnya, memberi ciuman panas namun begitu lembut.
"Terima kasih, Iggy." Bisiknya lembut disela ciuman tersebut dan segera kembali menyatukan diri mereka dalam sebuah ikatan takdir yang terhubung oleh sebuah benang merah.
.
Yale University. Wednesday, Month XX, Year 20XX. 04.56 PM
.
Rintik tangis langit kembali menitik, entah kenapa akhir-akhir ini sering hujan padahal bukan musimnya. Udara mendingin ditambah dengan dingin AC diruangan yang kini Ia tempati membuatnya sedikit merinding menggigil.
Matanya terpaku pada dosennya yang sedang memberi pengarahan tugas dihadapan para mahasiswa – termasuk dirinya. Tapi, tak satupun kata yang diucap dari dosen tersebut yang masuk ketelinganya- apalagi otaknya. Bahkan,ketika bel berbunyi nyaring ia masih terdiam dalam posisi yang sama.
"Ow, apa kau ingin menginap disini, Mon cher~..."
Sampai sebuah suara dari seorang pria yang ia kenal menyadarkannya kembali.
Violet bertemu safir, ketika dirinya mendapati seorang pria dengan pakaian yang sangat ngejre– eee... fashion dan potongan rambut yang mirip dengannya. Wajahnya tersenyum dengan senyuman seperti seorang pria hidung belang pada umumnya
"Kenapa mon cheri~? Ada sesuatu diwajahku sampai kau memandangiku begitu?" bisik pria itu mendayu ditelinganya. Oh, tanpa dia sadari jarak mereka bila dilihat dari jauh akan terlihat seperti orang berciuman.
BUGH
Sebuah buku diktat yang cukup tebal –garis bawahi kata cukup. Mendarat tepat diwajah pria berkebangsaan Prancis itu.
"Hentikan bertingkah begitu Kak Francis!" bentak Matthew marah.
"Aw. Kau tidak perlu kasar seperti itu, Mattiue~~" Tawa Francis kecil menghadapi sikap Matthew yang sedikit kasar padanya. Mungkin karena Arthur yang mengurus kembar Jones ini kali, ya? Sampai Matthew yang manis bisa bersikap kasar seperti ini padanya. Pikir Francis aneh. Walau sebenarnya itu kenyataan.
Francis menghela, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Matanya kembali tertumbuk pada wajah manis yang dimiliki oleh pemuda yang sedang bersiap untuk pulang.
"Mattiue, bagaimana kalau kau pulang bersamaku, kulihat Alfred tidak sedang disini. Hari ini kau pulang sendiri, kan?" tanya Francis saat Matthew beranjak dari duduknya.
"Tidak usah Kak Francis, aku akan pulang sendiri." Jawab Matthew tersenyum.
"Tidak apa, bahaya kalau anak semanismu pulang sendiri."balas Francis lagi tidak mau menyerah. Oi Francis, justru kalau Matthew pulang bersamamu bahaya yang mengancam Matthew akan semakin besar.
"Ti-tidak apa." Matthew mulai gusar.
"Sudahlah."Francis menarik lengan Matthew dan mulai menggandengnya, memaksanya agar pemuda itu pulang bersamanya.
.
DEG
.
.
Matthew memucat ketika kulit jemari tangannnya berinteraksi dengan tangan besar Francis. Membuatnya terdiam terpaku ditempat ia ada yang salah, Francis menatap kembali Matthew yang tertunduk masih tidak bergeming. Perasaannya saja, atau mungkin benar tangan mungil dalam genggamannya itu ... gemetar?
"Kenapa?" tanyanya.
Matthew menepis pelan genggaman Francis pada tangannya,"Maaf..." Ucapnya nyaris berbisik. "Tapi aku...ingin pulang sendiri." Mata itu menyorot sedih. Safir dihadapannya itu meski sedikit, menangkap sirat kecemasan dibalik rautnya yang tersenyum.
"Baiklah... Maaf aku memaksamu." Ucap Francis lirih.
Matthew memaksakan diri tersenyum maklum,"Tidak apa-apa kak Francis... aku pulang duluan."
...
Hening merayap. Francis hanya dapat menatap punggung mungil itu semakin kecil dan menghilang dalam jarak pandangnya. Menyisakan gema pilu yang bersahutan diruangan. Merasa tidak ada gunanya lagi ia disini. Ia bermaksud untuk pulang.
Tak jauh dari sana terlihat sepasang emerald melihatnya sedari tadi dari kejauhan.
"Francis."panggil pemilik mata tersebut.
Dia yang merasa namanya disebut,menengokkan kepalanya kebelakang. Senyumnya sedikit terangkat ketika tahu siapa sosok yang memanggilnya. "Hei Tonio." Sapa Francis balik pada pemuda dengan kulit kecoklatan yang berlari kecil seraya melambaikan tangan kearahnya.
Sambil tersenyum lebar, pemuda berkebagsaan Spanyol yang lebih dikenal dengan nama Antonio Carriedo, menepuk bahu pemuda Prancis yang kini berjalan beriringan disampingnya. "Kulihat tadi kau ditolak oleh Jones adik, ya?...Errr –siapa namanya?"
Francis melirik sahabatnya,"Namanya Matthew, Tonio... dan –Yah, memang dia menolak pulang bersamaku." Jawab Francis miris pada sahabatnya.
"Mungkin dia tahu 'bahaya' yang akan menghampirinya kalau pulang bersamamu." Guraunya. Jangan tanya. Gelar yang disandang Francis sebagai 'Lelaki Cinta' atau dalam konteks aslinya 'Pria Mesum' sudah menyebar keseluruh kalangan mahasiswa di Universitas ini.
"Aku tidak akan melakukan itu padanya."
"..." Antonio terdiam mendengar kata-kata Francis yang terdengar –bersungguh-sungguh.
"Kenapa Antonio?"
Antonio masih diam dari rasa herannya sampai akhirnya menjawab "... Tidak." Sambil tersenyum penuh arti.
Tak ada kata lagi hingga mereka sampai dimana seorang pemuda berambut coklat menunggu bersandar disebuah mobil yang berada di tempat parkir terbuka yang dikhusukan bagi para mahasiswa yang membawa kendaraan pribadi.
"Lama sekali kau, Tomato bastard!" umpatan manis – menurut Antonio saja, meluncur dengan lancar dari bibir seorang Italian berambut coklat. "Ahhh~ Lovi menungguku,ya?" tanya Antonio pada Sang Italian bermulut pedas yang menjadi kekasihnya.
"Jangan banyak omong! Cepat antar aku pulang! Atau.."
"Atau apa Lovi?' Tanya Antonio dengan suaranya yang terdengar seksi –ditelinga yang sudah memerah semerah buah kesukaannya"... Hm?" Antonio mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir merah muda itu lembut.
"To-Tomato Bastard." Namun tak urung merah merona diwajahnya tak dapat disembunyikan. Segera saja Lovino mendorong pemuda tanggung kecoklatan didepannya dan segera masuk kedalam mobil dengan semburat merah yang membuatnya semakin manis bagi Antonio.
Francis yang sedari tadi memperhatikan interaksi sahabatnya dengan kekasihnya hanya bisa berwajah facepalm.
"Kalau begitu aku kembali dulu, Antonio." Pamit Francis dan membalikkan badan melangkah ketempat dimana mobilnya terparkir. "Ah, Francis! Sebentar!" seru Antonio membuat langkah pada pria pirang itu terhenti sejenak.
"Apa lagi, mon cher~~." Tanya Francis pada Spaniard yang tersenyum lebar dari balik kaca mobil yang ditempatinya."Mengenai besok... bisa kau datang kerumahku, besok kujelaskan alasannya?"
"Ada perihal apa sampai kau tak mau mengatakannya sekarang?" balik Francis bertanya.
"Tidak apa-apa... hehe, sampai jumpa besok." Segera saja Antonio menancapkan gas dan membawa sebongkah besi itu pergi menjauh yang hanya meninggalkan kepulan asap debu yang tak lama bersua tertiup angin bersama udara sekitar.
.
.
Tak ada yang tahu.
Dan tak ada yang mengira.
Esok hari akan berbeda dengan kemarin.
Ketika masa lalu kembali muncul kepermukaan.
Dan tak ada satu pun yang dapat menghentikan roda waktu yang terus mengalir berputar seiring jantung berdetak.
.
.
TBC
.
.
A/N: Hyaa, Gomen bagi penggemar PrusCan, mereka belum muncul. (ya, iyalah. Ketemu juga belum.) Btw, saya rasa tulisan saya kali ini lebih jelek dari yang chapter awal deh. Ahhh, gomenasai kalau readers kecewa.
Hohoho, ada slight FraCan nih. Soalnya, selama dua tokoh utama tercinta kita belum bertemu, saya akan menulis beberapa slight other pairing. Hehe. Gomen kalau saya seenaknya! Jangan Timpuk saya!
For Anonymous reviewers:
Aiko-chan Lummierra: Uwaa, terima kasih sudah mereview. Gak keberatan pair PrusCan? Ternyata lumayan banyak juga ya, yang suka pair ini. *seneng punya temen sehati*#PLAK. Mattie kenapa yaaaah? Fufufu. Baca aja terus, OK. Btw dah apdet nih.
Seperti biasa, kata terakhir untuk menyemangati kami para Author.
REVIEW? PLEASE GIVE ME.
