~oOo~ { READ MY BIO FIRST BEFORE YOU READ MY OWN FANFICT } ~oOo~
"Dimana suamimu? Kenapa kau seorang diri disini?" Ucap seorang lelaki berkulit tan pada lelaki mungil yang tengah duduk sendirian di sofa lobby.
"Dia masih berada di dalam perjalanan kesini.." singkat lelaki mungil yang memiliki mata bulat tersebut tanpa mau menatap lawan bicaranya.
Kai -lelaki berkulit tan itu- mengeluarkan senyum remehnya dan ia sedikit tertawa pada lelaki mungil tersebut.
"Ck! Apakah suamimu selalu membuatmu harus menunggu seperti ini, Kyungsoo?"
Dengan kurang ajarnya Kai meraih kedua tangan lelaki mungil yang di ketahui bernama Kyungsoo tersebut, lalu sedikit meremasnya.
"Aku rasa ini sama sekali bukan urusanmu.."
Kyungsoo menghempaskan tangan Kai dengan kasar dan ia beranjak dari sana menjauhi Kai. Sepertinya lebih baik jika ia menunggu suaminya tersebut di ruang meeting, daripada ia berada disini dengan Kai yang membuatnya tidak nyaman.
Sedangkan Kai yang melihat Kyungsoo telah pergi menjauhinya, hanya mampu berdecih dan tersenyum miring. Berpikir kenapa istri dari kolega bisnisnya ini begitu membuatnya tertarik. Walaupun sebenarnya Kai tidak begitu mengenal Chanyeol, tetapi hanya dengan mendengar namanya saja sudah membuatnya muak.
Dalam urusan kerja, ia akan bersikap professional dan terus menjalankan kerja sama dengan Chanyeol. Tetapi dalam urusan pribadi, jangan harap ia akan bekerja sama dengan Chanyeol. Mungkin yang ada justru sebaliknya.
Kai akan menganggap Chanyeol saingannya karena ia..
Tertarik dengan Kyungsoo.
"Aku tau jika kau tidak mencintainya. Jangan bersikap angkuh padaku dan akuilah perasaanmu jika kau menginginkanku, Park Kyungsoo"
Kemudian Kai mengikuti langkah Kyungsoo menuju ruang meeting yang sesaat lagi akan di laksanakan.
.
.
.
Author:
Yuta CBKSHH
Tittle:
I LOVE YOUR HUSBAND (CHANBAEK)
Main Cast:
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
Support cast:
Do Kyungsoo
Kim Jong In
And others cast (EXO's members)
Rating:
M ++
Genre:
Marriege Life, Romance, Drama, Hurt/Comfort
Disclaimer:
Fanfict yang terinspirasi dari beberapa pengalaman. Di tulis oleh Yuta sendiri dan juga di bantu oleh Maple Fujoshi2309 (Author pemes, siapa sih yang kaga kenal sama Maple? XD). Dan tidak memplagiat cerita dari orang lain. PLAGIARISM ISN'T MY STYLE! NO COPAST! NO PLAGIAT! Semoga kalian suka ^^
Warning:
BL-BoysLove / YAOI / SHOUNEN-AI / HUBUNGAN SESAMA JENIS. MATURE CONTENT INSIDE! NC-21! DLDR! DO NOT BASH BUT KRITIK ATAU SARAN SANGAT DI PERBOLEHKAN. ENJOY IT!
Summary:
Baekhyun mencintai Chanyeol yang ternyata sudah memiliki seorang istri yang bernama Kyungsoo. "Aku mencintaimu dan kau mencintaiku. Tinggalkan istrimu, dan dengan begitu kita bisa saling mencintai. Walaupun ini sulit untukku, tetapi aku akan tetap merebutmu dari istrimu.." (CHANBAEK) Slight CHANSOO, KAISOO. RnR!
Backsound:
Yiruma - River Flows In You
~~ HAPPY READING ~~
.
.
.
"Kau siap menemaniku melakukan presentasi nanti? Kau sudah menyiapkan dirimu sebelumnya bukan?" Tanya Chanyeol pada Baekhyun saat mereka sudah tiba diruangan meeting kantor koleganya.
Ruangan ini masih terlihat sepi, hanya ada mereka berdua saja disana. Karena Chanyeol meminta sedikit waktu untuk menyusun file presentasinya agar berjalan dengan lancar nantinya.
Baekhyun diam-diam memperhatikan wajah serius Chanyeol yang masih sibuk dengan laptopnya. Meremas-remas blezer kerjanya sendiri untuk menyalurkan rasa senangnya karena bisa dengan jelas melihat sajangnimnya sedekat ini. Chanyeol seketika menatap Baekhyun karena Baekhyun tak kunjung menjawab pertanyaannya, dan seketika membuat Baekhyun salah tingkah dan mengalihkan pandangannya pada tab pintar miliknya.
"Apa kau sakit?" Tanya Chanyeol lagi.
"Hng? Ah tidak. Aku dalam keadaan yang sangat sehat dan aku sudah mempersiapkan ini semua sajangnim" jawab Baekhyun dengan senyum manisnya.
"Baiklah, aku mempercayaimu"
"Nde.."
Baekhyun kembali melanjutkan acara tersipunya dan belum sempat ia menstabilkan detakan jantungnya, tiba-tiba orang yang akan mengikuti rapat ini mulai memasuki ruangan itu satu persatu. Baekhyun segera berdiri di belakang Chanyeol dan membungkuk hormat pada semua orang tersebut, seperti apa yang dilakukan oleh Chanyeol.
"Ow kau hanya membawa asistenmu saja?" Tanya kolega Chanyeol yang memiliki kulit berwarna tan tersebut.
"Ne, aku tidak menyertakan anggota direksiku yang lain karena aku pikir dia sudah cukup untuk membantuku. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik. Tuan Kim" ucap Chanyeol dengan nada bicaranya yang berwibawa.
Tuan Kim atau yang memiliki nama lengkap Kim Jong In itu mengangguk-angguk mengerti dan duduk di kursi yang sudah disediakan untuknya.
"Baiklah, silahkan mulai presentasinya" singkat Tuan Kim.
Dan akhirnya Chanyeol memulai presentasinya dengan sambutan yang hangat tentu saja di bantu oleh Baekhyun yang selalu berada disampingnya. Bahkan Baekhyun banyak sekali berbicara dan terkadang membuat rapat yang awalnya menegangkan itu menjadi sedikit lebih santai. Melemparkan beberapa lelucon dan menunjukkan tingkah lucunya yang membuat semua orang yang berada disana menjadi gemas. Dan Chanyeol harus mengakui jika Baekhyun banyak sekali membantunya. Terbukti dari Tuan Kim atau biasa di panggil Kai sajangnim itu langsung menyetujui ajuan bekerja sama dengan kantornya.
Hingga akhirnya rapat tersebut di tutup oleh ucapan terima kasih yang di barengi oleh tepuk tangan semua orang yang menghadiri rapat tersebut karena berjalan dengan sangat lancar.
Kai memberikan standing applause pada Chanyeol dan Baekhyun dengan menampilkan senyum menawannya.
Lalu Kai mempersilahkan rekan kerjanya untuk beranjak dari sana karena mereka telah mendapatkan sebuah kesepakatan kerjasama antara Park Corp dan Kim Corp.
Baekhyun pun ikut beranjak dari ruangan itu karena ia mengerti jika kedua Direktur muda ini membutuhkan sedikit waktu untuk berbicara berdua saja. Dan kini hanya menyisakan Chanyeol dan Kai di ruangan tersebut. Saling berjabat tangan dan melemparkan senyum masing-masing.
"Awalnya aku tidak menyangka jika lelaki berwajah imut seperti asistenmu itu ternyata memiliki wawasan yang luas dan juga pandai berbicara. Dilihat dari bahasa tubuhnya, ia terlihat sangat menarik. Aku kira dia adalah istrimu"
Kai menyeringai setelah mengucapkan kalimat yang memiliki banyak makna tersebut pada Chanyeol. Namun Chanyeol hanya menanggapi dengan tawa khasnya.
"Sepertinya aku harus berterima kasih padanya dan ada satu hal lagi yang ingin aku katakan padamu. Aku sudah memiliki seorang istri dan dia bukanlah istriku" jelas Chanyeol.
Kini giliran Kai yang tertawa.
"Yayaya aku mengetahui itu"
Dan akhirnya keduanya keluar dari ruangan rapat tersebut kembali melanjutkan pekerjaannya masing-masing.
Chanyeol melanjutkan langkahnya menuju lobby untuk kembali ke kantornya. Tetapi ia mengernyitkan wajahnya ketika ia tidak mendapati asistennya itu dimana-mana. Tak mau membuang waktu, akhirnya Chanyeol mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Baekhyun.
Tut..
Tut..
Nut(?)
'Yeoboseyo ne sajangnim?'
Suara Baekhyun membuat Chanyeol terdiam.
Suara ini..
Kenapa Chanyeol menjadi sangat menyukai suara lembut asistennya ini? Seperti suara hembusan angin sejuk yang membelai telinganya. Entah kenapa ia menyukai suara itu, tetapi ia seperti pernah mendengar suara ini dimasa lalu. Ingun terus mendengarnya walapun ia tidak tau alasannya kenapa, karena yang ia tau ia tiba-tiba merasa tenang hanya dengan mendengarnya saja.
Chanyeol terdiam cukup lama dan membuat Baekhyun kembali memanggil sajangnimnya tersebut.
'Sajangnim? Aku.. sudah berada di parkiran mobilmu'
Chanyeol tersadar dan kemudian ia menggelengkan kepalanya. Melanjutkan kembali langkahnya yang sempat terhenti karena suara lembut itu.
"Ah iya, tunggu aku disana. Aku sedang menuju kesana"
Kemudian Chanyeol mempercepat sedikit langkahnya menuju parkiran mobil karena ia merasa terlalu lama membuat Baekhyun menunggu.
"Kau juga bisa bermain piano?"
"S-sunbaenim?"
"Aku tidak akan melakukan apapun padamu. Aku hanya ingin mendengar permainan piano mu saja"
"K-kau ingin menggunakan piano ini?"
"Tidak. Aku hanya ingin mendengarmu bermain piano"
"A-aku malu sunbaenim. Permainan piano ku tidak sehebat permainanmu"
"Aku akan menilai permainan piano mu"
"B-baiklah"
I often close my eyes
And I can see you smile
You reach out for my hand
And I'm woken from my dream
Although your heart is mine
It's hollow inside
I never had your love
And I never will
And every night
I lie awake
Thinking maybe you love me
Like I've always loved you
But how can you love me
Like I loved you when
You can't even look me straight in my eyes
Yiruma - Maybe
Lelaki manis itu serius sekali ketika memainkan pianonya. Memejamkan matanya dan terus menekan tuts piano itu dengan jemari lentiknya. Tidak menyadari tatapan dari sunbaenim yang sedang duduk di sampingnya. Sesekali bibir tipis nya menyenandungkan lirik instrument indah tersebut. Begitu menghayati setiap bait perbait yang sudah ia hafal di luar kepalanya. Lelaki tampan yang berada disampingnya pun kemudian ikut memejamkan matanya menikmati permainan piano yang cukup indah itu untuk ukuran seorang pemula. Tetapi tidak beberapa kemudian, lelaki manis itu menghentikan gerakan jemarinya pada piano tersebut dengan tiba-tiba sembari menghela nafas panjang.
"Mengapa berhenti?" Tanya lelaki tampan itu.
Ia sungguh menyayangkan mengapa lelaki manis itu menghentikan permainannya disaat ia tengah mengagumi permainannya.
"Lagu yang tidak pernah selesai kubuat.." jawab lelaki manis itu dengan senyum yang sangat renyah, tetapi terdapat sesuatu di balik senyuman manis itu.
"Jadi.. lagu ini kau yang membuatnya?"
Lelaki manis itu hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan lelaki tampan itu.
"Maaf sunbaenim. A-aku harus segera kembali ke rumah"
Grep
"Tunggu.."
Lelaki tampan itu mencekal tangan si lelaki manis saat lelaki manis itu ingin beranjak dari duduknya.
"Mengapa tidak di selesaikan?"
Lagi-lagi lelaki manis itu menanggapinya dengan senyuman manisnya.
"Aku menunggu seseorang untuk menyelesaikan lagu itu. Dan aku sudah menemukan seseorang yang aku yakini bisa menyelesaikan lagu itu, tapi.. aku tidak berani untuk mengatakannya" jelas lelaki manis itu.
"Jujur saja lagu itu bagus sekali. Sangat disayangkan jika tidak dilanjutkan"
"Lagu itu adalah gambaran perasaanku pada orang itu. Dan aku hanya berharap suatu saat nanti ia bisa mengerti dengan perasaanku"
Dengan perlahan lelaki manis itu melepaskan cengkraman tangan sunbaenimnya tersebut dan benar-benar beranjak darisana.
'Kaulah orang yang aku tunggu itu, sunbaenim'
Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi Chanyeol, ia sudah bisa melihat tubuh mungil Baekhyun yang sedang berdiri memunggunginya tidak jauh dari tempatnya berada saat ini.
"Maafkan aku membuatmu menunggu" Ucap Chanyeol tiba-tiba pada Baekhyun saat ia sudah berdiri di dekat asistennya tersebut.
Baekhyun yang mendengar suara sajangnimnya itu pun segera membalikkan tubuhnya dan mengembangkan senyum manisnya seperti biasa. Berusaha untuk menutupi perasaan gembiranya karena sajangnimnya ini berkata seolah ia datang telat di acara kencan mereka. Bukankah itu terlihat sangat manis?
Baekhyun mengepalkan tangannya karena merasa usahanya ini membuahkan hasil. Bukan tanpa sengaja ia menunggu Chanyeol sendirian di tempat parkiran yang sepi seperti ini, tetapi ini sudah di rencanakan sebelumnya oleh Baekhyun dan ternyata usahanya ini tidak mengecewakan.
"Tidak apa-apa sajangnim. Aku hanya menunggu sekitar 5 menit" ucap Baekhyun dengan nada cerianya dan juga menunjukkan kelima jari lentiknya pada Chanyeol.
Chanyeol sedikit tertawa melihat tingkah lucu Baekhyun. Dan ia mempersilahkan Baekhyun untuk masuk kedalam mobilnya, disusul dengan dirinya sendiri.
"Maaf jika aku mengendarai mobilku dengan kecepatan tinggi, karena setelah aku mengantarmu kembali ke kantor, aku harus segera kembali lagi ke kantor Kim Corp untuk menjemput seseorang. Dan kau bisa melanjutkan pekerjaanmu, tidak apa-apa kan?"
Baekhyun segera mengalihkan pandangannya pada Chanyeol dengan wajah terkejutnya.
"Kenapa kau tidak mengatakan ini dari awal sajangnim? Aku bisa kembali ke kantor sendiri tanpa harus di antar oleh sajangnim seperti ini. Aisshhh aku sungguh merepotkan ternyata" Baekhyun memukul kecil kepalanya sendiri dan menunjukkan ekspresi menyesalnya. Sedangkan Chanyeol hanya tertawa kecil menanggapi sikap asistennya ini.
"Kita berangkat bersama dan harus kembali bersama. Mana mungkin aku membiarkanmu kembali ke kantor seorang diri? Lagi pula anggap saja ini sebagai ucapan terimakasih ku karena kau telah banyak membantuku tadi"
Baekhyun tersipu.
Ia terus meremas tangannya sendiri dan kejang-kejang di tempat(?) seperti ikan yang terdampar dan kekurangan air. Oke abaikan kalimat terakhir.
'Kenapa kau perhatian sekali padaku sajangnim? Apakah kau memang sudah jatuh cinta padaku? Dan kenapa aku merasa sangat senang sekali saat ini eoh?' Jerit Baekhyun dalam hati.
"Ah ne sajangnim"
Tetapi hanya itu yang mampu Baekhyun ucapkan pada sajangnimnya tersebut. Sungguh lucu sikap aneh Baekhyun ini.
"Oh iya. Apa nanti malam kau ada waktu? Aku ingin mengajakmu makan malam untuk merayakan keberhasilan kita hari ini" tanya Chanyeol dengan tenang, tanpa mengalihkan pandangannya pada Baekhyun karena ia sedang fokus mengemudi.
"M-makan m-malam? A-apakah ti-tidak terlalu berlebihan sajangnim?" Baekhyun gugup setengah mati.
'Aaaa~ bagaimana ini? Bagaimana aku bisa menolaknya? Aku sungguh tidak mampu menolakmu sajangnim~ ugh!'
"Aku berjanji tidak akan membuang banyak waktumu. Atau tidak, bagaimana jika kita minum saja?"
'Jinjja! Kenapa kau bisa mengatakan hal seintim itu dengan nada bicara yang terlewat santai seperti ini sajangnim? Apa kau ingin membunuhku karena aku yang sering menghayal terlalu tinggi tentangmu?'
"M-minum?"
"Ahh m-maksudku kita minum coffee latte di sebuah cafe. Bagaimana?"
'Apa-apaan ini? Aku kira kau mengajakku untuk mabuk! Aisshh!'
"Coffee latte? Ahh itu kesukaanku sajangnim. Baiklah, aku mau"
"Ok, di cafe sebrang kantor jam 8 malam. Kita bertemu disana"
"Ah ne sajangnim"
Lagi-lagi Baekhyun menjeritkan nama Chanyeol didalam hati. Melampiaskan betapa gembiranya ia jika ia nanti akan minum kopi berduaan saja dengan sajangnim tampannya ini. Ugh! Pasti akan sangat mendebarkan.
Tidak beberapa lama kemudian, akhirnya mereka tiba di kantor Park Corp. Baekhyun segera turun dari mobil sedan mewah milik Chanyeol dan sebelumnya memberikan salam pada sajangnimnya tersebut. Dan setelah memastikan Chanyeol sudah menghilang dari pandangannya, Baekhyun segera berlari sambil melompat-lompat seperti orang gila memasuki kantornya.
'Aaaaa~ mimpi apa aku semalam Ya Tuhaannnn~'
Pip
"Ne, tunggu aku disana Kyung. Aku masih dalam perjalanan. Aku.. mencintaimu"
Dan Chanyeol kembali melanjutkan perjalanannya untuk menjemput sang istri.
.
.
.
.
.
.
"Kenapa kau tidak muncul di rapat tadi? Aku kira kau kembali kerumah" tanya Chanyeol pada sang istri yang sedang duduk terdiam disampingnya.
Kyungsoo masih saja membungkam bibirnya tidak berniat untuk mengeluarkan satu patah katapun pada sang suami. Bahkan Chanyeol merasa dirinya tak di anggap keberadaannya oleh Kyungsoo. Tapi Chanyeol memakluminya karena ini sering terjadi. Bukan hanya sekali dua kali saja Kyungsoo seperti ini. Tetapi sering.
"Aku sedang tidak enak badan. Jadi aku memutuskan untuk beristirahat di ruangan Kai" jawab Kyungsoo dengan santai.
"Kau bertemu dengannya?"
"Ya, hanya sebentar"
"Apa yang-"
"Cukup. Aku tidak ingin membahasnya"
Ok, Chanyeol mengalah. Lebih baik ia diam daripada harus bertengkar kembali dengan Kyungsoo. Ia tidak ingin melihat istrinya ini kembali menangis hanya karena sikapnya yang 'wajar' sebagai seorang suami terhadap istrinya. Tetapi yang ia rasakan justru sebaliknya, ia selalu berada di posisi yang salah setiap saat ia berhadapan dengan Kyungsoo. Selalu menjadi di pihak yang tidak pernah benar dan ia harus terus menahannya demi pernikahan mereka.
Chanyeol harus selalu mengalah pada Kyungsoo.
Demi anak mereka.
Cukup lama mereka berdiam diri didalam mobil, akhirnya Chanyeol memberanikan dirinya untuk membuka suara. Meraih tangan sang istri dan mengusapnya dengan lembut.
"Kau ingin aku antar pulang atau ke Rumah Sakit?"
"Aku ingin bertemu anakku"
"Baiklah. Aku akan mengantarkanmu ke Rumah Sakit"
Dan keheningan kembali menyelimuti atmosfer yang berada disekitar mereka. Mencoba memahami diri masing-masing dalam kesunyian yang nyatanya sama sekali tidak membuahkan hasil. Cukup sering mereka berdiam diri seperti ini. Sudah empat tahun mereka membangun rumah tangga, tapi sama sekali tidak menunjukkan kemajuan. Yang ada justru sebaliknya, pernikahan mereka semakin tidak tertolong dan tidak bisa di harapkan.
Tak terasa keduanya sudah sampai di Rumah Sakit yang mereka tuju. Sebuah Rumah Sakit ternama yang didirikan puluhan tahun silam khusus untuk merawa anak-anak. Seperti sebuah asrama yang menampung banyak pasien yang masih anak-anak. Rumah Sakit yang sangat mewah dan juga indah yang berada tak jauh dari pusat kota. Rumah Sakit yang sangat terkenal karena sudah banyak menyembuhkan pasiennya yang seluruhnya adalah anak-anak.
Chanyeol mengikuti langkah Kyungsoo yang berjalan di depannya, hingga keduanya sudah tiba di sebuah ruangan yang memiliki pintu berwarna biru cerah di sudut Rumah Sakit tersebut. Walaupun terletak paling sudut, tetapi ruangan atau yang bisa disebut dengan kamar rawat ini terlihat paling mewah di antara kamar yang lainnya. Karena jika dilihat secara keseluruhan, kamar tersebut memiliki ukuran yang paling luas dan terdapat banyak mainan disana.
Cklek
Dengan hati-hati Kyungsoo membuka pintu kamar tersebut dan masuk kedalamnya. Matanya terus bergerak untuk mencari seseorang yang dicarinya.
Disana.
Sosok mungil yang dicarinya ternyata sedang duduk terdiam diatas kasur berbentuk mobilnya, dengan pandangan yang mengarah pada pemandangan di luar jendela.
Dengan cepat Kyungsoo menghampiri sosok mungil tersebut dan memeluknya dengan sangat erat.
"Tae Oh.. Umma merindukanmu"
Ya, sosok mungil itu adalah anaknya.
Anak Kyungsoo dan Chanyeol.
Anak laki-laki berusia 5 tahun yang harus menjalani perawatan khusus di Rumah Sakit ini karena penyakit yang di deritanya. Sejak lahir bocah yang bernama Tae Oh tersebut sudah harus dirawat disini.
Terpaksa Kyungsoo harus merelakan anak kandung satu-satunya ini untuk tinggal disini dan berada jauh dari sisinya. Demi kebaikan anaknya. Dan juga demi kesembuhan anaknya.
Bahkan setiap hari Kyungsoo mendatangi Rumah Sakit ini hanya untuk melihat keadaan Tae Oh. Sungguh ia sangat merindukan tawa Tae Oh yang ceria saat ia berada disampingnya. Seperti sekarang, Tae Oh bahkan sudah mengusap-usap wajah sang Umma dengan tangan mungilnya. Tersenyum ceria dan ia lalu mengecup bibir sang Umma.
"Umma kenapa lama sekali? Tae Oh sudah menunggu Umma sedari tadi" ucap Tae Oh.
Kyungsoo tersenyum dan memangku tubuh mungil Tae Oh.
"Maafkan Umma sayang. Umma harus menghadiri rapat bersama Appa. Umma berjanji besok Umma tidak akan telat lagi untuk mengunjungi Tae Oh. Yaksok!"
Kyungsoo terus mengembangkan senyum harunya pada sang anak dan ia menautkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Tae Oh yang mungil. Dan Tae Oh kembali tersenyum bahagia karena Ummanya sudah berjanji padanya.
Senyuman yang Kyungsoo tunjukkan pada Tae Oh sangat berbeda daripada senyuman-senyuman Kyungsoo sebelumnya. Bahkan dimata Chanyeol, Kyungsoo bisa berubah menjadi sosok yang berbeda saat ia sedang bersama anaknya tersebut. Kyungsoo yang pendiam dan suka memendam perasaannya, seketika berubah menjadi sosok yang hangat dan keibuan terhadap Tae Oh. Dan Chanyeol tau, jika Kyungsoo sangat menyayangi anak satu-satunya ini dan bahkan merelakan apapun demi anaknya tersebut.
Chanyeol mengembangkan senyumannya saat ia melihat wajah kedua orang yang terlihat sangat mirip tersebut.
"Apakah jagoan Appa makan dengan lahap hari ini?"
Chanyeol yang sedari hanya memperhatikan mereka kini turut bergabung dengan kedua orang yang sangat di sayanginya tersebut. Mengusak rambut Tae Oh dengan gemas dan Tae Oh kemudian mengecup pipi sang Appa.
"Semakin hari makanan disini semakin enak Appa! Tae Oh makan baannyyaaakkk sekali hihihi" Tae Oh berteriak dengan antusias sambil merentangkan tangannya lebar-lebar pada sang Appa mencoba untuk mengekspresikan rasa bahagianya.
Bahagia karena kedua orangtuanya berada disisinya saat ini.
"Ahh jinjja? Bisa Appa lihat perutmu?"
"Perut Tae Oh bulat Appa!"
"Whoaaa perut Tae Oh besar sekali, jagoan Appa memang pintar menyimpan energi ne?"
"Ne Appa! Tae Oh ingin menjadi jagoan yang bisa melindungi Appa dan Umma! Tae Oh berjanji!"
Tae Oh terus saja berteriak antusias di hadapan kedua orangtuanya. Membuat kedua orangtuanya turut mengembangkan senyum cerah mereka. Bersikap saling mencintai dan saling menyayangi satu sama lain di hadapan sang anak agar Tae Oh terus tersenyum gembira ketika menyadari kedua orang tuan yang paling ia sayangi ternyata saling mencintai.
Nyatanya tidak.
Ya, Chanyeol dan Kyungsoo tidak saling mencintai. Walaupun Chanyeol berusaha untuk mencintai Kyungsoo dengan setulus hatinya, tetapi Kyungsoo selalu menghindarinya. Chanyeol tidak mengerti dengan sikap sang istri karena ia tidak pernah menjelaskan sedikitpun apa permasalahannya sehingga ia selalu menghindari Chanyeol. Dan ketika Chanyeol berusaha untuk membahas masalah ini, Kyungsoo selalu saja menangis dan berakhir dengan Chanyeol yang kembali mengalah dan mengurungkan niatnya untuk meminta jawaban atas tanda tanya besar yang selalu memenuhi pikirannya. Dan itu sudah terjadi selama empat tahun pernikahan mereka.
"Baguss! Jagoan Appa memang harus seperti itu"
Setelah mengusak rambut Tae Oh, Chanyeol mengacungkan kedua jempolnya pada Tae Oh dan tentu saja di balas oleh senyuman lebar anaknya tersebut.
Tae Oh memang selalu tersenyum lebar pada saat tengah bersama kedua orangtuanya. Melupakan jika ia memiliki penyakit yang sewaktu-waktu bisa saja merenggut nyawanya tanpa bisa di ketahui oleh siapapun.
Tae Oh mengalami kelainan pada jantungnya. Tubuhnya lemah dan ia bahkan tidak bisa melakukan aktivitas seperti yang teman seusianya lakukan. Tae Oh tidak bisa melakukan aktivitas berat yang membuat jantungnya bekerja lebih banyak, karena jika Tae Oh kelelahan sedikit saja, ia akan pingsan dan tidak sadarkan diri hingga beberapa hari.
Maka dari itu Kyungsoo tidak akan membiarkan hal itu terjadi pada anaknya tercinta, dan lebih memilih untuk menitipkan Tae Oh di Rumah Sakit ternama ini karena disini akan banyak perawat yang memperhatikannya. Tidak perduli berapa banyak uang yang harus ia keluarkan selama lima tahun ini untuk pengobatan Tae Oh. Karena menurutnya, nyawa anaknya itu tidak bisa di bandingkan dengan uang.
"Tae Oh harus beristirahat ne? Umma tidak ingin melihat Tae Oh menangis lagi karena kelelahan. Berjanjilah pada Umma jika Tae Oh tidak akan terlalu banyak bermain dan kelelahan. Arrasseo?"
"Ne arrasseo Umma.."
Tae Oh menuruti perintah sang Umma untuk beristirahat kembali. Membaringkan tubuh mungilnya di atas kasur mobil favoritenya dan meraih tangan sang Umma.
"Temani Tae Oh hingga tertidur Umma.." pinta Tae Oh dengan wajah polosnya.
Kemudian Kyungsoo mengisyaratkan pada Chanyeol untuk meninggalkannya berdua saja dengan Tae Oh. Dan Chanyeol yang mengertipun, menyempatkan dirinya untuk mengecup singkat bibir Kyungsoo sebelum ia benar-benar beranjak dari kamar rawat Tae Oh.
"Aku akan kembali ke kantor. Hubungi aku jika kau ingin pulang ke rumah. Aku akan menjemputmu"
Dan perkataan Chanyeol hanya di balas dengan anggukan oleh Kyungsoo.
.
.
.
.
.
.
"Sebenarnya aku bingung kenapa sajangnim menyatukan ruangan kerja kami. Jika alasannya agar ia bisa secara langsung menerangkan semua tugas yang harus aku kerjakan, maka aku sama sekali tidak mempercayainya"
Baekhyun berjalan dengan jemari lentiknya yang mengusap meja kerja Chanyeol yang sangat mewah tersebut. Memainkan pajangan kecil yang berada disana dengan terus mengembangkan senyum manisnya. Dan juga menunggu kedatangan Chanyeol tentunya.
"Kenapa tidak kau katakan saja secara langsung padaku, jika kau ingin berduaan denganku saat kita sedang bekerja sajangnim?"
Baekhyun masih berbicara sendiri dengan mengerucutkan bibirnya bersikap sok manja. Bahkan kakinya ia hentak-hentakkan karena merasa gemas sendiri dengan perasaan tertariknya pada sajangnim tampannya tersebut.
"Ataukah nanti kau akan menyuruhku untuk berpakaian tipis lalu menciumku dengan panas?"
Wajah Baekhyun merona.
Ia menutupi wajahnya sendiri dengan kedua telapak tangannya karena ia merasa malu dengan apa yang baru saja ia katakan. Ok, sepertinya ia terlalu terobsesi pada lelaki tinggi itu. Terlalu terobsesi yang mengakibatkan ia akan mengkhayal terlalu tinggi seperti saat ini.
"Aaaaaa~ aku tidak sanggup membayangkannya!"
Lagi-lagi Baekhyun menjerit ketika tiba-tiba terlintas dipikirannya saat Chanyeol memegang pinggangnya lalu menciumnya dengan panas. Membaringkan tubuhnya di meja besar ini dan berakhir dengan mereka yang bercinta di ruangan ini.
"Aigoooo aku bisa gila!"
Cklek
"Apa yang kau lakukan Baek?"
"S-sajangnim? Kau sudah kembali?"
Chanyeol mengangguk dan kemudian ia duduk di kursi kerjanya. Sedikit mengernyit karena mendapati asistennya tersebut berada di area meja kerjanya.
"A-aku sedang mencari berkas yang akan aku kerjakan. Tetapi aku tidak menemukannya" jelas Baekhyun yang mengerti dengan arti raut wajah Chanyeol.
Benar. Niat awal Baekhyun mendekati meja kerja Chanyeol yaitu untuk mencari berkas yang Chanyeol perintahkan untuk segera dikerjakan. Tetapi yang ia lakukan justru mengkhayal dan berakhir dengan ia yang melupakan perintah atasannya tersebut.
"Kenapa kau tidak menghubungiku? Aku bisa menunjukkannya" ucap Chanyeol.
"Maafkan aku sajangnim" lirih Baekhyun sambil menundukkan kepalanya.
"Ya, aku memaafkanmu. Dan.. emm.. apakah kau bisa membantuku untuk mengambil berkas nya di laciku?"
"Tentu saja sajangnim"
Dengan cepat Baekhyun mendekati Chanyeol dan berdiri disamping Chanyeol. Kemudian ia mengambil berkas yang berada didalam laci seperti apa yang Chanyeol perintahkan.
"Cover berkasnya berwarna coklat tua, kau bisa menemukannya?"
"Apakah ini berkas yang kau maksud, sajangnim?"
Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi Baekhyun untuk menemukan berkas tersebut. Lalu meletakkan berkas itu di hadapan Chanyeol dan Chanyeol menganggukkan kepalanya bermaksud untuk memberitahu pada Baekhyun jika berkas itulah yang ia maksud.
Kemudian Chanyeol membuka berkas tersebut dengan wajah yang serius. Sedangkan Baekhyun yang masih berdiri disampingnya pun kembali menjerit dalam hati memperhatikan wajah tampan Chanyeol dari samping seperti. Tetapi tidak lama kemudian, Chanyeol menyuruhnya untuk mendekat bermaksud untuk menjelaskan isi berkas itu pada Baekhyun. Dengan senang hati Baekhyun menurutinya, dan ia sedikit membungkukkan tubuhnya agar sejajar dengan posisi Chanyeol yang sedang duduk.
"Grafik ini yang harus kau uraikan. Kita akan mengadakan rapat-rapat berikutnya mengenai bidang usaha kita pada Kim Corp. Jangan sungkan untuk bertanya padaku jika kau mengalami kesulitan. Kau bisa mengerjakannya selama dua bulan, dan aku harap uraian ini sudah bisa kau selesaikan"
Baekhyun sedikit membuka bibirnya mencoba untuk mencerna apa yang di jabarkan oleh Chanyeol. Ia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti dan Chanyeol yang melihatnya pun merasa puas akan sikap cepat tanggap asisten barunya ini.
Tapi tunggu..
Baekhyun seketika mengubah ekspresi wajahnya menjadi bingung dan kembali membaca berkas tersebut. Mata sipitnya terus menelusuri setiap gambar yang berada di sana. Reflek tangan Baekhyun menggaruk-garuk tengkuknya sendiri karena ia ternyata masih belum paham akan grafik rumit ini. Menyebabkan kerah kemejanya sedikit tersingkap dan lehernya terekspose begitu saja di hadapan Chanyeol.
Glup
Chanyeol yang berada sangat dekat dengannya, hanya mampu menelan ludahnya secara kasar karena tidak sengaja matanya menangkap pemandangan indah leher mulus Baekhyun. Sangat putih dan sepertinya cukup nikmat jika di kecup.
Cukup lama ia memperhatikan leher Baekhyun dan membuat Baekhyun mengernyit karena sajangnimnya ini tidak menjawab pertanyaannya. Akhirnya ia memangil sajangnimnya kembali tanpa mengalihkan tatapannya dari berkas tersebut.
"Sajangnim?"
Chanyeol segera tersadar dari lamunannya akan leher mulus Baekhyun dan ia mengalihkan pandangannya pada Baekhyun dengan kedua alisnya yang dinaikkan.
"Ne?"
"Bagaimana cara membaca grafik yang ini, aku masih bingung"
Baekhyun terus saja mengerucutkan bibirnya tanpa menyadari jika Chanyeol tengah berusaha mati-matian untuk mengembalikan konsentrasinya yang sempat buyar hanya karena leher mulus seorang Byun Baekhyun.
"Kalau grafik yang ini, kau harus membacanya dari kanan"
"Ahh ne aku ingat. Terima kasih sajangnim. Aku akan segera mengerjakannya"
Kemudian Baekhyun menegakkan kembali tubuhnya dan berjalan menuju meja kerjanya sendiri. Meninggalkan Chanyeol yang masih terlihat shock setelah melihat pemandangan indah dari asistennya tersebut.
"Oh ada satu hal yang ingin aku katakan padamu.."
Baekhyun menatap kearah Chanyeol, menunggu kalimat apa yang akan di ucapkan oleh Chanyeol.
"Kancing kemejamu terlepas. Walaupun terdengar sepele, tapi aku tidak ingin orang yang melihat itu menjadi salah tanggap" Chanyeol berdeham di akhir kalimatnya. Karena ia merasa sungguh canggung saat ini.
Reflek Baekhyun melihat bagian dadanya dan benar saja, satu kancing kemeja bagian atasnya sudah terbuka. Kemudian dengan cepat ia mengancingkan kemejanya kembali sambil merutuki kebodohannya dalam hati.
'Aaiisshh memalukan sekali'
"Nde. Terima kasih sajangnim"
"Ne. Dan jangan lupakan janji kita tadi. Aku ingin ke kantin sebentar, aku belum makan siang. Selamat melanjutkan tugasmu Baek"
Baekhyun tersenyum dan memperhatikan Chanyeol yang sudah keluar dari ruangan mereka tersebut.
.
.
.
.
.
.
"Kau tidak mengatakan jika kau menyukai sunbaenim itu. Jika aku tau dari awal, aku akan memberitahunya"
Pletakk
"Yak! Kenapa kau memukul kepala ku eoh?"
"Mana mungkin kau bisa berbicara seperti itu?! Bagaimana jika ia justru menjauhiku?!"
"Hahaha yayaya maafkan aku, aku hanya bercanda. Dan.. apakah aku boleh tau alasannya kenapa kau menyukai sunbae itu? Selain tampan"
"Ya selain dia tampan, aku sangat menyukai permainan pianonya. Aku tidak sengaja mendengar nya bermain piano saat kau meninggalkanku pada hari itu. Jantungku berdegup dengan keras begitu saja saat mendengarnya, dan betapa terkejutnya aku jika ia ternyata sangat tampan"
"Aku mengerti. Dan juga aku harap kau tidak melupakan janjimu untuk mentraktirku ice cream. Hahaha eotte?"
"Hahhh! Baiklah! Aku akan mentraktirmu ice cream karena aku sedang dalam mood yang baik saat ini. Kajja!"
"Tiga scoop ice cream?"
"Yakk! Kau ingin melihatku mati kelaparan karena kehabisan uang hanya untuk membelikan mu ice cream?"
"Bagaimana jika dua scoop?"
"Satu scoop kurasa sudah cukup"
"Hhnnggg aku ingin dua scoop~ apa kau tidak tau betapa lelahnya aku mengajarimu eoh?"
"Yayaya dua scoop dan berhentilah merengek. Kau membuatku mual"
"Jinjja?! Yeeaayyy dua scoop! Kau memang sahabatku yang paling baik!"
"Ya, tentu"
"Ahahahahah/hahahahah"
Dan kedua sahabat itupun berjalan sambil tertawa menuju ke kantin sekolahan mereka.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
.
Ceritanya masih agak samar ya?
Semuanya pada paham sama bagian flashbacknya ga?
Chanyeol juga udh mulai ke goda sama sikap polos Baekhyun yang ga sengaja bikin dia deg-degan(?) :v
Kasian Tae Oh ternyata mengidap penyakit :'((((
Trus kalian sadar ga, kalo umur Tae Oh sama umur pernikahan ChanSoo itu berbeda satu tahun? Tae Oh umur 5 tahun sedangkan ChanSoo nikah baru 4 tahun.
Penasaran kenapa alasannya?
Yuta bakal jawab di Chap selanjutnya.
Review dulu tapi yaa wkwkwk
Ohiya dan satu lagi, Ada yang bisa nebak apakah Baekhyun tau kalo Chanyeol itu udh punya istri? Yang bisa nebak, ntar Yuta kasih civokan manja(?) deh #abaikan -.-
OK, Last!
Next?
REVIEW JUSEYOO~
SARANGHAE BBUING~!
