Naruto © Masashi Kishimoto-sensei

AMИESIA: Ric-chan

Pairing : Sasuke Uchiha & Hinata Hyuuga

Genre : Romance, Drama, Action, Hurt/Comfort

Warnings : OOC, AU/AT, Miss Typo(s), Abal-isme. Semua warning berkumpul disini.

Jika ada kesamaan Judul, Ide, Latar, Setting, dll dengan Author lainnya ini hanya fiktif belaka. Cerita ini merupakan sebuah fanfic yang muncul dari otak saya paling dalam yang memang terbentur tadi.. I Hope You Like.

DON'T LIKE? DON'T READ !

.

.

~ Yonde Kudasai ~


Ric-Chan Present.

.:. ✿* AMИESIA *✿ .:.

.: Capther 2 :.


Sasuke berhasil keluar dari hutan, mengikuti jalan setapak yang membawanya ke jalan menuju sebuah perkampungan desa. Pria itu tidak peduli ke mana langkah kakinya akan membawanya pergi, ia tetap saja berlari. Melewati beberapa perkebunan dan sawah kecil hingga akhirnya ia sampai pada hamparan rumput yang luas.

Langkahnya menjadi cepat karena dia menyadari bahwa tengah ada seseorang yang mengikutinya meski dari jauh Sasuke dapat mendengar suara percikan air dari rumput basah yang di injak. Ia bimbang, tidak berani menoleh untuk sekedar mengetahui siapa yang telah mengikutinya sampai sejauh ini.

Tubuhnya ambruk ke tanah, ia dapat merasakan seluruh tubuhnya begitu gemetaran, napasnya terasa tercekat di bagian leher. Ditambah lagi suara langkah kaki itu semakin mendekati tempatnya jatuh.

Dengan sekuat tenaga Sasuke berdiri membalikkan tubuhnya. Ia sudah tidak terkejut lagi saat sosok pria berdiri tepat di hadapannya. Mata itu menatapnya dingin. Hujan membasahi senjata di kedua tangannya. Sebuah pedang yang berujung tajam itu sudah teracung tepat di hadapannya. Sasuke merasakan tubuhnya kaku, apalagi saat ujung itu semakin menekan permukaan kulit lehernya.

"Pangeran, tolong kembalilah bersama saya." Suaranya hampir samar oleh deras nya hujan.

"Dan menjadi tawanan nya, huh. Lebih baik aku mati daripada kembali ke neraka itu." Tolak Sasuke.

"Jika begitu dengan terpaksa saya akan membawa anda."

"Coba saja, Obito." Sasuke terkekeh dan sekilas membalas tatapan pria bernama Obito itu, sebab ia kini mulai menyerang Sasuke dengan pedangnya. Dengan cepat Sasuke menghindar meski sedikit tersandung akibat keseimbangan nya goyah karena lukanya.

Pria itu berhasil memanfaatkan keadaan Sasuke yang masih lemas, dia memukul tepat di perutnya yang terluka. Sasuke yang terkejut dengan serangannya, menarik tangan Obito sehingga pedang di tangannya ikut terjatuh. "Sial!" umpat Sasuke.

Ia hampir saja menyerah ketika pria itu telah berdiri di hadapannya dengan tegak seolah tidak tampak seperti jatuh beberapa menit yang lalu. Dengan sigap Sasuke meraih salah satu pedang milik Obito yang terjatuh di sampingnya.

Terdengar seperti adu pedang antara dua pedang. Sasuke menahan dengan pedangnya begitu cepat kala orang itu menyerang dalam satu kedipan mata. Ia mengerutkan dahinya pelan. Tiba-tiba ia seperti mendapat tekanan yang sangat berat di pedangnya, kakinya yang sudah terpaku di tanah perlahan mundur akibat dorongan kuat di tangannya dan ia terus terdorong dengan orang yang mencoba membunuh dirinya.

Sasuke segera mendongak dan mendapati orang itu melesat bagaikan angin ke arah nya. Ia dapat melihatnya dan segera menghindar dan berlari ke samping. Obito ada di belakangnya yang belum sadar dia sudah berpindah di depannya. Mengarahkan pedangnya dengan cepat dan kuat, Sasuke berhasil menangkis nya dan akibatnya kedua pedang itu terlempar jauh dari mereka.

Obito mulai melayangkan pukulan dan tendangan pada Sasuke, ia menghindar sebisa mungkin dan berhasil membalasnya dengan beberapa pukulan. Sasuke hanya bisa menghindari serangan karena tidak mungkin bagi dirinya bergerak dengan cepat sedangkan ia terluka cukup parah. Sasuke mengangkat bahu. Ia tidak mau kalah.

Obito semakin mempersulit ruang gerak Sasuke, orang itu mengetahui bahwa Sasuke tidak bisa bergerak dengan leluasa. Iris onyx Sasuke melirik ke kanan dengan cepat, mengawasi setiap gerakan pria itu. Sasuke menghindari setiap serangan dengan kecepatan maksimal yang ia bisa saat ini meski ia tidak bisa membalasnya.

Ketika Obito melayangkan pukulan untuk yang kedua kalinya, Sasuke tidak bisa menghindar kali ini. Terdengar suara geraman pelan sebelum ia terjatuh menyayat wajah Sasuke. Tubuhnya tersungkur di hamparan rumput basah itu. Kemudian ia teringat dengan sebuah belati yang ia sembunyikan di balik jubah hitamnya, ia mengeluarkannya, mengenggam belati yang ia dapat dari Itachi dengan erat sebelum akhirnya dia bangkit dan menebaskan nya ke dada pria itu.

Sayatan yang tidak terbilang kecil nampak hampir di sepanjang dadanya dan menampakkan darah segar yang ketara sekali keluar dari lukanya. Tubuhnya limbung ke belakang dan jatuh terlentang dengan darah yang banyak.

Sekarang pria itu sudah tidak bisa lagi menyerang atau bahkan mengejarnya kerena Sasuke berhasil membuatnya terbaring tidak berdaya.

Bagi Sasuke, riwayat pria itu sudah tamat sampai di sini. Sasuke menatap dingin pada pria itu, sudut matanya melihat pria itu sudah tidak berdaya. Ia yakin tidak mungkin bagi orang ini untuk mengikuti dirinya.

Sasuke pergi meninggalkan pria itu. Terdampar di hamparan rumput sebuah perkampungan desa di depan sana, Pangeran itu mempercepat langkahnya ia tetap berlari meski ia yakin tidak ada yang mengejarnya sekarang. Mungkin jika beruntung…

Sasuke menahan umpatannya saat ia melewati sebuah gang gelap dengan hanya satu lentera tergantung diantara dua bangunan berukuran sedang. Jemari nya terangkat untuk menekan darah yang keluar dari lukanya, dalam hati menahan sakit akibat kecerobohan nya. Sasuke menekan tangan di perutnya erat, meskipun membayangkan dirinya mati di tempat ini terasa memuakkan ia tidak akan pernah membiarkan dirinya tertangkap dan dibawa kembali ke Istana yang kini ia sebut neraka itu.

Mengabaikan rasa sakit tajam yang menyayat pipinya. Ia mengerahkan sisa tenaganya untuk melarikan diri sampai sejauh ini. Kesadarannya tidak boleh ter alihkan oleh rasa sakit yang menyuruhnya untuk menyerah. Sasuke berjuang untuk menyembunyikan kesedihan yang menyakitkan di dalam dirinya. Ia tidak akan membiarkan emosi ini meluap karena tahu betapa rentannya air mata itu mengalir sekarang. Itu bisa menjadi bukti kekalahannya sekarang.

Langkahnya terombang-ambing, menjadi pelan dan terseret-seret. Tubuhnya mulai lelah tidak sanggup lagi berdiri ataupun berjalan. Rasanya tidak kuat dan begitu berat bagi tubuhnya untuk bergerak.

Kesadarannya mulai menghilang dan membuat Sasuke terhempas ke tanah. Kepala Sasuke membentur sebuah pohon besar dengan suara dentaman yang keras, ia merasakan satu rasa sakit lagi di kepalanya. Dengan sedikit sisa kesadaran yang ia miliki, Sasuke berjuang keras untuk membuka matanya, tapi setiap luka di tubuhnya mengingatkan bahwa ia telah mengalami takdir yang memilukan.

Tangan, kaki, tubuh dan kulitnya terasa kaku untuk di gerakan. Hujan yang terus membasahi nya ditambah malam yang begitu dingin membuat seluruh aliran darahnya menjadi beku. Untuk yang pertama kalinya Sasuke merasakan tetesan hujan yang mengenai wajahnya begitu sakit ketika menyentuh kulitnya.

"Ah, bahkan hujan'pun menyiksa ku." Ucapnya lirih. "Kakak. Tolong maafkan aku."


.

.:. ✿* AMИESIA *✿.:.

.


Angin yang bertiup dingin semalam perlahan berkumpul menjadi satu di atmosfir bumi berganti menjadi awan dingin yang sejuk. Sisa-sisa hujan di ujung daun memantulkan cahaya lembut kekuningan, dari kejauhan matahari tampak tengah bersiap-siap muncul. Daun-daun masih basah karena hujan semalam membuatnya penuh dengan beberapa tetes embun yang berjatuhan di kelopak bunga camelia, semakin dekat tercium wangi bunganya yang lembut dan bau tanah basah habis di guyur air hujan.

Tampak seorang gadis berambut panjang berwarna indigo lurus tengah berjalan pelan dengan senyum mereka sembari memetik beberapa jenis bunga ditempat yang bisa dikatakan taman bunga kecil di padang rumput yang luas dengan aliran sungai kecil di sampingnya.

"Apa hanya itu saja yang kau bawa?" tanya seorang gadis lainnya berambut kuning panjang yang diikat ke belakang.

"Iya. Karena hanya bunga-bunga ini saja yang habis di toko ku." Jawab gadis berambut indigo itu. "Aku pergi dulu ya, Ino. Terimakasih." Lanjutnya.

"Kalau begitu sampai jumpa lagi, Hinata." Ucapnya membalas lambaian tangan gadis bernama Hinata yang ia ajak bicara. Kemudian gadis itu pergi sambil membawa keranjang berisi bunga yang ia petik. Ino memandangi nya sebentar sebelum akhirnya kembali ke kegiatannya memetik bunga.

Hinata berjalan menyusuri padang rumput. Bau rumput yang masih basah tercium kala kakinya berjalan. Gadis itu tampaknya sangat menikmati suasana pagi itu, bau tanah yang habis terkena hujan, rumput-rumput yang basah, begitu juga dengan tetesan embun yang menempel di kelopak bunganya.

Namun senyum kecil di wajahnya itu memudar berganti dengan ekspresi terkejut ketika melihat ada seseorang dibalik pohon besar di depannya sana. Hinata tanpa ragu berjalan pelan ke balik pohon itu untuk memastikan. Ternyata memang ada seseorang di sana, seorang pria tidak dikenalnya dan sepertinya ia bukan penduduk desa ini. Hinata yakin dari pakaiannya yang tertutup namun itu sekarang terlihat lusuh dan sobek di beberapa bagian sisinya. Tetapi itu tidak penting bagi Hinata, ia harus segera menolongnya.

Pria itu sungguh sangat terluka parah, Hinata melihat darah segar yang mengalir di jas pemuda itu akibat luka tusukan di perut bagian kirinya ketika Hinata menyibakkan jubah yang menutupi hampir seluruh pakaiannya. Lebih parah lagi, wajah pemuda itu babak belur apalagi darah di sudut bibirnya yang terluka sudah mengering. Ada luka menganga yang dalam di pelipis pemuda berambut raven dan ada luka lagi yang Hinata temukan ketika tangannya menyibakkan rambut raven lebat itu ke belakang kepala pemuda itu.

Ketika Hinata menyentuh kulit pucat pria itu ia sangat terkejut, tangan dan seluruh tubuh orang di hadapannya terasa dingin dan kaku. Apalagi seluruh pakaiannya yang basah pasti semalaman pria ini kehujanan.

Sungguh menakjubkan kalau pria ini masih hidup. Hinata dapat mendengar deru napasnya yang lemah. Dengan kehilangan darah sebanyak itu, ditambah dengan benturan keras di kepalanya, pria yang kurang kuat pasti sudah siap dibawa ke kuburan.

"Ku mohon bertahan lah." Ujar Hinata dengan khawatir. Tidak menyadari kalau dirinya mulai panik.

¤..*..¤

Matahari pagi masuk melalui celah korden yang belum tertutup rapat. Cahaya mengenai tepat di wajahnya, matanya yang senantiasa tertutup itu perlahan terbuka, memperlihatkan iris onyx yang bersembunyi di kelopak matanya kala mata itu terpejam. Dua bola mata onyx itu mengerjap karena silau. Ia bergeser, kepalanya di miringkan. Cahaya temaram membuat Sasuke tidak bisa melihat apa yang ada di hadapannya dengan jelas untuk beberapa saat.

Penglihatannya kini mulai terbiasa, otaknya masih memproses dari dunia mimpi atau bukan dan ternyata bukan. Sekarang ia sudah terbangun dari mimpinya.

Terdengar bunyi seperti sebuah suara korden dibuka. Ia mengerahkan tangannya untuk mengucek kedua matanya agar bisa melihat sosok itu. Dia tidak butuh waktu yang lama mata dengan warna kelam itu akhirnya terbuka, melihat seseorang di sana, perempuan dengan rambut indigo panjang terurai tengah berdiri membelakanginya.

Gadis itu sedang membuka jendela, mungkin agar udara pagi yang segar itu bisa masuk ke dalam kamar itu. Sasuke hendak bangkit untuk mendudukkan badannya, tapi entah mengapa seluruh tubuhnya terasa sakit, kepalanya juga pening. Apalagi ada rasa sakit yang menusuk di bagian perut kirinya, ia dapat merasakan perban yang melilit di sekitar perut hingga dadanya. Membuatnya meringis.

Suaranya yang mendesis kesakitan membuat perempuan itu terkejut dan berbalik lalu menghampiri pemuda itu dengan duduk di samping ranjang itu.

"Kau sudah sadar?" tanyanya khawatir.

"Sadar? Memang nya di mana aku. Dan siapa kau?" Pria itu langsung mengajukan pertanyaan yang membuat Hinata berpikir sebentar untuk menjawab.

"Namaku Hinata. Kau berada di rumahku sekarang." Jawab Hinata tersenyum tipis.

Hinata. Nama itu terasa tidak asing baginya, tapi ia tidak tahu mengapa membuat perasaannya berkecambuk bingung dan aneh.

"Apa aku mengenalmu?" tanya Sasuke bingung. Pria itu hendak bangkit lagi namun otot-ototnya terasa kaku sehingga tidak sanggup di gerakan.

"Kau baik-baik saja? Tidak perlu bangun. Tidurlah saja." Ucap Hinata khawatir sambil membenahkan posisi tidur pria itu. Ia menurut, kemudian kembali berbaring. Tapi matanya masih menatap penuh tanya pada perempuan di hadapannya. Apa perempuan ini sedang merawatnya.

"Kau belum menjawab pertanyaan ku. Apa aku mengenalmu?" Tanya pria itu menuntut. Lalu Hinata menjawab dengan lembut, "Tidak kau tidak mengenal ku." Nada bicara nya itu terdengar bohong.

"Lalu apa yang kulakukan di sini?" Sasuke mulai bingung.

"Apa kau tidak ingat. Aku menemukanmu pingsan di pohon dekat taman." Jelas Hinata.

"Apa?" Pria itu menyipitkan matanya, dia terkejut dengan pertanyaan gadis itu yang menemukannya dalam keadaan pingsan. 'Aku pingsan? memang nya apa yang telah kulakukan?' tanyanya pada diri sendiri.

"Saat itu kau benar-benar terluka parah. Pakaianmu basah dan kau terluka, jadi kau kubawa ke rumahku."

Pria itu memegang luka di perutnya yang masih terasa sakit. Ya, itu adalah luka tusukan, tapi kenapa.

"Jadi, ano. Apa yang terjadi padamu?"

"Aku…" ketika Sasuke hendak berkata tiba-tiba ia berhenti dan wajahnya Nampak menunjuk kan ekspresi terkejut yang teramat sangat, sorot matanya yang tadi redup kini terbelalak dan melebar. Apa?! Dia tidak mengingatnya, apa yang sudah terjadi padanya. Siapa dirinya, atau apapun tentang dirinya. Semua ingatan itu menghilang tidak menyisahkan satupun memori yang diingatnya. Ia terlihat bingung, membuat Hinata juga tidak mengerti apa yang terjadi pada pria di depannya.

Tiba-tiba ia tidak bisa mangingat apapun. Semuanya terasa gelap dan samar-samar.

Pria itu berusaha bangkit lagi, mengidahkan rasa sakit disekujur tubuhnya. Ia terduduk di ranjang dengan rasa pusing di kepalanya. Memegang pelipis nya yang di balut perban melingkari kepalanya. Dia bahkan tidak ingat bagaimana dia mendapatkan luka-luka ini. Dan oleh siapa yang melakukan terhadapnya.

Dia melupakan sesuatu, tapi apa? Sesuatu yang penting. Tidak mungkin, apakah di hilang ingatan. Merasa panik karena tidak bisa mengingat kejadian apapun, kenangan yang ia alami. Ingatan yang ia punya menghilang seperti sebuah buih dan melupakan kehidupannya selama ini.

Ah! Sial semakin ia berusaha untuk mengingat-ingat, membuat kepalanya semakin pusing. Kedua tangannya yang tadi memegang kepalanya kini terjatuh lemas di pangkuannya. Ia menatap nanar kedua tangannya yang juga dibalut kain tipis. Pria itu tampak menangis, air matanya jatuh membuat selimutnya basah oleh air matanya.

Hinata yang melihatnya mengerutkan dahi khawatir dan terlihat kesedihan terukir di wajahnya yang cantik. "Tenang kan dirimu." Ucapnya lembut, pria itu menatap ke arah perempuan dengan bola mata lavender itu. Menatapnya lama. Kemudian ia terhenyak merasakan seluruh darahnya mengalir dengan cepat.

"Sasuke."

"Eh?"

"Itu namaku. Sasuke." Ucapnya yakin. Meskipun hanya itu yang mampu ia ingat. Walau hanya mengingat nama itu, tapi Sasuke merasa ada satu nama seseorang yang ia lupakan. Seseorang yang sangat penting bagi dirinya.

"Sa… Sasuke?" ucap Hinata lirih, begitu nama itu disebutkan olehnya, 'Apakah dia…' Batin Hinata dalam hatinya. "Lebih baik kau istirahat saja dulu."

"Tidak bisa!"

"Pikiranmu sedang kacau, kau perlu tenang kan dirimu dulu. Istirahatlah, Sasuke." Perempuan itu tersenyum. Sasuke menatap pada bola mata lavender itu, entah mengapa ia bisa merasa tenang dan bisa mempercayainya.

Sasuke menurut dan berbaring kembali dengan dibantu oleh Hinata membenahi posisi berbaring nya dengan hati-hati.

¤..*..¤

Hinata mulai membereskan toko nya. Melipat terpal kecil di luar yang digunakan untuk menutupi agar ketika siang hari beberapa bunga yang ia letakkan di luar tidak layu karena kepanasan.

Embun yang menempel di kaca toko nya memantulkan cahaya senja kemerahan, yang perlahan kini mulai berganti cahaya terang bulan yang tampak tengah bersiap-siap muncul. Udara dingin lewat menyentuh kulitnya putih. Tubuhnya merasa merinding kedinginan. Kedua tangannya mulai juga merasakan hal yang sama, Hinata segera masuk ke dalam, menutup semua jendela karena udara malam yang dingin mulai memasuki rumahnya melalui jendela-jendela yang belum ia tutup.

Perempuan itu berjalan masuk ke kamarnya untuk mengambil mantel, lalu kembali ke depan berniat merapikan beberapa pot bunga kecil yang ia bawa masuk. Tetapi Hinata baru mengingat sesuatu yang ia lupa, ia lupa bahwa jendela kamar pria itu belum ditutupnya, tahu bahwa udara sangat dingin sekali lalu pergi bergegas masuk kembali.

Ketika Hinata membuka pintu kamar itu, dia begitu panik saat melihat ranjang itu kosong. Pria yang berbaring di sana tidak ada, dia menghilang. Hinata khawatir dengan Sasuke yang tengah terluka seperti itu ia tidak mungkin mampu berdiri bahkan berjalan dengan keadaan yang sekarang ini.

Hinata langsung mencarinya. Gadis itu berjalan dengan cepat ke arah depan rumahnya, mungkin bila perlu ia akan keluar untuk mencarinya. Kakinya segera berlari menuju pintu depan toko nya dan tangannya langsung membuka pintu dengan cepat.

Namun belum sampai ia berjalan keluar Hinata terkejut dengan sosok pria yang ia cari berada di depan toko nya yang sudah tutup tengah terduduk lemas, dengan deru napas yang terengah dan wajah yang pucat. Ia sedang berusaha untuk berdiri dengan kakinya yang masih lemah. Lalu Hinata menghapirinya dan tanpa ragu ia membantu pria itu berdiri menopang tubuh Sasuke dengan tubuhnya yang kecil.

"Apa yang kau lakukan di sini?"

"Aku harus pergi. Mencari ingatanku yang hilang." Ungkap pria itu. ia tampak kedinginan terlihat dari asap yang keluar kala ia bernafas, apalagi dengan celana yang ia kenakan berbahan tipis ditambah dia tidak mengenakan pakaian, tubuh bagian hingga dadanya hanya dibalut oleh perban yang d iperuntukan untuk menutupi lukanya.

"Tapi diluar begitu dingin kau pasti akan kedinginan, lebih baik ayo kita masuk." Ajak Hinata dengan lembut.

Perempuan itu benar, ia merasa kedinginan berada di luar seperti ini. Sasuke tidak bisa berbohong, kulitnya terasa begitu dingin akibat udara malam. Pria itu menurut dan masuk bersama Hinata, ia melepas mantel nya dan membalutkan ke tubuh Sasuke. Ia tahu siapa yang lebih membutuhkan mantel itu meskipun dirinya juga kedinginan.

Hinata menuntun Sasuke, membawa ke kamar. "Istiraht lah, luka mu itu harus sembuh dulu." Kata Hinata, Pria itu menatapnya tajam.

"Kenapa kau mau menolong ku?" Tanya Sasuke, sikapnya berubah dingin. Mata lavender itu melihat sorot bola mata onyx Sasuke penuh dengan kebencian. Mungkinkah itu sorot mata Sasuke yang sebenarnya di kehidupannya selama ini sebelum mengalami Amnesia.

"Kita tidak memerlukan alasan untuk membantu orang lain 'kan." Jawabnya, perempuan itu tersenyum kecil membuat Sasuke mengalihkan pandangannya karena pertanyaannya mampu dijawab dengan sempurna oleh gadis itu.

Ia tidak membenci ini hanya saja Sasuke merasa semua yang dialami ini begitu gila. Ia terbangun tanpa ingatan sama sekali dan hanya mengingat sebuah nama, namanya saja. Sasuke benar-benar tidak mengerti dengan dirinya sendiri dan sekarang ia sedang berada di rumah seorang gadis yang menemukannya sekarat di bawah pohon dengan tubuh yang penuh dengan luka. Apalagi luka di perut kirinya benar-benar membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa kecuali harus percaya pada gadis ini.

Hinata berjalan keluar, sebelum menutup pintu ia mengucapkan selamat malam kepada Sasuke.

¤..*..¤

Udara segar pagi hari di desa yang biasanya Hinata rasakan mendadak berganti menjadi dingin yang membuat keringat pun enggan keluar. Kulit yang biasanya merasakan cahaya matahari yang hangat berubah menjadi gemetar karena udara dingin pagi hari yang seharusnya terik.

Hinata, perempuan itu tampak mempersiapkan bunga-bunganya untuk ditaruh di uar toko nya. Sepertinya pilihan untuk menguncir rambut indigo panjang itu malah membuat leher putihnya merinding tersentuh udara dingin. Dengan rapi ia menata satu persatu bunga yang ia bawa dan menaruhnya di luar meski hanya sebagian itu cukup membuat celemek putih yang Hinata kenakan kotor oleh tanah ketika dirinya membawa pot itu di tanganya. Hinata berdiri, ia menepuk-nepuk pelan bagian celemek nya yang kotor terkena tanah.

ia hendak masuk ketika seseorang memanggilnya. "Hinata." Seorang gadis berambut pirang panjang yang diikat naik ke belakang menghampirinya. Di tangannya terlihat sedang membawa sekeranjang tanaman berwarna merah dan bunga kecil yang tampak seperti rumput.

"Ino, kau kemari ada apa?" tanya Hinata ia berbalik, menghampirinya.

"Ah, aku ingin memberikan tanaman obat yang kau minta kemarin." Perempuan yang memiliki mata aquamarine itu memberikan keranjang nya pada Hinata. "Oh. Terimakasih, Ino."

"Kalau begitu aku pamit, Hinata karena udara pagi ini begitu dingin aku jadi tidak betah keluar terlalu lama."

"Iya pagi ini sangat dingin seakan akan terjadi badai."

"Kau benar, ingat lusa lalu ketika badai. Bukankah sebelumnya padi hari begitu dingin seperti ini."

"Benarkah?" Hinata tidak yakin akan jawabannya, sebab ia juga merasa bagitu.

"Betul. Katanya ada rumor. Penduduk desa, bahkan seluruh negeri ini sudah tahu bahwa badai malam itulah yang membuat Pangeran menghilang dari Istana dan Raja…" Ino berhenti dan mendekati Hinata, berbisik pada telinganya, "…telah di racuni."

"Astaga." Hinata terkejut menutup mulut dengan tangannya, "Betulkah itu?"

"Iya. Dan Perdana Menteri mengumumkan bahwa Pangeran itu adalah pelakunya. Kalau aku sih tidak percaya, mana mungkin Pangeran melakukan itu pada Kakaknya."

"Bukankah mereka bersaudara 'kan."

"Hmm. Orang-orang menyebut ini adalah Kudeta." Ucap Ino menekankan perkataannya, "Itu hanya rumor. Kau tidak perlu khawatir Hinata." Ino tersenyum pada sahabatnya.

"Lalu Pangeran itu?" gadis itu tampak berhati-hati ketika bertanya. Tetapi Ino hanya menggelengkan kepalanya pelan.

"Dia seperti menghilang." Ino menggigit kuku jari telunjuk nya, "Tetapi itu sangat disayangkan. Kudengar Pangeran itu begitu tampan dengan penampilannya yang keren. Ah, dan rambut raven nya yang indah."

"Eh? Kau pernah melihatnya?" Tanya Hinata terlihat gugup.

"Tidak. Itu hanya gosip diantara para kaum wanita. Baiklah Hinata aku pergi, ya." Begitu Ino mengucapkan itu, dia langsung melangkah pergi.

"Hati-hati Ino dan terimakasih." Balasnya sebelum Ino berjalan menjauh.

Hinata berjalan pelan, mondar-mandir sambil berpikir, keranjang obat itu bahkan belum ditaruhnya masih menempel dipegangnya. Wajahnya terlihat cemas dan sesekali melihat pintu kamar Sasuke. "Tidak mungkin. Aku tidak percaya, itu hanya kebetulan 'kan." Gumam nya bicara pada dirinya sendiri.

Setelah tenggelam selama beberapa menit oleh pikiran yang kacau, ia baru teringat dengan tanaman obat nya, ia harus mengobati luka Sasuke dan mengganti perban nya.

Selama sesaat Hinata berhenti di dekat kamar yang temaram itu. Dengan jendela yang sedikit terbuka dan dinding-dinding yang terasa dingin jika disentuh. Kamar itu tampak hidup setelah Sasuke mempatinya meski hanya bisa berbaring saja itu sudah cukup untuk membuat ruangan itu terlihat hidup.

Hinata menghampiri tempat tidurnya dan melihat Sasuke sedang berbaring di tengah kasur dengan bantal di tumpuk ke belakang kepalanya. "Selamat pagi." Ucap Hinata.

Pria itu menoleh ke sumber suara, menginterupsi pandangannya yang melihat keluar jendela.

"Bagaimana keadaanmu?" tanya Hinata seperti seorang perawat. Ia meletakkan obat yang dibawanya, menaruhnya di meja dekat ranjang itu.

"Masih kehilangan ingatanku." Jawab pria itu dingin. Hinata tersenyum kecil, tetapi jauh di dalam hatinya ia tahu Sasuke pasti membenci nya. Membenci semua orang.

"Aku harus mengobati luka mu. Dan mengganti perban nya." Kata Hinata, duduk di pinggir tempat tidur. Ia mengulurkan tangannya untuk melepaskan lilitan perban di kepala Sasuke dengan jemari nya yang lentik dan pucat, "Sepertinya sudah sembuh." Ucapnya lembut.

"Percayalah, itu tidak perlu. Aku tidak membutuhkan ini." Hinata terkejut ketika tangannya ditahan oleh Sasuke, ia hendak memeriksa luka di pelipisnya tetapi dengan lembut Hinata melepasnya.

"Tapi aku ingin merawat Sasuke." Hinata tersenyum kecil. Ia tulus mengucapkan itu.

Sasuke memalingkan wajahnya, hal itu membuat Hinata tersenyum lagi. Selagi perempuan itu membuka perban yang melilit di sekitar perutnya, Sasuke memalingkan pandangannya ke jendela melihat ke arah luar jalanan yang kosong dengan mata onyx nya yang gelap ia tahu bahwa ingatannya pasti tertinggal di luar sana dan bahkan jauh di dalam hatinya ia merasa marah mengapa harus berakhir seperti ini. Sasuke merasa hidupnya sekarang seolah seperti takdir telah mempermainkan nya.

Ah, bahkan takdir pun kejam terhadap ku.

.

.

つづく

- To Be Continue -

.

.

Sankyuu yang sudah me Revieuw, aku berterimakasih banyak

Thank's for All you :)

Pojok balas revieuw :

keita uchiha : iya, amin. semoga saja selesainya bisa cepet. Ella9601: ini aku sudah apdate. Meski gak pake kilat ya, aku hanya berusaha semampu nya. Terimakasih :) ChintyaRosita: Sudah aku lanjtu kan, semoga kalian makin suka sama ceritanya. NurmalaPrieska : ini dia chapter duanya, selamat membaca. Miss lily lavender: Terimakasih sudah mau menunggu chapter duanya. Guest : WB? Itu Writer's Block, Suatu hal/kendala yang menjadikan author tidak dapat melanjutkan cerita. karena alasan-alasan tertentu (tidak ada ide, tidak sempat karena sedang sibuk, dsb.) : tentunya ada Hinata dong :") Mikyu : semua pertanyaan kamu sudah terjawab di Chapter ini. :) Usagi Chan: terimakasih. In sudah update chapter duanya. Yuui Chan: sudah upadate ini lanjutannya. Semoga suka ya. Hikari no aoi: terimaksih Hikari-san semoga chapter duanya suka ya. Untuk Itachi, haha dia gak aku matikan kok, tenang sj, berdoalah hehe :) Violeta Midorima : semoga suka chapter duanya. Ini sdh aku lanjut. Selamat membaca. Agathalin : ini sudah ku update lanjutannya. Teimakasih :)

Yosh. RnR Please!

kurasa aku sudah cukup berkata-kata sangat banyak kali ini, dan revieuw kalian adalah semangatku. #muach :")

...

See you Capther 3