Limited Lovers
Chapter 2
.
.
.
Aku terus menggerakkan kursi rodaku.. untunglah dia belum terlalu jauh dari kamarku, tapi kemudian aku melihat seorang perempuan datang ke arahnya. Perasaan cemburu mulai merasuk ke dadaku, akhirnya aku bersembunyi tak jauh dari mereka untuk mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Bagaimana, apa tugasmu sudah selesai..?" Kata wanita itu seraya menggandeng tangan Dino dengan mesra.
Ah, ingin rasanya aku menghajar wanita itu
Aku menggelengkan kepala, mengurungkan niatku sendiri sambil terus menguping pembicaraan mereka.
"Sudah selesai, dia percaya sekali kalau kakinya akan sembuh, padahal makin lama pasti akan makin lumpuh"
"Hahaha... berarti kau pasti kerepotan ya, Dino-kun~"
"Begitulah... kalo bukan karena aku belum puas dengannya aku pasti sudah meninggalkannya"
DEG
Dadaku serasa ditusuk dengan belati.. hancur berkeping-keping dalam waktu singkat. Dengan penuh amarah aku mengambil salah satu vas bunga yang terpajang tak jauh dari tempatku bersembunyi dan melemparnya ke arah Dino.
Bingo! Vas itu mengenai sasaran.
"Ugh! Siapa yang...!" Mukanya langsung pucat begitu melihatku.
"Jangan pernah datang kesini! Aku tidak sudi berkenalan dengan bajingan sepertimu! Sana pulang!" Teriakku penuh amarah.
Tanpa kusadari orang-orang dari rumah sakit mulai berkerumun di sekitarku.
Bagus... sekarang aku jadi pusat perhatian...
Tak lama beberapa orang suster mendatangiku. "Hentikan Hibari-san! Meski kau pasien VIP tapi sikapmu sudah keterlaluan!" Aku hanya bisa berhenti mengamuk meskipun amarah masih menguasaiku... tak sengaja aku mendengar orang-orang membicarakanku.
"Gadis itu kan, yang lumpuh karena kecelakaan waktu keluyuran tengah malam..."
"Kasihan sekali..."
"Yah.. siapa yang menabur dia yang menuai.."
Aku terpaku mendengar perkataan mereka, aku langsung mengeluarkan aura mematikan ke arah mereka dan berlalu ke kamarku. Setibanya di kamar aku langsung menangis tanpa suara sepanjang malam.
.
.
.
"di dunia ini...
semua yang mengelilingiku hanya dusta...
bahkan orang yang berharga bagiku adalah kebohongan...
selama ini yang kuterima hanya mimpi semata...
namun kenapa... sekarang aku harus terbangun dalam keadaan terluka...?
mungkin bila aku menghilang takkan ada yang menangisiku..."
.
.
.
-Tengah malam, di rumah sakit-
"Hibari-san kabur?!"
"I.. iya... ada beberapa orang yang melihatnya pergi dengan membawa ransel yang cukup besar..."
-di lain tempat di Namimori-
"Ugh... seharusnya aku kabur lebih cepat dari tempat itu..." keluhku sambil terus menggerakkan kursi roda. Hujan yang cukup deras membuatku sulit untuk melihat ke depan.. rasa dingin dan lapar juga mulai muncul.
Sial!
Beberapa taksi terlihat berlalu, aku mencoba memberhentikan salah satunya. Tapi sial, salah satu taksi itu justru hampir menabrakku. Membuatku terpental cukup jauh dari kursi rodaku. aku memaksakan diri untuk berdiri. Namun kelumpuhan benar-benar membuatku tak berdaya. aku hanya bisa meneriaki nasibku di tengah hujan yang semakin mendera.
Apa aku akan mati disini...?
Kenapa aku tidak bisa bergerak sama sekali...?
Aku... ingin pulang...
. . . .
Hujan semakin deras... aku berusaha untuk menggapai kursi roda, setelah berhasil naik aku kembali menggerakkan kursi rodaku. Melawan rasa dingin yang semakin menusuk. Hingga akhirnya aku tiba di sebuah tanjakan yang cukup tinggi. Aku berpikir sejenak... apakah ada kemungkinan aku bisa melewati tanjakan itu tanpa harus tergelincir jatuh mengingat kondisi jalan yang licin. Namun tekadku semakin bulat.. aku terus mencoba untuk naik ke atas, dan ajaib.. aku akhirnya dapat naik setelah beberapa kali hampir terjatuh. Tak terasa aku mengeluarkan air mata bahagia dan aku pun bermain-main dengan kursi rodaku. Aku bahkan tidak menyadari mobil rumah sakit berhenti tak jauh dari tempatku. Hingga seseorang memanggilku...
-Mukuro's POV-
"Sial... anak itu menyusahkan saja," keluhku saat mencari Hibari menggunakan mobil dokter kepala. Hujan yang cukup deras membuatku sulit melihat ke depan. Setelah cukup lama mencari akhirnya aku melihatnya di ujung tanjakan. Aku pun mangikutinya diam-diam... entah kenapa dia terlihat sangat bersemangat, jadi aku putuskan untuk mengamatinya hingga dia selesai... setelah selesai aku pun menghampirinya sambil mengulurkan handuk padanya.
"Hari ini sudah cukup bermainnya... pulang yuk, Kyouya..."
-End of Mukuro's POV-
Kyouya...
"Kau sudah bermain selama satu jam... kau tidak bisa latihan besok kalau kau kelelahan, lagipula kau sudah puas kan?"
Barusan dia memanggilku 'Kyouya'...
"Kyouya? kau kenapa?"
"Ah tidak apa-apa..." semburat merah kecil mendadak muncul di pipiku.
Dia hanya terdiam, sebelum akhirnya menutupi tubuhku dengan handuk yang dia bawa. Sesaat, aku bisa merasakan tangannya yang dingin.
Jadi selama ini dia mengawasiku...
Mati-matian aku mencoba untuk menahan air mataku agar tidak keluar.
"A... aku lapar..."
.
.
.
TBC
.
.
.
A/N :
Yak..! part 2 selesai...
Gomen ya buat reader-tachi kalau akhirnya ngegantung lagi... hontou ni gomen..
Well... see you in the next chapter...
Review, please?
